
Wahai kesatria
Pahlawan sebenarnya
Seusai pertarungan berakhir
Demi siapakah air matamu itu engkau teteskan?
Angin yang segera berlalu
Menjadi cepat pergerakannya
Menjadi takdir keberuntungan
Hujan pun segera turun
Sering kali ku bermimpi keajaiban yang 'kan kita wujud
Langit hari ini akan terus berlanjut di masa depan
Jangan lupakan sakitnya menang
Seseorang akan pergi
Menatap para pecundang kelak dalam ingatan ini
Wahai kesatria
Pahlawan sebenarnya
Meski pun dipenuhi luka
Dia merebut limpahan kejayaan darinya
Wahai kesatria
Pahlawan sebenarnya
Berjuang sendirian 'tuk bangkit
Untuk apa dia terus melangkah di akhir jalan?
Change the world!
Angin yang terus bertiup pun
Sesekali berhenti sejenak
Debar jantung yang kian melonjak
Sekarang kembali tenang
Walau pun luka akan pulih
Jalan hidup itu tidak akan pudar
Suatu saat kita 'kan tersadar
Itu semua kesalahan
Segala pertikaian sampai kapan pun
Tidak akan ada pemenang
__ADS_1
Karena itu hanya kekosongan
Hati yang menjadi kasar
Wahai kesatria
Sang prajurit mulia
Adakah yang hilang darimu?
Tebusan itu kesendirian saja menunggu
Wahai kesatria
Sang prajurit mulia
Apa yang sedang engkau lindungi?
Di dunia ini yang takkan tergantikan hanyalah cinta
Change the world!
Coba kau ingat sakitnya luka
Kekesalan seseorang
Tempat yang engkau lihat di mimpi itu bukanlah surga
Wahai kesatria
Meski pun dipenuhi luka
Dia merebut limpahan kejayaan darinya
Wahai kesatria
Berjuang sendirian 'tuk bangkit
Untuk apa dia terus melangkah di akhir jalan?
Change the world!
(Lirik lagu JKT48, Wahai Kesatria)
**
Babi yang menyamar sebagai manusia, tidak diberi kesempatan untuk beristirahat, atau bahkan meratapi kawan yang gugur.
Ini adalah Ibu Pertiwi yang sudah berusia sangat tua, dan sangat penting untuk dilindungi.
Sebagai tempat peristirahatan terakhir, para prajurit tidak akan mencium bau tanah. Prajurit yang gugur akan langsung terbang menuju surga yang dipenuhi para pejuang.
Sementara di dunia ini, tidak ada yang namanya surga maupun neraka. Dunia yang hanya dipenuhi oleh ketegangan dan ketakutan harus para prajurit bisa redam.
Dalam situasi yang begitu tegang, dimana bisa hidup untuk melihat hari esok adalah hal terbaik yang bisa dirasakan. Bahkan para prajurit tidak memerlukan hidup mewah atau hiburan untuk hak ‘manusiawi’.
Selama bisa memastikan hal itu terjadi, mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi pada unit. Dan mereka akan melakukan apapun yang harus dilakukan demi kembali dengan jumlah yang sama.
“Luar biasa, itu sangat sulit bukan…?”
Jika berhasil melaksanakan tugas, pujian semacam itu akan mereka dapatkan meski yang mengatakan hanya diri sendiri.
Jika gagal, jangan harap kamu dapat kembali dengan wajah tegap. Bahkan menundukkan wajah-pun tidak akan bisa menyembunyikan kegagalan mu.
__ADS_1
**
“Yang melemparkan mereka ke neraka adalah para ‘bangsawan’ yang berperut buncit dengan setelan rapi.”
Jika para bangsawan itu mendengar kata-kata tersebut, sudah dapat dipastikan mereka akan menegang dan meradang seketika. Kalau tidak, mungkin anda sudah dilaporkan atas tuduhan pencemaran nama baik, karena sudah mengatai para ‘bangsawan’ itu berperut buncit meski hal itu adalah fakta.
“Tanpa pejuang, negeri ini tidak akan pernah ada.”
Entah siapa yang menciptakan ungkapan tersebut, namun para pendiri negeri ini mengatakan kata-kata itu ratusan tahun yang lalu.
Babi-babi dengan seragam loreng hijau tua dan coklat, tidak akan hidup dari sesendok nasi dan seteguk air saja.
Hidup juga memerlukan hal-hal lain, seperti kopi, permen dan makanan instan. Bahkan mereka juga memerlukan hal yang tidak dapat mengenyangkan seperti musik dan permainan.
Para bangsawan itu merasa tidak perlu memberi ternak mereka ini lebih dari sekedar makanan dan minuman ketika diperintahkan untuk melindungi mereka.
Untuk menjaga mereka agar tetap hidup, para kesatria hijau ini masih dapat mencarinya di alam.
Untuk melindungi tubuh kekar para kesatria ini, seragam tempur yang tidak aman akan tetap mereka pakai demi melindungi sekelompok rakyat yang menyebut diri mereka sebagai ‘wakil rakyat’.
Meski tidak semua orang yang berada di kelompok ini rela dengan para kesatria hijau akan gugur dengan sia-sia. Sayangnya, jumlah mereka sungguh sedikit.
“Seusai pertarungan berakhir, demi siapakah air matamu itu engkau teteskan?”
Itulah salah satu penggalan lagu lama yang selalu diputar saat akan berjuang. Pertanyaan itu belum ditemukan jawabannya oleh para kesatria hijau.
Bahkan ‘pemilik’ mereka tidak ingin mengetahui penyebab para kesatria meneteskan air mata.
Bukan untuk diri mereka sendiri
Bukan untuk keluarga
Bukan untuk kekasih
Bukan untuk para pemilik
Namun air mata mereka ini demi tanah air dan rakyat yang ingin dilindungi oleh para kesatria hijau loreng.
Kesatria negeri ini yang memiliki panggilan ‘TNI’ bisa merubah dunia jika perlu, dengan bantuan debar jantung yang melonjak.
Hati yang menjadi kasar saat menghadapi para keparat dunia lain, itu hanyalah kekosongan.
Kenyataan yang ternoda adalah hal yang paling mereka hindari, karena dunia ini sudah dipenuhi dengan keputus-asaan.
Meski bibir semua orang berkata “Mengapa mereka terus melanglah hingga di akhir jalan?”
Mereka tidak mengetahui hal itu, dan tanpa disadari para pejuang berjalan dengan luka yang tidak akan pulih hingga di akhir jalan.
Luka yang tidak akan pulih itu, mereka menyebutnya dengan kebanggan!
Karena hanya kebanggaan yang mereka tahu.
Karena mereka adalah…TNI
(Tamat)
**
Informasi: yang tamat bukan cerita utama, tapi chapter spesial....
Terimakasih sudah membaca chapter selingan ini....
Tunggu chapter spesial yang akan datang....
__ADS_1