Prajurit SMA

Prajurit SMA
61. Perang yang sebenarnya baru saja dimulai


__ADS_3

tahun 1914 Kerajaan Arevelk, siang hari.


**


Suasana pusat pemerintahan Kerajaan Arevelk damai seperti biasanya, meski berita tentang Gerbang yang terbuka sempurna sudah tersebar ke telinga seluruh masyarakat.


Di Istana Awan, seluruh bangsawan berkumpul di ruang pertemuan untuk membahas pasukan gabungan lima negara yang telah membuka Gerbang sempurna. Mereka semua terlihat geram dengan kelima pemimpin negara yang berada di Benua Andzrev itu.


Setidaknya para bangsawan di Kerajaan Arevelk tidak terpecah belah, seperti yang terjadi pada negara tetangga mereka. Politik di negara ini masih stabil, meski terdapat sangat sedikit pihak yang ingin negara ini bergabung dengan pasukan gabungan dan berperang dengan dunia lain.


Sebagian besar bangsawan percaya dengan perkataan Penyihir agung yang mengatakan jika kekuatan salah satu pasukan negara dunia lain sangat besar. Bahkan lebih besar dibandingkan dengan pasukan gabungan yang belum lama dibentuk itu.


Penyihir agung juga menghadiri pertemuan ini, dia duduk di sebelah Hin yang untuk sementara menggantikan Sigiz memimpin pertemuan bangsawan selama dia berada di dunia lain. Tentu saja itu membuat perwakilan Sigiz dipertemuan itu menjadi sedikit geram, karena dia tidak dapat memulai rencana saat Hin untuk sementara menggantikan Sigiz sebagai pemimpin.


Apalagi di tempat ini juga ada Penyihir agung, yang bisa melihat isi pikiran seseorang hanya dengan gerakan matanya saja. Meski mata Penyihir agung sudah tidak dapat untuk melihat, dia masih bisa melihat dengan jelas menggunakan sihir miliknya.


Sebagian kecil bangsawan menunjukkan wajah yang tidak tenang. Ya… mereka adalah bangsawan yang ingin negeri ini berperang dengan dunia lain.


Sebagian besar bangsawan terlihat sangat tenang, karena mereka tidak perlu memikirkan bagaimana cara agar Arevelk berperang dengan dunia lain.


Anehnya, sebagian besar bangsawan yang mendukung perang adalah bangsawan yang bukan berasal dari kalangan militer. Sebagian besar bangsawan militer lebih memilih untuk mendengarkan perkataan Penyihir agung agar tidak berperang dengan dunia lain.


Meski militer Kerajaan Arevelk yang terkuat di Benua Andzrev, sangat jarang negara ini terlibat dengan peperangan.


“Penyihir agung, kapan utusan anda tiba?” tanya Hin dengan nada sopan terhadap nenek tua disampingnya.


“Mohon bersabar Raja, saya yakin dia sebentar lagi akan tiba,” jawab Penyihir agung.


Penyihir agung sedari tadi mengatakan sesuatu dengan sangat pelan, seperti mengucapkan suatu mantra yang sangat panjang. Tapi siapa yang tahu.


Mungkin itu sebabnya pertemuan ini belum juga dimulai, ada satu orang yang ditunggu para hadirin pertemuan ini. Entah terpaksa atau tidak, seluruh orang yang menghadiri pertemuan ini terlihat sangat sabar.


“Ijin bertanya, Penyihir agung…,” ucap salah satu bangsawan militer yang tidak mendukung perang.


Hin tak dapat mencegah bangsawan tersebut untuk bertanya, karena dia menanyakan hal itu terhadap salah satu orang paling berpengaruh di kerajaan ini.


Penyihir agung menjawabnya hanya dengan anggukan, kode itu cukup jika bangsawan itu diijinkan bertanya.


Bangsawan militer itu bertanya, “Apa benar beberapa penduduk yang tinggal di dekat perbatasan telah diculik dan dijadikan tumbal untuk membuka Gerbang?”


Alis Hin tiba-tiba menurun sangat tajam, dia belum mendengar kabar itu sebelumnya dari siapapun.


“Kita akan mengetahuinya saat utusanku tiba disini,” jawab Penyihir agung.


Seluruh orang mulai resah setelah jawaban dari Penyihir agung, tak terkecuali Hin yang masih terlihat terkejut dengan perkataan salah satu bangsawan militer tadi.


Hin mengepalkan tangannya dengan sangat erat, seperti ingin menghajar seseorang yang telah menculik penduduknya untuk dijadikan tumbal membuka Gerbang.


Jika dia sudah seperti sekarang, Hin tidak akan main-main dan akan menghajar orang yang sudah menjadi targetnya.


Beberapa saat kemudian seseorang yang memakai pakaian serba hitam muncul di depan Penyihir agung. Dia masuk tidak melalui jalur yang disediakan, dan sudah berada di depan Penyihir agung begitu saja.


Penyihir agung tentu saja sudah menyadari jika ada seseorang yang sedang berlutut dihadapannya. Dia juga memaklumi jika seluruh orang di tempat ini sangat terkejut dengan kehadiran orang itu.


“Saya, Zariv telah tiba membawakan berita untuk anda. Penyihir agung,” ucapnya.


“Beri tahu semua berita yang kau dapatkan kepada para bangsawan yang sudah lama menunggu, Zariv,” jawab Penyihir agung yang dipatuhi langsung oleh Zariv.


Zariv kemudian berjalan beberapa langkah dari tempat Penyihir agung duduk, dia tidak melepaskan penutup wajahnya. Meski begitu, tidak ada satupun orang yang keberatan. Namun saat melangkah, ada sesuatu yang aneh dengan cara jalan Zariv.


“Saya akan menjawab satu persatu pertanyaan dari para bangsawan yang terhormat,” kata Zariv.


Banyak bangsawan yang berebut ingin memberikan pertanyaannya terlebih dulu.


“Siapa kau sebenarnya?” tanya salah satu bangsawan.


“Saya adalah tentara bayaran yang disewa Penyihir agung untuk mencari berita,” jawab Zariv tanpa pikir panjang.


Seluruh orang kemudian menoleh kearah Penyihir agung, dan tidak ada satupun kebohongan. Kemudian para bangsawan kembali berebut untuk bertanya.


“Apa benar ada warga kita yang diculik dan dijadikan tumbal untuk membuka Gerbang?” tanya bangsawan militer yang sudah menanyakan hal itu kepada Penyihir agung.


Zariv menjeda beberapa detik, sebelum akhirnya dia menjawab pertanyaan tersebut. Dia seperti menyiapkan diri untuk menjawab pertanyaan yang ia dapatkan.


“Benar, ada 20 warga yang tinggal di perbatasan yang diculik oleh pasukan Kerajaan Luan untuk dijadikan tumbal membuka Gerbang.”


Suasana semakin ricuh, para bangsawan berbagai kalangan mulai mengatakan kata-kata yang sifatnya mengutuk Kerajaan Luan.


Apalagi Hin terlihat semakin geram kalau berita tersebut memang benar, sekarang keinginannya bukan hanya untuk menghajar Raja Bogat, tetapi juga menghabisi nyawanya juga.


“Apa kau tahu lokasi Gerbang yang muncul di dunia lain?” tanya salah satu bangsawan militer lainnya.


“Saya mengetahuinya, namun sayangnya mereka membuka Gerbang di negara yang hampir menghancurkan militer Kerajaan Luan,” bangsawan yang bertanya puas dengan jawaban yang diberikan Zariv.


Namun kata ‘menghancurkan’ yang Zariv ucapkan membuat para bangsawan menjadi cemas. Karena keputusan untuk tidak berperang dengan dunia lain sangat tepat untuk dipilih.


Bagi bangsawan yang menginginkan perang, mereka terlihat jauh lebih cemas untuk menjalankan rencana mereka untuk melibatkan Kerajaan Arevelk di perang ini.


Perwakilan juga terlihat demikian, dia semakin ragu untuk melanjutkan rencana yang ia susun dan hampir dilaksanakan.


“Jika kalian memiliki telinga, jangan berani untuk merencanakan yang membuat negara ini terlibat dalam perang bodoh itu,” tiba-tiba Penyihir agung berkata yang membuat hati para bangsawan yang menginginkan perang menjadi ‘tertusuk’.


Hin penasaran dengan maksud Penyihir agung berkata seperti itu. Dia pikir memang benar-benar ada beberapa bangsawan yang memiliki rencana untuk melibatkan negara ini dalam perang.


“Penyihir agung, apa anda merasa ada pihak yang menginginkan negara ini untuk terlibat dalam perang?” tanya Hin dengan nada se- pelan mungkin agar tidak terdengar.


“Saya takut jika mengatakan yang sebenarnya. Mungkin anda akan melakukan sesuatu yang membuat para bangsawan terbelah menjadi dua fraksi,” Penyihir agung terdengar benar-benar sangat cemas jika dia mengatakan jika memang terdapat sebagian kecil bangsawan yang menginginkan perang.


Penyihir agung kemudian memerintahkan Zariv untuk mendekat kepadanya, seperti ada perintah lagi untuknya.

__ADS_1


Penyihir agung menyentuh kepala Zariv, seperti yang ia lakukan saat memberikan perintah pada Zariv.


“Akan saya laksanakan dengan taruhan nyawa,” jawab Zariv.


Kemudian dia tiba-tiba menghilang dan hanya menyisakan beberapa helai bulu burung yang berwarna hitam yang berterbangan. Zariv berangkat untuk melaksanakan perintah yang diberikan padanya, untuk melindungi Sigiz di dunia lain. Itu artinya, Zariv harus mencari cara agar dapat memasuki Gerbang.


Karena pada hari ini, pasukan gabungan lima negara berangkat untuk menyerang kembali dunia lain.


**


17 Agustus 2321, pukul 08.41 WIB.


Pusat Kota Karanganyar, provinsi Jawa Tengah, Indonesia.


**


Berita mengenai Gerbang yang muncul di seluruh dunia telah menghilang, menambah sebuah kesan dihati pada hari ini. Penduduk seluruh dunia merayakan hal ini semeriah mungkin, karena perang ini hampir sama menghancurkannya dengan Perang Dunia I dan II.


Di dunia yang pada hari ini masih malam hari, kembang api yang besar dan indah dinyalakan di berbagai lokasi seluruh penjuru dunia. Sebagian negara memilih untuk merayakannya dengan acara yang lebih sederhana namun tetap meriah, seperti menembakkan artileri meriam dan meluncurkan roket kosong yang sering digunakan saat latih tempur.


Penduduk negara-negara di dunia ini banyak yang turun ke jalanan dan ikut merayakan menghilangnya Gerbang. Hal itu membuat jalanan di kota besar di beberapa negara dipenuhi dengan manusia yang sedang berbahagia.


Tetapi militer dunia menyadari kemungkinan masih ada musuh yang sedang bersembunyi. Namun mereka pikir musuh yang bersembunyi akan keluar dan menyerah seiring berjalannya waktu.


**


Sementara di Kota Karanganyar....


Suasana jalan provinsi di pusat kota sangat ramai, yang memang sengaja ditutup untuk perayaan ulang tahun RI, dan juga sebagai lintasan para prajurit melakukan parade kemenangan. Ada ratusan orang yang datang dan menunggu para peserta perayaan melintas.


Jangan lupakan pedagang kaki lima yang berjualan di tempat ini, ya inilah kesempatan mereka karena suasana yang ramai. Jangan khawatir jika merasa haus, karena penjual es sangat banyak. Apalagi pedagang makanan ringan, seperti cilok dan siomay juga banyak.


Tentunya harganya bisa disesuaikan uang yang dibawa pengunjung.


Di perkemahan tim pengawas, terlihat 10 prajurit mengejek rekan-rekan mereka yang tidak ditunjuk untuk mengikuti parade kemenangan. Hal itu membuat kesabaran mereka sudah berada di ujung ubun-ubun, bahkan hampir menghajar sebelum Nio datang.


“Siapa yang akan mengemudikan rantis?” tanya Nio seperti tidak mengetahui jika hampir ada keributan di tempat ini.


Empat orang mengangkat tangan kanan mereka, termasuk Rio yang bisa mengendarai kendaraan taktis


Sebelas prajurit telah mengenakan seragam tempur lengkap mereka, termasuk memasang pedang di punggung rompi. Pedang hanya berfungsi jika prajurit terpaksa melakukan pertempuran jarak dekat, jadi pedang tidak terlalu sering berfungsi karena senapan serbu jauh lebih sering digunakan.


“Kita berangkat sekarang…!”


Beberapa saat kemudian 3 unit kendaraan taktis dan 1 unit truk pengangkut keluar dari perkemahan dan menuju pusat kota.


Sigiz dan Ivy yang penasaran karena Nio pergi dengan membawa pasukan kecil, mencoba menanyakannya pada Arista yang tidak diikutsertakan di parade kemenangan.


“Nio, dia mau kemana. Kenapa dia hanya membawa pasukan kecil?” tanya Ivy yang menerjemahkan pertanyaan dari Sigiz.


“Oh, mereka akan mengikuti parade kemenangan. Dan merayakan ulang tahun negara kami,” jawab Arista.


Sigiz mengangguk mengerti saat Ivy menerjemahkan ucapan Arista.


“Apa kita bisa ikut melihatnya?” Ivy kembali bertanya pada Arista.


“Untuk kalian…, tentu saja tidak bisa. Tapi kita bisa melihatnya dari TV,” jawaban Arista membuat Ivy dan Sigiz terlihat kebingungan.


Terlihat beberapa prajurit laki-laki sedang menyiapkan TV beserta perlengkapannya. Tempat menontonnya diatur agar seluruh orang dapat melihatnya.


Saat dinyalakan masih memperlihatkan gambar semut, namun saat bagian atas TV dipukul gambar siaran baru terlihat jelas.


“Kenapa ada banyak orang di benda kecil ini?” tanya Ivy yang membuat seluruh prajurit tersenyum kecut.


Seluruh prajurit Sigiz juga terlihat kebingungan dengan TV yang menyiarkan parade kemenangan dari saluran lokal Kota Karanganyar.


Sementara di pusat kota, seluruh anggota Kompi 406 dan 32 sudah mengunggu kelompok Nio yang tiba sedikit terlambat dari waktu yang telah ditentukan.


Parade sudah dilaksanakan, yang berada di barisan depan adalah drum band dari kelompok anak muda, kemudian diikuti pasukan Kompi 406 dan 32 yang akan melakukan defile.


Surya mengatur barisan para prajurit agar terlihat rapi dan sesuai dengan peraturan baris-berbaris.


Surya menyerahkan sebuah tongkat yang terdapat bendera berlambang Tentara Pelajar kepada Nio. Itu artinya, Nio akan berada di barisan terdepan dan menjadi pembawa bendera dibelakang Surya dan Herlina yang akan berada di barisan paling depan.


Meski sudah sering melakukan latihan baris-berbaris, namun hampir seluruh prajurit terlihat gugup karena pertama kali tampil didepan umum.


Kode untuk para pasukan defile tampil sudah dibunyikan, masyarakat mulai memanggil nama pasukan ini berkali-kali yang membuat para prajurit semakin gugup.


Dengan langkah tegap, mereka berjalan di jalan provinsi di tengah siang hari yang terik ini. Para warga sambil mengibar-ngibarkan bendera merah putih berukuran kecil di pinggir jalan sambil memanggil nama pasukan ini.


Dibelakang pasukan defile yang berjalan kaki, kendaraan tempur milik Kompi 406 dan 32 melintas. Itu menambah kemeriahan parade kemenangan hari ini.


Namun ada yang aneh dengan para warga yang menonton. Bukan karena jarang ada yang jajan. Jarak antara warga biasa dan warga yang tinggal di pinggiran kota terlihat cukup jauh, seperti memang sengaja dibatasi seperti ini.


Saat mencapai barisan para warga dari pinggiran kota, mereka hanya memanggil satu nama, yakni Pembantu Letnan Satu Nio.


Para warga dari pinggiran kota memanggil nama Nio dengan wajah senang karena dia benar-benar berada di baris depan. Apalagi sambil membawa bendera dengan lambang Kesatuan Tentara Pelajar.


Nio semakin mengangkat kepalanya dengan perasaan bangga, karena ada banyak orang yang memanggil namanya. Nio juga memasang senyum haru, matanya terlihat berkaca-kaca saat anak-anak kecil yang tinggal di pinggiran kota juga memanggil namanya.


Namun Nio tetap mencoba berkonsentrasi tanpa membuat kesalahan kecil.


“Itu Nio kan?”tanya Ivy yang terlihat terkejut saat kamera memperlihatkan Nio berada di baris depan pasukan defile.


Seluruh anggota tim juga terlihat senang saat Nio berada di barisan depan sambil membawa bendera.


Tetapi saat melihat pasukan defile yang jumlah prajuritnya kurang dari 100 orang, para pasukan Sigiz terlihat gentar. Entah apa yang membuat mereka menjadi seperti itu. Sementara Sigiz hanya menatap kagum Nio yang dirinya cukup lama direkam oleh kameraman.


Sementara di kota bawah tanah, seluruh orang di tempat ini juga menonton bersama parade kemenangan dan pasukan defile Kompi 406 dan 32 tampil.

__ADS_1


Arunika yang juga ikut menonton terlihat terharu, saat kamera memperlihatkan warga pinggiran kota terus memanggil nama adiknya.


“Kenapa dia tiba-tiba menjadi sangat terkenal?” batin Arunika sambil melihat bangga Nio yang berada di barisan depan.


Wajah Nio kembali menjadi datar saat barisan tiba di tempat para orang-orang penting kota ini menghadiri acara ini.


Pasukan defile telah berjalan sejauh 2 kilometer, yang membuat mereka benar-benar kelelahan. Apalagi para prajurit juga membawa senapan yang magasinnya terisi penuh peluru. Berat senapan bisa mencapai 5 kg jika lengkap dengan peluru penuhnya.


Herlina mendekati Nio sambil membawa sebotol air mineral dan melemparkannya kepada Nio.


“Terimakasih,” jawab Nio sambil menghabiskan setengah isi botol.


Namun, tiba-tiba alis Herlina menurun tajam. Begitu juga Nio dan Surya, insting seorang Komandan memang jangan diremehkan.


“Seperti ada keributan…,” batin Nio yang kemudian berlari keluar tenda tempat dia berisitirahat bersama pasukan defile lainnya.


Di luar tenda, memang benar para warga terlihat panik dan berlari dengan tidak beraturan. Beberapa warga sampai terjatuh dan terinjak-injak warga lainnya yang mencoba menyelamatkan diri dari sesuatu.


Seluruh pasukan defile kemudian keluar untuk melihat kekacauan yang terdengar.


Sebuah benda dengan ukuran sangat besar muncul di tengah jalan provinsi pusat Kota Karanganyar. Bentuknya seperti gerbang, namun jauh lebih besar dan dihiasi dengan ukiran yang rumit.


Pasukan defile atas perintah Herlina dan Surya berpencar untuk membantu warga yang sangat panik untuk menyelamatkan diri. Karena benda besar itu seperti akan mengeluarkan sesuatu yang besar pula.


Dalam waktu singkat, 5 ekor kadal terbang keluar dari Gerbang beserta pawangnya dan menyemburkan api kearah warga yang berusaha menyelamatkan diri.


Setelah itu, pasukan dengan jumlah ratusan orang keluar dan langsung menyerang semua yang mereka lihat setelah keluar dari Gerbang.


Para pengemudi kendaraan dari Kompi 406 dan 32 mengambil kendaraan dan menghentikannya di dekat tempat keluarnya pasukan itu.


“Itu… itu pasukan dunia lain kan?” seluruh prajurit mengucapkan kata yang sejenis.


Suara tembakkan terdengar dan menyebabkan puluhan orang pasukan yang keluar dari Gerbang mati seketika. Wyvern yang keluar juga tak luput terkena amunisi yang ditembakkan peluncur roket.


Nio memerintahkan beberapa anggotanya untuk memanggil bantuan, dia meminta seluruh anggota tim pengawas untuk ke medan tempur.


Sebagian prajurit masih membantu para warga untuk mengevakuasi diri. Setidaknya hingga mereka berada jauh dari medan tempur.


Puluhan prajurit musuh telah dihabisi dengan amunisi yang ditembakkan senapan serbu dan senapan mesin berat serta ringan. Puluhan warga yang menjadi korban juga masih tergeletak diatas jalanan dengan berbagai kondisi.


Warga laki-laki mencoba melarikan diri, mereka adalah warga yang tidak memiliki pasangan. Sedangkan warga laki-laki yang memiliki pasangan mencoba untuk menyelamatkan pasangan mereka, meski di punggung mereka tertancap anak panah yang dilepaskan pasukan musuh.


Sedangkan warga laki-laki yang sudah berkeluarga tetap mementingkan keluarga mereka, meski harus mati ditangan prajurit musuh dengan sabetan pedang.


Area ini benar-benar telah kosong dari warga sipil.


Sedangkan di perkemahan tim pengawas, suasana disini seketika berubah setelah mendapatkan panggilan untuk segera berangkat menuju medan tempur.


Pasukan Sigiz tentunya sangat kebingungan dengan mereka, karena semula suasana yang penuh kegembiraan berubah menjadi tidak nyaman.


Sementara siaran TV menunjukkan Gerbang yang berukuran sangat besar. Itu membuat pasukan Sigiz sangat terkejut, terlebih lagi Sigiz yang teringat dengan Nio yang berada di lokasi munculnya Gerbang.


“Kami akan ikut,” ucap Ivy kepada Arista. Namun dia tidak menjawab apapun.


Hal itu membuat pasukan Sigiz menganggap jika mereka diijinkan untuk membantu melawan musuh yang keluar dari Gerbang.


Seluruh prajurit menaiki tunggangan masing-masing dan terbang lebih cepat dari kendaraan lapis baja yang melaju diatas aspal tersebut.


“Kenapa Gerbang bisa terbuka dengan sempurna?” batin Sigiz dengan wajah pucat.


Pasukan masih melakukan pertempuran dengan pasukan musuh yang terus menerus keluar dari Gerbang. Tak terhitung berapa peluru yang telah ditembakkan, granat yang dilemparkan dan roket yang dilesatkan untuk melawan puluhan kadal terbang yang keluar dari Gerbang.


Para prajurit menggunakan berbagai fasilitas kota sebagai tempat perlindungan. Sebagian menggunakan selokan sebagai parit pertahanan yang praktis, beberapa lagi menggunakan pepohonan yang ditanam sebagai tameng.


Namun prajurit yang menembakkan peluru dari senapan mesin yang terpasang diatas kendaraan taktis memiliki pertahanan yang lemah, sehingga ada beberapa prajurit yang melindungi mereka.


Beberapa tembakkan dari pasukan memang menimbulkan ‘peluru nyasar’, yang mengenai bangunan yang berdiri di pinggir jalan.


Seluruh pasukan bantuan telah tiba setelah ratusan mayat tergeletak di atas jalanan.


Bahkan saat pasukan musuh terus dihujani dengan ribuan peluru dan puluhan granat, mereka tidak mundur.


Mereka pasti ingin mengeluarkan rasa balas dendam setelah tidak berhasil mengalahkan pasukan negara ini, dan terus keluar dari Gerbang dengan pasukan yang besar.


Saat keluar dari Gerbang, pasukan ini tidak melihat siapa musuh mereka dan menyerang seluruh orang. Kebencian terhadap pasukan negara ini telah membuat pikiran para pasukan hanya memikirkan cara balas dendam.


Perasaan ini terukir dalam di hati mereka.


Rasa hormat mereka terhadap negara asal masing-masing sama dengan kebencian dan kemarahan terhadap musuh yang terus menghujani mereka dengan timah panas.


Ini adalah perang, dengan merampas kehormatan para perempuan, pembantaian dan kematian.


Ini adalah perang, biarkan senjata yang mereka miliki bicara di medan tempur.


Perang memang menjadi motivasi pasukan yang keluar dari Gerbang. Semua yang ada hubungannya dengan perang akan mereka lakukan, selama bisa memuaskan mereka.


Meski dengan menebas angin, menusuk angin, mandi darah kawan dan tergeletak diatas tanah yang panas pertarungan mereka belum berhenti sebelum dewa kematian memainkan takdir.


Mereka akan terus berlari kedepan, melawan musuh yang menggunakan senjata aneh, kemudian berakhir tergeletak diatas jalanan yang panas dengan darah keluar dari bagian tubuh yang berlubang.


Pasukan yang keluar dari Gerbang mengharapkan garis pertahanan jatuh, namun mereka bahkan belum sempat untuk melihat musuh kemudian tertusuk panah kecil yang dapat menembus tubuh.


Para warga terus mendengar suara tembakkan yang menggetarkan hati. Tidak ada yang tahu kapan berakhirnya suara tembakkan yang membuat telinga sakit itu.


Seperti telah berubah menjadi gila, beberapa pasukan manusia menggedor perisai dengan pedang mereka dan berteriak.


Namun itu tidak meruntuhkan moral pasukan Kompi 406 dan 32 yang terus bertempur ditengah siang yang panas ini.


Pasukan Sigiz yang baru saja tiba membuat pasukan yang keluar dari Gerbang sedikit terkejut. Mereka menganggap jika pasukan Sigiz adalah bantuan, tetapi ternyata menjadi musuh.

__ADS_1


“Bajingan...! ternyata perang sebenarnya baru saja dimulai…,” Nio yang sedang berlindung di selokan terus mengumpati pasukan musuh yang keluar seperti tidak ada habisnya.


Nio tidak bisa berhenti menembak, dia sudah terlanjur memiliki banyak dosa karena membunuh. Itulah yang Nio pikirkan saat menembak musuh dengan peluru yang ia miliki. Bahkan dia sudah tak dapat mencatat jumlah musuh yang ia bunuh di buku catatannya, karena dia juga tak dapat menghitung jumlah musuh yang sudah ia habisi.


__ADS_2