
29 Januari 2321, pukul 10.11 WIB
**
Upacara penyambutan telah selesai, namun seluruh siswa pelatihan belum diijinkan untuk beristirahat.
Seorang pelatih berdiri di kedua barisan yang membuat seluruh prajurit melakukan sikap ‘siap’.
“Kita akan membentuk Regu. Masing-masing Regu akan terisi sebanyak 32 hingga 33 prajurit. Tentu saja kami sudah membaginya,” kata prajurit pelatih tersebut yang ditangannya terdapat selembar kertas.
Seluruh prajurit bergumam tentang pembagian tersebut, karena bisa saja mereka tidak lagi satu Regu dengan teman-teman mereka.
Namun berbeda dengan Nio, perhatiannya sejak tadi hanya tertuju pada seorang prajurit perempuan yang memiliki tubuh paling tinggi dari seluruh prajurit muda yang masih berbaris disini. Bahkan dia lebih tinggi dari seluruh prajurit pelatih yang juga terkejut dengan sosoknya.
Prajurit perempuan dari Kompi 406 yang berbaris di belakang juga memperhatikan perempuan itu. Salah satunya Arista yang juga mengikuti pelatihan menjadi Pasukan Pelajar Khusus.
“Nio bahkan tidak ada apa-apanya dengan dia,” batin Arista yang juga melihat Nio memperhatikan prajurit perempuan itu.
“Sersan Nio…!” gertak prajurit pelatih yang dari tadi memanggil namanya untuk dimasukkan ke Regu yang sudah dibentuk oleh tim pelatih.
“Si-siap…!” jawab Nio dengan tegas dan gugup dan kemudian segera memasuki barisan Regu yang sudah hampir lengkap.
Dia berbaris di belakang prajurit dari Kompi 302 yang akan menjadi rekannya di pelatihan ini.
Beberapa prajurit dari Kompi 406 juga ada di barisan ini tersenyum ke arah Nio yang membuatnya malu dan takut dengan tatapan prajurit pelatih yang menatap tajam kearahnya.
Kemudian pelatih membacakan nama selanjutnya, “Prajurit Satu Aprillia Ika.”
“Siap,” jawab prajurit yang namanya dipanggil dengan tegas namun suaranya lembut.
Dan prajurit yang namanya dipanggil adalah perempuan yang memiliki tubuh paling tinggi. Nio terkejut dengan hal ini dan beberapa prajurit yang ada di depan Nio melirik prajurit itu hingga dia berbaris di belakang Nio.
Nio hanya meneguk ludah hingga jakunnya bergerak naik turun saat dibelakangnya adalah seorang perempuan yang badannya jauh lebih tinggi darinya.
**
“Sersan Nio yang akan menjadi Komandan Regu 3,” ucap prajurit pelatih. Nio menjawab dengan tegas, “Siap!”
Dia kemudian beralih ke barisan paling depan. Seluruh prajurit dari Kompi 406 yang berada di Regu 3 senang jika prajurit yang mereka kenal menjadi Komandan Regu ini.
Prajurit dari Kompi 406 yang berada di Regu 3 sebanyak 12 orang dan dari Kompi 302 sebanyak 20 orang.
Arista yang menjadi anggota Regu 3 merasa senang karena ada Nio yang juga menjadi Komandan Regu ini.
Rio yang juga berada di Regu 3 merasa cukup khawatir dengan Nio, bukan karena dia menjadi pimpinan tertinggi Regu ini.
“Apa dia bisa bertahan di pelatihan ini?” batin Rio.
Rio masih teringat saat Nio mendapatkan hukuman push up sebanyak 20 kali dan Nio terlihat sangat kelelahan setelah itu.
Seluruh Regu sudah terisi lengkap dengan prajurit dan Komandan masing –masing.
“Baiklah, silahkan menyiapkan diri untuk menjalani ujian pejaran umum. Ujian akan dilaksanakan pukul 1 siang” kata prajurit pelatih yang menyusun Regu tadi.
“Siap!” jawab seluruh prajurit dengan tegas dan bersamaan.
__ADS_1
**
Nio dan anggota Regunya yang laki-laki berjalan ke barak prajurit laki-laki. Tentu saja barak prajurit perempuan dan laki-laki terpisah meski dalam Regu mereka ‘dicampur’.
Di dalam barak Nio langsung berbaring di kasur nya yang berada di kasur atas tanpa melepas sepatunya lebih dulu. Karena tempat tidur di tempat ini adalah kasur tingkat dan orang yang menempati ranjang dibawah Nio adalah Rio.
Tentu saja yang memilih tempat ini adalah Rio sendiri karena merasa nyaman jika berdekatan dengan orang yang sangat dia kenal.
“Ini bukan waktunya tidur tolol,” kata Rio sambil memukulkan helmnya ke kepala Nio.
“Aku juga perlu menyiapkan otakku buat nanti tahu!” jawab Nio dengan kesal karena kepalanya yang dihantam helm oleh Rio.
Dia melihat jam tangannya untuk memeriksa waktu saat ini. Jam tangan masih menunjukkan pukul 11.29, waktu masih cukup lama sebelum menjalani ujian pelajaran umum.
Beberapa prajurit lebih memilih melakukan kegiatan yang mereka sukai daripada melakukan belajar. Beberapa memilih memakan camilan yang dibawa, bahkan beberapa melakukan panggilan suara dengan kekasih mereka dan sesekali tertawa.
Tentu saja suara tawa itu membuat Nio kesal, atau mungkin bukan hanya dia saja yang merasa kesal karena beberapa prajurit juga terlihat kesal dengan prajurit yang memiliki kekasih.
Nio kemudian turun dari ranjangnya untuk mengurangi kekesalan dan membuka tasnya untuk mengambil buku catatan. Sebuah buku tulis yang berisi catatan seluruh pelajaran yang sudah dia siapkan bersama kakaknya, Arunika.
Nio kemudian mengeluarkan sebuah buku yang tertekuk karena ‘terhimpit’ dengan barang bawaan lainnya.
Mungkin beberapa halaman buku berisi coretan yang merupakan ulah Nio. Namun kebanyakan masih berupa catatan pelajaran yang ditulis rapi.
Nio terlihat hanya membaca sekilas tulisan yang ada pada bukunya dan membalik ke halaman selanjutnya seakan dia tidak memiliki niat sama sekali untuk belajar. Namun memang seperti itu cara belajar Nio selama ini.
Saat sedang ‘asyik’ belajar, Rio mendekati Nio sambil membawa buku catatannya sendiri dan berkata, “Kau juga harus belajar ini.”
“Apa ?” kata Nio karena penasaran dengan yang akan ditunjukkan Rio.
“Sialan, kenapa kau menunjukkan padaku matematika?” kata Nio dengan wajah datar karena Rio memperlihatkan ‘salah satu’ hal yang paling ia benci.
Sesaat setelah itu Nio memegangi kepalanya setelah melihat rumus dan angka-angka yang memang menguras pikiran dan kesabaran. Setidanya itu menurut beberapa orang yang memang menguasai atau paling tidak dapat mengerti dengan salah satu mata pelajaran yang umum disebut dengan ‘matematika’.
Setelah mengalami sakit kepala, Nio perlahan mulai terlihat tenang. Beberapa prajurit yang melihat Nio kesakitan hanya menatap heran kearah Rio yang hanya membiarkan Nio saja.
Karena Rio sudah tahu bagaimana cara menenangkan Nio jika dia sakit kepala saat melihat kumpulan angka-angka pada pelajaran matematika.
“Biarkan saja dia seperti ini, nanti juga sembuh sendiri,” kata Rio dengan tenangnya.
“Sialan kau,” kata Nio sambil mengacungkan kepalan tangannya ke arah Rio.
Bukan hanya mata pelajaran matematika yang Nio sangat benci. Seluruh mata pelajaran yang terdapat hitung-hitungannya akan sangat dia benci.
**
Seluruh prajurit siswa calon PPK menuju tempat dilaksanakannya ujian dengan persiapan masing-masing yang sudah dilakukan sebelumnya.
Setelah seluruh prajurit mengisi tempat duduk yang disukai, namun entah hari ini Nio sedang beruntung atau sedang ‘apes’. Karena prajurit perempuan yang tinggi dan sering disapa Ika itu duduk di sampingnya.
“Kok hatiku rasanya hancur ya?” batin Nio saat seorang perempuan yang lebih tinggi darinya duduk disampingnya dan tersenyum kearahnya.
Arista yang duduk di tempat yang tidak berdekatan dengan Nio terlihat hanya menatap datar mereka berdua walau sebenarnya dia merasa sangat kesal.
Namun bukan hanya Arista yang terlihat kesal. Seluruh prajurit laki-laki kompi 302 mengarahkan tatapan ingin membunuh kearah Nio karena dia duduk di samping prajurit perempuan ‘primadona’ Kompi ini.
__ADS_1
Mari kita alihkan hal itu sejenak.
4 orang prajurit pelatih mulai membagikan soal ujian pada seluruh prajurit.
Tumpukkan kertas yang berisi 15 kembar kertas dan mencangkup 450 soal dari seluruh mata pelajaran, termasuk matematika tersaji di depan prajurit.
Mata pelajaran yang diujikan adalah pelajaran tingkat SMA/SMK dan sederajat.
“Ujian akan berakhir pukul 4 sore nanti. Kerjakan dengan seirus, semoga sukses!”
Tanpa berkata apapun lagi, seluruh prajurit mengeluarkan alat tulis masing-masing yang sudah dibawa dan mengisi kolom berisi nama dan asal kesatuan prajurit.
“Apa dia serius mengerjakan soalnya?” gumam seluruh prajurit yang duduk di sekitar tempat Nio.
“Dia akan gagal di ujian ini,” kata prajurit lainnya yang seakan meremehkan Nio.
Bahkan Ika melebarkan matanya saat melihat bagaimana cara Nio mengerjakan soal ujian.
Kecuali Rio yang sudah sering melihat Nio mengerjakan soal ujian seperti orang yang asal memilih jawaban dari pilihan ganda.
“Mereka bakal kebingunan nantinya karena terlalu meremehkan Nio,” batin Rio yang membuat Nio tiba-tiba bersin. Nio berkata di dalam hatinya, “Rasanya banyak orang yang sedang membicarakanku?”
**
“Ujian telah selesai, silahkan istirahat 15 menit. Setelah itu kalian harus menjalani latihan pertama kalian, yaitu lari 20 km,” ucap salah satu prajurit pelatih setelah mengumpulkan soal yang sudah selesai dikerjakan siswa calon PPK.
“Siap…!” jawab seluruh prajurit dengan bersamaan yang membuat suara sangat keras di ruangan ini.
Nio dengan lemas berdiri dari tempat duduknya dan berjalan perlahan menuju pintu keluar aula.
Rio tiba-tiba mendekatinya dan berkata, “Gimana, bisa mengerjakan pas pelajaran matematika tadi?”
“Sama sekali tidak kukerjakan,” jawab Nio dengan tenangnya.
Prajurit yang mendengar perkataan Nio seketika terkejut dan menganggao Nio itu bodoh dan semacam itu.
Bahkan Arista khawatir jika Nio tidak lolos menjadi PPK karena tidak lulus pada ujian pengetahuan umum.
“Ya, biarkan mereka hasil akhirnya,” ucap Rio dengan membanggakan Nio.
“Apa maksudmu?” tanya Nio karena tidak paham dengan yang dibicarakan Rio.
“Mereka pasti akan terkejut dengan nilai ujian mu nanti. Meski kau itu bodoh dengan hitung-hitungan, tapi kau jenius dengan mata pelajaran lainnya.”
“Begitukah?. Kuanggap itu pujian,” jawab Nio dengan wajah polosnya.
“Itu memang pujian tolol !” bentak Rio dan kemudian mengejar Nio yang berlari kearah barak.
Pandangan Rio dengan Nio adalah teman dan Komandan Regu yang harus dihormati. Namun berbeda dengan beberapa prajurit yang melihat cara mengerjakan ujian Nio tadi, termasuk Ika.
“Dia tadi mengerjakan soal dengan asal-asalan kan?” gumam prajurit lain.
“Ya, dia terlihat hanya asal memilih jawaban saja,” jawab rekannya.
Beberapa prajurit lain membicarakan Nio dengan pembicaraan semacam itu.
__ADS_1