
Tiga hari sebelum keberangkatan pasukan yang dikirim untuk merebut kembali Benteng Kalea dari Persekutuan. Pasukan telah dipersiapkan sejak beberapa minggu lalu, sehingga dapat mengurangi waktu pengumpulan pasukan. Awalnya, mereka akan melaksanakan operasi merebut benteng yang dikuasai Persekutuan, tetapi tujuan mereka bertambah satu karena suatu hal.
“Ada apa dengan hari ini? Kenapa para penyihir terlihat sangat gelisah?” tanya Otsoa terhadap salah satu petinggi penyihir Aliansi yang berasal dari Kekaisaran Duiwel.
Dia kini berada di salah satu titik pengumpulan pasukan penyihir untuk merebut kembali Benteng Kalea, tepatnya sebuah area untuk berlatih pasukan kavaleri dan Peleton Khusus Aliansi. Karena ini merupakan tanah lapang yang sangat luas, sehingga dipercaya mampu menampung hingga lima ratus ribu prajurit lengkap dengan persenjataannya seperti balista, ketapel raksasa, dan trebuchet. Tetapi, Otsoa beserta beberapa penyihir yang bertugas mengawalnya melihat ada yang aneh dengan perilaku para penyihir.
“Yang Mulia Otsoa, kami, para penyihir merasakan energi magis sangat besar. Selain itu, mereka mungkin merasakan aura yang mencekam yang tercampur dalam energi magis besar ini. Anda mungkin tidak dapat merasakannya, namun saya mohon kepada Anda untuk mempercayai saya dengan apa yang terjadi.”
Kekaisaran Duiwel mendapatkan peran untuk memajukan penyihir militer lima anggota Aliansi yang berasal dari Benua Andzrev ini. Penyihir mereka mampu merasakan energi magis jauh lebih baik, serta memiliki sihir lebih beragam tergantung fungsi dan efeknya. Mereka juga melatih penyihir Luan, Hrabro, Salodki, Biez, dan Sirds untuk membedakan aura dan energi magis milik kawan dan lawan. Namun, energi magis yang mereka rasakan bukan berasal dari penyihir Aliansi maupun Persekutuan.
Yang mereka rasakan adalah sebuah energi magis sangat besar yang disertai dengan aura mengerikan. Bagi penyihir yang belum memiliki banyak pengalaman mengenai hal ini hanya merasakan energi magis yang sangat besar, sehingga mereka berperilaku seakan-akan terbebani dengan energi besar itu. Sementara bagi penyihir berpengalaman, apa yang mereka rasakan sekarang adalah aura mengerikan dengan energi magis besar yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
“Apakah para Dewata mulai turun ke dunia ini untuk menghakimi pasukan jahat?”
“Ini aura yang sangat mengerikan. Para para ras Iblis mungkin sudah mulai bergerak dalam perang ini!”
“Iblis? Ras terkutuk itu? Jika itu benar kita bisa menghancurkan mereka dengan sihir suci milik seluruh penyihir Aliansi yang terhormat ini!”
Baik penyihir pria dan perempuan, mereka semua bercakap-cakap dengan topik pembicaraan semacam itu. Bahkan, beberapa penyihir muda tak sadarkan diri akibat energi magis dan aura dengan kekuatan tak masuk akal ini.
Penyihir militer dan penyihir biasa memiliki banyak perbedaan, salah satunya dalam merasakan aura dan energi magis. Karena mereka sering dilibatkan dalam pertempuran yang sangat membingungkan, dan sering terjadi kawan membunuh kawan, maka penyihir militer dilatih untuk membedakan aura kawan dan lawan ketika pertempuran. Selain itu, mereka dapat berfungsi sebagai senjata tingkat berat jika menguasai sihir tertentu seperti api dan bumi.
“Para pahlawan akan kembali tiga hari lagi, dan persiapan hampir selesai. Apa kita sudah dapat memberangkatkan mereka?” tanya Otsoa pada penyihirnya.
“Pasukan yang belum berkumpul dapat menyusul. Yah… pasukan yang belum berkumpul hanya yang bertugas di dekat Kota Tanoe. Mereka akan bertemu dan bersatu untuk bergerak ke Benteng Kalea.”
Jika mereka berhasil merebut wilayah dan benteng yang dikuasai Persekutuan di dekat perbatasan dengan Tanah Suci yang dikuasai Kerajaan Yekirnovo dan Indonesia, tida diragukan lagi mereka akan mendapatkan jalan masuk untuk penyerangan selanjutnya… selama mereka memiliki rencana seperti itu.
Sebuah pusaran hitam muncul di depan Otsoa secara tiba-tiba, dan mengejutkan penyihir pendampingnya. Pusaran hitam dapat berarti sihir teleportasi khusus atau Gerbang tak sempurna yang hanya dapat dimasuki satu orang saja. Hanya pengirim pesan dan mata-mata pasukan khusus Aliansi yang dilatih menggunakan sihir teleportasi dan Gerbang tak sempurna perseorangan. Sehingga dapat dipastikan siapa yang akan muncul dari pusaran hitam itu.
“Tuan Otsoa, saya telah kembali dari tugas memata-matai Istana Awan,” ucap salah satu penyihir yang muncul dari dalam pusaran hitam.
“Apa yang kamu dapatkan, Tam?”
Pria itu berpakaian cukup terbuka, dan hanya mengenakan pakaian seperti pakaian dalam pria berjenis trunks tersebut melirik ke sekeliling untuk memantau situasi. Dia melihat penyihir yang mendampingi tuannya menatapnya dengan tatapan penasaran, serta beberapa prajurit yang lewat sambil melihat dirinya berlutut di depan Otsoa.
Otsoa dan orang-orang yang ada di tempat ini lagipula sama sekali tidak terganggu dengan pakaian yang dikenakan Tam. Karena para budak kebanyakan hanya mengenakan sesuatu seperti daun kering untuk menutupi anu dan bagian penting yang perlu ditutupi.
(olog note: buat pembaca yang penasaran, bisa searching di google tentang ‘pakaian dalam pria trunks’)
“Tuanku, saya menginginkan tempat khusus untuk berbicara. Informasi ini hanya akan saya berikan untuk para pemimpin negara.”
Tam ditugaskan untuk menjadi penyihir militer Kerajaan Arevelk, dan mencari semua informasi mengenai keadaan negara tersebut. Pria itu hanya salah satu dari sekian mata-mata yang dikirimkan Aliansi untuk tugas menyabotase negara musuh, sehingga informasi yang akan didapatkan akan jauh bervariatif.
Otsoa melihat sekitarnya, dan hanya melihat beberapa orang menatap dirinya dan Tam dengan penasaran. Di Kekaisaran Luan ini, dia memiliki tempat khusus yang sering digunakan untuk pertemuan para pemimpin negara anggota Aliansi. Kemudian dia mengajak Tam ke tempat yang dimaksud, meski harus meninggalkan pasukan yang akan berangkat sebentar lagi
Tugas para penyihir elit seperti Tam adalah membunuh beberapa penyihir yang berpihak pada Persekutuan, lalu menempati posisi mereka dan menggunakan identitas penyihir Persekutuan yang dihabisi. Dengan begitu, mereka dapat beroperasi dengan lancar dengan sedikit kendala, seperti perbedaan keseharian para penyihir yang telah sedikit terpengaruh oleh budaya yang dibawa oleh prajurit ‘dunia lain’.
Menekan perasaan untuk menyimpan sendiri informasi yang akan dikatakan Tam, Otsoa telah memanggil pemimpin negara anggota Aliansi. Perkiraan mereka akan tiba empat jam hingga tiga hari ke depan, dengan Kaisar Bogat yang akan tiba paling cepat karena dia adalah pemilik tempat yang menjadi markas besar Aliansi. Sementara pemimpin negara lain harus menempuh perjalanan udara menggunakan naga atau jalur darat dengan menumpangi kereta kuda.
“Baiklah, kau bisa mengatakannya di sini, kan?”
Tam melihat ke sekeliling, berkeliling ruangan berukuran enam meter persegi dengan fungsi menjadi ruang rapat antara kepala negara dan perwira Aliansi. Ruangan ini memiliki fitur kedap suara jika penyihir mengeluarkan sihir ruang yang dapat membuat hanya orang di dalam ruangan ini mendengar suara satu sama lain. Sayangnya, Tam hanya menguasai sihir untuk membunuh target dengan cepat, seperti racun atau panah angin. Setelah memastikan jika ruangan ini aman dan tidak ada kemungkinan informasi bocor, Tam merasa dapat mengatakan informasi yang didapatkan setelah menjadi penyihir Arevelk untuk beberapa minggu.
“Tuan Otsoa, ‘orang yang diramalkan’ telah datang lebih cepat dari perkiraan.”
“Apa?”
Reaksi Otsoa tidak seperti harapan Tam, pria paruh baya itu hanya sedikit terkejut meski pada awalnya dia terkejut juga.
__ADS_1
“Dia merupakan salah satu prajurit Indonesia, orang-orang Arevelk menyebut orang itu dengan ‘Mayat Hidup’. Karena dia pernah bertarung mati-matian, dan berakhir bertarung dengan Pahlawan Amarah dan Pahlawan Kesedihan sendirian dan berhasil meraih kemenangan atas penyerangan pertama kita terhadap mereka, walau akhirnya dia terluka parah. Mungkin Pahlawan Amarah terluka parah setelah kembali dari penyerangan ibukota Kerajaan Arevelk akibat bertarung dengan orang itu.”
“Itu memang kemungkinan terbesarnya. Tapi aku tidak menyangka jika ‘orang yang diramalkan’ ternyata muncul diantara prajurit musuh. Sungguh hal yang sangat disayangkan dan tidak bisa diterima. Bagaimanapun, Aliansi menginginkan kekuatan besar untuk perang ini, namun harapan itu justru didapatkan musuh. Terimakasih atas informasi mu, kau boleh beristirahat beberapa hari sebelum melanjutkan tugas.”
“Ya, terimakasih atas kemurahan hati Anda, Yang Mulia Otsoa.”
Tam kembali lenyap di pusaran hitam buatannya sendiri, lalu berpindah ke suatu tempat yang menjadi tujuannya untuk beristirahat.
“Kapan dia akan bergerak? Apa rencana membelah Kerajaan Arevelk belum dimulai olehnya?” gumam Otsoa setelah yakin tidak ada orang di sekitar tempatnya berada. Sayangnya, Tam masih berada di dekatnya, tepatnya di atap ruangan yang dimasuki olehnya sebelumnya.
**
Dua puluh ribu tentara telah berkumpul di tempat yang berjarak sembilan puluh kilometer dari tujuan mereka. Ini adalah dua hari sebelum penyerangan Benteng Kalia yang telah dikuasai Persekutuan sejak beberapa bulan terakhir. Itu artinya, mereka hampir mendekati Kota Tanoe dan berencana melakukan beberapa persiapan terakhir di sana sebelum melaksanakan pertempuran. Termasuk mengumpulkan dua unit Peleton Khusus Aliansi yang telah dipersiapkan untuk membantu penyerangan terhadap pasukan musuh yang menguasai benteng mereka.
Dua ribu penyihir merupakan diantara kekuatan terpenting dalam penyerangan ini selain sembilan puluh prajurit Peleton Khusus Aliansi yang terlatih. Mereka menenteng SP-1 di depan dada dengan wajah bangga ketika berjalan di antara pasukan yang masih dipersenjatai dengan panah dan pedang. Daripada disebut wajah penuh kebanggan, sebagian besar prajurit menganggap tentara Peleton Khusus Aliansi tersebut menunjukkan kesombongan. Meski tindakan arogan dilarang, namun pasti ada beberapa orang di antara pasukan yang melakukan hal semacam itu.
Ada puluhan prajurit yang tidak mendapatkan kesempatan untuk berbicara sama sekali. Mereka adalah puluhan ogre dan orc yang bertugas menarik puluhan persenjataan untuk menyerang Benteng Kalea. Tubuh kuat dan besar mereka cocok untuk tugas berat dan kasar tersebut, serta jika diperlakukan sebaik mungkin kedua jenis monster itu akan menurut. Agar mematuhi tugas, orc dan ogre dicekoki dengan anggur berkadar alkohol tinggi, dan akan membuat insting liar mereka menghilang beberapa hari.
Ogre memiliki rupa seperti manusia pada umumnya, dan sebuah tanduk di dahi yang menjadi pembeda mereka dengan manusia, sehingga mereka dapat diidentifikasi sebagai manusia setengah monster. Selain itu, rata-rata tinggi ogre dewasa adalah 170 centimeter untuk perempuan dan 2 meter untuk pria. Mereka juga berbicara dengan bahasa manusia, dan memiliki kemampuan bertempur hebat berkat kekuatan mereka. Namun, pasukan manusia negara anggota Aliansi menggunakan akal mereka untuk menaklukan suku-suku ogre di benua ini dan menjadi tenaga kerja gratis.
Wajah kedua jenis monster tersebut jelas-jelas menunjukkan ekspresi pasrah, meski mereka jarang mendapatkan siksaan karena kekuatan yang dimiliki di atas prajurit biasa. Selama mendapatkan makanan, mereka akan mematuhi siapapun dan akan menganggap orang yang memberi mereka makan sebagai tuan.
Di lain sisi, walau di dalam hati terdapat perasaan untuk menebas kepala tentara Peleton Khusus Aliansi, prajurit reguler tetap berusaha mematuhi peraturan. Mengingat mereka berasal dari berbagai negara yang bersatu di bawah panji Aliansi, meski empat tahun lalu mereka bersatu untuk memerangi ‘dunia lain’, kecuali Kekaisaran Duiwel.
Selain itu, penggagas terbentuknya Peleton Khusus Aliansi, Pahlawan Amarah, menganggap prajurit Kekaisaran Duiwel cukup berbeda. Mereka belajar menggunakan senapan dan bertarung dengan bayonet dalam waktu kurang dari dua bulan. Itu sebabnya sebagian besar personel Peleton Khusus Aliansi diisi oleh prajurit Kekaisaran Duiwel, meski terdapat pula prajurit dari negara anggota Aliansi lainnya meski jumlahnya lebih sedikit.
“Dua hari lagi Pahlawan Amarah akan kembali dari pelatihannya di Labirin milik Kekaisaran Duiwel. Kita akan menunggu dia di kota ini, lalu bergerak ke Benteng Kalea.”
Jenderal pasukan untuk merebut kembali Benteng Kalea, pria itu bernama Ur. Pasukannya dengan semangat menanggapi perkataannya, dan memasuki wilayah Kota Tanoe dengan langkah penuh semangat. Wajah mereka menunjukkan rasa percaya diri… meski teman mereka yang menerima kekalahan dari Persekutuan berjumlah tak terhitung. Entah apa yang membuat mereka merasa seperti itu, namun semangat di dada membuat mereka nampak membara seperti ini.
Selain itu, mereka telah mengetahui jika Pahlawan Kesedihan masih berada di kota ini, dan dapat menjadi bantuan tambahan sebelum Pahlawan Amarah memimpin mereka merebut kembali Benteng Kalea. Kabar tentang Pahlawan Kesedihan yang tidak ikut bersama para pahlawan lain berlatih di Labirin milik Kekaisaran Duiwel telah meningkatkan kepercayaan diri pasukan.
“Ini pasti keberuntungan yang diturunkan surga untuk kita, bahwa Pahlawan Kesedihan ditakdirkan untuk membantu kami dalam perebutan kembali Benteng Kalea,” ucap Ur dengan nada mencibir.
Apa yang dia katakan itu arogan, namun memiliki tujuan yang jelas. Biasanya, para jenderal Aliansi berlomba-lomba menciptakan berbagai strategi perang dan politik untuk meningkatkan reputasi mereka di Aliansi. Tetapi, setelah melihat Ur dalam kondisi percaya diri yang luar biasa besar, orang-orang-nya juga tidak merasakan takut dan gentar. Tidak kekurangan kepercayaan diri adalah syarat menjadi pemimpin setelah beberapa syarat yang lain.
“Kita akan berkemah di sini hingga Pahlawan Amarah kembali. Aku yakin, hanya dengan bantuan Pahlawan Kesedihan kita tidak dapat meraih kemenangan yang memuaskan. Aku ingin menghabisi banyak prajurit Indonesia dan sekutunya, serta merebut senjata-senjata kuat mereka,” instruksi Ur diterima oleh seluruh perwira-nya.
“Jangan lengah, mata musuh ada di mana-mana!”
“Ya…!!!”
Di atas salah satu sisi tembok pelindung Kota Tanoe, ‘Bandar Martabak’ alias Yandi melihat puluhan ribu manusia mendirikan kemah pada jarak beberapa kilometer dari kota ini. Dengan teropong miliknya, Yandi dapat melihat puluhan monster menarik puluhan senjata seperti trebuchet, ketapel raksasa, dan balista. Meski berjarak sekitar tiga kilometer dari tempatnya berada, Yandi dapat mendengar suara sorakan yang menggetarkan hati dari pasukan itu.
“Yandi, aku mau martabak buatan mu…” ucap ‘Parkour’ alias Herman dengan wajah malas karena sudah beberapa hari tidak mendapatkan kabar dari Hevaz yang menyusul Nio bersama Hassan.
“Hah?! Lebih baik kau bersikap serius sekarang!”
“Ada apa sih?”
Yandi memberikan teropongnya ke Herman agar pria itu melihat juga apa yang dia lihat. Herman juga sempat mendengar suara teriakkan yang cukup menggelegar, dan membuat tidur siangnya terganggu.
Tim Ke-12 menginap di salah satu penginapan yang dapat disewa 1 keping perak per malam, lengkap dengan makan tiga kali sehari dan pemandian umum. Tidak adanya Nio membuat mereka tidak bisa melihat rudal besar Nio, lalu menanyakan apa yang dilakukan pria itu hingga ukurannya anunya tidak masuk akal seperti itu. Para laki-laki rela tidur dalam satu kamar yang sama yang seharusnya hanya berkapasitas tiga orang, dan para perempuan diperbolehkan tidur tanpa berdesakkan. Itu karena uang anggaran untuk misi mereka dipegang oleh Hassan, dan pria itu menyusul Nio bersama Hevaz sehingga uang operasional selama satu minggu mereka terbawa.
“Woy woy woy woy, kenapa ada ribuan prajurit di sana?” Reaksi Herman sama persis seperti Yandi saat melihat ribuan tentara sedang mendirikan kemah tak jauh dari Kota Tanoe.
Untuk sesaat kedua pria yang berasal dari Garnisun Aceh Barat itu membiarkan diri mereka terpesona dengan pemandangan puluhan ribu prajurit musuh sedang mendirikan perkemahan. Lalu, terdengar suara gemerincing, seperti seseorang yang membawa ratusan keping koin. Yandi dan Herman menoleh ke sumber suara bersamaan, dan melihat Bima menatap mereka dengan tajam sambil membawa rantai.
“Kenapa kalian tidak segera melapor kalau kalian melihat pasukan musuh mendirikan perkemahan di dekat Benteng Hitam?!”
__ADS_1
Tidak ada cara untuk mengalahkan anggota paling menakutkan, meski Bima cukup menyegani atasannya yang telah berjuang di banyak medan perang. Herman dan Yandi sama-sama tidak berkutik dan mencoba menyusun kalimat permintaan maaf yang cocok untuk sifat Bima yang kelewat tegas tersebut.
“Ma-maaf! Saya pikir kami dapat memantau pergerakan pasukan musuh lebih lama, dan melapor jika mereka mulai menunjukkan pergerakan yang mencurigakan!”
“Mereka jelas-jelas berada di dekat kota ini, dan tak jauh dari sini adalah Benteng Hitam. Bukannya yang akan mereka lakukan sudah jelas?”
“Kalau boleh tahu, apa yang Anda pikirkan tentang pasukan musuh yang berkemah di dekat kota ini?”
“ ’Mereka jelas-jelas akan menyerang Benteng Hitam’, mungkin itu yang akan dikatakan Letnan Nio dengan percaya dirinya. Tapi, aku hanya bisa menebaknya saja, kebenaran akan terlihat jika kita menunggu sedikit lebih lama.”
“Tapi, tidak ada salahnya mengambil langkah untuk antisipasi, kan?”
“Baiklah, kita akan melapor ke markas pusat untuk mendengar langkah apa yang akan mereka tetapkan untuk situasi ini.”
Sementara itu, tanpa mereka sadari, Indah berada di dekat mereka dan mengetahui apa yang terjadi. Dia tahu apa penyebab berkumpulnya ribuan tentara di dekat Kota Tanoe, dan tidak mungkin mengatakan rencana mereka pada Tim Ke-12. Meski dia telah mendapatkan sedikit kepercayaan dari anggota tim tersebut, namun dia tetap merasa para bawahan Nio belum memaafkan daripada mempercayainya.
“Pahlawan Kesedihan, sepertinya kau tahu apa yang terjadi.”
“Eh?”
Saat akan turun dari anak tangga, Bima, Herman, dan Yandi menoleh ke arah Edera yang tengah berbicara dengan seorang gadis. Karena Edera merupakan ‘maskot’ Tim Ke-12, para personel merasa harus melindungi gadis itu demi Nio. Selain itu, sejak kedatangan pertama Edera di Indonesia, gadis itu mulai dikenal banyak masyarakat Indonesia dan negara sekutu, termasuk seluruh anggota Tim Ke-12.
“Oh, ternyata Nona Indah, toh? Sepertinya Anda benar-benar menyembunyikan sesuatu dari kami.”
Bima sengaja menekan kalimat ‘Anda’ untuk mengintimidasi salah satu orang terkuat milik Aliansi tersebut, meski perasaannya sendiri masih gelisah jika Indah tiba-tiba mengeluarkan kekuatannya untuk melawan dirinya.
“Jika Anda memiliki informasi, jangan sungkan-sungkan untuk membaginya dengan kami,” ucap Herman dengan senyum menyeringai yang mengingatkan Indah dengan sesuatu.
“Nio…” Indah berkata dengan lirih.
“Ah, dia mengatakan nama Letnan Nio. Hei, apa kalian mendengar dia memanggil nama Letnan Nio,” ucap Herman yang membuat Indah nampak seperti orang yang telah terpojok dan tak dapat berkutik.
Seringai Herman mengingatkan Indah pada perkelahian Nio melawan geng yang dipimpin Baron, dan mereka berhasil memojokkan Nio hingga tersenyum atas keberhasilan mereka. Itu adalah hal yang membuatnya merasakan sesuatu, dan tidak memiliki keberanian yang cukup untuk melindungi Nio. Senyuman antek-antek Baron waktu itu mirip dengan seringai Herman yang ditujukan padanya.
Tetapi, Herman, Bima, dan Yandi menganggap jika perkataan Indah yang seakan-akan memanggil nama Nio adalah bukti jika gadis itu pernah memiliki hubungan dengan komandan mereka. Sedangkan Edera benar-benar yakin jika Pahlawan Kesedihan itu pernah menjadi orang penting di hati tuannya.
Indah berjalan beberapa langkah ke belakang, seperti menjauhi tiga prajurit TNI dan gadis Demihuman tersebut. Di dalam hati, Indah berkata “Menjauhlah!” berkali-kali dengan ekspresi gelisah, dan itu membuat mereka kebingungan.
“He-hei, aku tidak bermaksud membuatmu ketakutan,” ucap Herman dengan nada gemetar karena takut jika Indah mengeluarkan kekuatan pahlawannya.
“Kami hanya membutuhkan jawabanmu apa yang pasukan itu rencanakan,” jelas Bima.
“Aku tidak bisa menjawabnya, maaf.”
Edera berjalan dari belakang Herman, Bima, dan Yandi dalam mode kucingnya. Perubahan Edera membuat Ketiga pria itu terkejut dan kebingungan untuk mencegah gadis itu berbuat sesuatu yang berpotensi membahayakan Tim Ke-12 di kota ini. Tidak adanya Nio di sini membuat mereka tidak tahu bagaimana cara menenangkan Edera yang sudah mengeluarkan cakar tajamnya, pupil mata yang meruncing, dan gigi taring yang memanjang. Sementara itu, Indah juga sudah siap dengan busur panah miliknya dan siap melepaskan anak panah magis – yang pernah melukai Nio.
Dengan terpaksa, Bima, Yandi, dan Herman mengeluarkan SS20 G2 mereka dari balik mantel dan membidik Indah. Untungnya, tempat ini tidak terlalu ramai, dan mereka dapat melakukan tindakan untuk menjaga kerahasiaan identitas mereka, melumpuhkan seseorang misalnya. Nio tidak memerintahkan seluruh bawahannya untuk membunuh selama melaksanakan misi, kecuali keadaan benar-benar mengharuskan mereka untuk melakukan tindakan tersebut. Herman menelan ludah dengan kasar dan menyesali perbuatannya yang membuat mereka terjebak dalam situasi yang membingungkan ini.
“Kau tidak akan mendengar suara tembakan jika mengatakan apa yang pasukan itu rencanakan,” ucap Edera dengan tatapan mengancam.
“Aku tidak bisa mengatakannya. Kalaupun bisa, beberapa menit kemudian pasti aku akan mati karena telah mengatakan rahasia Aliansi terhadap musuh.”
Adalah fakta jika para pahlawan akan mati jika mengatakan rahasia Aliansi terhadap musuh, karena mereka telah dipaksa untuk melakukan ‘Kontrak Nyawa’ untuk menjaga kesetiaan mereka terhadap Aliansi. Indah tahu jika perkataannya pasti tidak akan diterima oleh mereka, dan dia merasa “Apa boleh buat”.
**
(peta wilayah Kekaisaran Duiwel, sumber gambar pribadi)
__ADS_1