
Di sisi selatan dan barat benteng, kembali mucul dua Gerbang tak sempurna saat pertempuran antara Pasukan Aliansi melawan pasukan bantuan belum selesai. Ada ribuan prajurit manusia dan monster Aliansi yang mencoba melarikan diri melalui jalur selatan dan barat. Munculnya kedua Gerbang tak sempurna membuat pelarian prajurit Aliansi terhenti.
Untuk sesaat, kedua Gerbang tak sempurna tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Hanya angin sore yang sejuk dirasakan para prajurit Aliansi. Beberapa dari mereka melanjutkan pelarian tanpa peduli dengan kedua Gerbang tak sempurna tersebut.
Ribuan prajurit Aliansi yang berhenti bergerak mendekati Gerbang tak sempurna, dan berharap itu adalah jalan keluar bagi mereka dari medan perang mengerikan yang diciptakan pasukan bantuan. Lalu, sesuatu yang besar seperti bergerak dengan cepat ketika prajurit Aliansi mencoba memasuki Gerbang tak sempurna itu.
Lagi-lagi mereka berharap jika yang keluar dari dalam Gerbang tak sempurna adalah pasukan bantuan untuk mereka.
Dari Gerbang tak sempurna yang terbuka di sisi selatan benteng, keluar lusinan pasukan kavaleri berat Kerajaan Arevelk. Prajurit Aliansi yang berada di depan Gerbang terkejut, dan tertusuk tombak 6 meter prajurit pasukan kaveleri Arevelk. Semakin lama, pasukan kavaleri Arevelk yang keluar semakin banyak, dan diperkirakan hingga berjumlah puluhan ribu.
Beberapa prajurit membawa bendera perang Kerajaan, yang mayoritas berwarna biru terang.
“I-itu bendera Kerajaan Arevelk!”
Seluruh prajurit Aliansi terkejut, dan pasrah ketika ratusan ribu prajurit Arevelk bergerak dengan cepat ke arah mereka.
Di depan pasukan kaveleri, selain segerombolan prajurit Aliansi yang mencoba melarikan diri dari pertarungan, warna merah menyala yang berasal dari matahari yang sebentar lagi tenggelam menghiasi medan perang Tanah Suci. Puluhan capung besi yang masih mengepung prajurit musuh menambah kesan kengerian perang.
Meski masih berada cukup jauh dari area pertempuran, Sigiz bisa mendengar suara ledakan dan raungan orang-orang yang terbunuh di medan perang. Dia tidak memiliki perintah khusus terhadap pasukannya, hanya perintah untuk menghadapi pertarungan dengan berani yang Sigiz berikan pada seluruh prajuritnya.
Bendera perang Kerajaan Arevelk melambai seiring laju cepat pembawanya yang menunggangi kuda. Di bawah langit sore yang cerah, 80.000 kavaleri Arevelk maju dan menghantam musuh yang berusaha melarikan diri.
Komandan tertinggi pasukan ini, Sigiz, menggenggam erat tombaknya yang sudah bercahaya merah darah.
“Teriakkan nama agung Arevelk pada musuh-musuh kita!!!”
Seluruh kavaleri meneriakkan nama Kerajaan Arevelk dengan penuh semangat, diiringi hujan panah dari infanteri di belakang. Sigiz mencengkram kuat tombak miliknya, dan mengarahkan mata tombak ke atas hingga cahaya merah darah menyala lebih terang. Sihir khusus ini Sigiz sebut sebagai ‘Sihir Artileri’, dan hanya penyihir dan pasukan elit Arevelk saja yang bisa melakukannya. Karena serangan ini membutuhkan tubuh dengan kapasitas energi sihir yang cukup besar.
Apa yang dilakukan itu membuat pasukan elit Sigiz melakukan hal yang sama, yakni mengangkat tombak dan mengarahkannya ke barisan musuh hingga mata tombak mereka menyala berbagai warna tergantung kekuatan sihir yang dimiliki. Energi sihir yang sangat besar di Tanah Suci membuat beberapa prajurit pasukan elit Sigiz secara otomatis memiki energi sihir yang besar.
Sambil terus melaju, kavaleri ada di depan menghantam barisan musuh dengan kuda dan tombak panjang mereka, sementara yang lain melawan dengan perisai dan mencegah serangan musuh di saat pasukan elit Sigiz siap melakukan serangan. Infanteri yang di belakang kavaleri juga terus bergerak, dan menghujani musuh dengan lusinan musuh tanpa ampun.
Ketika Sigiz dan pasukan elitnya hampir selesai melakukan persiapan untuk melakukan serangan Sihir Artileri, pasukan kavalerinya yang berjuang di depan dengan sangat berani menarik perhatian Sigiz.
“Seharusnya mereka tidak berjuang terlalu keras, atau mereka akan menghabisi terlebih dulu musuh sebelum Sihir Artileri kami lepaskan!”
“Benar! Yang Mulia, kami sudah selesai melakukan persiapan!”
Barisan musuh juga sudah mulai kacau ketika kavaleri sedang bertarung disertai hujan panah dari infanteri. Musuh yang kewalahan hanya pasrah dengan serangan pasukan Arevelk. Perisai mereka terbelah oleh pedang prajurit kavaleri Arevelk, dan para prajurit terpental ketika kuda-kuda menghantam mereka.
Seluruh prajurit elit Sigiz telah selesai melakukan perisapan Sihir Artileri. Tombak mereka mulai menyala dengan berbagai warna, tergantung elemen alam yang mereka kuasai.
Sigiz kemudian memerintahkan seluruh prajurit elitnya untuk melepaskan Sihir Artileri. Seluruh prajurit elit melaksanakan perintah, dan lesatan cahaya ditembakkan dari masing-masing tombak khusus masing-masing prajurit elit.
Lesatan cahaya terbang dengan jalur lintasan berbentuk parabola, dan melesat dengan kecepatan sama dengan peluru senapan serbu, namun dengan kekuatan jauh lebih kuat. Setelah melakukan serangan tersebut, Sigiz berteriak untuk memerintahkan seluruh prajurit melakukan serangan terhadap musuh di depan mereka.
Ketika lesatan cahaya menghantam barisan prajurit Aliansi, serangan tersebut ternyata meledak dengan daya ledak setara sebuah mortir. Serangan yang sama kuatnya dengan misil TNI mengakibatkan kekacauan yang sama dengan yang dilakukan pasukan bantuan. Dalam sekejap, setiap ledakan menciptakan kawah sedalam 10-20 centimeter, dan membunuh ratusan prajurit manusia dan monster Aliansi.
Sebaliknya, ratusan ribu prajurit Arevelk maju dengan berani dan kekuatan yang besar. Prajurit Aliansi yang hampir memusnahkan Pasukan Ekspedisi tidak berdaya dengan perlawanan kavaleri berat dan infanteri Kerajaan Arevelk. Formasi asal-asalan yang dibentuk prajurit Aliansi dengan mudahnya dihancurkan oleh pasukan kavaleri Arevelk sekali hantam.
Ivy yang berjuang bersama Ilhiya di pasukan infanteri terus berjuang dengan kemampuan sihir mereka. Dengan bertarung di Tanah Suci, mereka berdua dan para penyihir tidak perlu takut kehabisan energi sihir. Memang, kehabisan energi sihir merupakan hal yang fatal bagi seorang penyihir.
Dalam kebingungan, prajurit Aliansi yang sebelumnya berencana melarikan diri dari medan pertempuran, menyebar seperti ayam yang akan ditangkap untuk disembelih. Namun, kaveleri yang memburu mereka dengan mudah memenggal kepala prajurit Aliansi yang berusaha melarikan diri, baik itu prajurit manusia dan monster.
Beberapa dari prajurit Aliansi mungkin berhasil mundur, namun mereka seketika panik ketika menyadari bahwa mereka berada di dekat Gerbang tak sempurna di sisi timur benteng yang belum mengeluarkan apapun dari dalamnya. Memang dikhawatirkan jika Gerbang tersebut akan mengeluarkan ribuan prajurit, namun mereka tidak memiliki jalan mundur. Hampir seluruh wilayah Tanah Suci berada di jangkauan tembak pasukan bantuan.
Tak ketinggalan Sigiz terus memberikan perintah seluruh prajurit yang bisa mendengar omelannya untuk terus bertarung dengan berani. Para jendral hanya bisa menyampaikan apa yang diteriakkan Sigiz kepada bawahan mereka.
Sementara itu, Ivy yang sedang berjuang bersama penyihir Kerajaan lainnya hanya bisa terus bertarung sambil memikirkan keadaan Liben. Dia tidak akan memaafkan pemuda tersebut mati, sementara kemenangan akan segera diraih. Dia juga tidak akan memaafkan Nio, karena tidak menjaga kekasihnya tersebut dengan benar. Dia akan menuduh Nio sebagai komandan yang tidak becus menjaga bawahannya jika Liben berada dalam kondisi yang buruk di perang ini.
Dia terus membakar musuh dengan sihir apinya, dan mengutuk musuh-musuhnya yang hampir mengalahkan Pasukan Ekspedisi, dan mungkin menyebabkan Liben terluka.
Salah satu perwira penyihir Arevelk, Ilhiya belum pernah melihat Ivy berjuang dengan keras. Tapi setelah menjalin hubungan dengan salah satu prajurit Indonesia, dia mulai melihat perubahan dalam segala pada Ivy, termasuk kekuatan gadis tersebut yang berkembang pesat.
Infanteri tidak akan berhenti menghujani Pasukan Aliansi dengan panah-panah mereka, sebelum panah pada masing-masing prajurit benar-benar habis. Medan perang baru yang diciptakan pasukan Arevelk membuat musuh dibungkus dalam kekacauan. Jalur pelarian prajurit Aliansi sudah benar-benar terutup dari segala arah.
Kavaleri dan barisan prajurit monster Aliansi bertabrakan, dan teriakan monster yang ditusuk dengan tombak panjang maupun terinjak-injak oleh kaki kuda memenuhi udara. Kegilaan perang hanya bertambah setelah kedatangah pasukan bantuan yang pertama. Bahkan meski jumlah pasukan bantuan masih kalah banyak dengan Pasukan Aliansi, pergerakan mereka benar-benar telah dibatasi oleh pasukan bantuan.
Burung-burung yang terbang di atas medan perang, terbang dengan ketakutan karena suara medan perang, dan bergerak menjauhi medan perang besar di bawah mereka.
Satu demi satu prajurit Aliansi yang memutusakan berhadapan dengan pasukan Kerajaan Arevelk hanya bisa menjumpai kematian, dan sebagian lagi memilih untuk mencari jalur pelarian lain.
Tubuh manusia dan monster saling bertumpuk, dan dataran Tanah Suci yang gersang berlumuran darah. Jeritan menyakitkan terdengar, dan berasal dari prajurit manusia dan monster Aliansi yang menemui kematian mereka.
Di lain sisi, setiap musuh yang berhadapan dengan Sigiz, baik itu prajurit manusia maupun monster, tidak akan bisa bertahan selama 10 detik pertarungan. Itu memang sebagian besar disebabkan oleh kekuatan sihir besar yang dimiliki Sigiz, tapi kemampuannya dalam menggunakan tombaknya juga tidak bisa dipandang sebelah mata.
Ketika berhasil membuka jalan, pasukan Kerajaan Arevelk melewati prajurit Aliansi yang sudah menyerah.
Yah… dengan pasukan bantuan yang semakin besar, membuat prajurit Aliansi tidak memiliki semangat untuk menyelesaikan pertempuran. Yang bisa mereka lakukan hanyalah membiarkan lusinan prajurit Kerajaan Arevelk masuk ke dalam area benteng, dan bergabung dengan pertempuran bersama pasukan bantuan asal Indonesia dan sekutunya.
__ADS_1
“Tuan Nio, kau harus bertahan. Jika kau berhasil bertahan hidup, hadiah dariku sudah menantimu…”
Sigiz mengatakan hal itu sambil tersenyum, dan membuat prajurit-prajuritnya merinding. Sigiz dan pasukannya terus merangsek masuk, melawan setiap musuh yang menghalangi jalan mereka.
**
Di salah satu Gerbang tak sempurna, lusinan prajurit kembali keluar dengan deras seperti yang terjadi pada Gerbang yang satunya. Prajurit Aliansi yang mengira jika Gerbang tersebut jalur keluar mereka dari medan perang ini, akhirnya harus putus asa dan pasrah dengan apa yang terjadi ketika lusinan prajurit tersebut mendekati mereka.
Wajah para prajurit Aliansi menjadi sangat pucat, ketika yang memimpin pasukan yang keluar dari Gerbang tak sempurna itu adalah Sheyn, dan pasukan Barisan para Mawarnya. Sebagian prajurit Aliansi adalah tentara Kekaisaran, yang sangat tahu kekuatan Sheyn dan prajurit elitnya. Satu orang prajurit perempuan Barisan para Mawar memiliki kekuatan setara 10 prajurit pria pasukan reguler.
Itu mengapa saat Sheyn yang bergerak cepat dengan kudanya mampu membuat prajurit Aliansi gentar, dan menjatuhkan pedang mereka lalu mengangkat tangan sebagai tanda menyerah.
Sheyn dan pasukannya yang berjumlah 80.000 tentara akan membalas perbuatan Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi. Mereka akan segera bergabung dengan pertarungan bersama pasukan Kerajaan Arevelk.
Pasukan bantuan yang didapatkan Pasukan Ekspedisi benar-benar menjadi kekuatan yang sangat besar. Bersama panglima setianya, Ragh, Sheyn memimpin pasukannya untuk menghadapi pasukan besar Aliansi.
Senjata reguler bagi prajurit Barisan para Mawar adalah pedang dan tombak, dengan senjata tambahan berupa dua buah belati untuk pertempuran jarak dekat. Tak sedikit pula prajurit Barisan para Mawar memiliki kemampuan memanah yang sangat baik, dan menjadi penembak jitu pasukan. Namun, ada yang berbeda dengan senjata yang dibawa 900 prajurit Barisan para Mawar, dan adanya Kambana di pasukan tersebut.
Kambana memacu kudanya semakin cepat, dan akhirnya menyusul Sheyn yang mengenakan pakaian tempur lengkap dari ujung kepala hingga kaki.
“Kakak! Kita berhenti sekarang saja! Pasukan penembak sudah berada dalam jarak efektif menembak!”
Sheyn kemudian menghentikan kudanya, diikuti seluruh pasukan di belakangnya. Pastinya Sheyn yang berhenti mendadak membuat para prajurit bertanya-tanya, termasuk prajurit Barisan para Mawar.
Dia kemudian menatap ke depan, di mana terdapat ribuan prajurit manusia dan monster Aliansi yang bergerak ke arah pasukannya.
Tapi, inilah saatnya menggunakan senjata terbaru milik Negara Yekirnovo. Senjata yang dirancang sejak lama oleh Kambana, dan akan di uji dengan objek uji berupa prajurit Aliansi.
Sheyn kemudian membuat serangkaian kode tangan, dan seketika seluruh prajurit Barisan para Mawar turun dari tunggangan masing-masing. Terlihat, setiap prajurit perempuan dari pasukan ini membawa masing-masing dua buah tongkat. Dimana tongkat tersebutlah senjata terbaru milik pasukan Yekirnovo. Tapi, senjata tersebut belum tersebar luas bagi seluruh prajurit Yekirnovo. Untuk saat ini, senjata baru tersebut hanya digunakan pada satuan elit, seperti Barisan para Mawar.
Setelah turun dari kuda, seluruh prajurit yang membawa senjata baru tersebut berlutut, dan berbaris sesuai tempat masing-masing. Setiap barisan berisi 300 prajurit, artinya ada tiga barisan prajurit Barisan para Mawar yang berlutut.
Lalu, pasukan yang berada barisan paling belakang yang disebut dengan ‘juru isi’, yakni barisan ketiga menurunkan sebuah kotak yang cukup besar, dan berisi bubuk mesiu yang sering digunakan pada meriam. Aroma khas bubuk mesiu menyebar setelah prajurit membuka kotak dan mengeluarkan beberapa.
Juru isi kemudian memasukkan bubuk mesiu dari lubang ujung moncong laras. Tapi proses ini ternyata cukup memakan waktu lama, dan prajurit Aliansi masih bergerak ke arah mereka. Tapi, juru isi yang bertugas mengisi bubuk mesiu tetap sabar melakukan tugasnya hingga selesai.
Selesai memasukkan bubuk mesiu, juru isi kemudian memadatkan bubuk mesiu dengan tongkat kecil khusus. Selesai dengan pekerjaan tersebut, juru isi memasukkan bola logam kecil yang berukuran pas dengan laras senapan. Selesai melakukan pengisian, juru isi menyalakan tali sumbu dengan api kecil dari obor.
Selesai melakukan pengisian, juru isi kemudian memberikan tongkat panjang yang ternyata sejenis senapan ke pada prajurit di baris kedua dan ketiga yang disebut dengan ‘juru tembak’, Sheyn juga menerima senjata ini. Senjata ini tidak sepenuhnya berbentuk tongkat lurus, karena bagian ujung atau popor dibuat sedikit melengkung.
Juru tembak membidik barisan musuh di depan mereka, hingga mencapai jarak efektif tembak senjata. Dengan sabar Sheyn menunggu hingga musuh berada dalam jarak efektif menembak, tapi dia tidak sabar untuk melihat efek yang ditimbulkan senjata rancangan adiknya itu.
Pelatuk yang menyatu dengan picu yang berbentuk melengkung seperti ular, mengenai sumbu yang berfungsi sebagai pemantik, dan membakar bubuk mesiu di dalamnya. Bubuk mesiu yang terbakar lalu meledak, dan menekan bola logam kecil seukuran kelereng dan melesat dengan kecepatan tinggi.
Hentakan atau rekoil yang dihasilkan senjata yang di Indonesia disebut dengan ‘senapan sundut’ lebih besar dari yang dihasilkan senapan serbu milik Pasukan Ekspedisi. Itulah kekurangan dari senjata ini, tapi peluru yang melesat cepat memiliki dampak kerusakan yang hampir sama dengan peluru senapan serbu, meski jauh lebih lemah dari peluru 7,62mm.
Tapi, peluru rentetan peluru yang ditembakkan dari senapan sundut juru tembak pasukan Barisan para Mawar mampu menembus zirah logam prajurit Aliansi, dan menembus ke tubuh mereka. Tapi, beda cerita dengan peluru yang mengenai tubuh monster yang tidak dilindungi semacam zirah logam. Tubuh para monster langsung berlubang setelah peluru mengenai bagian tubuh mereka.
Serangan tak terduga dari pasukan Yekirnovo membuat prajurit Aliansi yang melihat dampak serangan mereka gelisah. Perisai kuat mereka bahkan tak mampu menahan lesatan bola logam yang ditembakkan dari senapan sundut juru tembak Barisan para Mawar.
Sheyn juga tak percaya dengan senjata rancangan Kambana, yang menurutnya mungkin bisa menandingi senapan serbu milik pasukan Indonesia. Meski dia memiliki pemikiran seperti itu, dia masih menganggap jika Indonesia dan sekutunya masih memiliki senjata rahasia yang jauh lebih kuat dari senapan serbu.
(olog note: ya iyalah, gak mungkin kan TNI cuma punya senapan serbu doang?…:v)
Pasukan Aliansi penuh dengan prajurit yang terlalu membanggakan jumlah besar mereka. Tapi pada akhirnya mereka kalah dengan senapan sundut milik pasukan Yekirnovo.
Setelah selesai menerima senapan yang baru diisi oleh juru isi, juru tembak terus menembakkan bola logam ke arah prajurit Aliansi yang sudah berantakan hingga peluru terakhir.
Di tengah kebisingan suara ledakan dari senapan sundut, Sheyn ingin segera menyelesaikan pertempuran di sini dan masuk ke dalam benteng untuk menyelamatkan Nio.
Hingga tiba saatnya tembakkan terakhir sudah dilakukan para juru tembak, dan peluru habis. Pasukan penembak menyimpan lagi senapan sundut, dan bersiap melakukan pertempuran sesungguhnya. Mereka masih belum terbiasa melakukan pertarungan jarak jauh, seperti yang dilakukan pasukan Indonesia.
Terompet tanda pertempuran dibunyikan, dan kavaleri bergerak dengan tombak yang diarahkan ke depan. Pasukan infanteri merapatkan barisan dan perisai, sehingga tercipta tembok berjalan yang kokoh dan bisa melindungi rekan-rekan mereka.
Berbaris dengan rapat dan para prajurit melakukan kerja sama untuk menghabisi lawan mereka, itu adalah salah satu taktik perang yang paling sering digunakan. Yang paling menakutkan dari taktik ini adalah sulitnya melarikan diri dari kerja sama serangan dari para prajurit. Meski memiliki tombak panjang, para prajurit akan bekerja sama untuk menghabisi lawan mereka.
“Kambana, kau boleh mundur. Terimakasih sudah menciptakan senjata itu…”
Kambana menerima perintah kakaknya, lalu menaiki lagi kudanya lalu melaju mundur dengan cepat. Dia berharap banyak pada pasukan yang dipimpin kakaknya, dan meraih kemenangan di perang ini.
Sheyn menelan ludahnya dengan wajah tegang, sementara Ragh yang melaju di sampingnya berbicara dengan pelan sehingga hanya mereka berdua yang bisa mendengar.
“Apakah seorang ksatria perempuan terkuat gugup dengan perang kecil ini?”
Memang benar Sheyn yang sewaktu masih berpihak pada Kekaisaran Luan adalah ksatria perempuan terkuat di negara tersebut. Juga, memang benar Sheyn gugup dengan jumlah besar pasukan musuh di depannya. Tapi, kegugupan itu dengan cepat tergantikan dengan keberanian yang mengalir deras di dalam tubuhnya. Entah cara apa yang digunakan Sheyn hingga dia bisa mendapatkan keberanian dengan tiba-tiba.
“Sekarang aku tidak gugup lagi, Panglima Ragh. Aku tidak ingin kalah dengan Kerajaan Arevelk dan bantuan yang diberikan Negara Indonesia.”
Sheyn menghunus pedang panjangnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Angin lembut sore hari ini membelai Sheyn dan pasukannya, seolah mendorong para pejuang untuk bertempur dengan berani.
__ADS_1
“Karena anda akan segera menyelamatkan Tuan Nio, bukan!?”
“Apa kamu sudah tidak mengingat kejadian saat dia menghajarmu sampai sekarat, Panglima Ragh?”
Begitu mereka selesai bercanda, senyuman Sheyn digantikan dengan wajah serius untuk menghadapi pertarungan, dan dia menebas leher monster begitu dia mengayunkan pedangnya.
30.000 kavaleri pasukan Yekirnovo berlari melintasi tanah setelah para prajurit meneriakkan semangat berperang. Di belakang kavaleri, infanteri melepaskan lusinan panah yang tak terhitug banyaknya. Pemanah Aliansi sepertinya juga tak mau kalah, tapi jumlah panah yang mereka lepaskan tidak sebanding dengan hujan panah ciptaan infanteri Yekirnovo.
Ksatria sihir Negara Yekirnovo melepaskan sihir angin untuk menangkis hujan panah ciptaan prajurit Aliansi. Angin yang berhembus kuat membuat semua anak panah jatuh ke tanah. Hal itu membuat prajurit Aliansi sangat kesal, karena tak ada satupun penyihir yang di bawa mereka ketika melakukan penyerangan.
Sheyn dengan cepat menebaskan pedangnya, dan menyayat puluhan tubuh monster dan membuat mereka jatuh tak bergerak.
Dua orang prajurit Aliansi kemudian mengarahkan tombak mereka ke arah tubuh Sheyn, tapi kuda gadis tersebut dengan terampil menghindari serangan tersebut, dan dengan dua kilatan pedang cepat, darah mengalir dari leher kedua prajurit itu.
Karena tak nyaman, Sheyn kemudian melepaskan helm logamnya, dan memperlihatkan rambut hitam yang melambai tertiup angin dan bekas luka di wajahnya. Setiap kali pedangnya terayun, air mancur darah segar dia ciptakan dari leher musuh-musuhnya.
**
Seperti terdorong oleh amarah, Nio melawan setiap musuh yang berhadapan dengannya. Tidak peduli musuhnya seorang prajurit manusia atau monster, semuanya Nio hadapi bersama prajurit Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela.
“Lupakan saja rasa lelah dan sakitmu, anakku. Hancurkan semua musuh di depanmu, renggut nyawanya!”
Suara itu... sudah jelas suara yang selalu terlintas di kepala Nio adalah milik ayahnya, yang sudah meninggal 10 tahun yang lalu.
Terdorong oleh suara ayahnya tadi, Nio menghempaskan lawannya dengan sekopnya, dan mengumpati setiap musuh yang dia lawan.
Memukul musuhnya dengan sekop, menurut Nio itu adalah hal yang menyenangkan. Seketika, rasa sakit di tubuhnya hilang, dan tergantikan dengan hormon adernalin yang semakin terpacu dan membuatnya semakin kuat. Musuh yang berhadapan dengan Nio melihat jika pemuda itu tidak terhentikan, dan memutuskan untuk mengangkat tangan.
Geraman dan teriakan yang dilakukan Nio hanya membuat teman-temannya dipenuhi oleh semangat juang juga. Tidak peduli mereka berada di tengah pembantaian, seluruh prajurit Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela terus melawan ditengah pembantaian yang dilakukan helikopter serang dan korps lapis baja.
Teriakan amarah yang murni akan semangat juang seolah-olah membuat mereka mendapatkan kekuatan tambahan dari teriakan itu. Tapi, teriakan mereka justru membuat moral musuh merosot, hingga berada di tingkat putus asa.
Nio memanfaatkan suara ayahnya yang terlintas di pikirannya sebagai bahan bakar untuk berjuang, dan terus memperlihatkan cara bertarungnya pada musuh-musuhnya.
Ketika pertama kali memutuskan menjadi seorang prajurit Tentara Pelajar, Nio selalu berpikir jika perang itu selalu dipenuhi dengan hal yang berbau pembunuhan dan saling menghabisi. Tapi, medan perang tempat Nio berada sekarang membuat Nio mengerti arti berjuang bersama teman yang sesungguhnya.
Rasa ingin membalaskan dendam kawan yang dibunuh musuh, membuat Nio tahu apa penderitaan seorang prajurit selain pengkhianatan teman. Dia selalu dihantui tentang bagaimana cara membalaskan dendam Chandra dan anggota Regu penjelajah 1 yang gugur lainnya.
Meriam otomatis 40mm dan roket-roket pada helikopter serang menembaki jalan mundur Pasukan Aliansi tanpa henti, kurang lebih yang dilakukan pasukan bantuan di luar benteng juga seperti itu. Kendaraan bantuan tembakan membombardir musuh tanpa henti, dan barisan kendaraan taktis menjepit musuh dan membatasi pergerakan mereka. Kendaraan peluncur roket telah menembak jatuh 60% kekuatan udara musuh.
Ini adalah pemandangan yang tidak bisa dipercaya, ini lebih dari sekedari lelucon. Pasukan Aliansi menentang segala logika perang, dimana mereka memutuskan untuk berperang dengan Indonesia dan sekutunya yang memiliki peradaban terpaut ribuan tahun dari mereka.
**
Surya dan Kompi 406-32 berhasil memasuki area dalam benteng, dan melihat pertarungan antara monster dengan capung besi yang bersenjatakan meriam otomatis 40mm. Pemandangan ini pernah mereka lihat saat insiden penyerangan hari kemerdekaan, tapi yang terjadi sekarang jauh lebih besar dan mematikan dari sebelumnya.
Tekad kecil mulai muncul di benak Surya, dan memutuskan untuk memimpin unitnya untuk bergabung dengan pertarungan ini sambil membuka jalan bagi infanteri pasukan bantuan.
Peluru timah tak terhitung jumlahnya, melesat dari ujung laras senapan serbu milik Arista dan menembus tubuh monster di hadapannya. Di dekatnya, Sima memilih bertarung dengan pedang, dan memilih mengistirahatkan senapan dan pistolnya.
Di saat yang sama, beberapa prajurit Aliansi yang sudah putus asa membawa masuk persenjataan mereka yang berupa balista. Beberapa dari mereka bisa dihancurkan dengan roket, tapi beberapa lagi ternyata bisa lolos, dan amunisi yang berupa tombak raksasa telah dimuat.
Tombak dengan panjang dua kali pria dewasa telah disiapkan, dan diarahkan ke anggota Kompi 406-32 yang masih melakukan perlawanan.
Para prajurit melindungi operator balista dengan mati-matian, dan merelakan tubuh mereka menjadi tameng hidup dari terjangan peluru 7,62mm.
Operator balista telah menekan pemicu, dan melepaskan tombak raksasa dengan kecepatan tinggi yang mengarah pada prajurit Kompi 406-32. Beberapa prajurit berhasil menghindari lesatan tombak raksasa, dan itu adalah sebuah keberuntungan karena sangat sulit untuk menghindari lesatan artileri balista.
“Kita datang untuk mengalahkan musuh-musuh kita!...”
Sepertinya Surya masih ingin melanjutkan kalimatnya tersebut.
Tapi…
Operator balista tersenyum ketika tombak raksasa yang dia tembakan mengenai salah satu prajurit lawannya. Dan itulah yang membuat Surya tidak bisa melanjutkan perkataannya.
Perut Surya berlubang setelah tombak raksasa menembus tubuhnya. Dia tahu jika tombak raksasa tersebut akan mengenainya, tapi dia hanya tersenyum hingga melakukan perlawanan terakhir.
Seolah-olah dia dikirimkan ke medan perang ini hanya untuk mati, Surya mengorbankan tubuhnya agar tombak raksasa tidak terus melesat, dan mengenai anggotanya.
Tatapan putus asa diperlihatkan seluruh anggota Kompi 406-32 ketika menyaksikan Kapten Surya mengorbankan dirinya untuk mereka.
Tertawaan yang dilontarkan prajurit Aliansi ketika melihat bawahan Surya melihat dia dengan tatapan putus asa, justru membuat semangat juang memenuhi dada mereka.
“Kita balas kematian Kapten…!!!”
Mereka hanya anggota Kompi 406-32 yang berasal dari Tentara Pelajar, tapi mereka melawan musuh seperti binatang buas menerjang mangsanya.
Mereka menggunakan nyawa para prajurit Aliansi sebagai bayaran atas gugurnya Surya.
__ADS_1