
Seperti yang diketahui, kemenangan adalah zat adiktif berbahaya, sehingga para veteran telah memperingati para prajurit aktif akan hal tersebut.
Kemenangan besar berturut-turut membawa kejayaan paling indah bagi pihak yang terlibat, khususnya bangsa asal pasukan tersebut. Karena itu, ketika suatu pihak telah jatuh pada kemenangan yang membuat candu, hanya ada pikiran untuk meraih kemenangan lain yang lebih banyak. Tetapi, tidak ada yang diijinkan bertanya tentang cara untuk mendapatkan dan demi apa kemenangan itu. Negara dan militer pada dasarnya adalah pihak yang berlawanan.
Itu sebabnya, banyak prajurit yang tidak suka dipanggil maniak perang, sebutan ‘pengecut’ jauh lebih baik.
“Jadi, saya pikir menghindari pengeluaran logistik yang berlebihan dan sia-sia, serta menjaga dari korban seminimal mungkin, adalah hal yang sangat diperlukan.”
Nio berdiri di depan tampilan hologram yang menampilkan peta medan nyata dan pergerakan pasukan Aliansi dari arah perbatasan barat Kerajaan Arevelk dan Kerajaan Yekirnovo menuju suatu tempat di Kekaisaran Luan. Dia memiliki saran ‘lama’ untuk melakukan penarikan ‘sementara’ agar mempermudah penyebaran pasokan dan penempatan unit-unit baru pada setiap pos di Garnisun Yekirnovo serta Arevelk.
Namun, seorang prajurit berpengalaman yang selalu menyarankan taktik bertahan atau mundur agar unit ‘Serangan Jarak Jauh’ dapat berperan harus siap mendapatkan julukan yang lebih buruk dari ‘cacat’, walau Nio berpikir nama tersebut sesuai dengan kondisinya saat ini.
Namun, dia hanya bekerja sesuai tugasnya sebagai anggota Staf Perencanaan Strategi Tempur Umum dan Khusus.
“Kalau-pun Tuan-Tuan sekalian tidak setuju unit-unit di setiap pos diperintahkan mundur sementara, kita bisa memindahkan mereka ke titik tertentu tapi tetap dekat dengan pos masing-masing. Dengan begitu, kita bisa mengurangi beban bahan bakar, serta memudahkan rencana penyebaran pasukan kembali ke pos-pos baru.”
Tatapan semacam “Kenapa kita masih memiliki orang disabilitas di sini?”, “Cepat katakan taktik serangan tercepat terbaik yang kau miliki!”, dan “Dengan satu tangan, kau seperti kecoak yang sulit mati walau mendapatkan tekanan terus menerus” sengaja Nio abaikan, walau ada beberapa perwira dan komandan yang menyimak dengan serius. Pikirannya hanya tertuju pada pekerjaan para Staf Perencanaan Strategi Tempur Umum dan Khusus yang telah disusun bersamanya, dan membacakannya di depan jajaran perwira menengah hingga tinggi.
Kemudian, Nio duduk untuk mengambil minum, seolah-olah telah menyelesaikan laporannya, wajah tanpa ekspresi Nio yang seperti biasanya membuat beberapa perwira kesal.
Walau dia salah satu perwira termuda di ruang rapat ini, dia benar-benar mengabaikan tatapan sebagian perwira senior.
Sebenarnya, tidak peduli seberapa remeh orang memandang kondisi fisik Nio sekarang, Jenderal Angga menganggap Nio melihatnya sebagai sesuatu yang harus dijalani, dan menganggap bisikan sejumlah perwira dan komandan tidak ada hubungannya dengan Nio. Tim Ke-12 yang dipimpin Nio telah menjalankan misinya bersama Kompi Bantuan 002, dan kembali ke Markas Pusat untuk beristirahat hingga beberapa hari kedepan.
Nio dan para Staf Perencanaan Strategi Tempur Umum dan Khusus hanya menjalankan tugas yang diberikan Jenderal Angga, walau pria itu tidak meminta Nio untuk mempresentasikannya jika pemuda itu lelah atau sibuk dengan suatu pekerjaan.
Di sisi lain, Nio adalah komandan yang mendapatkan perintah langsung dari Jenderal dan komandan Tim Misi Istimewa, jadi para perwira dan komandan di ruangan ini tidak bisa memerintahkannya melakukan sesuatu.
Namun, yang membuat para perwira dan komandan tidak terlalu menyukai Nio bukanlah hal di atas, tetapi usulan ‘mundur sementara untuk memperbaiki semuanya’ yang Nio susun bersama rekan-rekannya.
Pada awalnya, Nio sadar ada banyak perwira yang menginginkan pembalasan setelah harus bertahan terus-menerus atas serbuan Aliansi, tapi menyerang bukanlah tugas Pasukan Perdamaian dan Persekutuan, kecuali pemimpin mereka telah sepakat memberikan perintah menyerbu dan mengalahkan musuh dalam suatu pertempuran yang pihak Persekutuan dan Pasukan Perdamaian rencanakan.
Menjadi unit penekan, tempur khusus, bantuan reaksi cepat, penjelajahan semi-gerilya, dan pembuat taktik adalah tugas dan fungsi Tim Misi Istimewa, dan Tim Ke-12 adalah bagian dari unit tersebut. Namun, tanpa sadar seorang Nio mampu menjadi penekan bagi perwira-perwira senior di depannya.
Seorang jenderal di rapat ini seharusnya memiliki pengaruh yang lebih besar daripada letnan satu remaja yang sedang beristirahat. Tetapi, Nio tetap menunjukkan sikap ramah dan hormat, dan menunggu adanya pertanyaan yang diajukan padanya.
Salah satu laporan yang Nio bacakan berisi tentang anggota baru Persekutuan, Kerajaan Hayvan, menemukan warga Indonesia yang diculik Kekaisaran Duiwel, anggota Aliansi. Hal itu sudah cukup untuk melancarkan serangan ke salah satu negara di Benua Debule tersebut. Selain itu, ada kebutuhan untuk melakukan pengintaian secara terbuka melalui berbagai jalur untuk mencari korban di negara-negara anggota Aliansi di Benua Andzrev dan Debule.
Salah satu perwira mengajukan pertanyaan tentang permasalahan tersebut, membuat kepala Nio berdenyut, dan terpaksa memberikan jawaban ala kadarnya.
“Pertama-tama, saya pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Kakak teman saya yang diculik musuh, berhasil ditemukan di Kekaisaran Luan, itu beberapa minggu sebelum insiden tertutupnya Gerbang Sempurna. Ada banyak pihak yang menyarankan penjelajahan total ke negara-negara musuh untuk mencari warga negara Indonesia yang diculik, tapi menurut saya itu hanyalah langkah berisiko yang dapat menyulut konflik tidak diperlukan.”
“Sebenarnya, saran Letnan Nio bersama Staf Perencanaan Strategi Tempur Umum dan Khusus cukup bagus. Apa yang bisa diambil oleh kita jika unit-unit yang ditempatkan di sepanjang garis perbatasan diperintahkan mundur sementara?”
“Apa yang bisa diambil oleh kita?” ucap Nio, wajahnya menunjukkan ekspresi tercengang.
Para perwira di ruangan ini lebih keras kepala dan menyebalkan dari yang aku kira, begitu pikir Nio.
Tapi, Nio pikir Markas Pusat tidak bisa selalu mengirimkan logistik ke setiap unit di Garnisun Yekirnovo dan Arevelk. Jalur suplai dari dunia asal hanya bisa diakses menggunakan Gerbang tak sempurna, sehingga jumlah pasokan yang didapatkan sangat terbatas. Fasilitas itu terpaksa digunakan hingga cara untuk membuka Gerbang sempurna ditemukan.
Bukan hanya Nio dan Jenderal Angga yang menyadari betapa berantakannya penempatan setiap kompi hingga batalyon di luar Markas Pusat ke kedua negara sekutu. Mengerahkan pasukan kecil untuk melawan pasukan besar dengan peralatan yang tidak sesuai adalah hasil dari tindakan yang tergesa-gesa, meski tidak ada yang salah dengan salahnya penempatan pasukan, karena kesalahan ditanggung pihak yang merencanakannya.
Salah satu akibat dari kesalahan tersebut adalah kehancuran bagi salah satu kompi Pasukan Perdamaian pada sebuah pos di Garnisun Yekirnovo, dan Benteng Girinhi yang hampir hancur karena pertempuran besar satu bulan lalu.
Masalah yang sebenarnya adalah Presiden Suroso yang menginginkan seluruh korban penculikan ditemukan, apapun kondisinya. Hal itu menunjukkan betapa mudahnya Suroso terserang penyakit ‘panik’, dan musuh mungkin mengambil keuntungan dengan memanfaatkan tawanan yang didapatkan dari perang sebelumnya.
Untuk melakukan misi pencarian ke dalam wilayah musuh, prajurit membutuhkan makanan dan senjata.
Terbatasnya akses menuju dari Indonesia ke dunia ini adalah masalah paling memusingkan, bahkan tidak bisa diselesaikan dengan bekerja keras.
Sebenarnya, TNI dan sekutunya dari Rusia serta Korea Utara tidak mau bergerak jauh dari Tanah Suci, tempat berdirinya benteng Pasukan Perdamaian dan Markas Pusat bagi Persekutuan. Perang membutuhkan persediaan dalam jumlah besar. Faktanya, alasan terbesar Nio menyarankan menarik mundur pasukan di sepanjang garis perbatasan untuk sementara adalah logistik. Persediaan di Markas Pusat dari dunia asal yang dikirimkan secara susah payah harus dikelola dengan sangat hati-hati.
Jika itu kelemahan dan masalah yang bisa diselesaikan dalam jangka waktu tidak dekat, Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo bersedia menyediakan makanan bagi prajurit Indonesia, Rusia, dan Korea Utara, tentu saja makanan asli yang bercita rasa dan bukan makanan sintetis buatan pabrik.
Saran dan rencana Staf Perencanaan Strategi Umum dan Khusus tidak lebih dari menjaga persediaan dan moral pasukan. Dengan kata lain, itu adalah opsi yang memungkinkan untuk direalisasikan.
Baek-ho adalah komandan Tim Misi Istimewa yang telah bekerja keras menangani tim berisi prajurit berbakat, dan membuat mereka berperan penuh dalam perang ini. Dia dapat mengerti meskipun pasukan yang dia pimpin diisi personel pasukan elit, mereka tidak bisa menjelajahi lebih jauh di luar wilayah Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo, walaupun Persekutuan dan Pasukan Perdamaian memiliki keunggulan yang jelas atas Aliansi.
Tentu saja, sebagai atasan Nio, Baek-ho mengerti bahwa saat ini Pasukan Perdamaian kesulitan dalam mengelola pasukan dan logistik yang berharga. Di sisi lain, dia merasa lega Tim Ke-12 yang dipimpin Nio menjadi salah satu pihak yang terlibat dalam pertempuran di Benteng Girinhi, walaupun dengan menumpahkan darah beberapa prajurit. Tetapi, hal itu merupakan hasil dari masalah pembagian pasokan dan kesalahan penempatan pasukan di garis depan. Perwira angkatan bersenjata Korea Utara tersebut menyadari hanya segelintir orang yang menyadari masalah tersebut, salah satunya Nio.
“Letnan Nio, apa Tim Misi Istimewa tidak dapat menjaga dan mempertahankan jalur pasokan dan pengiriman pasukan? Apa kau berpikir kita harus terus bertahan, menanggapi serbuan musuh tanpa membalasnya?” ucapan salah satu perwira TNI tampak disetujui beberapa orang yang lain.
“Ya,” Nio menjawabnya dengan tenang, membuat sejumlah perwira senior tegang.
Kemudian, dia melanjutkan perkataannya dengan santai, “Saat ini, Tim Misi Istimewa belum mendapatkan tugas semacam itu. Lagipula, tugas kami hanya bersenang-senang bersama musuh sambil membuang banyak tenaga dan amunisi. Dengan kata lain, fungsi kami hanyalah menanggapi serangan sia-sia musuh, menumpas mereka seperti hama.”
__ADS_1
Perwira logistik saling memandang, wajah mereka tampak menunjukkan kekesalan terhadap perwira remaja tersebut. Seperti yang dipikirkan Nio, ada banyak orang yang ingin meneriaki Nio bahwa mereka tidak menyetujui usulannya.
“Letnan Nio, jika kita terus bertahan, kita akan menghabiskan banyak waktu di dunia ini.”
“Semua prajurit tidak ingin perang ini semakin panjang. Dan pasukan tidak ingin kehabisan persediaan, kita juga tidak bisa menahan pasukan terus menerus.”
Bahkan prajurit baru yang lulus kemarin paham jika bertempur tanpa persediaan cukup adalah tindakan bodoh, bahkan warga sipil tertentu tidak perlu pemahaman mendalam akan masalah tersebut.
“Hah? Kenapa kalian mengajukan pertanyaan seolah-olah aku komandan kalian?”
Ada berbagai ekspresi saat Nio mengatakan hal tersebut, semua orang tercengang terhadap bahasa Nio yang dinilai kurang sopan ketika berbicara dengan atasannya.
“Daripada membuang-buang logistik untuk menyerbu ke wilayah musuh, lebih baik kita menunggu kesempatan untuk menyelesaikan perang ini dalam satu serangan yang menentukan.”
Sikap Nio yang penuh percaya diri saat mengatakan hal di atas mendapatkan senyum pujian dari Jenderal Angga dan Kapten Lee Baek-ho. Mereka berdua memasang ekspresi yang mengatakan bahwa mereka sepenuhnya percaya hal itu adalah salah satu pilihan untuk menyelesaikan perang panjang ini.
“Kita bisa melakukan serangan kejut yang berdampak besar pada musuh. Kita telah mendapatkan data tentang sebagian kelemahan Aliansi,” ucap kepala Staf Logistik.
Dia melanjutkan bahwa Batalyon Suplai memiliki amunisi yang cukup hingga enam bulan kedepan, ransum untuk dua bulan, semua itu belum termasuk logistik tambahan baru yang akan dikirim bulan depan. Data tersebut menunjukkan pasukan bisa bertarung selama dua bulan dalam pertempuran total.
Tapi, Nio menanggapi perkataan kepala Staf Suplai tanpa ekspresi, “Saya menentangnya. Musuh selalu melakukan penyerbuan keras. Saya berpikir kita tidak bisa menerobos dalam waktu singkat.” Dia berkata seperti itu, seolah-olah gagasan kepala Staf Suplai tidak masuk akal.
Nio melanjutkan, “Begitu kita menerobos jauh ke wilayah Aliansi, secara otomatis prajurit akan dipaksa untuk mempertahankan jalur logistik, jika kemungkinan kejadian kekurangan bahan bakar untuk kendaraan pengangkut terjadi. Keunggulan luar biasa kita tidak ada gunanya.”
Beberapa perwira kembali menunjukkan ekspresi kesal, tetapi sejumlah orang menunjukkan kepercayaan terhadap kemungkinan tersebut.
Sejujurnya, hampir semua perwira mengalami sakit kepala pada rapat ini. Jika mereka ingin menemukan cara untuk mengakhiri perang ini, maka bertahan bukanlah pilihan yang buruk.
Masalah logistik mampu diatasi jika pemerintah mengirimkan kereta beserta rel-nya ke dunia ini, namun permasalahan anggaran merubah segalanya.
“Kamu mungkin benar, Letnan Satu ‘Tentara Pelajar’ Nio. Tapi, musuh tidak memiliki moral yang kuat ketika menghadapi kita. Kaulah yang mengerti keadaan musuh, seorang perwira lapangan yang mendapatkan kemenangan meskipun kalah dalam kekuatan. Apa kamu benar-benar berpikir Aliansi perlu diwaspadai?”
Taktik utama musuh adalah menyerbu dalam jumlah besar, secara beramai-ramai, dan menggunakan strategi kuno, tidak peduli senjata modern yang mereka gunakan. Menghadapi jutaan prajurit Aliansi hanya memberatkan beban prajurit. Bahkan jika terdapat pasukan baru yang dikirimkan, langkah itu belum tentu mengatasi masalah tersebut.
“Kita menang karena kualitas dan kekuatan senjata. Kita harus bergerak secepatnya daripada menghabiskan logistik tanpa melakukan apa-apa,” ucap salah satu perwira menengah berpangkat Mayor.
Seorang letnan satu remaja yang keras kepala membuat perdebatan di sini berlangsung cukup lama. Benar-benar membuang waktu.
“Benarkah? Secara pribadi, saya mendengar jika hanya ada sedikit unit yang bertempur hingga kelelahan, salah satunya Kompi Bantuan 002 yang dipimpin Mayor Kim Baek-ki. Upaya mereka dan tim saya tidak didukung oleh pasukan dengan jumlah seharusnya. Walaupun Markas Pusat mengirimkan senjata berat dan robot tempur, bantuan seperti itu belum mampu menggentarkan musuh. Mereka pasti sedang mencari cara untuk menghadapi kedua jenis senjata tersebut.”
Jawaban Nio hanya membuat sejumlah hati perwira terasa tertusuk, merusak rencana mereka untuk menghentikan argumen Nio.
“Tapi, Tim Ke-12 pernah mengalahkan musuh dengan jumlah setara satu divisi. Tim-mu membantai sebuah pasukan yang jauh lebih banyak.”
“Omong-omong, saya yakin para staf Tim Misi Istimewa merahasiakan informasi penting yang tidak bisa disebarkan dengan bebas. Sebenarnya, kami hanya mengalahkan pasukan dengan total satu kompi, dan hanya membuat mereka mundur.”
Sejumlah perwira mengerutkan kening saat Nio menekankan bahwa Tim Ke-12 yang dikomandaninya pernah mengusir musuh.
Itulah yang terjadi jika Markas Pusat selalu menekan unit-unit tempur dan lapangan biasa dengan perintah tidak sesuai dengan kondisi. Tetapi, Markas Pusat sendiri menyadari bahwa menolak perintah dari atasan adalah hal yang sia-sia. Mereka tidak dapat membayangkan perwira-perwira tinggi di Markas Besar marah.
Meskipun perjuangan Pasukan Perdamaian dan Persekutuan hampir mencapai dua tahun, Jenderal Angga telah melemparkan banyak umpatan dan kutukan terhadap para staf di Markas Besar TNI yang sedang menikmati masa damai. Alasan dia melakukan hal itu adalah kesalahan berulang yang selalu tak di sadari ketika mengirimkan berbagai perintah yang membuat Aliansi terus berkembang. Jadi, setiap kali Angga memikirkan orang-orang di Indonesia yang sangat ingin mengorbangkan nyawa berharga para prajurit, dia merasa tertekan dan marah.
Angga memandangi para bawahannya, personel TRIP di dunia ini, dan segelintir perwira Korea Utara dan Rusia, dengan tatapan mengatakan “Kalian berhutang nyawa pada Nio dan orang-orangnya, jadi biarkan dia bicara!”
Tim Ke-12 telah menumbangkan berbagai jenis musuh, khususnya Nio yang telah berjuang terlebih dulu di dunia ini dan melawan banyak musuh kuat.
Jadi, Angga mencoba membujuk Nio untuk memasukan pendapat para perwira dalam usulan taktik ‘mundur sementara’-nya. “Harap mengerti keinginan para perwira ini, dan buat dirimu santai Letnan Nio!”
Sehingga, Angga berencana mengajukan beberapa pujian untuk mendinginkan kepala Nio.
“Kamu bisa saja mencoba tetap rendah hati, tetapi di atas kertas dan menurut saksi mata hidup, kebenarannya adalah bahwa Tim Ke-12 dan dirmu selalu meraih kemenangan dalam pertempuran sengit.”
Bukankah perjuangannya tanpa sadar berpotensi merubah alur perang? Beberapa perwira bergumam mengenai hal tersebut.
“Kamu bilang Tim Ke-12 hanyalah regu biasa, tapi sebenarnya unitmu adalah pasukan inti kuat. Itu sama saja kami mengeluarkan satu resimen infanteri ketika mengirimkan kalian!”
Bukankah Jenderal Angga sangat berlebihan? Gumam beberapa perwira lagi.
“Letnan Nio, aku menerima kehati-hatianmu saat menyusun taktik ‘mundur sementara’ itu, tapi aku pikir Tim Ke-12-mu mampu menjaga jalur pasokan.”
Secara tidak langsung, perkataan Angga menyatakan bahwa “Jika ada yang bisa melakukannya, pasti itu Tim Ke-12!”
Angga menatap Nio yang memasang wajah heran, mata jenderal tersebut seolah-olah mengatakan, “Tolong bekerja sama denganku sebelum aku pulang!”
Seorang perwira tinggi anehnya menyanjung seorang bawahan yang hanya seorang remaja letnan satu, meski hanya memiliki satu lengan.
__ADS_1
Angga tetap menatap Nio dengan keinginan tak tergoyahkan, dan berhati-hati untuk tidak membuat Nio curiga betapa banyak tekanan yang dia coba berikan padanya.
Nio meminta ijin untuk berbicara, lalu berdiri dengan santai seolah-olah tidak ada peristiwa yang luar biasa terjadi.
“Saya tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi pujian yang kelewat tinggi itu.”
Dia bebas, seperti remaja pada umumnya. Itu terbukti dari cara berbicaranya yang masih menggunakan kata ‘slang’.
Namun, hampir semua perwira tampak lega dan suasana yang tegang mulai rileks. Para perwira tersebut berharap Nio mengerti keinginan mereka.
“Tapi sejauh yang saya tahu, Aliansi mulai mempersenjatai tentara mereka dengan senapan modern. Para penyihir, infanteri, dan kavaleri berkuda berat mulai diperkuat. Jadi, saya berpikir hanya mampu menghambat mereka. Bahkan Aliansi kemungkinan akan menggunakan senjata berat modern seperti tank dan artileri. Seperti tentara Arevelk dan Yekirnovo yang mudah dilatih mengoperasikan senapan dan meriam, prajurit Aliansi pasti seperti itu.”
“Apa maksudmu, Letnan Nio. Bagaimana bisa teknologi musuh bisa menciptakan benda semacam artileri dan tank, bahkan senapan sekalipun?”
“Pak, tempat kita berjuang sekarang adalah dunia fantasi, yang berisi berbagai hal diluar nalar. Fenomena magis nyatanya mampu mempersenjatai pasukan Aliansi dengan SP-1 dan M1 Garand. Tim Ke-12 mengalahkan musuh dalam pertempuran modern, bukan pembataian sepihak terhadap musuh bersenjata pedang dan panah. Jadi, bisa dikatakan kami bertempur dengan sengit, menerima perlawanan keras seperti pertempuran fiksi Amerika.”
“Apa kau tidak bisa menangani musuh yang masih mengandalkan taktik primitif?” seorang perwira TNI bergumam, dia sepertinya tidak sengaja. Namun, balasan yang ia terima adalah tatapan bengis Nio, membuatnya menunduk seolah-olah bertatapan dengan panglima yang marah.
“Kamu pasti hanya merendah, kan?” salah satu perwira staf Markas Pusat mengatakan hal itu, disertai dengan bibir yang menyeringai.
Biasanya, orang dewasa akan memarahi remaja yang membalas perkataan mereka. Tetapi, semua perwira di sini ragu melakukannya kepada Nio. Memarahi perwira remaja itu karena apa? Menolak usulan luar biasa para perwira? Sementara itu, yang dilakukan Nio hanyalah membagikan pendapatnya tentang situasi dan jalan keluar terbaik. Menyuruh Nio keluar, memarahinya, hingga menghukumnya hanya akan meruntuhkan harga diri para perwira yang sangat dibanggakan oleh mereka.
Kemudian, jawaban Nio kembali menciptakan suasana tegang, “Tidak, Pak. Saya hanya menjawab sesuai fakta di lapangan.”
Dia menatap tajam dengan satu-satunya mata miliknya ke arah perwira yang masih menyeringai, kemudian berubah memelototinya. Itu bukan etika yang pantas ketika menjawab pertanyaan dari atasan, namun Nio tidak peduli akan hal itu. Dia ingin menunjukkan siapa yang paling berguna dalam perang ini.
Ketika seorang pejuang remaja yang telah mengangkat senjata dan menumpahkan darah di medan perang menatapmu, sejarah baru bisa saja tercipta mulai hari ini.
“Sudah cukup,” Angga memutuskan untuk menyela. Dia menatap Nio, berharap dia akan tertusuk, kemudian berkata, “Aku mengeti usulan Letnan Nio. Keresahannya patut didengarkan, tapi topik rapat ini adalah tentang mengakhiri perang dengan cepat sesuai keinginan negara.”
Jujur saja, menurut Nio perkataan Angga di atas adalah salah satu hal yang paling mengganggu di dunia ini. Walau Nio memahami kondisi perang yang semakin tidak jelas jalan keluarnya, dia mulai mual jika negara mengajukan keinginan untuk mengakhiri perang dengan cepat.
Untuk seorang letnan satu yang memprotes dengan keras kepala di dalam ruangan yang penuh dengan perwira menengah hingga tinggi, Angga merasa Nio memang sulit dikendalikan. Angga merasa pernah mengenal perwira dengan sifat mirip dengan Nio, bahkan lebih parah, yakni seorang pahlawan yang dijuluki ‘Panglima Pengecut’.
“Saya paham. Namun, tugas saya dan Staf Perencanaan Strategi Umum dan Khusus untuk mengurangi beban setiap pasukan. Pertempuran tanpa rencana mendalam, walaupun itu sama-sama bertujuan mengurangi beban tentara namun tetap dapat menjadi bumerang dan malah menambah beban yang lebih besar,” kata Nio.
Kata ‘mengurangi beban setiap pasukan’ Angga rasa pernah mendengarnya. Hal itu memang mengejutkan, kata itu sebelumnya dilontarkan oleh mantan panglima TNI yang mati beberapa tahun lalu akibat kecelakaan kerja. Dia mampu mencegah perang melawan FPDA, menyelamatkan Indonesia dari lima negara kuat dengan cara paling tak terduga. Dan sekarang, tanpa ragu sedikit pun, Nio memiliki keberanian untuk tidak setuju dengan para perwira.
(olog note: silakan cari di google ‘apa itu FPDA’ jika penasaran)
“Tujuan kami memang untuk mengurangi beban pasukan. Letnan Nio, jangan bicara gegabah,” ucap seorang perwira berpangkat Letnan Kolonel.
Nio hanya menganggap perkataan perwira itu berasal dari seseorang yang tidak pernah terjun ke medan perang langsung. Jika dia dan perwira itu berada di zona perang, Nio sudah membuat pria itu tidak bisa berjalan lagi.
Tetapi, bahkan di bawah tekanan para perwira, Nio masih berani menuangkan kopi manis hangat ke cangkir kertasnya, dan berkata, “Pasukan lapangan jarang menikmati kopi hitam dan gorengan. Walaupun ada, kopi hitam yang kami terima memiliki rasa seperti arang dan tanah. Markas Pusat yang damai memang luar biasa.”
Perkataan Nio sangat menyinggung beberapa pihak di ruangan ini. Pada saat yang sama, Nio mengamati setiap wajah perwira yang tampak ingin mengatakan sesuatu. Namun, tetap saja hanya wajah mereka yang berbicara.
“Tentu saja. Aku tidak berpikir kopi rasa arang tidak mempengaruhi seberapa besar dirimu peduli terharap pasukan…”
Komentar itu berasal dari perwira Staf Logistik, dan menjadi yang terakhir kalinya di pertemuan ini.
Baik Markas Besar dan Markas Pusat sama-sama memberikan permintaan tak masuk akal pada pasukan lapangan. Nio tidak tahan lagi dengan hal ini.
“Pak! Jika Anda bisa berbicara seperti itu, lebih baik Anda bertempur bersama kami di garis depan! Persekutuan dan Pasukan Perdamaian tidak membutuhkan pengecut seperti Anda!”
Nio berteriak seperti itu sambil mengangkat kursinya, mengejutkan Angga, Lee Baek-ho, dan Kim Baek-ki yang hendak menyeruput kopi hitam masing-masing. Mereka bertiga memasang wajah tercengang ketika perwira remaja yang berdir di depan telah mengangkat kursinya.
“Apa itu kehendak bawahan sepertimu…”
“Cukup!” Angga menghentikan perkataan perwira Staf Logistik sebelum kursi yang Nio pegang dan angkat benar-benar melayang ke wajahnya.
Nio benar-benar sadar berteriak pada seorang perwira. Dia dikuasai oleh dorongan untuk marah dan hampir merusak peralatan ruangan ini. Para perwira yang lain menutup mulut masing-masing dengan rapat, merasakan rasa gelisah yang sama terhadap perwira Staf Logistik tersebut.
Kemudian, dengan ketenangan yang buruk, Nio memberkan hormat dengan tenang.
“Permisi.”
Dengan kalimat singkat di atas, Nio berdir tegak dan berjalan ke arah pintu keluar.
Seluruh perwira di ruangan ini hampir tidak bisa mempercayai apa yang dilakukan Nio.
Tidak ada yang mencoba menghentikan Nio keluar dari ruang pertemuan ketika rapat belum berakhir.
**
__ADS_1
Funfact#24: Kenapa author memilih latar waktu tahun 2321, tetapi teknologi yang dipakai tak jauh dari masa sekarang? Karena aku merasa alutsista TNI saat ini (abad ke-21) tidak akan mampu melawan musuh-musuh di dunia fantasi (dunia lain). Akan ada lawan kuat yang akan muncul di episode-episode mendatang, dan baja-baja tua abad ke-21 yang dipanggil 'senjata' akan kalah melawan musuh-musuh tersebut.
Yang akan menjadi lawan TNI di cerita Prajurit SMA bukan hanya Aliansi, karena efek perang seperti api membakar bensin.