
Udara malam yang hangat menyebabkan Nio tidak dapat tidur menggunakan selimut. Dia saat ini berbaring di sofa ruang tamu, dengan aroma obat pembunuh nyamuk melayang di udara. Dia bisa mendengar suara jangkrik dan binatang malam lainnya.
Sekarang sudah lewat pukul 10 malam, dan hampir seluruh lampu di dalam rumah telah dimatikan. Mata Nio telah terbiasa dengan kegelapan. Dia tenggelam dalam pikirannya saat berbaring sendirian di ruang tamu, sambil menatap langit-langit dan mendengar petugas ronda yang kalah taruhan catur.
Setelah makan malam, Nio mencoba menjelaskan kepada semua gadis tentang operasi ‘pengalihan’ Aliansi, dan penumpukan pasukan di Tanah Suci yang dikuasai Kekaisaran Luan. Seperti yang dibayangkan olehnya, Tania dan Nike bereaksi dengan wajah memucat, tetapi para gadis dari dunia lain dan Zefanya membalas dengan sangat yakin, “Kami akan ikut bertarung! Semua akan baik-baik saja selama kita berusaha, kan? Berdoa saja jika target penyerangan Aliansi bukan kota ini.”
“Jumlah pasukan yang disiapkan musuh sekitar 200.000 tentara gabungan, apa kalian baik-baik saja dengan itu?” Nio tidak bisa membayangkan Karanganyar dapat dipertahankan hanya oleh dua kompi dengan anggota 300 tentara bersenjata infanteri.
Para gadis dunia lain memiliki kemampuan unik untuk menghadapi monster, tetapi jika jumlah musuh yang akan dihadapi sebesar itu, Nio ragu mereka dapat bertahan lama. Walau semua gadis dan dia, kecuali Nike, Tania, Huvu, Hevaz, dan Ebal pernah mengikuti serangkaian pertempuran yang bernama Penyerangan Besar Aliansi terhadap TNI, Nio tidak berpikir mereka semua mampu bertempur tiga kali sehari dalam seminggu.
“Nio,” Lux akan menanggapi perkataan Nio dengan ekspresi tegas. “Kamu adalah Prajurit Langit dan Pahlawan Harapan, Nio. Aku pernah bertarung sekali melawanmu, dan kamu menang. Sebelumnya, tidak ada ksatria yang bisa mengalahkanku, kecuali ksatria penyihir elit. Seharusnya, setelah kekalahan itu aku berhenti menjadi ksatria. Tidak diragukan lagi, perjuanganku hingga hari ini adalah kesempatan kedua. Perintahkan aku sesuai keinginanmu, Nio.”
Nio terkejut oleh perkataan Lux yang dengan yakin memandangnya, dan ekspresi ingin menghadapi pertempuran dari Zefanya dan gadis-gadis dunia lain. Yakin untuk menghadapi kematian, darimana mereka memiliki kekuatan semacam itu? Bahkan dia dan Herlina yang seharusnya mengambil tindakan tersebut tidak bisa segera menentukan keputusan setelah mendengar permintaan Suroso.
Dengan bantuan para gadis dunia lain, Zefanya, Nio berencana membuat proposal untuk memasukkan mereka dalam pasukan yang akan bersiaga.
Setelah memastikan seluruh gadis tidur dengan aman dan nyaman, Nio kembali ke ruang tamu, merebahkan tubuh di sofa panjang. Keheningan menemani dirinya. Suara jam digital yang berdetak seperti jam analog terdengar lebih keras dibanding saat malam hari.
“Letnan Nio, apa kamu belum tidur?” Nio mendengar suara yang terdengar seperti milik Zefanya.
Nio berusaha setenang mungkin setelah agak terkejut saat melihat Zefanya dengan sebagian tubuh ditutupi perban. Dia bertanya, “Kau tidak bisa tidur? Kalau merasa panas, kenapa tidak menghidupkan AC?”
“Aku memang tidak bisa tidur, tapi bukan karena udara yang pengap.”
Jawaban itu sedikit mengejutkan Nio. Zefanya tumbuh dan besar di kota Yakutsk dengan suhu tahunan rata-rata minus 8 derajat celcius. Saat inilah Zefanya seharusnya menjadi gila akibat musim kemarau Indonesia yang kering dan sering membuat udara malam terasa pengap dan panas.
“Bisakah kita berbicara sebentar?” tanya Zefanya.
“Tentu.”
“Aku sudah memikirkannya, dan aku berpikir tidak akan pulang dan memanfaatkan hak khusus dari Rusia untuk menjelajahi dunia lain bersamamu dan TNI.”
“Zefanya, kau tidak perlu memaksakan diri. Kau bisa pulang setelah perintah penarikan diberikan pemerintah Federasi Rusia kepada pasukan perdamaian kontingen Rusia.”
“Tidak, aku tidak mau pulang secepat itu. Aku ingin menjelajahi dunia lain dan berjuang bersamamu dan Tim Ke-12.”
Setelah mendengar Zefanya mengatakan itu, Nio tidak memiliki alasan lagi untuk menghentikannya. Memang tidak ada penembak jitu sebaik Zefanya yang dimiliki Nio dalam unitnya saat ini, dan itu salah satu alasan Nio tidak memaksa Zefanya untuk pulang.
Zefanya melanjutkan perkataannya, “Perkataanku mungkin terdengar egois, tapi aku dapat menjaga diriku sendiri selama perang. Juga, aku berterimakasih padamu, Letnan Nio. Berada di regu yang kamu pimpin membuatku nyaman dan hangat. Rasanya aku ingin berjuang selamanya bersamamu dan Tim Ke-12. Inilah perjuangan yang paling mengesankan dalam karirku.”
Kata-kata Zefanya semakin membuat Nio salah tingkah. Nio agak ragu-ragu, tapi dia tetap membuka mulutnya dan berbicara, “Di-diluar tugas, kamu dan teman-teman bisa memanggilku tanpa pangkat di depan namaku.”
“Baiklah, Nio,” jawaban Zefanya membuat mereka berdua tersenyum.
“Tapi, ada satu hal yang kupikir harus kukatakan padamu. Kita mungkin tidak akan selalu berjuang bersama.”
“Apa itu tentang penumpukkan pasukan Aliansi, dan rumor jika mereka akan menyerang kota ini? Kamu tidak perlu khawatir, Nio.”
“Bukan itu…” Nio berhenti sejenak. Angin bertiup dari luar, dan masuk ke ruang tamu melalui lubang ventilasi. Kemudian, setelah angin bertiup, hanya terdengar suara desir dedaunan yang bergesekan satu sama lain.
“Apa itu tentang orang-orang dunia lain yang menganggapmu sebagai Pahlawan Harapan?”
Nio menunduk setelah mendengar perkataan Zefanya tersebut. Dia tetap tidak mengerti mengapa orang-orang dunia lain sangat membutuhkan sosok itu dalam perang yang entah sampai kapan ini. Nio mengangguk sebagai tanggapan pertanyaan Zefanya dan berkata, “Itu juga.”
__ADS_1
“Apa ada hal yang mengganggumu?” Zefanya bertanya.
Nio menghela napas, dan mengangkat kaki kanan lalu meletakkannya di atas paha kirinya, “Ya. Aku benar-benar tidak tahu untuk apa perang ini. Jika untuk mencegah orang-orang dunia lain berperang dengan kita, seharusnya yang pemerintah usahakan adalah dialog perdamaian. Zefanya, menurutmu untuk apa aku berjuang?”
Zefanya terlihat tidak mengerti arah obrolan mereka berdua, dan dia hampir bisa melihat tanda tanya di kepalanya. Dia lalu menjawab pertanyaan Nio, “Untuk mencegah Aliansi dari dunia lain berperang di dunia kita dan melindungi kedamaian Indonesia, kan?”
“Dengan kata lain, kamu menganggap tujuan utamaku berperang untuk keadilan dan kebaikan? Dulu aku memang memiliki tujuan seperti itu, selain berjuang hingga seseorang yang kucintai menemukan kebahagiaannya. Setelah ‘dia’ menemukan kebahagiaan, semua itu bukan lagi tujuanku berjuang. Tapi, kupikir dia tidak benar-benar menikmati kebahagiaannya. Aku tahu alasannya, yaitu pria yang akan menikahinya adalah salah satu ‘rekan’ yang kuanggap musuh. Semua perintahnya membuatku memiliki dendam dan kebencian, dan memiliki keinginan untuk membalas semua perbuatannya untuk membuat Arunika berpikir dua kali sebelum menikahi sialan itu. Jika ada kesempatan, aku akan menembak dan membunuhnya di tempat saat mereka berdua melangsungkan pernikahan. Yah, lupakan tentang pernikahan kakakku. Seperti kebanyakan orang, aku juga memiliki kebencian dan dendam terhadap Aliansi. Tapi, Ratu Sheyn, Edera, Huvu, dan Ebal datang dari negara anggota Aliansi. Tapi, mereka adalah orang-orang yang dikhianati negaranya sendiri, dan mereka mungkin memiliki kebencian lebih besar terhadap musuh daripada kita.”
Dalam kegelapan, Zefanya memperlihatkan ekspresi terkejut dan menahan napas beberapa detik selama Nio mengatakan semua itu. Dia tidak percaya bahwa tujuan Nio bukan hanya melindungi tanah air-nya, namun Nio memiliki sisi haus darah yang tersembunyi. “Wajar, Nio. Kebencian dan dendam bisa membuat kita melanjutkan perjuangan hingga hari ini.”
Sebelum bergabung dalam unit Nio, seorang perwira kontingen Indonesia yang pernah bekerja dengan Nio memberi peringatan padanya, “Kamu anggota kontingen Rusia yang akan menjadi anggota Tim Ke-12 yang dipimpin Letnan Satu Nio Candranala, kan? Kamu sedikit kurang beruntung, Nona.”
“Kenapa? Bukannya dia salah satu perwira berpotensi yang dimiliki Indonesia?” Zefanya tidak percaya dia harus sangat berhati-hati dengan atasan yang memiliki prestasi membanggakan.
“Betul, tapi apa kamu tahu sisi lain Lettu Nio?”
Zefanya merespon pertanyaan perwira Indonesia itu dengan diam, berpikir dalam, lalu berkata, “Aku ingin tahu lebih banyak tentang Letnan Nio Candranala. Apa kamu tahu masa lalu atau cara bertarungnya?”
“Tidak,” perwira Indonesia itu menjawab dengan ekspresi cemas dan terkejut. Dia menggelengkan kepala dan berkata perlahan, “Maaf, tapi jangan sentuh masa lalu Lettu Nio.”
Saat perwira berpangkat letnan dua itu melihat ekspresi penasaran prajurit perempuan Rusia di depannya, dia dengan gelisah bertanya, “Nona, bagaimana menurutmu Lettu Nio itu?”
“Menurut rumor yang kudengar, dia baik, berpikiran luas, dan keren,” Zefanya menjawab seperti gadis remaja yang diberi pertanyaan siapa pria yang disukai.
“Kamu seharusnya cukup tahu hal itu saja. Jangan pernah berbicara tentang topik yang berpotensi menggali cara Lettu Nio bertarung dan memperlakukan lawan-lawannya.”
“Kenapa jangan?”
“Karena dia akan berubah menjadi Lettu Nio yang berbeda dari yang kamu tahu.”
“Apa?”
“Zefanya, kita memiliki tujuan masing-masing. Aku ingin mengakhiri pekerjaanku dengan cepat, dan membunuh semua musuh-musuhku. Aku ingin membalas perbuatan semua orang yang merugikanku dan satu-satunya keluargaku. Aku ingin Arunika menemukan kebahagiaan sejatinya, bukan bahagia karena terpaksa.”
Zefanya merasa dirinya gentar, dan memasang ekspresi cemas saat Nio mengatakan hal itu. Semua tujuan Nio akan dinodai darah, menurutnya.
Informasi kecil yang dia ketahui tentang Nio mungkin benar; pria itu adalah pejuang haus darah yang membunuh semua musuh yang menghalangi tujuannya. Setiap orang memiliki sisi gelap masing-masing, itu juga berlaku bagi Nio yang selalu tenang dalam bertarung dan memiliki belas kasih terhadap musuh yang mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Dan mungkin sisi gelap Nio adalah kepribadiannya yang sebenarnya tapi belum ditunjukkan, begitu pikir Zefanya.
Tapi…
“Aku memang ingin berjuang bersama Tim Ke-12, tapi keinginan terbesarku adalah berjuang bersamamu, Nio.Dan, apa kamu masih ingat perkataanku saat kita bertempur di ibukota Kerajaan Arevelk? Aku bersungguh-sungguh dengan itu, walau kemungkinan kamu menerimaku sangat kecil.”
Nio menutupi mulutnya dengan tangan, dan menunjukkan sikap tidak tenang setelah Zefanya mengatakan hal itu.
“Zefanya, maaf sebelumnya, apa kau bisa melepas perban yang menutupi sebagian tubuhmu?”
Zefanya terdiam beberapa saat, namun dia menyadari Nio pernah melihat kondisi fisiknya yang sebenarnya dari data-data mengenai dirinya. Dia memiliki banyak alasan untuk menolak permintaan Nio, salah satunya, “Kamu mungkin akan jijik dengan diriku setelah itu. Meski aku sudah siap mendapatkan penolakan darimu, itu tetap saja menyakitkan.”
“Bukannya kamu sering melihat wajahku yang hancur tanpa rasa terganggu?” Nio membuka masker buff yang menutupi setengah wajahnya, dan menunjukkan bekas luka bakar di wajah dan sebagian tubuhnya.
Zefanya menelan ludah saat melihat kondisi wajah Nio, dan dia bisa mengerti kenapa kakak Nio lebih memilih menikah dengan pria lain walau mereka berdua memiliki kesempatan untuk menjalin hubungan romantis. Memiliki luka adalah hal wajar bagi pejuang garis depan, tapi ada beberapa jenis luka fisik luar yang berpotensi merubah segalanya.
Gadis Rusia itu mulai membuka lilitan perban di tubuhnya, disertai tatapan mendukung dari Nio. Pria itu sama sekali tidak bereaksi saat perban jatuh dan memperlihatkan bekas luka yang ditutupi, sehingga membuat Zefanya semakin gugup. Hanya diperlihatkan untuk Nio tetaplah masalah, namun dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi teman-temannya di Tim Ke-12 jika dia memperlihatkan fisiknya yang sebenarnya tanpa lilitan perban yang telah menjadi identitasnya.
__ADS_1
“Nio… kenapa kamu menyuruhku melepas perbanku?” Zefanya selesai melepas seluruh lilitan perban di tubuhnya, sehingga seluruh luka yang ditutupi perban terlihat jelas.
Zefanya menjadi khawatir bahwa Nio akan terkejut, tapi pria itu tampak sangat tenang. Dia hanya menatapnya dengan tenang, seolah-olah sedang melihat hal yang tidak mengejutkan.
Sama seperti dia, Zefanya juga memiliki bekas luka bakar di wajah yang membuatnya tahu kenapa cacat semacam itu harus ditutupi. Meski rekan-rekan mereka berdua tidak terlalu terganggu dengan hal itu, namun mereka tetap tidak tahu perasaan orang biasa.
“Untuk melihat apa kau merasa aku terganggu dengan cedera yang kau miliki. Ternyata kau lebih kuat dari yang kupikirkan, Zefanya.”
Nio bertanya pada dirinya sendiri apakah pantas meminta seorang gadis memperlihatkan kekurangan terbesarnya. Dia hanya ingin menilai dirinya sendiri dapat menerima perasaan gadis itu atau tidak dengan tetap memperhatikan kekurangannya. Dia tahu perasaan Zefanya ketika mendapatkan tatapan sinis atas cacat yang dimiliki, sehingga dia sebisa mungkin memberikan tatapan yang mendukung.
Nio tidak tahu bagaimana reaksi rekan-rekan lama Zefanya saat gadis itu mendapatkan cedera parah, tetapi dia tahu memiliki luka seperti itu bukanlah sebuah kebanggan. Yang berarti, mereka berdua harus menyembunyikan kekurangan masing-masing. Baik Nio dan Zefanya tidak ingin luka yang mereka dapatkan layak disebut ‘penghargaan’, seperti yang dipikirkan orang-orang bodoh bahwa luka di medan perang adalah piala tanda keberanian. Mereka berdua bukanlah sejumlah perwira militer Jerman di masa lalu yang sengaja melukai wajah supaya dianggap terhormat.
“Jadi… apa artinya?” ucap Zefanya tanpa menyembunyikan apapun lagi, namun wajahnya tidak dapat menahan ekspresi takut dan gelisah.
“Aku ingin melihat dirimu tanpa penghalang. Tapi, apa kau serius mencintaiku? Aku tidak bermaksud membuatmu terpaksa menerimaku karena keadaan kita yang sama. Tapi, apa kau tidak memikirkan apa yang terjadi setelah kita berhubungan?”
“Luka yang kamu dapatkan karena mempertahankan diri dan melindungi bawahanmu, kan? Untuk apa aku memikirkan pendapat orang lain tentang hubungan kita jika aku bisa dimiliki pelindungku.”
Pelindungku? Aku tidak ingat Arunika pernah mengatakan hal menyenangkan hati seperti itu, dia bergumam dengan sedih. Menatap kembali wajah Zefanya, dia melihat tatapan gadis muda yang menatapnya dengan tulus.
“Yah… aku terluka karena tanggung jawabku sebagai pemimpin Tim ke-12, sih. Tapi, aku terluka karena kecerobohanku. Jadi, kamu akan berhubungan dengan orang yang ceroboh, Zefanya.”
Zefanya terdiam beberapa saat, yang diharapkan Nio adalah gadis itu memikirkan kembali keinginannya. Beberapa saat kemudian, Zefanya kembali menatapnya dan berkata, “Apa aku bisa menyentuh wajahmu?” dia memutuskan tidak menjawab pertanyaan Nio.
“Apa?” Nio tidak tahu alasan Zefanya mengatakan permintaan semacam itu.
Tanpa persetujuan Nio, Zefanya meletakkan tangan kiri ke pipi kanan pria itu. Meski kasar dan menakutkan bagi orang umum, dia terlihat tidak terganggu sama sekali dan dengan senang hati membelai pipi hingga leher dan bahu pria itu.
Nio bisa melihat dari kedua pupil biru Zefanya bahwa gadis itu senang menelusuri tubuhnya, dan dia mulai melakukan hal yang sama. Gadis itu sama sepertinya, meski agak terkejut saat Nio menempelkan telapak tangan kiri ke lehernya. Nio sampai ke pinggul Zefanya, lalu menjalar hingga punggung dan membelainya setelah menyingirkan kaos yang menghalangi.
Tidak ada tanda-tanda mereka berdua menghentikan kegiatan belai-membelai. Keduanya tampak sangat menikmati kegiatan meraba tubuh satu sama lain, dengan tujuan bukan untuk mencari kekurangan masing-masing.
Keduanya membiarkan satu sama lain melakukan apa yang diinginkan.
Zefanya lalu menjatuhkan diri di sofa panjang, lalu menarik tubuh Nio di atasnya. Nio menyangga tubuhnya dengan tangan kirinya untuk menghindari sentuhan tubuh langsung. Kedua tangan Zefanya menarik lehernya, menyebabkan wajah keduanya mendekat perlahan. “Apa kita akan melakukannya di sini?”
Nio memandang ke sekitar dengan terkejut. Hingga saat ini, tidak ada gadis yang kaluar kamar untuk melaksanakan panggilan alam. Tidak ada tanda-tanda akan ada gangguan jika mereka ‘melakukannya’ di ruang tamu.
Namun, senyum Zefanya bertambah lebar saat dia mendapatkan kesempatan untuk’menyerang’ dan menarik leher Nio lalu menghisapnya. Dia tidak peduli Nio mengerang saat dia mencum*bu lehernya, dia menahan Nio yang memberontak.
Dengan tujuan menantang, Zefanya berkata, “Kalau kau mau, kau bisa melakukannya padaku juga.”
Nio melihat tubuh tanpa pertahanan Zefanya, dan melakukan hal yang sama seperti yang dia terima dari gadis itu. Dengan sasaran bahu, dia menuruti tantangan Zefanya. Saat dia menghisap kulit bahu kiri Zefanya, gadis itu terdengar mengerang tanpa melepaskan lehernya yang membuat suatu perasaan bangkit pada diri Nio.
Berhenti sejenak untuk mengambil napas, Nio melihat wajah Zefanya memerah, begitu juga yang dilihat gadis itu. Napas keduanya berat, dan Nio melihat bibir merah muda mengkilap milik Zefanya.
Zefanya menyadari keinginan Nio yang melirik bibirnya, dan tanpa berkata apapun dia menarik kembali leher Nio untuk berpindah titik cum*buan. Keduanya melakukannya tanpa mempedulikan kekurangan satu sama lain. Mereka melakukannya atas perasaan cinta masing-masing.
Suara cum*buan penuh gai*rah berlanjut di malam hari yang panas.
**
__ADS_1
(ilustrasi Zefanya. Bedanya dari di ilustrasi di atas, Zefanya memiliki warna rambut pirang dan pupil berwarna biru. Sumber gambar pinterest)