
7 Juni 2321, pukul 09.33 WIB.
**
"Komandan, ijin masuk," ucap Sima dari luar kendaraan komando yang dijaga dua prajurit.
"Ya, masuklah," jawab Nio yang sedang berhenti sejenak dari perkejaannya.
Sima memasuki truk komando, dia terlihat membawa sesuatu benda seperti kertas yang sudah berwarna coklat dan digulung. Jika dilihat dari panjangnya kertas yang digulung, sepertinya kertas itu berukuran cukup lebar.
Hanya Sima saja yang tahu isi dari kertas itu dan dia ingin Nio mengetahui barang temuannya setelah melakukan serangan dua hari lalu.
"Apa yang kamu bawa?" tanya Nio setelah memeriksa peta medan yang ada di meja kerjanya.
"Lihat ini...," kata Sima sambil membuka kertas yang ia gulung dengan hati-hati sejak ia menemukan benda itu diatas meja kerja Nio.
Prajurit yang berada di dalam kendaraan komando juga terlihat penasaran, tapi mereka tidak dapat meninggalkan pekerjaan demi memuaskan rasa penasaran itu. Mereka harus tetap mengendalikan drone berkamera agar mendapatkan peta medan desa yang menjadi wilayah terakhir untuk dipetakan.
Nio melihat gambar yang ada pada kertas dengan wajah serius, Sima juga begitu sambil menahan kertas agar tidak kembali tergulung.
"Dari gembarnya, ini peta kan komandan...?" tanya Sima pada Nio.
"Ya, sepertinya ini peta negara musuh," jawab Nio sambil sedikit meletakkan ujung jarinya di atas kertas
Kertas itu terlihat bukan seperti kertas biasa seperti yang sering digunakan, semacam kertas HVS. Kertas yang dibuat di dunia lain terasa sangat kasar dan berwarna coklat muda dan masih dapat dilihat corak seperti serat kulit pohon.
Sima kemudian mengambil juga sebuah benda dan menunjukkan pada Nio, "Dan ini, sepertinya ini adalah bendera negara musuh. Atau mungkin bendera perang musuh?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Selain kedua benda ini, apa kau mendapatkan benda lain?"
"Ya, ratusan setel zirah besi milik prajurit musuh."
Sambil menghela napas Nio menjawab perkataan Sima itu, "Bukan itu maksudku, benda seperti itu mau diapakan coba?"
"Kan bisa dikilokan komandan, terus dapat duit."
Alis Nio berkedut kemudian dia berkata, "Yang ku maksud, benda seperti harta milik musuh atau semacamnya."
"Tidak, tapi kami membawa sebuah kotak yang sangat berat," jawab Sima.
Sima kemudian mengajak Nio ketempat benda yang dimaksud Sima disimpan.
Diluar mobil komando, terlihat prajurit masih berjaga di sekeliling perkemahan yang dibangun oleh Regu Satuan Topografi.
Ada satu kemah tambahan yang digunakan untuk para perempuan muda yang diselamatkan dua hari lalu.
Tim dapur lapangan juga terlihat masih menyiapkan makan pagi bagi seluruh orang di perkemahan ini.
Sima dan Nio kemudian tiba di mobil taktis yang digunakan untuk melakukan penyerangan dua hari lalu.
Terlihat ada dua orang prajurit yang masih tertidur di bagian kemudi. Mereka kemudahan kemudian menyadari kedatangan Nio dan Sima dan berlari panik seketika.
Nio dan Sima hanya tertawa kecil, padahal mereka berdua tidak bermaksud membangunkan prajurit yang sudah berusaha keras menyelamatkan para perempuan muda dari musuh.
Sima kemudian berjalan kearah bagasi mobil taktis dan memperlihatkan isinya pada Nio.
"Peti harta karun...!" seru Nio yang membuat Sima tersenyum miring.
"Kau sepertinya kebanyakan baca komik, komandan," ucap Sima dengan wajah menyebalkan menurut Nio.
"Ya, aku memerlukan komik dan novel demi menambah ilmu fantasi ku."
Sima tidak dapat menjawab perkataan Nio dan memilih untuk menurunkan kotak itu dari bagasi mobil.
(Ilustrasi kotak yang dibawa Sima. Sumber gambar pinterest.)
Nio memegangi bagian kotak yang terlihat seperti gemboknya.
__ADS_1
"Ini dikunci, apa kita bawa gerinda?" gumam Nio yang penasaran dengan kotak dihadapannya itu.
Nio berusaha keras untuk menemukan cara lain untuk membuka kotak agar tidak merusak benda yang ada didalamnya.
"!!!" Nio dan Sima terkejut saat mendengar suara ledakan yang cukup keras dari dekat mereka berdua.
Mereka berdua menoleh ke belakang untuk melihat siapa prajurit yang tiba-tiba melepaskan tembakan.
Nio dan Sima menunjukkan wajah datar saat mendapati jika prajurit yang melepaskan tembakan adalah Tania.
"Untungnya aku bukan orang yang mudah kaget," batin Sima dan Nio.
Nio mendekati Tania dengan wajah yang membuat dia ketakutan.
"Aw, a-ampun. Sa-sakit Nio...," rintih Tania yang kepalanya dengan rambut diikat dengan gaya pony tail dijitak Nio dengan keras.
Tanpa mempedulikan Tania yang terlihat memendam dendam padanya, Nio kembali ke kotak dengan gembok yang hancur karena terkena peluru yang dilepaskan dari pistolnya Tania.
Sima sudah membuka kotak dan memperlihatkan isinya yang berupa koin yang sepertinya berjumlah ratusan. Koin-koin itu terlihat berkilau meski cahaya matahari yang masuk ke perkemahan tidak terlalu banyak.
Ada banyak koin berwarna emas dan keperakan di dalam kotak. Mata Nio dan Sima seketika bersinar sama terangnya dengan koin-koin itu. Sementara Tania terlihat tidak peduli dan masih mengelus kepalanya.
(Ilustrasi koin emas. Sumber gambar pinterest.)
"Boleh kita ambil komandan...?" kata Sima sambil mengambil satu koin yang berwarna emas.
"Tidak, kita harus membawa ini ke kota bawah tanah setelah misi selesai," jawab Nio yang mengambil lagi koin yang dipegang Sima.
Namun, sebenarnya nio juga ingin mengambil koin emas itu. Tapi dia mencoba menahan diri agar tidak tergoda, kemudian menutup kembali kotak dan membawanya ke kendaraan komando.
Sima dengan wajah kecewa berjalan di belakang Nio dan kembali ke kendaraan komando.
"Apa kau tidak ingin kaya komandan? Koin-koin itu terlihat mahal kalau dijual loh..." hasut Sima.
"Aku tidak peduli. Kalau bernasib sama, kau mungkin akan mendapatkan bagian dari koin-koin emas dan perak itu."
**
Setelah makan pagi, perkemahan Regu Satuan Topografi didatangi banyak warga karena kejadian dua hari yang lalu.
Para prajurit mendapatkan banyak ucapan terima kasih dari para warga karena berhasil menghabisi pasukan musuh yang mendiami pusat kecamatan Mojogedang.
Beberapa warga membawa hasil panen dari kebun masing-masing. Hasil panen itu sebenarnya akan diserahkan pada pasukan musuh agar mendapatkan keselamatan dan supaya tidak diserang. Hasil panen kebanyakan adalah padi dan singkong, serta beberapa ekor hewan ternak yang secara sukarela diberikan kepada Regu Satuan Topografi. Tentu saja Regu ini tidak dapat menerima itu semua, kecuali mengambil beberapa buah singkong sebagai tambahan logistik yang beberapa memang sudah dikurangi untuk jatah makan para perempuan muda yang masih dirawat oleh tim medis.
Namun, sebanyak apapun mereka memberikan makanan dan semacamnya pada pasukan musuh akan ada hal yang berharga diambil oleh musuh. Yaitu kehormatan para wanita yang beruntung berhasil diselamatkan oleh Regu Satuan Topografi yang dikirimkan Nio dan dibawah komando Sima. Kecuali beberapa perempuan muda yang tidak beruntung dan telah kehilangan kehormatannya ditangan musuh.
Terlihat komandan Regu ini tidak keluar dari kendaraan komando untuk menemui para warga. Pekerjaan Nio semakin menumpuk setelah kejadian dua hari lalu. Dia juga masih sibuk memeriksa peta yang dibawa Sima untuknya.
Sebagai perwakilan, Nio mengirimkan Sima untuk menemui para warga.
Nio mengirimkan Sima karena dia perwira yang mengkomando pasukan yang melawan musuh dua hari yang lalu, sedangkan dia hanya mengirimkan bawahannya itu untuk menyelamatkan para perempuan muda. Nio masih harus merencanakan keberangkatan ke desa selanjutnya yang merupakan tempat terakhir dan belum dipetakan oleh Regu Satuan Topografi.
**
Waktunya makan siang, seluruh prajurit mengantri di dapur lapangan untuk mendapatkan jatah makan siang. Dibelakang mereka berbaris para perempuan muda yang masih harus didampingi oleh tim medis yang tentunya perempuan.
Di beberapa bagian tubuh mereka masih tertutup perban untuk menghindari luka dari kotoran. Sementara pada ekspresi mereka masih menunjukkan wajah murung sejak dua hari lalu.
Sementara beberapa perempuan muda yang menjadi korban kebejatan pasukan musuh tidak dapat keluar dari tenda. Menurut tim medis, mereka akan mengalami trauma jika melihat laki-laki.
Hal itu jelas terjadi, karena sejak pasukan musuh menguasai kecamatan Mojogedang mereka selalu dilecehkan dalam hal seksual. Selain itu para prajurit musuh juga sering menyiksa mereka saat melakukan kegiatan seksual.
Jika tidak segera diselamatkan, puluhan perempuan muda yang lain akan bernasib sama seperti mereka.
Nio sedang berkomunikasi dengan kota bawah tanah dan menghubungi Herlina, karena dia memiliki sebuah rencana. Kota bawah tanah menyetujui permintaan Nio untuk mengirimkan kendaraan pengangkut.
Para perempuan muda yang diselamatkan dari pasukan musuh akan diamankan ke kota bawah tanah. Mereka rencananya akan dibawa ke sana setelah kondisi fisik dan mental semakin membaik.
__ADS_1
Namun tidak semua perempuan muda dalam keadaan baik.
Sebagian memang terlihat sehat fisik, namun sebenarnya mental mereka sangat hancur karena sering mengalami kekerasan seksual.
Korban pelecehan terlihat tidak dapat berjalan dengan benar dan terlihat kesakitan saat melangkahkan kaki. Mereka harus dibantu tim medis untuk berjalan.
Nio ingin melihat kondisi perempuan korban pelecehan sebelum kendaraan penjemput tiba di perkemahan. Didepan kemah ada dua prajurit perempuan yang bertugas menjaga kemah.
Dia membuka tirai kemah dan memasuki kemah sambil berkata, "Bagaimana keadaan mer-...."
Belum juga Nio menyelesaikan perkataannya, lima orang perempuan muda yang menjadi korban pelecehan berteriak histeris saat Nio berdiri didepan pintu masuk kemah.
Salah seorang tim medis mendekati Nio dan mendorongnya keluar kemah.
Setelah Nio keluar kemah, para perempuan masih terlihat ketakutan dan gemetar hebat. Mereka melindungi tubuh dengan melingkarkan tangan sambil gemetar hebat dan menangis.
"Komandan, mereka belum dapat didekati oleh laki-laki. Jadi jangan dekati mereka dulu, ok?" ucap anggota tim medis yang juga memberi peringatan pada Nio.
"Ok. Terus, kalau kendaraan penjemput sudah sampai aku harus gimana?" tanya Nio.
"Kalau itu serahkan pada kami."
**
2 unit kendaraan pengangkut jenis truk tiba di perkemahan.
Dari salah satu truk turun seorang prajurit perempuan, dia adalah Herlina.
Nio menyambut tim penjemput dan mengatakan semuanya pada Herlina agar mengerti situasi yang sedang dialami.
"Jadi begitu, cukup merepotkan sih. Mengingat mayoritas penghuni kota bawah tanah adalah laki-laki," ucap Herlina untuk menanggapi perkataan Nio mengenai puluhan perempuan muda dan korban pelecehan.
Puluhan perempuan muda kemudian berbaring dan menaiki truk pengangkut prajurit secara tertib.
Lima perempuan muda yang menjadi korban pelecehan dibawa ke truk pengangkut dengan tangan menutupi mata.
Nio dan Herlina hanya tersenyum miring melihat kejadian itu.
Semua perempuan muda sudah dinaikkan ke truk pengangkut.
"Komandan Nio, harap lihat rekaman yang kami ambil," kata salah satu pengendali drone berkamera.
Nio dan Herlina berlari kecil ke kendaraan komando untuk melihat hal yang dimaksud.
Di dalam kendaraan komando, Nio dan Herlina dihadapkan dengan sebuah rekaman drone yang menunjukkan sebuah perkemahan yang cukup besar.
"Dimana lokasinya?" tanya Herlina.
"Di desa Kaliboto..." jawab prajurit pengendali drone berkamera.
"Bagus, tandai tempat itu sebagai sasaran kita nanti," perintah Nio sambil tersenyum menyeringai.
Nio dan Herlina keluar dari kendaraan komando setelah melihat hal yang akan membuat misi perebutan wilayah kecamatan Mojogedang akan menjadi lancar.
"Lanjutkan misi ini sampai selesai. Dan..., se- selamat ulang tahun Nio," ucap Herlina sambil mengalihkan pandangannya dari Nio saat mengatakan kalimat terakhir itu.
"Ya, terimakasih," jawab Nio yang sebenarnya kebingungan dengan tingkah Herlina.
**
"Apa Nio ada disini?" tanya Ivy pada IIlhiya
Mereka berdua ada didekat perkemahan Regu Satuan Topografi. Tentu saja tidak ada satupun orang yang dapat melihat mereka, kecuali Nio.
"Ya. Itu orangnya," jawab IIlhiya sambil menunjukkan jari telunjuknya kearah Nio yang sedang berjalan.
Alis Ivy tiba-tiba menurun dengan tajam saat melihat Nio sedang berjalan bersama Herlina sambil tersenyum.
"Siapa perempuan itu...," ucap Ivy yang terlihat sangat kesal.
__ADS_1
"Hmmmm..., apa kau tertarik padanya?" goda IIlhiya yang membuat Ivy terkejut dan tidak dapat menjawabnya.