
Penjara ini tidak gelap dan dingin, berbeda dengan kurungan yang Edera tempat sewaktu masih menjadi budak. Sumber cahaya adalah beberapa lampu neon yang bersinar berwarna putih yang berkedip-kedip karena pasokan listrik yang sering tidak stabil.
Salah satu sel ditempati Edera, dan 6 prajurit berpangkat Prajurit Satu hingga Prajurit Kepala bertugas menjadi sipir. Penjara yang dibangun di utara perkebunan memiliki 20 sel tahanan, dan terdapat dua penghuni, yakni Edera dan satu manusia bersayap yang berhasil ditembak jatuh menggunakan ketapel.
Penjara ini akan menampung penjahat yang mengancam pengungsi dan pedagang, serta Pasukan Ekspedisi, tak terkecuali gadis bernama Edera ini. Karena permohonan Nio, dia diperlakukan dengan cukup baik oleh prajurit perempuan yang sering mengurusnya.
“Siapa itu?” gumam Edera.
Berdebar, itu yang Edera rasakan saat mendengar langkah kaki yang dilindungi dengan sepatu bot dengan sol keras.
Siapa yang mendekatinya? Dan apa alasannya?
“…”
Gadis ini diam dan mempersiapkan diri untuk apa yang terjadi selanjutnya. Mungkin orang yang berjalan mendekat akan memberitahunya tentang hukuman setelah melukai Nio.
Saat langkah itu semakin terdengar jelas, Edera melakukan yang dia bisa untuk menahan takut.
“Ssst, tenanglah.”
“Eh?”
Saat kedua orang itu melihat satu sama lain, pemuda itu mengatakan sesuatu yang membuat matanya melebar.
“Sepertinya keadaanmu masih cukup baik di sini ya, Edera?”
Nio dengan gaya rambut biasanya yang acak-acakan dan mengenakan seragam dinas lapangan yang sudah satu minggu belum dicuci. Sebuah senapan tersimpan di gendongannya, dilengkapi dengan dua pisau dan sebuah pistol berperedam suara.
Nio adalah satu-satunya orang di sel tahanan, dia menggunakan kemampuan bersembunyi nya untuk menyusup agar bisa menjenguk Edera.
Gadis kucing itu hampir menangis, saat Nio masih bisa bersikap biasa setelah dia sudah melukai Nio hingga pemuda itu sekarat. Dia tidak bisa memahami apa yang dipikirkan pemuda ini, dan mencoba memahami apa yang dikatakan Nio.
“Jangan bicara terlalu keras, atau penjaga akan menangkap ku.”
Edera menjawabnya dengan anggukan disertai mata yang sembab karena tidak bisa menahan sedih. Nio tersenyum kecil dan duduk berjongkok di depan jeruji besi yang membatasi mereka berdua.
Bahkan dengan cakarnya, Edera tidak bisa merusak besi-besi yang mengurungnya.
“Maaf, aku tidak bisa membebaskan mu dan membuatmu dipenjara seperti ini.”
“Tuan Nio, saya sudah terbiasa dikurung seperti ini, bahkan perlakuan yang saya terima saat dikurung sama seperti binatang. Kalian benar-benar menghormati ras hewan seperti kami, saya benar-benar malu dengan diri saya sendiri.”
“Begitulah nagara ku lakukan untuk mengatasi perbedaan, yakni dengan menghargai satu sama lain.”
Apakah dia tidak takut dengan ku? Bagaimanapun Edera sudah melukai Nio. Bahkan Nio tidak terlihat takut, bahkan dia tidak merasa jijik saat berbicara dengannya.
Tangan Nio yang kasar saling bergesekan untuk menghangatkan diri dari udara lembab nan dingin di Tanah Suci. Sedangkan di Indonesia, di sana masih dalam musim hujan hingga bulan Maret menurut perkiraan BMKG.
“Apa kau diberi makan dengan makanan layak.”
“Ya, jauh lebih baik dari yang saya terima saat masih menjadi budak.”
Tak jarang, saat majikannya tidak memberikannya makan, Edera dan rekan-rekan budaknya mencari tanaman liar atau serangga yang bisa dimakan untuk mencegah perut terus berbunyi karena lapar. Tapi, selama dikurung di penjara ini, Edera selalu merasa kenyang dan seluruh kebutuhannya terpenuhi dengan baik, termasuk kesehatan mental.
Menjenguk Edera adalah bagian dari rencana Nio mendapatkan informasi mengenai orang yang sudah memerintahkan gadis ini untuk membunuh dirinya dan duta besar Indonesia untuk Kekaisaran. Tapi, dia akan menggunakan metode interogasi secara perlahan-lahan, hampir mendekati berbicara dengan teman akrab, hingga dia mendapatkan beberapa informasi dari pembicaraan itu.
“Apakah tuan mu memberimu hidup yang layak?”
Prihatin terhadap kehidupan Edera sebelumnya adalah cara Nio mendapatkan Informasi, dan mengetahui kehidupan ras bukan manusia yang dijadikan budak oleh manusia.
“Tuan Maslac sering mencambuk budaknya untuk kesenangan pirbadi, dan sangat senang saat melihat saya dikurung di dalam kurungan kecil sambil disirami air kotor. Untuk makanan, kami hanya diberi sebuah roti yang sudah tidak layak untuk dimakan, tapi saya tidak ada pilihan lain selain memakan roti busuk itu.”
Edera mengatakan hampir semua informasi yang Nio inginkan, sekaligus berhasil membuat pemuda itu terharu dengan masa lalunya. Meski Nio tidak melihat secara langsung kejadian yang menimpa Edera, tapi dia bisa merasakannya. Dia sekarang mulai muak dengan budaya yang bernama 'perbudakan'.
Di sisi lain, Edera merasa lega setelah menceritakan semua keburukan dan kekejaman mantan tuannya. Dia yakin, pasukan hijau ini bisa menghancurkan Kekaisaran, khusunya Maslac.
Ini adalah malam tahun baru, yang artinya akan ada pertunjukkan kembang api. Ini adalah perayaan tahun baru yang pertama kali di dunia yang dirayakan di dunia lain. Ya, itu adalah sejarah bagi Indonesia sendiri sebagai negara yang sebagian rakyatnya merayakan tahun baru di dunia lain.
Di pasukan khusus, Nio bukanlah ahli kunci, tetapi dia memiliki ilmu untuk membuka gembok, baik gembok biasa maupun gembok elektronik. Kebetulan, gembok yang digunakan di penjara ini adalah gembok biasa, yang bisa Nio buka hanya dengan kawat atau jepit rambut
Edera menyimak apa yang dilakukan pemuda di depannya terhadap gembok yang membuatnya tidak bisa kabur, lagipula gadis itu tidak tahu tentang teknologi ini.
“Oke, aku berhasil. Ayo kita keluar.”
“Keluar? Maksudmu aku bebas?”
__ADS_1
“Ya, tapi untuk sementara. Lalu aku akan memasukan mu ke dalam penjara lagi. Kalau tidak, kau dan aku sama-sama di buru masalah.”
Tangan logam Nio yang kasar menggenggam tangan halus nan hangat milik Edera. Mereka berdua berlari untuk menuju jalan masuk rahasia yang digunakan Nio untuk memasuki penjara dengan sembunyi-sembunyi.
“Setelah keluar dari sini, aku akan memperlihatkan mu ‘sihir’ dari dunia ku.”
Edera terkejut dengan yang dikatakan Nio, karena dia yakin jika di dunia asal pemuda ini benar-benar tidak ada sihir sama sekali. Sekalipun ada, itu pasti sangat kecil hingga tidak bisa digunakan mengeluarkan sihir paling lemah sekalipun.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara desisan yang dilanjutkan sebuah ledakan keras. Pertunjukan kembang api sudah dimulai, dan seluruh prajurit keluar dari persembunyian masing-masing untuk menyaksikan tontonan ini.
Santai dan perlahan-lahan, Nio mencoba mengingat jalurnya untuk dapat masuk ke dalam penjara.
“Ini… ini benar-benar sihir….”
Mereka berdua berhasil keluar dari penjara melalui jalur rahasia yang ditemukan Nio. Pemuda itu tidak bohong dengan ‘sihir’ yang dia katakan sebelumnya. Dia membawa Edera ke belakang toilet penjara, dan berada di dekat kebun singkong.
Puluhan bola api meledak, dan menyebar untuk membentuk pola bunga api. Ini adalah sihir dunia lain yang dilihat Edera, bahkan mungkin penyihir dunia ini tidak sanggup menciptakan sihir serupa.
Api yang memiliki warna beragam semakin membuat gadis kucing itu hanya bisa memandang dengan tatapan kagum, sekaligus takut. Ya, takut akan perasaanya dengan Nio sekarang. Melihat kembang api di langit, Edera teringat dengan sesuatu yang harus dia katakan pada Nio.
Meski dia sudah mengatakan perasaanya, Edera sudah bisa menebak apa jawaban yang akan diberikan Nio. Tapi tidak ada salahnya mencoba.
“Tuan Nio… apa saat ini kau sudah memiliki semacam kekasih?”
“Emmm… sudah, dia cinta pertamaku.”
Meski dia sudah mempersiapkan diri untuk hal ini, rasa sakit di hatinya tetap saja muncul dan membuat dadanya sesak. Dia masih bisa menikmati kembang api yang semakin meriah dengan perasaan ini.
“Aku sudah menduganya.”
Nio menoleh ke arah wajah Edera yang memasang senyum terpakasa. Melihat itu, dia merasa bersalah sudah menjawab pertanyaan Edera dengan jujur.
“Maksudmu?”
“Tuan Nio, kau penyelamat, dan cinta pertamaku. Kau bahkan tidak jijik saat memegang tangan yang sudah melukaimu ini. Aku akan selalu mempertahankan perasaan ini meski akhirnya tidak seperti yang aku harapkan.”
Mendengar perkataan Edera itu, Sigiz, Lux dan Zariv terharu, sekaligus patah hati setelah mengetahui Nio sudah memiliki kekasih yang merupakan cinta pertamanya.
Tapi, mereka bertiga memiliki tekad seperti Edera, yakni tetap bertahan pada perasaan ini, dan sedia menunggu Nio meski akhir tidak memihak mereka.
**
Markas Pertahanan garis depan Pasukan Ekspedisi, pinggiran ibukota Kekaisaran Luan.
Hari ini, ada banyak orang di basis operasi garis depan, dengan tugas mempertahankan wilayah pinggiran ibukota Kekaisaran. Di dalam markas pusat dipenuhi oleh prajurit yang melakukan tugas masing-masing. Ada ratusan kamera pengawas yang tersebar di seluruh penjuru wilayah ini.
Di tempat tidur komandan, Jendral Sucipto berbaring di ranjang, mendengkur dan menggaruk perutnya saat pria ini tertidur. Setiap orang telah bekerja siang malam, dan mereka beristirahat secara bergantian.
Di tempat lain, Nio melihat ke dalam pusat informasi, bermaksud untuk melapor ke perwira penanggung jawab. Namun, dia menemukan komandan unit ini sedang melaporkan situasi ibukota Kekaisaran kepada pusat informasi di Markas Pusat Tanah Suci. Pria berpangkat Letnan Satu ini melihat Nio, dan tahu jika dia memiliki laporan, dia berkata kepada Nio, “Tolong tunggu sebentar.”
Nio mendengarkan secara seksama apa yang dikatakan perwira unit pusat informasi, perwira ini berkata dengan logat Indonesia timur yang jelas.
“Siap. Para bangsawan fraksi perdamaian yang selamat telah dipenjara, lalu bagaimana situasi lapangan?. Ganti.”
“Siap. Sudah dua hari sejak kejadian peracunan para bangsawan fraksi perdamaian, tapi tidak ada tanda-tanda militer Kekaisaran mencabut darurat perang. Ribuan pasukan terjun ke jalanan, mengancam warga. Mereka diijinkan bergerak pada siang hari, dan menyebabkan akses keluar masuk ibukota terbatas, hampir semua toko dan pedagang hampir kehabisan stok makanan. Ganti.”
“Apa? Di sini ada 200 prajurit untuk diberi makan. Pasukan dapur lapangan harus mengatur makanan dengan benar! Ganti.”
“Siap. Pak, duta besar dan rombongan banyak makan, dan mereka membawa pelayan yang juga harus diberi makan. Ganti.”
“Siap. Sepertinya makanan lebih efektif daripada uang suap. Kami meminta persediaan makanan tiba secepatnya. Ganti.”
“Siap. Kami akan mengirimkan helikopter pengangkut setelah mengatur jadwal transport. Apa ada kabar tentang duta besar dan yang lainnya? Ganti.”
“Mereka berada di dalam istana kedutaan, jadi perjanjian diplomatik untuk melindungi para duta besar seharusnya masih berlaku. Ku kira pasukan Kekaisaran tidak menyentuh duta besar kita bukan?”
“Tidak, mereka tidak akan memikirkan hal kemanusiaan seperti itu. Selama kita ada di negara ini, mereka akan terus memburu kita dan orang-orang kita. Berhati-hatilah agar saat harus bersikap defensif, pasukan di sana tidak mengalami kesulitan, apa anda paham?”
Perkataan seorang perwira di pusat informasi markas pusat ada benarnya, dan perwira yang masih harus Nio tunggu melanjutkan perkataannya. Tapi, melihat Nio yang begitu sabar menunggnya, perwira ini menyuruh Nio berbicara.
“Sepertinya, Kaisar pengganti berhasil menyingkirkan bangsawan fraksi perdamaian. Dia juga mengambil komando pasukan Kekaisaran dan hampir seluruh pasukan Kekaisaran setia padanya.”
“Aku tahu, tapi ada sebagian bangsawan fraksi perdamaian yang kabur dan berusaha menyelamatkan diri. Apa kita harus melindungi mereka?”
“Pak, anda tidak bisa bertindak tanpa berpikir. Jika anda membantu mereka tanpa alasan yan jelas, itu hanya akan membuat mereka terjebak di dalam situasi yang jauh lebih buruk. Anda harus mempertimbangkannya dengan hati-hati.”
__ADS_1
Perwira itu tersenyum setelah Nio berbicara seperti sedang menasehatinya, dan dia menjawab, “Aku mengerti.”
Dengan begitu, Nio mengakhiri laporannya kepada perwira pusat informasi.
**
Saat ini, istana Kekaisaran berada dalam kekacauan sejak peracunan sebagian bangsawan fraksi perdamaian. Dan antek-antek Maslac mulai memasuki pemerintahan, dan merampas paksa fungsi-fungsi bangsawan fraksi perdamaian.
Tentu saja pihak oposisi yang meragukan Maslac berargumen, “Mengapa harus dia yang berkuasa untuk sementara?” dan sebagainya. Begitu status Maslac sebagai Kaisar pengganti diumumkan, dia mulai memamerkan kekuatannya, dan menyatakan jika Kekaisaran dan aliansi masih bisa berperang. Jika mereka secara terbuka menentang Maslac, mereka menempatkan diri mereka dalam situasi yang sulit. Dengan kata lain, para pihak oposisi harus melindungi diri mereka sendiri dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti.
Seluruh bangsawan fraksi perdamaian menjadi sasaran penangkapan, dan hanya fraksi militer saja yang dibiarkan.
Peraturan yang menguntungkan fraksi militer dan undang-undang yang menguntungkan Maslac disahkan tanpa adanya pertentangan. Karena itu, sebagian pihak yang menentang perang harus bersabar hingga adanya kabar baik.
**
Setelah pengumuman kedatangan Kaisar pengganti, pintu istana terbuka.
Di bawah pengawalan jendral muda yang akan mengatur urusan militer, Maslac melangkah dengan anggun melalui pintu yang terbuka.
Para bangsawan fraksi militer muda dan perwira militer yang ambisius mengenakan pakaian mewah yang dijahit dengan benang emas.
Di belakang Kaisar pengganti Maslac adalah Zelev.
Statusnya masih milik Maslac, tapi sejak Maslac naik tahta, semua orang mulai memandangnya dengan hormat. Sebagai orang yang paling dekat dengan Maslac, dia menerima perlakuan seorang permaisuri meskipun secara teknis dia adalah seorang budak.
Maslac dengan santai melepaskan jubahnya, dan melemparkannya ke Zelev yang sedang berdiri di sampingnya. Setelah itu, dia mendekati kursi Kaisar dan mendudukinya.
Lalu, tiga jendral muda berlutut di depan Maslac setelah dipanggil oleh Kaisar pengganti itu. Mereka semua adalah tahanan yang dibebaskan Indonesia beberapa hari lalu.
“Bicaralah tentang perang ini, dan langkah apa yang harus kita ambil untuk mengalahkan pasukan hijau itu?”
Menanggapi pertanyaan Maslac, salah satu jendral muda bangkit.
“Pertempuran terbuka melawan musuh itu hal yang sia-sia. Karena itu, jika kita melakukan pertempuran secara tidak langsung mungkin kita dapat memperoleh kemenangan.”
“Apa itu? Yang dibutuhkan Kekaisaran dan Aliansi adalah kemenangan.”
“Kita akan menggunakan langkah licik. Kami mendengar jika musuh bernama Indonesia terlalu mencintai rakyat jelata, termasuk pengungsi di Tanah Suci. Jadi, kami akan mengumpulkan goblin, orc dan monster-monster lainnya dan serang pengungsian di sana, membunuh para pengungsi, membakar pertanian mereka, dan meracuni sumber air mereka. Lalu, kita akan merebut benteng musuh.”
“Itu adalah taktik bumi hangus. Tapi, apa itu tidak mengundang serangan balik musuh?”
“Tidak, karena para monster itu tidak ada hubungannya dengan Kekaisaran.”
“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Apakah kita akan bertarung secara langsung?”
“Musuh yang tak terkalahkan bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan dengan berlebihan. Jika pasukan bertemu mereka, pasukan kita yang berperan sebagai pedagang akan berbuat ramah dengan mereka. Kita bisa memerintahkan pasukan untuk melepaskan atribut Kekaisaran, dan berbaur dengan penduduk desa, atau menyusup ke negara tetangga. Kita bisa menjadikan orang yang kita temui sebagai sandera, dan memperingatkan penyelamat sandera untuk mundur jika mereka ingin para sandera tetap hidup. Karena pasukan hijau bersedia melindungi pengungsi, maka kami akan mengumpulkan calon pengungsi yang kelaparan dan kehilangan rumah dan membawa mereka menuju Tanah Suci dan memaksa mereka untuk mencari bantuan di sana. Dengan begitu, kita akan mencampurkan orang-orang kita dengan para pengungsi dan menyusup ke benteng musuh.”
Maslac tidak bisa berkata-kata setelah mendengar semua itu. Mulutnya terbuka dan tertutup beberapa kali seolah-olah dia sedang memutuskan untuk berbicara atau tidak. Dia berpikir, “Apakah tidak apa-apa membiarkan mereka melakukan ini?”
Jendral muda yang berbicara tadi adalah seseorang yang ahli dalam strategi licik, dan membuat beberapa daerah jajahan Kekaisaran menjadi abu yang berdarah karena taktik yang dijalankannya. Oleh karena itu, meminta seseorang seperti dia untuk menyusun rencana licik adalah keputusan yang sangat tepat.
Fakta bahwa salah satu bawahannya berbicara tentang taktik licik seperti itu, benar-benar membuat Maslac kagum, meski untuk beberapa pihak taktik tersebut menjijikan.
Kata-kata jendral itu memang masuk akal. Maslac merasa akan efektif jika pasukan menyusup di antara orang-orang dan melancarkan serangan ke tentara Indonesia, itu akan membuat pasukan mereka waspada dan curiga. Pertempuran pasti akan melukai rakyat. Jika pasukan Kekaisaran merubah kamp pengungsian menjadi medan perang, mereka bisa menuduh tentara Indonesia membantai orang tak berdosa. Jika mereka melakukan itu, orang-orang mulai membenci Indonesia dan tentaranya, dan menganggap mereka sebagai musuh. Itu adalah skema yang sangat brilian.
Lalu salah satu jendral muda yang lainnya berkata, “Bagaimana kalau kita menyamar sebagai pasukan Indonesia dan menyerang kamp pengungsian?”
Maslac berteriak, “Bagus!” dan bertepuk tangan sebagai tanggapan saran salah satu jendralnya.
Jendral yang bicara tadi adalah anak dari keluarga pedagang, dan dalam militer Kekaisaran dia mendapatkan posisi sebagai divisi logistik pasukan. Karena keluarganya yang merupakan kelompok pedagang, ada rumor buruk tentang jendral tersebut tentang bagaimana dia menyalahgunakan posisinya untuk menjual kembali perlengkapan pasukan Kekaisaran. Dan dia memanfaatkan posisinya sebagai jendral untuk menepis desas-desus semacam itu.
“Itu langkah yang bagus juga, itu bisa merusak reputasi musuh. Karena kita akan melakukannya, pasukan bisa menyerang orang-orang di kota-kota, membakar rumah mereka, menjarah harta mereka, dan memperkosa para wanita. Dengan begitu, harga diri musuh akan terinjak-injak dan nama mereka akan disebutkan dengan umpatan.”
“Itu benar sekali, dengan menjarah kota-kota, kita bisa mengisi kembali logistik. Omong-omong, apa yang dipakai musuh? Apakah kita bisa mencontoh pakaian mereka, atau kita memiliki contoh pakaian mereka sehingga kita bisa menduplikasi nya?”
“Kami bertiga telah melihat pakaian tempur musuh saat ditawan, citra mereka sudah saya ukir dalam-dalam di mata saya.”
Maslac bangkit dengan senyum berseri diwajahnya. Ya, itu berarti dia sangat setuju dengan taktik yang disarankan ketiga bawahannya itu.
“Kalian, pergi dan mulai operasi!”
“Dimengerti. Kalau begitu kami akan memulai persiapan.”
Hal semacam itu tidak bisa disebut sebagai operasi militer. Jika ada bangsawan fraksi perdamaian di sini, mereka akan menangis dan bersujud di kaki Maslac agar dia menghentikan penggunaan taktik ini.
__ADS_1