
Ketika Aliansi menderita kerugian tak terhitung setelah tidak pernah satupun mendapatkan kemenangan atas beberapa penyerangan mereka terhadap musuh. Namun, bagi Ofra ada beberapa hal yang cukup menguntungkan baginya, yakni ditempatkannya pasukan dalam jumlah besar di sepanjang garis perbatasan Arevelk dengan Kekaisaran Luan (Aliansi). Itu berarti, usahanya dalam memengaruhi Zvail untuk merugikan Kerajaan sukses.
Merugikan di sini berarti Ofra berencana membuat Arevelk kehilangan banyak tentara dan fasilitas militer seperti persenjataan dan benteng. Tidak sedikit komandan dan prajurit Arevelk yang tidak menyetujui keputusan ratu mereka yang bersekutu dengan bangsa ‘dunia lain’ yang bar-bar dan kejam ketika berperang. Sehingga hal itu memudahkan Ofra untuk mengumpulkan pasukan dalam jumlah besar untuk mengalahkan dan membuka pintu masuk bagi Aliansi untuk memulai penyerangan terhadap Arevelk.
Itu berarti Ofra dan petinggi Aliansi telah bekerja sama untuk membuka medan perang baru dengan tujuan merebut beberapa titik penting Arevelk. Sebagai orang yang mengetahui beberapa informasi penting mengenai lokasi penempatan pasukan, Ofra tentu saja telah menentukan beberapa titik yang akan diserang pertama kali dengan kerjasama pasukan Aliansi.
Ketika pertemuan pertama yang membahas peperangan dan rencana menguasai ‘dunia lain’ yang tidak terduga berakhir dengan kekalahan pasukan gabungan lima negara, Ofra adalah orang yang ditunjuk sebagai perwakilan ratu yang saat itu memutuskan pergi ke ‘dunia lain’. Pertemuan itulah kesempatan Ofra untuk membahas kerjasama untuk membuat Arevelk tidak bekerja sama dengan salah satu negara ‘dunia lain’.
Namun, tanpa diduga Sigiz memutuskan bekerja sama dalam beberapa hal dengan sebuah negara ‘dunia lain’ yang bernama Indonesia. Itu membuat harapan Ofra pupus, namun ketika Aliansi terbentuk dan mendeklarasikan perang terhadap Indonesia dan sekutunya pria itu seperti telah melihat harapan bersinar terang dengan indahnya untuk dirinya.
“Tuan Ofra, saya mendapatkan informasi jika Persekutuan akan mengirimkan pasukan ke benteng yang menjadi target penyerangan Anda.”
Tam berlutut di depan Ofra sambil mengatakan informasi yang dia dapatkan dari Zvail sendiri. Dia dan Ofra berada di salah satu menara pengawas bangunan yang menjadi pusat komando militer Arevelk.
“Apa tujuan mereka? membantu Arevelk mempertahankan garis perbatasan?”
“Mohon maaf, saya tidak mendapatkan informasi mengenai alasan mereka mengirimkan pasukan.”
Dengan sedikit bumbu kebohongan, Tam berharap Ofra mempercayai informasi yang dia berikan atas perintah Zvail.
Informasi mengenai pengiriman pasukan Persekutuan ke Benteng Girinhi adalah fakta, namun Zvail memang sengaja tidak memberikan Tam alasan pengiriman pasukan ke benteng tersebut. Tam tahu alasan Zvail tidak memberinya alasan pengiriman pasukan untuk Arevelk, bahkan jika dia diberikan alasan pasti Zvail akan menyuruhnya bersumpah dan bersedia mati jika dipaksa untuk mengatakan alasan pengiriman pasukan bantuan tersebut.
Benteng Girinhi merupakan fasilitas militer yang menjadi titik penempatan lima puluh ribu tentara Arevelk, dan berada di garis perbatasan Arevelk dengan Luan sehingga menjadi pertahanan garis depan jika musuh menyerang sewaktu-waktu. Fasilitas militer ini juga berjarak cukup jauh dari benteng-benteng di sepanjang garis perbatasan yang berjumlah puluhan, termasuk benteng kecil dan pos-pos pengintaian dan penjagaan pintu masuk perbatasan.
“Berapa jumlah pasukan bantuan itu, Tam?”
“Mereka mengatakan pasukan bantuan akan dikirimkan sebanyak ratusan –“
“Hanya ratusan prajurit?! Apa mereka menganggap remeh pasukan ku?”
Tam hanya dapat diam setelah perkataannya disela oleh Ofra, namun justru itu membuatnya tidak mengatakan sebenarnya. Memang, jumlah bantuan berada pada kisaran ratusan, namun belum diketahui apakah itu ratusan prajurit, senjata, maupun peralatan tempur lainnya.
Tetapi, situasi menyedihkan yang menimpa Aliansi membuat Ofra harus melakukan sesuatu demi membuat mereka tidak menderita kerugian lagi ketika memulai penyerangan Aliansi terhadap Kerajaan Arevelk.
Jika mereka terus berperang dengan cara biasa, kekalahan mereka terlalu jelas, dan kejatuhan mereka dijamin akan datang. Tentu saja Ofra menganggap dirinya sebagai pembawa harapan bagi Aliansi, yakni menjatuhkan negara ini secara perlahan dari dalam.
Ofra saat ini masih menduduki posisi setara perwira menengah di jajaran militer Arevelk, dan salah satu orang kepercayaan Zvail. Karena itulah Ofra mendapatkan keuntungan dari dirinya yang mendapatkan kepercayaan dari jendral besar Arevelk tersebut.
“Yah, musuh yang berjumlah ratusan itu akan kita hancurkan sebelum mereka tiba di Benteng Girinhi. Dasar, apa yang dipikirkan Zvail tua itu. Jelas-jelas menempatkan pasukan di sepanjang garis perbatasan begitu berbahaya, tapi dia menyetujuinya begitu saja. Kupikir dia sangat bodoh dan sangat mudah dipengaruhi.”
Dengan perkataan yang membuat Tam begitu marah – meski dia pernah berjuang bersama Aliansi, Ofra terus melanjutkan perkataannya yang menggambarkan betapa mudah Zvail ditipu. Sedangkan Tam harus menahan kepalan tangan kanannya agar tidak melayang dan menghantam wajah menyebalkan Ofra.
Dari perkataan Ofra, Tam dapat mengetahui jika orang yang merencanakan pemberontakan adalah salah satu orang kepercayaan Zvail. Selain merencanakan pemberontakan karena ketidakpuasan dirinya dengan ratu negeri ini yang memutuskan bekerja sama dengan musuh Aliansi, Ofra berencana merebut pemerintahan dan menjadikan dirinya raja Arevelk.
“Ternyata yang terjadi jauh lebih buruk dari sekedar pemberontakan. Orang gila ini ternyata juga berencana menduduki takhta Yang Mulia Sigiz dengan memilih jalur perang,” batin Tam.
Tam tidak dapat melakukan apa-apa selain berlutut di belakang Ofra yang sedang bergumam dan membayangkan dirinya menduduki kursi raja, lalu menjadikan Sigiz sebagai pemuasnya.
Menurut Tam, itu adalah penghinaan terhadap pemimpin suatu negara yang akhirnya sudah jelas. Karena menentang perkataan orang yang membayarnya untuk mencari dan melaporkan suatu informasi – walaupun yang dia berikan hanya informasi fakta yang dibumbui sedikit kebohongan adalah hal yang buruk, tentu saja Tam hanya dapat mendengarkan setiap ocehan yang keluar dari mulut Ofra.
“Kau boleh melanjutkan pekerjaanmu. Bayaran mu akan kuberikan setelah kita menghancurkan pasukan bantuan yang kau maksud itu.”
“Tidak perlu khawatir, Tuan Ofra. Kalau begitu, ijinkan saya menyusup kembali ke Tanah Suci.”
“Bekerjalah sebanyak aku membayar mu.”
Seorang agen ganda seperti Tam akan merasa mual mendengar perkataan dari seseorang yang beberapa saat lagi akan melihat cara berperang pasukan ‘dunia lain’. Bagi Tam, keputusan Ofra untuk melakukan kudeta, lalu memiliki Sigiz secara paksa adalah pilihan terbodoh yang pernah dia dengar.
Tam tidak langsung berteleportasi ke Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Baru, karena dia masih memiliki pekerjaan dengan seseorang di bangunan ini. Bisa dibilang bangunan yang terdapat ruangan untuk Ofra dan Tam bertemu tadi adalah markas untuk beberapa komandan penting yang tidak diberangkatkan ke benteng Persekutuan, salah satunya Lux.
“Tam, apa menurutmu dia sangat bodoh?”
Lux berdiri di samping pintu masuk ruangan yang Tam dan Ofra tempati tadi, karena ruangan tadi merupakan ruang kerja Ofra. Dengan wajah santai dia bertanya seperti itu kepada Tam – yang bekerja juga dengan Aliansi.
__ADS_1
“Menurut saya, orang yang bernama Ofra itu akan menelan ludah dengan mata melotot ketika melihat kengerian dari cara berperang pasukan ‘dunia lain’. Dengan kata lain, dia akan mendapatkan balasan atas kebodohannya sendiri.”
“Mengecewakan. Sungguh sial Arevelk memiliki perwira seperti Ofra. Dia bermaksud membuat pasukannya berperang dengan kita. Dia akan memulai perang saudara! Dasar bajingan.”
Lux mendengar beberapa perkataan Ofra, dan mendapatkan inti pembicaraan tersebut. Dia berpendapat tindakan Ofra akan membawa Arevelk seperti Kekaisaran Luan, yakni kehilangan beberapa wilayah penting dan berakhir lahirnya sebuah negara baru yang bernama Yekirnovo.
Lux bisa membayangkan atasannya, yakni Zvail, akan menangis setelah mengetahui fakta jika orang yang merencanakan pemberontakan adalah salah satu orang kepercayaannya. Lebih parahnya, Ofra tidak hanya merencanakan perang yang jauh lebih besar, dia juga berencana merebut posisi pemimpin negara.
Tindakan Ofra tidak dapat membawa jalan keluar dari perang ini, dan justru mengantarkan Arevelk ke perang yang jauh lebih parah. Tindakan Ofra hanya akan mengantar para prajurit saling bertarung sesama teman, dan membawa mereka ke jalan yang menjanjikan kematian.
“Jangan beri tahu Tuan Zvail tentang Ofra, atau dia akan melakukan tindakan bodoh yang tidak ada bedanya dengan yang dilakukan Ofra.”
“Ya, saya akan melakukannya.”
**
Seperti biasa, beberapa perwakilan Arevelk dan Yekirnovo yang berupa beberapa komandan – termasuk dua jendral besar mereka melakukan pertemuan rutin di salah satu fasilitas yang dibangun Pasukan Perdamaian. Kadang-kadang tempat ini menjadi lokasi rapat perwira kontingen Indonesia, Rusia, dan Korea Utara, namun tidak terlalu sering. Ketika pertemuan, mereka memesan paket ‘kondangan’ yang terdiri atas banyak makanan, dan salah satu makanan merupakan makanan yang mereka sendiri ragu menyebutnya makanan.
Masakan ketiga kontingen ‘dunia lain’ benar-benar menggugah selera para perwira Arevelk dan Yekirnovo tersebut, meski beberapa makanan sengaja dijauhi karena beberapa alasan. Salah satu makanan yang mereka hindari adalah petai, dan menurut mereka hanya orang tidak normal saja yang mampu menyantap buah tersebut. Sayangnya, demi menjaga ‘harga diri’ mereka, para komandan tersebut terpaksa memakan ‘jangan lombok’ yang mereka pesan sendiri.
(olog note: jangan adalah bahasa Jawa dari ‘sayur’. Яванская самооценка)
Makanan tersebut salah satu komponen di dalam paket ‘kondangan’ yang para komandan tersebut pesan, demi memenuhi rasa penasaran mereka mengenai makanan khas sekutu mereka. Biji petai benar-benar mengganggu selera makan mereka, bahkan sangat menjengkelkan karena tidak sesuai dengan piring indah yang mereka bawa dari negeri masing-masing.
“Yah, lebih baik kita makan buah bau ini daripada tidak dapat berkonsentrasi ketika membahas hal ‘itu’ nanti.”
“Apa para prajurit Indonesia itu benar-benar makan buah ini?”
“Meski hanya beberapa dari mereka yang benar-benar menyukai buah hijau ini, kupikir itu sudah membuktikan mereka benar-benar tidak normal.”
“Hei, siapa yang memesan makanan ini?!”
“Sial, apa aroma buah ini tidak bisa dihilangkan?”
Biji petai yang menyebabkan bau mulut tersebut menurut para komandan merusak keindahan peralatan makan yang mahal milik mereka. Meski mereka sering menghadiri suatu acara yang menyediakan makanan prasmanan, namun tidak ada makanan dengan rasa yang bermacam-macam seperti yang ada di hadapan mereka dan tidak pernah ditemukan pada jamuan makan, bahkan di istana sekalipun.
Sementara itu, seseorang yang sengaja memesan ‘paket kondangan’ untuk konsumsi para komandan kontingen Arevelk dan Yekirnovo, yakni Ragh, melanjutkan memakan makanannya tanpa rasa berdosa sedikitpun. Alih-alih tidak menyukai petai, pria tersebut bahkan menyiapkan sedikit uangnya untuk memesan buah tersebut, yakni sekitar dua ratus keping emas.
(olog note: satu keping emas di Arevelk dan Yekirnovo biasanya mengandung 60 persen perak dan sisanya emas murni. Satu keping emas memilki berat rata-rata sepuluh gram. Bayangin dua ratus keping emas disiapkan buat beli petai doang)
Setelah para komandan melakukan yang terbaik untuk menghabiskan makanan mereka, alih-alih tidak mencari bahan makanan untuk menghilangkan aroma petai yang sangat mengganggu, mereka justru saling pandang dengan wajah cerah.
Selain itu, meski tema diskusi hari ini cukup berat dan tidak biasa, mereka saling menanyai satu sama lain tentang petai dan cara mendapatkannya.
Sayangnya, pertemuan segera dimulai, dan mereka harus menunda mencari cara untuk mendapatkan petai langsung dari sumbernya.
**
Setelah kabar baik tentang Persekutuan yang dapat mempertahankan dan kembali menduduki Benteng Hitam (Benteng Kalea), pembicaraan berikutnya adalah strategi dasar untuk menghadapi desas-desus pemberontakan yang dilakukan salah satu petinggi militer Kerajaan Arevelk.
Tidak lain dan tidak bukan satu-satunya cara untuk menghadapi pemberontakan adalah dengan menempuh jalur kekerasan. Zvail merasa rumor itu tidak dapat dimaafkan, meski kebenaran kabar itu belum dapat dibuktikan.
“Omong-omong, di mana salah satu petinggi militer Arevelk, Tuan Zvail,” salah satu komandan Yekirnovo bertanya.
“Benar juga, aku belum melihat Ofra sejak berangkat ke tempat ini.”
“Itu artinya, Anda belum bertemu dengan dia sejak masih berada di Arevelk tadi?” sambung Ragh.
“Ya. Padahal aku mengharapkan dia datang ke pertemuan ini.”
Ofra adalah salah satu komandan dan salah satu orang kepercayaan Zvail yang secara otomatis menjadi orang kepercayaan pemimpin Kerajaan Arevelk. Pria itu adalah rekan Zvail sejak bergabung dengan militer Kerajaan Arevelk, dan salah satu orang yang paling menentang rencana Kekaisaran Luan dan sekutunya untuk berperang dengan ‘dunia lain’. Namun, pada hari ini Ofra sama sekali tidak terlihat di ruang pertemuan milik Persekutuan yang dibangun oleh kontingen ‘dunia lain’ ini.
Sayangnya, pria itu termasuk kedalam salah satu orang yang paling Zvail curigai mengenai rumor pemberontakan tersebut. Namun, dia tidak dapat mencurigai salah satu orang yang dia percayai memerintah sebagian pasukan Arevelk, sehingga Zvail berusaha menepis dugaan tanpa bukit-nya atas Ofra.
__ADS_1
“Kita harus berterimakasih kepada Yang Mulia Sheyn dan Tuan Ragh yang telah memberikan kita sedikit bantuan yang berupa ksatria khusus-nya,” kata Zvail.
“Senapan sundut kami tidak mampu menandingi kekuatan senapan serbu milik rekan-rekan kita dari ‘dunia lain’. Setidaknya mereka dapat memberikan sedikit bantuan selain Kompi Bantuan yang akan dikirimkan oleh mereka.”
Namun, informasi mengenai Benteng Girinhi yang merupakan titik paling rawan diserang oleh musuh membuat para komandan ini gelisah.
“Sayangnya, Benteng Girinhi dapat menjadi titik terlemah kami. Karena benteng itu berjarak cukup jauh dari benteng-benteng yang lain.”
“Bahkan petugas pos jaga terdekat membutuhkan waktu sekitar tiga hari untuk tiba di Benteng Girinhi.”
Perkataan dua komandan asal Arevelk membuat situasi semakin tegang, dan beberapa dari mereka mampu membayangkan jika pasukan bantuan akan datang terlambat, sehingga Benteng Girinhi jatuh ke tangan pemberontak dan Aliansi yang saling bekerja sama.
Namun, ketegangan semua orang yang diciptakan bersamaan dengan ketidaksabaran mereka atas jalan keluar masalah ini tiba-tiba mereda, dengan datangnya seseorang yang mereka tunggu-tunggu.
Kedatangan salah satu perwira Persekutuan membuatnya datang seperti hujan yang turun setelah sekian ratus tahun mengalami kekeringan yang mengerikan.
Nio yang didampingi Hassan dan Bima menatap para komandan Arevelk dan Yekirnovo dengan wajah datar. Mereka menatapnya seperti selebriti yang sebentar lagi akan dihujani ribuan pertanyaan dan permintaan berfoto bersama.
Semua orang berharap Nio melakukan apa yang mereka harapkan terhadap pria itu. Meski wajah Nio menunjukkan ekspresi lelah, karena dalam satu minggu ini dia hanya tidur selama sepuluh jam, namun dia tetap harus melakukan semua yang dia bisa untuk sekutu Indonesia.
Dengan percaya diri, dia berjalan ke tempat duduk kosong diikuti Bima dan Hassan yang juga memasang wajah tegas. Nio telah ‘dipaksa’ untuk menjadi bagian pasukan bantuan bagi Arevelk yang terancam oleh pemberontakan yang belum terbukti. Namun, kecemasan Zvail akan hal tersebut tidak dapat diabaikan, dan akan berakhir mengerikan jika hal itu dibiarkan tanpa tindakan pencegahan.
“Sial, aku harus dapat bayaran yang sesuai dengan pekerjaan ini. Apa mereka pikir menyusun strategi tinggal membayangkan di kamar mandi?”
Tidak salah jika ide-ide hebat sering muncul ketika seseorang sedang berjongkok di kloset jongkok, namun bagi Nio hal itu tidak semudah yang dibayangkan. Meski khawatir jika pekerjaannya bersama Staf Strategi tidak dapat menghasilkan kemenangan, dan membuat semua rencana berjalan baik, namun ada puluhan komandan Arevelk yang menanti hasil dari setiap hasil dari pikirannya bersama orang-orang Staf Strategi.
“Apa tidak ada cara selain melawan pemberontakan selain dengan perang?”
“Nio, aku ingin memusnahkan setiap orang yang berniat meruntuhkan harga diri ratu.”
Nio tahu posisinya saat ini hanya menjadi perwakilan Kompi Bantuan 002 dan Tim Ke-12 yang akan menjadi pasukan bantuan bagi Arevelk. Namun, dia ingin hasil akhir tidak ditentukan oleh jumlah musuh yang terbunuh akibat adu senjata.
Dia menginginkan hasil yang manis, tanpa perlu ratusan orang kehilangan nyawa dalam satu pertempuran. Namun, melihat tekad Zvail yang telah bertekad akan menghancurkan setiap pengkhianat dengan menempuh jalur perang membuat Nio menyerah dengan harapannya tersebut. Dia sadar posisinya saat ini hanyalah pemimpin dari sebuah unit yang akan menjadi bantuan, dan tidak akan terlibat peperangan di garis depan.
“Jarak Benteng Girinhi dengan pos atau benteng terdekat sekitar sembilan puluh kilometer, dengan berbagai rintangan yang menghambat perjalanan. Itu membuat perjalanan pasukan bantuan akan membutuhkan waktu cepat sekitar dua hingga empat hari, tergantung kondisi. Jika kita berhasil bertahan di setiap pengepungan, itu merupakan hal yang bagus. Namun, apa Anda yakin pemberontakan benar-benar akan terjadi, Tuan Zvail?”
“Kita akan tahu jika melihatnya sendiri. Aku hanya berencana melakukan tindakan antisipasi, karena Benteng Girinhi adalah titik terlemah di sepanjang garis perbatasan Arevelk dengan Kekaisaran Luan.”
Zvail dan seluruh komandan Arevelk di tempat ini sama-sama memasang wajah masam, tanpa perasaan senang dan tenang di hati mereka. Bahkan meski pemberontakan masih berupa rumor, namun itu tetap sebuah ancaman serius bagi negara yang mereka layani sebagai perwira militer Arevelk yang telah menyatakan diri setia dan bersedia mati demi negara.
“Saya paham,” Nio sama sekali tidak menunjukkan ekspresi puas atas jawaban yang dia terima. Namun dia tetap merasa lega setelah Zvail mampu berpikir jauh kedepan meski kebenaran atas pemberontakan belum terbukti sebagai fakta.
Sangat tak tertahankan bagi Nio mengenai beban yang dia terima dari komandan Arevelk yang meratapi kesalahan mereka menempatkan pasukan di sepanjang garis perbatasan yang penuh dengan resiko tak terduga. Dia ingin segera mengakhiri semua, lalu beristirahat dengan benar sebelum tubuhnya hancur karena terlalu sering begadang dan pola tidur yang tidak teratur.
“Jadi, yang harus kita pikirkan adalah menyelesaikannya dengan cepat dan mudah,” Zvail mendengus pelan karena perkataan Nio yang cukup mustahil. Tidak mungkin pasukannya dapat mengimbangi Aliansi yang kini memiliki senapan, sehingga hal itu tidak dapat membuat pertempuran berlangsung cepat dan sesuai harapan.
Sementara itu, menyelesaikan pertempuran dengan cepat dan mudah adalah hasil dari pemikirannya bersama Staf Strategi. Tentu saja mereka tetap melibatkan pasukan yang terdiri dari pasukan Arevelk yang ditempatkan di Benteng Girinhi, Kompi Bantuan 002 dan Tim Ke-12, serta ksatria khusus Yekirnovo yang berjumlah seratus prajurit dan seratus senapan sundut dengan senjata tambahan dua buah meriam.
Nio sadar jika perkataannya cukup membingungkan, sehingga dia memutuskan untuk mengatakan intinya saja, “Intinya, kita akan mempertahankan benteng tersebut dengan berjuang bersama. Tidak ada pasukan yang menunggu di garis belakang atau bersembunyi di balik benteng, Kompi Bantuan 002 dan Tim Ke-12 telah siap melakukan pertempuran terbuka bersama pasukan Arevelk dan Yekirnovo.”
Sebagai bagian dari pasukan elit, kebanyakan personel Korps Pengintaian dan Pertempuran memang spesialis pertempuran gerilya dan dalam kota. Namun, mereka tak kalah mematikan dan sangat dapat diandalkan jika diharuskan menjalani pertempuran di medan terbuka – seperti cara berperang dunia ini.
Zvail dan Ragh berdiri dari tempat duduk masing-masing untuk menanggapi perkataan Nio, “Apa jumlah ratusan kalian dapat kami andalkan?”
“Tentu saja, kami akan menjalankan cara bertempur ala-Amerika. Yakni menghujani musuh dengan peluru, mortir, dan granat dalam jumlah besar,” jawab Nio.
Wajah Nio nampak sangat meyakinkan ketika mengatakan hal tersebut, meski itu berarti mereka akan melihat Kompi Bantuan 002 dan Tim Ke-12 mendominasi pertempuran, hal itu menurut Zvail dan Ragh.
Meski dia tidak menyukai cara bertempur ala-Amerika yang menggempur musuh dengan cara menghujani mereka dengan peluru dan peledak dalam jumlah besar, karena hal itu akan menyebabkan pasukan mengeluarkan amunisi dalam jumlah besar, namun itu satu-satunya cara untuk mengakhiri pertempuran dalam waktu singkat.
Namun, tetap saja pada setiap rencana akan ada yang namanya ‘rencana cadangan’. Tentu saja Staf Strategi dan Nio telah membuat rencana cadangan yang dimaksudkan untuk menghemat amunisi, namun tetap membuat pasukan mendominasi pertempuran daripada musuh.
“Tentu saja kami tidak dapat melakukannya sendiri, karena itu akan membuat kami kekurangan amunisi jika terus menghujani musuh dengan peluru dan mortir. Menghujani musuh dengan anak panah cukup efektif, ditambah kita juga mendapatkan bantuan dari Yekirnovo. Yah, tugas utama kami memang menjadi pasukan bantuan, jadi kami tidak akan selalu memberikan tembakan dukungan demi menghemat amunisi. Jadi, ketika pertempuran berlangsung, infanteri dan kavaleri tetap mendominasi pertempuran,” Setelah Nio mengatakan hal itu, wajah seluruh komandan berubah dan menunjukkan ekspresi puas.
__ADS_1
Nio bersama orang-orang Staf Strategi sering mengkonsumsi kafein dalam jumlah besar, terutama kafein yang terkandung dalam kopi dan minuman berenergi demi meminimalkan kesalahan dalam perhitungan mereka. Mereka memprediksi, lalu menyusun rencana tindakan – itulah tugas Nio dan Staf Strategi demi membantu sekutu mereka memenangkan dan menggagalkan rencana pemberontakan.
Dalam hal itu, memprediksi untuk mengetahui apa yang harus dipertimbangkan dalam situasi perang tidak semudah menyusun alur cerita pada episode ini. Karena jika pertempuran telah dimulai, maka akan sangat sulit untuk merubah rencana yang telah disusun, kecuali kamu memiliki keberuntungan ekstra untuk dapat bertahan hidup di tengah brutalnya medan perang untuk merubah strategi.