
Bahkan Nio sendiri hampir kehabisan kesabaran setelah monster yang mengeroyoknya seakan-akan tidak ada habisnya, atau tepatnya pria itu hampir kewalahan. Sementara itu, raja minotaur terus mendekat ke arahnya dengan aura ingin membunuhnya yang sangat jelas, dan terus memberikan perintah pada monster-monster penghuni lantai sepuluh untuk menyerangnya.
Hanya dengan raungan pelan atau hembusan napas dari raja minotaur, puluhan goblin, kambrit, minotaur, serta beberapa monster tambahan bergerak mengelilingi Nio untuk menunggu giliran bertarung melawan pria tersebut. Tapi, Nio belum merasakan lelah sama sekali, atau tepatnya dia tidak merasa lelah. Hanya saja perasaannya telah sangat menginginkan berakhirnya pertarungan ini, lalu kembali ke asalnya.
Sayangnya, jumlah peluru yang Nio miliki tidak cukup untuk melawan seluruh monster yang mengepungnya. Terlebih lagi Nio belum mengurus raja minotaur yang semakin mendekat ke arahnya.
“Tuan Nio, kami serahkan raja minotaur kepada Anda.”
Peluru untuk senapan serbu dan pistol-nya tidak cukup untuk memenangkan pertarungan ini. Lalu, saat dia menembakkan sebuah proyektil untuk membunuh seekor monster katak, SS20 G2 Nio tidak melesatkan proyektil lagi.
Tepatnya, Nio telah kehabisan peluru pada saat dia sangat membutuhkan benda tersebut.
“Apa kau berencana membuat monster itu membunuhku?”
Dia diminta untuk bertarung sendirian melawan monster setinggi tiga meter tersebut, dengan wujud seperti bos terakhir suatu game yang sangat sulit dikalahkan meski pemain memiliki perlengkapan kuat. Wajah Nio berubah pucat setelah seluruh monster yang mengepungnya berhasil beralih saat Hevaz dan kedua gadis penyihir memancing mereka.
Nio tidak dapat dikatakan sebagai Penjelajah pemula setelah melihat kemampuannya dalam bertarung menghadapi para monster. Namun, bagaimanapun dia masih pemula mengenai pengetahuan tentang monster kuat terkenal di dunia ini.
“Aku yakin kau bisa mengalahkannya dengan mudah, Letnan!”
Hassan berbicara sambil tersenyum saat menangani monster-monster yang terus menerjang tanpa henti. Pria itu tertawa kecil saat melihat ekspresi gelisah di wajah Nio ketika raja minotaur bergerak ke arahnya semakin dekat. Dia kembali tersenyum terhadap reaksi Nio setelah menembak seekor semut setinggi dua meter.
“Tentu saja, kau bukanlah pemula dalam pertarungan berbahaya. Kau sudah mendapatkan pengakuan dariku, Nio!”
“Rasanya aneh mendapatkan pengakuan dari pihak yang memihak Aliansi sepertimu, Sakuya.”
Setelah mendengar jawaban Nio, Sakuya sampai pada kesimpulan bahwa dia belum dipercaya oleh Nio walau dia telah bekerja sama dengan dia selama menjelajahi lantai sepuluh ini. Menurutnya, menunggu adalah pilihan baik hingga Nio mengakui jika dia telah mengakui bahwa Nio seorang petarung yang kuat dan menjanjikan.
Meski begitu, Nio, Hassan, dan Hevaz tidak menunjukkan rasa benci terhadap orang-orang Aliansi yang ikut bertarung bersama mereka, termasuk warga Kekaisaran Duiwel di sini. Mereka telah bekerja sama hingga sejauh ini, meski Aliansi dan Persekutuan masih berkonflik. Sakuya sebenarnya telah menerima doktrin bahwa seluruh manusia yang hidup di negara anggota Persekutuan bukanlah pihak yang pantas mendapatkan keselamatan, sehingga bebas memperlakukan mereka.
Sayangnya, Sakuya tahu jika Persekutuan memiliki pasukan yang hampir mustahil dikalahkan, meski mereka mengerahkan seluruh pahlawan. Faktanya, Aliansi tidak dapat mengalahkan TNI di perang besar sebelumnya, meski jumlah mereka jauh lebih banyak dan unggul dalam kekuatan. Namun, semangat juang dan rasa setia serta nasionalisme para prajurit tidak sebesar kekuatan militer Aliansi, sehingga moral mereka sangat mudah merosot dan keunggulan seakan sangat sia-sia.
Sayf dan Kardas tetap membantu Hassan menghadapi musuh berukuran kecil dengan pergerakan lincah, dan Nefe serta Sabole membantu memberikan serangan perlindungan terhadap Sakuya dan Hevaz yang melawan musuh berukuran sedang hingga besar. Di lain sisi, mereka benar-benar menyerahkan musuh raksasa tersebut kepada Nio.
“Semoga di surga nanti aku mendapatkan imbalan yang pantas.”
Kepala Nio kemudian mendongak ke atas setelah mengucapkan kalimat tersebut, dan menatap wajah raja minotaur yang menakutkan. Di hadapan monster yang dapat digolongkan memiliki ukuran raksasa, Nio memang terlihat memiliki kesempatan menang sangat kecil.
“Tuan Nio, apa Anda sudah tak tahan menderita?”
Ucapan Hevaz yang bertarung tak jauh dari tempatnya cukup membuat Nio kebingungan, selain jaraknya pada monster berkepala benteng tersebut yang telah saling berhadap-hadapan. Namun, seringai muncul di bibir Nio, lalu berubah menjadi senyum lebar dengan mata melotot ke arah raja minotaur di hadapannya.
“Hassan! Perlihatkan pada mereka jika prajurit TNI tidak takut dengan pertarungan yang menyakitkan dan dipenuhi penderitaan. Kami, prajurit TNI dan Persekutuan akan terus hidup selama musuh yang membahayakan masih ada di kedua dunia. Jika mati di medan pertarungan, maka itu adalah akhir yang seharusnya didapatkan seorang prajurit.”
Nio berkata dengan suara keras, dan membuat raja minotaur di depannya hanya memasang ekspresi bingung. Meski waktu pertarungan ini lebih singkat dibanding saat penyerangan pertama Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi, namun Nio merasa jumlah dan kekuatan para monster di lantai sepuluh Labirin ini sama dengan kekuatan prajurit reguler Aliansi yang dapat dikalahkan tanpa mengeluarkan tenaga berlebihan.
“Aku wes edan,” ucap Nio di dalam hati. Sayangnya, ekspresinya yang menunjukkan senyuman lebar dengan mata melotot yang hampir mendekati orang dalam gangguan jiwa.
Nio memang sering merintih di dalam hati tentang pertarungannya selama ditugaskan ke dunia ini. Tidak ada pertarungan yang dia jalani tanpa berakhir terluka, dia akan selalu terluka baik kecil maupun parah. Dia yakin keempat gadis Penjelajah sudah sangat kelelahan, namun tetap mencoba bertarung sebaik mungkin hingga semuanya berakhir.
“Perlihatkan padaku apa yang kau miliki, Nio!”
Sakuya berteriak seperti itu saat dia melemparkan katana cadangannya kepada Nio. Katana tersebut lurus, seperti ‘ninjato’, dan tidak cocok digunakan gadis samurai seperti Sakuya. Itu berarti, dia memberikan pedang pendeknya kepada Nio – yang ahli dalam pertarungan cepat – agar digunakan oleh pria tersebut.
Pedang tersebut memiliki panjang kurang dari sembilan puluh centimeter, dan benar-benar cocok untuk pertarungan yang membutuhkan kelincahan. Nio menangkap pedang yang dilemparkan Sakuya padanya, lalu mencabut dari sarung pedang sebagai kode jika dia siap bertarung dengan raja minotaur. Dia tidak memiliki waktu sama sekali untuk ragu menerima bantuan musuh. Yang dia bisa lakukan hanya terus maju, dan menghadapi apa yang seharusnya dia lawan.
Sakit di beberapa bagian tubuh setelah beberapa hari sebelumnya melakukan pertarungan yang menyebabkan pedang miliknya sebelumnya patah bukan masalah – bahkan dia tidak merasakan lelah sama sekali. Dia akan membunuh apa yang melawannya, yakni raja minotaur. Kedua kakinya membawa Nio melangkah maju dan semakin dekat dengan raja minotaur.
__ADS_1
Pikiran tentang kelemahannya sendiri – yang bahkan Nio sendiri tidak tahu apa kelemahan pada dirinya – memicu pemuda itu dengan tenang maju kehadapan monster raksasa berkepala banteng tersebut. Dia telah berhadapan dengan banyak monster, namun belum pernah menghadapi monster unik yang dapat memerintah monster lain hanya dengan teriakkan atau hembusan napas saja.
Yang ingin Nio lakukan hanya mengakhiri ini secepat mungkin.
Dia menarik napas sambil memejamkan mata, membayangkan sedang menghadapi musuh manusia yang kuat dan bukannya musuh kuat yang berupa minotaur setinggi tiga meter. Setelah menghembuskan napas panjang, Nio membuka matanya perlahan.
Pedang pinjaman dari Sakuya sudah siap di tangan kanan, lalu tangan kirinya menggenggam karambit.
Nio dan raja minotaur berdiri di area terbuka di dalam lantai sepuluh, kurang dari dua ratus meter pertarungan yang lain melawan gerombolan monster yang diperintah oleh monster raksasa itu.
Nio mencondongkan tubuh ke depan lalu menerjang ke arah monster tersebut. Tanpa berteriak atau semacamnya, Nio mengayunkan pedangnya ke kapak pada tangan kiri minotaur yang juga terayun ke arah kepalanya.
Adu senjata keduanya menghasilkan percikan api, dan membuat Nio sedikit gemetar akibat benturan yang cukup keras.
Kemudian, dia membalik cengkraman pada gagang pedang, lalu menebas perut raja minotaur sekali lagi. Serangan itu cukup efektif, dan darah sedikit mengalir dari perut monster raksasa itu, lalu Nio mengayunkan tangan kirinya yang menggenggam karambit ke arah yang sama. Namun, raja minotaur membawa dua kapak, sehingga kapak pada tangan kanannya menahan lesatan karambit-nya.
Nio menggertakkan giginya saat makhluk tersebut dengan mudah menangkis serangannya. Entah bagaimana caranya, Nio bertekad harus mengalahkan raja minotaur secepat mungkin. Dia memiliki perasaan yang buruk mengenai situasi yang sedang dihadapi Persekutuan.
Setelah gerakan menyerangnya dapat ditahan oleh raja minotaur, Nio melompat ke belakang sejauh dua langkah untuk menjauhi monster tersebut sebelum menyerang lagi. Ketika melompat, Nio melihat raja minotaur menebaskan kedua kapaknya dengan kuat, dan beruntung saat itu makhluk tersebut hanya menebas angin.
“Tuan Nio, Anda masih hidup?”
Pertanyaan untuk Nio dari Hevaz terdengar ketika gadis itu membantu menahan gerombolan minotaur berukuran sedang. Sebenarnya, dia sudah tahu jika Nio akan mengalami kesulitan untuk mengalahkan monster tersebut.
Ketika kemunculan makhluk raksasa berkepala banteng tersebut, Hevaz kemudian teringat dengan satu hal. Namun, hal tersebut mungkin belum diketahui oleh manusia karena jarang Penjelajah berpetualang di lantai sepuluh yang dipenuhi hal berbahaya. Sosok yang sedang dihadapi oleh Nio bukanlah monster biasa. Intinya, yang sedang dihadapi oleh Nio adalah lawan yang sepadan bagi ‘orang yang diramalkan’. Dan menurut gadis itu melawan raja minotaur dapat sebagai pertarungan pertama Nio sebelum menghadapi pertarungan yang lebih sulit di masa depan.
“Jangan bertanya seolah-olah aku dapat dikalahkan oleh makhluk itu, Hevaz!”
Karena Nio sama sekali tidak merasa takut, Nio menjawab pertanyaan Hevaz dengan nada percaya diri. Dia merasakan energi yang menenangkan mengalir ke seluruh tubuhnya dan membuat pikirannya jernih.
Waktu seakan melambat saat raja minotaur mengayunkan kedua kapaknya ke arah Nio. Sebenarnya, makhluk tersebut mengayunkan senjatanya dengan sangat cepat, sayangnya Nio melihatnya seperti video yang diperlambat.
Kaki kanan besar raja minotaur melayang dan menendang secara horizontal ke arah tubuh Nio dalam kecepatan tinggi. Nio menggunakan lengan bionik nya untuk menahan serangan monster tersebut. Jika Nio terlambat bereaksi, mungkin makhluk tersebut dapat melukai tubuhnya dengan sangat parah. Selain itu, Nio dapat merasakan tangan bionik nya dapat patah jika harus sekali lagi menahan tendangan cepat dan kuat raja minotaur.
Setelah kaki kanan raja minotaur menginjak tanah lagi setelah melakukan tendangan, Nio dengan cepat melayangkan tebasan dari pedangnya yang digenggam secara terbalik ke arah paha monster tersebut. Serangan kilat Nio tidak dapat diantisipasi oleh makhluk raksasa tersebut, dan paha kanannya harus tersayat cukup dalam akibat serangan lawan manusianya.
Monster tersebut meraung kesakitan setelah menerima serangan Nio, namun pemuda itu tidak berhenti setelah dia berhasil melukai lagi raja minotaur itu. Dia berlari dengan tubuh sedikit dicondongkan ke depan dan pedang yang terangkat di depan dada, lalu melompat hingga tatapan mereka berdua sejajar. Ketika melompat, tubuh Nio berputar dan kedua senjatanya berhasil melukai wajah raja minotaur. Setelah mendarat, Nio segera melompat ke belakang ketika monster tersebut memegangi wajahnya dengan kedua tangan sambil mengeluarkan raungan kesakitan.
Ketika hendak memegangi wajahnya dengan kedua tangan, itu berarti raja minotaur menjatuhkan senjatanya. Setelah menyadari hal itu, Nio melihat jika kedua kapak lawannya tergeletak di tanah, sedangkan raja minotaur masih meraung kesakitan dengan darah mengalir dari wajahnya.
“Tubuhnya cukup keras, atau mungkin kulitnya?” ucap Nio sambil memikirkan cara untuk melawan monster itu lagi.
Sayatan Nio dapat lebih dalam lagi jika tubuh raja minotaur tidak dilindungi oleh kulit yang tebal dan cukup keras jika dibandingkan kulit minotaur biasa. Monster tersebut kembali siap melanjutkan pertarungan dengan kondisi moncong berdarah hingga menetes ke tanah lantai sepuluh Labirin ini. Nio tersenyum puas setelah berhasil membuat monster itu marah.
Kali ini, dia benar-benar akan melakukan serangan yang diharapkan dapat mengakhiri pertarungan dengan cepat. Nio mengeluarkan granat asap dari salah satu kantung rompinya, lalu melemparkannya ke arah raja minotaur yang sedang mengambil kedua kapaknya yang tergeletak di tanah. Granat asap jatuh tepat di antara kedua kaki raja minotaur, namun monster itu menganggap benda tersebut hanya sekedar batu yang dilemparkan sebagai pengalih perhatian.
Granat asap meledak kecil lalu mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan dan bersamaan dengan itu asap abu-abu tebal menyebar dan menutupi seluruh tubuh raja minotaur. Melihat asap dan cahaya yang sangat terang dari tempat pertarungan Nio dan raja minotaur, seluruh orang menoleh ke sana dan hanya melihat asap abu-abu tebal menutupi mereka berdua. Namun, mereka hanya dapat berharap rencana Nio berakhir membuahkan hasil yang memuaskan.
Sosok besar raja minotaur hanya menjadi siluet dan nampak sedang kebingungan. Dia mencari sosok Nio di antara kepulan asap yang menutupi pandangan, namun yang dia lihat masih asap tebal.
Nio dapat dengan mudah menemukan raja minotaur di tengah kepulan asap, dan berdiri di dekat kaki kiri makhluk itu. Nio menyayat paha hingga betis monster tersebut puluhan kali hingga darah menyebar ke segala arah. Serangan itu sangat cepat dan raja minotaur tidak bisa menghindar dan membalasnya. Nio beralih ke sasaran selanjutnya sambil menghindari raja minotaur yang memberontak.
Pedang pendek pinjaman dari Sakuya dan karambit kembali terayun untuk merobek kulit tebal pada paha kanan raja minotaur. Seperti serangan sebelumnya, Nio dapat melakukannya tanpa perlawanan dari raja minotaur, dan dia kembali melompat ke belakang agar tidak terinjak kaki besar monster tersebut yang masih memberontak.
Nio merasa dirinya dapat bergerak lebih cepat dari biasanya.
Sayangnya, dia tidak memiliki waktu untuk menanyakan hal tersebut, dan melanjutkan rencana agar mengakhiri pertarungan ini dengan cepat. Dia bergerak lebih cepat seolah masih tenaga untuk melakukannya, lalu mengeluarkan granat tangan dari kantung rompinya setelah menyimpan kembali karambit di sarung senjata yang terpasang pada pinggul kanannya.
__ADS_1
Ditekan dengan tak terduga oleh musuhnya, raja minotaur kembali berdiri dengan tegak meski tubuh terdapat banyak sayatan. Asap yang menutupi penglihatan mulai memudar, dan membuatnya dapat melihat Nio yang berlari ke arah belakang tubuhnya.
“Aku tidak dapat melanjutkan pertarungan ini lebih lama lagi,” ucap Nio saat dia menekan pengaman pada granat. Nio segera melemparkan granat tersebut ke diantara kedua kaki raja minotaur lagi, beberapa detik setelah pengaman ditekan granat meledak dengan kekuatan besar. Karena itu adalah jenis granat yang dapat menghancurkan kendaraan lapis baja, Nio berharap dampak ledakan membunuh monster tersebut seketika.
Suara ledakan mengejutkan mereka yang masih berusaha menangani monster yang terus datang selama raja minotaur masih hidup. Pertarungan mereka berhenti sejenak, dan melihat dari kejauhan dampak yang dihasilkan ledakan tersebut. Hasil yang mereka tunggu akan terlihat setelah asap hitam tebal menghilang.
“Mustahil! Sial, dia benar-benar sangat menyebalkan!” Nio menggerutu di dalah hati.
Setelah asap hitam yang dihasilkan ledakan tadi menghilang, sosok besar raja minotaur kembali terlihat dalam kondisi baru. Sebagian besar kulit tubuh bagian bawahnya terkelupas, serta daging yang terkoyak dan mengeluarkan darah dengan aroma sangat busuk, pelindung yang dikenakan makhluk itu juga hampir hancur terkena dampak ledakan. Namun, monster tersebut masih dapat berdiri tegak dengan kedua tangan menggenggam kapak. Makhluk itu terlihat menyeringai dan mengeluarkan suara mirip tawa sebagai sinyal bahwa serangan yang dilakukan Nio tidak berguna.
“Benar-benar monster,” kata Nio.
Seketika pedang Nio melakukan kontak dengan salah satu kapak monster tersebut yang dilayangkan dari bawah, sebuah hantaman yang sangat kuat dan membuatnya kewalahan.
Lengan kanan Nio terlonjak ke atas akibat dengan kekuatan yang cukup untuk mencopot tangan bionik dari tubuhnya, atau begitulah yang dipikirkan Nio. Sungguh ajaib dia tidak melepaskan cengkramannya pada pedangnya.
Seragam kamuflase salju yang dikenakan Nio membuatnya terlihat seperti siluet putih saat dia berlari cepat memutari monster tersebut. Nio kemudian berputar seperti angin puyuh, pedangnya berkilau seolah-olah dirasuki kekuatan magis menyayat punggung minotaur cukup dalam hingga darah kembali mengalir dari tempat sayatan. Kali ini, Nio merasa dirinya dapat menyayat kulit keras pada tubuh bagian atas raja minotaur seperti mentega.
Serangan menyayat dan menebas yang sangat cepat berikutnya membuat raja minotaur tidak dapat membalas atau melindungi dirinya sendiri dari serangan Nio. Kemudian, Nio melompat lagi dan menebas leher belakang raja minotaur yang ditumbuhi bulu panjang. Sayangnya, itu hanya sedikit melukai monster tersebut tanpa memberikan dampak yang berarti.
Namun, raja minotaur tiba-tiba berlutut dengan tubuh bagian bawah mengeluarkan darah semakin banyak. Kedua tangan monster tersebut yang sebelumnya menggenggam kapak menggantung dengan lemas, dan kedua senjata kembali tergeletak ke tanah.
Monster tersebut nampak berlutut tak berdaya, kedua matanya melihat sepatu bot Nio mendekat ke arahnya dengan si pemilik sepatu bot menatap dirinya dengan tatapan dingin.
Di sisi lain, Nio merasa monster tersebut merasakan rasa sakit yang mendalam setelah menerima ledakan yang memiliki kekuatan cukup untuk merusak sebuah kendaraan taktis. Nio memuji kekuatan raja minotaur tersebut setelah dapat bertahan hingga detik ini, kemudian mengangkat kedua tangannya yang menggenggam pedang. Artinya, Nio berniat mengakhiri pertarungan ini dengan memotong kepala makhluk tersebut.
“Apa?!”
Kedua mata Nio membulat setelah melihat lesatan pedangnya yang mengarah pada sisi kiri leher monster tersebut ditahan olah tanduk kirinya. Bertekad untuk tidak kalah dengan mudah, raja minotaur berusaha berdiri lagi dengan lutut yang gemetar. Sementara itu, Nio segera melompat kebelakang sejauh tiga langkah untuk mengantisipasi serangan dari makhluk tersebut.
Nio kembali menatap raja minotaur dengan tatapan jengkel. Dia menyembunyikan perasaannya yang tidak ingin kalah dengan monster di hadapannya yang telah dalam kondisi terluka sangat parah.
“ – Hah?!” Nio sangat terkejut dengan serangan tak terduga dari raja minotaur.
Seolah ingin membalas serangan dari Nio beberapa saat sebelumnya, raja minotaur mulai melakukan tebasan vertikal dan horozontal dengan kekuatan penuhnya. Nio secara reflek mengangkat pedangnya dan mengambil pisau tarung dari kantung yang terpasang pada paha kanannya, tetapi lawannya tidak memberinya waktu untuk membalas serangannya. Jika Nio berhasil menahan satu serangan, maka raja minotaur akan memberinya lima serangan berikutnya. Makhluk itu memberi Nio serangan tanpa henti hingga penglihatan Nio hanya terpusat untuk menahan setiap tebasan kuat monster tersebut.
Raja minotaur lebih kuat dari prajurit manusia yang pernah Nio hadapi dan lebih cepat dari dugaannya. Sekarang Nio paham mengapa tidak ada Penjelajah lantai sepuluh Labirin ini yang dapat keluar.
Sesaat kemudian, dia menabrak batang pohon dengan sebuah kapak milik raja minotaur melayang untuk membelah kepalanya. Nio berhasil menghindarinya dengan berjongkok, dan membuat monster itu hanya menebas kayu. Kapak monster tersebut menancap di kayu dan berusaha untuk mencabutnya kembali. Namun, saat melakukan hal itu, dua tembakan terdengar dan menembakkan dua proyektil 7,62mm ke arah punggung monster tersebut.
Nio tahu siapa yang melakukan serangan itu, dan tersenyum ke arah Hassan yang melakukan tembakan perlindungan ketika pria itu masih sibuk membantu para gadis. Dia mengangkat jempol ‘logam’ pada tangan kanannya, dan melanjutkan pertarungan dengan monster berkepala banteng tersebut.
Rasa sakit akibat dua proyektil mengoyak dagingnya membuat raja minotaur sangat kesulitan untuk berdiri. Berulang kali monster berkepala banteng tersebut mencoba berdiri, tapi tubuhnya hanya gemetar. Sementara itu, Nio sudah berada di hadapannya sambil membawa sebuah granat dalam kondisi siap meledak beberapa detik lagi. Monster tersebut meraung sangat keras hingga liurnya menyebar ke segala arah. Ketika meraung, monster itu membuka mulutnya cukup lebar, dan Nio memanfaatkan hal itu untuk memasukkan granat ke dalam mulut monster tersebut.
Nio segera berlari menjauhi monster yang berusaha mengeluarkan granat dari dalam mulutnya. Dia memejamkan mata, lalu menyaksikan granat meledak dan menghancurkan sebagian besar tubuh bagian atas raja minotaur.
Semua orang kecuali Hassan menutup telinga mereka setelah mendengar suara ledakan kedua. Bersamaan dengan ledakan yang menyebabkan kematian instan bagi raja minotaur, seluruh monster yang mereka hadapi menyebar ke segala arah untuk menyelamatkan diri.
Pertarungannya melawan raja minotaur telah selesai, namun yang Nio pikirkan setelah ini adalah tidur dan menyembuhkan luka-lukanya. Setidaknya hanya itu yang dia inginkan saat ini, namun untuk sementara waktu Nio tidak akan melihat ranjang ruang perawatan kesehatan prajurit markas pusat yang empuk dengan ruangan yang sejuk.
Sebagai gantinya, dia mengeluarkan bungkus rokoknya, lalu mengambil satu rokok untuk dia nikmati sambil menunggu waktu untuk kembali dari Labirin. Itu adalah rokok keduanya selama satu minggu ini, namun Nio tidak peduli telah melanggar peraturan yang dia buat sendiri, yakni hanya merokok satu minggu sekali.
**
(ilustrasi raja minotaur, sumber gambar pinterest)
__ADS_1