
Satu minggu kemudian, operasi dilakukan sesuai jadwal, dan unit pemberani Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap yang dipimpin Letnan Satu ‘TRIP’ Nio berada di dalam kapal pendarat yang dikirimkan ke zona pendaratan sebagai garda terdepan. Kecuali Hevaz, gadis Utusan tersebut terbang di atas kapal pengangkut layaknya helikopter kawal.
Rencana Nio adalah mendarat sebelum fajar, memanfaatkan kelengahan musuh kemudian menghancurkan meriam-meriam mereka. Sebagai pasukan garis terdepan dalam operasi, Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap dihadapkan pada risiko besar. Tetapi, nyatanya benteng pantai memiliki kelemahan terhadap serangan dari belakang, sehingga seluruh pejuang yang dipimpin ‘Mayat Hidup’ memiliki keyakinan mampu melaksanakan misi dengan sukses.
“Kami harus bisa melakukan misi ini. Aku menyarankan taktik ini, jadi aku yang bertanggung jawab atas nyawa orang-orangku,” gumam Nio, dengan keyakinan teguh dirinya mampu memimpin pasukan hanya dengan satu tangan dan mata.
Pertahanan pesisir disiapkan untuk menghadapi serangan dari kapal perang dan unit amfibi Persekutuan. Ketika Nio dengan yakin bahwa Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap tidak memerlukan serangan perlindungan karena yang terpenting adalah komunikasi antar personel, rasanya peluang keberhasilan tampak kecil, sebab pasukan dilengkapi oleh senjata ringan.
“Lima menit lagi kita akan melakukan pendaratan!” peringatan dari nahkoda membuat seluruh bawahan Nio melakukan persiapan akhir.
Pendaratan Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap tidak didukung oleh serangan kapal perang kawan, sehingga kemungkinan mereka terdeteksi tetap ada.
“Oke, semua orang keluar dari kapal!”
Dia hanya bisa berharap pasukan yang ia bawa mengeluarkan bakat-bakat terpendam masing-masing. Tugas utama Nio adalah meningkatkan kemungkinan keberhasilan dan menghilangkan hambatan.
Dan seorang komandan tidak bisa memasang ekspresi cemas sesaat sebelum operasi. Itu sebabnya Nio memerintahkan anggotanya untuk bersiap dengan nada santai.
Nio memang prihatin saat melihat bawahannya – kecuali Zefanya dan anggota Pembunuh Senyap – menggigil karena berlayar di lautan dingin. Mereka berdiri dengan berdesakan untuk mendapatkan kehangatan, namun mereka tetap siap menghadapi pertempuran, jadi Nio tidak perlu khawatir berlebih.
“Seharusnya kalian mendengarnya sebelumnya, tetapi target kita adalah meriam dan penyihir tempur yang menjaga Teluk Tanduk. Menghancurkan senjata dan mengamankan penyihir tempur Aliansi adalah misi utama, tetapi jika mengalami kesulitan, melumpuhkan atau membunuh mereka tidak dilarang,” ucap Nio, menegaskan kembali tujuan misi tanpa basa-basi.
“Misi pendaratan tergantung pada kita!” lanjut Nio.
Meriam pertahanan pesisir dan penyihir bukanlah benteng, yang berarti seluruh anggota mampu menghadapinya. Yang terpenting, pasukan Aliansi yang mempertahankan Teluk Tanduk selalu terpaku ke arah laut. Menghadapi penyihir tempur memang tugas berat, namun Tim Ke-12 memiliki komandan yang berpengalaman dalam pertempuran yang melibatkan sihir peperangan, ditambah Hevaz yang memiliki kekuatan diatas manusia normal. Sehingga, operasi pendaratan amfibi tergantung pada mereka.
“Setelah mendarat, Tim Ke-12 akan menempati garis depan, dengan serangan dukungan dilakukan Pembunuh Senyap dan Hevaz. Pada dasarnya, kita melakukan pertempuran ini sendirian. Hancurkan meriam musuh yang ditempatkan pada titik terbaik dalam satu jam. Aku berharap kalian semua mengeluarkan seluruh kekuatan setelah mendarat.”
Nio berharap banyak pada bawahannya. “Tolong jangan mengacau, tunjukkan padaku kalian memiliki kekuatan yang cukup untuk memenangkan pertempuran ini,” ucap Nio di dalam hati, yang dia bisa lakukan memang hanya berharap.
“Kita akan terpecah menjadi 2 kelompok seperti biasanya. Aku akan menangani para penyihir musuh, Kelompok 1 yang dipimpin Sersan Mayor Hassan akan menangani artileri pertahanan pesisir, sedangkan Kelompok 2 yang dipimpin Bamlag dan dibantu Hevaz bertugas menghadapi unit perlawanan musuh.”
“Komandan, kau akan bertempur sendirian lagi?” Bima mengatakan hal itu, seakan-akan tidak ingin membiarkan Nio mengambil peran utama dalam misi ini.
Nio menjawab, “Tidak masalah. Jika kalian gagal melakukan tugas, segera hubungi aku. Jika tidak sempat melakukannya, rencananya adalah tetap bertahan hingga pasukan pendarat tiba.”
“Tuan Nio, apa tugas kami termasuk menangani bala bantuan musuh?” seorang Demihuman bertelinga kelinci bernama Bamlag bertanya. Nio menunjuk pria tersebut sebagai pemimpin para Pembunuh Senyap dalam misi ini dengan berbagai pertimbangan. Bamlag adalah mantan kepala salah satu suku Demihuman bertelinga kelinci di Kekaisaran Luan.
Hampir seluruh anggota suku yang Bamlag pimpin dipaksa bertarung bersama Aliansi dalam perang ini, sehingga hanya sedikit orang yang berjuang bersamanya dibawah pimpinan Nio. Alasan dia bersedia bertarung bersama Nio dan rekan-rekannya adalah mereka diterima dan diperlakukan dengan baik, tanpa mempedulikan jika asal mereka sebelumnya merupakan musuh negeri asal pasukan hijau. Hal itu membuat Bamlag menghormati para prajurit yang tidak tahan pada suhu dibawah titik beku tersebut.
“Benar. Jika kalian tidak bisa menanganinya, minta bantuan Hevaz,” jawab Nio atas pertanyaan Bamlag.
Mengecek ulang semuanya untuk memastikan pasukan tidak melupakan sesuatu dan menjaga setiap personel mendapatkan informasi terkini, mereka memakai handsfree komunikasi di telinga masing-masing. Para Pembunuh Senyap dan Hevaz telah terbiasa oleh teknologi dari negeri asal TNI tersebut, sehingga tidak perlu menggunakan komunikasi konvensional yang membuat mereka lebih mudah ditemukan musuh.
Bagaimanapun, Nio tidak pernah mengatakan bahwa misi ini akan berhasil, tetapi tidak ada alasan sepele jika mereka gagal, jadi tidak ada pilihan yang lebih baik selain menyingkirkan semua halangan.
“Pak Guru dan Huvu, kalian adalah komandan cadangan untuk Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap. Jika aku dan Pak Bamlag tidak dapat dihubungi, suruh semua anggota mundur,” kata Nio, namun ditanggapi dengan ekspresi sedih oleh Edera, Huvu, dan Ebal.
“Mundur, Letnan?” jawab ‘Pak Guru’ alias Ferdi.
“Tuan Nio, Anda dan Bamlag tidak mudah dikalahkan. Jangan berbicara seolah-olah misi ini berpotensi gagal,” ucap Edera, membuat seluruh Pembunuh Senyap memasang wajah gelisah yang sama.
Nio menjawab, “Operasi ini akan berhenti jika kita kehilangan sinyal. Jika musuh berhasil memotong komunikasi kita, peluang kita menang jadi sedikit. Jika kemungkinan itu terjadi, aku mungkin masih bisa bertahan, tapi entah apa hasil akhirnya.”
Nio mengatakan keresahannya, tapi dia sama sekali tidak memiliki niat mengorbankan diri sendiri. Jika perlu, dia akan membuat keributan untuk memancing musuh yang mengejar para bawahannya, itulah yang bisa ia lakukan demi menjaga anggotanya dalam kondisi terdesak.
“Bersiap untuk mendarat!” peringatan Nio membuat seluruh anggota Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap tegak.
“Siap, Pak!” jawab seluruh orang serentak.
Ketika seluruh anggota dengan cepat memeriksa perlengkapan masing-masing, Nio dengan sigap memasang magasin pada senapan serbu miliknya. Hanya dengan satu tangan menyulitkannya dalam menembak, tapi Nio tidak memiliki pilihan lain. Singkatnya, dia terbiasa bertarung dalam keterbatasan.
“Semua, keluar dengan tertib! Semoga Tuhan memberi kita kemudahan dan keselamatan!”
**
Ketika kapal-kapal perang Indonesia berbaris di sepanjang Teluk Tanduk yang sempit, mereka tidak menunjukkan tanda-tanda memulai pertempuran, sehingga membuat Gurion cukup heran.
Tapi, dia adalah tipe orang yang membuat persiapan penuh untuk pertempuran.
Namun…
__ADS_1
“Serangan mendadak! Sejumlah meriam dan senapan mesin dihancurkan musuh! Jumlah mereka sedikit, tapi pergerakan mereka sangat cepat! Apa yang dilakukan pasukan pengawal?!”
Suara ledakan yang bukan berasal dari meriam kapal perang Indonesia didengar oleh sang Pahlawan Penyesalan, merusak dua artileri pertahanan pesisir dan empat senapan mesin berat. Pasukan yang ditempatkan di sini tidak memiliki kesiapan dalam menghadapi serbuan cepat dari garis belakang, meskipun mereka telah berjaga-jaga.
Terutama saat beberapa prajurit bawahan melaporkan serangan mendadak musuh, menandakan Indonesia telah memulai perang. Tekanan dalam hati dan pikiran Gurion membuat pria tersebut mengangkat ‘Tar-21’ miliknya.
(olog note: Tar-21 adalah senapan serbu bullpup buatan Israel dengan kaliber 5,56mm)
“Musuh menyerang dari belakang saat pasukan masih beristirahat. Mereka pasti unit yang sangat terlatih. Tidak, kami lengah karena jarang berlatih,” gumam Gurion.
Gurion sama sekali tidak menyembunyikan ketidaksenangannya saat senapan mesin berat dan artileri pertahanan pesisir mulai menembaki kapal-kapal perang Indonesia meski tidak menyebabkan dampak berarti. Armada Indonesia tidak membalas serangan, namun pasukannya sama sekali tidak bisa membalas saat satu-persatu unit elit lawan memasang peledak dan merusak senapan mesin berat dan artileri.
“Bagaimana status musuh yang menyerang kita sekarang?” tanya Gurion pada salah satu bawahannya.
“Belum jelas, Tuan. Tapi, operator senapan mesin dan penyihir telah memulai serangan, dengan target Demihuman dan pasukan kecil Indonesia.”
“Apa? Tanyakan pada pasukan patroli apa yang terjadi. Kenapa mereka tidak bisa menyadari musuh yang menyusup!”
Gurion menganggap perlawanan terhadap penyihir dan perusakan senjata oleh pasukan kecil musuh melalui garis belakang merupakan ejekan, menyebabkan pasukannya kacau. Melawan penyihir adalah pertarungan sulit, tapi korban di pihak penyihir tempurnya telah mencapai jumlah yang mengkhawatirkan.
Matahari belum terbit sepenuhnya, namun penyihir tempur dan unit operator senapan mesin yang menjadi senjata garis depan kesulitan melakukan perlawanan. Gurion belum menyadari betapa buruk situasi yang menimpa pasukannya, tapi dia menghela napas sambil terus mengawasi situasi.
Pendaratan secara rahasia lalu serang. Demi mencegah hal tersebut, Gurion telah menyarankan Aliansi untuk membuat unit patroli cepat. Tetapi, armada yang dimiliki Aliansi benar-benar hanya kapal induk Wyvern dan kapal perang dengan meriam berat, sehingga tidak mampu melakukan gerakan cepat. Aliansi memerlukan dana untuk membangun kapal cepat untuk operasi pencegatan.
Merenung dan menyesali keputusan petinggi Aliansi yang tak memperhatikan kekuatan pasukan, Gurion berharap pasukannya paling tidak membunuh satu prajurit musuh demi mengurangi rasa malu walau menerima kekalahan.
Musuh yang menyusup telah menghancurkan beberapa artileri, senapan mesin berat, dan membunuh sepuluh penyihir tempur. Gurion cemburu pada kekuatan musuh.
“Sial, ternyata mereka menargetkan senjata! Batalion utama, maju bersamaku!”
Musuh menyelinap dan menghancurkan artileri, senapan mesin, dan penyihir tempur. Gurion kemudian mengumpulkan batalion-nya, memimpin bawahannya untuk mencegah kehancuran lebih banyak pada persenjataan utama untuk mempertahankan Teluk Tanduk.
Batalion Gurion dipersenjatai oleh SP-1, namun untuk perlindungan masih mengandalkan perisai. Bagian depan perisai yang melengkung diharapkan dapat membelokkan proyektil musuh. Seluruh prajurit di bawah komando langsung Gurion bergerak dengan tekad di dada.
Gurion memerintahkan batalion-nya bergerak sekarang sebelum pasukan amfibi utama musuh mendarat.
Nio melihat ribuan prajurit bersenjata SP-1 berlari ke arah pantai, mendengar teriakkan penuh semangat mereka. Bagaimanapun, Aliansi hanya menang dalam hal kuantitas, dan kualitas mereka jauh dibawah Persekutuan. Nio telah membunuh sepuluh penyihir, dengan tambahan dua yang dia habisi beberapa menit lalu.
Di sekeliling pesisir tumbuh banyak pepohonan besar, batu-batu seukuran rumah, dan pantai terbuka. Nio tampak berlari dari balik sebuah karang, menembaki sejumlah penyihir tempur yang baru merapalkan mantra. Beberapa penyihir berhasil mengeluarkan lembing es dan batu, kemudian melesatkannya ke arah Nio yang bergerak ke sana-sini. Selain lembing es dan batu, sejumlah penyihir melepaskan sihir artileri, dengan sasaran target utama Aliansi.
Kecepatan lembing es dan batu yang mengkhawatirkan membuat Nio harus melompat saat mencapai sebuah batu untuk berlindung. Batu dan karang di sekitarnya pecah saat sihir artileri lawan mengenainya, membuat Nio agak gelisah jika serangan itu mengenai dirinya. Tetapi, lembing es dan batu seketika pecah saat mengenai batu yang melindunginya.
“Komandan, kamu sepertinya terdesak?!” ucap Zefanya, menembak satu persatu senapan mesin lawan dari salah satu sisi tebing pesisir.
Nio mendengar ucapan salah satu bawahannya itu melalui handsfree-nya, kemudian memasang wajah serius.
“Aku juga melihatnya, Zefanya! Hei, apa kau bisa melumpuhkan satu atau dua penyihir musuh?!” tanya Nio, namun segera dibalas dengan senyuman remeh oleh gadis Rusia tersebut.
“Komandan, terlalu sedikit jika kau memerintahkanku hanya membunuh satu atau dua penyihir musuh. Lagipula, mereka memiliki proteksi yang cukup baik, jadi cukup sulit melumpuhkan mereka,” balas Zefanya.
Nio langsung memutuskan tanpa ragu, “Tidak, para penyihir tidak bisa melihatmu secara langsung, kan? Ini tidak seperti saat kau berhadapan dengan Pahlawan Amarah yang bisa mengetahui posisimu, jadi mereka tidak akan sempat melindungi diri dengan sihir tameng.”
Penyihir tempur Aliansi yang sedang memburu Nio tidak bisa bergerak cepat, mereka bukan tipe penyihir yang bisa terbang menggunakan tongkat atau sapu sihir. Meskipun melakukan perburuan di area dengan pepohonan lebat, para penyihir mampu menekan Nio hingga mencapai pantai.
Nio pada akhirnya tidak bisa melarikan diri, sehingga dia perlu serangan pendukung yang bisa memberikan efek gentar bagi penyihir musuh. Alasan Nio bisa dengan percaya diri mengatakan akan menghadapi seratus penyihir tempur Aliansi sendirian karena dia memiliki penembak jitu, sehingga dia bisa bertarung dengan nyaman.
Serangan sihir artileri, lembing es, dan batu penyihir tempur lawan belum mampu mengenai Nio. Tetapi, berkat hujan serangan tanpa henti, usaha para penyihir untuk memojokkan target utama Aliansi dalam perang ini membuahkan hasil.
“Zefanya, mana tembakan bantuanku?!”
“Ah? Si-siap, segera laksanakan, Komandan!”
Setelah komunikasi singkat Nio dan Zefanya selesai, Nio segera keluar dari persembunyiannya saat penyihir musuh masih merapalkan mantra. Rata-rata penyihir Aliansi memerlukan waktu 5 detik untuk mempersiapkan serangan sihir, waktu singkat yang lebih dari cukup untuk Nio menemukan persembunyian yang lebih baik.
Nio ingin mencari tempat yang lebih tinggi dari lawannya, sehingga dia berlari ke tebing yang juga berbaris puluhan artileri pertahanan pesisir serta senapan mesin berat.
Sebuah lembing es melesat dalam kecepatan peluru, melewati Nio dan menancap pada batang pohon di depannya. Nio menoleh ke belakang, melihat dua puluh penyihir tempur Aliansi berada dalam jarak 40 meter dengannya. Di dalam hutan, Nio memiliki banyak keuntungan, namun jumlah musuh membuatnya terpojok.
Nio membidik salah satu penyihir yang berhenti untuk merapalkan mantra, dan tembakan tepat mengenai kepalanya. Itu memberi waktu untuk Nio menambah jarak dirinya dengan para penyihir yang masih mengejarnya.
Namun, berkat Nio yang bertempur sendirian melawan penyihir musuh, Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap berhasil mengacaukan pasukan artileri pertahanan pesisir Aliansi. Situasi yang berantakan tidak diharapkan Gurion.
__ADS_1
Sambil terus memimpin batalion-nya, Gurion mengawasi setiap manuver musuh yang menargetkan meriam dan senapan mesin. Serangan diam-diam musuh membuat banyak keuntungan bagi mereka, sehingga membuat Gurion mengutuk mereka.
“Mereka cepat, Tuan Gurion!”
“Jumlah mereka tidak mencapai satu kompi. Indonesia pasti sudah menganggap remeh kita!”
Gurion menanggapi kebencian para komandannya, “Mereka pasukan elit. Jangan remehkan pelatihan mereka. Manfaatkan jumlah besar kita untuk bertahan dan menekan musuh!”
Sayangnya, pasukan musuh yang hanya berjumlah puluhan tidak gemetar saat mereka mengandalkan kekuatan jumlah. Tetapi, dengan yakin Gurion memimpin pasukannya untuk mengusir pasukan musuh yang menyerang artileri, senapan mesin, dan penyihir tempur.
“Maju! Tahan pergerakan musuh!” teriak Gurion.
Yang Gurion bisa lakukan hanyalah berteriak dan memimpin pasukannya menghadapi serbuan musuh.
Apalagi yang dia bisa katakan selain itu?
Gurion menatap pantai, tempat prajurit lawan membantai penyihir tempur-nya. Dia berdoa di dalam hati, namun kemudian bertanya, “Apa Tuhan-ku memperhatikan dunia ini? Apa Tuhan-ku juga melihatku meski tidak lagi berada di dunia asal-ku? Apa dunia ini dipelihara oleh Tuhan yang aku imani?”
“Tuan Gurion!” peringatan seorang prajurit membuatnya segera sadar dari kegelisahan.
“Ya Tuhan. Kenapa dia ada di sini?” ucap Gurion dengan wajah yang melebihi gelisah saat menatap ke arah pantai.
“Kejar babi hijau itu. Dia hanya satu orang, hujani dia dengan peluru. Jangan biarkan dia membunuh lebih banyak penyihir kita!” komandan cadangan berteriak seperti itu, dan diterima oleh batalion.
“Persekutuan memiliki satu prajurit berwujud manusia biasa yang menyebalkan, julukannya ‘Mayat Hidup’ atau semacam itu,” Ketika Gurion bergumam dan menatap seorang prajurit TNI yang berlari dari pantai ke area hutan, dia segera ingat berita dari Rio dan Kaisar Bogat.
“Dengan keberanian yang mampu melukai Pahlawan terkuat Aliansi, Pahlawan Amarah, dia pantas menyandang julukan ‘Mayat Hidup. Prajurit itu sulit mati, walau musuh yang ia hadapi memiliki kekuatan di luar nalar.”
Gurion gentar saat melihat seorang prajurit Indonesia membunuh 12 penyihir tempur sendirian. Tidak ada kutukan paling menjijikan yang pantas untuk diberikan prajurit itu. Dia prajurit biasa yang memiliki kekuatan melebihi Pahlawan terkuat.
“Tuhan, aku berdoa kepada-Mu. Beri aku kekuatan untuk mengalahkan musuh itu.”
Gurion berdoa saat membidik Mayat Hidup, senapannya bercahaya oleh energi sihir miliknya. Namun, dia segera membatalkan niatnya, dia melihat pasukannya memburu Nio dengan wajah penuh keberanian dan keyakinan. Dia tak ingin mengganggu usaha pasukannya.
Tetapi, dia tidak mungkin bisa mundur.
‘Mayat Hidup’ hanya sendirian, sedangkan dia memiliki senapan sihir seperti milik Rio. Jika dia berhasil menangkap Mayat Hidup, dia akan merubahnya menjadi mayat sungguhan. Dengan pemikiran seperti itu, Gurion mengejar Mayat Hidup dengan semangat membara.
Dalam pelarian yang sulit, di dalam hati Nio berpikir dia bekerja jauh lebih besar daripada gajinya. Tetapi, cara kerja prajurit bukan dengan memasukkan koin dari lubang yang telah disediakan, lalu mulai bekerja setelah pengguna menekan tombol setelah memasukkan koin dengan jumlah tertentu.
Nio bertempur sambil mentaati peraturan.
Walau Zefanya membantu dengan menembak mati lima penyihir tempur musuh, jumlah orang yang mengejar Nio malah seukuran batalion. Meskipun Nio ingin melarikan diri, dalam kasus ini dia tidak bisa lolos. Pada situasi seperti ini, prajurit harus terus berjuang.
“A*su! Mereka tangguh juga ternyata!”
Ketika Nio berpikir ingin terus kabur, dia menyadari pencapaiannya selama mengabdi sebagai prajurit. Dia berpikir jika yang hanya terus melarikan diri dari masalah, demi masa depan yang cerah dia harus berhenti walau tak berdaya. Dengan penuh risiko, dia harus mengambil langkah melebihi kata ‘nekat’ dan berjuang.
Satu-satunya cara untuk melawan jumlah besar mencegah upaya musuh melepaskan tembakan adalah dengan terus maju untuk melakukan pertarungan jarak dekat. Pada jarak dekat, bahaya memang jauh lebih besar. Namun, dalam jarak dekat, tembakan akan lebih tepat sasaran dan perbedaan jumlah dapat diabaikan.
“Jangan biarkan dia mencapai artileri. Di sana ada rekan-rekan target!”
Penyihir yang meneriakkan kalimat tersebut melepaskan lembing es, namun meleset dari sasaran berupa ‘Mayat Hidup’. Tembakan balasan datang dari Mayat Hidup, namun tembakan justru membunuh satu penyihir di dekatnya.
Nio dan infanteri senapan serta penyihir Aliansi saling bertukar tembakan. Adegan ini menampilkan teknologi melawan keberadaan fantasi, di mana teknologi dan sihir beradu, atau bahkan bersatu menciptakan senjata baru yang berasal dari perpaduan keduanya.
Sayangnya, perpaduan antara sihir dan teknologi hanya menciptakan besi yang menumpahkan darah di tanah.
Pada akhirnya, keunggulan adalah sesuatu yang ada batasnya. Khususnya keunggulan jumlah, banyak pihak yang menyatakan pasukan dengan jumlah besar dinyatakan sebagai pemenang.
“Letnan Nio, bagaimana statusmu sekarang?!” komunikasi datang dari komandan Kelompok 1, Sersan Mayor Hassan.
“Aku sedang menjauhi kejaran musuh. Jangan khawatir dengan diriku.”
“Jangan mengada-ngada, Letnan! Nona Hevaz, tolong bantu Letnan Nio,” pernyataan Hassan cukup mengejutkan Nio yang masih berlari.
Nio dan pasukannya telah mengendalikan situasi, mereka tidak lagi khawatir akan berhasil atau malah gagal. Sebaliknya, Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Artileri pertahanan pesisir dan senapan mesin berat masih dalam proses pelumpuhan, pasukan pengejar Nio mulai melawan Utusan Dewi Kematian dan Dewa Perang, serta kapal-kapal pendarat yang mengangkut infanteri amfibi dan kendaraan tempur amfibi mulai bergerak mendekati pantai yang dipenuhi rintangan.
Pergerakan infanteri dan kendaraan tempur amfibi memperlihatkan adegan bahwa kontingen Indonesia selangkah demi selangkah lebih dekat pada kemenangan.
__ADS_1
Kemenangan ini akan menjadi sejarah bagi TNI selama perang menghadapi musuh dari dunia fantasi.