Prajurit SMA

Prajurit SMA
Persiapan keberangkatan Pasukan Perdamaian


__ADS_3

Hari ini, hampir seluruh siaran TV menayangkan siaran khusus. Berbagai percetakan surat kabar menggunakan kabar pengunduran diri Menteri Pertahanan dan dirinya yang tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit sebagai sampul dan halaman utama berita tiga hari berturut-turut. Ada cukup banyak orang, mungkin hingga puluhan kru kamera mengelilingi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, beserta dengan banyak wartawan dan penyiar memegang mikrofon mereka dan mengabarkan peristiwa itu dengan wajah kaget mereka ke seluruh negeri. Partai-partai penguasa mengecam Handoko karena ‘meninggalkan tugasnya’, dan berbagai kata lainnya yang bertujuan membuat nama Handoko semakin buruk.


Ada tiga tim dari sebuah program berita di salah satu perusahaan TV swasta yang bernama “Kabar Siang”. Tim mereka berjumlah tiga orang yang terdiri dari juru kamera, operator, dan pewawancara perempuan. Mereka bertugas berkeliling sekitar pusat Kota Karanganyar, dan meminta orang-orang yang berjalan kaki untuk mengatakan reaksi mereka terhadap pengunduran diri Menteri Pertahanan di saat situasi negara masih dilanda konflik dengan bangsa dunia lain.


Namun, kebanyakan reaksi orang-orang yang berjalan di jalan-jalan Karanganyar hampir semuanya sama. Kebanyakan orang akan menjadi kaku jika didatangi kru TV, dan memberikan jawaban yang terlalu formal ketika berhadapan dengan kamera. Dengan kata lain kebanyakan dari mereka yang diwawancarai akan menjawab, “Benarkah, kenapa cepat sekali mengundurkan diri?” dengan ekspresi kaget. Sedangkan mereka yang kritis terhadap pemerintah menjawab, “Yah, dia bahkan membiarkan proyek kapal induk terbaru hampir terbengkalai, dan tidak melanjutkan proyek kalau tidak dimarah Presiden Ssuroso. Jadi, wajar saja kalau dia mengundurkan diri” dan “Betapa tidak bertanggung jawabnya” dan kata-kata serupa lainnya. Jika menggunakan reaksi khas orang-orang terhadap kabar miring, mereka akan berkata, “Orang itu? (Handoko) Saya pikir jika situasi negara sedang berkonflik seperti ini dia akan melakukan sesuatu seperti ini cepat atau lambat.” Itu adalah respon untuk berita utama yang diharapkan ketika mengumpulkan reaksi narasumber masyarakat umum mengenai masalan seperti ini.


Perusahaan media umum akan menggunakan sangat banyak data sekaligus. Data-data tersebut akan mencangkup segala macam reaksi positif dan negatif dari orang-orang. Editor akan mengerjakan sesuai materi yang disiapkannya, dan berusaha meninggalkan kesan terbaik pada audiens. Oleh karena itu, kemampuan pewawancara untuk mengumpulkan rekaman yang bermutu tinggi adalah ukuran keterampilan mereka.


Pewawancara program berita ‘Kabar Siang’ yang bertugas di Karanganyar, yang kabarnya adalah warga Indonesia yang pernah ditawan di negara musuh, gadis yang bernama Sonia ini belum memahami hal tersebut. Dia memberikan pertanyaan terhadap pria yang lewat sambil mengarahkan mokrofonnya, menanyakan pendapatnya mengenai pengunduran dan Menteri Pertahanan yang sedang dirawat. Pertanyaan Sonia mendapatkan jawaban dari orang yang ditanyainya, yang direkam oleh kameramen yang sabar. Namun, yang diinginkan produser bukanlah ‘jawaban biasa’, tetapi ‘jawaban yang beda dari yang lain’, dan sejauh ini dia hanya mengumpulkan jawaban biasa, atau bagian dari jenis jawaban tersebut.


Hingga puluhan kali melakukan wawancara, banyak materi yang dikumpulkan tim ini tidak dapat digunakan. Kameramen dan operator menjadi hampir putus asa. Direktur program berkata, “Bawakan aku rekaman yang bisa kita gunakan”, sementara produser berkata, “Tidak bisakah kalian bekerja sedikit lebih keras?” Lagipula Sonia adalah orang yang sedang masa pelatihan, dan ada seorang reporter perempuan yang mendampinginya melakukan wawancara untuk program berita itu.


Sonia memutuskan untuk bekerja lebih keras agar menghasilkan sesuatu yang dapat digunakan untuk programnya. Dia mempertimbangkan jika ada kekurangan dalam pekerjaannya seperti; cara dia berbicara, pertanyaan-pertanyaan yang dia tanyakan, cara dia memegang mikrofon… dia bahkan bertanya-tanya apakah akan lebih baik jika dia mengganti pakaiannya agar terlihat lebih menarik. Namun, rekan timnya berkata apakah dia ingin dilihat karena penampilannya, dan Sonia memutuskan untuk tidak mengganti seragamnya.


Dia menghela napas ketika dia mencari orang-orang untuk didekati dan ditanyai. Pusat kota Karanganyar sebenarnya bukan tempat yang sangat sibuk seperti Jakarta, namun jauh lebih sibuk dari Surakarta semenjak berubahnya status kota ini menjadi ‘Area Khusus’, dan dia seharusnya tidak khawatir tidak bisa menemukan orang untuk diwawancarai. Kemudian, dia merasa ada sesuatu yang aneh dengan orang-orang hari ini.


Sebenarnya, Karanganyar adalah kota kecil, meski wilayahnya lebih luas dari Surakarta, dan jalan-jalannya tidak terlalu ramai. Namun, kerumunan orang-orang pada hari ini jelas tidak menunggu lampu lalu lintas, dan beberapa polisi mulai melakukan kegiatan penutupan jalan di beberapa titik.


Sebagian pejalan kaki dan pesepeda dan pemotor terlihat menjengkelkan dan berhenti sembarangan, seolah-olah mereka sedang menunggu sesuatu.


“Apakah ada sesuatu yang istimewa terjadi hari ini?” tanya Sonia pada timnya.


Operator menggeleng dan kameraman menjawab, “Belum mendengar apa-apa.”


Juru kamera dengan tenang mengarahkan kameranya ke arah kerumunan orang berdiri di tepi, dan puluhan sepeda motor dan listrik di jalanan sambil berkata, “Mereka semakin banyak.”


Satu demi datu pengendara motor listrik dan mesin bensin turun dari kendaraanya setelah mendapatkan kabar adanya penutupan jalan, dan bergabung ke kerumunan orang-orang. Situasi ini memang sangat aneh, tapi tidak untuk penjual jajanan yang menganggap kerumunan ini sebagai kesempatan untuk meraup untung lebih besar daripada berjualan di hari biasa.


“Apa ada konser dadakan?”


“Kemeraman, tolong terus syuting.”


Setelah mendengar kata-kata Sonia, juru kamera membalikkan lensa kemeranya dari arah kerumunan.


“Aku mendapatkan beberapa rekaman. Tapi, bukannya kamu harus menghubungi pusat bukan?”


Sonia, yang mendapatkan gagasan jika dia telah mendapatkan berita eksklusif di sini, telah melupakan tugas paling mendasar untuk melapor ke atasannya. Dia buru-buru mengeluarkan ponselnya setelah juru kamera mengingatkannya.


**


Hanya ada satu gerbang ke Area Terlarang, dan ada satu Gerbang untuk menuju dunia lain… tempat Pasukan Perdamaian dikirimkan.


Menurut rencana, personel CIA yang kembali dikirimkan ke Indonesia melakukan lagi misi mereka menunggu orang-orang dengan nama sandi “para tamu” di luar Area Terlarang Garnisun Karanganyar, yang meliputi area sekitar 200 meter di setiap sisi.


Misi mereka adalah untuk secara diam-diam dan cepat menculik para tamu, kemudian mempercepat mereka kembali ke Amerika Serikat.


Pemerintah Indonesia seharusnya juga diurus.


Mereka tidak mengharapkan mundurnya Menteri Pertahanan, di mana dia adalah kartu truf yang Amerika Harapkan. Yang paling mereka waspadai adalah orang-orang Inggris dan Cina. Tim yang mereka kirim ke Karanganyar telah musnah, dan menurut laporan yang mereka dapat dari Jason, itu karena mereka bertemu dengan orang-orang Inggris dan Cina dan terlibat baku tembak tiga sisi.


Hilangkan gangguan Inggris dan Cina sambil mengambil para tamu. Itu adalah operasi yang sulit, tetapi bukan tidak mungkin bagi mereka. Pasukan khusus negara manapun akan kesulitan beroperasi di tempat yang sibuk seperti pusat Kota Karanganyar. Namun, jumlah orang-orang dikerumunan ini terus meningkat, dan dia bertanya kepada salah satu bawahannya tentang hal ini.


“Apa ada acara khusus yang dijadwalkan di sini hari ini?”


“Tidak ada yang saya tahu.”


“Tapi jumlah orang yang berkumpul di sini sangat tidak normal.”


Maka, saat personel CIA di Indonesia terlalu memusatkan perhatian pada kerumunan orang-orang, ada puluhan helikopter serang melintas di atas mereka.


**


Jalur arah ke maupun dari Magetan, Surakarta, Wonogiri, Sragen, Sukoharjo, dan Boyolali memiliki gangguan jalur yang dikarenakan penutupan jalan, dan mengakibatkan Karanganyar tidak dapat dimasuki kecuali dari jalur udara, dan gangguan juga terjadi di stasiun Colomadu yang mengakibatkan penumpukkan penumpang. Matahari di atas kepala terasa panas, dan cuaca hari ini sangat cerah hingga membuat puncak Gunung Lawu terlihat dari beberapa titik. Karena jalur pejalan kaki sudah tidak dapat menampung semua orang yang terus berdatangan, mereka meluber ke tengah jalan dan menutupi jalur kendaraan bermesin bensin dan listrik.


“Sepertinya ada puluhan ribu orang di sana.”


Kepala Bagian Lalu Lintas Polisi Daerah Karanganyar menerima laporan dari petugas patroli. Kemacetan di luar sana membuat kendaraan tidak bisa bergerak. Para petugas melanjutkan ke tempat kejadian dengan berjalan kaki, tetapi terlalu banyak orang yang ada. Sekilas, kerumunan orang seperti melakukan demonstrasi yang tidak berijin dan tak berencana. Orang-orang di sini memenuhi trotoar hingga tumpah ke jalan, seperti sedang menunggu sesuatu.


Mereka juga bersorak ketika beberapa helikopter serang, pengangkut besar, dan serbaguna terbang melintas di atas kepala mereka. Dari ekor helikopter, terlihat jika itu milik militer Rusia dan Korea Utara yang mengangkut personel Pasukan Perdamaian mereka. Karena helikopter terbang kurang dari 50 meter, orang-orang yang bermata tajam bisa melihat bendera negara dari helikopter tersebut.


“Maaf, tapi apa Anda tahu kenapa orang-orang berkumpul di sini?”


Pria yang dipanggil seorang petugas patroli nampak ketakutan, tapi setelah itu, rekan juru kamera tersebut, alias Sonia menjawab pertanyaan petugas itu.


“Sepertinya orang-orang ingin melihat keberangkatan Pasukan Perdamaian ke Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Baru.”

__ADS_1


“Apa?! Jadi mereka berangkat hari ini, bukannya besok?!”


Para kru TV dari perusahaan lainnya tidak bisa masuk ke Karanganyar karena kemacetan lalu lintas dan banyaknya umat manusia yang menghalangi mereka.


Kapolda yang mendapatkan laporan dari bawahannya mengenai keberangkatan Pasukan Perdamaian pada hari ini langsung memerintahkan seluruh personelnya untuk keluar kantor yang mereka sebut dengan ‘sarang’. Si Kapolda memerintahkan seluruh anggotanya untuk melakukan tugas pengawasan, dengan kedok asli melihat keberangkatan Pasukan Perdamaian ke dunia lain.


**


Personel Pasukan Perdamaian berjumlah total sebanyak 30.000 personel, dengan ratusan senjata dan perlengkapan yang tentunya bukan barang museum. Karena mereka di sana akan bertugas menjaga dunia ini, dan merupakan tugas yang berbahaya. Satu lagi, batas waktu untuk tugas ini belum ditentukan, namun jika pemimpin negara mereka menghendaki untuk mundur, maka mereka akan mundur.


Gelombang pertama Pasukan Perdamaian telah ada di Area Terlarang sejak 3 hari lalu, dan beberapa kompi lagi baru tiba hari ini. Lalu, gelombang kedua dan ketiga akan diberangkatkan secepatnya.


Ketika mengetahui adanya kerumunan orang-orang di luar Area Terlarang, pasukan pengawal Sigiz dan Sheyn mulai resah.


“Dari mana datangnya orang-orang itu?”


“Apakah mereka berencana berperang?”


Para prajurit dunia lain itu menunjukkan ekspresi ketakutan di wajah mereka.


Wajah-wajah gadis-gadis dunia lain disembunyikan oleh bunga-bunga yang mereka dapatkan untuk diletakkan di depan tugu peringatan. Selain mereka, Pasukan Perdamaian juga melakukan beberapa acara sebelum keberangkatan mereka, termasuk memberi penghormatan kepada prajurit yang gugur selama perang dengan bangsa dunia lain.


Intinya, Pasukan Perdamaian bertugas untuk menjaga dunia ini dari dunia lain, dan mencegah berbagai ancaman dari musuh-musuh potensial. Pasukan ini jauh lebih kuat daripada Pasukan Ekspedisi yang telah resmi dibubarkan oleh Presiden Suroso, baik dari jumlah, persenjataan, dan kualitas personelnya, katanya senjata yang didapatkan pasukan ini adalah produksi terbaru dan terhebat dari ketiga negara tersebut. Menurut kabar, ada personel pasukan khusus Indonesia, Rusia, dan Korea Utara yang termasuk bagian dari pasukan ini dengan jumlah yang dirahasiakan.


Ada sebuah senjata yang menjadi pusat perhatian personel Pasukan Perdamaian asal Indonesia dan Korea Utara, tetapi bagi para prajurit Rusia senjata itu adalah kebanggaan mereka. Bahkan, para orang-orang dunia lain tidak tahu senjata yang dibawa perwakilan Rusia itu.


Sebuah senjata berjenis tank berat dengan meriam utama 120mm dan meriam otomatis 40mm, yang memiliki tinggi hampir 8 meter dan mempu menampung 10 kru. Dengan kata lain, tank kebanggan Rusia ini adalah senjata darat terbesar yang pernah mereka buat, sekaligus senjata terkuat yang dimiliki Pasukan Perdamaian.


Butuh truk dengan roda tak terhitung untuk mengangkut senjata super besar ini, dan untuk mengangkut dari Rusia dibutuhkan kapal khusus yang biasa digunakan untuk mengangkut kapal perang. Orang-orang Rusia sendiri menyebut senjata yang melambangkan kebesaran negara mereka sebagai “Bog stali” atau ‘Dewa Baja’, tapi orang-orang menganggap jika senjata itu lebih mirip dengan ‘kapal penghancur yang berjalan di darat’ saking besarnya senjata itu.


Bahkan, tank kelas berat terbesar milik TNI hanya setengah kekuatan dari senjata itu, dan Korea Utara berpikir jika membawa 10 MBT dan meriam kebanggan mereka untuk Pasukan Perdamaian tidaklah cukup. Menurut Rusia, membuat senjata sebesar ini adalah hal yang dilakukan untuk mempertahankan posisi mereka sebagai pemilik armada darat terkuat di dunia ini.


Semua prajurit berbaris di jalan raya, tepatnya di depan Penghubung yang dibuat dari buah hasil kerja sama penyihir elit Arevelk dan Yekirnovo. Di belakang para prajurit, berbaris ratusan kendaraan taktis, panser dengan senjata senapan mesin berat 12.7mm hingga meriam otomatis 20mm, dan kendaraan lapis baja lainnya. Lalu, ratusan truk juga disiapkan untuk mengangkut para prajurit, beberapa truk berisi logistik selama setahun, seperti makanan hingga amunisi. Beberapa truk juga terlihat berisi kendaraan berjenis sepeda listrik dan mesin bensin, yang sering berfungsi untuk misi yang memerlukan pergerakan cepat.


Jumlah helikopter yang dibawa lebih banyak beberapa unit daripada yang dibawa oleh Pasukan Ekspedisi, sekitar 40 helikopter berbagai jenis. Pasukan Ekspedisi membawa 15 helikopter, dengan yang kembali hanya sebanyak 5 unit dengan jenis helikopter serang, dengan keadaan 3 diantaranya rusak. Beberapa MBT yang tersisa dalam keadaan baik juga ditinggalkan di Tanah Suci, sebagai senjata tambahan jika sewaktu-waktu ada rencana pengiriman pasukan lagi.


Seragam tempur yang dikenakan personel Indonesia terlihat berbeda, kerena mereka tidak lagi mengenakan seragam loreng hijau. Mereka mengenakan seragam loreng dengan perpaduan warna hijau lumut kering dan coklat pucat, seperti yang digunakan Pasukan Perdamaian di Timur Tengah. Perlengkapan pelindung juga jauh lebih baik dan kuat dari sebelumnya, karena kejadian seperti gugurnya ribuan prajurit Pasukan Ekspedisi tidak ingin terulang lagi. Setidaknya, rompi yang personel Pasukan Perdamaian bisa menahan laju serangan balista yang bisa secepat 100 meter perjam, namun tidak bisa menyelamatkan prajurit dari serangan artileri batu dari ketapel raksasa.


Nio berada di barisan terdepan sambil menenteng Senapan Serbu 20 generasi kedua, masih dengan peluru 7.62mm, namun dengan akurasi hampir 90 persen dan sudah memungkinkan digunakan untuk semua musim. Karena sebagian senapan serbu standar yang diproduksi oleh perusahaan dalam negeri lebih cocok untuk iklim dua musim seperti Indonesia, dan harus menggunakan perlengkapan tambahan jika harus digunakan di iklim kering berdebu atau dingin yang membekukan, dan akibatnya bobot senapan bertambah dan menghambat pergerakan prajurit.


Di tiga hari sebelum keberangkatan Pasukan Perdamaian…


Ancaman lain yang berasal dari Jepang yang didapatkan pemerintah Indonesia adalah serangan sekelompok orang yang memilik agama aneh, dimana mereka terlalu terobsesi dan memuja hal yang berbau fantasi, atau sekelompok orang itu lebih mudah disebut sebagai "otaku".


Sebagian besar personel memang harus menggunakan transportasi udara, demi mempercepat waktu ketibaan mereka ke Indonesia, meski terpaksa harus membuat beberapa penerbangan ditunda bahkan dibatalkan karena keberangkatan ribuan prajurit Korea Utara dan Rusia. Jika keberangkatan mereka menggunakan jalur laut, paling cepat mereka akan tiba di wilayah perairan Indonesia dalam waktu 2 hingga 3 hari dengan kecepatan penuh. Namun, sebagai gantinya pihak Rusia dan Korea Utara harus membayar mahal biaya bahan bakar jika kapal-kapal pengangkut mereka harus melaju dengan kecepatan penuh terus menerus.


Hasilnya, dalam tiga hari, sebagian besar gelombang pertama personel Pasukan Perdamaian bisa tiba di Indonesia, dan bagi yang belum tiba akan diberangkatkan pada rombongan kedua dan ketiga ketika penyihir Arevelk dan Yekirnovo dikirimkan ke Rusia dan Korea Utara untuk membuat penghubung di sana. Karena tidak mungkin mendatangkan ribuan pasukan dalam waktu tiga hari saja, jadi yang berangkat terlebih dahulu adalah rombongan pertama dengan jumlah hampir 10.000 prajurit.


Rusia membawa ‘Dewa Baja’ mereka menggunakan 10 helikopter pengangkut besar, dimana mereka didukung oleh pesawat tanker selama perjalanan udara demi mencegah kejadian kehabisan di tengah jalan. Helikopter yang mogok karena kehabisan bahan bakar saat perjalanan masih setengah jalan adalah resiko yang sangat fatal, dan itu tidaklah lucu. Setidaknya, seluruh helikopter yang digunakan untuk membawa tank super besar ini juga mampu dioperasikan untuk mengangkut kapal kelas Korvet maupun Fregat.


(olog note: tanpa dijelasin lagi pasti tahu gimana caranya bawa kapal perang pake helikoter besar?)


Lalu, mungkin hal di atas adalah jawaban untuk pertanyaan, “Kenapa orang-orang Rusia suka yang besar-besar, mereka bahkan punya helikopter dan tank terbesar?”


Namun, disaat kontingen Rusia dan Korea Utara mulai berdatangan dengan kebanggaan dan keberanian untuk berjuang di dunia lain, Nio masih memiliki masalah dengan seorang gadis yang pernah menemuinya ketika peristiwa penyerangan agen luar negeri yang katanya menyasar para tamu dari dunia lain.


Dengan bantuan Lisa serta Nike, dia dan Arunika bisa menyelesaikan kegiatan mengisi rumah mereka dalam waktu kurang dari satu hari. Namun, seorang gadis yang ketika perkenalan mengatakan jika dirinya bernama Hevaz, selalu membututi Nio dari belakang kemanapun dia melangkah. Dia juga tidak bisa memarahi Hevaz untuk masalah itu karena gadis itu juga membantunya mengangkat beberapa perlengkapan rumah yang berbobot berat. Namun, berbeda dengan ketiga gadis lainnya yang menatap Hevaz dengan tatapan iri yang mendekati tatapan kekesalan.


Ini bukan kali pertama Lisa dan Arunika melihat sosok Hevaz, dan memiliki masalah pada gadis itu selain pada Sigiz. Mereka bertiga sama-sama mempermasalahkan tubuh Sigiz dan Hevaz yang sama-sama bagus, terutama pada bagian dada. Sementara itu, Nike tidak tahu harus menanggapi dengan cara apa, padahal dia juga memiliki masalah yang seperti yang dimiliki Arunika dan Lisa. Namun, Nio tidak peduli dengan tatapan kedua gadis itu yang seakan-akan bisa membunuhnya, dan tatapan memelas Nike.


“Apa gadis itu tidak punya pakaian lain?” Lisa berkata dengan Arunika dengan nada sama pelannya dengan berbisik.


“Ah~ kalau pakaiannya seperti itu, lebih baik dia pergi ke pantai supaya digoda om-om.” Arunika terdengar sangat berharap dengan perkataanya.


“Apa pakaian orang-orang dunia lain juga seperti itu?”


“Maksudmu pakaian yang seperti pakaian dalam itu? Kupikir tidak, karena aku melihat mereka memakai pakaian yang biasa.”


“Aku tidak bisa membayangkan perkataanmu. Kau sendiri kenapa tidak mengambil gambar para anak-anak dunia lain sewaktu menjadi sukarelawan di sana?”


“Ah… benar juga. Kenapa aku tidak kepikiran ya?”


Lisa hanya bisa menepuk dahinya setelah jawaban terakhir Arunika, sementara gadis itu hanya bisa memandangi Nio yang membawa lemari kayu di pundaknya dengan Hevaz yang mengikuti dari belakang.


“Lupakan itu, apa semuanya sudah siap?” Arunika mengalihkan pembicaraan ke arah yang sepertinya lebih serius.

__ADS_1


“Maksudmu ‘itu’ kan? Jangan khawatir, sebentar lagi mereka akan mengirimnya.” Lisa menjawabnya dengan wajah yang menunjukkan keseriusan yang tinggi.


“Yah… karena hanya itu hadiah yang bisa ku berikan pada Nio atas semua yang dia lakukan untukku.”


“Jangan lupa dia juga berjuang di sana untuk melindungi kita,” Nike tiba-tiba menyambung pembicaraan mereka berdua sambil membawa nampan yang diatasnya ada teko berisi es teh dan sebuah kaleng dari produk biskuit kelapa yang isinya kue kering dan bukan rengginang.


“Dia sepertinya juga cukup terkenal di dunia lain.”


Arunika berkata dengan wajah dan nada yang terdengar sedih daripada kesal, begitu pula dengan Lisa dan Nike.


“Aku juga merasa kita tidak ada apa-apanya dengan gadis-gadis dunia lain itu,” ucapan Lisa hampir mirip dengan ratapan.


“Ya, dia bahkan didekati dua ratu, dua pengawal, dan seorang gadis yang sepertinya hanya mau melayaninya,” perkataan Lisa hanya membuat Nike mempertanyakan kalimat ‘melayaninya’. Lalu, Nike memutuskan untuk tetap berpikir positif mengenai kata-kata itu, dan menjauhi hal yang mengarah ke tindakan negatif.


Sementara itu, Nio dengan hati-hati meletakkan lemari plastik yang dilapisi kayu yang berbobot hampir 40 kilogram ke lantai, jika dia meletakkan dengan sembarangan itu akan menimbulkan suara bising dan merusak lantai yang terbuat dari kayu.


Mengangkat lemari adalah tugas yang ringan menurut Nio, karena ketika masih di pelatihan dia pernah ‘dipaksa’ membawa beban seberat 70 kilogram yang berupa dua karung beras. Menurutnya, tugas seperti ini bisa menggantikan latihan yang sempat dia lupakan selama di sini.


“Baiklah, Nona Hevaz, apa kamu bisa berhenti mengikuti ku dari belakang?” Nio menatap ke arah gadis yang setinggi pundaknya yang sedang tiduran di ranjang miliknya.


“Kalau begitu, saya akan mengikuti Anda dari samping.”


“Malah tambah parah njir…”


“Njir? Apa itu, saya pikir kata itu tidak ada di bahasa negara ini…”


Mata kiri Nio berkedut setelah mendengar jawaban Hevaz yang terdengar polos itu, tapi dia juga merasa jika orang-orang dunia lain juga perlu mengetahui kata-kata gaul anak muda negara ini.


“Kalau begitu, kau bukan musuh kan? Jadi, siapa yang mengutusmu? Apa tujuannya?”


“Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya adalah pelayan pribadi Anda, Tuan Nio Candranala. Yang mengutus saya adalah Dewi-…”


Nio berpikir jika hal ini pernah terjadi sebelumnya, dimana ketika Hevaz mengatakan pengutusnya akan ada sebuah gangguan yang membuat Nio tidak tahu siapa orang yang mengutus Hevaz.


Namun, Nio tidak bisa menganggap orang yang tiba-tiba memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu adalah gangguan, karena dia adalah Arunika.


Sebelumnya, Arunika, Lisa, serta Nike khawatir dengan Nio yang terlalu lama di kamarnya, padahal pemuda itu hanya akan meletakkan sebuah lemari saja. Mereka bertiga mengkawatirkan hal yang sama, yakni mungkin saja dia dan Hevaz melakukan hal yang melanggar hukum, seperti berbuat mes*m tanpa adanya ikatan pernikahan.


Lalu, setelah membuka pintu ruangan yang akan menjadi kamar Nio, Arunika hanya melihat dia dan Hevaz sedang berbincang-bincang biasa.


“Nio, ayo turun, makan siang sudah siap.”


“Oh, siap. Apa kau mau ikut makan dengan kami, Hevaz?”


Hevaz terlihat tidak keberatan ketika pembicaraannya sedikit terganggu dengan kedatangan Arunika.


“Jika Tuan mengijinkan saya bergabung.”


Tiba-tiba Arunika berjalan dan berdiri di samping Nio lalu berkata, “Tentu saja, karena kamu juga sudah membantu kami merapikan tempat ini.”


Nio merasa jika Arunika memiliki maksud tersembunyi atas perkataannya, tapi dia tidak ingin menebak-nebak saja, dan harus menyelidiknya.


Mereka bertiga tiba di ruang tamu yang berada di lantai dasar rumah ini, dan telah ada sesuatu yang membuat Nio tidak bisa berkedip selama beberapa detik. Dia tersadar ketika Nike menyalakan lilin di kue ulang tahun yang terbuat dari mi instan tersebut, tentu saja mi instan yang digunakan merupakan varian favorit Nio, yakni varian mi goreng.


“Maaf, kami terlambat merayakan ulang tahunmu.”


Yang berkata dengan wajah sedih tadi adalah Lisa, sementara Arunika lebih khawatir jika Nio merasa kesal karena ulang tahunnya yang dirayakan pada waktu yang tidak tepat.


Nio kemudian duduk di sofa kosong, dengan Hevaz berdiri di belakangnya sambil memandangi tuannya yang sedang menatap kue ulang tahun mi instan di depannya dengan datar. Dia saat ini tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran Nio.


Beberapa saat kemudian, ada suara mesin kendaraan di jalan depan rumah, dan suara orang yang terdengar berjumlah banyak, sekitar puluhan orang. Bahkan Nio sekalipun tidak bisa menebak siapa orang-orang yang ada di depan rumahnya. Setelah beberapa menit menebak-nebak, terdengar suara bel yang sepertinya memang dibunyikan oleh orang-orang itu.


Tetapi, Arunika dan Lisa tidak tahu apakah Nio akan terkejut dengan kejutan yang mereka berikan padanya. Karena ini bukanlah waktu yang tepat untuk merayakan ulang tahun, dan lebih tepat untuk merayakan perpisahan Nio untuk melepasnya bertugas kembali ke dunia lain.


“Oh… jadi ini rumah baru mu, Nio…”


Herlina terlihat melangkah ke ruang tamu bersama puluhan orang lainnya di belakangnya, termasuk Dina dan Tania, serta Rika yang diijinkan libur beberapa hari dari perusahaan pengembangan senjata di kota bawah tanah. Anggota Regu penjelajah 1 yang kini bisa disebut dengan ‘mantan’ anggota juga datang tanpa sepengetahuan Nio. Liben terlihat menggandeng tangan Ivy yang membuat beberapa orang lainnya memasang wajah mengancam padanya.


“Rumah ini sepertinya cocok dibangun di Arevelk.”


Sigiz terlihat membawa sebuah kotak besar yang entah apa isinya, bersama Lux dan Zariv yang mengenakan pakaian biasa yang mereka beli di toko pakaian dan lebih memperlihatkan pesona perempuan mereka daripada ketika mengenakan pakaian tempur. Edera terlihat masih ragu-ragu untuk masuk ke dalam rumah, dan berjalan di belakang Sheyn yang juga mengenakan pakaian bangsawan Yekirnovo.


Namun, kesenangan para gadis dari dunia lain itu karena berhasil menemukan rumah Nio sesaat kemudian menghilang setelah mereka melihat sosok Hevaz yang sedang berdiri di belakang tempat duduk Nio tadi.


“Jadi ini sebabnya kita tidak melihatnya di penginapan?”

__ADS_1


Sheyn berkata dengan wajah terlihat mengancam, begitu juga dengan Sigiz dan yang lainnya.


Sementara itu, Nio masih berdiri di teras tanpa bergerak setelah puluhan orang yang datang ke rumahnya berjalan memasuki rumah tanpa seiijinnya. Atau mungkin lebih tepatnya dia sangat terkejut karena kedatangan mantan bawahan dan gadis-gadis dunia lain di rumahnya, dia tidak mengharapkan kehadiran mereka sebelumnya.


__ADS_2