
Di sebuah desa yang dihuni oleh manusia setengah monster dan Demihuman, terletak pada tiga kilometer dari Benteng Girinhi. Tempat ini adalah wilayah di bukit terjal dengan pepohonan lebat.
Kelompok Tempur 1 yang dipimpin oleh Sersan Mayor Hassan berjalan dengan tenang dan berusaha bergerak dengan senyap, setelah mereka mendapatkan kabar bahwa musuh telah menyerang desa terdekat. Kabar musuh menggunakan senjata ‘tongkat api’ membuat seluruh personel Tim Ke-12 yang ditinggal oleh Nio dan Kompi Bantuan 002 dalam kondisi siap tempur.
Hal tersebut membuat Hassan harus memikirkan apa yang akan dilakukan Nio jika dihadapkan pada situasi seperti ini. Pria tersebut memutuskan meminta Kelompok Tempur 2 yang dipimpin Ferdi untuk tetap di benteng, dan berdiskusi bersama Lee Baek-Ki dan menyetujui jika Kompi Bantuan 002 bersiaga di sekitar benteng dengan senjata dan personel siap tempur.
Kelompok Hassan telah menghadapi perlawanan keras dari musuh yang benar-benar menggunakan senapan. Namun mereka belum dapat memastikan jenis dan tipe serta asal senapan yang musuh gunakan. Yang mereka tahu musuh sudah membunuh beberapa warga sipil yang jelas-jelas tidak diperbolehkan dilukai.
Ketika berjalan di tengah hutan dengan ekspresi tenang dan serius, Hassan merasa ada panggilan yang masuk pada handsfreenya. Dia memerintahkan sembilan bawahannya untuk berhenti menggunakan kode tangan.
“Jadi mereka juga menyerang desa yang lain, ya.”
“Benar, kami berusaha membereskan musuh yang dibantu sepuluh ogre lapis baja,” jawab komandan Regu B Kompi Bantuan 002.
Ogre lapis baja adalah nama panggilan di antara prajurit Pasukan Perdamaian. Mereka menyerupai infanteri lapis baja setinggi tiga meter, dan merupakan ras manusia setengah monster. Ogre merupakan manusia, namun memiliki paling tidak satu atau dua tanduk di dahi mereka. Selain terkenal memiliki kekuatan bertarung yang melebihi manusia biasa, para ogre wanita juga tak kalah cantik dari perempuan manusia dan Demihuman.
“Jadi, bagaimana situasinya?” Hassan kembali bertanya.
“Tepat ketika kami hendak menyapu mereka dengan senapan mesin berat, musuh melarikan diri kembali ke hutan.”
Nio pernah mengatakan sesuatu jika musuh mundur tiba-tiba ketika moncong senapan mengarah pada mereka. Musuh sudah tidak sebodoh yang dipikirkan, mereka memiliki pahlawan yang mengajarkan pada Aliansi ilmi modern kepada mereka, termasuk taktik pertempuran modern dan semi primitif.
“Kalian seharusnya tahu, kan? Jangan biarkan anggota kalian mengejar musuh.”
Taktik pura-pura mundur untuk memancing musuh ke garis serang pasukan penyergap yang telah menunggu adalah taktik kuno. Kemudian, bisa dikatakan bahwa pasukan Aliansi tidak memiliki taktik lain untuk digunakan. Tujuan dari perlawanan ini adalah mengalahkan dan menangkap beberapa tentara musuh. Menawan prajurit musuh adalah langkah awal untuk mendapatkan beberapa informasi mengenai senjata dan perkembangan Aliansi.
Tetap saja, Hassan tidak dapat memerintahkan bawahannya mundur, sementara musuh sudah kembali ke hutan ini. Untuk mencegah musuh mendapatkan kesempatan untuk menyerang terlebih dulu, Hassan merasa kelompok tempur-nya harus menemukan dan menyerang pasukan musuh yang mundur.
“Musuh datang. Persiapkan senjata kalian untuk menghadapi musuh!”
Meski Regu B Kompi Bantuan 002 memiliki dua kendaraan taktis dengan dua senapan mesin sedang 7,62mm dan peluncur mortir di masing-masing kendaraan taktis, sehingga memungkinkan bagi mereka untuk mengalahkan musuh dalam pertempuran sengit. Namun, sulit bagi mereka jika harus bergerak ke dalam hutan pada bukit terjal dengan tanah tidak stabil, ditambah jarak pandang yang terbatas.
Jika musuh menggunakan taktik serangan total dengan jumlah besar mereka di medan seperti ini yang menghambat pergerakan, bahkan seluruh kekuatan Kompi Bantuan 002 akan mengalami kesulitan.
Selain itu, musuh diperkuat oleh ogre lapis baja.
Mereka setidaknya harus dikalahkan menggunakan senapan mesin berat 12,7mm, atau melakukan pertarungan jarak dekat dengan risiko sangat tinggi. Mereka cukup berbahaya bagi rata-rata prajurit infanteri yang hanya membawa SS20 G2 dan senapan asal Rusia serta Korea Utara, seperti Kelompok Tempur 1. Lalu, apa yang bisa mereka lakukan? Pilihan terbaik adalah merobek garis pertahanan pertama mereka dan menyerang secara total. Untuk mencapai tujuan itu, Hassan terpaksa melakukan pengintaian.
Suara tembakan perlindungan mortir 60mm dari Regu B dan peledak yang diluncurkan dari pelontar granat bergema di mana-mana. Titik tumbukan merupakan tempat persembunyian puluhan tentara musuh, dan titik selanjutnya akan diungkap menggunakan drone kecil pengintai.
Sementara itu, Regu A melihat musuh bergerak di antara rumah-rumah warga melalui penangkap radiasi inframerah pada salah satu APC .
“Mayor, kami melihat pergerakan musuh. Kami berada dalam situasi pertempuran. Lokasi tidak terlalu menguntungkan, kami berada di tengah rumah-rumah warga.”
“Selama kalian tidak merusak properti sipil, tidak masalah. Pastikan kalian menjaga sinyal komunikasi tetap terhubung dengan kami.”
Prajurit hanya dapat melihat apa yang ada di depan dan samping mereka. Situasi paling berbahaya adalah jika mereka terkepung oleh musuh di depan dan di belakang. Dengan demikian, mereka tidak bisa membiarkan musuh lewat. Meski begitu, sulit untuk menangani gerilyawan, terlepas seberapa canggih teknologi dan senjata suatu pasukan.
Mereka akan melawan serangan musuh, mengejar sambil menyerang ketika mereka melarikan diri dan membuat mereka keluar dari tempat persembunyian, kemudian menghujani musuh menggunakan artileri dan menghancurkan kemampuan mereka sebagai pasukan terkoordinasi sebelum membersihkan prajurit musuh yang selamat. Ini dapat dibandingkan dengan taktik ‘de lousing’, dan itu adalah satu-satunya cata paling cepat dan mudah untuk mendapatkan kemenangan melawan gerilyawan dan pasukan khusus.
(olog note: de lousing dapat diartikan sebagai taktik mengalahkan atau penghapusan musuh secara sistematis dan menyeluruh)
Sementara itu, personel Kelompok Tempur 1 maju perlahan di tengah hutan sambil menjaga diri, dengan senapan siap.
“Ogre lapis baja terlihat dan siap untuk bermain dengan kita. Siapkan granat!”
Setelah teriakan Kaikoa, sebuah proyektil yang dtembakkan musuh melesat dan mengenai pohon yang menjadi perlindungannya. Sementara itu, Agus yang sudah siap dengan granatnya terpaksa menunda serangannya setelah musuh ternyata melakukan serangan terlebih dulu.
Kaikoa pindah ke pohon di belakangnya, dan teman-temannya keluar dari tempat persembunyian untuk membalas tembakan. Setelah itu, seorang prajurit Aliansi melompat turun dari pohon.
Seolah-olah satu rekan mereka yang melompat merupakan sinyal, pasukan Aliansi yang berbaring dan tengkurap di tanah dan ditutupi oleh pakaian kamuflase melompat dan memasang wajah ganas dengan keinginan membunuh di hati mereka.
Ini adalah pertarungan jarak dekat yang sangat berisiko, bertarung pada jarak yang diukur dalam satuan meter.
Tanpa rasa takut, Hassan dan sembilan bawahannya menembaki musuh yang telah menampakan diri tanpa mempedulikan lesatan peluru yang ditembakkan musuh.
Senapan mesin ringan 5,56mm yang digunakan Bayu menyapu barisan tentara musuh sebelum mereka memuat ulang magasin di senapan masing-masing. Ketika proyektil menghantam tubuh musuh, hasilnya adalah darah yang muncrat ke segala arah dengan tubuh lima prajurit Aliansi berlubang seperti sarang lebah.
Ogre lapis baja menampakkan diri, dari ujung kepala dan kaki dilindungi dengan baju besi kuat dan tebal. Seluruh dari mereka memegang pentungan yang sama tingginya dengan tubuh mereka, dan mendekati pasukan Hassan yang menyerang lalu kembali berlindung di balik pohon atau batu.
“Ogre lapis baja tidak bergerak cepat! Jangan panik, kita mundur perlahan dan lemparkan granat!”
__ADS_1
Seluruh anggota Kelompok Tempur 1 melemparkan granat mereka setelah perintah dari Hassan. mereka kembali menjadi satu pasukan yang menyerang bersamaan.
Tidak semua granat tepat sasaran. Namun, beberapa ogre lapis baja dan prajurit Aliansi terjebak di dalam ledakan dan tewas.
Tentu saja tidak semua taktik musuh berjalan dengan lancar.
Ada tentara Aliansi yang berada terlalu dekat dengan ogre, dan akhirnya terkena ayunan pentungan dan tubuhnya dihancurkan. Hal itu membuat pengepungan solid musuh dan luas menyusut, dan serangan balik teroganisir Aliansi mulai lemah.
Komandan Regu C yang memiliki kendaraan tempur infanteri berupa turret dengan meriam otomatis 40mm dan dipasang di atas platfrom tank serta beberapa peluncur roket portabel 70mm bertanya pada bawahannya yang sedang mencari lokasi musuh melalui drone kecil pengintainya.
“Apa kita sudah menemukan loksi musuh?”
“Siap, sudah. Mereka tidak bergerak ke sana ke sini, tetapi menuju ke satu titik, di suatu tempat diantara puncak bukit dan area terbuka sempit. Musuh nampaknya berusaha menarik perhatian Kelompok Tempur 1 ke sana.”
Layar sepuluh inci pada APC memperlihatkan titik biru sebagai Kelompok Tempur 1 dan titik merah sebagai pasukan musuh. Mereka mengejar kelompok Hassan, dan mendekati sebuah area terbuka sempit. Setelah mempertimbangkan kecepatan gerak mereka…
“Persiapkan roket sekarang. Luncurkan 20 detik dari sekarang!” ucap komandan Regu C.
Tiga peluncur roket portabel diletakkan di bahu oleh tiga tentara dan tiga pengendali roket yang berpemandu laser. Komandan regu menghitung mundur berdasarkan titik terkini dari Kelompok Tempur 1.
“Luncurkan!”
Setelah Kelompok 1 memasuki kembali area pepohonan, sementara musuh baru melewati area terbuka, roket 70mm yang membawa hulu ledak 3 kilogram meluncur dengan kecepatan mach 1. Tiga roket meledak di salah satu sisi bukit, dan membuat beberapa penduduk merasa bukit tersebut mengalami erupsi. Ledakan roket membakar hutan, dan gelombang kejut melemparkan bongkahan-bongkahan tanah dan batu. Sebagian besar tentara Aliansi yang terjebak di dalam serangan ini kehilangan nyawa mereka, sementara yang secara ajaib selamat mulai mundur. Ini bukan pergerakan untuk kembali memancing musuh, tetapi mundur demi menyelamatkan hidup mereka.
“Aku enggak kalah jenius dari Letnan Nio, kan?” ucap komandan Regu C setelah berhasil menyelamatkan Kelompok Tempur 1 dari kejaran musuh dengan cara meledakan mereka.
**
“Halo, Nio. Sudah berapa bulan kita tidak bertemu, ya?”
Dia adalah seorang pria yang tampak berusia lebih dari tiga puluhan tahun, dengan perut yang agak buncit dan senyum riang yang memperlihatkan kesan ramah.
“Oh, Tuan Kosh Her, Anda baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja, terimakasih atas perhatianmu. Tapi, berpikir Kerajaan Arevelk akan mengalami pemberontakan seperti ini, mungkin perang akan berlangsung sedikit lebih lama. Ah, tidak mungkin pria sepertiku bisa menjadi tandinganmu. Aku merasa kau mampu membuat taktik yang cukup untuk membuat para pemberontak menyerah dengan cepat.”
“Apa? Saya tidak memikirkan apapun saat itu. Itu yang saya rasakan. Anda sangat berlebihan.”
Kosh Her adalah komandan pasukan bantuan yang dikirimkan Yekirnovo untuk membantu Arevelk menangani pemberontak. Dia tampil seperti pria dewasa yang menjadi pelayan, memberikan aura prajurit yang kuat meski yang dia lakukan adalah mengisi ulang anggur tanpa alkohol ke gelas Nio.Pada kenyataannya, dia adalah salah satu prajurit yang dipercayai oleh Sheyn dan Ragh, dan terlibat di dalam Pertempuran Bukit beberapa hari lalu.
Tidak seperti Nio yang memperoleh kemampuan menciptakan taktik dan memodifikasinya dari catatan ahli strategi terkenal yang hidup di masa lalu dan pengetahuan modern yang dimilikinya, Kosh Her naik secara perlahan dari yang sebelumnya adalah komandan salah satu unit Kekaisaran Luan dan menjadi perwira yang dihormati di kalangan prajurit Persekutuan. Dia memutuskan melayani Kerajaan Yekirnovo yang didirikan Sheyn bersama dua belas raja kerajaan bawahan Kekaisaran Luan yang terus kalah semenjak mereka menyatakan perang kembali dengan Indonesia, dan diambang kehancuran setelah TNI membawa sekutu mereka.
Nio memandang hormat Kosh Her layaknya Jenderal TNI Anumerta Sucipto yang sama-sama berperut buncit dan memiliki aura tegas dengan sedikit humor, sangat tidak baik menilai seseorang dari penampilan luar.
“Aku tidak akan menyebutnya lancang, tapi aku memiliki pertanyaan padamu, Nio,” ucap Kosh Her.
“Apa itu, Tuan Kosh Her?” Nio menjawab lalu menyesap minumannya lagi. Dia tidak terlalu haus, namun Nio merasa meminum anggur tanpa alkohol itu dapat mengurangi rasa kegugupan yang dia rasakan saat berhadapan dengan komandan setara jenderal ini. Dia tidak bisa lengah sedikitpun, dan merasa harus mendengarkan baik-baik pertanyaan yang akan diajukan oleh pria di depannya.
Bahkan meski Nio telah membangun pertahanan di jantungnya agar tidak terkejut saat mendengar pertanyaan dari Kosh Her, Nio tetap saja terkejut hingga mata kirinya membulat.
“Aku hanya ingin tahu apa yang menjadi pertimbangan mu jika kau menikah dengan Yang Mulia Sheyn.”
“Pbfhuhnshn?!” Nio hampir tidak siap untuk pertanyaan yang datang untuknya. Ia menyemburkan anggur yang ada di mulutnya. Tentu saja hal itu dilihat oleh Kosh Her, dan Nio merasa pria itu mungkin tersinggung karena perilakunya.
Nio terbatuk-batuk dengan keras, dan sudut mata kirinya yang menahan air mata karena tersedak dan menyebabkan tenggorokan panas, “Ma-maaf…”
“Tidak, itu sepertinya salahku. Tolong jangan khawatir tentang itu. Kurasa aku memang benar-benar lancang memberimu pertanyaan seperti itu,” salah satu jenderal Kerajaan Yekirnovo tersenyum sambil memberikan sebuah kain kecil agar Nio menyeka mulutnya dengan benda itu.
Melihat Kosh Her yang tampak masih dapat tersenyum, Nio menilai pria itu sebagai orang yang murah hati dan pemaaf, tapi Nio tahu Kosh Her tersenyum sebagai formalitas sementara di dalam hati sangat ingin memarahinya.
“Aku hanya mendengarnya dari salah satu komandan ksatria Barisan para Mawar, komandan Mawar Merah, Seish. Dia mengatakan jika Yang Mulia Sheyn memiliki sangat banyak fotomu yang didapatkan dari ‘pasar gelap’ dan dia membayar sangat mahal untuk itu, dan beliau selalu bergumam di dalam kamarnya sambil mengatakan “Ah… tolong pelan-pelan, Tuan Nio. Saya terlalu cepat untuk melakukan hal ini”. Dia bahkan mengatakan memperlakukan hadiah yang kau berikan pada beliau layaknya harta nasional.”
Nio sangat ingin menuntut orang yang telah mengambil fotonya tanpa ijin hak untuk memotret. Jika dia melaporkan pelaku, maka hukumannya bisa mencapai bertahun—tahun. Namun, undang-udang yang mengatur hak memotret sepertinya hanya ada di Jepang, dan tidak mungkin diperlakukan di Indonesia atau akan terjadi gelombang demonstrasi di mana-mana.
“A-aku masih terlalu muda untuk menikah, Tuan Kosh Her,” Nio hanya tidak ingin kekasihnya sakit hati jika mendengar bahwa ada seorang ratu yang jatuh cinta padanya.
“Kamu benar-benar tidak terlalu muda. Saudaraku, berapa usiamu sekarang?”
“Dua puluh tahun tujuh bulan. Tapi –“
“Saudaraku, kau berada pada usia yang sangat normal untuk menikah dan mendapatkan seorang istri.”
__ADS_1
Nio mengernyit karena mendengar perkataan seperti itu dari salah satu orang yang dia hormati, dia bahkan tidak berpikir bahwa seorang jenderal seharusnya tidak membicarakan perilaku orang yang dia layani seperti itu.
Bahkan dia tidak menginginkan seorang pemimpin yang terlalu menyukai suatu hal hingga rela melakukan apa saja demi mendapatkan hal yang mereka senangi.
**
Di saat yang sama namun di waktu yang berbeda, di istana negara sementara, Jakarta.
Suroso memandang foto gadis-gadis bangsawan dunia lain yang dia potret menggunakan ponsel pribadinya. Pria itu merahasiakan kegemarannya akan gadis muda, dan berhasil menyembunyikannya dari istri dan anaknya.
Memang, menghadiri pesta di Kerajaan Arevelk adalah hal yang membuat Suroso bahagia sekaligus marah. Dia merasa telah akrab dengan beberapa bangsawan Kerajaan Yekirnovo dan Arevelk, mengingat kedua negeri tersebut adalah sekutu penting Indonesia untuk membantu membalaskan perbuatan musuh dan meminta ganti rugi secara paksa akibat perang yang mereka kobarkan.
“Ternyata benar, kau memang presiden termuda sepanjang sejarah Indonesia, ya?”
Mendengar suara yang sangat familiar baginya, wajah Suroso berubah pucat seketika. Menjadi presiden termuda, itu artinya dia masih memiliki jiwa muda yang mengalir di darahnya dan masih memiliki perilaku anak muda biasa, seperti mengoleksi foto gadis muda yang cantik dan sempurna serta memiliki tubuh bagus.
“Sa-sayang?”
“Apa?”
Istri Suroso tersenyum layaknya pembunuh yang telah menemukan tergetnya.
“Sial. Nio benar-benar sialan. Seharusnya aku tidak mendengarkan perkataannya tentang cewek dunia lain yang mantap-mantap!” gumam Suroso di dalam hati saat melihat senyuman mengerikan di wajah istrinya.
Meski dia dan Nio sama-sama menyukai perempuan muda, namun Suroso tetap tidak ingin membuat istrinya marah akibat kegemarannya tersebut.
Seperti menandakan sesuatu akan tiba, istri Suroso melangkah ke arah pintu keluar ruang kerja suaminya dengan senyuman masih terpampang di wajahnya.
“Ntar tidur di sini aja lah. Daripada pulang terus disidang ama istri sebelum disuruh tidur di luar.”
**
Sebagian besar orang yang menghadiri upacara peresmian Pasukan Penumpas Pemberontak memiliki usia dua hingga dua puluh tahun lebih tua dari Nio. Lebih penting, Nio berada di tempat ini sebagai satu-satunya prajurit TNI yang diijinkan membantu masalah Arevelk menghadapi pemberontak.
Tidak adanya proses yang dilalui setelah mengajukan permintaan tersebut, tentu saja membuat Nio agak curiga dengan Jenderal Angga. Dia mungkin akan mendapatkan sanksi karena meninggalkan pasukannya disaat situasi sedang dalam siaga tempur tingkat tertinggi.
Lebih penting, dia harus menjaga penampilannya sebagai perwira TNI yang bermartabat meski dia masih berada pada fase dewasa awal. Dia tidak ingin mempermalukan TNI hanya karena satu prajurit mereka yang berpenampilan seperti gelandangan.
“Sekarang, kita akan memulai upacara peresmian Pasukan Penumpas Pemberontak!”
Nio menoleh ke arah seseorang yang mengucapkan kalimat tersebut dengan nada bicara agak tinggi, dan yang berbicara adalah Sigiz.
“Dan sekarang, pada hari yang masih dalam situasi perang ini, saya akan memperkenalkan Jenderal Tamu yang akan membantu Arevelk menumpas pemberontak. Salah satu perwira dari Negeri Indonesia, Tuan Nio. Dan melalui upacara Pertukaran Cawan, saya akan mengangkat Tuan Nio sebagai wakil Jenderal Luhe untuk memimpin pasukan.”
“Pertukaran Cawan????!!!!!!”
Nio tidak mengerti, tapi seluruh orang di ruangan ini berteriak seperti itu. Dia hampir mengantuk setelah beberapa hari hanya memikirkan situasi bawahannya saja, sehingga dia tidak dapat menebak situasi yang sedang dia hadapi.
Kebetulan, Nio pernah mendengar tentang ‘Cawan Suci’, sehingga dia tahu inti dari ucapan Sigiz. Memang, terdapat peradaban yang menganggap upacara ‘Cawan Suci’ sebagai ritual yang sangat sakral.
“Apa Yang Mulia Sigiz berniat melakukan Pertukaran Cawan dengan orang itu?” ucap salah satu komandan Arevelk dengan wajah resah.
“Memangnya kenapa kalau aku minum minuman di salah satu piala itu?” tanya Nio yang penasaran.
“Saat Anda minum dari piala itu, Anda akan menjadi orang yang memiliki pangkat setara Keluarga Kerajaan. Jika Anda benar-benar mengucapkan sumpah yang dikatakan Yang Mulia Sigiz, Anda akan terikat selamanya dengan beliau.”
“Artinya?” tanya Nio dengan polos.
“Kau menikah dengan Ratu Sigiz, sialan…!!!”
**
Informasi sangat penting!
Novel Prajurit SMA akan terbit cetak, tapi isi dari novel cetak akan aku bedakan dari novel di platfrom, jadi mungkin ada beberapa chapter yang nggak ada di platfrom dan cuma ada di novel cetak.
Aku enggak tahu harga pasti dari novel cetak Prajurit SMA, tergantung ama penerbitnya juga, mudah-mudahan enggak nyampe IDR 90K lah. Nabung dari sekarang buat yang mau punya novel cetak Prajurit SMA, ya.
Aku tidak janji selalu nulis novel, dan kesempatan bisa cetak novel aku pikir enggak bakal datang dua kali.
Yah… selamat menunggu episode baru Prajurit SMA di platform ini.
__ADS_1