Prajurit SMA

Prajurit SMA
Kembali


__ADS_3

Sehari setelah pertarungan menghadapi raja minotaur dan monster-monster penghuni lantai sepuluh Labirin ini, dan energi magis Hevaz telah cukup untuk memindahkan puluhan orang sekaligus. Seharusnya, Nio dan Hassan masih melaksanakan misi pengintaian dan penyusupan di Kota Tanoe, namun mereka berdua terpaksa harus menghadapi pertarungan yang tidak berguna di sini. Mereka berdua memang dilatih untuk siap menghadapi pertempuran tiba-tiba, dan ketika Nio memikirkan adanya Hassan di sini dia menganggap wakil kaptennya telah meninggalkan tanggung jawab yang Nio berikan padanya.


Meski mereka siap mengikuti perintah yang mengirim mereka ke mana-mana, mereka memutuskan tidak ingin dikirimkan ke wilayah dengan populasi monster sangat banyak seperti yang ada di Labirin. Walau begitu, perintah atasan tidak dapat ditolak selama tidak melanggar nilai kemanusiaan.


“Tidak ada yang menyuruhmu kemari. Mungkin nanti kau akan mendapatkan hukuman.”


Hassan memang memiliki banyak alasan untuk pernyataan yang dikatakan Nio, seperti yang telah disebutkan di atas. Tidak adanya kapten atau wakil kapten dalam tim pasti akan membuat para anggota kebingungan, dan kemungkinan buruknya mereka akan melakukan tindakan yang melanggar aturan.


Tim Ke-12 telah diberi tugas untuk mencari informasi di kota yang berada di dekat ibukota Kekaisaran Luan. Tetapi karena Nio menghilang secara tiba-tiba dan Hassan yang memaksa ingin membantu mencari Nio pada Hevaz mungkin membuat anggota tim tidak dapat melaksanakan misi sesuai harapan.


Tapi, tetap saja Nio merasakan sesuatu dari tindakan Hassan yang telah membantu Nio dan para gadis menghadapi gelombang serangan monster. Hati Nio merasa bersalah ketika mengatakan kalimat ‘hukuman’ kepada Hassan yang telah memberikan bantuan meski tidak memiliki pengalaman menghadapi monster sebanyak Nio. Di sisi lain, Hassan juga memasang wajah bersalah karena meninggalkan tim tanpa memberi arahan yang jelas.


“Maaf, seharusnya memang begitu. Tapi, kau telah memberikan yang terbaik dan menyelamatkanku dan para gadis Penjelajah. Terimakasih.”


Dengan senyum pasrah Hassan berkata, “Yah, saya memang telah mempersiapkan diri mendapatkan hukuman atas tindakan saya.”


Bagaimanapun, Hassan lebih tua beberapa tahun dari Nio, dan Nio tidak tega berkata seperti itu terhadap orang yang seharusnya dia hormati. Namun, sebagai perwira yang menjadi atasan Hassan, Nio ditugaskan untuk bekerja sesuai posisinya dan tetap diharuskan bersikap tegas walaupun ia memiliki bawahan jauh lebih tua dan berpengalaman.


Komentar Hassan yang Nio dapatkan atas perkataannya cukup membuat Nio merasakan sesuatu, dia bahkan belum berterimakasih dengan benar. Nio merasa Hassan mengatakan sesuatu di dalam hati tentang pencapaiannya hingga hari ini, namun bahkan Nio sendiri membicarakan ‘hukuman’ atas kelalaiannya meninggalkan tim.


Di sisi lain, Hassan merasa Nio telah berterimakasih dengan tulus, dan dirinya telah menerima jika dia mendapatkan sanksi setelah meninggalkan tim tanpa perintah. Karena itu bukanlah yang pantas dilakukan ketika Hassan sendiri tahu Persekutuan berada dalam bahaya.


“Baiklah, omong-omong apa kalian benar-benar akan ikut dengan kami, ke Persekutuan?” tanya Nio untuk memperjelas pertanyaannya atas penyataan Nefe, Kardas, Sayf, dan Sabole mengenai keinginan mereka berempat untuk keluar dari Kekaisaran Duiwel.


Mempertimbangkan kapasitas kamp pengungsi dan sukarelawan, memang tempat luas tersebut memiliki ribuan tempat tidur. Mayoritas bahan bangunan disuplai Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo, termasuk kayu dan lain-lain. Selain itu, pasukan dapat dengan mudah melakukan perluasan tempat tinggal bagi pengungsi, mengingat mereka juga membawa staf sipil dan peralatan berat untuk menunjang pembangunan kembali benteng dan kamp pengungsi.


Selain itu, jika keempat gadis Penjelajah benar-benar akan ikut kembali bersama mereka bertiga, itu berarti mereka telah dinyatakan sebagai membelot dari negara asal. Kehilangan empat warga negara memang bukanlah kerugian yang besar, selama yang hilang bukanlah wilayah atau seseorang yang benar-benar berharga bagi negeri tersebut. Di sisi lain, Persekutuan memiliki keuntungan kecil dengan membelotnya empat warga negara Kekaisaran Duiwel, atau setidaknya Nio berpikir seperti itu. Nio bukanlah perwira yang memiliki wewenang untuk menerima pembelot dan pengungsi.


“Letnan, tolong tanyakan pada mereka apakah kehidupan mereka saat menjadi Penjelajah jauh dari apa yang mereka harapkan?”


Keempat gadis Penjelajah belum menjawab pertanyaan dari Nio, namun Hassan telah meminta Nio untuk memberikan pertanyaan tambahan. Pria tersebut sebenarnya menyadari jika mereka berempat masih bingung mengambil keputusan, namun Hassan penasaran dengan kehidupan mereka sebagai pencari barang berharga di Labirin.


Mereka telah mendapatkan banyak barang berharga selama menjelajah bersama Nio, dengan tambahan tanduk raja minotaur yang sangat sulit hancur meski terkena ledakan dari granat. Hanya itu yang tersisa dari raja minotaur setelah hampir setengah tubuhnya hancur oleh ledakan granat karena Nio tidak menginginkan pertarungan yang terlalu lama.


“Kami ingin keluar dari Kekaisaran Duiwel bukan karena kami masih dalam kemiskinan meski telah menjadi Penjelajah. Kami tahu, Persekutuan memiliki kekuatan yang cukup untuk mengalahkan negara itu dalam sekejap setelah melihat senjata dan kemampuan bertarung Hevaz dan Nio.”


Jawaban yang diberikan Kardas masih membuat Nio dan Hassan tidak mengerti, bahkan itu belum mencangkup alasan mereka ingin keluar dari negara mereka dan ingin berpihak pada Persekutuan.


“Kami adalah yatim piatu, dan terpaksa menjadi Penjelajah sejak kecil. Setelah Kekaisaran menyatakan bergabung dengan Aliansi dan memerangi negeri kalian, seluruh golongan rakyat dikenai pajak jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Karena itu, uang yang kami hasilkan dari menjelajah tidak cukup untuk membeli kebutuhan sehari-hari.”


Sama seperti negara di Benua Andzrev, Kekaisaran Duiwel juga memiliki sistem pembagian golongan masyarakat tergantung posisi mereka dalam kehidupan bernegara. Tingkat tertinggi adalah keluarga Kaisar, lalu tingkat terendah adalah rakyat jelata. Budak tidak termasuk ke dalam kehidupan masyarakat karena mereka telah dihilangkan harga diri sebagai manusia, dan dapat diperlakukan layaknya ternak.


Seluruh keluarga yang tinggal di Kekaisaran Duiwel harus memberikan dua puluh persen dari penghasilan mereka selama satu bulan sebagai pajak, dengan kedok asli sebagai dana perang. Baik itu bangsawan maupun keluarga miskin dikenai jumlah yang sama tanpa keringanan, dan yang menolak akan dijadikan pekerja paksa untuk membuat senjata bagi pasukan yang berperang. Pilihan terbaik untuk dapat terhindar dari pajak yang besar tersebut adalah menjadi prajurit, karena kehidupan mereka akan dihabiskan untuk berperang melawan musuh yang datang dari ‘dunia lain’ dan tengan menguasai Tanah Suci mereka.


Dengan kata lain, Kekaisaran Duiwel adalah negeri yang menjunjung tinggi kekuatan militer, dan percaya bahwa kehormatan dapat diraih setelah memenangkan suatu peperangan. Sayangnya, syarat seseorang yang ingin menjadi prajurit bagi Kekaisaran Duiwel sangat ketat, karena mereka tengah menghadapi lawan yang memiliki kekuatan sangat besar dan terus memenangkan seluruh pertempuran selama mereka berada di dunia ini. Salah satu syarat tersebut adalah pasukan Kekaisaran hanya menginginkan prajurit pria.


Itu sebabnya Kardas, Sabole, Nefe, dan Sayf gelisah dengan kehidupan mereka ketika perang masih tengah berlangsung. Barang berharga yang mereka dapatkan dari menjelajahi lantai sepuluh ini mungkin dapat membuat mereka terbebas dari pajak beberapa bulan kedepan, namun mereka tetap diwajibkan membayar pajak setelah waktu yang ditentukan. Keempat gadis Penjelajah tersebut selalu hidup bersama setelah memutuskan membentuk Kelompok Penjelajah mereka sendiri.


“Yah, itu cerita yang cukup menyentuh hati. Tapi maaf, aku masih tidak dapat menerima kalian begitu saja.”


“Nio, apa kau tidak melihat apa yang mereka lakukan saat pertarungan kemarin? Paling tidak beri mereka alasan yang membuat mereka senang atau semacamnya.”


“Sakuya, kenapa kau marah? Aku bisa menerima mereka karena aku bukan yang memutuskan menerima pembelot seperti mereka atau tidak. Jujur saja, menurutku adanya mereka berempat mungkin Persekutuan akan mendapatkan beberapa informasi tentang terlibatnya Duiwel pada perang ini.”


Sakuya terdiam setelah mendengar jawaban Nio, namun ia kembali merasakan sesuatu di dalam hatinya setelah melihat ekspresi Nefe, Sabole, Kardas, dan Sayf yang tiba-tiba berubah.

__ADS_1


Meski mereka tidak mengerti apa yang Nio katakan, dapat dipastikan jika mereka mengetahui makna perkataan pria itu. Wajah murung yang bercampur dengan ekspresi sedih terlihat jelas di masing-masing wajah keempat gadis Penjelajah tersebut.


“Kami berencana menjadi prajurit untuk Persekutuan, dengan begitu kehidupan kami akan berguna daripada terus hidup di negara yang menggilai peperangan,” ucap Kardas dengan wajah tenang, meski kedua matanya menunjukkan penderitaan yang menurut Nio tidak merupakan suatu tipuan – tapi siapa yang tahu? Mereka berempat, termasuk Sakuya adalah orang yang berasal dan memihak Aliansi, meski hati Nio dapat merasakan bantuan yang tulus dari mereka berlima.


“Kardas, seharusnya kau sadar dengan resiko nyata dari menjadi seorang prajurit di masa perang seperti sekarang. Jangan berkata seolah kau akan menyia-nyiakan hidupmu di medan perang. Kau tidak bisa mengandalkan apapun selain teman yang dapat dipercaya, senjata, dan keberuntungan mu saat sudah terlanjur berada di tengan pertarungan yang membuatmu berada di tengah batas tipis antara kematian dan kehidupan.”


Nio tidak paham mengapa dirinya berkata seperti itu saat dia tahu bahwa perasaan keempat gadis Penjelajah tersebut tidak dapat diubah, dan keputusan mereka telah bulat.


Namun, yang memutuskan akan membawa mereka atau tidak tetaplah Hevaz, karena dia adalah orang yang akan memindahkan mereka kembali dari Labirin ini. Bibir merah Hevaz membentuk senyuman saat dia menyadari hal tersebut dan memejamkan mata sesaat untuk memikirkan apa yang harus dia lakukan terhadap keempat gadis Penjelajah yang benar-benar gigih dengan keinginan mereka. Sementara itu, Nio hanyalah orang yang akan dipindahkan bersama Hassan dan dirinya.


Hevaz tidak sepenuhnya senang saat mendengar Nio berusaha menolak menerima keempat gadis Penjelajah dengan cara sehalus mungkin. Dia merasa Nio berusaha mengatakan berbagai hal yang secara tak langsung diharapkan dapat membuat keempat gadis tersebut ragu untuk keluar dari Kekaisaran Duiwel. Tapi Hevaz juga membenci alasan mereka yang berencana bergabung pada militer Persekutuan.


“Apa yang dapat kalian berikan? Bayaran untuk sihir perpindahan-ku sangat mahal, tahu. Apalagi kalian berjumlah empat orang, seharusnya kalian tahu kalau sihir perpindahan membutuhkan energi magis cukup besar.”


Nio sama sekali tidak paham dengan pikiran Hevaz, namun perkataan gadis itu berhasil membuat keempat gadis Penjelajah nampak ragu-ragu untuk menjawab. Sementara itu, Sakuya merupakan pihak yang tidak ingin terlibat dalam masalah ini lebih jauh, dan memilih diam agar Hevaz memutuskan untuk membawa mereka berempat atau tidak.


Sayf dan Kardas adalah Penjelajah kelas petarung yang kemampuannya telah mereka perlihatkan ketika pertarungan kemarin, meski yang mereka hadapi berupa monster berukuran sedang dan kecil. Nefe dan Sabole adalah penyihir yang cukup hebat, atau setidaknya itu penilaian Nio dan Hassan menurut pandangan orang ‘dunia lain’. Sihir pembekuan baru pertama kali Nio lihat, dan belum pernah dia saksikan dalam pertempuran sebelumnya. Nio menilai sihir tersebut dapat cukup mematikan jika digunakan menggunakan taktik yang sesuai.


Mereka berempat sering menjelajahi lantai di atas lantai empat hanya untuk menilai diri mereka sendiri apakah kemampuan bertarung mereka meningkat atau sama saja. Itu sebelum mereka kehilangan satu teman saat pertarungan pertama di lantai sepuluh ini. Kehilangan satu teman yang hampir setiap hari menjelajahi bersama lantai dua hingga lima membuat mereka berempat cukup terpukul, namun tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan karena itu tidak berguna.


“Kami tidak punya apapun untuk membayar Anda, Utusan. Semua barang berharga yang kami dapatkan mungkin tidak cukup untuk membayar jasa teman Nio dan Nio sendiri jika kami menjual semuanya.”


Hassan merasa dirinya dibicarakan oleh Nefe kemudian bertanya pada Nio, “Let, apa yang dia bicarakan? Aku merasa dia membicarakan kita berdua.”


Kemampuan bertarung Kardas dan Sayf satu tingkat di atas prajurit reguler Aliansi, dan Nio sendiri percaya dapat bertarung cukup lama dan sengit dengan mereka berdua dengan kemampuannya saat ini. Sementara itu, Nio telah memikirkan beberapa strategi menggunakan sihir spesialis yang dikuasai Nefe dan Sabole, salah satunya sihir pembekuan. Sayangnya, dia tetap merasa tidak memiliki kekuasaan untuk membawa mereka.


“Mereka kebingungan membayar bantuan kita,” Nio menanggapi pertanyaan Hassan.


“Kenapa mereka sampai sebegitunya? Padahal pertarungan kemarin hitung-hitung menambah pengalamanku,” keluh Hassan.


Sebenarnya, pertarungan kemarin adalah yang paling membuat Hassan terkesan. Memanfaatkan dirinya yang berhasil memaksa Hevaz agar diikutsertakan dalam pencarian Nio, Hassan akhirnya dapat sedikit merasakan apa yang dihadapi Nio ketika penyerangan besar Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi. Meski tidak sesengit pertempuran pertama Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi, pertarungan menghadapi ratusan monster berhasil membuat Hassan gelisah, dan hingga hari ini kepalanya masih sakit. Namun, dia tidak dapat membayangkan bagaimana kondisi Nio ketika penyerangan besar tiga kali sehari Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi – yang pastinya tidak membiarkan seluruh prajurit saat itu tidur.


“Letnan, apa kau bisa merasakan jika Aliansi menggerakkan banyak pasukannya?”


Sebelum berpindah dan berada di lantai sepuluh Labirin ini, Hassan sebelumnya melihat adanya pasukan dengan jumlah besar mendirikan perkemahan di dekat Kota Tanoe. Namun, dia menebak jika pasukan tersebut tidak akan bergerak hingga beberapa hari kedepan, sehingga Hassan merasa masih memiliki waktu untuk membawa kembali Nio.


“Eh? Jadi beneran ada pergerakan dari pasukan musuh?!” ucap Nio dengan panik, namun justru Hassan terlihat jauh lebih panik.


Alasannya sudah jelas, karena Hassan meninggalkan tim ketika dia sendiri melihat musuh mulai bergerak. Kegelisahan di hatinya serta perasaan takut jika Nio mengamuk di sini membuat wajah Hassan nampak pucat. Sakit kepala yang sebelumnya Hassan rasakan semakin membuat dirinya tersiksa.


Apa yang membuat Hassan berada di tempat ini adalah berkat kegigihannya dalam memaksa Hevaz – yang jauh lebih kuat darinya. Jika dia harus mengatakannya, Hassan akan mengakui jika apa yang dia lakukan adalah tindakan yang sembrono dan tidak bertanggung jawab. Sementara itu, Nio berakhir di tempat ini karena musuh secara tidak sengaja memindahkan dia hingga berada di tempat ini.


“Ya, dari pengakuan Pahlawan Kesedihan, Aliansi menggerakkan pasukannya untuk merebut kembali Benteng Hitam,” jawab Hevaz.


“Hevaz, jangan bilang kalau kau memaksa Indah untuk memberikan jawaban yang sebenarnya padamu,” Nio berkata dengan wajah dan nada mengancam.


Hassan dan Hevaz kemudian sama-sama tersenyum kecil dengan keringat dingin mengalir di pipi mereka. Saat berikutnya, suasana hati Nio kembali berubah, lalu kembali menatap wajah keempat gadis Penjelajah satu persatu.


Nio menatap mereka berempat dengan satu-satunya matanya ke arah mata mereka berempat, seolah mengatakan dia tidak punya waktu untuk terus membicarakan hal tentang keinginan mereka untuk keluar dari Duiwel untuk menjadi prajurit Persekutuan. Dia tidak dapat menemukan apapun untuk dikatakan sebagai tanggapan, dia merasa perkataannya sebelumnya membuat perasaan keempat gadis di depannya sedih.


“Saya sarankan untuk membawa mereka. Mungkin mereka dapat memberikan beberapa informasi,” ucap Hevaz menyarankan Nio.


“Benar!” tiba-tiba Nefe berkata dengan nada cukup keras.


“Kami memiliki beberapa informasi tentang kekaisaran ini. Jika kau mau membawa kami, maka Persekutuan akan mendapatkan informasi penting,” lanjut gadis itu dengan wajah bersemangat seolah-olah kesempatan telah dia dan teman-temannya dapatkan.

__ADS_1


Nio justru mengerutkan kening dan memijat keningnya untuk mencari jawaban yang tepat. Dia tidak menyangka jika setelah pertarungan panjang kemarin yang membuatnya pusing, kini Nio diharuskan berpikir lagi karena masih ada perasaan ragu di hatinya.


“Demi apa kalian melakukan hal itu?” tanyanya.


Sabole maju beberapa langkah, dan berdiri di depan Nio yang lebih tinggi darinya. Dia hanya setinggi dada Nio, dan harus mendongakkan kepalanya untuk mengatakan dengan wajah yakin, “Demi mendapatkan kebebasan dari negeri yang lebih mementingkan perang ini.”


Nio dapat melihat dari tatapan keempat gadis Penjelajah bahwa mereka benar-benar memiliki keinginan besar untuk keluar dari kekaisaran ini. Dia tidak memiliki kemampuan untuk membawa mereka berempat, ditambah dirinya dan Hassan. Namun, Hevaz memiliki kekuatan itu, dan keputusan ada di tangan Hevaz. Gadis itu mulai merangkai kata-kata mantra untuk mengeluarkan sihir perpindahan atau teleportasinya.


Dengan begitu, keputusan telah dibuat, yakni Nefe, Kardas, Sayf, dan Sabole akan dibawa dan keinginan mereka untuk keluar dari Kekaisaran Duiwel telah diwujudkan. Senyum yang tak terhitung nilainya diperlihatkan mereka berempat, dan membuat Nio tidak tega untuk menghancurkan kebahagiaan mereka.


Namun, Sakuya yang berdiri di belakang mereka tiba-tiba memutih dan lingkaran sihir dengan pola geometris yang menghiasinya muncul di bawah kakinya. Itu mirip dengan yang terjadi pada Nio, ketika dia dipindahkan secara tiba-tiba ke tempat yang disebut lantai sepuluh ini.


“Apa kau juga akan berpindah, Pahlawan Empati?” tanya Hevaz.


“Eh, jadi dia tidak ikut dipindahkan bersama kita?” tanya Nio dengan wajah polosnya.


“Tentu saja tidak, karena aku memiliki penyihir sendiri yang akan memindahkan kami dari tempat ini ke asal,” kata Hevaz.


“Kami? Jadi dia juga ada di sini?” tanya Nio kembali untuk memastikan sesuatu.


“Maksudmu Rio? Ya, tentu saja. Lalu, orang yang berasal dari Indonesia bernama Baron juga ada di Labirin ini.”


“Baron?!”


Wajah terkejut Nio benar-benar tidak seperti dibuat-buat setelah mengetahui fakta dari pahlawan itu sendiri jika salah satu orang yang paling tidak Nio sukai merupakan salah satu pahlawan yang berperang melawan Persekutuan. Dia benar-benar bingung dan terkejut setelah tahu jika seluruh pahlawan yang berasal dari Indonesia adalah orang yang ia kenal.


Sakuya berjalan mendekat ke arah Nio ketika persiapan dirinya untuk dipindahkan hampir selesai. Gadis Jepang tersebut hanya perlu menghubungkan sebagian besar energi magisnya terhadap penyihir yang akan memindahkan dirinya dari tempat ini ke titik tujuan, jadi Hevaz dapat memberikan waktu bagi dirinya sendiri untuk mengatakan sesuatu kepada Nio.


“Kita akan kembali menjadi musuh?” tanya Sakuya.


“Jika kita bertemu di medan perang, jawabannya ‘iya’.”


Di dalam hatinya, Nio berkata agar Sakuya cepat-cepat berpindah tempat agar dirinya dapat melakukan hal yang sama. Namun, dia kembali merasa heran dengan Hevaz yang dapat berbicara padanya dengan akrab.


Sakuya kemudian mengambil satu pedang miliknya yang pernah dia pinjamkan pada Nio pada pertarungan kemarin. Dia mengarahkan pedangnya ke depan sebagai kode jika dia memberikannya pada Nio. Hati Sakuya merasa jika dia harus memberikan sesuatu pada Nio agar dirinya tetap terhubung dan pria itu tidak melupakan jika mereka berdua pernah bekerja sama untuk sementara.


Jika dalam situasi normal, Sakuya akan menerima banyak serangan dan cacian karena seharusnya memang seperti itu jika berhadapan dengan musuh, dan tidak mungkin prajurit yang seharusnya saling bermusuhan malah bekerja sama. Namun, Nio dan Hassan sama sekali tidak menunjukkan kebencian terhadap dirinya dan bertarung bersama hingga akhir.


Pedang lengkap dengan sarungnya Nio terima, lalu dia bertanya, “Apa kau memberikan ini?”


“Ya, kau bisa memilikinya.”


Itu adalah pedang lurus yang tidak cocok bagi gadis samurai seperti Sakuya – yang lebih cocok bertarung menggunakan katana panjang biasa. Pedang lurus seperti itu cocok bagi orang yang membutuhkan pergerakan lincah, seperti Nio yang lebih menyukai pertarungan cepat daripada menembak dengan kemungkinan meleset cukup besar.


Cahaya putih bersinar semakin terang dan menutupi seluruh tubuh Sakuya untuk mengirim gadis tersebut ke titik yang telah ditentukan. Sakuya menghilang dari hadapan Nio, dan untuk sesaat Nio melihat gadis itu tersenyum ke arahnya sambil mengatakan sesuatu namun dia tidak mendengar apapun dan merasa jika gadis itu hanya membuka mulutnya. Atau begitu yang Nio rasakan, namun dia benar-benar percaya jika Sakuya berusaha mengatakan sesuatu meski tahu tidak akan dapat dia dengar.


Nio mencabut sedikit untuk melihat bilah pedang, dan dia melihat bilah pedang dihiasi dengan pola seperti grafik detak jantung. Nio harus mengakui jika pedang yang diberikan Sakuya untuknya terlihat lebih bagus dan berkualitas tinggi dari pedang standar yang dia miliki sebelumnya yang mudah patah.


“Bisa kita berangkat sekarang, Tuan Nio?”


Tanpa sadar, lingkaran sihir dengan pola yang sama seperti yang membuatnya dipindahkan ke tempat ini sudah ada di bawah kakinya.


Lingkaran sihir bersinar sangat terang dengan warna putih, lalu memenuhi tubuh Nio, Hevaz, Hassan, Sabole, Kardas, Nefe, dan Sayf ke titik yang telah dibayangkan oleh Hevaz, yakni Kota Tanoe. Sesaat kemudian cahaya putih menghilang dengan seluruh orang dipindahkan ke titik yang telah ditentukan.


**

__ADS_1



(ilustrasi pedang milik Nio saat ini, sumber gambar pinterest)


__ADS_2