
Ketika dia tiba di tempat latihan, Rio melihat beberapa pahlawan dan ksatria khusus Aliansi sudah di sana, mengobrol satu sama lain atau berlatih lebih awal. Rio memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan melakukan latihan sendiri, jadi dia mengangkat senapan serbu sihir miliknya.
Saat dia melakukan beberapa tembakan, dia merasakan hantaman yang mengenai punggungnya dan dia tersandung beberapa langkah ke depan. Dia berhasil untuk tidak jatuh, tetapi rasa sakit di punggung yang menjalar ke seluruh tubuh terasa setelah hantaman tersebut. Dia mengerutkan kening saat dia melihat siapa yang melakukan ini terhadapnya, dan melihat Baron dan Arunak, dan keduanya memasang ekspresi yang menjengkelkan.
Meski dia adalah ‘mantan’ prajurit pasukan khusus, Rio tetap memiliki beberapa kelemahan, termasuk tidak peka dengan serangan yang diarahkan ke bagian belakang tubuhnya. Itu sebabnya, sejak pelatihan dimulai, Baron dan Arunak mengambil beberapa kesempatan untuk menggunakan kelemahan Rio tersebut. Mereka berdua melakukan ini dengan alasan menghilangkan kelemahan Rio, dan sisanya memanfaatkan kelemahannya.
“Apa yang kau lakukan, Rio? Kau bilang dirimu adalah prajurit TNI? Ayolah, kau benar-benar tidak seperti itu.”
Baron tertawa keras, seolah-olah yang dikatakan Arunak adalah kenyataan yang lucu.
“Kurasa aku tidak keberatan untuk membantu mu, Pahlawan Amarah…”
“Sepertinya ide yang bagus… kawan, lebih baik kau berterimakasih kepada kami karena menggunakan sebagian waktu untuk membantu prajurit lemah seperti mu.”
Mereka berdua merangkul bahu Rio, dan membawanya ke tempat yang tidak mencolok. Sebagian besar orang melihatnya, tetapi mereka berpura-pura tidak melihat apapun.
“Oh, kalian tidak perlu membuang waktu untukku,” Rio mencoba menolak,meski itu hanya membuat mereka berdua kesal.
Setelah Rio mengatakan itu, dengan keras dan cepat Baron melayangkan tinjunya ke tubuh bagian sampingnya. Lalu, Rio berhasil menghalau serangan tersebut meski harus mengorbankan senapannya sebagai tameng. Baron dan Arunak terus melakukan hal yang kasar terhadapnya sejak kelemahannya diketahui. Meskipun hal itu wajar bagi remaja laki-laki dengan hormon di masa pubertas yang bergejolak, tapi itu tidak mudah bagi orang yang harus menanggung beban akibat kehilangan kewarasan pasca perang.
Meskipun tidak ada yang bisa dilakukan Rio selain bertahan, yang bisa dia lakukan hanyalah terus bertahan hingga akhir.
Akhirnya, mereka berdua berhasil membawa Rio ke sudut terpencil tempat latihan yang tidak dapat dilihat siapapun dengan mudah. Sesaat kemudian, Rio merasakan sesuatu menghantam punggungnya lagi. Arunak telah menghantamkan sarung pedangnya, dan disambut dengan serangan lain.
Baron kemudian melepaskan beberapa bola api ke Rio. Karena dampak serangan yang baru saja dia terima tidak mungkin untuk membuatnya bangkit kembali, Rio dengan samping berguling ke samping, dan nyaris tidak bisa menghindari salah satu bola api yang terbang. Namun, Arunak telah memperkirakan Rio akan menghindar, jadi dia melepaskan beberapa hujan panah es ke arahnya.
Beberapa panah es menggores pipi Rio tepat setelah dia bangun, yang membuatnya meringis kesakitan.
Sihir yang mereka berdua keluarkan adalah sihir yang aman bagi seorang pahlawan, namun sangat fatal jika mengenai manusia biasa. Alasan Rio bisa menghindari beberapa serangan adalah kemampuan prajuritnya, yang dikombinasikan dengan kemampuan pahlawan yang dia terima.
“Aku bilang sekali lagi, apa kau benar-benar seorang prajurit?” tiba-tiba Baron ada di depannya, dan dengan cepat mengarahkan sebuah tendangan ke arah perut Rio. Dia dengan putus asa mencoba menangkis tendangan dengan senapannya, sambil meninggalkan beberapa ‘granat’ di tempat Baron dan Arunak berdiri. Granat-granat tersebut sebenarnya hanya sihir api, namun memiliki dampak kerusakan hampir sama dengan granat tangan.
Setelah kedua ‘granat’ meledak, perundungan antar pahlawan yang berkedok latihan bersama berakhir. Rio menggigit bibirnya, mengutuk kelemahannya sendiri. Dia harusnya melawan, tapi ada beberapa orang yang terlalu pintar untuk memanfaatkan kelemahannya, termasuk Nio.
Dia selalu menyerah ketika terpojok ke dalam situasi yang sepertinya akan berubah menjadi pertarungan yang sangat buruk. Dan sikap itulah yang membuatnya selalu mendapatkan teguran keras dari pelatih, atau bahkan dari Nio sendiri. Beberapa orang mungkin menganggap wajar hal itu, tapi sebagai prajurit itu adalah tindakan yang memperlihatkan kelemahannya.
**
Di sebuah kastil yang khusus dihuni oleh kesembilan pahlawan…
Karena tiga dari sembilan pahlawan adalah perempuan, mereka tidur dalam satu kamar dengan ranjang terpisah. Tempat tidur mereka sama nyamannya dengan seperti yang dimiliki para bangsawan, dan beberapa hiasan kamar sebagai penambah suasana. Semua orang yang ada di kamar ini merawat senjata masing-masing dengan cermat, dan membiarkan cahaya matahari sore yang memasuki kamar dari jendela.
Indah melirik ke arah jendela, hanya untuk melihat matahari yang sebentar lagi akan terbenam sepenuhnya. Hari yang sebentar lagi malam hanya menunjukkan berapa banyak waktu yang para pahlawan habiskan untuk berlatih dan merawat senjata masing-masing.
Sebenarnya senjata-senjata milik para pahlawan tidak membutuhkan perawatan sama sekali, senjata tersebut sangat kuat dan kokoh. Karena mereka memiliki sedikit kekuatan dewa, maka mereka memiliki kemampuan untuk memperbaiki senjata masing-masing secara otomatis. Bahkan jika senar pada busur panah milik Indah putus, mata pedang milik Sakuya patah, dan tongkat milik Kalle terbelah menjadi dua, maka kekuatan mereka otomatis akan terserap ke senjata dan segera memperbaiki diri.
“Hei, bukankah yang kita lakukan seperti tokoh anime isekai?”
Indah dan Kalle langsung mengarahkan pandangan bingung mereka ke Sakuya yang berkata seperti itu. salah satu dari mereka berdua menjawab pertanyaan gadis Jepang tersebut.
“Seperti anime? Isekai? Barang apa itu?” kata Kalle dengan wajah kebingungan.
“Hah?” Indah hanya menunjukkan ekspresi bingung seperti Kalle tanpa berkata apapun.
“Ya… anime, apa kalian belum pernah melihat animasi Jepang, membaca manga atau novel ringan?”
Indah dan Kalle tampak bingung dengan perkataan Sakuya, dan Indah melompat ke pertanyaan, “ Sepertinya aku pernah mendengar yang namanya ‘novel ringan’. Setelah berita jika Pasukan Ekspedisi akan diberangkatkan ke dunia lain, para tentara kami mengantri di toko-toko buku untuk membeli novel ringan dan komik yang diimpor dari Jepang.”
“Hah?!” Sakuya hampir berteriak kaget.
Membayangkan prajurit TNI mengatri untuk membeli novel ringan dengan genre fantasi agar menambah ilmu tentang dunia fantasi mereka bisa membuat Sakuya hampir tertawa. Ternyata JSDF tidak jauh berbeda dengan TNI ketika perang dengan dunia lain, militer kedua negara tersebut sama-sama membutuhkan sesuatu yang bisa menambah ilmu mereka mengenai dunia lain. Itulah mengapa sejak perang terjadi hingga mereka dipanggil ke dunia ini, masih ada beberapa prajurit TNI dan JSDF mengatri untuk membeli manga atau novel ringan, kerena mereka telah terlanjur kecanduan.
(JSDF: Japan Self-Defense Force, atau Pasukan Bela Diri Jepang adalah angkatan bersenjata di Jepang yang didirikan setelah pendudukan Jepang oleh Amerika Serikat pasca PD II)
Namun, Kalle yang berasal dari Finlandia merasa jika yang dilakukan militer Indonesia dan Jepang untuk menambah ilmu mengenai dunia fantasi adalah hal yang cukup lucu. Karena bisa melihat kehidupan fantasi dari komik dan novel ringan Jepang, untuk apa Indonesia repot-repot menjelajahi dunia ini dan meneliti segala sesuatu yang ada?
“Lupakan itu… sekarang yang kupikirkan nasib kita sekarang yang hampir sama dengan tokoh utama di anime isekai. Kita dipanggil ke dunia ini, tapi itu bukanlah kehendak kita. Setelah itu, ada sekelompok negara yang menginginkan bantuan dari kekuatan pahlawan kita. Tapi, yang kita dapatkan setelah mengerahkan semua kemampuan kita hanyalah hinaan.”
“Benar juga, seharusnya perang selesai setelah Indonesia menguasai Tanah Suci. Tapi Aliansi justru menyulut perang yang jauh lebih besar dan menyeret kita, para pahlawan, kedalam api peperangan.”
__ADS_1
Memikirkan perkataan Sakuya dan Kalle, Indah berpikir tentang nasib orang yang beberapa petinggi Aliansi sebut dengan ‘pahlawan terdahulu’. Apakah mereka juga mendapatkan perlakuan seperti kami ketika tidak berhasil memenangkan perang? Itulah pertanyaan Indah mengenai nasib pahlawan terdahulu yang terpanggil jauh sebelum masa mereka.
Jika para pahlawan yang dipanggil pada masa perang antara Aliansi melawan Indonesia memiliki pengalaman tempur langsung, tentu saja itu bukanlah hal yang sulit untuk memberikan kemenangan kepada Aliansi. Sayangnya, pahlawan yang memiliki pengalaman tempur langsung hanyalah Pahlawan Amarah dan Pahlawan Penyesalan, yakni Rio dan Gurion yang berasal dari Israel.
Indah berkata dengan wajah murung karena teringat dengan wajah Nio setelah pertemuan pertama mereka sejak dia terpanggil sebagai pahlawan, “Aku juga merasa begitu.”
Kalle dan Sakuya mengangguk setuju.
Ketiga gadis ini merasa sangat sial telah menjadi bagian dari kelompok penggila perang yang menyebut diri mereka sebagai ‘Aliansi’. Mereka bertiga kemudian berbicara dengan topik bebas, salah satunya mengenai pria.
Sementara itu, di kamar yang dihuni para pahlawan laki-laki...
Tempat ini berada di lantai terbawah pada kastil ini, tepatnya kamar para pahlawan laki-laki berada di ruang bawah tanah. Sama seperti para pahlawan perempuan, mereka juga membersihkan senjata-senjata mereka dari debu setelah digunakan berlatih memperkuat diri.
Tapi, situasi diantara para pahlawan laki-laki tidak seperti pahlawan perempuan yang bisa tenang membahas pembicaraan yang mereka sukai. Setelah makan malam, Arunak (pahlawan yang berasal dari Thailand) menyinggung mengenai kekuatan militer Indonesia jika diadu dengan kekuatan seluruh pahlawan.
“Seperti yang kubilang sebelumnya, jika pasukan bantuan tidak datang, kita bisa mengalahkan pasukan Indonesia yang ada di dunia ini.”
“Yah… kekuatan TNI tidak sekuat yang kalian lihat… mereka hanya kuat di laut, tapi entah bagaimana di udara dan darat.” Ucapan Baron terdengar seperti mendukung pernyataan Arunak.
Theodore, yang berasal dari Amerika Serikat yang memiliki kekuatan militer besar terlihat tidak senang dengan ucapan Arunak dan Baron barusan. Namun, Baron dan Arunak mengangguk setuju seakan-akan ungkapan mereka semuanya benar.
Gurion yang sedang membersihkan bilah pedang menggunakan kain khusus yang disediakan hanya tertunduk, dan mencoba tidak terlibat dengan pembicaraan berbahaya Pahlawan Nafsu dan Pahlawan Kebencian itu.
Pahlawan Amarah, Rio, melihat magasin yang kosong, tetapi dengan sihir yang dimilikinya membuat Rio tak khawatir kehabisan amunisi. Namun, dia tetap tidak bisa mengandalkan senapan serbu sihir miliknya ketika bertempur, meski itu telah membunuh beberapa prajurit Pasukan Ekspedisi. Lalu, mengenai pembicaraan Arunak dan Baron yang menyinggung mengenai kekuatan TNI, tindakan yang dipilih Rio adalah tetap diam.
Sejak dia dan para pahlawan yang terpanggil memutuskan untuk membantu Aliansi, Rio merasa jika Indonesia telah menyatakan akan memerangi semua musuh Indonesia di dunia lain, itu termasuk para pahlawan. Itu berarti, ketiga pahlawan yang berasal dari Indonesia, yakni Indah, Rio, dan Baron telah dianggap sebagai musuh, lebih buruknya adalah pengkhianat.
Rio berharap mendapatkan kamar normal, tanpa harus berbagi satu ruangan bersama dua orang yang selalu memanfaatkan kelemahannya.
“Mungkin saja Indonesia tidak bisa bertahan satu minggu jika berperang dengan Thailand.”
Seluruh mata orang-orang yang ada di ruangan ini membulat, bukan karena apa yang dikatakan Arunak. Namun, tindakan yang dilakukan Rio-lah yang membuat mereka sangat terkejut, sampai-sampai menyiapkan serangkaian mantra jika Rio melakukan hal yang nekat terhadap Arunak.
Dengan wajah yang menahan rasa marah, Rio hampir menyayat leher Arunak dengan pisau tarungnya. Sementara itu, Arunak terlihat gemetar setelah yang dilakukan Rio atas perkataannya beberapa saat yang lalu.
“Lebih baik kau diam. Kita semua di sini adalah pahlawan, kita semua telah melepas hubungan dengan tanah air. Kita mungkin saja sudah dicap sebagai pengkhianat di negara masing-masing. Jadi, jangan bicarakan lagi semua hal tentang negara masing-masing.”
**
Setelah transaksi dengan penjual rumah selesai, dan Nio berhasil mendapatkan rumah incarannya, Nio dan Arunika berencana mengunjungi rumah baru mereka setelah berkeliling sebentar di taman ini.
Tanpa dipungut biaya untuk memasuki area ini, menjadikan Taman Pancasila sebagai alternatif tempat hiburan murah. Tempat ini menjadi pusat keramaian yang paling banyak dikunjungi oleh anak muda yang sedang kencan atau keluarga yang menghabiskan malam di akhir pekan. Beberapa orang yang datang dari luar Kota Karanganyar terlihat berfoto di depan patung Soekarno-Hatta dan patung burung garuda, yang terlihat indah ketika terkena sorot lampu. Di beberapa area, terdapat permainan anak-anak yang disewakan, dan itu membuat Arunika teringat dengan masa kecil Nio.
Pemuda di sampingnya kini sangat jauh berbeda ketika masih kecil, Arunika menganggap jika Nio sekarang jauh lebih bisa diandalkan daripada sebelum menjadi prajurit.
Pada saat malam, akan semakin banyak anak-anak muda yang sedang nongkrong, kencan, atau sekedar membeli jajanan yang dijual di pinggir jalan, salah satu pelaku anak muda yang sedang berkencan yaitu Nio dan Arunika sendiri.
Nio hanya berjalan di belakang Arunika, yang seharusnya merasa senang dengan kencan pertama mereka. Karena mereka berdua sering mengunjungi tempat ini, baik ketika pulang sekolah atau liburan, jadi menurut Nio tempat ini masih terlihat sama saja. Meski dia berpikir seperti itu, ada beberapa perubahan kecil di sekitar taman, termasuk pengerjaan perbaikan trotoar di sekitar taman.
Nio melihat kakaknya, alias pacarnya yang sesekali melirik dirinya yang berjalan di belakang gadis tersebut. Tapi, Nio menganggap jika Arunika melakukan itu untuk memastikan jika dia masih ada di belakangnya, dan tidak salah orang.
Arunika adalah perempuan yang cantik, dan termasuk ke dalam tipe perempuan yang dia sukai. Arunika relatif sedikit tinggi, tapi jauh lebih pendek dari Nio, tingginya sekitar 160 centimeter.
Ketika berjalan di area yang terdapat banyak laki-laki, Nio mempercepat langkahnya hingga berada di samping Arunika. Beberapa laki-laki yang terlihat masih remaja terdengar mengeluarkan kata-kata godaan terhadap Arunika. Nio melihat diantara laki-laki tersebut, terdapat beberapa perempuan remaja yang merokok. Itu membuat Nio miris, sekaligus lega karena tidak hanya dia anak muda yang merokok.
(olog note: anjir juga sih si Nio…)
Tempat yang terdapat cukup banyak remaja laki-laki bersama perempuan mereka terasa cukup sepi dan gelap, jadi mereka terlihat tenang ketika melakukan berbagai hal selama tidak ada Satpol PP yang melakukan razia di taman ini.
“Ayo balik.”
“Ke rumah baru kan?”
Arunika hanya mengangguk, dan menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan Nio. Mereka berdua tetap berjalan ke mobil yang disewa Nio terparkir, namun Nio menahan rasa penasarannya dengan kakak, alias pacarnya yang menundukkan kepalanya, dan seperti menghindari kontak mata dengannya
Ketika berjalan menuju mobil mereka terparkir, Nio berhenti di depan salah satu tiang listrik yang berdiri di sisi trotoar. Nio memandang salah satu brosur yang ditempelkan di situ, dan berisi sebuah lowongan pekerjaan dari sebuah perusahaan. Arunika yang melihat Nio berdiri diam di depan tiang listrik kemudian mendekatinya karena khawatir.
Nio membaca nama perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan, namun nama perusahaan tersebut hanya membuat Nio sedih. Kemudian, Arunika juga bereaksi sama dengan Nio setelah membaca bagian nama perusahaan. Itu adalah perusahaan yang sama dengan tempat orang tua mereka meninggal karena kecelakaan kerja, bahkan posisi yang dicantumkan pada lowongan pekerjaan sama dengan orang tua mereka ketika bekerja.
__ADS_1
Perusahaan tersebut sempat mengalami penurunan tenaga kerja akibat peristiwa kecelakaan kerja yang menimpa orang tua mereka berdua. Tapi, siapa sangka jika perusahaan itu dengan cepat bangkit, dan memulai kembali menjadi perusahaan tekstil besar di Indonesia.
“Ayo, aku jadi tidak sabar melihat rumah yang dibeli pacarku.”
Arunika mengatakan itu dengan wajah memerah, dengan tujuan mengusir rasa sedih di hati mereka berdua. Sementara itu, Nio sedikit terkejut setelah Arunika berkata seperti itu, tapi dia yang sekarang adalah pacar Arunika adalah fakta.
“Sabar sedikit lah…”
**
Di salah satu tempat di ruang berkumpul hotel tempat Nio tinggal untuk sementara.
Beberapa orang yang ada di tempat ini mengarahkan pandangan bingung mereka ke enam gadis yang melirik tajam seorang gadis yang mereka temukan dari dalam kamar Nio. Tapi, gadis itu seperti tidak terganggu sedikitpun dengan lirikan tajam Sigiz dan Zariv padanya, dan tetap meminum es teh yang dipesankan Lisa untuknya.
Sementara itu, ada beberapa laki-laki yang mengarahkan lirikan cabul mereka ke arah gadis itu. Pakaian terbuka yang dikenakan gadis itu adalah masalah yang sangat besar, jadi tidak salah jika keenam gadis mencurigainya berada di kamar Nio.
Edera dan Sheyn sama sekali tidak mengenal gadis di depan mereka, bahkan belum pernah melihatnya. Lux juga sama dengan mereka, namun dia tetap memasang ekspresi tenang meski hatinya sangat ingin tahu hubungan gadis ini dengan Nio, karena mereka berenam menemukannya di di dalam kamar yang dihuni Nio.
Gadis itu memiliki fisik seperti tipe perempuan idaman Nio, dan terlihat seperti campuran orang Asia Timur dengan orang Barat. Tapi, gadis itu dengan Sigiz memiliki sebuah kesamaan, yakni terletak pada ukuran dada mereka yang tidak masuk akal bagi orang Indonesia.
Keberadaan gadis itu di kamar Nio patut dipertanyakan, karena sama sekali tidak ada orang yang tahu pergerakan gadis itu di hotel ini. Bahkan rekaman di kamera pengawas tidak menunjukkan pergerakan gadis itu, dan hanya terlihat aktivitas biasa para penghuni hotel.
Pengawal yang dibawa Sigiz juga tidak bisa disalahkan atas lolosnya gadis ini hingga dia bisa berada di dalam kamar Nio dengan mengenakan pakaian terbukanya. Menurut Sigiz, gadis ini bisa menggunakan teleportasi sederhana, atau membuka Gerbang tak sempurna untuk dirinya sendiri. Itu adalah kemungkinan yang masuk akal, dibanding memanjat dari lantai dasar hingga lantai empat.
Lalu, terbang adalah hal yang mudah bagi seorang penyihir, tapi energi sihir yang sama sekali tidak ada di Indonesia membuatnya hampir mustahil untuk dilakukan. Kecuali penyihir itu memiliki sepasang sayap.
“Apa kau memiliki sayap, dan terbang ke kamar Tuan Nio, lalu masuk ke dalam melalui jendela?”
Sigiz bertanya seperti itu dengan nada seperti seorang interogator, tapi wajahnya tetap menunjukkan kecurigaan yang besar terhadap gadis yang dia tanyai.
Setelah meminum es teh dari sedotan dan meletakkan kembali gelasnya di meja, gadis itu menjawab, “Benar, aku memiliki sayap, tapi aku menggunakan teleportasi untuk masuk ke kamar tuanku.”
Lisa yang tidak mengerti apa yang gadis itu katakan hanya bisa diam dan mengunyah es batu. Sementara itu, setelah gadis tersebut menjawab pertanyaan Sigiz, kelima gadis duduk mematung seakan-akan baru saja menginjak ranjau darat.
“Kau bilang dia tuanmu?!”
Suara Lux yang tiba-tiba sangat tinggi membuat seluruh orang di tempat ini menoleh ke arahnya, bahkan beberapa petugas keamanan hampir menelpon polisi. Lisa tentu saja juga terkejut dengan Lux yang tiba-tiba saja berteriak, dan membuatnya semakin penasaran dengan apa yang dikatakan gadis tersebut hingga membuat gadis-gadis dunia lain mematung.
Lisa mencoba bertanya pada Sigiz, tapi dia diminta untuk tidak terkejut jika sangat ingin tahu apa yang dikatakan gadis tersebut.
“Ratu Sigiz, jadi apa yang dia katakan?” Lisa semakin memaksa Sigiz untuk mengatakan hal sebenarnya.
“Dia bilang kalau Nio adalah tuannya.”
“Tuan, apa masih ada hubungan tuan dengan pelayannya di jaman sekarang?”
Reaksi yang diberikan Lisa sama sekali tidak diharapkan Sigiz, gadis itu justru masih bertanya-tanya dengan maksud perkataan Sigiz dan mengomel sendiri.
Lalu, penghuni hotel sebelah, yakni Herlina dan Dina datang dengan tujuan menemui Nio dan memberikan beberapa hadiah. Mereka berdua merubah tujuan setelah melihat keberadaan Lisa dan gadis-gadis dunia lain.
“Kenapa mereka?” Dina bertanya-tanya dengan Edera dan Sheyn yang duduk mematung dengan tatapan kosong, dan Lisa mengomel sendiri dengan topik yang tidak jelas.
Gadis tersebut kemudian menoleh ke arah Herlina dan Dina, kemudian tersenyum ke arah mereka seperti saat bertemu dengan keenam gadis yang menemukannya di kamar Nio.
Setelah melihat wajah cantik gadis yang tersenyum ke arahnya dan Dina, Herlina seperti tahu apa yang menyebabkan keenam gadis itu sampai seperti ini.
“Apa dia salah satu gadis Nio?”
Pertanyaan itu datang dari Dina, dan dia terlihat lemas setelah melihat kecantikan sempurna dari gadis itu yang bisa menyaingi Maudy Ayunda, Raisa, bahkan Sigiz.
“Semoga saja tidak,” itu adalah jawaban yang diberikan Herlina atas pertanyaan Dina sebelumnya.
“Salam kenal, saya Hevaz, pelayan pribadi tuan saya yang kalian panggil dengan Nio. Jadi, saya adalah pelayan pribadi Tuan Nio.”
“Dia bisa ngomong bahasa Indonesia~~~!!!”
Sementara itu, Edera semakin pucat dan bergumam, “Kukira hanya aku saja yang menjadi pelayan pribadi Tuan Nio…”
**
__ADS_1
(ilustrasi Hevaz, sumber gambar pinterest)