
Nio tidak tahu apakah Sakuya dan keempat gadis Penjelajah tersebut sengaja atau tidak, atau mungkin memiliki maksud lain, karena mereka mengatakan beberapa informasi yang menurutnya menjadi rahasia. Keempat gadis Penjelajah terlihat belum dapat tersenyum dengan benar setelah melihat kematian mengerikan yang menimpa rekan mereka. Itu bukan informasi yang Nio inginkan, namun dia merasa harus memperlihatkan rasa simpati dan bela sungkawa terhadap mereka.
“Terimakasih, sudah membantu memakamkan teman kami,” ucap gadis Penjelajah kelas penyihir.
Sekarang Nio merasa tidak enak karena melakukan pemakaman yang tidak terlalu layak, tetapi dia juga tidak tahu bagaimana cara orang dunia ini memakamkan orang yang sudah mati. Menurutnya hanya perlu memakamkan, lalu berdoa menurut agama masing-masing, kemudian memberikan penghormatan terakhir sebelum meninggalkan pemakaman termasuk memberi penghormatan terakhir dengan layak.
“Ya… sama-sama. Kalian terlalu tenang saat ada seorang prajurit musuh berjalan di belakang kalian,” Nio menjawabnya dengan nada sedikit serius.
Mendengar seorang tentara musuh berkata suatu fakta yang sedang terjadi di luar Labirin, yakni konflik antara Aliansi dan Persekutuan, keempat gadis Penjelajah hanya dapat menundukkan kepala dan mendengarkan ucapan Nio.
“Bagaimanapun, kau sudah membantu kami terlepas dari kepungan minotaur.”
Nio adalah orang dengan tubuh paling tinggi daripada kelima gadis di depannya, sehingga dia hanya perlu menunduk untuk melihat ekspresi mereka. Dia, Sakuya, dan keempat gadis Penjelajah telah berjalan selama kurang dari dua jam, namun pria itu merasa kalau perjalanan sudah terlalu jauh. Mengatakan dia mempercayai kelima gadis yang tinggal di negara anggota Aliansi, Nio sendiri juga ragu jika mereka benar-benar akan membantunya.
Tetapi, salah satu pahlawan milik Aliansi, Pahlawan Empati yang bernama Nanaharu Sakuya tersebut mengatakan sesuatu seperti jalan juangnya. Nio pernah membaca catatan sejarah mengenai dua negara besar yang sedang berperang, dan raja masing-masing negara memiliki hubungan yang sangat dekat. Ketika salah satu raja jatuh sakit, sementara perang antara kedua negara semakin dekat, raja yang satunya justru mengirimkan tabib terbaik di negerinya untuk mengobati raja yang sakit. Raja yang mengirimkan tabib untuk raja yang sakit mengatakan jika dia menginginkan perang yang adil, karena pasukan raja yang jatuh sakit pasti akan mengalami turunnya moral dan semangat juang karena tidak adanya raja di sisi mereka. Setelah raja yang sakit sembuh, maka kedua pasukan masing-masing raja saling berperang, dengan perang yang adil karena sama-sama berhadapan dalam kondisi terbaiknya.
Meski raja tersebut bisa saja mengambil kesempatan ketika raja yang menjadi musuhnya dalam kondisi lemah, namun kedua raja sama-sama menaruh hormat satu sama lain, layaknya dua sahabat yang terpaksa menjalani kewajiban sebagai raja di masing-masing negara. Tetapi, Nio berpikir jika situasi yang sedang dia hadapi sekarang jauh berbeda dengan kedua tokoh sejarah tersebut, karena dia dan Sakuya sama-sama baru bertemu beberapa jam yang lalu. Dan Nio tida tahu kenapa gadis Jepang itu dapat menolak pertarungan hanya karena dirinya jauh dari wilayahnya.
“Sakuya, apa kau terinspirasi dengan seseorang dan membuatmu dapat mengatakan kalau menginginkan pertarungan yang adil?”
“Tentu saja, tapi aku lupa namanya. Ingatanku mengatakan kalau tokoh itu adalah raja negara muslim dan raja kerajaan kristen, dan mereka berdua layaknya sahabat.”
“Salahuddin Al Ayyubi kupikir pernah melakukan hal yang hampir sama denganmu, ketika Richard si Hati Singa sedang sakit keras, sementara negara mereka masih dilanda Perang Salib.”
“Ternyata kau tahu banyak, ya? Kupikir aku memang harus menghormati mu.”
Nio hanya bisa memasang wajah datar saat Sakuya mengatakan hal tersebut, dia merasa pengetahuannya akan sejarah dunia asal mereka berdua dapat berguna. Dia merasa harus mempertanyakan kewarasannya sendiri karena menerima tawaran prajurit musuh untuk membantu dirinya keluar dari tempat ini.
Sakuya mengatakan semuanya tentang Rio yang terlihat menderita serangan mental berat, hingga kadang-kadang salah satu pahlawan milik Aliansi itu tersenyum dan ketakutan tanpa penyebab yang jelas. Sakuya merasa jika penyebab emosi Pahlawan Amarah berubah dengan cepat adalah pasca pertarungan dengan Nio. Tapi, Nio merasa jika pertarungannya melawan Rio adalah hal yang wajar, karena posisi mereka berdua saling bermusuhan.
Sayangnya, itulah hal yang membuat Sakuya merasa terhormat dapat bertemu dengan orang yang mampu membuat seorang pahlawan seperti orang terkena gangguan mental. Nio berpikir jika kewarasan gadis itu juga perlu ditanyakan, “Untuk apa dia menghormati musuh seperti ku?”. Kondisi yang menyebabkannya tidak akan mendapatkan bantuan dalam waktu dekat seharusnya dapat dimanfaatkan oleh Sakuya. Lagipula Nio merasa dirinya bukanlah prajurit penting milik Indonesia, bahkan masih banyak perwira muda seperti dirinya yang dimiliki TNI. Sehingga mereka akan dengan terpaksa mengorbankan seorang perwira berjuang di wilayah musuh sendirian.
Namun, karena bukan bantuan Sakuya dan empat gadis Penjelajah, Nio mungkin akan mati. Hanya memikirkannya dapat membuat Nio membayangkan jika pemakaman yang akan dia dapatkan adalah dengan cara tubuhnya dimakan hewan liar atau monster penghuni Labirin ini.
Nio telah berjanji akan membantu kelima gadis tersebut dengan kemampuannya, hingga jalan keluar baginya dapat ditemukan.
Mata yang lebih lebar dari orang Jepang kebanyakan dengan pupil berwarna hitam dan berkilau, kulit yang terlihat lembut dan sangat terawat dan bersih, serta definisi kecantikan sempurna gadis Asia Timur lainnya menurut Nio terdapat pada diri Sakuya. Nio membandingkan kecantikan dan keindahan fisik Sakuya dengan Eimi Fukada, Mikami Yua, Tsubasa Amami, dan hasilnya Sakuya mungkin lebih cantik dari bintang film dewasa asal Jepang tersebut, menurut Nio. Sakuya adalah seorang pahlawan, dan salah satu orang terkuat yang dimiliki Aliansi, musuhnya. Nio harus tidak merasa beruntung karena ada gadis-gadis muda dan cantik yang bersedia menolongnya meski tahu dirinya berasal dari negara musuh Aliansi.
Satu-satunya pilihan untuk Nio agar dapat keluar dari tempat ini memang harus mempercayai mereka, meski perasaan ragu masih ada di hati Nio. Tempat ini tidak jelas siang dan malamnya, sehingga Nio hanya mengandalkan jam tangan untuk memantau waktu. Dia memiliki persediaan makanan berupa sepuluh imukal di ranselnya, dan beberapa TB-1 (biskuit ransum tambahan). Namun, dia juga harus memusingkan bagaimana kelima gadis di depannya mendapatkan makanan.
“Oh, refleks yang sangat bagus, siapa namamu?”
Sebelum Nio memuji salah satu gadis Penjelajah kelas petarung, gadis itu tiba-tiba menarik pedang dari sarungnya untuk menebas leher seekor goblin kecil. Goblin memiliki ukuran antara lima puluh centimeter hingga dua meter, dan yang dibunuh oleh gadis petarung tadi memiliki ukuran sekitar satu meter. Darah monster tidak seperti darah manusia atau Demihuman, kebanyakan warna darah monster adalah coklat dan ungu tua dan berbau busuk. Darah ungu yang mengalir dari leher goblin menyebarkan aroma busuk dan amis ke udara, dan membuat mereka harus melanjutkan penjelajahan.
“Terimakasih untuk pujiannya, namaku Sayf, dan dia Kardas, kelas petarung sepertiku. Sedangkan mereka berdua merupakan kelas penyihir, Sabole dan Nefe.”
Ketiga gadis yang diperkenalkan oleh Sayf tersenyum canggung ke arah Nio, dan pada akhirnya Sakuya mengetahui nama keempat gadis itu. Mereka sama sekali tidak ragu untuk memberitahu kepada Nio nama mereka. Sayf dan Kardas membawa pedang panjang di pinggul kanan mereka, dan sama-sama mengenakan zirah logam ringan yang murah, seperti Penjelajah kelas petarung pada umumnya yang belum lama mendaftar di Persatuan Penjelajah. Sementara Sabole membawa tongkat kayu biasa dan mengenakan jubah khas penyihir berwarna gelap, sementara Nefe hanya mengenakan pakaian biasa tanpa perlengkapan penyihir seperti Sabole.
__ADS_1
Namun, meski pada akhirnya dia mengetahui nama mereka, Nio tetap tidak bisa merasa tenang setelah Sayf membunuh seekor goblin. Tepat ketika Sayf membunuh seekor goblin, mereka berada di antara pohon-pohon besar dan berdaun lebar. Daun-daun yang lebar dan batang pohon besar membuat cahaya berkurang dan menyebabkan tempat ini sedikit gelap. Di novel ringan Jepang yang pernah Nio baca, habitat goblin adalah goa atau hutan gelap, atau seperti itu yang ditulis oleh sang penulis novel ringan bergenre petualangan tersebut. Goblin dikatakan sebagai monster terlemah, namun mereka selalu menyerang dengan jumlah besar.
Para goblin memang lemah, tapi Nio merasa tidak bisa meremehkan setiap makhluk yang ada di dunia ini, selemah apapun makhluk itu.
“Hei, kenapa kalian menjelajahi lantai sepuluh?” tanya Sakuya dengan nada serius.
“Karena disini dikatakan terdapat sangat banyak barang berharga. Namun, tempat ini tidak ada bahaya yang menakutkan, seperti yang dibilang para Penjelajah yang lain,” jawab Nefe sambil memperlihatkan tas selempang berukuran besar yang berisi mineral berharga, bagian tubuh monster, atau tumbuhan langka.
“Lantai sepuluh? Penjelajah? Bahaya? Apa yang sebenarnya tempat ini sembunyikan?” tanya Nio dengan wajah polosnya.
Kelima gadis merasa harus memaklumi wajah polos Nio, dan mencoba menjelaskan tentang Labirin kepada prajurit ‘dunia lain’ tersebut. Nio sempat kebingungan ketika keempat gadis Penjelajah mengatakan kepada Nio tempat yang dipenuhi dengan monster, alias Labirin itu sendiri. Namun, ketika Sakuya mengatakan jika Labirin adalah tempat yang sama dengan Dungeon yang sering digunakan pada latar novel dan komik Jepang, pada akhirnya Nio tahu lokasinya saat ini.
Itu adalah informasi yang harus dia lampirkan di laporannya, jika dia dapat kembali nanti. Meski kesempatannya untuk kembali cukup kecil, Nio mencatat setiap perkataan Sakuya dan keempat gadis Penjelajah secara detail namun ringkas. Biasanya, prajurit pasukan elit seperti Nio tidak memerlukan buku catatan kecil untuk mencatat setiap informasi yang didapatkan, karena mereka memiliki daya ingat dan kemampuan menalar yang sangat tinggi. Lalu melihat Nio yang masih menggunakan catatan dalam segala hal mungkin terlihat lucu dan berbeda dari prajurit elit kebanyakan.
Nio menyelempangkan SS20 G2 di punggungnya, lalu menarik pedang dari sarung yang terdapat di punggung rompinya. Mantel yang menutupi seluruh tubuh membuat keempat gadis Penjelajah penasaran dengan barang bawaan yang dimiliki Nio, serta tongkat aneh yang dapat membunuh minotaur dengan mudah. Bahkan mereka membutuhkan waktu setidaknya lima menit untuk mengalahkan seekor monster manusia berkepala banteng tersebut.
Ketika suasana semakin gelap, tangan kiri Nio memegang senter kecil sementara tangan kanannya menggenggam pedang. Dengan waspada, Nio melirik ke sekeliling, dan mengabaikan tatapan bingung keempat gadis Penjelajah seakan-akan tatapan mereka mengatakan, “Benda kecil yang dapat menyala, apa namanya?”, atau semacamnya.
“Ini senter,” ucap Nio seperti guru TK memperkenalkan nama-nama benda kepada muridnya.
“Senter, apa itu benda dari surga? Karena cahaya yang dihasilkan berwarna putih, seperti alam para Dewa,” ucap Kardas dengan wajah sok tahunya.
“Anjir, masa iya Indonesia disebut surga sama mereka?” ucap Nio di dalam hati. Lalu dia menjawab pernyataan Kardas, “Ya… ya… bisa dibilang ini teknologi dari asalku.”
Tatapan keempat gadis Penjelajah tiba-tiba berubah, dan mereka merasa jika Nio benar-benar berasal dari negara yang berperang dengan Aliansi. Namun, mereka mendengar kabar jika musuh Aliansi memiliki tongkat baja hitam panjang yang dapat mengeluarkan api, dan senjata baja mereka sangat kuat. Setelah menyadari Nio memiliki beberapa ciri-ciri yang mendekati dengan prajurit dunia lain, keempat gadis Penjelajah merasa tidak ingin terlibat dan memiliki masalah dengan Nio.
“Sakuya, apa semua pahlawan diberi nama perasaan manusia? Kudengar Rio adalah Pahlawan Amarah dan dirimu adalah Pahlawan Empati.”
“Ah… ummm… itu… aku juga tidak tahu detailnya.”
Nio menghela napas setelah tidak mendapatkan informasi secara langsung dari orang yang menjadi pahlawan. Lalu tatapannya beralih ke Sabole dan kawan-kawan, seakan-akan matanya dapat mengatakan, “Aku membutuhkan bantuan dari kalian untuk menjawab pertanyaan ku tadi”.
“Maaf, kami juga tidak tahu. Tapi, kami pernah mendengar jika para pahlawan terdahulu juga diberi nama dengan nama perasaan dan emosi manusia. Alasan mengapa mereka diberi nama seperti itu tidak pernah dijelaskan,” ucap Nefe yang pada akhirnya membuat Nio tidak mendapatkan informasi mengenai pahlawan.
Nio memasukkan kembali buku catatannya ke saku seragam kamuflase saljunya sambil menghela napas. Di lain sisi, keempat gadis Penjelajah tidak akan menyangka jika penjelajahan Labirin lantai sepuluh mereka akan dibantu oleh prajurit musuh. Meski begitu, mereka merasa bantuan dari Nio tetap diperlukan, dan sangat berarti.
“Hei, bukannya dia cukup tampan?” tanya Sayf dengan nada yang begitu lirih, bahkan Nio tidak bisa mendengar apa yang dia ucapkan.
Sabole, Nefe, dan Kardas kemudian melirik sedikit ke arah Nio yang bertubuh lebih besar dan tinggi dari mereka, lalu memberikan penilaian tentang fisik pria itu. Wajah yang begitu asing, warna kulit coklat gelap dengan banyak bekas luka di bagian wajah, tubuh yang sepertinya berotot, rambut yang tidak bisa dirapikan, dan tatapan tajam dengan pupil mata hitam, serta ekspresi tegas merupakan penilaian mereka terhadap Nio.
“Benar juga. Selain itu, dia sepertinya sangat kuat dengan tongkat anehnya itu,” ucap Nefe dengan suara yang lebih lirih dari Sayf sebelumnya.
Kemudian, mereka merasa akan baik-baik saja dengan adanya prajurit ‘dunia lain’ dan Pahlawan Empati di sisi mereka, dan dapat keluar dari lantai sepuluh hidup-hidup.
Tidak banyak orang yang keluar dalam keadaan bernyawa setelah menjelajahi lantai sepuluh, jika beruntung setelah menjelajahi lantai ini para Penjelajah hanya kehilangan bagian tubuh dan mengalami trauma berat hingga berakhir dengan kegilaan. Namun, hal mencekam yang keempat gadis Penjelajah itu lihat baru kematian salah satu rekan mereka akibat pertarungan melawan sekawanan minotaur. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kardas, Sayf, Nefe, dan Sabole tidak pernah membayangkan dapat menjelajahi lantai sepuluh hingga sejauh ini serta berhasil mendapatkan banyak barang berharga yang akan sangat mahal jika dijual di Persatuan Penjelajah. Jika mereka terus menjelajahi lantai sepuluh tanpa bantuan Nio dan Sakuya, mereka berpikir penjelajahan ini akan menjadi ajang bunuh diri bagi mereka. Nio adalah orang asing yang tiba-tiba mereka temukan dan selamatkan, tetapi Sakuya adalah pahlawan yang membela Aliansi, artinya gadis itu juga membela Kekaisaran Duiwel. Tidak ada yang mengundang Nio ke dalam kelompok penjelajahan ini, tetapi bantuan dari pria itu tetap dibutuhkan oleh mereka.
__ADS_1
“Dengan adanya Nio di kelompok ini, mungkin kita bisa mengalahkan naga yang hidup di sini.”
Ucapan Sakuya terdengar sangat meyakinkan, namun menurut Nio itu hanyalah kalimat yang dilebih-lebihkan untuk membuatnya percaya pada gadis Jepang itu.
“Aku tidak bilang kalau aku bisa mengalahkan naga. Aku bahkan hanya pernah melihat naga dari jarak dua puluh meter.”
Suara mereka terdengar cukup keras di antara pohon-pohon raksasa di sini, dan itu membuat Nio curiga dengan situasi yang semakin tenang. Dia meningkatkan kewaspadaan terhadap sekitar, dan memasang pendengaran setajam-tajamnya. Dia tidak memiliki perangkat night vision, untungnya suasana tidak segelap yang dipikirkan meski sedikit berkabut.
Sayf dan Kardas berjalan di depan dengan tangan kanan menggenggam gagang pedang yang masih belum dikeluarkan, dan tatapan mereka sama waspadanya dengan Nio. Dalam formasi berantakan, mereka berjalan perlahan melalui suasana yang gelapnya hampir mendekati waktu petang. Nio berjalan di barisan paling belakang sambil memegangi senternya. Sabole dan Nefe berjalan di depan Nio, dan Sakuya berada di depan para penyihir tersebut. Mereka semua dengan cemas berjalan.
Nio berjalan sepelan mungkin dan berusaha langkah kakinya tidak menimbulkan suara. Para gadis di depannya juga melakukan hal yang sama, meski suara gesekan dua benda tetap terdengar dengan pelan. Namun, pendengaran Nio menangkap suara yang menurutnya sangat mencurigakan.
“Barusan aku mendengar sesuatu…” kata Nio dengan wajah serius.
“Di mana?” jawab Sakuya.
“Di mana-mana, aku serius. Sepertinya mereka berjumlah cukup banyak.”
“Goblin…!!!”
Jeritan Nefe sangat mengejutkan, bersamaan dengan itu makhluk-makhluk fantasi yang disebut goblin berlari ke barbagai arah untuk mengurung mereka. Sialnya, Nio terpisah puluhan langkah dari mereka, dan puluhan goblin terus berlari mengelilinginya.
Dia melihat setiap goblin yang mengepungnya memegang senjata dari batu – seperti kapak batu dan belati, wajah mereka terlihat sangat menjijikkan. Goblin yang Nio temui di sini berbeda dengan yang dimiliki Aliansi.
Sakuya menarik katananya dari sarungnya, lalu mengangkatnya dan mulutnya mengeluarkan kata-kata mantra. Sesaat kemudian, setelah Sakuya selesai merapalkan mantra, puluhan bola api seukuran bola sepak terbang ke udara dan menerangi area seluas lima puluh meter persegi.
Kemudian, Sabole dan Nefe juga merapalkan mantra sambil mengangkat kedua tangan dan tongkat. Puluhan jarum tebal yang terbuat dari api melayang di depan mereka, lalu menerbangkannya dengan kecepatan tinggi ke puluhan goblin yang berlari ke arah mereka. Puluhan panah api menghantam wajah puluhan goblin, membuat monster-monster itu menjerit, lalu berakhir dengan munculnya bau daging gosong.
Goblin yang terbunuh berukuran kecil, dan mereka sangat mudah dibunuh bahkan oleh anak berusia sepuluh tahun. Puluhan goblin berhasil dilumpuhkan, dan itu adalah pencapaian besar bagi keempat gadis Penjelajah tersebut. Iitu membuat mereka merasa yakin bahwa apa yang pernah berhasil akan berhasil lagi. Sabole memasang senyum menyeringai setelah berhasil mengalahkan puluhan goblin bersama Nefe.
Tapi, ada lusinan goblin yang harus dihadapi mereka berenam. Sabole kembali mengangkat tongkat miliknya sambil merapalkan mantra. Sayangnya, sebelum dia menyelesaikan mantra nya, salah satu goblin berukuran dua meter memegangi tangannya. Dia panik dan hampir berteriak, bahkan goblin itu tidak memberinya watu untuk berteriak dan membantingnya ke tanah berbatu dengan cukup keras.
“Argh! Uh – !”
Tongkat milik Sabole terlempar dan jatuh di dekat kaki goblin yang membantingnya. Goblin itu segera mengambil tongkat miliknya.
“H-hei! Kembalikan tongkatku!”
Tongkat bagi penyihir berfungsi sebagai media penyaluran mantra untuk melepaskan sihir, meski ada juga penyihir yang tidak memerlukan tongkat sebagai media, seperti Nefe.
Seolah mengabaikan teriakan Sabole yang terlihat putus asa, goblin besar itu mematahkan tongkat milik gadis itu.
Wajah Sabole berubah menjadi marah, dan sepertinya nafsu untuk membunuh telah membara di dadanya. Tangannya dengan lemah menopang tubuhnya yang mencoba untuk bangkit, dengan tujuan untuk membunuh goblin yang telah menghancurkan tongkat miliknya.
Nio dengan cepat menebas kedua tangan goblin yang menyerang Sabole, hingga darah dengan deras mengucur dari kedua lengan besar monster itu. Nio melompat ke belakang dengan gerakan lincah untuk menghindari goblin yang memberontak dan cipratan darah busuknya. Kemudian dia menoleh ke arah Sabole yang tampak benar-benar syok setelah goblin itu merusak tongkatnya, gadis itu terlihat berdiri mematung meski goblin yang menyerang dan merusak tongkatnya telah dibunuh oleh Nio.
“Oy~! Jangan melamun!...”
__ADS_1
Sabole terkejut dengan teriakkan Nio, namun sebelum dia mendengar kelanjutkan dari peringatan pria itu, seekor goblin kecil menancapkan belatinya dari punggung gadis itu. Sesaat kemudian, empat belati dari goblin lainnya menancap hingga menembus ke perut Sabole.