
Beberapa prajurit berjalan di tempat diadakannya ‘pesta’. Ya... pesta sebelum perang yang diadakan agar mental prajurit tetap terjaga. Lagu nasional dan militer diputar dari puluhan pengeras suara, dan prajurit menari dibawah langit malam dengan triliunan bintang dan dua bulan dunia lain.
Tidak ada lampu untuk menghidupkan lampu pesta yang warna-warni. Penerangan benteng saat malam hanyalah ratusan obor dan api unggun yang dihidupkan di seluruh penjuru benteng. lagu-lagu nasional dan militer ciptaan komposer terkenal Indonesia melambangkan kebanggaan dan martabat Republik Indonesia dan prajuritnya.
Bagi ‘pasukan pengungsi’ yang tidak paham dengan lagu-lagu yang diputar, mereka cukup mendengarkan dan merasakan jika ini lagu yang penuh makna perjuangan. Mereka juga sesekali menyanyikan lagu yang mereka ketahui ketika menjadi budak dan rakyat jelata dulu. Hanya saja lagu yang mereka nyanyikan memiliki makna perjuangan hidup, bukan lagu perang.
Memang malam ini gelap, udaranya jernih dengan sedikit aroma bahan bakar, dan begitu banyak prajurit sedang berkumpul bersama. Jika ditambah pertunjukan kembang api pasti akan sangat indah, namun terlalu berharap tidak terlalu baik bagi kesehatan fisik dan mental. Lagipula, bahan pembuatan kembang api cukup berharga dan bisa dijadikan alat peledak atau semacamnya.
Hanya tinggal menunggu waktu hingga waktu penyerangan tiba, tetapi mereka, para prajurit, tidak pernah menginginkan perang ini sejak awal. Setiap waktu yang dihabiskan bersama mereka akan menjadi ilusi belaka jika harapan untuk menang tidak ada. Jadi menunggu waktu perang tiba dengan berpesta adalah cara agar para prajurit bisa bertemu dengan teman atau kekasih sebelum menghadapi serangan musuh.
Tidak peduli seberapa kuat para prajurit, meski mereka telah melalui banyak peperangan dari yang bisa mereka hitung, kematian selalu membayangi mereka.
Hingga sekarang, masih belum terlihat jawaban atas doa-doa para prajurit Pasukan Ekspedisi. Tidak peduli seberapa banyak mereka beribadah, jika harapan baik tidak berpihak pada mereka, maka tidak akan ada bantuan yang didapatkan.
Seluruh anggota Regu penjelajah 1 dan beberapa Regu penjelajah lainnya mencari-cari keberadaan Nio ketika mereka berkumpul untuk berpesta bersama. Suasana di sini benar-benar tidak hening, bahkan suara nyanyian yang tidak merdu sama sekali terdengar dari mulut Liben dan beberapa prajurit lainnya. Namun mereka terus bernyanyi dengan wajah bahagia, meski para gadis menatap mereka dengan wajah sinis.
Mereka berkumpul mengelilingi sebuah api unggun besar, dengan beberapa singkong yang sengaja dibakar sebagai camilan.
Semua prajurit pasti menghitung mundur waktu hingga perang pecah, makanya mereka menghabiskan waktu dengan bersenang-senang sebelum berperang. Bahkan jika hitung mundur terulang ke nol, mereka akan terus berjuang menjalani itu.
Beberapa prajurit selain menikmati pesta ini dengan cara mereka sendiri, beberapa lagi memilih mengajak beberapa prajurit perempuan untuk berdansa secara berpasangan. Menurut mereka, jika perang ini usai mereka bisa menyatakan perasaan jika nasib baik berpihak.
Anggota Regu penjelajah 1, Sidik, melihat di barisan para anggota perempuan yang sedang bersenang-senang. Lalu, Liben menyadari jika Sidik tertarik dengan salah satu gadis Regu penjelajah 1. Dia tersenyum dan menepuk punggung Sidik yang mengejutkan pemuda 18 tahun itu.
“Siapa yang kau sukai di antara mereka?”
Sidik menyadari jika Liben tahu gerak-geriknya tadi, lalu dia sambil tersenyum kecil melirik ke arah Fariz. Sejak ditempatkan pada Regu penjelajah 1, beberapa kali Sidik mencoba mencari tahu tipe laki-laki yang disukai gadis itu. Namun, sebentar lagi perang akan terjadi dan tidak mungkin menanyakan lagi hal bodoh itu.
Lalu, dia melihat orang-orang yang menari berpasangan semakin ramai, dan Sidik tidak bisa menahan diri untuk mengajak Fariz untuk melakukan hal itu juga. Liben menyuruh Sidik untuk segera mendekati Fariz sebelum ada pria lain yang mendekati gadis itu.
Memang, Sidik tak kalah tampan di banding Nio, dan beberapa gadis yang menyadari mereka tidak dapat mendekati Nio mengakui hal itu. Termasuk Fariz, bahkan gadis itu pernah mendengar jika beberapa perwira perempuan muda tertarik dengan Nio, dan itu membuatnya menyerah untuk mendekati Nio.
Dengan langkah tegap, dan kedua tangan tetap menggenggam, Sidik berjalan mendekati Fariz yang sedang berbicara bersama prajurit perempuan lainnya. Meski dia berani berkelahi dengan beberapa atasan, kecuali Nio, Sidik cukup takut untuk mengajak Fariz menari bersama. Tentu saja dia takut jika ajakannya akan ditolak, namun dia tidak berniat berhenti di tengah jalan.
Sidik berhenti di depan tepat di depan Fariz, dan membuat gadis itu mendongak ke atas untuk melihat wajah orang yang mendekatinya. Ketika menyadari jika mereka berdua melakukan kontak mata, Sidik merasa jika jantungnya berdetak jauh lebih cepat daripada saat lari 20 kilometer. Saat itu juga, saat melirik mata Sidik pipi Fariz sedikit memerah.
“Apa ini? Sidik, apa kau mau mengajak Fariz?” Dinda bertanya dengan wajah jahil.
Setelah mendengar perkataan Dinda, Sidik menelan ludah hingga jakunnya bergerak naik turun, baru berkata, “Iya. Apa kamu mau menari bersama ku?”
Beberapa prajurit yang mendengar itu langsung tersenyum, dan beberapa dari mereka berkata merasa iri karena tidak ada pria yang mengajak mereka menari bersama. Lalu, Sidik mengulurkan tangannya yang sudah kering dari keringat, dan siap menerima tangan Fariz. Meski begitu, Sidik sudah siap menanggung malu jika ajakannya ditolak.
Fariz berdiri dengan wajah yang semakin memerah, lalu meraih uluran tangan Sidik sebagai tanda menerima ajakan pemuda itu. Namun, itu tidak membuat detak jantung Sidik menjadi tenang, justru semakin menjadi-jadi. Kini, wajah keduanya memerah ditengah sorakan para peserta pesta yang mengelilingi api unggun ini.
Dengan sorakan para anggota laki-laki Regu penjelajah 1, Sidik membawa Fariz sedikit ke depan para peserta pesta, dan bergabung bersama peserta dansa lainnya. Musik yang mengiringi sekarang adalah nyanyian dan tepukan tangan dari para prajurit.
Dengan gerakan awal yang kaku, Fariz mencoba mengimbangi gerakan lincah Sidik yang terlihat sudah sering menari. Wajah mereka terus menatap satu sama lain ketika gerakan sudah serasi, dan terus menari bersama peserta lainnya.
“Apa kau menyukai ku?”
Sidik tetap mempertahankan gerakannya agar tidak kacau, dan merasakan jika wajahnya memerah setelah mendengar pertanyaan Fariz tersebut.
“Apa boleh?”
“Te-tentu saja, setelah perang selesai kau boleh mengajakku kencan,” wajah Fariz semakin memerah ketika dia mengatakannya.
“Baiklah. Setelah mendapatkan jatah cuti, kita berdua akan berkencan seharian.”
Melihat peserta dansa yang didominasi para prajurit remaja, para prajurit senior yang sudah memiliki keluarga sendiri merasa iri. Mereka ingin sekali membubarkan kegiatan ini, namun tetap saja mereka tidak tega setelah melihat para pasangan prajurit yang sedang menari dengan senang.
Bagaimana bisa mereka bersenang-senang dan saling menyatakan perasaan kepada orang yang disukai meski mereka semua tahu jika sebentar lagi perang pecah?
**
Nio berjalan melewati beberapa kelompok prajurit yang berkumpul untuk bersenang-senang sebelum perang, dan menyapa beberapa orang yang menyapa dirinya terlebih dulu.
Sementara saat seluruh orang bersenang-senang, Nio tidak melihat adanya Lux di kelompok para perempuan. Sementara itu, Nio sudah memerintahkan para gadis di Regunya untuk mengakrabkan diri dengan Zariv.
Nio kemudian teringat tempat Lux dan Zariv beristirahat, meski dia harus berjalan sedikit lebih jauh lagi untuk mencapai tenda tempat gadis jendral itu berada.
__ADS_1
Ada banyak prajurit yang masih berkeliaran di lingkungan benteng untuk mempersiapkan diri, dan memilih menjauhi pesta yang sedikit tidak berguna. Seluruh kendaraan perang tengah melakukan persiapan sebelum digunakan berperang, dan puluhan alat berat dikerahkan untuk membuat parit-parit pertahanan. Parit-parit yang dibangun saling terhubung dan membentuk rute parit pertahanan yang cukup panjang.
Gio menemukan Nio yang berjalan sendirian tanpa kawalan anggota Regu penjelajah 1. Setelah Nio mengatakan alasannya, Gio membiarkan Nio berjalan menjauhinya dan dia berjalan lagi untuk menemui para perwira untuk memastikan seluruh persiapan sudah selesai.
Nio akhirnya tiba di sebuah tenda yang cukup untuk 25 orang dan barang-barang bawaan. Untuk penerangan di dalam tenda, ada tiga lampu minyak yang digantung. Tenda lapangan yang biasa untuk pengungsian ini dihuni oleh Lux yang masih melakukan sesuatu di dalamnya.
“Lux, aku masuk…”
Nio memasuki tenda tanpa pikir panjang setelah mengatakan itu, dan melihat ke bagian dalam tenda yang hanya ada satu orang dengan sinar lampu minyak sebagai penerangan. Meski lampu minyak tidak menghasilkan energi cahaya seterang lampu neon, namun Nio masih bisa melihat lekuk tubuh indah milik gadis di depannya.
Sesuatu yang membuat Nio sekali lagi tidak ingin melihat suatu hal hanya dengan melihatnya dari luarnya saja, dan seorang gadis yang masih belum menyelesaikan mengenakan pakaian perangnya. Nio bukanlah pemuda sampah yang senang melihat tubuh polos perempuan, apalagi perempuan yang sangat sulit ditebak sifatnya.
“Apa? Kau pasti berharap aku berteriak ‘kyaa…!!!’ setelah kau masuk ke dalam saat aku masih telanjang kan?”
Seorang remaja seperti Nio tentu saja sangat terkejut saat melihat reaksi yang diberikan Lux setelah melihat tubuh telanjangnya. Bahkan Lux terlihat sama sekali tidak terganggu saat mata Nio tertuju pada belahan dadanya.
Nio berpikir jika Lux sudah terbiasa saat ada pria yang melihat tubuh polosnya, namun itu bukan jawaban sebenarnya.
“Sepertinya kau baru pertama kali melihat tubuh polos seorang gadis, ya?”
Wajah Lux yang tersenyum ketika melihat ekspresi Nio yang nampak ‘tidak percaya’ saat menatap kedua dadanya ternyata mampu membuat Nio merasa ‘terancam’. Karena dia masih tidak tahu sifat sebenarnya dari Lux, karena gadis itu kadang memperlihatkan ekspresi datar saat berhadapan dengan orang lain, dan memperlihatkan wajah manis ketika berhadapan dengan Nio. Pemuda itu masih penasaran dengan senyum yang diperlihatkan Lux.
Lux kemudian membalikkan punggung untuk menyimpan pelindung tubuh yang belum sempat dia kenakan karena masuknya Nio kedalam tendanya, dan memperlihatkan sesuatu di punggung gadis itu.
Ini adalah kali pertama ada seseorang yang melihat tubuh polos tanpa perlindungan sehelai benang pun milik Lux. Gadis itu tidak pernah membiarkan siapapun di pasukannya melihatnya telanjang, bahkan gadis-gadis lain pun tidak. Jadi, Nio adalah orang pertama yang melihat tubuh polosnya.
Kulitnya yang putih dan dan nampak terasa halus jika menyentuhnya, sama sekali berbeda dengan para prajurit perempuan Pasukan Ekspedisi yang sama-sama sering bertugas di lapangan. Meskipun ada beberapa bekas luka baru, ada beberapa bekas luka lama yang mencolok di punggung Lux yang tampaknya bukan hasil pertempuran. Nio mengalihkan pandangannya ke bekas luka yang tampak seperti puluhan bekas sayatan benda tajam yang mengerikan. Meski dia juga memiliki beberapa bekas luka serupa di wajah dan tubuhnya, itu masih belum seberapa dengan bekas luka yang cukup besar dan panjang di punggung gadis itu.
“Nio… hanya kau dan Yang Mulia Sigiz yang tidak menjauh ketika berada di dekatku. Orang-orang menganggap jika aku ini terlalu kuat sebagai seorang gadis, karena itu saat aku masih kecil orang tuaku membuang ku. Hingga akhirnya Beliau menemukanku yang hidup liar, dan berakhir menjadi salah satu jendral Kerajaan Arevelk.”
Pada awalnya suasana tenang, tapi setelah itu suara Lux nampak tidak karuan setelah mempertahankan ketenangannya. Bibir tipis merah mudanya bergetar seperti makhluk tak berdaya ketika dia mencoba tersenyum ke arah Nio.
Lux berjalan perlahan dengan tubuh bagian atas yang tidak tertutupi apapun ke arah Nio sambil berkata, “Orang-orang di akademi militer mulai iri denganku yang terlalu dekat dengan Yang Mulia. Lalu, para petinggi pria melakukan sesuatu padaku, hingga menciptakan bekas luka mengerikan ini. Itulah sebabnya aku selalu melilitkan perban pada tubuhku hingga menyebabkan dadaku terlihat kecil.”
“Eh… ah…? Kenapa kau mengatakan itu?” ucap Nio dengan wajah polosnya.
Nio mengira jika Lux akan menangis, namun gadis itu justru berjalan lebih dekat kepadanya dengan tubuh mulus yang terlihat semakin jelas. Dia sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya ke arah kedua dada yang ternyata berukuran cukup besar.
“Tidak seperti itu Lux, meski medan perang dipenuhi dengan kemungkinan buruk dan penderitaan. Kami, Pasukan Ekspedisi tahu jika bertahan dalam perang besar nanti akan sangat sulit. Namun semua akan kami lakukan demi mencari cara untuk membuka kembali Gerbang sempurna. Kami juga tidak ingin merepotkan para penyihir untuk terus membuka Gerbang tak sempurna supaya terus terhubung dengan Indonesia. Lelah itu wajar, namun kami tidak boleh menyerah, jadi sabar adalah pilihan terbaik.”
Ketika dia pertama kali ditugaskan, jujur Nio merasa sangat takut menghadapi musuh dari dunia lain yang hanya bersenjata pedang dan panah. Dia selalu mendengar desas-desus jika pasukan musuh selalu memenggal kepala pasukan yang kalah. Lalu, saat teringat tujuannya menjadi prajurit, Nio tidak mempedulikan semua resiko saat bertempur. Itulah sebabnya seseorang yang berada di tengah bahaya akan terus hidup bila dia menekankan perasaan takut pada hal yang berbahaya.
Fakta bahwa dia sedang berjuang di medan perang yang sangat berbahaya, adalah dia dan seluruh prajurit TNI sudah mengucapkan sumpah prajurit untuk setia dengan Republik Indonesia, dan patuh atas perintah atasan untuk terus berjuang melindungi rakyat dan negara meski sudah tidak terhubung lagi, jika perlu melakukan pertempuran sampai tubuh hancur daripada bunuh diri.
Para prajurit akan selalu membawa nama negara di hati mereka, seperti mereka memberi tempat kekasih di hati mereka. Nama teman yang gugur mendahului mereka selalu ada di hati. Tidak pernah mengabaikan atau melupakan siapapun dan apapun, mereka akan terus berjuang hingga mencapai tujuan terakhir, yakni menang. Itu adalah akhir yang paling mulia bagi prajurit.
Ketika melihat wajah cerah Lux yang disinari dengan lampu minyak, Nio teringat dengan Indah yang belum lama ia putuskan hubungannya dengannya. Lux tersenyum kecil saat dia semakin dekat dengan Nio, sementara itu Nio melangkah mundur saat Lux semakin dekat dengannya.
“Lux, kenapa kau tidak ikut pesta-…” seseorang yang masuk ke dalam tenda dengan tiba-tiba dan mengatakan itu langsung membuat Nio menoleh kebelakang dengan cepat.
Lux kembali memasang wajah datar saat melihat orang yang mengganggu dirinya untuk bersama Nio. Sementara itu, orang yang masuk ke dalam tenda tanpa permisi, Zariv, hanya berdiri mematung di depan pintu masuk tenda.
Zariv berniat membawa Lux bergabung di pesta, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi pertempuran. Namun, sekarang dia melihat Lux setengah telanjang bersama Nio di dalam tenda ketika seluruh pasukan bersiap menyambut musuh.
“Jadi begitu ya, kau berniat mendahuluiku dan Yang Mulia?”
“Apa aku salah mencoba memiliki dia?”
Nio hanya berdiri di tengah adu mulut dia perempuan, dia memang belum menemukan cara jika sedang berada ditengah situasi seperti ini. Bahkan saat Arunika sedang berdebat dengan Lisa dia hanya bisa diam sambil menonton dari kejauhan sambil menikmati es krim.
Nio tidak paham dengan pembicaraan antara mereka berdua, dan tetap tidak bisa mengabaikan tubuh setengah telanjang Lux.
Sementara itu, Lux dan Sigiz masih berdebat tentang cara memperebutkan hati seorang Nio. Karena selain mereka, pastinya ada beberapa perempuan yang tertarik mendekati Nio.
Tetapi, siapa yang akan mengambil hati Nio?
Lalu, suara sirine tanda peperangan terdengar sangat keras dan mengejutkan seluruh prajurit, bahkan pasukan pengungsi juga terkejut. Seluruh orang segera menyelesaikan persiapan masing-masing sebelum menempati posisi masing-masing. Seluruh prajurit berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing, beberapa lagi masih melakukan ibadah pagi. Selesai semua melakukan persiapan termasuk sarapan dan mendengarkan kata-kata penyemangat dari Jendral mereka, seluruh prajurit yang bertugas menghadapi musuh secara langsung, keluar dari benteng dan menempati posisi masing.
Personel di dalam ruang komando dan kendali tak kalah sibuk dan suasana di ruangan ini sangat tegang. Seluruh operator turret pertahanan mencoba menahan diri agar tangan mereka tidak berkeringat secara berlebihan.
__ADS_1
Nio langsung berlari cepat ke luar benteng bersama dua gadis ketika suara sirine yang sangat keras terus berbunyi. Bahkan sebelum perang dimulai, Nio seakan-akan bisa melihat akhir perang ini. Nio merasakan sesuatu juga pada perang ini, dia bisa merasakan gelombang emosinya dipenuhi dengan rasa keberanian, dan harapan untuk menang.
Lux memejamkan mata, dan Zariv masih berdoa kepada Dewi Harapan yang dia percayai. Tidak peduli seberapa kuatnya mereka, jumlah besar musuh terus membayangi mereka. Jika gugur, Lux akan sangat bangga bisa berjuang bersama Nio, Zariv juga seperti itu dan akan sangat bangga bisa mengeluarkan semua kemampuan penuh sihirnya di medan perang ini. Mereka tidak akan menahan diri lagi, secepatnya mereka berdua ingin mengakhiri perang ini, supaya bisa segera merebut hati Nio.
**
Tanpa rasa terpaksa, para prajurit menempati posisi masing-masing di medan perang kematian. Selama Gerbang tidak muncul lagi, hal yang harus mereka pertahankan adalah benteng dan bendera merah putih yang berkibar di beberapa penjuru tempat ini. Mereka hanya bertarung untuk mempertahankan hal itu.
Seluruh prajurit pasti bertanya-tanya bagaimana mereka pulang, apakah masih ada hal yang bisa dilakukan untuk bertemu dengan keluarga lagi? Mereka tidak ada alasan untuk mundur, mereka memiliki masa depan untuk dipertahankan. Prajurit juga memiliki perintah untuk mengalahkan setiap musuh yang maju, tanpa mengetahui selanjutnya yang akan terjadi.
Mereka adalah Pasukan Ekspedisi, perwakilan TNI untuk menjelajahi dunia lain. Mereka kini dikelilingi dengan musuh yang berjumlah sangat banyak, mereka telah bersumpah sebelumnya untuk mengalahkan musuh hingga menghembuskan napas terakhir. Itu adalah kehormatan yang harus mereka buktikan. Mereka tidak peduli lagi bisa pulang atau tidak, yang mereka pedulikan adalah melindungi hal yang perlu dilindungi.
“Lalu, kenapa kalian bisa bersumpah untuk berjuang hingga tubuh kalian hancur…?”
Mereka tidak perlu menjawab pertanyaan itu. Tetapi jika mereka diwajibkan untuk menjawabnya, mereka akan berkata, “Kami sudah banyak melihat ratapan teman yang mati, dan tidak alasan kami untuk mundur. Dibelakang kami memang tidak ada lagi Indonesia, tetapi ada bendera merah putih yang perlu kami lindungi.”
Mereka berlindung di dalam parit pertahanan dan akan meraih surga.
300.000 pasukan yang memenuhi dataran ini hanyalah jumlah yang spektakuler.
Zirah logam yang mengingatkan kita pada pasukan abad pertengahan, memantulkan sinar matahari yang bersinar cerah. Suara drum yang ditabuh untuk membesar-besarkan pasukan, tumpang tindih dengan suara pedang yang terhunus.
Berdiri di depan pasukan besar ini adalah benteng Pasukan Ekspedisi yang tak tertembus.
Para prajurit Pasukan Ekspedisi telah bekerja keras tanpa lelah untuk membangun parit pertahanan, dan membentuk jalur yang mirip seperti parit pertahanan saat Perang Dunia I dan II. Pasukan Aliansi menyadari jika parit dan benteng pertahanan memiliki jebakan yang terselubung yang memainkan perang penting saat pertempuran benteng.
“Pasukan ke-8, maju…!!!”
Korps ke-8 Pasukan Aliansi yang berjumlah 60.000 prajurit maju menyerang. Mereka maju dengan perisai yang dipegang di depan dan mulai maju ke benteng dengan formasi sejajar, seperti gerombolan semut.
Dibelakang mereka disiapkan senjata pengepungan seperti balista, ketapel raksasa, dan trebuchet. Seluruh senjata menembakkan artileri pendukung sekaligus. Bola batu yang terbakar dan tombak raksasa dilepaskan dari jarak lebih dari 300 persenjataan mengarah ke benteng Pasukan Ekspedisi.
Jarak tembakan paling pendek adalah 300 meter, dan beberapa persenjataan disembunyikan di hutan dan perbukitan kecil dan menembakan tembakan tidak langsung.
Tidak ada serangan balik dari Pasukan Ekspedisi dan pasukan pengungsi. Kabar baiknya adalah Pasukan Aliansi menembakan rentetan artileri yang berupa bola batu dan tombak raksasa ke benteng, yang dianggap sebagai target terlemahnya.
Asap beterbangan karena hantaman batu terbakar, dan puing-puing dari benteng terlempar ke atas ketika terhantam oleh artileri musuh. Pasukan Aliansi bisa melihat prajurit Pasukan Ekspedisi dan pasukan pengungsi yang dievakuasi dengan terburu-buru.
“Saatnya merobohkan tembok lemah itu…!!!”
Puas dengan hasil tembakan, komandan korps terus memerintahkan untuk menembakan artileri dan memerintahkan semua pasukan infanterinya untuk bergerak maju. Dalam istilah militer ini disebut dengan penembakan rentetan seluler. Taktik untuk memerintahkan semua pasukan infanteri dengan teratur sambil menekan serangan balik musuh dengan melempari mereka dengan batu dari ketapel raksasa dan trebuchet.
Gerombolan infanteri korps ke-8 Pasukan Aliansi terus bergerak maju, dan jarak ke benteng perlahan menyusut dan terus mendekat. Perwira pertama berdiri dalam pengaturan formasi, dan perwira yang lebih rendah terus memarahi para prajurit untuk mempertahankan formasi mereka.
Seperti tadi, tidak ada serangan balasan dari pasukan yang bersembunyi di balik benteng tersebut. Dan korps ke-8 berdiri pada jarak 100 meter di depan parit pertahanan dan terus maju untuk melakukan serangan besar mereka.
Pada saat itulah pasukan yang sebelumnya diam di dalam lubang memulai serangan balik.
Mortir berbagai kaliber yang dipasang di dalam parit mengaum, dan roket yang dipasang pada kendaraan maupun di bahu prajurit terbang dengan kecepatan suara. Ketika puluhan roket dan mortir menghantam barisan rapat infanteri Pasukan Aliansi, ratusan orang langsung berhamburan dan terlempar ke udara dengan potongan-potongan logam yang berasal dari zirah dan senjata mereka.
“Jangan takut dengan serangan musuh, itu hanya gertakan! Terus serang sampai menang!”
Para komandan terus mendesak para prajuritnya untuk terus menembakkan mortir dan peluru senapan mesin berat dan ringan.
Puluhan turret pertahanan menembakkan seluruh peluru dengan 1.000 tembakan per detik.
Namun, korps ke-8 Pasukan Aliansi tidak mundur. Para prajurit mereka telah mengkonsumsi semacam narkotika yang digunakan pasukan Jerman ketika Perang Dunia II. Itu membuat mereka tidak merasakan sakit, takut, lelah, dan lapar. Saat peluru panas menembus tubuh, mereka terus maju meski kehilangan banyak darah dan bergegas menuju target yang berupa prajurit Pasukan Ekspedisi.
Jika komandan korps ke-8 Pasukan Aliansi memerintahkan mundur dengan tiba-tiba, itu akan sangat berbahaya bagi prajurit meraka karena menjadi sasaran tembak yang mudah. Pasukan Aliansi juga tahu jika pilihan paling aman adalah mundur dari pertempuran melawan pasukan orang barbar. Namun, meski terlihat sudah melemah, lawan mereka ternyata masih sangat kuat.
Saat-saat berikutnya, semua senjata api dari senapan serbu hingga senapan mesin ringan dan berat ditembakkan sekaligus. Korps ke-8 Pasukan Aliansi tak sadar sudah menginjakkan kaki di zona tembak yang diciptakan Pasukan Ekspedisi.
Sesuai namanya, zona penembakan atau pembunuhan musuh, dan tidak ada alasan untuk mengubah namanya. Badai peluru panas yang tak bisa dibendung terus menghantam korps ke-8 Pasukan Aliansi yang bergegas mundur, dan merenggut hidup para prajurit yang jumlahnya tidak bisa dipastikan saking banyaknya.
Selain hujan peluru, beberapa prajurit muncul dari dalam parit sambil menenteng senjata pelontar api. Mereka sudah mengenakan pakaian anti panas, dan berada zona aman menembakan semburan api. Dengan suhu api yang disemburkan mencapai 900 derajat celcius, itu mampu membuat ratusan prajurit Pasukan Aliansi matang dengan zirah yang menyala merah akibat api.
“Argh…!!! Panas…! Aku belum mau mati…!”
Apa yang terdengar dan tersisa dari korps ke-8 Pasukan Aliansi adalah bau gosong dan aroma anyir dari darah. Di tanah, ribuan perisai logam hancur, tombak dan pedang patah. Baju besi yang kuat dan indah menjadi sampah, dan tubuh pemakainya yang dulunya adalah manusia hidup, kini menjadi potongan tubuh yang terpotong secara berantakan.
__ADS_1
Ketika menyadari jika mereka kalah dalam perang, sifat manusia sebenarnya muncul. Tentara amatir yang direkrut Pasukan Aliansi membuang senjata mereka dan melarikan diri, sementara prajurit berpengalaman terus menyerang meski akhirnya akan mati juga. Karena prajurit yang berpengalaman pasti akan tahu kematian mereka yang akan segera tiba, dan tidak akan pernah mundur. Pada hari pelatihan yang panjang dan melelahkan, rasa solidaritas yang mendekati tingkat kegilaan menyelimuti para prajurit kedua pasukan.
Tidak ada yang ditinggalkan, dan tidak ada pula yang meninggalkan, semua prajurit terus maju menuju kematian.