Prajurit SMA

Prajurit SMA
22. 2 meter


__ADS_3

29 Januari 2321, pukul 08.04 WIB.


**


Ini adalah hari pertama Arunika sendirian tanpa Nio setelah adiknya harus mengikuti pelatihan menjadi pasukan khusus.


Biasanya jika saat ini Arunika sudah bangun dan membereskan asrama Nio, kali ini ada yang berbeda.


Arunika masih terbungkus selimut di tempat tidurnya dan dia terlihat tidak terganggu meski di luar terdengar suara prajurit yang sedang berlatih sambil menyanyikan yel-yel dengan keras.


Sebenarnya Arunika sudah terbangun, tapi dia lebih memilih untuk tetap berada di kasurnya.


“Siapa sih?” ucap Arunika dengan nada kesal karena ada suara ketukan pintu.


Dengan perlahan Arunika menyingkirkan selimut yang membungkus dirinya dan berjalan ke arah suara ketukan pintu terdengar.


Suara ketukan pintu terus berlanjut dan berhenti setelah Arunika berkata, “Ya, bisa tunggu sebentar?”


Arunika masih sempat menguap saat akan membuka pintu, benar-benar seperi bukan dirinya.


“Lisa!?” Ucap Arunika dengan terkejut.


“Ya, ini aku kok,” jawab Lisa dengan senyuman.


Arunika mengusap-usap matanya dan menata kembali rambutnya yang berantakan dengan tangan.


Lisa dia ijinkan masuk dengan berkata, “Masuklah.”


“Terimakasih,” jawab Lisa dan dengan senang hati memasuki ruangan asrama yang kini untuk sementara hanya dihuni Arunika seorang.


Namun Lisa datang tidak dengan tangan kosong, dia membawa tas olahraga yang isinya tentunya bukan peralatan olahraga.


Bisa saja ‘mantan’ guru pelajaran sejarah ini ada maksud lain dari kedatangannya pagi ini.


Arunika mengijinkan Lisa untuk duduk di tempat yang ia suka, sementara itu Arunika menyiapkan air minum untuk Lisa.


“Tumben sekali kau disini,” ucap Arunika sambil menutupi mulutnya yang terbuka lebar karena menguap dan memberikan secangkir teh manis hangat.


“Hei, kudengar Nio mengikuti pelatihan menjadi pasukan khusus,” jawab Lisa dengan senyum penuh maksud tersembunyi.


Arunika hanya mengangguk sambil membereskan tempat tidurnya yang masih berantakan.


“Jadi kenapa?, kesempatanmu mendekati Nio jadi berkurang karena dia harus mengikuti pelatihan gitu?” goda Arunika yang membuat Lisa terkejut.

__ADS_1


Tanpa menyangkal perkataan Arunika sama sekali Lisa menjawab, “Lah itu kau sudah tahu.”


“Sekali lagi kuberi tahu, tidak akan kulepaskan Nio pada perempuan manapun,” ucap Arunika dengan nada menantang.


“Benarkah?” kata Lisa seakan menerima tantangan dari kakak Nio tersebut.


“Jadi, kenapa kau kemari?”


“Aku tahu, kau pasti kesepian kan ditinggal Nio?”


Setelah itu Arunika mendekati Lisa dan meletakkan kepalanya di bahu temannya itu. Lisa menjawabnya dengan mengelus kepala Arunika dengan lembut.


“Benarkan, aku tahu kalau kau tidak ingin ditinggal adikmu itu kan?” ucap Lisa yang dijawab anggukan oleh Arunika.


“Jadi aku akan menginap disini sampai Nio menyelesaikan pelatihannya, boleh kan?”


“Hah, kau akan disini selama 4 bulan?” kata Arunika dengan terkejut.


“Jadi kau benar-benar ingin jadi ‘kakak yang kesepian’ ya?”


Mendengar perkataan Lisa tersebut yang justru lebih mirip dengan judul film dewasa, Arunika melemparkan selimut yang belum ia lipat ke arah Lisa yang membuat mereka berdua melakukan pertengkaran kecil.


Jadi boleh nggak aku tinggal bersamamu selama 4 bulan?” tanya Lisa lagi.


Lisa tiba-tiba menerjang Arunika dan memeluknya dengan erat sambil berkata, “aaa, terimakasih….”


Arunika dengan wajah jijiknya mencoba menyingkirkan Lisa yang memeluknya erat.


**


Di Lokasi pelatihan, Nio dan prajurit lain yang sudah membentuk sebuah Regu berbaris di lapangan untuk melakukan upacara penyambutan dan pengenalan pelatih.


Jika di total jumlah peserta dari Kompi 406 kota bawah tanah Kota Karanganyar adalah 60 peserta. Jumlah itu cukup untuk membuat 2 Regu, dan diantara jumlah tersebut ada 5 orang prajurit perempuan. Yang Nio kenal dari prajurit perempuan hanyalah Arista, anggota Regunya sendiri.


Kecuali seluruh prajurit yang sudah mengenal Nio karena dia adalah Komandan Regu.


Para prajurit sudah tak sabar untuk memulai upacara karena udara yang semakin panas. Meski mereka sering ‘dijemur’ seperti ini, namun prajurit juga memiliki kesabaran.


Namun Nio seperti tidak memiliki masalah dengan hal ini, karena dia berada di barisan bagian tengah sehingga dia bisa tertutupi oleh prajurit lain yang lebih tinggi darinya.


Namun Nio juga melindungi prajurit di belakangnya yang lebih pendek darinya dari panas matahari. Jadi itu mungkin fungsi ketika upacara yang tinggi harus berada di depan.


Beberapa saat kemudian seorang yang menyambut mereka, yaitu Mayor Sugeng menaiki mimbar yang ada di depan barisan.

__ADS_1


Dia mengetuk mikrofon didepannya beberapa kali untuk memeriksa apakah benda itu berfungsi atau tidak.


Di belakangnya, sebanyak 25 prajurit dari Pasukan Utama yang berada di Pasukan Unit Khusus yang berfungsi pasukan infanteri bersenjata lengkap.


“Baiklah, selamat datang para prajurit muda di pelatihan Pasukan Pelajar Khusus. Bukan berarti hanya kalian dari kota bawah tanah Kota Karanganyar saja yang akan mengikut pelatihan ini. Teman-teman kita dari kota bawah tanah Kota Semarang juga akan menjalani pelatihan disini. Selama 4 bulan, para pelatih dari Pasukan Unit Khusus akan melatih kalian dengan keras…,” ucap Sugeng.


Dia melanjutkan pidatonya, “Kalian semua harus siap menjalani pelatihan yang akan mendekati batas ketahanan tubuh kalian. Adapun tujuan membentuk pasukan khusus dari Tentara Pelajar adalah membuat pasukan muda yang dapat mengendalikan diri. Karena anak muda seperti kalian akan menghajar sesuatu yang tidak disenangi….”


Pidato yang dilakukan Sugeng berlangsung selama 30 menit, selama itu dia membuat seluruh calon PPK bersemangat.


Namun ada hal lain yang belum di katakan Sugeng, “Pada pelatihan ini ada sistem seleksi dan peringkat. 28 peringkat teratas dianggap lulus dan diangkat menjadi bagian dari PPK. Itu artinya prajurit yang tidak berada di peringkat tersebut akan dinyatakan tidak lulus. Maka dari itu kerahkan seluruh tenaga dan pikiran kalian di pelatihan ini. Apa kalian siap menjalani pelatihan yang berat di tempat ini?”


“Ya, kami siap…!” jawab seluruh prajurit dengan tegas dan membuat suara yang keras dan membuat warga sekitar terkejut.


Sugeng kemudian turun dari mimbar, namun bukan berarti acara sudah selesai.


Seluruh prajurit belum di perintahkan untuk bubar, begitu pula dengan 25 prajurit pelatih yang terlihat menatap tajam kearah barisan para prajurit muda itu.


Nio yang dapat melihat tatapan tajam prajurit yang akan menjadi pelatihnya berkata di dalam hatinya, “Semoga saja aku bisa keluar hidup-hidup dari sini.”


**


“Suara apa itu?” ucap beberapa prajurit yang memang sudah diijinkan berbicara namun belum diinijkan untuk sekedar duduk.


Terdengar suara yel-yel dengan nada semangat dari luar tembok pembatas tempat pelatihan.


Beberapa saat kemudian terlihat puluhan prajurit muda dari Kompi 32 kota bawah tanah Kota Semarang yang juga jalan jongkok.


Setelah mereka semua melewati gerbang, 10 prajurit pelatih menyiram mereka dengan air.


Jumlah prajurit dari Kompi 302 yang mengikuti pelatihan adalah 70 orang. Jika di jumlah dengan 60 orang dari Kompi 406 maka akan berjumlah 130.


Dan dari 130 orang tersebut, hanya 28 prajurit yang akan dinyatakan lulus dan menjadi bagian dari Pasukan Pelajar Khusus.


Seluruh prajurit tersebut di perintahkan untuk berdiri. Namun ada seseorang yang membuat Nio terkejut.


Seorang prajurit yang memiliki tubuh yang jauh lebih tinggi dari rekan-rekannya. Jika dilihat rambutnya yang panjang, dapat dipastikan jika prajurit itu adalah seorang perempuan.


“Mungkin tingginya 190 cm,” gumam Nio.


“Tidak-tidak, pasti tingginya ada 2 meter,” jawab prajurit yang ada di sampingnya.


Nio berkata lagi, “Mana mungkin ada woy!”

__ADS_1


“Bisa jadi dia mantan atlet voli.”


__ADS_2