
Bahkan Nio – yang tidak terlalu paham tentang dunia ini – tidak tahu apakah taktik peradaban abad pertengahan yang dia ketahui akan berguna digunakan pada pertempuran menghadapi pemberontak nantinya.
“Terimakasih sudah berkumpul meskipun sudah larut malam,” Sigiz sangat berterimakasih atas kerjasama dan bantuan yang diberikan para komandannya, militer Kerajaan Yekirnovo, dan Nio.
Hanya komandan yang benar-benar ‘berani’ menghadapi pertempuran melawan pemberontak di sini, salah satunya Lux. Dia telah ditunjuk sebagai komandan Pasukan Penumpas Pemberontak, dan beberapa komandan menjadi bawahannya, termasuk Nio. Mereka berbaris di salah satu ruangan markas pasukan yang mempertahankan wilayah Tohora.
Semua orang, dari prajurit atas hingga komandan, berdiri tegak, mata yang setengah menutup, menguap dengan mulut yang terbuka lebar. Beberapa dari mereka mungkin tidak mau menghadapi apa yang membuat mereka tidak bisa tidur untuk malam ini. Tentu saja Hevaz, Edera, Huvu, Ebal, dan seluruh Pembunuh Senyap juga hadir.
Kosh Her juga hadir, sebagai komandan pasukan ‘marksman’, alias petarung jarak jauh yang bersenjatakan longbow. Jarak yang jauh mengakibatkan beberapa senapan sundut rusak, dan iklim wilayah Tohora yang lembab membuat bubuk mesiu agak basah dan tidak bisa digunakan sebelum benar-benar kering. Salah satu komandan Barisan para Mawar, si Mawar Merah alias Seish ada di sini bersama Kosh Her.
“Kita berada dalam situasi yang tidak menyenangkan, jadi aku akan langsung ke intinya,” Sigiz mengatakan informasi yang dia dapatkan. “Dua hari lalu, kekuatan besar dari pasukan pemberontak melancarkan serangan ke kota-kota kecil Kerajaan Arevelk, dan terus bergerak mengumpulkan pasukan. Hingga mereka saat ini hampir mendekati Benteng Girinhi yang dipertahankan oleh pasukan kita dan sebagian pasukan Persekutuan. Pasukan pemberontak kini diperkirakan berjumlah 40.000, termasuk 20.000 pasukan berkuda.”
“Bagaimana bisa setengah kekuatan mereka adalah pasukan berkuda?!”
“A-apa benar-benar jumlah musuh sebesar itu?” Lux bergumam dengan wajah cemas. Pasukan yang dia pimpin nanti bersama Sigiz dan Nio sekitar 2.000 prajurit, dengan 200 pasukan berkuda lapis baja dan ratusan longbowman.
(olog note: longbow adalah busur panah yang memiliki panjang kira-kira sama dengan tinggi pengguna. Anak panah yang digunakan juga rata-rata sepanjang 1 meter. Sehingga lebih mematikan dari panah biasa)
Kata-kata terkejut dan gelisah dikeluarkan justru oleh para komandan yang tidak bertugas dalam Pasukan Penumpas Pemberontak.
40.000 mungkin tampak seperti jumlah kecil bagi seseorang yang berasal dari abad ke-24, tetapi di dunia ini, jumlah 35.000 sudah termasuk ke dalam pasukan dengan jumlah besar. Dan jumlah pasukan sebesar 300.000 prajurit telah setara dengan jumlah penduduk sebuah kota di Kerajaan Arevelk. Menurut Sigiz pribadi, menggunakan jumlah besar pasukan adalah salah satu cara utama untuk mengimbangi sebagian kecil dari total pasukan TNI dan sekutunya.
Menurut catatan sejarah dunia asal Nio, Perang Punisia atau Perang Punik dikatakan sebagai pertempuran terbesar dalam sejarah dunia kuno. Namun, menurut Nio dunia ini memiliki peradaban dunia asalnya pada abad ke-1 hingga abad ke-14, tergantung suku yang pernah dia singgahi.
Lux juga merasa ragu jika 2.000 pasukannya dapat menahan serangan pasukan pemberontak. Meski ada Nio di sisi pasukannya, jumlah 40.000 masih terlalu besar bagi seorang yang pernah bertempur tiga kali sehari dalam satu minggu menghadapi 300.000 pasukan Aliansi.
Pertama-tama, perang adalah hal yang mementingkan jumlah. Memang, cerita pasukan kecil yang menjatuhkan pasukan besar sangat spektakuler, tetapi hal itu tetap memiliki kemungkinan untuk menang hampir mustahil. Jadi, jika pasukan kecil dapat memenangkan suatu pertempuran besar, mereka akan bersinar dalam sejarah.
Alasan Arevelk mengirimkan pasukan kecil yang dipimpin Lux untuk menumpas pemberontak adalah sedikitnya pasukan yang bersedia menghadapi ‘rekan’ mereka sendiri. selain itu, kabar jika pasukan ‘kawan’ bertempur dengan brutal dan cara yang tidak pernah terpikirkan, hampir seluruh jenderal Kerajaan Arevelk tiba-tiba gentar, hanya Nio dan segelintir komandan yang benar-benar masih memiliki hati yang teguh. Mereka adalah sebenar-benarnya prajurit.
“Aku jadi penasaran dengan pemimpin para pemberontak itu,” ucap Nio. Dia kemudian melanjutkan, “Sepertinya dia adalah orang yang pintar.”
“Apa yang kau katakan? Kenapa kau tiba-tiba memuji Ofra sialan itu?!” salah satu komandan yang tidak ikut berperang bingung atas pernyataan Nio.
“Seharusnya Anda lebih mengetahui kelebihan yang dimiliki pemimpin pemberontak,” komandan tersebut seketika tidak dapat menjawab perkataan Nio.
“Arevelk belum lama menderita kekalahan dari pemberontak, dan menghadapi musuh yang menyerang tiba-tiba. Kalian sudah menawan beberapa musuh dan mendapatkan senjata mereka, aku akan menyelidiki hal itu bersama Pasukan Perdamaian nanti. Musuh yang memiliki senjata modern dari duniaku memang bukanlah hal yang membingungkan, karena Aliansi memiliki pahlawan di pihak mereka. Tapi, yang lebih penting adalah pemberontak hampir mendekati Benteng Girinhi. Jika Aliansi mengetahui hal ini, bisa saja benteng akan diserang dari dua sisi,” Nio berbicara, dan hanya beberapa orang yang menanggapinya dengan serius, sisanya hanya memasang wajah bingung dan berkata, “Hah?”
“Kurasa ini adalah saat yang mereka tunggu-tunggu,” Lux mengangguk dan berpikir lebih lanjut dari perkataan Nio untuk memperkirakan segala kemungkinannya.
Komandan dari pasukan bantuan Kerajaan Yekironovo dan komandan Pasukan Penumpas Pemberontak mengerutkan alis mereka, wajah mereka muram.
Lalu, seseorang yang hawa keberadaannya sangat tipis tiba-tiba menyela pembicaraan. “Ini salahku! Itu karena aku tidak mendengarkan saran Nio…” pria itu terus menyalahkan dirinya sendiri, hampir sampai pingsan. Wajahnya sangat pucat dan memilukan untuk dilihat. Walau Nio cukup kesal, namun dia tetap tidak tahan dengan Zvail yang tampak seperti orang yang terkena serangan mental ringan.
Seluruh orang sangat terkejut setelah Zvail yang tiba-tiba muncul di pertempuan ini. Dia sudah berada di tempat ini beberapa saat lalu, namun tidak ada yang menyadarinya.
Tapi ini adalah masa perang. Jika Zvail tidak bisa berpikir jauh kedepan tentang situasi yang dihadapi, itu bisa berdampak pada hasil pertempuran. Di sisi lain, Nio tidak bisa hanya menjaga kesehatan mentalnya sendiri, keadaan komandan yang hendak bertempur melawan pemberontak juga tampak ketakutan sebelum mereka diberangkatkan. Memang Nio harus membuang semua emosinya yang berhubungan dengan saran yang dia katakan untuk Zvail, namun pria itu justru tidak memakainya. Yang Nio bisa lakukan terus berbicara sebagai perwakilan Pasukan Perdamaian untuk membantu Arevelk menghadapi pemberontak.
“Tuan Nio, yang diserang adalah Kerajaan Arevelk. Orang luar seperti Anda seharusnya tidak perlu repot-repot membantu kami. Kami yakin bisa menghadapinya dengan kekuatan kami sendiri.”
“Apa yang kau katakan, kau bahkan menyatakan sangat takut dengan para pemberontak,” Nio membalas perkataan salah satu komandan, dan membicarakan jika komandan tersebut mengatakan ketakutanannya dan gentar terhadap pemberontak.
“Lagipula aku sama sekali tidak dirugikan jika membantu kalian, bukan? Jika Kerajaan Arevelk menolak bantuanku, Ratu Sigiz seharusnya sudah mengusirku sejak kedatanganku di sini,” perkataan Nio tenang, namun sangat menusuk bagi yang mendengarnya.
Sigiz merasa salah membuat keputusan melakukan ‘pernikahan’ saat situasi sedang sangat genting. Pemberontak bisa saja tidak hanya membahayakan Arevelk, namun Pasukan Perdamaian dan juga Persekutuan, lalu mengobarkan perang yang lebih berdarah lagi.
Membangkitkan moral pasukan adalah tugas Sigiz, namun beberapa komandannya justru kembali membuat ulah. Musuh yang mereka akan hadapi cukup kuat. Upacara Pertukaran Cawan seharusnya dilaksanakan dengan sakral, dan membuat Nio menjadi Jenderal Tamu yang dihormati. Tidak ada cara untuk menghentikan Nio jika pria itu benar-benar telah kehabisan kesabaran.
“Sialan! Tanpa kau, Arevelk bisa menangani pemberontak hanya dengan mengirimkan pasukan kecil. Kau hanya pengecut, kau tidak pantas berbicara seperti itu terhadap Tuanku!” Hevaz dan beberapa Pembunuh Senyap yang berdiri di belakang Nio menyuarakan protes mereka.
Itu adalah reaksi yang wajar, mengingat bagi Hevaz, harga diri ‘orang yang diramalkan’ tidak boleh dipermainkan.
“Kenapa Anda marah, Yang Mulia Hevaz?” komandan tersebut berusaha membela diri. “Saya tidak mengatakan bahwa bantuan Tuan Nio sama sekali tidak berguna. Apa Anda lupa, jika kami telah membantu pasukan Indonesia menghadapi serbuan besar Aliansi beberapa tahun lalu? Jika Anda lebih memilih pasukan Indonesia yang tampak melemah setelah penyerangan itu, seharusnya Anda meminta Tuan Nio mengatakan terimakasih kepada kami daripada marah kepada kami.”
“Aku bahkan tidak melihatmu berjuang bersama kami saat membantu pasukan Nio!”
Ucapan Zvail membuat komandan tersebut tampak seperti tertusuk anak panah, hingga wajahnya menahan malu yang luar biasa.
Suara perbedaan pendapat dan gagasan terdengar dari para komandan yang berkumpul. Mereka semua saling melontarkan protes dan ejekan, meski sebagian besar dari para komandan itu gentar terhadap pemberontak.
__ADS_1
“Aku merasa kasihan pada Indonesia, padahal kalian tidak tahu apa-apa tentang negara itu, namun dengan mudahnya mengatakan jika Indonesia sudah melemah setelah pertempuran besar pertama melawan Aliansi.”
“Ohhh, itu benar, sangat benar!”
“Memang, berselisih dengan komandan pengecut seperti Anda hanya membuang-buang waktu.”
Bahkan diantara kawan tetap ada perselisihan dan perbedaan pendapat serta pandangan. Sepertinya sebagian komandan memang tidak menyetujui keberadaanya di sini, terlebih lagi karena kejadian Pertukaran Cawan yang direncanakan oleh Sigiz.
Selain itu, Sigiz menganggap kata-kata mereka tidak sembarangan. Mereka semua memiliki keluarga dan harga diri yang harus dilindungi. Membahayakan diri untuk kawan yang berkhianat menurut sebagian komandan tidak masuk akal. Mereka berpikir lebih baik membiarkan para pemberontak bergabung dengan Aliansi, dan menyerahkan ‘pembersihan’ kepada Indonesia dan sekutunya di pertempuran selanjutnya.
“Saya tahu sebagian besar pasukan Arevelk ditempatkan di titik-titik yang diperkirakan akan menjadi sasaran penyerangan Aliansi. Hanya pasukan cadangan yang ditempatkan di titik penting kerajaan ini,” suara tenang Nio terdengar, wajahnya menunjukkan keyakinan yang tak terbantahkan. Kekesalannya benar-benar telah digantikan dengan rasa percaya diri yang telah kembali padanya. “Tanpa pasukan utama kalian yang kuat, pemberontak akan sangat mudah mengalahkan kalian jika kalian hanya menggerutu dan terus mengoceh,” lanjut Nio tanpa pikir panjang dan memikirkan efeknya bagi pendengar.
Nio berpikir seharusnya para komandan di sekitarnya tahu bagaimana cara berpikir komandan pemberontak. Sebagai mantan rekan, Nio berharap jika para komandan ini memberikannya sekedar satu atau dua informasi mengenai komandan pemberontak. Rencana Nio adalah mengejar pemberontak sebelum mereka mendekati Benteng Girinhi dan memasuki wilayah Kekaisaran Luan lalu bergabung dengan Aliansi.
Aliansi adalah musuh yang bisa dengan mudah berevolusi menjadi pasukan modern, berkat ‘pahlawan’ mereka. Dengan begitu, mereka akan mudah mengancam wilayah yang menentang Aliansi untuk mengalahkan negara pemilik TNI. Setelah itu, Aliansi akan memperluas pengaruhnya dengan memperbudak rakyat tingkat rendah dan memaksa mereka melakukan kerja paksa.
“Kita seharusnya berpikir bagaimana cara untuk mengalahkan Aliansi, musuh utama Persekutuan, dan tidak mengkhawatirkan pemberontak,” ucap salah satu komandan yang lain.
“Ya, tugas Anda adalah melindungi bangsamu sendiri, Tuan Nio,” komandan lain setuju.
“Kami sudah tidak memiliki sumber daya untuk membayar bantuan Anda jika Anda memenangkan pertarungan melawan Pemberontak. Kemenangan tidak ternilai harganya.”
Entah apa yang beberapa komandan yang gentar terharap pemberontak itu mengatakan hal tersebut, mereka berbicara tentang Nio yang tiba-tiba menampakkan diri begitu saja di antara mereka. Mungkin itu karena mereka berpikir Nio berasal dari dunia yang jauh berbeda dengan mereka, dan menempatkan Nio pada level yang sama sekali berbeda dengan mereka.
“Oh, apa kalian pikir aku dibayar dengan layak selama mempertaruhkan nyawa di dunia ini? Aku bersyukur karena pemerintah di negaraku masih memberikan tunjangan untuk keluargaku di luar gaji pokok yang kuterima. Kalian tidak perlu memikirkan bagaimana cara untuk membayarku. Kalian benar, kemenangan memang tidak ternilai harganya,” mata Nio menunjukkan keyakinan yang sekali lagi tidak bisa digoyahkan.
“Ni-Nio, kenapa kau bisa mengatakan hal itu?” mata Lux tidak bisa menerima apa yang barusan dia lihat dan dengar. Harga untuk pengalaman jauh lebih tidak ternilai, itu yang dia yakini selama ini. Dan Nio telah memiliki pengalaman yang dibutuhkan. Itu artinya, Arevelk harus membayar pemilik pengalaman itu demi menjaga Persekutuan tetap utuh, dan dapat melanjutkan perjuangan menghadapi Aliansi.
“Jangan mengatakan hal-hal menyedihkan seperti itu! Aku tidak ingat pernah memiliki komandan pengecut dan banyak mengoceh merendahkan orang lain seperti kalian! Tuan Nio adalah bangsawan Arevelk sejak aku memberikan gelar Lariq Sodur untuknya, kalian harus mengingatnya!”
“Apa?! Orang ini adalah Lariq Sodur?!” seluruh komandan dan pejuang di ruangan ini berteriak bersamaan, kecuali Sigiz, Edera, dan Lux.
Suara Sigiz seperti gemuruh petir, menggelegar di seluruh penjuru ruang pertemuan. Tidak ada lagi ratu yang lemah lembut dari seorang Sigiz saat ini. Bahkan Nio menilai jika Sigiz yang dia lihat sekarang sama dengan Arunika ketika marah. Dia akan sangat gentar jika seorang perempuan mulai menyuarakan ketidaksukaan mereka terhadap sesuatu.
Wajahnya menunjukkan ekspresi marah yang baru pertama kali semua orang di sini melihatnya. Sigiz tidak peduli banyaknya orang yang menentang pemberian gelar tersebut kepada Nio, sebaliknya, Sigiz memiliki keyakinan khusus dan percaya jika Nio memiliki kekuatan yang dibutuhkan Arevelk untuk menumpas pemberontak dan memenangkan perang atas Aliansi. Tatapan matanya yang tajam seakan-akan mampu menembus setiap orang yang ada di ruangan ini.
Sigiz sama sekali tidak ingat dengan wajah ibunya, dan semakin tidak memiliki kenyamanan untuk dirinya sendiri setelah menggantikan Hin memimpin Arevelk. Namun, sejak dia memberikan gelar Lariq Sodur untuk Nio setelah mendapatkan persetujuan Hin, Penyihir Agung, dan para bangsawan, Sigiz berencana turun takhta agar dapat berjuang tanpa hambatan.
Dia tidak ingin Nio mendapatkan kata-kata tidak menyenangkan dari para komandannya.
“Aku tahu Tuan Nio menolak melakukan Pertukaran Cawan denganku. Namun, karena dia sudah memiliki gelar Lariq Sodur, Tuan Nio memiliki pangkat lebih tinggi dari raja!”
“Eh, tunggu, apa yang kau katakan, Ratu Sigiz. Sepertinya pendengaranku bermasalah. Sepertinya kau harus mengatakannya sekali lagi, aku tidak begitu yakin dengan pendengaranku sendiri saat kau mengatakan hal itu,” wajah Nio seperti anak polos yang baru pertama kali mendengar istilah baru dalam hidupnya.
Sigiz telah menawarkan Nio untuk melakukan Pertukaran Cawan dengannya, dan dia dengan senang hati menerima penolakan dari Nio. Itu artinya, dia menghormati Nio yang telah memiliki tingkat lebih tinggi darinya, dan tidak memiliki rasa kesal serta marah sama sekali. Bahkan jika itu hanya sebatas tanggung jawab, Sigiz akan melakukan apapun untuk melindungi harga diri sang Lariq Sodur jika perlu walau Nio sendiri adalah ‘orang yang diramalkan’.
‘Yah, aku tahu, pengirim berita di kerajaan kita sangat lambat. Seharusnya kalian memberikan hormat kepada Tuan Nio, sama seperti kalian memberiku, ayah, dan Penyihir Agung hormat. Tidak, kalian harus lebih menghormati Tuan Nio daripada aku!”
“Hah, apa di sini ada dokter THT? Sepertinya pendengaranku benar-benar bermasalah.”
“Aku setuju dengan Anda, Ratu… tidak, mulai sekarang aku akan memanggilmu Sigiz…” Lux tiba-tiba menyambung pembicaraan yang semakin membuat Nio tidak mengerti situasinya.
Tentu saja seluruh orang terkejut dengan keputusan Lux.
“Lariq Sodur? Bukankah hanya satu orang yang pernah mendapatkan gelar itu?”
“Benar, orang pertama yang mendapatkan gelar itu hidup sekitar 600 tahun yang lalu.”
“Wajahnya memang seperti prajurit berpengalaman. Namun aku masih ragu jika Tuan Nio lebih kuat dari Yang Mulia Sigiz.”
Para komandan Arevelk dan Yekirnovo menundukkan kepala secara bersamaan, dan mulai merasakan sesuatu setelah mendengar fakta yang diucapkan Sigiz. Mereka tidak bisa mengangkat kepala, dan merasa akan terus tenggelam dalam perasaan malu yang besar. Dalam situasi ini, yang diucapkan Sigiz adalah bagian dari rasa tidak sabarnya menghadapi para komandannya yang arogan, dan tetap menganggap Arevelk adalah yang terkuat di dunia ini, bahkan setelah Indonesia kembali mengirimkan pasukan di dunia ini dan membawa sekutunya.
Mereka tidak bisa berkata apa-apa untuk menanggapi.
Para komandan memiliki catatan panjang di militer hingga membuat mereka mendapatkan posisi komandan. Mereka mendapatkan posisi komandan karena mereka telah menanggung begitu banyak kesulitan di medan perang. Namun, orang-orang yang prestise seperti itu bungkam oleh prajurit muda yang baru kurang dari enam tahun berkarir di militer, dan mendapatkan pangkat perwira pertama di usianya yang ke 20 tahun.
Perpaduan antara Lariq Sodur dan ‘orang yang diramalkan’ akan membentuk sebuah kekuatan luar biasa, dan dipercaya mampu mengalahkan Dewi Dunia Bawah. Dan kedua hal tersebut ada di dalam diri satu orang saja, dan dia sedang berada di ruang pertemuan ini.
“Eh, anu… kenapa kalian menatapku seperti itu? Katakan saja kalau aku punya salah dengan kalian. Aku juga minta maaf kalau punya salah dengan kalian, jadi berhenti menatapku seperti itu, oke?” bahkan ketika Nio mengatakan kebingungannya terhadap situasi canggung ini, Sigiz dan para gadis lainnya tidak bisa menahan senyum.
__ADS_1
Jika ada pertarungan tinju setelah orang-orang selesai menatapnya dengan tatapan datar, Nio akan kesulitan dan mendapatkan banyak tekanan. Namun, beberapa dari mereka mungkin telah mendengar rumor jika ada seorang prajurit Indonesia yang telah membuat Pahlawan Amarah terluka. Seluruh orang terpesona dengan rumor tersebut, meski mereka tidak melihat siapa orang tersebut.
Saat ini, yang membuat Hevaz hampir tertawa bukan seseorang yang membuatnya geli, namun reaksi Nio ketika mendengar apa yang dia hadapi sekarang.
Ini dia. Itu adalah sisi lain yang tersembunyi dari pemimpin sebuah negara yang membuat Nio terpesona, namun juga bingung.
Jelas bahwa pengetahuan yang dimiliki Nio dibutuhkan oleh Arevelk untuk menangani para pemberontak. Tapi, mengapa seorang prajurit dengan beberapa pengetahuan dan kemampuan bertarung dari dunia lain, bisa membuat puluhan gadis di sekelilingnya tertarik pada pria itu?
Bahkan meski ada seratus jenderal di depannya, Sigiz yakin tidak ada satupun dari mereka memiliki pengalaman dan pengetahuan setara dengan Nio.
Apalagi jika dihadapkan pada situasi yang berat, manusia akan menunjukkan karakter mereka yang sebenarnya. Mereka yang biasanya mengoceh tentang pembentukan moral dan keberanian mungkin akan melarikan diri ketika menghadapi pertempuran yang sebenarnya. Beberapa komandan yang berbicara secara arogan terhadap Nio cocok dengan sifat tersebut.
Dan kemudian ada contoh yang sebaliknya. Seperti remaja laki-laki yang tampak tidak bisa diandalkan ini, karakter aslinya adalah prajurit hijau petarung dengan kekuatan ribuan monster.
Di selalu menunjukkan kekuatan aslinya dalam melindungi orang. Bahkan jika fakta bahwa dia membantu ratu dari sebuah negara, mungkin hal itu akan membuat beberapa orang iri.
“Aku sudah memutuskan sebelumnya, aku akan membantu Arevelk.”
Tidak ada suara yang terdengar untuk menanggapi kata-kata Nio. Bahkan wajah beberapa komandan tampak pucat pun hanya bisa mengangguk sebagai tanggapan.
Ketika Nio pertama kali menginjakkan kaki di dunia ini, dia adalah seorang prajurit amatir yang memiliki sedikit pengalaman. Namun setelah mengalami pertempuran selama bertahun-tahun, dia telah tumbuh menjadi perwira yang gigih dan cerdik. Saat sifat sebenarnya Nio tertidur, orang-orang dapat melakukan apapun yang mereka suka. Tetapi jika sifat sebenarnya Nio terbangun, tidak peduli siapa yang dia hadapi, tidak ada yang bisa melawannya.
“Lalu, apa strategi yang akan kau gunakan?” Lux bertanya.
“Waspada adalah strategi paling dasar, dan seharusnya seluruh prajurit dapat memahaminya karena sangat mudah dilakukan,” jawab Nio sambil tetap memikirkan jalan selanjutnya.
Hal itu mungkin menjadi strategi yang baik, hingga Pasukan Penumpas Pemberontak mendapatkan lebih banyak informasi, dan rencana Nio untuk membangun kepercayaan orang-orang terhadap dirinya, dan membangun keyakinan untuk dirinya sendiri jika pertempuran dapat dimenangkan.
Ada yang mengatakan “Jika Anda terlalu banyak berpikir, itu sama saja membiarkan musuh bergerak dengan leluasa”. Intinya, terlalu banyak membayangkan kemungkinan daripada tindakan yang akan dilakukan, hal itu hanya akan membuatmu hancur. Nio sepenuhnya setuju dengan orang yang menciptakan ungkapan tersebut.
Manusia lebih cenderung mempercayai apa yang berada di dekat mereka dan membantu mereka di masa-masa sulit secara langsung, dibandingkan orang yang membantu mereka melakukan proses untuk mendapatkan kemenangan. Manusia juga akan mengingat orang-orang yang pernah memperlakukan mereka secara tidak menyenangkan, dan menganggap mereka sebagai musuh.
“Pemberontak adalah sekumpulan orang yang tidak menyukai keberadaan orang-orang dunia lain. Jadi, jika kita memilih membiarkan pemberontak bergabung dengan Aliansi, lalu dikalahkan oleh kami di perang selanjutnya, hal itu hanya akan membawakan Arevelk kehancuran secara perlahan. Semangat para prajurit akan turun, dan musuh akan dengan mudah menduduki satu persatu wilayah kerajaan ini. kemungkinan buruknya, pemberontak dan Aliansi akan melancarkan serangan yang menjepit kita dari berbagai sisi. Itu adalah semua kemungkinan terburuk jika kita tidak segera bertindak.”
Mungkin seperti yang dikatakan Nio, dan itu telah menjadi rencananya sejak memutuskan membantu Arevelk. Jika itu memang masalahnya, banyak orang yang tercengang dengan Nio yang mampu berpikir jauh ke depan, meski dia belum melihat kekuatan dan rencana musuh.
Tetap saja, Nio tidak bisa membiarkan sekutu Indonesia ini bermain di permainan yang diciptakan musuh.
“Hanya dengan 2.000 tentara yang diberikan Ratu Sigiz dan 200 tentara bantuan dari Yekirnovo untuk Pasukan Penumpas Pemberontak, tidak ada kalimat tidak mungkin bagi kita untuk mendapatkan kemenangan. jumlah kecil bukanlah masalah, selama seluruh prajurit memiliki rasa cinta terhadap tanah air, dan keberanian tanpa rasa gentar terhadap musuh. Aku justru khawatir jika pasukan memiliki pengecut dan pengkhianat diantara prajurit pemberani tersebut. Tanpa bantuan Indonesia, Korea Utara, dan Rusia, aku yakin 2.200 tentara akan mendapatkan kemenangan atas musuh yang berjumlah 40.000. Lux, mengapa kita tidak segera menghadap pasukan, lalu memberi mereka sambutan untuk mempersiapkan diri menghadapi kawan yang berkhianat?”
“Hmmm… itu benar…” jawab Lux.
Para komandan yang tersindir berkeringat dingin saat Nio berpidato.
Orang yang membantu Arevelk adalah seorang perwira remaja, orang yang telah menghancurkan Aliansi dengan manghajar salah satu pahlawan mereka hingga hampir sekarat. Sebuah kekuatan militer dengan kekuatan berkali-kali lipat tentu saja akan sangat sulit dikalahkan, tetapi Nio benar-benar telah melihat kemungkinan menang melawan pasukan musuh yang besar. Para komandan Pasukan Penumpas Pemberontak yang awalnya sama sekali tidak percaya, mereka mulai mempertimbangkan untuk melancarkan serangan sebagai pilihan terbaik.
‘Ratu Sigiz, seperti apa medan yang diduduki pemberontak saat ini?”
“Sepertinya mereka menduduki wilayah dataran tinggi gersang yang berdebu dan berbukit. Di sana sama sekali tidak subur, namun kami menambang logam mulia di sana. Satu lagi, setelah aku mengatakan jika kau adalah Lariq Sodur, kau bisa memanggilku dengan nama panggilan saja, Tuan Nio.”
“Mantap!”
“Eh?”
“Lux, perintahkan seluruh prajurit berkuda mencari dahan phon lalu ikat pada kuda masing-masing, namun jangan buang daunnya. Susun setiap unit infanteri dengan jumlah 10 hingga 40 orang setiap unit. Tuan Kosh Her, saya menyarankan para pemanah ditempatkan di bukit-bukit, dan memberikan tembakan bantuan ketika pasukan garis depan bersiap untuk menghadapi musuh. Aku berharap kalian mengutamakan tindakan mencegah korban di pihak kita, daripada usaha untuk mengalahkan musuh.”
Lux dan Kosh Her menjawab dengan serentak, “Dimengerti!”. Mereka berdua percaya ada sesuatu di balik taktik aneh Nio tersebut.
“Nio, aku sarankan kita mengumpulkan pasukan sebelum fajar tiba,” ucap Lux.
“Pilihan yang bijak!”
Biasanya, Nio akan menahan diri untuk memerintah orang lain, khususnya bukan sesama orang Indonesia. Tapi, ini adalah situasi yang darurat, selain keinginan Nio jika dia sungguh-sungguh ingin menyumbangkan kemampuan berpikirnya untuk Arevelk. Nio tidak memiliki waktu untuk berpikir bagaimana dia dianggap oleh para komandan Arevelk yang gentar terhadap pemberontak tersebut.
“Itulah bagian dirimu yang membuatku percaya padamu, Tuan Nio,” ucap Hevaz. Namun Nio tidak memiliki kesempatan untuk menanggapinya, dia harus cepat memikirkan tindakan selanjutnya.
**
Funfact#22: Lariq Sodur memiliki arti 'Prajurit Langit'. Orang yang mendapatkan gelar tersebut dari Kerajaan Arevelk, bisa dipastikan dapat menjadi raja atau ratu selanjutnya.
__ADS_1