
“Loh, dimana Hevaz? Apa dia kembali ke markas pusat?”
Sekarang adalah sore hari yang damai selanjutnya di Zona Perbatasan Ke-21, dan seluruh anggota Tim Ke-12 terlihat melakukan hal yang mereka sukai lagi selama tidak melupakan tugas utama memantau keadaan sekitar perbatasan. Sementara itu, Nio tidak melihat sosok Hevaz sore ini. Biasanya gadis itu bersama para anggota perempuan dan Edera menyiapkan makan malam atau mencari bahan makanan tambahan yang bisa ditemukan di sekitar perkemahan.
“Aku lihat dia terbang ke timur, dan bukan ke arah markas pusat.”
Anggota dengan kode nama Gadis Tinggi, alias Ika menjawab pertanyaan Nio sambil membantu Ga Eun menyiapkan makan malam.
Arif, Bima, dan Ferdi sedang memainkan permainan kartu. Zefanya membaca kamus bahasa dunia ini, dan sesekali berbicara menggunakan beberapa kata dunia ini dengan kaku. Hassan sedang mencoba mencari sinyal untuk radio miliknya. Hendra masih berada di pohon ‘miliknya’ sambil memantau sekitar menggunakan teropong. Ae Ri membantu Ratna menyiapkan bumbu untuk dimasak malam ini, dan Gita sedang membaca novel fantasi di dalam tenda anggota perempuan ditemani Edera.
Sebagai kapten tim, Nio bertugas membuat laporan keadaan perbatasan setiap hari, jadi pekerjaannya melibatkan tumpukan kertas, pena, dan pensil, sehingga tenda untuk anggota laki-laki berfungsi ganda sebagai kantor dan berukuran paling besar daripada kelima tenda yang lainnya.
Mengenai Hevaz, Nio masih memiliki beberapa pertanyaan terhadap gadis itu, tapi dia belum kembali hingga makan malam hampir selesai dimasak. Dia masih belum tahu asal gadis itu, tujuan Hevaz menyatakan diri menjadi pelayan pribadinya dan orang yang mengutus gadis itu adalah pertanyaan besar yang tertampung di kepala Nio. Setiap kali dia ingin menanyakan hal itu pasti akan ada gangguan atau pengganggu.
“Yah… pasti dia akan kembali sendiri nanti.”
Nio memutuskan tidak mencari Hevaz, dan kembali ke meja kerja sambil menyesap kopi hitam instan di cangkir plastiknya. Dia harus membuat laporan tentang penyerangan beberapa waktu lalu, dan menyelesaikan laporan yang belum sempat dikerjakan.
**
Perang pertama antara Aliansi dengan Pasukan Ekspedisi berakhir dengan kematian tak terhitung prajurit mereka, prajurit yang hilang juga tak kalah banyak. Pasukan Aliansi yang berjuang di bawah panji yang sama hampir lenyap ketika pasukan bantuan untuk Pasukan Ekspedisi tiba.
Jika peristiwa tersebut terjadi di Indonesia, hal itu akan menjadi berita utama di setiap program berita dan halaman depan surat kabar lalu membuat dunia gaduh. Tetapi, di dunia lain ini, pergerakan pasukan tidak diketahui oleh penduduk mereka. Bahkan jika Aliansi hancur dan kalah perang, rakyat negara anggota Aliansi hanya akan mendapatkan penguasa baru yang menggantikan penguasa sebelumnya yang dikalahkan dalam perang, dan kehidupan sehari-hari mereka tak akan terpengaruh.
Alasan mengapa hal tersebut terjadi adalah karena dunia ini masih ada perang untuk memperebutkan suatu wilayah, atau berperang untuk mengambil lagi wilayah yang sempat dikuasai negara lain. Perang untuk saling menaklukan dan menguasai masih terjadi di beberapa negara di dunia ini. Karena penguasa mereka sering berubah, tidak mungkin rakyat memiliki rasa setia terhadap negara mereka.
Di dunia ini, selama rumah bukan medan perang, dan anggota keluarga tidak dipaksa atau diwajibkan menjalani wajib militer untuk bertarung di medan perang, rakyat jelata tidak peduli dengan negara mereka.
Meski begitu, setelah perang besar pertama antar Pasukan Aliansi dan Pasukan Ekspedisi, kehidupan masyarakat ikut terpengaruh. Maraknya prajurit pelarian yang menjadi bandit adalah penyebabnya.
Dunia ini terdapat yang namanya ksatria dan prajurit bangsawan, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang bertindak untuk menekan keberadaan bandit. Ini karena kewajiban mereka yang bukan untuk menjaga keamanan, tetapi sebagai simbol kebesaran suatu negara. Semakin banyak jumlah prajurit yang dimiliki suatu negara, maka secara otomatis negara tersebut akan dipandang sebagai pemilik kekuatan yang besar.
Yang para ksatria dan prajurit bangsawan pedulikan hanyalah ‘kendali’. Sebenarnya, para bangsawan tidak ada bedanya dengan para bandit. Yang pertama, mereka merampok petani dan rakyat biasa dan menyebutnya ‘pajak’, sedangkan bandit merampok rakyat dan pedagang dengan cara kekerasan hingga membunuh. Tetapi, kedua belah pihak (bangsawan dan bandit) sama-sama tidak menerima penolakan, dan menindak pihak yang menolak dengan kekerasan.
Bahkan ketika para ksatria dan prajurit bangsawan memacu kuda untuk memburu bandit, mereka hanya seperti gembala yang mengusir serigala, dan akan kembali begitu saja setelah bandit menghilang dari pandangan. Terus terang, apapun tindakan yang mereka lakukan terhadap para bandit menyebabkan efek samping.
Karena bandit yang kelaparan dan penuh nafsu akan berjuang lebih keras dan bahkan berhasil membunuh para ksatria dan prajurit bangsawan yang akan menindak mereka. Para ksatria dan prajurit bangsawan tidak terlalu bersemangat untuk menindak para bandit bila tidak menerima uang dari pihak yang ingin dilindungi. Atau mereka baru akan bergerak bila ada kelompok yang bisa membayar mereka untuk melindungi dari serangan bandit.
Ada pula yang mengatakan jika kesamaan bandit dengan rakyat jelata adalah lebih suka ketika ada lebih sedikit bangsawan ‘jahat’ dan prajurit korup.
Sebelum perang dengan Indonesia dan sekutunya dimulai, para bandit yang berkeliaran di wilayah Kekaisaran Luan harus beraksi secara sembunyi-sembunyi, tetapi setelah kekalahan besar Aliansi mereka bisa bergerak bebas.
Seorang pemburu yang cerdas akan berpikir jika membunuh semua mangsa tidak akan menyisakan apapun untuk masa depan. Untungnya, atau sayangnya, orang yang cerdas tidak akan menjadi bandit, sehingga sebagian besar bandit sangat kejam dan brutal dalam tingkatan paling ekstrem.
Contohnya, ada sekelompok bandit yang seluruh anggotanya adalah mantan prajurit Aliansi yang melarikan diri dari medan perang, dan mereka telah menyerang sekelompok pengungsi dari Kekaisaran Luan. Lalu target mereka selanjutnya adalah sekelompok prajurit dunia lain (Tim Ke-12) yang berkemah di dekat perbatasan.
Kelompok pengungsi yang memiliki tujuan ke Kerajaan Arevelk memacu kereta kuda mereka secepat mungkin, namun kuda membawa beban yang terlalu berat. Setelah tidak ada cara untuk melawan, kelompok pengungsi itu ditangkap oleh kelompok bandit yang berkuda dan mengepung mereka.
Seluruh pria di kelompok pengungsi itu langsung dibunuh, dan para wanita dibawa pergi.
Dalam kegelapan, lebih dari 100 orang bandit berkumpul di sekitar api unggun besar dan dengan gembira mengobrak-abrik rampasan mereka.
Mangsa mereka tidak hanya membawa harta berupa uang, tetapi juga persediaan seperti pakaian dan makanan. Kelompok bandit ini mengisi perut mereka dengan makanan yang mereka dapatkan. Mereka bergantian menggilir para wanita yang kebanyakan adalah ibu dan anak, sementara manula langsung dipenggal. Para bandit lebih mementingkan memuaskan nafsu mereka, lalu bersantai dengan anggur.
“Bos! prajurit dunia lain sepertinya memiliki banyak wanita dan makanan!”
Sejak perang dengan pasukan dunia lain pecah, banyak prajurit dunia lain yang berjaga di sekitar perbatasan. Lalu, mereka menilai jika jumlah kecil pasukan itu akan menjadi target buruan yang sangat mudah, dan para wanita bisa digunakan bila mereka berhasil melawan pasukan dunia lain tersebut. Mereka juga menilai jika pasukan dunia lain yang berjaga di perbatasan sangat lemah dan tidak akan bisa menang melawan jumlah besar mereka. Mereka akan menjadikan Tim Ke-12 target selanjutnya, lalu akan membantai dan menjarah mereka.
Setelah mendengar anteknya berbicara, bos kelompok bandit ini yang sebelumnya mantan perwira Aliansi tertawa puas. Itu adalah berita yang bagus, jadi mereka akan pergi untuk menyerang pasukan kecil itu.
“Tapi jumlah kita terlalu sedikit untuk menyerang pasukan kecil itu. Aku tidak ingin kejadian di perang sebelumnya terjadi lagi.”
Bos bandit itu telah memperkirakan jika pertarungan dengan pasukan dunia lain penjaga perbatasan itu akan cukup sulit.
“Kenapa kita tidak merekrut prajurit pelarian lain? Dengan begitu, kita bisa melawan pasukan dunia lain penjaga perbatasan itu.”
Itu juga kesempatan bagus untuk memiliki anggota lebih banyak.
Dengan banyak orang, mereka dapat dengan sukses menyerang desa-desa dan pasukan kecil, bahkan kota. Jika bos bandit itu memikirkan dengan baik-baik, dia bisa menggantikan pemimpin desa atau kota, bahkan mungkin bisa mendirikan negara sendiri.
Dari bandit menjadi raja, mimpi manis yang memenuhi kepalanya itu muncul dari seorang bos bandit.
SLASH…!!!
Momen terakhir kepala bos bandit tanpa nama ini dihabiskan untuk membayangkan dirinya menjadi raja. Omong-omong, kepalanya terpisah dari tubuhnya dengan tiba-tiba dan mengejutkan.
Kepala bos bandit itu menggelinding di tanah lalu ke api unggun.
Bau rambut yang terbakar dan daging yang hangus langsung memenuhi perkemahan.
Menurut penelitian, kepala seseorang yang terputus bisa mempertahankan kesadaran selama beberapa detik. Karena itu, pemilik kepala akan melihat kepalanya jatuh ke tanah. Bidang pandangnya bergulir ketika kepala bos bandit itu menggelinding, dan si pemilik kepala melihat tubuhnya menyemburkan darah seperti air mancur.
Setelah itu, dalam bidang pandangnya yang menggelap dengan cepat, si pemilik kepala melihat dewi kematian berambut keperakan bermandikan darah segar, lalu mati sepenuhnya.
Hal pertama yang orang akan pikirkan ketika melihat gadis itu adalah ‘menggoda’.
Kulitnya sangat putih sampai hampir pucat, tatapan matanya akan membuat pria manapun terpikat, dan matanya berwarna merah seperti darah. Lalu, tangan rampingnya memegang sabit besar yang sepertinya sangat berat.
Dia terbang dan meletakkan sabit di atas bahunya, dan menebaskan agar darah menyingkir dari sabitnya.
Gadis itu telah dikelilingi mayat para bandit yang dia habisi dengan sangat cepat.
“Ini adalah akibat dari kalian yang memiliki pikiran untuk menyerang tuanku dan teman-temannya. Jadi, terimakasih untuk pengorbanannya.”
Dia membungkuk dengan elegan. Sekilas, dia tampak berusia 20 tahun-an, dan dari kecantikan dan gerakannya yang halus, dia tampaknya gadis yang sangat baik. Dia memiliki tatapan dan senyum yang menggoda dan sangat dewasa. Pupil matanya yang berwarna merah dipenuhi dengan rasa haus darah yang seperti tak berujung.
“Terimakasih telah menyerahkan nyawa kalian kepadaku, dan jangan harap prajurit jahat seperti kalian dapat menyentuh tuanku dan teman-temannya. Dewa Perang dan Dewi Kematian sangat berterimakasih dengan pengorbanan kalian, dan mereka berkata aku harus bersenang-senang dengan kalian.”
“Apa! Siapa kau?!”
Di antara bandit yang masih hidup, salah satu dari mereka masih bisa berteriak dengan keberanian yang jauh lebih besar dari yang dia rasakan, meskipun isi perutnya bergejolak karena ketakutan. Dia pantas dipuji karena masih bisa berteriak meskipun dalam situasi seperti sekarang.
__ADS_1
“Saya?”
Gadis itu tersenyum manis dan sangat menggoda.
“Saya adalah Hevaz, utusan Dewa Perang dan tangan kanan Dewi Kematian.”
“A-apa?! Dia adalah pelayan pribadi ‘orang yang diramalkan’?! Hevaz si Pelahap Jiwa?!”
“Mhmh ~ kamu benar.”
Di hadapan gadis yang terlihat tertawa dengan disertai erangan cabul itu, para bandit berlarian seperti semut.
Mereka meninggalkan segalanya dan melarikan diri dengan sekuat tenaga, didorong oleh ketakutan mereka akan kematian.
“Apa-apaan! Bagaimana kita bisa melawan Pelahap Jiwa?!”
“Oh ~ tidak, tidak, tidak, tidak, tidak. Kalian tidak bisa lari.”
Hevaz melompat lalu sayapnya terbentang, membawa sabit besar yang sepertinya memiliki berat beberapa kali lipat darinya. Dia mengejar para bandit yang melarikan diri seperti karnivora buas yang memburu mangsanya.
Sabit itu membelah kepala bandit seperti dia membelah kelapa, dan daerah sekitarnya dipenuhi dengan potongan daging.
“Ahhh ~ sudah kubilang jangan lari!”
Hevaz mendesah dan terbang di atas seorang bandit, lalu memenggal kepalanya dengan satu tebasan. Dia mengayunkan sabitnya dengan ringan, dan terbang mengejar seluruh bandit yang berlarian.
Kulit dan rambutnya yang seputih salju diwarnai merah oleh semprotan darah.
“Kalian tahu, Dewi Kematian berkata seperti itu. Tujuan dari semua kehidupan adalah kematian. Tidak ada manusia yang bisa menghindarinya.”
Jeritan menyedihkan terdengar tepat ketika tombak itu mengayun kebawah, membelah tubuh seorang bandit.
**
“Haa … haa … haa… kenapa, apa yang dilakukan tangan kanan Dewi Kematian di sini?!”
Pria bandit itu mengutuk kemalangannya saat dia berlari sekuat tenaga.
Jeritan menyedihkan terdengar dari kejauhan. Hevaz si Pelahap Jiwa telah melahap jiwa-jiwa para bandit.
“Sial, sial!”
Tidak ada jalan setapak di hutan belantara pada malam hari. Hutan dipenuhi dengan rawa-rawa, formasi batu seukuran rumah, semak berduri, dan pohon besar. Pria bandit itu sekali lagi tersandung, tubuhnya dipenuhi lumpur dan keringat, dan pakaiannya sobek di sana-sini.
Sekali lagi, suara jeritan terdengar dari belakangnya.
Dia melewati kubangan lumpur. Tubuhnya meluncur ke bawah, dan kepalanya membentur tanah lebih dulu.
“Sial, sial, bajingan, kenapa keberuntunganku begitu buruk!”
“Ah~ bukankah kamu bersenang-senang?”
Terdengar suara perempuan dan kepakan sayap.
Hevaz menancapkan ujung sabit runcingnya di antara kaki pria bandit itu yang melebar, sehelai rambut lagi ujung sabit itu akan mengenai anunya.
“Aku, aku, aku tidak pernah membunuh siapapun!”
“Ah, benarkah?”
“Itu benar! ini adalah pekerjaan pertama yang saya lakukan sejak saya bergabung! Tentang wanita juga, mereka mengatakan saya harus menunggu sampai akhir karena saya anggota baru! Saya bahkan tidak menyentuh para wanita!”
“Hmmmmm?”
Hevaz berpikir singkat tentang ini sebelum berbicara dengan pria itu lagi.
“Para bandit lain semuanya dipanggil oleh Dewi Kematian. Tidakkah kamu merasa kesepian sendirian?”
Pria bandit itu menggelengkan kepalanya dengan wajah putus asa. Dia tidak kesepian, tidak kesepian sama sekali.
“Tapi, bukankah akan menyedihkan jika kamu satu-satunya yang ditinggalkan?”
“Tidak, tolong, aku benar-benar ingin ditinggalkan!” pria itu memohon.
Hevaz menatapnya dengan tatapan dingin yang setajam pisau.
“Apa yang harus aku lakukan dengan mu, kalau begitu~”
Setelah dia mengatakan itu, Hevaz bertepuk tangan.
“Aku mengerti, ini mungkin ide yang bagus. Karena kamu belum melakukan apapun, kenapa tidak melakukannya sekarang/”
Setelah itu, Hevaz meraih salah satu kaki pria itu.
Pria itu bisa merasakan kekuatan yang tak terbayangkan yang tidak seperti penampilannya yang lembut dan menggoda.
Hevaz menyeret pria itu seperti kantong sampah, sambil sedikit bergumam tentang Nio.
“Ini menyakitkan! Tolong hentikan!”
Hutan di perbatasan Kekaisaran Luan dan Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Baru terdapat batu tajam dan pasir. Hal itu menyebabkan pakaian pria itu robek sampai tercabik-cabik ketika dia diseret di atasnya, dan kemudian kulitnya yang berkeringat menggesek kerikil tajam. Seketika punggungnya ditutupi dengan darahnya sendiri.
“Siapa yang kamu sukai diantara mereka?”
“Tidaaaak! Tolong hentikan!”
“Jangan berdiri ketika upacara berlangsung, ini adalah akhir untukmu. Aku telah memperlakukanmu dengan baik sehingga kamu bisa melakukannya.”
Hevaz mencengkram kaki pria itu dan melemparkannya. Dia mendarat di depan para wanita yang terlihat dalam keadaan sangat menyedihkan.
“Baiklah, sekarang giliranmu.”
__ADS_1
Pria itu dengan panik menggelengkan kepalanya.
Tubuh puluhan wanita telanjang berjejeran, menampilkan fakta bahwa mereka telah dilecehkan. Lengan mereka terangkat, seolah memanggil bantuan.
Tak satu pun dari mereka bergerak, terlihat mereka telah berhenti bernapas.
“Sungguh merepotkan, mereka sudah meninggal.”
Sepertinya mereka telah diperkosa sampai mati… dan hal ini sepertinya pernah terjadi sebelumnya.
“Maaf, aku tidak datang tepat waktu.”
Hevaz menutup mata mereka yang tidak berkedip dan menundukkan kepalanya. Lalu dia tersenyum lagi pada pria itu.
“Tetap saja, karena mereka sudah seperti ini, mengapa kamu tida melakukannya?”
Genangan cairan muncul di antara kaki pria itu, dan badannya gemetar sejadi-jadinya.
Pria bandit itu memohon pengampunan.
Dia bersujud di tanah seolah sedang menyembah Hevaz. Wajahnya berlinang air mata dan ingus, dirinya meratap agar Hevaz menunjukkan belas kasihan. Dia berkata bahwa dia tidak melakukan dosa secara langsung, dan menyatakan bahwa tangannya masih bersih. Dia tidak memiliki pilihan selain menjadi bandit untuk bertahan hidup. Dia akan membalik lembaran baru, dan menyatakan bahwa dia akan bekerja dengan serius dan seterusnya.
Intinya, Hevaz marasa pernah melihat peristiwa ini sebelum dia diutus.
Hevaz menghela napas saat dia melihat penampilan pria itu yang menyedihkan.
Dia mengalihkan wajahnya dengan jijik seolah-olah dia melihat sesuatu yang kotor. Dia merasa bahwa dirinya akan ternoda oleh kekotoran pria itu jika dia melihat lebih lama.
Ada beberapa situasi ketika membunuh orang lain bukan termasuk dosa, seperti perang atau situasi yang mengharuskan membela diri. Menurut Sang Pelahap Jiwa, alias Hevaz, membunuh orang bukanlah sebuah dosa, selama syarat-syarat seperti di atas terpenuhi.
Itulah ajaran Dewa Perang dan Dewi Kematian yang Hevaz layani.
Mencuri dan merampok dengan cara membunuh orang lain adalah dosa.
Prajurit dan algojo yang membunuh musuh dan terpidana mati tidaklah berdosa.
Begitulah cara Dewa Perang dan Dewi Kematian serta pelayan dewa/dewi seperti Hevaz melihatnya.
Hevaz mentolerir semua jenis orang, menghormati jalan yang mereka pilih untuk hidup, dan menghormati jalan yang mereka tempuh. Karena itu, seorang bandit hanya perlu bertindak seperti seorang bandit.
Jika pria di depannya menatap matanya dengan bangga karena menjadi bandit, Hevaz akan memberinya rasa hormat yang pantas.
Namun, ada apa dengan sikap pria ini?
Pertama, alasan dirinya mengatakan tangannya masih bersih tidak bisa diterima. Saat dirinya menjadi bandit, dia menjadi anggota kelompok yang mengandalkan jumlah dan melakukan pembunuhan. Itu tidak ada hubungannya dengan dia mengambil bagian secara langsung atau tidak.
Dia tidak bisa dimaafkan karena menjadi bandit hanya karena kemiskinan. Jika dia tidak mendapatkan makanan, dia harus berbaring dan mati.
Hevaz lebih menyukai orang yang tidak memiliki keberuntungan untuk mengisi perut mereka menjadi pengemis atau semacamnya, daripada merampas harta orang lain dengan membunuhnya.
Bodoh sebagai manusia dan tercela sebagai manusia, Hevaz melihat pria itu tidak ada nilainya. Keburukan pria itu membuat Sang Pelahap Jiwa memelintir wajahnya yang cantik menjadi cemberut.
Lalu, dia teringat dengan seorang prajurit yang pernah memerintahkan seorang bandit untuk menggali kuburan hanya dengan kedua tangan dan tanpa alat. Dia tidak bisa mengingat wajah prajurit itu dengan benar, tapi dia merasa telah bertemu dengan prajurit itu.
Hevaz kemudian mengeluarkan perintah seperti prajurit yang pernah dia awasi dari dunia para dewa. Maka, pria itu mulai menggali kuburan di hutan belantara.
Tidak seperti pasir atau tanah pertanian, menggali lubang di tanah keras tidak mudah. Kukunya mulai terlepas dan kulit jarinya sobek, tetapi setiap kali pria itu ingin berhenti karena rasa sakit, pemilik sabit raksasa itu terlihat akan memenggal kepalanya.
Penyembah Dewa perang dan Dewi Kematian berasal dari kalangan prajurit atau pekerjaan yang berhubungan dengan kematian, seperti algojo dan tabib. Lalu, utusan kedua dewa dan dewi itu mengawasi pria bandit tersebut dengan tatapan teror. Pria itu menggali tanah yang ditutupi bebatuan dan rumput sekuat tenaga.
Ketika dia menggunakan tangannya yang jarinya telah memperlihatkan daging tanpa kulit untuk menutupi kuburan para wanita itu dengan tanah, matahari mulai terbit dan menerangi sekeliling.
Pria itu melakukan semua itu karena itulah syarat baginya untuk dibebaskan. Pria itu berbalik untuk mendapatkan pendapat Hevaz.
Dengan kehausan, kelaparan, kelelahan, dan rasa sakit di tangannya, pria itu terlihat hampir pingsan.
Dia melihat Hevaz menggenggam tangannya dan melantunkan doa.
Hevaz berlutut dengan satu lutut, dia menggenggam tangannya dalam doa yang penuh pengabdian terhadap sosok yang dia layani. Berjemur di bawah sinar fajar, dia nampak cantik dan mulia, dan terasa mengambil napas dari semua orang yang melihatnya.
Bibirnya yang tampak dicat merah darah membentuk senyuman.
Gadis itu berdiri setelah menyelesaikan doanya, dan mengangkat sabitnya tinggi-tinggi. Dia mengayunkan sabit yang merupakan simbol kesetiaan dan cinta terhadap orang yang dia layani, lalu mengambil kehidupan pria di depannya.
**
Sinar matahari merangsek masuk kain kedap air yang digunakan untuk mendirikan tenda Tim Ke-12.
Sinar matahari yang menandakan awal pagi telah tiba memperlihatkan betapa cerahnya hari ini.
Dari seluruh anggota Tim Ke-12, Nio adalah orang yang pertama terbangun dari mimpi.
Dia melihat seluruh anggota pria masih tertidur dengan berbagai keadaan, beberapa bahkan terdengar mendengkur dengan sangat keras.
Sambil memasang wajah yang masih menahan rasa kantuk, Nio keluar tenda sambil menggaruk perut dengan tangan kanan dan menutup mulutnya yang menguap lebar dengan tangan kiri. Dia berjalan ke arah danau kecil di belakang perkemahan untuk sekedar membasuh wajah dan menggosok gigi.
Cara berjalan Nio seperti orang yang menderita suatu sindrom yang membuat penderitanya mampu tertidur sambil berjalan. Namun untungnya Nio tidak memiliki sindrom seperti itu, dan sangat berbahaya jika penjaga perbatasan memiliki gangguan tidur semacam itu. Karena melewati perbatasan berarti membawa kematian.
Burung-burung dunia lain yang bertengger di beberapa pohon di dekat perkemahan merupakan sumber musik alami, namun belum mampu membuat seluruh anggota tim terbangun. Lalu, wyvern dan naga liar terbang jauh di atas kepala tanpa memperlihatkan ancaman.
Setelah memasukkan kakinya ke dalam air danau yang sejuk, kesadaran Nio sepenuhnya kembali. Dia merasakan sinar matahari dunia ini yang hangat, dan membuat pikirannya kembali tenang setelah mengerjakan laporan yang seperti tidak ada akhirnya.
“Siapa dia?”
Nio menyipitkan matanya karena melihat seorang gadis berenang tak jauh dari tempatnya, dalam kondisi tanpa mengenakan pakaian.
“He-Hevaz?!”
Mata mereka saling bertatapan, lalu gadis itu berdiri dan memperlihatkan seluruh tubuhnya yang tidak ditutupi sehelai benang pun. Hevaz terbang dengan tubuh telanjang ke arah Nio, dan senyumannya terlihat seperti ancaman menurut Nio.
Pemuda itu langsung berlari secepat yang dia bisa, meninggalkan sepatu di tepi danau begitu saja. Setelah tiba di tenda, dia langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dalam kondisi jantung berdetak sangat kencang.
__ADS_1
Sementara itu, Hevaz tersenyum setelah melihat tingkah Nio sambil berkata, “Waktunya tak lama lagi, orang yang diramalkan. Ah ~ aku lupa kalau Beliau telah menjadi tuanku.”