
Tahun 1914 Kerajaan Arevelk, siang hari.
**
Tidak hanya Kekasiaran Luan saja yang pemerintahannya terbelah menjadi dua fraksi. Setidaknya negara itu memilki beberapa 'teman' yang juga mengalami hal yang sama.
Beberapa negara bahkan mengalami hal yang lebih parah daripada Kerajaan Luan. Fraksi perdamaian yang menentang peperangan dengan dunia lain mulai membentuk kekuatan militer yang berasal dari wilayah bangsawan yang mendukung perdamaian.
Negara yang mengalami kondisi seperti itu adalah Salodki dan Biez. Negara yang lain masih terlihat aman meski keadaan pemerintahnya juga sedang kacau .
Perang saudara mengancam kerajaan Biez dan Salodki. Namun kedua negara itu sedang tidak mendapatkan bantuan dari kerajaan yang ada di benua Andzrev, karena beberapa kerajaan masih berperang dengan dunia lain.
Kecuali kerajaan Arevelk yang masih terlihat tentram. Namun kerajaan itu menolak memberi bantuan karena masalah Gerbang.
Negara yang dipimpin oleh perempuan yang bernama Sigiz ini tetap tidak mau membuka Gerbang di negaranya. Karena syarat untuk membuat benda itu sangat berat dan akan membuat rakyat marah.
Pemerintahan Kerajaan Biez dan Salodki masih dalam keadaan terpecah, namun belum meunjukkan tanda-tanda dimulainya perang saudara di kedua negara itu. Karena sebagian besar pasukan sedang berperang dengan dunia lain.
Bahkan di Kerajaan Sirds, Raja negara ini yang bernama Serca beberapa kali menerima surat yang berisi ancaman pembunuhan. Namun isi surat itu olehnya tidak dihiraukan dan hanya dianggap sebagai ancaman yang tidak akan terjadi.
Hingga anaknya yang merupakan penerus takhta kerajaan menghimbau ayahnya untuk mencari perlindungan dari ancaman yang dikirimkan melalui surat.
Tetap saja Raja Serca tidak menghiraukan apapun yang berhubungan tentang berlindung dari pengancam.
**
Istana Awan terlihat sangat ramai dengan wyvern dan beberapa ekor naga yang terbang bersama pawangnya.
Pemerintahan negara ini tetap menegaskan tidak akan berperang dengan dunia lain, dengan beberapa alasan yang membuat mereka memilih sikap seperti ini.
Salah satunya orang dalam ramalan yang hampir ditemukan, dan keberangkatan Ratu Sigiz ke dunia lain untuk bertemu dengan orang dalam ramalan.
Jika Sigiz sampai membawa sebanyak 20 unit penunggang naga, mungkin saja dia tidak hanya bertujuan untuk menemui orang dalam ramalan. Hanya petinggi militer negara ini saja yang tahu alasan Sigiz untuk membawa pasukan ke dunia lain.
Yang terpenting, tujannya ke dunia lain bukan untuk berperang.
Di ruang ganti, ada sangat banyak setelah baju perang. Namun kostum itu terlihat hanya cocok dipakai untuk prajurit perempuan, karena bagian dada yang sangat menonjol. Selain itu warna pada baju perang juga terlihat sedikit cerah, sangat berbeda dengan baju perang yang dikenakan prajurit laki-laki Kerajaan Arevelk.
Di dalam ruangan ini, ada Sigiz yang dikelilingi beberapa pelayan untuk membantunya mengenakan baju perang.
Sesekali dia mendesah pelan saat pelindung dada dipasangkan dan harus ditekan agar muat. Beberapa pelayan menatap dada Sigiz dengan tatapan iri karena kencang dan terbilang besar.
Hingga pada akhirnya pelayan selesai memakaikan baju perang di tubuh Sigiz. Sesaat kemudian seorang pelayan lainnya memasuki ruangan ini, ada hal yang ingin ia beritahu pada Sigiz.
“Sebelum berangkat, ayah anda ingin bertemu terlebih dahulu,” ucap salah satu pelayan istana.
“Baiklah,” jawab Sigiz singkat.
Sambil mengenakan baju perang lengkap beserta sebuah pedang di pinggangnya, Sigiz berjalan menuju ruangan ayahnya biasa bersantai dengan wajah siap bertempur. Meski bukan itu tujannya.
Prajurit yang melihat Sigiz berjalan berhenti sejenak untuk memberi hormat padanya. Mereka memberi hormat dengan cara sedikit membungkuk dan menyapa Sigiz dengan nada tegas.
Sigiz tidak terkejut dengan para prajuritnya yang sering menyapa dengan nada tagas, karena memang itu standar prosedur bagi para prajurit ketika bertemu pemimpin mereka.
Ketika pelayan bertemu dengan Sigiz, mereka juga menyapa sambil membungkuk dengan tangan kanan diletakkan didepan dada.
Sigiz telah sampai di tempat ayahnya biasa menghabiskan masa pensiunnya dari menjadi raja, yaitu salah satu balkon istana.
Balkon ini menghadap langusng ke wilayah ibukota kerajaan Arevelk. Jika dalam situasi tertentu, tempat ini dapat digunakan sebagai tempat mengintai musuh yang berada di bawah. Itu sebabnya Istana Awan juga disebut dengan benteng sayap, karena melayang diatas tanah.
“Ayah, aku datang,” ucap Sigiz sambil berdiri di samping ayahnya yang duduk di kursi goyang yang terlihat mewah.
“Apa kau sudah siap? Mungkin saja orang-orang dunia lain akan menganggapmu sebagai musuh juga,” ucap Hin dengan wajah yang khawatir meski dia sendiri yang meminta Sigiz untuk pergi ke dunia lain.
Sambil menggenggam erat gagang pedang yang di pinggangnya, Sigiz dengan yakin menjawab, “Itu memang hal yang mungkin akan terjadi. Tapi demi bertemu dengan orang yang diramalkan, aku siap.”
Hin kemudian berdiri setelah meminum anggur di gelas berwarna peraknya.
"Cara berperang pasukan dunia lain sangat berbeda dengan pasukan kita. Dan bisa saja orang yang diramalkan akan menganggap mu sebagai musuh juga," Ucap Hin.
"Aku akan menggunakan berbagai cara untuk membuatnya yakin jika kerajaan kita tidak berperang dengan dunianya," jawab Sigiz dengan senyuman yakin.
Hin sudah menyerah untuk mencegah Sigiz untuk pergi ke dunia lain. Memang, pada awalnya dialah yang memerintahkan Sigiz untuk pergi ke dunia lain. Namun dia masih merasa khawatir dengan anak satu-satunya itu.
__ADS_1
Sigiz kemudian memberi hormat kepada ayahnya dengan cara membungkuk, seperti cara pelayan dan prajurit memberinya salam sebelumnya.
Hin memegang pundak Sigiz, kemudian terlihat cahaya berwarna biru. Cahaya itu seperti terserap ke tubuh Sigiz, namun dia terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.
"Apa itu pesan bagi orang yang diramalkan?" tanya Sigiz setelah cahaya biru itu menghilang.
"Benar, kau bisa memperlihatkannya setelah menemukan orang yang diramalkan," jawab Hin sambil duduk kembali di kursi goyang nya.
Hin juga menguasai beberapa sihir, termasuk sihir pengirim kabar khusus. Sigiz juga mendapatkan kemampuan sihir turunan dari kedua orangtuanya.
Sihir pengirim kabar yang digunakan Hin adalah yang paling kuat dan aman. Sihir yang digunakan Hin bekerja dengan cara mengirimkan beberapa informasi kedalam tubuh orang yang juga bertugas sebagai perantara.
Pesan tidak akan bocor, bahkan ketika orang yang menjadi perantara mati. Pesan akan terlihat saat orang yang menjadi perantara mengatakan beberapa kata untuk mengeluarkan kabar yang ada didalam tubuhnya.
Sihir ini memerlukan kemampuan yang sangat hebat, dan tidak semua penyihir di dunia ini memiliki sihir tersebut. Itu sebabnya hanya 2 orang saja yang memiliki kemampuan ini di kerajaan Arevelk, yaitu Hin dan Penyihir agung.
Sigiz sudah berada di halaman istana yang juga terdapat 20 ekor wyvern dan naga, dan juga pawang masing-masing binatang itu yang juga prajurit kerajaan Arevelk.
(Ilustrasi wyvern, sumber gambar pinterest.)
(Ilustrasi naga, sumber gambar pinterest.)
Seluruh pawang naga turun dari tunggangannya masing-masing dan memberi hormat kepada Sigiz.
Sigiz kemudian membalas hormat para prajuritnya, kemudian berjalan menuju naga yang berwarna putih keperakan yang merupakan jenis naga angin.
Naga angin milik Sigiz termasuk jenis naga terkuat, dan juga penerbang terhebat di jenisnya. Naga jenis ini juga sangat langka, sehingga hanya orang-orang tertentu yang dapat memilikinya.
Seluruh prajurit penunggang naga memasangkan bendera kerajaan Arevelk di pelana masing-masing. Itu sebagai penanda asal mereka. Jika beruntung, pasukan dunia lain mungkin akan menganggap pasukan ini bukan sebagai musuh.
Untuk menuju dunia lain, pasukan ini harus menuju kerajaan Luan. Karena negara itu yang membuka Gerbang, dan Sigiz sudah memiliki izin sebelumnya dari Raja Bogat.
Juga, Gerbang yang ada di kerajaan Luan terhubung langsung dengan salah satu negara di dunia lain.
Sudah ada dua orang yang akan menyambut pasukan pimpinan Sigiz di dunia lain.
Sigiz menaiki naga angin sendirian dengan memegang sebuah tongkat dengan diikatkan bendera kerajaan Arevelk. Tongkat itu berujung tombak runcing. Tombak merupakan senjata favorit Sigiz.
"Seluruh pasukan, kita akan berangkat ke dunia lain. Bersiap...!!!" teriak Sigiz yang dijawab teriakan penuh semangat para prajuritnya.
"Siap...!!!"
Seluruh naga terbang dengan cepat menuju Gerbang yang berada di kerajaan Luan.
(Ilustrasi Sigiz, sumber gambar pinterest.)
**
12 Juni 2321, pukul 08.55 WIB
Kota bawah tanah Kota Karanganyar....
**
Seluruh prajurit yang tergabung dalam tim 2 sedang bersiap untuk melaksanakan operasi merebut kembali Kecamatan Mojogedang dari kuasa pasukan musuh.
Seluruh prajurit telah mengenakan seragam tempur lengkap masing-masing, dengan beberapa senjata baru yang mereka dapatkan.
Tentu saja senjata baru membuat kemenangan bisa diraih dengan mudah. Namum tanpa adanya strategi, memiliki senjata paling mematikan sekalipun tidak akan berguna.
Seluruh kendaraan yang akan digunakan sedang mengisi bahan bakar di garasi penyimpanan kendaraan. Sedangkan senjata berat, seperti senapan mesin berat dan peluncur roket juga sedang diperiksa kesiapannya.
Kesiapan prajurit sebelumnya juga sudah diperiksa. Karena jika tidak siap dan dalam keadaan tidak baik atau semacam itu akan menggangu pelaksanaan operasi. Bisa saja, hanya gara-gara sedang tidak enak badan akan membuat prajurit terbunuh di medan tempur.
Bahkan jika seorang prajurit hanya mengeluarkan sedikit ingus dari hidungnya, dia seketika akan tidak diijinkan mengikuti misi maupun kegiatan yang berhubungan dengan pertempuran.
Namun, bukan berarti prajurit yang tidak ikut dalam operasi akan menganggur begitu saja. Mereka diperintahkan untuk menjaga kota bawah tanah agar tetap aman saat seluruh personel sedang bertempur.
__ADS_1
Setidaknya dengan begitu mereka tidak mendapatkan gaji buta.
Arunika masih berdiri dihadapan Nio yang sudah mengenakan perlengkapan tempur yang lebih lengkap dari sebelumnya. Bahkan rompi yang dikenakan Nio penuh dengan peralatan dan barang-barang lainnya.
"Aku tidak akan memaafkan mu kalau terluka saat pulang nanti," ucap Arunika sambil meremas kuat ujung pakaiannya.
"Itu tidak mungkinlah. Paling tidak kau harus membenarkan perkataan mu," balas Nio.
"Tidak bisa, kau sudah terlalu sering terluka saat bertugas. Memangnya apa kalimat yang cocok?"
" 'Kalau begitu, pulanglah dalam keadaan selamat', begitu baru benar."
Nio tertawa kecil setelah mengatakan itu. Sementara Arunika hanya menunduk seperti merasakan sesuatu.
Nio meraih tangan Arunika dan menciumnya. Namun setelah selesai, Arunika tetap menggenggam tangan Nio.
"Hati-hati."
"Kalau itu sudah jelas."
Setelah itu Nio berlari menuju barisan pasukan yang siap untuk diberangkatkan.
Mereka terlebih dahulu mendengarkan pidato dari Herlina yang berhubungan dengan operasi ini.
Setidaknya dengan pidato dari Herlina, seluruh prajurit menjadi lebih bersemangat dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
Salah satu kata dari Herlina yang membuat pasukan semakin bersemangat adalah "Pasukan dunia lain tidak sekuat pasukan dunia ini. Mereka datang hanya untuk dikalahkan."
Didalam hatinya Nio berkata, "Seandainya kalau aku punya skill publik speaking seperti dia."
Pidato dari Herlina sudah selesai, seluruh prajurit kembali memeriksa perlengkapan dan senjata masing-masing agar terhindar dari yang namanya 'kelupaan'.
Nio kemudian berjalan bersama anggota Regu 2 ke salah satu truk pengangkut prajurit.
"Nio...!!" teriak seseorang yang membuat Nio menoleh ke sumber suara.
Orang yang memanggil Nio adalah Nike, dibelakangnya ada orang-orang dari satuan perawatan perlengkapan tempur yang ikut melihat keberangkatan tim 2.
Nio berjalan kearah Nike dan berpisah dengan Regu nya untuk sementara.
"Ada apa?"
"Semoga berhasil, dan jaga kakakku. Aku masih khawatir dengannya meski terlihat kuat."
Nio menahan tawa saat mendengar perkataan Nike itu dan berkata, "Tentu saja. Doakan terus kami."
Nio kemudian berjalan kembali ke truk yang sudah hampir penuh dengan prajurit dan persenjataan. Namun dia kembali berhenti saat melihat para perempuan muda juga melihat keberangkatan tim 2. Indah juga ada di dalam barisan.
"Nio...! Habisi semua musuh demi kami...!!!" teriak Indah sambil menahan malu karena berteriak keras.
Nio hanya tersenyum sambil mengacungkan jempolnya kearah Indah.
"Dan cegah mereka untuk membuat orang lain bernasib seperti kami," batin Indah.
Nio kemudian menaiki truk pengangkut prajurit, namun dia merasakan ada seseorang yang menarik ranselnya.
"Nio, kenapa kau naik kesitu?" tanya Herlina yang mencegah Nio untuk menaiki truk.
"Lah, memangnya kenapa?" tanya balik Nio.
Herlina dengan paksa menarik tangan Nio dan berjalan menuju salah satu kendaraan lapis baja.
"Wakil Komandan harusnya duduk disini."
"Hah, memangnya apa bedanya?"
Herlina hanya menggeleng seperti tidak paham dengan pikiran Nio.
"Kalau aku salah kasih perintah, memangnya kau mau aku begitu?" tanya Nio yang membuatnya dan pengemudi kendaraan menjadi pucat.
"Jangan bicara sembarangan. Oke, aku duduk disini."
Jawaban Nio membuat Herlina lega sekaligus senang, karena Nio duduk tepat disampingnya.
__ADS_1
Herlina memerintahkan seluruh pasukan untuk berangkat melalui sambungan komunikasi nirkabel yang terhubung ke seluruh prajurit.
Setelah itu, seluruh kendaraan keluar satu persatu dari kota bawah tanah dan menuju medan tempur.