
Setelah kabar jatuhnya wilayah Teluk Tanduk oleh pasukan Indonesia dibantu Utusan Dewi Kematian dan Dewa Perang, ditambah pasukan Indonesia dan Persekutuan yang terus bergerak dari barat dan timur Benua Andzrev, Aliansi mulai menderita kegelisahan luar biasa.
Kelompok anti-Aliansi yang bernama Faksi Perdamaian mengangkat gelas berisi alkohol mahal sebagai bentuk dukungan bagi Persekutuan. Sementara itu, Faksi Militer dan petinggi Aliansi menenggak alkohol terbaik namun dengan ekspresi pahit.
Namun, pertempuran di Teluk Tanduk belum memperlihatkan akhir perang ini.
Warga-warga Kerajaan Salodki berkumpul di titik vital negeri tersebut, meneriakkan bahwa tanah air mulai runtuh. Selain itu, warga Kerajaan Salodki berteriak untuk Aliansi agar memberikan kompensasi bagi keluarga prajurit. Kematian yang tak berarti terus membayangi tentara Aliansi, hanya kemenangan Persekutuan yang bisa dipastikan dari perang ini.
Namun, sekarang Aliansi memiliki 2 Utusan Dewa Surga di pihaknya yang dipercaya mampu merubah jalan peperangan jika mereka terlibat.
Selain Utusan Dewa Surga yang tak terkalahkan, rakyat yang rela berkorban dan bersatu demi memperjuangkan tanah air sama kuatnya.
“Jadi, apakah kita akan mendapatkan bantuan dari para Pahlawan dan Utusan?” Gurion bertanya pada salah satu perwiranya.
Setelah pertempuran, Gurion sama sekali tidak melihat keberadaan Theodore. Tapi, kabar jika Theodore tidak berjuang dalam peperangan demi memperkuat korps senjata kimia membuat pria tersebut memakluminya.
Tidak adanya Hukum Perang Internasional di dunia ini membuat Gurion menganggap penggunaan senjata pemusnah masal bukanlah kejahatan, melainkan usaha mempertahankan diri.
“Tidak ada bantuan dari Pahlawan dan Utusan. Tapi, Aliansi memerintahkan kita untuk bertempur di luar wilayah Salodki,” jawab bawahan Gurion.
“Rencana itu membutuhkan dana besar, aku meragukannya.”
Gurion merasa dia harus tetap memimpin pasukan menghadapi pergerakan TNI di Kerajaan Salodki.
Selama dia masih berdiri, hal itu cukup untuk menyatakan ‘kami tetap berdiri untuk melawan musuh’.
Dan, tetap saja prajurit lah yang akan bertindak atas perintah petinggi organisasi dan komandan. Kenyataannya jelas; prajurit melakukan apa yang diminta pemerintah atau pemilik mereka. Semua orang akan melakukan semua yang mereka bisa untuk negara, khususnya negara-negara yang bersatu membentuk suatu organisasi bernama ‘Aliansi’.
Jika ada satu garis besar yang sering dilupakan para pemimpin negara, politisi, dan petinggi militer itu adalah; para prajurit diminta untuk rela berkorban dan dikorbankan oleh negara atas nama perjuangan demi mempertahankan harga diri bangsa, sementara para pejuang juga memiliki keluarga yang harus hidup bahagia. Ironi tersebut terjadi di kedua belah pihak yang berperang, yakni Aliansi dan Persekutuan.
Para petarung hanya diberi waktu singkat untuk mengucapkan selamat tinggal pada keluarga, kekasih, atau orang-orang tersayang.
“Kita adalah pasukan yang diandalkan Aliansi untuk mempertahankan wilayah Salodki, Tuan Gurion,” ucap bawahan Pahlawan Penyesalan.
Gurion melihat telapak tangannya. Dia merasakan kekuatan ribuan pria mengalir di tubuhnya, sebuah kekuatan hasil pemberian bagi Pahlawan seperti dirinya.
“Misi kita adalah melindungi Aliansi…”
Bawahan Gurion menatap atasannya dengan senyum, walau itu hanya kalimat penghibur.
Kemudian Gurion melanjutkan kalimatnya, “Dan mengambil Pahlawan Harapan dari Persekutuan.”
Tidak perlu dijelaskan lagi, menangkap, kemudian mencuci otak Pahlawan Harapan untuk berjuang bersama Aliansi melawan Persekutuan adalah salah satu tujuan mulia Aliansi.
**
Satu bulan setelah penaklukan Teluk Tanduk.
Dalam waktu dekat, kontingen Korea Utara akan melakukan penarikan. Itu lebih cepat dari jadwal awal, karena waktu tersisa 2 bulan. Namun, perintah ‘Pemimpin Tertinggi’ Korea Utara tidak bisa ditolak walau kondisi sekutu sangat membutuhkan bantuan mereka. Meski begitu, kontingen Rusia tetap melakukan operasi penarikan sesuai jadwal, namun seorang prajurit mereka mendapatkan hak istimewa untuk menjelajahi dunia ini bersama pasukan TNI.
(olog note: penulis menggunakan kata ganti ‘Pemimpin Tertinggi’ untuk Presiden Korea Utara)
Namun, bagi komandan regu elit ‘Tim Ke-12’ dan unit Demihuman ‘Pembunuh Senyap’, perginya 2 orang bukanlah masalah baginya.
“Tapi, kepulangan Ro Ga-eun dan Nam Ae-ri juga masalah tersendiri bagiku.”
Nio melihat ke luar tenda, dan terlihat Zefanya melempari lautan Teluk Tanduk dengan batu atau karang dengan wajah sedih. Sesekali gadis itu menenggak vodka dari botol yang digenggam tangan kirinya, dengan wajah sedih juga. Alasan Zefanya sedih sudah jelas, dia tidak memiliki teman ‘minum’ jika Ga-eun dan Ae-ri pulang ke tanah air mereka. Bahkan, walau dia sudah hampir mabuk, Zefanya masih menangisi kepulangan kedua gadis tentara Korea Utara.
Ada empat tenda berukuran sedang berdiri di pantai Teluk Tanduk yang memiliki panjang 10 kilometer. Hanya ada Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap di wilayah ini setelah mereka berhasil menguasai Teluk Tanduk. 15 kapal perang TNI AL masih diam di tempat untuk mengawal mereka, sambil mengawasi wilayah darat, udara, dan laut sekitar.
Baik armada TNI AL, Batalyon Amfibi, Pembunuh Senyap, dan Tim Ke-12 sama-sama menderita kebosanan luar biasa setelah menaklukan benteng pesisir pasukan Aliansi yang mempertahankan Teluk Tanduk. Namun, kemenangan besar pasukan kecil kontingen Indonesia dan kolaborator lokal membuahkan hasil manis.
Bagi Nio, makanan di depannya adalah hidangan yang indah. Makanan pembuka adalah es kopi hitam manis, hidangan utama adalah lima bungkus mi instan dari pabrikan ‘Ind*mie’ varian goreng yang dimasak sekaligus dan disajikan pada baskom, sedangkan untuk penutup tentu saja rokok.
Dia terbiasa makan ransum buatan pabrik dengan imukal, sehingga mi instan adalah makanan level legendaris baginya karena jarang terlihat dan dimakan sejak penugasannya di dunia ini. Ransum dan imukal tidak bisa dibandingkan dengan mi instan dan kopi ‘asli’ sejak penciptaan mereka, dengan demikian mi instan adalah perwujudan dari kreativitas manusia yang menakjubkan.
__ADS_1
Dengan bawahannya yang juga dengan senang melahap hidangan favorit masing-masing, membuat Nio puas. Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap adalah bagian dari Tim Misi Istimewa yang terkemuka, sehingga perlakukan istimewa seperti ini membuat mereka mengagumi keberuntungan masing-masing.
Ketika Nio memikirkan betapa bahagia dirinya atas hasil kerja kerasnya, dia hanya memikirkan orang tersayang di rumah. Namun, hal itu diperparah ketika Ratna berteriak pada Nio jika pria itu mendapatkan panggilan dari Markas Pusat.
“Komandan, apa kamu akan menerima panggilan atau tidak?” Ratna sengaja bertanya kembali.
“Siapa sialan yang meneleponku saat sedang menikmati hari-hari menyenangkan yang langka ini?” ucap Nio di dalam hati.
Ketika mendengar jika telepon terus berdering, Nio menjadi ragu jika pasukannya akan beristirahat dengan cukup seperti yang dijanjikan.
Nio mengambil gagang telepon dengan wajah malas, lalu mendengar ucapan, “Aku Jenderal Angga, apa aku sedang berbicara dengan Letnan Satu Nio Candranala?”
“Ya, Pak, itu saya sendiri.”
Nio jelas mengetahui tujuan atasannya menelpon dirinya. Tebakan Nio adalah kebalikan dari makan siang yang indah, panggilan dari Jenderal akan menjadi perintah kembali ke garis depan yang melelahkan.
Kontingen Korea Utara telah kembali ke asalnya, dan Nio ingin melakukan hal yang sama.
“Bagaimana bisa Markas Besar memerintahkan remaja sepertiku terus bertempur di garis depan?” keluh Nio di dalam hati.
Jenderal Angga mengatakan tujuannya, “Pemberitahuan dari Markas Besar ‘Panggil Letnan Satu ‘TRIP’ Nio Candranala dan unitnya. Perintahkan Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap untuk bersiap melakukan pertempuran lagi’.”
“Dipahami, Pak. Saya akan mengumpulkan semua anggota, dan segera melapor begitu semua siap.”
Setelah sambungan terputus, Nio meletakkan telepon lalu menatap Ratna dengan wajah menyedihkan.
Nio bukan tanpa alasan memasang wajah lesu yang luar biasa. Dia tidak menyukai tugas yang berlarut-larut, tapi tugas harus dilaksanakan.
“Apa jatah istirahat kita ditambah, Komandan?” tanya Ratna dengan wajah polos.
‘Koki’ alias Ratna bertanya seperti itu, dia menganggap wajah lelah Nio hanya tipuan seperti biasa.
Tapi, pada akhirnya jawaban yang diberikan Nio sama seperti wajahnya yang membuat Ratna agak kecewa, “Tidak. Sayangnya, kita hanya diberikan waktu istirahat setengah dari yang dijanjikan.”
“Apa?!” Ratna membalas perkataan Nio dengan wajah kaget, lalu mulai mengutuk para perwira di Markas Pusat yang tidak harus berperang secara langsung.
Daripada terus menggerutu yang tidak memperlihatkan dia memiliki sifat prajurit yang pantang menyerah, tabah, dan rela berkorban, tentu saja Nio lebih memilih mengikuti perintah. Pada intinya, prajurit adalah alat, tetapi di saat yang sama mereka tetaplah makhluk sosial.
“Maaf, tapi kita punya perintah untuk bersiaga lebih awal,” ucap Nio.
“Tidak apa-apa, Komandan. Aku yakin, teman-teman akan baik-baik saja, kamu tidak perlu minta maaf,” jawab Ratna dengan wajah penuh belas kasih.
Nio memutuskan memperlihatkan senyum saat dia menyingkirkan perasaan getir, lalu berjalan melewati Ratna sambil tersenyum.
Saat seluruh Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap berkumpul, Nio siap membagi kemalangannya. Dia tidak ingin menikmati penderitaan sendirian, tapi ada sejumlah petarung yang bersedia berbagi penderitaan selama perjuangan. Fakta bahwa seluruh bawahan Nio, termasuk pelayan pribadinya, Hevaz, berkumpul ketika menikmati waktu istirahat berharga, mereka semua lulus dari penderitaan pertama.
“Ya, ada berita menyebalkan yang diberikan Jenderal secara langsung kepada kita,” ucap Nio tanpa pikir panjang.
“Apa yang mereka perintahkan pada kita, Komandan?” tanya Hassan.
“Langsung ke intinya, semua anggota Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap harus siap melanjutkan misi sekarang.”
Kalimat Nio tentu saja membuat beberapa anggota menggerutu. Namun, berita buruk itu harus diterima dengan hati tabah.
“Siap! Perintah mobilisasi diterima! Saya akan memastikan semua pasukan siap meninggalkan waktu istirahat yang diberikan atasan secara setengah-setengah ini!” jawab Hassan dengan tegas.
Jika selama operasi skala besar di wilayah Kerajaan Salodki kontingen Indonesia mengirimkan pasukan tambahan anti-gerilya, Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap dapat mundur atau beristirahat. Hal itu sangat mungkin jika Markas Pusat tidak menerima pesan dari armada TNI AL mengenai kondisi daratan Teluk Tanduk dan sekitarnya, sehingga membuat unit kecil tersebut kembali bertempur.
**
Nio beralih ke kapal komando, pihak yang membuat unitnya tidak bisa beristirahat secara optimal.
Di dalam kapal induk helikopter, Nio ragu jika seluruh awak mengirimkan pesan darurat ke Markas Pusat tanpa perasaan menyesal. Nio menatap tajam ke arah operator komunikasi kapal, membuat mereka resah akan keberadaannya yang ‘besar’.
“Kita mendapatkan pesan teks lanjutan dari Markas Pusat!” ucap salah satu awak kapal.
__ADS_1
“Apa isinya?” balas Nio.
Ketika para awak kapal menatap komandan mereka yang berdiri dengan wajah resah di pojok anjungan setelah kedatangan Nio, salah satu awak membaca pesan dari Markas Pusat, “Mereka meminta pasukan Anda untuk melanjutkan pergerakan ke titik yang telah ditetapkan. Misi adalah temukan musuh, dan blokir area itu agar musuh tidak bisa mendekati kapal-kapal perang kita. Begitu pesannya, Pak!”
Pasukan darat seperti Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap tidak memiliki kemampuan mengawal kapal perang, jadi apa maksud ‘memblokir musuh agar tidak bisa mendekati kapal-kapal perang kita’? Bicara mengenai kuantitas, pasukan Nio memang mustahil melawan armada kapal perang musuh, namun jika mereka bertempur di daratan, keberuntungan akan menjawabnya.
“Apa kita punya peta wilayah Teluk Tanduk dan sekitarnya?” tanya Nio.
Salah satu awak menanggapi, “Ya Pak, segera!”
Awak kapal berpangkat Kelasi Satu menyerahkan peta Teluk Tanduk dan area sekitarnya dengan total luas nyata 100 kilometer. Hubungan antara Angkatan Darat dan Angkatan Laut sebenarnya dapat bekerja sama dengan baik, jika pemerintah memberikan kedua matra anggaran yang seimbang. Tetapi, tanggung jawab dalam operasi tempur ini sebenarnya membuat Nio mampu menaklukan seluruh orang di kapal induk helikopter ini, bahkan membuat komandan kapal hanya bisa bertapa di salah satu pojok anjungan.
Pada situasi ini, Nio tidak bisa menyalahkan Markas Pusat yang menyusun koordinasi antar unit tempur dalam operasi ini dengan buruk. Walau seluruh rencana Markas Pusat sangat efisien, mungkin para komandan dalam operasi tempur ini menganggap terlalu efisien adalah hal yang buruk.Nio pikir dia harus memuji totalitas para komandan dalam pekerjaan mereka. Nio adalah perwira remaja yang baik, jadi dia membenarkan pujian bagi rekan satu medan tempurnya.
Seluruh pasukan tempur dalam operasi ini sama-sama tidak mengenal hari dan tidak diijinkan menyia-nyiakan waktu. Untuk menghabiskan waktu istirahat, mereka tetap melakukan pekerjaan sesuai posisi masing-masing.
Ketika Nio memikirkan masalah tersebut, dia pikir yang bisa dilakukan hanyalah melaksanakan perintah demi kebaikan bersama.
“Pak, ijin bertanya,” Nio mengajukan permintaan pada komandan armada TNI AL di dunia ini, dia berpangkat Laksamana Muda.
Sang Laksamana Muda bangkit setelah bertapa beberapa menit sejak kedatangan Nio di kapalnya, lalu membalas pertanyaan Nio,“Ah, ya apa yang ingin kamu tanyakan, Letnan Nio?”
“Apa misi armada Anda benar-benar hanya mempertahankan Teluk Tanduk?”
Mesin perang telah bergerak, dan pasukan Nio adalah salah satu komponennya. Nio perlu mengetahui pergerakan selanjutnya dari armada TNI AL dan Batalyon Amfibi, dan perkiraan pergerakan armada kapal perang Aliansi.
“Memangnya apa lagi yang bisa kami lakukan? Kami tidak bisa terlalu sering berlayar. Logistik untuk kapal-kapal perang jauh lebih sedikit daripada pasukan di daratan, tahu,” jawab sang Laksamana Muda dengan nada menggerutu, namun Nio tidak menghiraukan ekspresi kekanakannya.
Meski armada TNI AL di dunia ini tidak dibekali bahan bakar dan logistik para awak dengan cukup, namun mereka diperkuat kapal-kapal terbaik, termasuk kapal perusak Kelas Gajah Mada. Pelatihan para Batalyon Amfibi dapat dipercaya, dan dapat bekerja sama dengan pasukan Nio sejak operasi pendaratan. Tetapi, pertempuran dengan rencana yang disusun secara mendadak adalah cerita yang berbeda.
Nio tidak memiliki pilihan selain mematuhi perintah secara efisien, walau pasukannya tidak memiliki pengalaman dengan medan, belum lagi misi yang diterima tergolong sebagai operasi respon cepat. Mungkin itu yang menyebabkan Nio agak resah.
“Misi kami tidak berbeda dengan sebelumnya, hanya ditambah mengawal kapal-kapal perang. Tapi, misi pengejaran dan pencegahan sangat sulit,” gumam Nio.
Menyusun rencana kerja sama bersama pasukan yang berpengalaman dalam pertempuran laut sangat sulit. Jika Nio berhasil menentukan taktik bersama komandan armada, dia akan diwawancarai apakah menggunakan hipnotis atau semacamnya.
“Kapal-kapal cepat rudal yang berpatroli telah dikerahkan,” jelas salah satu awak kapal induk helikopter pada Nio.
“Apakah para kapal cepat rudal memiliki pendukung?” tanya balik Nio.
“Kapal latih fregat adalah pengawal para armada patroli kita.”
Kapal penghancur dan induk helikopter juga memerlukan pengawal yang kuat, hal itu juga alasan Indonesia dianggap mencari musuh di dunia ini karena besarnya armada kapal perang yang dikirimkan ke dunia ini walau tak sebanding dengan Amerika sewaktu berperang di Timur Tengah.
“Ini mendebarkan. Armada besar seperti kami akan mengawal pasukan darat kecil kamu, Letnan Nio.”
Sang Laksamana Muda sepertinya berbakat menaikan moral anak buahnya. Seorang komandan armada akan menonjol jika dia mampu memperhatikan suasana pasukan. Perkataannya membuat tingkat percaya diri awak kapal induk helikopter naik, membuat Nio tersenyum kecut karena dia satu-satunya Angkatan Darat di kapal ini.
“Apa yang membuat Anda bersemangat, Pak?”
Tak lama kemudian, sang Laksamana Muda menerima laporan dari unit patroli.
Beberapa drone kapal permukaan bersenjata roket dikerahkan untuk misi pengintaian, dan para operator mengirimkan informasi pada kapal komando.
“Oh, ternyata drone kapal kami melihat beberapa kapal berbendera Aliansi,” jawab sang Laksamana Muda.
Video di layar utama memperlihatkan sekumpulan kapal perang kayu raksasa bersenjata meriam, termasuk kapal induk Wyvern. Kapal-kapal perang kayu dunia ini bukanlah tandingan baja raksasa mengambang TNI AL, tapi ancaman dengan jenis apapun tak dapat diabaikan.
Menurut sudut pandang prajurit angkatan laut yang melihat perang permukaan menggunakan peluru kendali atau meriam railgun maupun torpedo raksasa untuk melawan kapal selam, kapal perang dengan banyak meriam berat sudah ketinggalan jaman. Meski begitu, armada TNI AL di dunia ini harus mewaspadai kapal-kapal perang Aliansi bersenjata meriam berat dan Wyvern.
Sebagai perbandingan, sebuah kapal penghancur biasanya mengangkut kurang dari 50 peluru kendali dan ratusan amunisi bagi meriam railgun untuk pertempuran permukaan, ditambah puluhan torpedo sebagai perlawanan terhadap kapal selam. Dalam peperangan nyata, tingkat akurasi tembakan kurang dari 80%, tergantung jenis kapal yang dilawan. Memunculkan fakta jika Angkatan Laut adalah matra yang paling boros dalam penembakan dibanding resimen artileri medan.
Dalam satu pertempuran, Aliansi paling besar mengirimkan 200 kapal perang bersenjata seratus meriam berat, termasuk beberapa kapal induk Wyvern. Namun, seluruh pertahanan armada kapal perang Aliansi bukanlah masalah bagi senjata-senjata mematikan kapal perang TNI AL, kecuali unit helikopter yang harus menghadapi Wyvern jika meriam reaksi cepat kehabisan peluru terlebih dulu.
Jika perang ini berlangsung 300 tahun lalu, entah apa yang terjadi pada TNI AL pada masa itu.
__ADS_1
“Setelah dianalisis, kapal-kapal perang yang dikirimkan Aliansi untuk melawan kita hanya ditugaskan mempertahankan Kerajaan Salodki. Sedangkan untuk armada bantuan, jaraknya sekitar satu bulan berlayar.”
Para perwira armada TNI AL telah memperkirakan berbagai jalur yang mungkin mereka ambil untuk menuju Teluk Tanduk, dan membuat pertahanan tengah laut. Tetapi, jelas tugas mereka adalah untuk menyingkirkan setiap kapal perang musuh dan mendukung pergerakan pasukan Letnan Satu Nio.