Prajurit SMA

Prajurit SMA
32. Menangkap monyet lepas, sukses...!


__ADS_3

16 April 2321, pukul 16.29 WIB.


**


“Apa kau sadar dengan yang kau lakukan hah!?” ucap Nio dengan geram atas perlakuan Sima yang menendang kepala itu.


Sima hanya diam mematung sambil menatap datar kepala yang sudah berada satu tempat dengan anggota tubuh lainnya, namun belum ada yang mentup kepala itu dengan daun atau apapun.


Nio semakin mencengkram kuat kerah baju Sima sambil mengeratkan rahangnya. Namun Sima tidak diam saja.


“Maaf, kalau aku tidak melakukan itu apa ada yang mau menyentuhnya?” jawab Sima sambil melepaskan cengkraman tangan Nio dari kerah bajunya.


“Maaf, aku memang merasa takut. Tapi paling tidak jangan menendangnya. Gunakan kayu atau sesuatu untuk membawanya.”


Tanpa berkata apapun lagi Sima menyingkir dari hadapan Nio sambil menundukkan kepalanya. Sementara itu Nio hanya menggeleng kemudian memetik beberapa daun untuk menutup kepala tanpa tubuh itu.


“Sudah selesai. Kita lanjutkan pencarian!” perintah Nio.


Nio tidak memikirkan tentang dirinya yang berbicara keras tadi dan sadar jika suaranya bisa saja didengar oleh musuh.


“Apa kita akan meninggalkannya begitu saja?” tanya Ika yang masih merinding dengan yang dilakukan Sima tadi.


“Kita tidak punya kantong jenazah. Setelah melakukan pencarian aku akan melapor pada pelatih tentang hal ini,” jawab Nio.


**


Kelompok yang menjaga kantor kepala desa mulai cemas dengan kelompok yang melakukan pencarian karena sudah terlalu lama.


Kelompok yang berkeliling desa masih belum kembali karena melakukan patroli ulang agar lebih menjamin keamanan desa.


“Mohon maaf, apa rekan-rekan kalian masih belum kembali?” tanya ketua RT pada salah satu prajurit kelompok penjaga kantor kepala desa.


“Masih belum, anda jangan khawatir. Mereka pasti dapat menemukan musuh.”


“Selain itu kami akan menjaga tempat ini agar tetap aman.”


Sementara itu, matahari sebentar lagi tenggelam dan menyebabkan suasana hutan jati menjadi gelap. Hal itu semakin menyulitkan kelompok pencari untuk menemukan jejak lagi.


Meski mereka membawa senter, namun hal itu hanya akan membuat musuh semakin menjauh dari mereka. Satu-satunya pencahayaan yang mereka dapatkan berasal dari sinar bulan purnama yang kebetulan muncul pada hari ini.


Namun prajurit seperti mereka belum memperoleh perelengkapan semacam ‘night vision’ atau lebih dikenal dengan ‘kacamata malam’ yang diperlukan untuk melihat dalam keadaan gelap.


Selain itu melakukan pencarian musuh tidak ada dalam rencana sebelumnya, mereka hanya berpikir untuk melakukan tes pendekatan masyarakat.


Tangan tiba-tiba Nio memberi perintah untuk berhenti pada seluruh anggota kelompok pencari. Setelah itu Nio memerintahkan kepada seluruh anggota untuk tetap senyap hingga tidak terdengar suara anggota yang sedang bernapas.


Nio terlihat seperti mendengar sesuatu sambil mencoba untuk tetap berkonsentrasi. Kemudian dia menunduk hingga sejajar dengan rerumputan disekitarnya dengan hati-hati dan diikuti seluruh anggota pencari.


Sedikit mulai terdengar suara seperti besi yang saling berbenturan dengan pelan. Kemungkinan besar itulah musuh yang mereka cari.


Beberapa saat kemudian terlihat 3 orang berlari sambil diiringi suara besi saling berbenturan.


Dengan suara lirih Nio berkata, “Kita kejar mereka, tapi tetap hati-hati.”

__ADS_1


Kemudian kelompok pencari berlari cepat di tengah gelapnya hutan jati tanpa menabrak satupun pohon. Hanya terdengar suara daun kering dan ranting yang terinjak saat mereka berlari.


Beberapa saat kemudian, Nio tidak mendengar lagi suara besi berbenturan dan memerintahkan anggotanya untuk berhenti.


“Kemana mereka?” gumam Nio yang berhenti di samping sebuah pohon jati.


“Nio, belakangmu…!” teriak Rio saat dibelakang Nio terlihat sebuah sesosok berbadan besar dibelakangnya.


Sosok itu terlihat mengangkat pedang besarnya diatas kepala dan siap untuk ditebaskan pada sasaran, yakni Nio


Dengan cepat Nio menoleh kebelakang dan melihat sesosok yang berbadan besar dibelakangnya dan hanya memperlihatkan matanya dari balik celah helm besi yang dikenakan.


Dengan cepat Nio berjongkok saat orang itu menebaskan pedangnya kearah leher Nio.


Tentu saja hal itu membuat pedang yang ditebaskan orang itu meleset dan menancap di pohon. Dengan cepat orang itu segera mencabut pedangnya yang tertancap di pohon jati.


Nio segera menyingkir dan terlihat muncul dua orang lagi bersama orang sebelumnya yang menyerang Nio.


“Akhirnya kita menembukan mereka,” ucap Nio sambil tersenyum miring.


Seluruh anggota kelompok pencari menyebar dan mengepung ketiga musuh yang akhirnya mereka temukan.


Nio segera mengaktifkan senapannya pada mode otomatis penuh dan melepaskan rentetan tembakan pada ketiga orang musuh.


Meski dia tahu jika peluru yang ia gunakan saat ini belum bisa menembus baju besi musuh, tapi Nio bukan mengincar bagian tubuh musuh.


“Tembak bagian kepalanya saja!” teriak Nio yang mengarahkan tembakannya kearah kepala musuh namun masih tetap berdiri.


Keadaan yang gelap menyulitkan prajurit untuk membidik bagian yang diperintahkan Nio. Musuh tidak bergerak saat ratusan peluru mengenai tubuh yang terlindungi dengan baju besi tebal itu. Hingga Nio menghabiskan satu magasin dalam waktu singkat.


“Bantu aku…!” teriak Nio yang melihat senapannya hampir terbelah karena musuh yang terus menekan pedangnya pada senapan Nio.


Arista yang kebetulan berada tak jauh dari Nio segera mendekati Nio dan memasukkan laras senapannya ke dalam celah pada helm prajurit musuh.


Arista yang mengaktifkan senapan pada mode otomatis penuh terus menembakkan peluru yang tersisa pada magasinnya.


Nio yang masih menahan pedang musuh terkejut dengan yang dilakukan Arista. Darah keluar dari kepala prajurit musuh melalui celah yang ada di helm nya dan sebagian menetes mengenai wajah Nio.


Arista baru berhenti saat senapannya berhenti mengeluarkan peluru. Nio segera menyingkir karena prajurit musuh ambruk dan hampir menimpa dirinya.


Nio melihat Arista ternyata seluruh badannya gemetar setelah berhasil menghabisi salah satu musuh sekaligus telah menyelamatkannya.


“Terimakasih Arista, sekarang giliran ku,” ucap Nio.


Rekan prajurit musuh yang mati terlihat geram dan berlari kearah anggota yang terus menghujani mereka dengan peluru yang masih dimiliki.


Nio segera menghapus darah milik musuh yang ada di wajahnya dan mencabut pedang yang ia bawa dipunggung dari sarungnya.


Musuh menebas horizontal ke arah lengan Nio. Namun Nio dapat menangkis serangan musuh meski tangannya sedikit terpental karena kuatnya tebasan musuh. Kemudian dia mengibas-kibaskan tangannya yang memegang pedang karena benturan pedangnya dengan pedang musuh menghasilkan getaran yang mengganggu.


Anggota kelompok pencari serempak untuk menghentikan tembakkan dan melawan satu musuh yang tersisa.


Terlihat Nio dengan mudahnya menghindari serangan musuh meski dalam keadaan yang tidak terang. Tapi sebenarnya tidak semudah itu, karena Nio beberapa kali tergores di tubuhnya namun tidak dia hiraukan rasa sakitnya.

__ADS_1


Sesaat kemudian itu Nio kembali mendengar suara tembakan yang tadi terhenti sementara.


Musuh tiba-tiba mengangkat tangan kanannya untuk menangkis serangan yang datang dari arah sampingnya.


Itu adalah Rio yang membantu Nio agar tidak melawan musuh sendirian.


Merasa musuh sedikit lengah, Nio menyerang dengan akan menusuk bagian kepala melalui celah helm yang musuh kenakan.


“Sial!” umpat Nio saat serangannya gagal karena musuh yang menyadari serangannya dan segera menunduk sehingga menyebabkan tusukan Nio terkena bagian helm yang melindungi bagian dahi musuh.


Musuh kemudian melancarkan pukulan yang mengarah ke perut Nio setelah menyingkirkan Rio yang membuatnya terpental tak jauh dari tempatnya.


Pukulan musuh tepat mengenai perut Nio yang membuatnya terseret beberapa langkah kebelakang. Nio meludah dengan sedikit darah dari bibirnya yang tergigit tadi.


Di pertarungan sebelah memang tidak seimbang karena 1 prajurit melawan 20 orang. Namun prajurit musuh dapat mengalahkan anggota kelompok pencari.


Prajurit musuh mendekati Ika yang tergeletak sambil memegangi pinggulnya. Sementara yang lain masih sadarkan diri namun belum mampu untuk kembali berdiri.


Ika terlihat pasrah saat musuh mengangkat pedang diatas kepalanya. Namun Ika hanya terlihat pasrah dan tidak benar-benar menyerah pada keadaan.


Dia dengan cepat meraih senapan yang sebelumnya terlempar saat dirinya terkena serangan musuh.


Anggota kelompok yang lain yang sudah bisa bergerak mengarahkan senapan masing-masing dan mengarah pada kepala musuh yang siap menebas Ika.


Rentetan peluru yang tersisa dikeluarkan dan membuat helm prajurit musuh mulai rusak dan semakin rentan.


Musuh tidak jadi menebas Ika dan lebih memilih melindungi diri. Dia melindungi diri dengan pelindung yang ada di lengan kanannya dan dengan bilah pedang yang lebar.


Musuh yang Nio hadapi hanya menatap rekannya yang tumbang saat dihujani ratusan peluru. Hanya beberapa peluru yang melewati celah pada helm prajurit musuh dan mengenai wajahnya.


Satu musuh kembali tumbang dan hanya tersisa seorang saja yang hanya berdiri mematung.


“Menyerahlah!” ucap Nio pada prajurit musuh yang hanya tinggal dia.


Tentu saja prajurit musuh tidak mengerti dengan apa yang ucapkan dan berkata dengan bahasa dunianya, “Akan kubunuh kalian…!”


Prajurit musuh itu berlari kearah orang yang ada di hadapannya, yaitu Nio yang berdiri dalam kondosi kurang seimbang.


Nio segera menyingkirkan pedangnya ke samping dan kembali menyiapkan senapan yang tersisa beberapa peluru di magasinnya.


Prajurit musuh menebas horizontal kearah leher Nio, namun Nio dapat menghindarinya dan segera menendang tangan kanan musuh hingga melepaskan pedang yang digenggam.


Belum sempat musuh melancarkan serangan balasan, Nio memasukkan laras senapan pada celah helm tempat prajurit musuh melihat dan menembakkan seluruh peluru yang tersisa di magasinnya hingga darah keluar dari bagian bawah helm.


Nio baru berhenti saat senapannya tidak lagi mengeluakan peluru, dan prajurit musuh tumbang dengan keadaan tidak bernyawa.


Jika ke-3 musuh terkena tembakkan di bagian wajah, tentu saja keadaannya sudah jelas.


"Menangkap monyet lepas, sukses...!"


__________


Terimakasih sudah membaca cerita ini meski saya merasa masih berantakan. Jika pembaca berkenan untuk menunggu, setelah arc 'pelatihan' cerita akan terfokus pada perebutan wilayah Kota Karanganyar yang dikuasai pasukan dunia lain. Dan diselingi dengan cerita di dunia yang ada di balik Gerbang.

__ADS_1


silahkan tekan tombol jempol(selama itu gratis 😁) dan beri saya kritik dan saran di kolom komentar yang tersedia.


__ADS_2