Prajurit SMA

Prajurit SMA
Perang batin: diskon


__ADS_3

“Edera, apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?”


Bertugas sebagai teman belanja Nio setelah mengalahkan para gadis, Edera tersenyum cerah. Mereka berdua turun dari sepeda motor setelah berkendara sambil menghirup udara kotor yang disebabkan hasil pembakaran bahan bakar konfensional.


Melihat ke sekeliling, Edera melihat beberapa remaja perempuan berjalan dalam kelompok berjumlah dua hingga enam orang. Mereka tampak cocok dengan pakaian yang dikenakan masing-masing, menyebabkan Edera penasaran.


“Toko pakaian.”


Nio berjalan di belakang Edera, menuju ke dalam pusat perbelanjaan. Karena hampir belum pernah memasuki ‘pasar dalam ruangan’ yang sangat luas, Nio dan Edera mengeluarkan ekspresi kagum saat mereka memandangi setiap sudut mall yang ramai. Dia mengikuti Edera ke toko pakaian, dan bukan sembarang toko pakaian. Karena diisi oleh merek terkenal, banyak orang hanya berdiri di depan jendela toko.


Karena mereka berkunjung di akhir pekan, ada banyak pasangan remaja yang berkencan di sini. Melihat beberapa pasangan kekasih, dengan si perempuan yang berbicara dengan genit pada pacarnya sambil berpegangan tangan atau memeluk bahu, Nio bertanya-tanya bagaimana orang lain memandang mereka berdua. Tapi, saat dia membayangkan orang-orang menganggap dirinya dan Edera adalah pasangan, Nio tidak ingin hal itu terjadi atau Zefanya akan menembak kepalanya dari jarak 4 kilometer menggunakan peluru berhulu ledak rendah yang menyebabkan tubuh target rusak.


“Anda Nona Edera, salah satu orang Dunia lain yang memiliki telinga kucing asli?!”


Seorang perempuan berusia sekitar 40 tahun-an dengan pangkat manajer yang keluar dari toko berkata seperti itu saat berjalan mendekati Edera dengan ekspresi kagum. Mendengar ucapannya, beberapa orang berhenti, terkejut, lalu memotret Edera yang berada di mall bersama seorang pria misterius seperti preman.


Edera tak tahan lagi, dan dia menatap Nio dengan mata takut agar dia membantunya.


Nio tersenyum, dan melihat Edera di bawa masuk oleh manajer toko dengan tujuan baik. Hanya beberapa kelompok manusia maniak tak beradab yang berfantasi ingin ‘bermain’ dengan Edera yang membuatnya ingin menembak mereka. Nio tidak ingin penggila anime menjijikan mengikuti Edera atau gadis-gadis dunia lain, sehingga dia tidak bisa mengalihkan pandangan pada gadis itu. Dia berdiri dalam sikap waspada, seolah-olah ada musuh di sekitarnya.


Namun, dia tetap tidak bisa membiarkannya hidupnya sendiri kaku. Sebagai manusia normal yang tidak gila kerja, dia merasa tetap membutuhkan hiburan untuk kesehatan fisik dan mentalnya.


Bagaimanapun juga, jika benar-benar ada musuh yang menjadikan Edera target, bahkan jika ritual panggilan alam Nio berlangsung terlalu lama, mereka beraksi di tempat dengan banyak saksi, ditambah setiap sudut mall dipasangi kamera pengawas. Sebagai kaum muda dia tetap ingin bepergian, namun tanpa meninggalkan pengawasannya terhadap Edera.


Saat Nio berkeliling di zona pakaian pria, Edera ditarik oleh manajer toko yang diikuti dua staf-nya. Edera tidak ingin dirinya menjadi pusat perhatian banyak orang, namun dia terlanjur naik daun setelah berita bahwa dia ikut membantu misi TNI di Dunia lain menghadapi Aliansi. Dia dapat merasa lega saat melihat Nio berkeliling sendiri di area toko pakaian yang sama dengannya.


“Nona Edera, berapa usiamu?” manajer bertanya. Dia hanya ingin memastikan apakah mayoritas perempuan dunia lain memiliki usia yang terpaut jauh dari penampilannya. Setelah pengakuan Sigiz tentang usianya, orang-orang mulai menganggap semua perempuan dunia lain sama dengan tokoh tersebut.


Dengan nada gugup, Edera menjawab, “Uuumm, 18 tahun bulan lalu.”


Setelah Edera mengatakan kalimat itu, manajer memberikan kode pada anak buahnya dan mereka segera bergegas. Dia menarik gadis bertelinga kucing dengan ekspresi seperti penjahat sek*sual dan mengatakan, “Jangan takut, Nona Edera. Tidak apa-apa kan Anda kami jadikan model untuk hari ini?”


Dua staf toko membawa segala macam jenis pakaian, dan memandang Edera seperti boneka yang siap di mainkan. Mode bertarungnya hampir muncul jika orang-orang yang menyeretnya masuk ke ruang ganti hanya ingin menjadikannya peraga busana, dan menunjukkan bahwa mode fesyen wanita dunia ini seharusnya cocok jika dikenakan wanita dunia lain.


Seluruh pakaian yang dibawa dipakai, lalu dilepas, melepas pakaian yang dipakai, lalu memakainya. Urutan itu berlangsung puluhan kali hingga Edera memperlihatkan ekspresi kagum pada gaya ke-20 yang dipakaikan padanya. Dia mengenakan kaos yang dilapisi mantel panjang untuk pakaian luar tanpa memperlihatkan lekuk tubuh berlebihan, dengan celana panjang yang terbuat dari bahan yang memperlihatkan bentuk kakinya. Manajer sedikit memodifikasi celana dengan membuat lubang pada bagian bawah punggung celana, sehingga ekor kucing Edera tidak tertahan di dalam celana dan bergerak bebas di luar.


Berbeda dengan Edera, Nio dengan tanpa mempedulikan tatapan curiga yang diberikan staf toko berjalan di barisan pakaian yang digantung pada gawang. Meskipun dia memiliki persediaan pakaian yang masih layak, dia lebih sering memakai seragam lapangan yang jarang dicuci. Namun, satu item yang paling dia cari adalah cela*na da*lam untuk melindungi rudal hitam miliknya. Bertugas di lapangan dalam waktu yang tidak dapat ditentukan membuatnya jarang mandi dan mencuci pakaiannya. Lebih buruknya, setelah bertempur dia menghabiskan banyak persediaan cela*na da*lam karena rusak berat atau ringan karena tidak dapat menahan rudal hitamnya. Walau pasukan memberi para tentara pakaian, namun sering tidak ada persediaan pakaian di gudang. Jika pakaian rusak, mereka harus memperbaiki sendiri atau membeli di minimarket.


Saat Nio melihat manekin pria memakai ****** *****, Edera melangkah keluar dari ruang ganti dan membuat pengunjung dan staf toko kagum.


Edera yang memiliki telinga dan ekor kucing tampak seperti model asing, dan dengan cepat dikelilingi oleh pengunjung mall. Para staf menyadari jika tindakan manajer mereka membawa Edera adalah untuk menarik banyak pengunjung ke toko mereka.


Orang-orang yang membaca dan melihat berita yang membahas dunia lain bertanya-tanya, “Apakah dia gadis dari dunia lain?” saat melihat Edera. Saat Edera memutuskan membeli pakaian yang dia peragakan, dia mendapatkan perlakuan khusus dan diskon sebagai bentuk terimakasih sudah membawa banyak pengunjung. Tentu saja biaya ditanggung penanggung jawab Edera selama gadis itu berada di Indonesia.


“Tidak masalah, berapa harganya?” ucap Nio saat dia mengeluarkan dompet dengan tenang.


“Totalnya 10 juta rupiah harga normal, setelah diskon menjadi 8 juta, Kak,” jawab manajer toko dengan ekspresi ramah.


“Tunggu, kalau pakaian Edera semahal itu, berapa harga semp*ak-semp*ak ini,” kata Nio dengan ekspresi kesal saat dia menunjuk manekin yang memperagakan cela*na da*lam pria bermotif bunga berwarna merah muda.


“Harga normal 300 ribu rupiah, setelah diskon menjadi 250 ribu rupiah, Kak.”


“Sialan, apa yang membuat pakaian semahal itu padahal akhirnya jadi lap meja atau kompor!”


“Tinggal gesek (kartu kreditnya) apa susahnya?”

__ADS_1


“Bayar pake tampang boleh nggak?”


**


Setelah keluar mall, mereka berdua berjalan bersampingan ke tempat parkir membicarakan obrolan biasa. Sebagian besar yang berbicara adalah Edera, membahas kejadian sepele sebelum atau sesudah bekerja bersama Nio. Nio mengangguk sebagai tanggapan sambil menenteng kantong plastik besar berisi bahan makanan, namun dengan ekspresi suram saat menyadari masa kecilnya tidak seberat Edera saat gadis itu bercerita tentang topik tersebut.


Nio berhenti tiba-tiba, melihat rekaman ulang pidato kenegaraan Suroso yang disiarkan pada TV publik besar di perempatan jalan. Presiden itu berbicara dengan ekspresi tegas tentang rencananya mengajukan RUU mengenai hak warga ‘pinggiran’ dan anak yatim piatu korban perang yang terlupakan.


Nio bertanya-tanya apakah RUU yang dibicarakan Suroso akan diterima, dan hak warga pinggiran kembali. Sejak rumor Desa Bacem yang dengan mudah merebut tanah dan rumah milik masyarakat menyebar, baik warga kota maupun pinggiran merasa gelisah. Nio sangat berharap rencana itu terwujud, dan dia mendapatkan petunjuk tambahan tentang Desa Bacem.


Berita tentang konflik Desa Bacem dengan warga pinggiran, khususnya anak yatim piatu yang memiliki hak waris atas tanah dan rumah orang tua mereka mulai diangkat baru-baru ini. Kemarin, seorang anak dari pinggiran kota mengaku mendapatkan pesan dari seseorang, begitu juga dengan empat temannya. Mereka dibawa ke pinggir sungai, kemudian ditembak kepalanya sebelum mereka dapat membuka mata. Hanya satu anak yang berhasil selamat dengan alasan terlambat beberapa menit sebelum peristiwa itu terjadi karena kehilangan sandal kanannya.


Setelah perang, anak-anak pinggiran menjadi target diskriminasi oleh orang-orang kota walau jarang terdengar adanya tindakan semacam itu. Ada potensi usaha merebut hak-hak milik anak-anak pinggiran, namun sangat sedikit yang bisa disebut ‘pembela’ para anak-anak dan orang pinggiran.


Nio merasa padangan buruk terhadap Desa Bacem tidak hanya sebuah peristiwa yang berhubungan dengan Obat Kuat, ada kemungkinan tindakan mereka lebih buruk. Jika peristiwa pembunuhan empat anak pinggiran dilakukan Pengawal Desa Bacem, Nio merasa sudah memiliki satu petunjuk awal untuk menemukan kasus-kasus lain yang melibatkan sebuah area misterius itu. Jika penyelenggara pemerintahan periode ini adalah sekumpulan orang yang memahami keadaan, Nio tidak perlu repot-repot menyusun rencana. Bahkan, dia lebih suka menyerahkan semuanya pada Suroso.


“Tuan Nio, apa yang membuat Anda berdiri mematung?” tanya Edera.


Nio dengan cepat kembali pada kenyataan. Ketika dia menyadari, berita sudah pindah ke topik berikutnya, dan Edera menatapnya dengan ekspresi bingung.


“Maaf, aku hanya melamun. Ayo.”


Saat mereka melanjutkan perjalanan ke tempat parkir, ada kerumunan di seberang jalan mall. Ekspresi penasaran Nio dan Edera sama, mereka bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di sana. Di antara kerumunan terdengar teriakkan marah, menyebabkan orang-orang yang berkerumun memancarkan aura haus darah. Nio tidak tahu apapun, tapi dia merasakan firasat buruk.


Firasat Nio menyuruhnya pergi dari tempatnya saat ini secepat mungkin.


“Edera, aku takut kita akan terlibat dalam masalah itu. Ayo cepat pergi.”


“Tangkap dia!” pada saat yang bersamaan, suara keras meneriakkan kalimat itu, menyebabkan kerumunan pecah dan seorang anak laki-laki berlari secepat yang dia bisa. Bocah itu membawa kantong plastik berwarna merah penuh makanan. Logo pada kantong plastik berasal dari salah satu minimarket tempat Nio dan Edera berbelanja persediaan makanan.


Sekilas, Nio tahu jika dia adalah anak yang tinggal di pinggiran kota. Selain itu, tatapan yang mampu membuat orang lain iba berpengaruh pada Edera.


Tangan dari orang-orang yang sebelumnya berkerumun menjangkau tubuh kurus bocah itu. Kebanyakan dari mereka adalah remaja dan pria dewasa, dan menggunakan tangan besar menahan tubuh kecil anak itu, bahkan Nio bisa mendengar suara seperti ranting yang patah dari anak itu. Makanan instan dan ringan jatuh dari kantung plastik, berserakan hingga kaki Nio.


“Diam!” wajah bocah itu menempel erat aspal yang panas, dengan seorang remaja memelintir tangan kanannya ke atas punggung hingga anak itu meronta-ronta. Tidak ada satupun penonton yang mengasihani dia.


“Dasar maling, sampah negara ini!”


“Bagus. Sekarang tidak ada lagi orang seperti dia di sini.”


“Berhentilah melawan, dasar pencuri!”


“Kenapa orang-orang seperti dia masih ada?”


Nio menepuk pundak seorang pria di dekatnya saat dia mendengar kata-kata menyakitkan dari orang-orang, “Pak, ada apa ini?”


“Ada apa? Si anjing itu mencuri makanan di warung dan melukai pemiliknya yang mencoba menghentikannya!”


Nio lalu melihat wajah Edera, gadis itu memperlihatkan ekspresi takut dan pucat. Dia sudah mengira Edera akan seperti itu, selain gadis itu berdiri gemetar. Pada saat yang sama, bocah laki-laki yang tidak Edera kenal menatapnya.


Orang-orang yang memperburuk wajah negeri ini akan diperlakukan seperti anak laki-laki itu, begitu pikir Edera. Bocah itu tampak normal, dan tidak ada tanda-tanda dia melakukan pencurian karena suruhan seseorang. Dia masih menatap Edera dan mengulurkan tangannya untuk meminta bantuan.


Nio dengan cepat menepis tangan bocah itu dan memelototinya, seolah-olah berkata, “Jangan libatkan Edera!”


Anak laki-laki itu tampak semakin sedih, namun ekspresi ketakutannya bertambah besar saat Nio menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


“Apa yang terjadi sebenarnya?” seorang petugas polisi memecah kerumunan untuk mengendalikan situasi. Ada dua polisi yang tiba, namun Nio merasa ada yang aneh pada mereka. Tapi, dia berpikir ada pihak yang tepat untuk mengakhiri situasi parah. Namun, dengan tatapan dingin seorang polisi melihat anak laki-laki dari pinggiran kota dan berkata, “Oh.”


Kedua polisi memaksa bocah itu berdiri setelah memasang borgol di kedua pergelangan tangan kurusnya, tanpa bertanya pada orang-orang sekitar tentang apa yang sebenarnya terjadi. Saat mereka berdua tidak meminta keterangan untuk kasus tersebut, itulah yang membuat Nio curiga selain beberapa hal lain.


“Apa itu tindakan yang tepat untuk menangani anak kecil?” gumam Nio di dalam hati. Bahkan hanya dengan suara, dia dapat membuat tawanan Aliansi berdiri dengan ekspresi gentar.


Melirik Nio dengan ekspresi kaget, kedua polisi memberi hormat padanya tanpa alasan lalu mendorong bocah itu ke mobil, dan pergi. Apakah mereka polisi asli atau gadungan? Nio hanya memiliki waktu sedikit untuk mengamati kedua polisi dan menemukan jawaban atas pertanyaannya itu.


Setelah bocah laki-laki itu pergi, kerumunan terpecah menjadi tiga kelompok dan menyebar sambil menggerutu. Hanya ada Nio dan Edera sekarang di TKP. Tidak ada yang membantu bocah itu, tidak ada yang dia bisa lakukan untuk hal itu. Merasa tidak nyaman, Nio mengajak Edera segera pulang. Namun, gadis itu menatapnya sambil mengepalkan tangan.


“Kenapa kamu tidak menolong anak itu, Tuan Nio?!” Edera berteriak pada Nio.


Nio terdiam. Pupil mata Edera berubah menjadi tajam seperti kucing yang menemukan mangsanya, dia menyesali tindakan Nio. Orang-orang yang melewati mereka menatap dengan ekspresi curiga. Nio terguncang, dan memikirkan jawaban untuk pertanyaan Edera.


“Mau bagaimana lagi, aku tidak mau kita terlibat perbuatan anak itu.”


“Tapi kamu menepis tangan orang yang meminta bantuan!” kata Edera.


“Ada hal yang harus dan tidak kita lakukan. Anak itu jelas melakukan tindak pencurian. Bahkan pinggiran kota yang dikenal buruk, mencuri masih perbuatan tidak diijinkan!” tanpa pikir, Nio menjawab dengan logika walau dia tahu perkataannya hanya menuangkan bensin dalam api.


“Itu hanya alasanmu. Jika kamu ingin menyelamatkannya, kamu pasti bisa. Kamu adalah pahlawan, pelindung orang-orang seperti anak itu. Tidak ada yang tidak bisa kamu lakukan, Tuan Nio!”


“Jangan sebut aku pahlawan. Bahkan, pahlawan yang sebenarnya harus menghindari hal yang merugikannya. Aku tidak bisa apa-apa, aku hanya orang biasa,” setelah mengatakan itu, Nio menarik tangan kanan Edera. Gadis itu memperlihatkan ekspresi sedih, dengan kedua mata membendung air mata.


“Edera, apa kau punya alasan membantu anak itu?” Nio bertanya walau masih ragu-ragu.


Edera mengangguk dengan ekspresi sedih, “Tentu. Kakak pernah mencuri makanan seperti anak itu demi saya, dan melihat dia disakiti banyak orang jauh lebih parah dari anak itu. Saya tahu anak itu terpaksa melakukan perbuatan itu, dia mungkin masih memiliki keluarga yang mengharapkannya membawa makanan.”


Nio mempertanyakan nuraninya saat menolak permintaan tolong anak laki-laki itu, dia tidak memikirkan apapun saat melakukannya.


Nio tidak memiliki waktu untuk membuat keputusan, sehingga, “Edera, bisakah kamu pulang tanpa aku. Aku akan memanggil anggota kompi yang berpatroli untuk mengantarmu.”


“Hah?” balas Edera.


Setelah menghubungi markas Kompi 406-32 untuk mengirimkan petugas pengawal untuk mengantar Edera pulang, Nio dengan berlari cepat ke tempat sepeda motor miliknya diparkirkan. Saat hendak keluar area parkir, petugas mendekatinya dan meminta biaya parkir. Namun, memanfaatkan pekerjaannya, Nio mengeluarkan kartu anggota dan mendekatnya ke wajah petugas parkir itu, “Aku tentara, ada musuh di dekat sini, aku harus cepat!”


“Jangan bohong, cuma bayar 2.000 apa susahnya?”


“Dari seragammu, kau pasti tukang parkir liar, kan? Kau pikir kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan damai?”


Juru pakrir ‘ilegal’ terkejut setelah mendengar pernyataan Nio, dan dengan tatapan kosong melihat Nio keluar area parkir dengan tenang. Nio dan sepeda motornya melaju ke arah yang dituju mobil polisi.


Dia tidak memakai helm, jadi dia mengabaikan peraturan berlalu lintas. Jika dia dihentikan untuk ditindak, Nio berencana akan menyodorkan kartu anggotanya ke wajah polisi lalu lintas, dan membuat mereka mengerti situasinya. Adanya musuh di Karanganyar bukanlah kebohongan, namun keberadaan mereka dirasakan secara luas.


Membayangkan hukuman apa yang akan diterima anak laki-laki itu membuat Nio jauh lebih gugup daripada risiko kecelakan. Mengapa polisi membawa bocah itu tanpa bertanya satu pertanyaan pada pelaku dan korban? Apa memang itu prosedur polisi zaman sekarang? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memenuhi pikiran Nio, hingga dia menyadari arah yang dituju mobil polisi bukan kantor polisi setempat. Jika mereka terus melaju, akan semakin dekat dengan area tak berpenghuni di dekat pinggiran kota.


Nio bukanlah orang yang taat beribadah, namun dia berdoa pada Tuhan yang dia imani untuk menyelamatkan bocah itu. Saat dia berdoa, jalan aspal yang rusak parah mengganggu keseimbangan Nio yang masih menunggangi sepeda motornya. Seluruh bangunan di area ini hancur setelah perang, dan tidak akan pernah diperbaiki.


Ketika dia berpikir banyaknya tindak pelanggaran hukum seperti pasangan mes*um dan transaksi barang-barang yang dilarang undang-undang di area dekat pinggiran kota ini, Nio melihat mobil polisi di dekat menara seluler yang ambruk. Nio mengerem sekitar 50 meter sebelum mencapai mobil agar tidak terlalu dicurigai. Kemudian dia menyembunyikan sepeda motornya di tempat yang sebelumnya merupakan bengkel, lalu mendekat dengan hati-hati.


**


Aku tetap berusaha update episode baru walau tidak setiap hari melakukannya. Maaf untuk ketidaknyamannya.


Bonus ilustrasi Nio kalau rambutnya dirapiin dikit. Buatan ane sendiri kok:

__ADS_1



__ADS_2