
Pasukan besar Aliansi sudah menyerbu lagi dua belas hari lalu, dan mereka menghancurkan salah kompi gabungan di Garnisun Yekirnovo. Kerugian sangat besar, dengan 80 persen personel mati akibat serangan mendadak Aliansi tersebut. Mereka adalah unit dengan waktu pertempuran singkat, dan sering bekerja sebagai unit bantuan ketika masa perang sebelumnya.
Bahkan dalam ketenangannya, Nio bisa mendengar jeritan dan ratapan prajurit kontingen Indonesia, Korea Utara, dan Rusia yang mati. Dia terbiasa dengan banyak pertempuran yang mengharuskannya bertarung selama dua hingga satu minggu berturut-turut, dan berniat menikmati waktu kemenangan ini dengan tidur siang setelah tiba di benteng.
**
Benteng Girinhi yang kini diisi satu batalyon kavaleri Pasukan Perdamaian dan kontingen Arevelk serta Yekirnovo, sehingga angat ramai dengan para pejuang. Fasilitas ini terhubung langsung dengan Benteng Kelea atau ‘Benteng Hitam’, dan akan bertugas sebagai unit bantuan bagi pasukan di sana serta unit dukungan bagi pasukan Arevelk dan Yekirnovo di sini. Yang berarti, terdapat banyak perwira dan prajurit yang menjadikan benteng ini tempat tinggal sementara selama mereka bertugas, menjadikan tempat makannya kini sangat luas.
Batalyon pendukung ini dipimpin seorang letnan kolonel, dan pria 38 tahun itu sedang berjalan di kantin yang besar, menjelejahi area ini untuk menemukan orang yang ia cari. Jika ini adalah Benteng Kalea – yang lebih besar dari Benteng Girinhi, dia pasti akan menghabiskan banyak waktu hanya untuk menemukan seseorang di ruangan luas ini. Karena selain prajurit Pasukan Perdamaian, banyak tentara Yekirnovo dan Arevelk yang makan atau sekadar beristirahat di sini.
“Letkol Arga. Jika Anda mencari unit Letnan Nio, saya melihat mereka ada di salah satu pojok kantin,” salah satu bawahan letnan kolonel tersebut menyadari komandannya kesulitan, dan mengatakan meja yang dipenuhi personel yang diisi remaja tersebut.
“Terimakasih,” jawabnya singkat.
Anak Agung Arga Kabinawa berjalan ke tempat yang ditunjuk bawahannya, sambil membawa nampannya di satu tangan yang berisi menu nasi berlauk rendang ‘sintetis’ dan sop tanpa daging.
“Kita harus berusaha memahami dan bekerja sama dengan anggota lama. Bagaimanapun, tim itu dan Kompi Bantuan 002 ada di sini lebih dulu dari kita. Di sisi lain, unit remaja itu sulit dipahami.”
Arga yang berasal dari Garnisun Sunda Kecil, melontarkan perkataan itu disertai senyum kecil pada para lima orang bawahannya yang duduk bersama pada salah satu tempat di kantin. Kata-katanya benar, namun para anggota baru di benteng ini masih bisa melihat anggota tim yang dimaksud selain Nio, dan para prajurit elit tersebut agak berbeda, mungkin karena komandan mereka.
Jika para pendatang baru berbicara dengan komandan tim dan anggotanya, mungkin mereka akan cepat dapat berkomunikasi dengan normal, dan berpikir bahwa mereka adalah tentara elit biasa dan baik.
Namun, perang ini membuat negara merubah banyak remaja normal menjadi tentara, dan bertarung seperti tawuran bersenjata yang sadis. Namun, itu memang menguntungkan negara, dan mendapatkan banyak tenaga perang, dan sepenuhnya tidak bersifat sukarela. Tidak peduli seberapa parah keadaan perang sebelumnya, pemerintah meminta rakyat untuk mengangkat senjata, dengan pemaksaan yang terselubung dan tak disadari.
Ketika perang itu dimulai, pemerintahan sebelum Suroso berjalan cukup buruk. Dan mereka lebih rendah dari apapun yang ada di dunia, memaksa para remaja untuk bertarung demi kepentingan pihak tertentu.
“Hei, apa kalian dengar pertempuran dua hari lalu?”
“Yang hampir menghancurkan salah satu kompi gabungan di Garnisun Yekirnovo, kan? Terus, yang menjadi bantuan adalah Kompi Bantuan 002 dan Tim Ke-12.”
“Tim Ke-12 yang katanya dipimpin ‘Mayat Hidup’ itu?”
“Julukan macam apa itu? Apa dia pernah mati terus hidup lagi, begitu?”
“Tidak. Tapi, dia berhasil hidup hingga penyerbuan pertama Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi TNI berakhir.”
“Itu pertempuran yang sangat merugikan. TNI kami kehilangan banyak prajurit dan senjata, dan prajurit yang kembali sebagian menderita tekanan mental meski tidak sampai jatuh kejurang kegilaan.”
“Aku salah satu perwakilan Rusia untuk membantu TNI waktu itu. Keadaan saat itu memang sangat mengerikan, benteng Pasukan Ekspedisi TNI rata dengan tanah, kecuali tiang benderanya. Prajurit-prajurit TNI yang tersisa berjuang dengan putus asa dan sangat kelelahan.”
“Kamu tidak salah. Pasukan mulia seperti kita sekarang tidak akan kalah dengan Aliansi.”
Percakapan antara lima bawahan Arga yang berbicara dengannya sebelumnya, memang terdengar ironis.
Di ujung barisan meja di salah satu sudut ruangan, Arga menemukan perwira pertama TRIP yang dia cari. Tentara muda itu seperti yang dibicarakan, dengan penampilan tubuh mirip mumi. Dia juga melihat salah satu bawahan perempuan Nio dengan perban melilit sebagian tubuhnya, yang membuatnya berpikir mereka berdua pernah berjuang bersama dan bernasib sama.
Sambil memasukan sesuap nasi ‘asli’ dan lauk tempe dan tahu goreng, Nio mendengarkan Agus yang mulai mengeluhkan makanan hari ini.
“Kaikoa. Kamu mau daging palsu ini, mungkin?”
“Enggak. Walau pekerja pabrik mengerahkan tenaganya untuk membuat daging palsu itu, aku hanya ingin memasukan makanan asli ke perutku,” jawab tentara berkulit eksotis tersebut sambil memakan tempe gorengnya.
“Kalian,harus memaksakan diri untuk memakannya, jika tidak ingin terserang gizi buruk,” sambung Ratna.
Walau mendapatkan peringatan dari ‘Koki’ alias Ratna yang sangat membenci pemilih makanan, Agus tetap memindahkan potongan daging ayam ‘palsu’ ke pinggir piring perak. Rasa daging tersebut mungkin mirip dengan aslinya, namun setiap orang pasti memiliki selera masing-masing mengenai cita rasa.
“Apakah benar kalian Tim khusus Ke-12?”
__ADS_1
Nio mendongak ke sumber suara, dan para anggotanya berhenti makan untuk melihat seseorang yang menyapa mereka. Dan setelah beberapa saat, mereka berkedip, lalu menyadari sesuatu.
“Siap, benar, Letkol,” Hassan berdiri untuk menjawab pertanyaan Arga dengan terbata-bata.
Setelah meminta ijin, Arga duduk di antara Hassan dan Bima, tepat di depan Nio yang kembali menunduk, menatap makanannya.
“Kamu Letnan Satu ‘TRIP’ Nio, bukan? Kode namamu kalau tidak salah ‘Mayat Hidup’.“
Nio memandang pria itu dengan tatapan dingin, dan mengarah pada tanda pangkat di bahu seragam lapangannya. Setelah beberapa detik, Nio menganggap pria di depannya adalah komandan batalyon kavaleri pendukung untuk pasukan di Benteng Girinhi.
“Maaf, setahu saya kode nama adalah hal yang seharusnya menjadi rahasia. Walau Anda mengetahuinya, seharusnya hal itu dikatakan saat kita berdua berbicara dua mata di tempat rahasia.”
Arga tampak termenung untuk sementara waktu, dan beberapa detik kemudian tersenyum.
“Tapi, banyak orang yang sudah tahu hal itu. Jadi, percuma saja kamu mencegahku mengatakan rahasiamu dan unitmu. Lagipula, kode nama milikmu bisa menjadi efek gentar untuk musuh.”
Nio mengalihkan pandangannya dengan tidak nyaman, dan menghela napas kembali setelah mendengar jawaban Arga.
Meski letnan kolonel tersebut mengenalnya, Nio sama sekali belum pernah bertemu dengan pria itu.
Sementara itu, seluruh bawahannya menatap mereka berdua dengan serius, khawatir jika ada pekelahian argumen di antara mereka.
“Komandan lebih banyak bertindak, dan diam-diam memiliki banyak taktik cara bertarung. Kami tidak pernah tahu apa yang dia pikirkan,” gumam Hendra pelan, namun tetap bisa didengar Arga.
“Dia selalu berlari dan melakukan pertarungan gila setelah memberi perintah menyerang. Kami bahkan tidak pernah tahu harus bereaksi apa, dan mengikuti apa yang komandan kami lakukan,” sambung Ga-Eun, membuat Nio mencari cara agar bawahannya tidak kembali berbicara.
“Jika kalian pernah mendengarnya, apakah kalian ingat pertempuran Pesisir Wonogiri 2, Pertempuran Enam Jam, dan Operasi Hujan?”
“Aku tahu tentang Operasi Hujan,” kata Ika.
“Operasi Hujan ada kaitannya dengan taktik yang dinamai Letnan Nio sebagai ‘taktik Ala Amerika’. Itu adalah usaha menghujani Gerbang tak sempurna yang sempat terbuka di Garnisun Yogyakarta dengan berbagai serangan. Walau berhasil membuat musuh menutup Gerbang di Yogyakarta, tapi dampak operasi itu membuat 10 kecamatan tidak layak huni.”
Itu adalah ketika perang telah memasuki tahun ke-3, di saat Nio diangkat menjadi Sersan Satu dan menjadi salah satu pertempuran terberatnya. Walau kemenangan dalam operasi itu merupakan sebuah prestasi, namun membuat wilayah tempat tinggal penduduk hancur bukanlah hal yang diharapkan meski berhasil mengalahkan musuh. Belum lagi peluncuran senjata kimia yang mengakibatkan tanah beracun dan memaksa penduduk mengungsi dan berpindah tempat tinggal secara permanen.
Dalam operasi yang melibatkan 20 garnisun – sekitar satu divisi gabungan, dan kecuali Garnisun Semarang – Nio memimpin satu peleton, berhasil menghabisi kompi musuh yang bertugas mengawal penyihir yang berusaha membuat Gerbang di Yogyakarta tetap terbuka. Walau terdapat penyihir tempur di pihak musuh, dan sihir tameng mampu membuat mereka tak tersentuh senjata kimia mematikan yang terpaksa dikerahkan, mereka dapat ditangani dengan mengorbankan kurang dari 200 tentara.
Cerita Arga membuat Nio memasang wajah jengkel, menatap pendatang baru itu dengan tatapan dingin yang menusuk tulang, dan menyesap es kopi hitamnya.
“Letnan Kolonel Anak Agung Arga Kabinawa, dari Garnisun Sunda Kecil, sekarang memimpin salah satu batalyon kavaleri. senang bertemu dengan kalian, Tim Ke-12.”
“Senang berkenalan dengan Anda, Letnan Kolonel Arga,” seluruh bawahan Nio menjawab serempak.
Nio tidak menjawab perkenalan pria di depannya, dan menghabiskan es kopi hitam yang sangat tidak disukai tentara Arevelk dan Yekirnovo, jika tidak di beri tambahan gula atau susu. Dia melihat Arga sangat cepat beradaptasi dengan lingkungan baru, jauh dari markas utama yang mendapatkan keamanan tinggi. Para anggotanya tampak dengan mudah mengakrabkan diri dengan komandan batalyon kavaleri tersebut.
Hassan berdiri, dan mengangkat nampannya. Tampaknya dia ingin pergi ke suatu tempat.
“Letnan Nio, kami akan segera melakukan kegiatan patroli,”
Anggota-anggota Tim Ke-12 berdiri, dan berpamitan kepada Nio untuk melaksanakan misi pengamanan desa-desa sekitar Benteng Girinhi. Mereka menjauh dengan cepat, di antara tentara Yekirnovo dan Arevelk yang menjulang. Ika adalah personel yang paling mencolok, karena tinggi tubuhnya sekitar 2 meter. Lagipula, gadis seperti Ika, Ratna, Gita, Zefanya, Ro Ga-Eun, dan Nam Ae-Ri tidak cocok di medan perang seperti ini.
“Apa kamu menyukai satu diantara anggota-anggota perempuanmu?”
Pertanyaan Arga sama sekali tidak membuat Nio malu atau semacamnya.
“Tidak. Saya sudah punya pacar, orang Indonesia.”
“Tapi…”
__ADS_1
Arga melirik ke arah sebuah meja panjang dengan beberapa kursi, dan diisi sejumlah gadis yang terus memperhatikan dengan dengan wajah waspada dan terpesona terhadap Nio.
“Mereka hanya sekutu, setidaknya begitu saya menganggapnya.”
“Tapi, aku merasa mereka menganggapmu lebih dari itu.”
Nio – yang mendapatkan hak istimewa sehingga diijinkan mengikuti kegiatan patroli – duduk berhadap-hadapan bersama Arga dengan canggung karena perkataan penghuni baru tersebut. Harapan adanya personel perempuan di suatu pasukan adalah bahwa prajurit pria yang kuat akan termotivasi untuk terus berjuang, bahkan sampai mati, untuk melindungi para pejuang perempuan mereka yang tercinta.
“Lagipula, saya merasa kita seperti tentara bayaran, dengan tugas tidak jelas di sini.”
Mereka sebenarnya bukan tentara bayaran, mungkin. Meski tugas utama Pasukan Perdamaian dan Persekutuan adalah mencegah Aliansi menyerang dan membuat kerusakan, serta menahan serangan musuh, namun tugas sekunder lainnya belum diberikan. Meski terdapat sejumlah kelompok tentara bayaran, mereka berasal dari Rusia yang masih dalam kondisi memulihkan militer, serta tawanan perang terpilih yang secara sukarela mengajukan diri.
“Pikiran seperti itu sangat buruk. Pemerintah dan TNI pasti sedang menyusun rencana terbaik untuk perang ini, demi kita bisa segera kembali ke tanah air dan bertemu orang-orang tercinta.”
Saat satu-satunya mata Nio menatap Arga, dia merasa hatinya sedikit tersentuh. Tatapan itu selain menunjukkan dia telah terlalu lama bertarung di dunia lain ini, dia menunjukkan bahwa memang tugas senior membimbing junior, meski perkataannya tidak merubah keadaan.
“Tapi, yah… sepertinya Anda benar.”
Arga tersenyum mendengar jawaban malu-malu Nio tersebut, lalu menyesap kopi hitam panasnya. Dia meringis, kepahitan, lupa memasukkan gula.
“Tapi, jika memang itu masalahnya, apakah kamu yakin kamu harus bertarung sebagai prajurit? Perang bisa dipastikan berjalan dengan tidak baik, dan tidak akan membaik dalam waktu lama.”
Ekspresi Nio berubah karena kata-kata yang belum pernah dia dengar sebelumnya.
“Aku tahu kau memiliki pengalaman tempur di dunia ini lebih baik dariku, berdasarkan informasi-informasi yang kudapatkan secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.”
“Ya,” jawab Nio lemas.
Kembali ketika Nio masih berada di pelatihan kilat sebagai personel Tentara Republik Indonesia Pelajar…
Bagian dari pelatihan singkat adalah untuk menerjunkan prajurit remaja usia pelajar SMA ke medan perang sesungguhnya, berbekal kemampuan tempur memprihatinkan. Dalam penugasan, sebagian besar prajurit SMA hanya dikerahkan sebagai unit patroli berseragam lapangan dan dilengkapi senapan serbu tua. Itu hanyalah tugas untuk membiasakan prajurit remaja dengan medan perang dan membangun keberanian mereka. Tetapi, jika para tentara TRIP bernasib baik, mereka hanya dikejar musuh, atau kemungkinan buruknya tertangkap dan disiksa perlahan untuk kemudian dibunuh, atau dijadikan senjata bunuh diri oleh musuh. Nio berhasil bertahan hidup hingga detik ini karena kemampuan bersembunyi-nya yang luar biasa.
Kisah bagaimana dia diperintahkan bertarung ketika masih menjadi keroco, membuat Arga termenung. Dia berhasil mendapatkan cerita dari Nio, dan mengetahui apa saja yang telah remaja itu lalui hingga saat ini. Walau Nio berbicara dengan nada acuh tak acuh, Arga berusaha membangun ikatan rekan yang baik, layaknya Kim Baek-Ki – komandan Kompi Bantuan 002 – yang telah menganggap Nio prajurit berpotensi.
Nio adalah orang yang agak banyak bicara, jarang mementingkan dirinya sendiri ketika bertugas, dan kadang bisa keras kepala, tetapi dia bukan prajurit lemah. Namun, Arga tetap tidak bisa menemukan jawaban tentang asal seluruh luka di tubuhnya, luka yang didapat karena perintah orang-orang di tanah air.
Cerita di atas membuat Arga tersadar, dan dia semakin serius menyimak setiap perkataan Nio. Orang yang sejak perang ini dimulai, pantas melontarkan setiap masalahnya di depan siapapun.
“Maaf, saya bercerita terlalu banyak…”
“Tidak apa-apa. Tidak perlu meminta maaf, aku justru senang bisa mendengar ceritamu.”
Tidak ada untungnya membuat seseorang mengingat kembali kenangan buruknya. Nio membuat wajah ragu, dan Arga berusaha membuatnya mengatakan semua beban di pikirannya. Arga senang, bisa menjadi teman curhat dadakan Nio.
Haruskah dia berusaha menjadi orang yang pertama akrab dengan anggota lama di sini? Arga terdiam ragu-ragu. Mata kiri Nio tiba-tiba menatap ke arah pintu keluar kantin, tatapanya begitu mewaspadai sesuatu. Setelah melewati pintu keluar, kamu akan langsung melihat sisi barat benteng, yang berhadapan dengan wilayah Kekaisaran Luan, alias negara anggota Aliansi.
Suasana di sekitarnya seketika menjadi suram, membuat Arga merasakan sesuatu.
“Ada apa, Letnan Nio.”
Tepat setelah Arga menanyakan hal itu, deru sirene, lonceng yang dipukul, dan teriakkan puluhan prajurit pembawa pesan Arevelk membubarkan semuanya.
**
Ilustrasi Nio pas masih jadi bandar bo*kep. Edisi males buat rambut, susah soalnya. Gambar sendiri, dengan pose dapet dari Instagram.
__ADS_1