Prajurit SMA

Prajurit SMA
28. Kuntilanak: ilmu fantasi.


__ADS_3

15 April 2321, pukul 00.23 WIB.


**


Pelatihan calon PPK dalam beberapa hari kedepan sudah mencapai tahap tes terakhir, dan tinggal 4 tes lagi yang belum dilaksanakan.


Selama hampir 4 bulan ini sebanyak 10 prajurit yang dipulangkan ke Satuan asal karena berbagai hal.


Mereka yang dipulangkan mengalami kelelahan berat karena menjalani tes yang sangat menguras tenaga.


Kerena saat sudah menjadi bagian pasukan khusus para pelajar ini, mereka diharuskan menyelesaikan tugas dengan tenang, senyap dan secepat mungkin dibawah bahaya yang mengincar.


Hal itu juga sesuai dengan fungsi Pasukan Pelajar Khusus, yaitu pasukan pengintai tempur. Saat menjalani misi pengintaian mereka harus memasuki wilayah musuh.


Kemungkinan mereka diketahui musuh dalam melaksanakan misi juga tidak kecil.


**


Tengah malam di barak prajurit laki-laki. Sebenarnya malam hari belum terlalu larut karena masih menunjukkan pukul 22.41 WIB. Namun seluruh prajurit sudah diijinkan untuk beristirahat lebih cepat dari biasanya.


Karena sebelumnya mereka harus tidur diatas pukul 1 malam dan bangun pukul 4 pagi untuk melakukan lari 5 km. Tapi itu juga tergantung tes apa yang dilakukan. Jika tes yang dilakukan tidak memakan waktu lama, seluruh prajurit dapat tidur diatas pukul 11 malam.


Tempat ini cukup tenang meski beberapa prajurit tidur sambil mendengkur namun tidak terlalu keras.


Sementara itu Nio terlihat tertidur dengan mimik wajah penuh kenikmatan lagi.


Ya itu memang tidak mengherankan karena Ivy mampir di tempat ini untuk menemui Nio lagi.


Karena dia selalu tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Nio atas pertanyaan.


Ivy jika bertemu dengan Nio selalu menanyakan apakah dia orang dalam ramalan di dunianya. Namun Nio selalu menjawab dengan jawaban yang membuat bingung dan tidak jelas.


Hal itu yang mengharuskan Ivy untuk menemui Nio hingga dia mendapatkan jawaban yang ia inginkan.


Ivy terlihat duduk lagi diatas tubuh Nio yang tertidur dalam posisi terlentang. Karena Ivy adalah ‘orang dunia lain’, dia bisa duduk diatas Nio tanpa membuatnya merasa berat.


Terlihat Nio perlahan membuka matanya karena merasa ada seseorang didekatnya.


“Kau lagi,” kata Nio dengan tenang karena sudah sering mengalami hal ini.


“Bagus, kau sudah terbiasa dengan kedatanganku,” jawab Ivy.


Nio perlahan bangkit dari tidurnya karena dia sebenarnya tidak bisa tidur. Ya siapa juga yang dpat tidur setelah menjalani tes berbagaya semacam merayap di lumpur sambil dihujani panah.


Ya, menggunakan panah karena musuh tidak menggunakan senjata api seperti militer Bumi. Tentu saja pelatih menggunakan panah otomatis agar tidak terus menerus menarik busur panah.


“Apa kau ingin bertanya tentang hal itu lagi?” tanya Nio yang sudah terbiasa berkomunikasi dengan Ivy.


“Tentu saja, hingga aku mendapatkan jawabannya aku akan terus mendatangimu,” jawab Ivy.

__ADS_1


“Kalau begitu kau tidak ada bedanya dengan kuntilanak asli lho.”


Setelah mendengar jawaban dari Nio, Ivy memunculkan api dari ujung jari telunjuknya yang membuat Nio terkejut dan segera mencengkram tangan Ivy.


“Kenapa kau bisa mengeluarkan api?, apa kau orang dunia lain?” tanya Nio dengan nada menginterogasi.


“Kenapa kau baru sadar sekarang?, bukannya kau seharusnya sudah sadar karena hanya kau yang bisa melihatku?” jawab Ivy sambil melepaskan tangannya dari cengkraman Nio dengan mudah dan api yang keluar dari ujung jarinya sudah padam.


Nio tentu saja terkejut karena Ivy yang melepaskan diri dengan mudah dan tiba-tiba duduk di pinggir ranjang sambil mengayun-ayunkan kakinya.


Nio kemudian juga mendekati Ivy sambil berkata, “Bagaimana aku bisa tahu kalau aku orang yang ada di ramalanmu?”


“Bukan ramalanku, tapi ramalan yang diramalkan peramal duniaku. Apa kau benci dengan angka-angka?” jawab dan tanya balik Ivy yang membuat Nio terkejut.


Dia tahu apa maksud dari Ivy dan menjawab, “Aku bukan benci dengan angka-angka, aku hanya benci dengan hitung-hitungan dan kumpulan rumus saja.”


Mendengar jawaban Nio itu, Ivy terlihat bernafas lega. Ivy kemudian mengingat-ingat lagi ciri-ciri yang lain dari orang yang diramalkan.


Namun sebelum Ivy membuka mulutnya, terlihat dari jendela barak dua buah bayangan yang melintas dan berjalan ke pintu masuk barak.


“Apa itu pasukan pencari?” gumam Ivy yang mengira jika itu pasukan yang mencarinya dan Ilhiya.


Tanpa berkata apapun lagi Nio melompat dari ranjang yang ada di tingkat dua dan ada Rio dibawahnnya.


Namun itu tidak membuat orang lain terbangun karena Nio mendarat dengan lembut tanpa menimbulkan suara apapun.


Sebelumnya dia menoleh dulu ke tempat tidurnya untuk memastikan apakah Ivy masih ada disitu atau sudah pergi. Ivy sudah tidak ada di tempatnya tadi yang menandakan jika Ivy sudah pergi.


Nio menempelkan telinga kanannya ke pintu untuk mendengar suara orang dibaliknya jika ada. Dia mendengar suara bisikkan dari balik pintu.


Dengan cepat Nio membuka pintu yang mengejutkan orang di baliknya dan mengacungkan ujung laras senapannya ke kepala salah orang yang ada di balik pintu.


Mendengar suara berisik, seluruh prajurit terbangun dan menyalakan lampu untuk melihat apa yang terjadi.


“Kenapa dia melakukan itu?” gumam Rio yang melihat Rio mengarahkan laras senapannya ke kepala pelatihnya sendiri.


“Wah mengejutkan sekali. Ternyata masih ada satu orang yang sangat waspada ya?” kata pelatih yang kepalanya ditodong oleh Nio.


Nio melebarkan matanya karena kedua bayangan yang terlihat mencurigakan itu adalah pelatihnya sendiri.


“Ma-maafkan saya!” ucap Nio dengan tegas dan menyingkirkan senapannya ke belakang tubuhnya.


“Tidak apa-apa. Justru kami tadi mau melakukan tes kewaspadaan. Tapi yang kami dapatkan hal yang mengejutkan,” kata pelatih yang satunya.


“Karena saya tadi melihat dan mendengar suara berisik dari luar, jadi saya mencoba memeriksanya.”


Kedua pelatih kemudian tersenyum sambil menepuk kedua pundak Nio. Pelatih yang tersenyum tentu saja membuat Nio dan seluruh penghuni barak terkejut. Kerena pelatih mereka lebih sering memperlihatkan wajah tegasnya.


Tanpa ijin, kedua pelatih itu masuk kedalam barak sambil membawa 2 buah kardus yang entah apa isinya.

__ADS_1


Seluruh prajurit turun dari ranjang dengan cepat dan berdiri dengan sikap siap.


“Sudahlah, karena hari ini kalian mendapatkan hari bebas. Tapi ingat, hanya untuk hari ini,” ucap salah satu pelatih.


Seluruh prajurit tentunya sangat senang dengan hal langka yang didapatkan jika ingin bergabung dengan pasukan khusus dan Satuan khusus lainnya.


Pelatih membuka kedua kardus yang mereka bawa dangan pisau tarung dan memperlihatkan isinya.


Nio yang masih berada di dekat kedua pelatih itu mengintip isi kardus yang berupa buku.


Salah satu pelatih mengambil isi dari kedua kardus masing-masing satu buah. Di tangannya terdapat sebuah komik dan novel yang jika dilihat dari covernya bergenre aksi dan fantasi.


“Apa kalian tahu kenapa kami membawa komik dan novel fantasi?” tanya pelatih yang memegang kedua benda itu.


Seluruh prajurit hanya saling tatap dan kemudian menggeleng dengan serempak.


“Karena lawan kita dari dunia lain?” gumam Nio yang terdengar oleh pelatihnya.


“Benar, kalian harus membaca buku ini untuk mendapatkan ilmu tentang dunia fantasi. Karena kita melihat musuh menggunakan naga dan teknologi seperti dunia fantasi di novel dan komik ini,” jelas lagi salah satu pelatih.


Nio hanya tersenyum miring setelah mendengarkan penjelasan pelatihnya dan berkata dalam hatinya, “Mendadak jadi otaku nih.”


Kemudian kedua pelatih itu memerintahkan seluruh prajurit untuk masing-masing mengambil 2 buah komik dan 2 buah novel.


**


Di lain tempat, Ivy menemukan Ilhiya sedang beristirahat di depan emperan toko dan terlihat ada beberapa anak muda yang nongkrong di situ.


Karena mereka berdua tidak dapat dilihat oleh orang lain kecuali orang yang mereka kehendaki, Ilhiya dan Ivy tidak perlu takut untuk diapa-apakan oleh kumpulan anak muda yang sedang nongkrong itu.


Mungkin nongkrong bukan kata yang tepat, karena mereka terlihat membawa clurit dan senjata tajam lainnya yang berarti mereka sedang melakukan ronda malam. Tentu saja mereka membawa senjata tajam untuk melawan jika musuh dari dunia lain itu datang ke tempat ini.


Karena jika Ivy dan Ilhiya menampakkan diri, kemungkinan besar perempuan di seluruh dunia merasa iri, baik itu perempuan Rusia dan Jepang.


“Tuan, aku lapar…,” keluh Ivy.


“Kau boleh makan kalau sudah melaporkan apa yang kau kerjakan,” jawab Ilhiya sambil mengeluarkan sebungkus roti sobek.


“Baiklah, aku baru mendapatkan satu jawaban dari orang itu. Yaitu dia tidak menyukai angka-angka. Tapi sebelum aku menanyakan yang lain, aku dan dia melihat ada 2 bayangan.”


“Mungkin itu pasukan pencari. Ah, itu artinya kita harus terus berpindah tempat. Tapi baguslah, kita mendapatkan 2 dari 4 ciri-ciri orang dalam ramalan itu.”


“Tapi kenapa harus dia?, bukannya ada banyak prajurit di dunia ini yang tidak menyukai angka-angka?”


“Apa ada prajurit yang saking tidak menyukai angka-angka hingga membuat kepalanya sakit?. Kalau tidak percaya kau bisa memperlihatkan dia ini.”


Ilhiya mengeluarkan sebuah buku yang hanya dipenuhi rumus tanpa huruf satupun kecuali bagian cover bukunya saja.


“Baiklah, akan kucoba,” jawab Ivy setelah menerima buku tersebut.

__ADS_1


__ADS_2