Prajurit SMA

Prajurit SMA
Bisnis dan sumber kekecewaan


__ADS_3

Hidup dengan senjata di tengah tembakan artileri medan berat milik musuh yang menghujani pertahanan dari bangun hingga tidur lagi. Kehidupan di garis depan yang dialami pasukan Persekutuan di Garis Barat sangat membosankan. Pasukan Perdamaian dan Persekutuan mengirimkan kekuatan berupa satu kompi marinir yang bertugas mempertahankan pantai dan Teluk Tanduk dalam pertempuran amfibi, satu batalyon campuran dengan senjata kendaraan tempur infanteri dan tank medium dan sejumlah sistem armor tempur ‘Gandiwa’, Regu Misi Istimewa mengirimkan 10 tim termasuk Tim Ke-12, sebagian armada TNI AL, dan penyihir kontingen Arevelk, Yekirnovo, dan Hayvan.


Jika pasukan Aliansi yang berjuang di Garis Barat beruntung, mereka hanya akan kehilangan sepuluh atau dua puluh tentara ketika bangun tidur. Hal tersebut terbilang keberuntungan mengingat mereka bertempur melawan Persekutuan yang perkasa. Jika prajurit Aliansi bersantai di parit pertahanannya, dia akan terlindas roda tank atau terpanggang oleh senjata pelontar api. Itu sebabnya pasukan Aliansi yang berjuang mempertahankan Kerajaan Salodki harus menjaga mata tetap terbuka, pikiran tetap sehat, dan menjaga kesehatan mental serta fisik. Persekutuan memang jarang melakukan perlawanan, kecuali Aliansi sendiri yang memulai permusuhan. Dan, berperang tanpa tidur itu berbahaya, dan itu berlaku bagi Aliansi yang jarang menidurkan pasukannya demi memperoleh waktu yang tepat untuk menyerang posisi Persekutuan.


Aliansi belum mengenal rokok tembakau, tetapi mereka memberikan alkohol kepada para prajurit garis depan. Namun, setelah menenggak alkohol, prajurit akan terjaga atau bergerak ke pertahanan musuh tanpa sadar. Jika pasukan kehilangan kemampuan untuk mengendalikan prajurit, hal itu merupakan hal buruk. Yang perlu dilakukan Aliansi hanyalah mengurangi jatah alkohol bagi pejuangnya, dan menggantinya dengan kopi atau permen.


“Dia korban keempat hari ini. Jumlah tentara Aliansi mabuk yang menyerang semakin berkurang. Apa mereka benar-benar berhenti memberi minum prajuritnya alkohol?”


Setelah Nio menembak mati seorang prajurit Aliansi yang mabuk dan berjalan mendekat ke pertahanan Tim Ke-12 sambil melepaskan beberapa tembakan, dia mengira Aliansi telah mengerti betapa sehatnya air biasa. Sebagai ganti alkohol, pasukan Persekutuan yang berjuang di Garis Barat diberikan kopi instan dan rokok meskipun hanya beberapa anggota Tim Ke-12 yang merokok.


Rokok dan kopi instan adalah bentuk perhatian pasukan terhadap pejuang di garis depan, walau Nio harus menggerutu karena mereka tidak mengirimkan mi instan.


Menghela napas ketika berjalan kembali ke parit cadangan, Nio sekali lagi diingatkan betapa kerasnya pertempuran satu minggu yang dikenal sebagai ‘Pengepungan besar pertama Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi TNI’ yang terjadi satu setengah tahun lalu. Dia adalah satu-satunya veteran pertempuran besar pertama TNI dengan Aliansi di Garis Barat, namun tidak menderita tekanan mental seperti prajurit Indonesia dan Rusia baru.


Parit adalah pertahanan praktis yang murah, namun kehidupan di parit cukup menekan. Walau kontingen Indonesia dan Rusia memiliki stok penembak jitu melimpah, menembak musuh yang lengah demi membunuh kebosanan merupakan pelanggaran. Sebagai gantinya, pasukan lebih banyak menghabiskan waktu dengan berbaring di dalam parit, dan mengandalkan pasukan patroli sebagai perlindungan.


Penyihir Arevelk, Hayvan, dan Yekirnovo memiliki banyak kelonggaran. Tugas mereka di Garis Timur adalah menjadi Penghubung, sehingga Gerbang tak sempurna dari Garis Timur dapat terhubung dengan Gerbang tak sempurna di Garis Barat, sehingga menghemat biaya bahan bakar transportasi.


Namun, yang bekerja paling keras adalah para marinir TNI AL dan Regu Misi Istimewa, khususnya Tim Ke-12.


Ketika musuh memperlihatkan pergerakan yang mengancam, merekalah yang harus pertama kali maju untuk menghentikan atau mengurangi kekuatan musuh. Aliansi benar-benar memanfaatkan pahlawan mereka dengan benar, sehingga mendapatkan artileri medan berat dengan kaliber besar. Peluru meriam berdaya ledak tinggi yang mereka tembakan adalah hal biasa bagi pasukan musuh yang memilih bertahan, alias Persekutuan. Jika ditotal, peluru meriam yang Aliansi tembakkan hingga hari ini berjumlah seribu ton. Namun Persekutuan tidak menderita kerugian yang berarti dari hujan meriam mereka.


Bagi pasukan garis depan yang bertempur secara langsung, hanya ada darah dibalas darah. Tanpa mengandalkan para Gandiwa, marinir mempertahankan pantai dengan kendaraan tempur amfibi mereka.


Sementara itu, ketika pasukan Aliansi sedang tertidur di parit lembab dan berlumpur, Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap akan bergerak untuk menghabisi beberapa tentara, dan menghancurkan sejumlah artileri dan senapan mesin kemudian mundur saat musuh melakukan perlawanan.


Ketika beristirahat, kehidupan berlanjut di dalam parit yang nyaman. Para prajurit dapat melakukan kegiatan ringan setelah mendapatkan ijin istirahat. Mereka berlatih, mencuci pakaian, memperbaiki senjata, memasak, dan mengubur jasad tentara Aliansi yang hampir membusuk. Tapi, tugas mereka tetaplah berperang, menghadapi musuh yang semakin sulit ditangani dari hari ke hari. Walau pertempuran mereka tampak penuh pengorbanan, mereka tetap mendapat kritik dari negara masing-masing.


Peluru tracer dari senapan mesin berat menyapu pasukan monster dan manusia Aliansi yang datang menyerbu, mempertahankan pasukan dan parit.


Tentu saja Nio tidak meragukan perlindungan dari meriam tank dan senapan mesin.


Tetapi, Nio telah mengatakan kepada batalyon campuran bahwa mereka harus menghemat amunisi. Bagian garis belakang sangat berantakan, dan hanya dipertahankan oleh Marinir dan tank medium, tanpa artileri medan semacam mortir.


Jangankan mortir, mengapa pasukan mengirimkan banyak senapan mesin bagi pejuang Garis Barat? Sebagai perwira lapangan yang memiliki pengalaman dalam perang parit, dia curiga jika senjata-senjata yang seharusnya dibutuhkan pasukan di Garis Barat dibiarkan berdebu di gudang atau semuanya telah digunakan pejuang Garis Timur. Nio tidak akan membiarkan para perwira berpengaruh melakukan apapun yang mereka suka.

__ADS_1


Produksi senjata meningkat pasca perang, namun jumlah persediaan yang dimiliki TNI di dunia ini justru tidak mencukupi.


Dihadapkan dengan banyaknya senjata ringan bagi infanteri, Nio bisa memahami beberapa hal. Dia menyadari bahwa industri senjata tetap berjalan selama ada perang, bahkan mereka mampu menciptakan perang demi mendapatkan untung dari menjual senjata.


Di sisi lain, banyaknya senjata ringan bagi pasukan Garis Barat tidak terlepas dari anggaran yang membuat sejumlah pihak berselisih. Dengan anggaran yang terbatas, maka membeli banyak senjata ringan infanteri adalah pilihan terbaik, ditambah tawaran menggiurkan dari industri militer.


Industri militer juga tidak merugi walau TNI hanya memesan seribu senapan mesin berat untuk digunakan pasukan di Garis Barat. Hal tersebut merupakan contoh adanya permintaan dan penawaran dalam kegiatan bisnis. Melihat perang yang ternyata memiliki sisi menguntungkan untuk isi rekening, Nio membayangkan memulai bisnis perusahaan militer swasta.


“Tapi, seharusnya anggaran pembelian senjata memiliki dana sisa. Mereka setidaknya harus menggunakan sisa dana untuk menaikkan upah kami. Kemenhan punya banyak anggaran yang hanya digunakan untuk membeli senapan mesin dan mengembangkan senapan serbu baru. Apa mereka memikirkan keselamatan dan kesejahteraan prajurit yang bertugas di dunia ini? Kami juga ingin lebih dari sekadar kopi dan rokok,” Nio tenggelam dalam pikiran yang normal untuk budak perusahaan.


Kemudian, Nio tersadar dari lamunannya ketika Sersan Hasaan melapor padanya.


“Lettu, kami menerima kabar jika kamu akan memimpin sebuah peleton sekarang. Mereka ingin kamu kembali ke markas pusat untuk melihat calon anggota peleton.”


“Anggota baru? Aku akan memimpin peleton? Jadi markas pusat benar-benar menganggap Pembunuh Senyap hanya tenaga sukarela,” Nio berniat menanyakan status Pembunuh Senyap yang telah lama berjuang bersama Tim Ke-12. Dia sebenarnya belum ingin memerintah unit melebihi regu, namun dengan pangkatnya saat ini dia dapat memimpin sebuah peleton.


“Hassan, apa kamu yakin calon anggota baru peleton ditempatkan secara tak sengaja? Atau pesan yang kau terima ternyata untuk orang lain?” kata Nio.


Hassan menjawab, “Tidak ada. Markas pusat tiba-tiba mengirimkan telegram untukmu, jadi tidak ada masalah.”


Nio saat ini benar-benar tidak ingin menambah orang untuk dipimpin dan dilindungi. Tapi, Sersan Hassan menyerahkan kertas yang berisi pesan dari telegran bagi Letnan Satu Nio, yang berarti pesan benar-benar tanpa kesalahan apapun.


Di sisi lain, Nio berpikir penambahan personel yang tiba-tiba adalah hasil dari kekecewaan sejumlah pihak yang ingin menjatuhinya hukuman disiplin. Satu-satunya kesimpulan yang Nio dapatkan untuk hal ini adalah dia berada dalam masalah.


Padahal aku sudah berperilaku sopan dan baik, tapi kenapa mereka tidak membebaskanku sepenuhnya dan malah menambah tanggung jawab untukku? Aku bisa jamin para sialan itu tidak menyukaiku, begitulah pikir Nio tentang masalahnya.


“Oh ya, ada tambahan. Komando ingin kita menjadi instruktur untuk calon anggota baru peleton kita.”


“Apa?!” Nio menggebrak mejanya dengan keras, membuat Hassan dan beberapa anggota Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap melompat terkejut. “Mana buktinya kalau kita jadi instruktur anggota baru?”


“Yah, aku dengar rekan-rekan dari Tim Ke-20 mengatakan “Kami dengar Tim Ke-12 akan menjadi peleton dan melatih anggota baru, ya?” seperti itu,” Hassan ragu jika jawabannya bisa membuat Nio tidur tenang.


“Hassan, kayaknya temenmu punya pendengaran yang sangat tajam, atau mungkin dia dulunya pernah jadi grup ngerumpi emak-emak? Mereka membuatku kesal,” ucap Nio dalam logat jawa yang sangat jelas.


Calon anggota baru untuk peleton Nio mungkin adalah pasukan baru yang datang setelah penarikan gelombang pertama untuk kontingen Indonesia. Nio berpikir mereka adalah orang-orang yang belum terbiasa medan perang dunia ini. Hal tersebut membuat Nio harus berpikir bagaimana cara agar anggota baru dapat beradaptasi dalam waktu singkat di dalam unit elit seperti Tim Ke-12.

__ADS_1


Nio tidak berharap jika calon anggota baru berasal dari kalangan pasukan khusus.


“Tapi, menjadi instruktur? Apa kita akan melatih calon anggota baru di sini?” Hassan mendengus setelah mengatakan hal tersebut.


Pasukan baru di medan perang adalah pasukan tanpa pengalaman yang bahkan tidak memiliki kemampuan untuk menghadang serbuan lawan. Nio ingin melatih calon anggota baru ke tempat lain yang jauh dari Garis Barat.


Walau Nio benci segala bentuk yang membuat pekerjaannya bertambah, namun komando telah menugaskan calon anggota baru untuknya.


Menjadi pelatih? Nio saat ini ingin berteriak di depan wajah orang yang memerintahnya melakukan hal tersebut, dan bertanya apakah orang seperti dirinya mampu melakukannya. Dia sendiri bahkan menempati posisi terakhir ketika pelatihan Pasukan Pelajar Khusus.


Saat Nio memikirkan masalahnya sendiri, Bima dengan bersemangat berkata, “Mantap. Kurasa komando menganggap kita bisa mengajari personel baru berperang di dunia ini!”


Kalimat penuh semangat Bima memancing beberapa anggota yang lain, dan membuat para Pembunuh Senyap heran. Hevaz ingin mendekati Nio untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, namun wajah pening Nio membuatnya mengurungkan niat. Hal yang sama hampir dilakukan Edera, Huvu, dan Ebal, tetapi dicegah oleh Ratna jika tidak ingin memiliki teguran dari Nio.


Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap selama di Garis Barat telah menjaga seluruh pasukan Persekutuan di sini. Artinya Nio dan unitnya adalah penjaga seluruh prajurit Persekutuan di sini, bahkan marinir tetap memerlukan bantuan Tim Ke-12 dalam pertempuran mereka. Penyihir adalah pengecualian, karena mereka termasuk golongan yang mendapatkan perlakukan istimewa berkat peran pentingnya.


“Ya, kita bisa membantu para beban itu selama di Garis Barat ini.”


“Benar. Kita bisa berperan penuh di sini berkat Letnan Nio.”


Berlawanan dengan harapan Nio, Gita dan Agus memuji Nio. Pemuda itu beruntung memiliki bawahan yang menyemangatinya. Nio berpikir dia hanya perlu melakukan apa yang diperintahkan sebaik mungkin, dan melihat apakah para calon anggota baru layak berjuang bersama Tim Ke-12 atau tidak.


“Maaf sebelumnya, tapi sepertinya pelatihan Letnan Nio sepertinya keras. Aku tidak percaya kamu…”


“Apa itu, Bima? Kalau kamu ingin mengatakan sesuatu, katakan sekarang.”


“Anu… permisi…”


Bima tidak melanjutkan perkataannya saat Nio mengatakan kalimat tersebut dengan nada datar yang meresahkan.


Nio dengan enggan menguatkan dirinya, dan memaksa diri menerima tugas itu.


Alasan Nio tidak bisa berpikir positif terhadap calon anggota baru karena dia menyadari kenyataannya.


TNI memulangkan sebagian pasukannya dari dunia lain, dan menggantinya dengan pasukan yang baru tanpa pengalaman peperangan dunia ini. Mereka melemparkan anggota baru ke dunia di mana seseorang bisa menjadi gila kalau tidak bisa menanggung kesengsaraan yang disebabkan membunuh musuh, bunyi meriam serta senapan yang terus menerus, dan teriakkan penderitaan lawan. Nio tidak ingin anggota baru membuat keributan ketika bertahan di parit, melakukan perlawanan walau membunuh banyak tentara musuh, atau berkelahi dengan alasan sepele. Setidaknya, jika dalam pertempuran terdapat staf medis, namun andaikan anggota tiba-tiba panik kemudian maju dan bertarung dengan gegabah, Nio tidak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


Lebih penting lagi, panik itu menular. Jika satu wajah orang baru tampak kusut dan berantakan penuh luka serta noda, dan kemudian anggota baru sok berani memulai keributan, Nio dengan terpaksa harus turun tangan menangani masalah-masalah tersebut. Jika anggota baru tidak bisa menahan kengerian prajurit musuh yang terbunuh, kemudian muntah di sembarang tempat, maka akan membuat anggota lain mual yang menjijikkan. Dalam kemungkinan terburuk, Nio mungkin harus memerintahkan anggota baru menggali lubang khusus untuk menampung muntahan mereka.


“Yah tidak apa-apa, jika menjadi instruktur untuk anggota baru, kita tidak punya pilihan selain mematuhi. Aku akan bertanya dengan komando. Jika kita benar akan mengajari orang-orang baru berperang di dunia ini, kita akan sangat kerepotan, tapi kita tetap harus melakukannya. Kita akan mengerahkan semuanya,” ucap Nio dengan wajah malas, dan ditanggapi dengan ekspresi serupa oleh bawahannya.


__ADS_2