
Selama episode pertarungan Nio melawan Rio, aku akan mengganti nama Nio untuk sementara dengan nama belakangnya, yaitu ‘Candranala’.
**
“Kalian adalah prajurit paling BODOH yang pernah aku temui! Kalian lemah! Setidaknya, untuk menutupi hal itu, kalian harus bersatu, tidak melupakan rekan-rekan kalian!”
“Untuk apa kalian membicarakan persatuan dan kerja sama, sementara komandan kalian dilupakan?! Apa kalian benar-benar prajurit dari negara kuat?!”
Hevaz dan Sigiz meneriakkan apa yang ada di pikiran mereka, membuat para bawahan Candranala yang berhasil ditemukan oleh kedua gadis tersebut memasang wajah terkejut bercampur masam.
Perkataan Sigiz dan Hevaz cukup benar, mengakibatkan suatu perasaan yang tertidur di dalam otak anggota Tim Ke-12 bangkit. Akal sehat mereka kembali saat kedua gadis itu memarahi para tentara elit tersebut, walau memiliki beberapa alasan untuk dikatakan. Wajah menyeramkan Hevaz dan Sigiz membuat para anggota tim tidak berani mengatakan apapun, mengingat mereka juga memiliki kemampuan sihir yang mengimbangi teknologi yang dibawa masing-masing kontingen.
Mereka semua bertugas dengan selamat, tanpa menderita luka serius. Hal itu tentu saja membuat anggota tim menyesal, dan kebingungan ketika Candranala terjebak dalam situasi berbahaya lagi, yang membuat harapan kehidupannya sangat rendah. Saat mereka membantu unit lain tanpa menunggu Candranala, satu-satunya penunjuk arah terpaksa menghadapi musuh terkuat tanpa bantuan.
Ketika tiba saatnya menghadapi musuh terkuat, sementara tugas selanjutnya sedang menunggu, seluruh orang tidak ingin pertempuran ini mengakhiri perjuangan mereka.
Tapi, mengetahui jika senjata terkuat Aliansi telah dikerahkan, seluruh anggota tim tidak bisa tersenyum.
“… Tapi, aku ingin membantu Komandan … dia sudah mengerahkan segalanya sejak ditugaskan di dunia ini.”
Menatap sumber kematian di arah barat benteng – tempat pertarungan Candranala dan Pahlawan Amarah berlangsung – Hassan berkata tanpa ekspresi dan nada. Dia berpikir bahwa Candranala pernah mengalami pertarungan yang lebih buruk dari pertempuran saat ini, sehingga dia bertekad melakukan hal yang sama seperti Candranala.
“Sepertinya, kita tidak akan dibiarkan istirahat dan bersenang-senang, ya?” kata Ferdi dengan nada ironis.
“Berjuang dan bersenang-senang memilki waktunya masing-masing! Pahlwan Harapan jauh lebih penting dari apapun. Tanpa dia, mungkin negeri kalian tidak akan memiliki bantuan cukup untuk menghadapi lawan!”
Yang dimaksud Sigiz mungkin tanpa Candranala, Indonesia sepertinya tidak akan memiliki penghubung dengan Kerajaan Arevelk, atau memikirkan taktik gila yang tidak ada sebelumnya untuk memberikan tanah air perlindungan. Walaupun Sigiz kemungkinan tetap akan mengenal prajurit Indonesia lain, mungkin orang itu tidak akan seperti Candranala – yang mampu membuatnya tertarik dalam hubungan asmara. Pemikiran pria itu cukup unik, sehingga mudah bagi Sigiz memutuskan membanguh hubungan bersama negeri asal TNI.
Baik Sigiz dan Hevaz ingin mengatakan jika perjuangan Candranala pernah lebih buruk dari pertarungan ini. Namun, mereka berdua yakin jika para bawahannya telah mengetahui jika penyerbuan pertama Aliansi adalah yang terburuk setelah perang yang dilalui para leluhur pejuang muda untuk membebaskan tanah air dari para penjahat Barat dan kekaisaran matahari terbit.
“Tapi … sial, apa yang dilakukan Komandan, sehingga dia sangat kuat!”
Arif menggerutu kesal, dan Hendra menanggapi, “Ya.”
Entah bagaimana seluruh bawahan Candranala berpikir pria itu memiliki kekuatan yang biasa dimiliki tokoh utama novel fantasi bertema fantasi maupun kulitivasi, atau semacamnya.
“Dia sama seperti kalian. Hanya banyak berlatih dan belajar, walau sering menggunakan waktu yang tidak tepat untuk bersenang-senang. Aku tidak tahu untuk apa dia berjuang, tapi sepertinya Tuan Candranala memiliki orang penting untuk dilindungi. Jujur saja, fakta itu membuatku agak iri,” kata Sigiz, dan disetujui oleh Hevaz dengan memberikan tanggapan berupa anggukan.
__ADS_1
Anggota Tim Ke-12 membentuk setengah lingkaran, mengelilingi kedua gadis yang beberapa saat lalu memarahi mereka dengan liar dan menusuk perasaan.
Tidak peduli seberapa banyak amunisi yang dikerahkan, musuh tetap menutupi medan perang seperti lempengan logam bergerak, tanpa memikirkan banyaknya para istri menjadi janda, anak-anak yatim, dan orang tua kehilangan anak laki-lakinya. Tidak peduli ke mana mereka melihat, Aliansi mengisi hutan-hutan dan area terbuka tanpa meninggalkan celah.
Peluru kendali anti-tank kini dimanfaatkan untuk mencegah superioritas udara Aliansi pada pertempuran ini. Walau efektif, jumlah musuh lebih banyak daripada amunisi pembunuh tank tempur utama tersebut. Ledakan-ledakan yang membunuh penunggang Wyvern lawan menarik perhatian Tim Ke-12 yang masih mendengarkan nasehat dari kedua gadis di depan mereka.
Setelah mundur, para Pembunuh Senyap bertengger di dahan sejumlah pohon, menunggu infanteri ringan Aliansi melintas di area serang yang mereka ciptakan. Selain Candranala, para bawahan pria itu merupakan target yang harus mendapatkan dukungan, seperti perlindungan atau bantuan serangan. Unit-unit Aliansi tidak ada yang mendekati mereka, karena suatu alasan. Mungkin adanya Hevaz – Utusan Dewi Kematian dan Dewa Perang – dan logam bergerak.
“Sudahlah, tidak ada gunanya terus mendengarkan ocehan kami. Jika kita terlalu lama, Pahlawan Amarah mungkin sudah mengambil kepala Tuan Candranala, dan pasukan Aliansi akan menyerang kita.”
Menanggapi perkataan Sigiz, seluruh anggota Tim Ke-12 melompat ke kedua kendaraan taktis, siap bertarung kembali tanpa ada alasan untuk mundur. Mulai sekarang, seluruh personel tim akan maju bersama, bertarung dengan kemampuan masing-masing. Karena itu alasan utama Candranala memilih mereka sebagai anggota tim. Mereka telah sepakat, akan melindungi semua rekan dalam tim, dan teman-teman yang lain.
Ini adalah kali pertama mereka diperintahkan untuk melindungi orang yang seharusnya melindungi para bawahannya.
Setelah peregangan singkat, Bima memegang setir kemudi kendaraan taktis, begitu juga Agus sebagai pengemudi kendaraan taktis kedua. Penembak senjata otomatis adalah Hendra dan Sigit, ditambah senapan milik seluruh anggota.
“Tapi, berpikir Komandan merupakan tokoh penting di cerita ini … membuatku takut. Sebagian besar rasa takutku karena dia diincar musuh.”
‘Barista’ alias Hassan mengerutkan kening dengan wajah resah, dan tangan kanannya menggenggam pistol grip senapan dengan gugup.
“Terlalu cepat untuk takut sekarang! Ini adalah perang, prajurit akan bekerja penuh waktu. Jangan samakan dengan pekerja paruh waktu yang bisa beristirahat untuk memulihkan tenaga dan pikiran!”
**
Nalurinya berteriak agar dia menyerah, demi mempertahankan kewarasan. Tidak mungkin manusia biasa mengalahkan Pahlawan sendirian. Namun, akal sehatnya mencegahnya untuk melakukan tindakan yang hanya dimiliki prajurit cacat, bahkan jika dia mengakhiri tugasnya untuk selama-lamanya di sini.
Persetan.
Terus-terusan menghindari Rio dan kavaleri senapan Aliansi, Candranala tidak diberikan waktu istirahat sedetikpun, seolah-olah memang sengaja digiring agar mengalami lelah fisik dan mental. Terdorong oleh suara tembakan, cemoohan dari si Pahlawan Amarah, dan derap langkah kuda, Candranala berusaha mencari tempat pertahanan terbaik untuk melawan.
Sekujur tubuhnya terasa sakit, ditambah medan perang yang dipenuhi bunyi ledakan dan teriakkan penuh semangat yang memilukan. Sulit berkonsentrasi, pendengaran dan penciuman yang tersakiti oleh limbah pertempuran, kelihatannya membuat Candranala harus menderita gangguan jiwa saat hampir setiap pertempuran harus mengalami hal-hal tersebut. Namun, dia tidak bisa berhenti, atau musuh akan mendapatkannya.
Akhirnya, dia menemukan sebuah jurang dangkal sedalam lima meter di dalam hutan, untuk dijadikan tempat pertahanan yang layak. Ini adalah kali pertama Candranala kesulitan mencari tempat persembunyian, dan berpikir dia akan ditemukan musuh.
Instingnya mengatakan untuk mempertahankan diri, sambil mencari cara untuk menghadapi kejaran Rio dan pasukannya. Candranala sadar jika dia agak lambat dalam berpikir untuk sekarang, untungnya otaknya tidak mengalami cedera.
Jika dia masih ingin hidup, Candranala harus melakukan sesuatu – setidaknya menggunakan pistol, pisau tarung, pedang, maupun senapan dan mengeluarkan semua yang dia bisa. Namun, api besar di desa tadi memenuhi pikirannya, membuat pegangan pada gagang pistol tidak kuat.
__ADS_1
Dia bisa mendengar suara tembakan dan kawan yang berjuang menghadapi pasukan Aliansi di sisi lain. Sebelumnya, dia berpikir jika tugas komandan adalah melindungi bawahannya, tetapi sekarang Candranala berpikir bahwa dalam situasi seperti ini dia tetap memerlukan bantuan anggotanya. Sekarang, dia harus menemukan cara yang tepat setelah terjebak dalam situasi ini.
“Brengsek!” Candranala mengumpat untuk dirinya sendiri dan perang ini. Walau dia tidak ingin mati, namun mati di peperangan adalah kematian yang baik.
Ketika lawan yang mengincarnya adalah Rio, Candranala menolak pilihan untuk mati dan memencet tombol yang membuatnya harus terus bertarung.
Membayangkan dia merupakan target penting bagi Aliansi, Candranala berpikir akan mendapatkan kekuatan besar seperti tokoh utama anime maupun novel fantasi.
Peluru Abadi Rio membakar semak di dekat persembunyiannya, dan teriakkan serta tembakan tiba-tiba terdengar kembali. Candranala berpikir jika itu adalah ulah unit yang mengejarnya, dipimpin oleh Pahlawan Amarah.
Lalu, sebuah proyektil dari salah satu senjata tentara kavaleri senapan Aliansi menyerempet bahu kirinya, membuatnya mengeluarkan pekikan kesakitan yang didengar samar-samar oleh Rio dari atas kudanya.
“Candranala!”
Bayangan hitam mengelilingi seluruh tubuh Rio, dan bayangan di punggungnya memanjang membentuk dua buah tangan tambahan yang memegang bayangan senapan kuno TNI masa lalu bertipe SS2. Tangan bayangan panjang itu seperti lengan manusia biasa, dan tampak menambah kesan kuat pada senjata kuno yang terbentuk.
Setelah sihir kegelapan itu diciptakan, Rio berteriak dengan keras kembali.
“Candranalaaaaaaaaaaaaa!”
Bahkan, Candranala yang berpengalaman bertarung menghadapi musuh kuat berkeringat dingin mendengar teriakkan mengerikan dan sihir mengerikan itu. Dia tidak bisa menutup kedua telinganya walau ingin, dan satu-satunya matanya menatap Rio dengan tajam.
Intinya, walau hatinya merasa ragu dirinya bisa mengalahkan Rio dalam pertempuran biasa, mata kiri Candranala tetap memandang dingin lawannya.
Suara keras peluru berdaya ledak tinggi dari kendaraan tempur menjadi sinyal untuk memulai pertarungan ini. Dua kendaraan taktis menabrak barisan balakang kavaleri senapan Aliansi, dan terus melaju hingga bagian depan mobil hampir hancur.
Pengemudi kedua kendaraan taktis hanya tertawa seperti orang gila saat beberapa bagian depan mobil mulai lepas, dan penumpang serta penembak senapan mesin otomatis menghujani infanteri ringan lawan dengan senjata masing-masing, tanpa memikirkan akurasi.
Empat unit tank tempur utama beraksi, menerima rentetan peluru kavaleri senapan musuh tanpa tergores. Membuat pertempuran di hutan terasa dapat melenyapkan hutan ini.
Sepasang tangan bayangan Rio merasakan keberadaan Candranala, dan senapan yang terbuat dari bayangan itu menembakkan beberapa proyektil bayangan. Walau terbuat dari bayangan, dampak yang dihasilkan peluru-peluru magis itu nyata, dan beberapa pohon berlubang akibat lesatan proyektil bayangan.
Candranala sudah memasang peredam suara pada pistol dan senapannya, yang mengurangi 100 persen kebisingan saat menembak. Dia memang terkejut saat kedua tangan bayangan itu melepaskan serangan nyata, namun belum cukup untuk membuat Candranala putus asa.
Pasukan Aliansi yang bergerak bersama Rio tentu saja bertugas untuk memisahkan Candranala dengan pasukan utama, mengisolasinya agar Rio dapat mengalahkan Candranala dalam pertarungan singkat.
Dia mencoba menembak salah satu tangan bayangan, namun hasil yang diperlihatkan sudah Candranala duga sebelumnya, sehingga dia tampak tidak terlalu kesal. Proyektil 7,62 dengan peledak berdaya sedang – yang mampu mengoyak zirah logam milik Aliansi – menembus tangan bayangan. Lubang akibat lesatan peluru langsung diisi kembali dengan bayangan, menjadikannya utuh kembali.
__ADS_1
Melawan seorang Pahlawan adalah pertarungan gila, dan fakta bahwa Candranala sedang melakukannya lebih dari sekadar lelucon. Biasanya, bertarung melawan musuh yang kuat tidak bisa disebut pertempuran, tetapi karena Candranala sekarang berhadapan dengan lawan terbesarnya, dia tidak mampu mundur.