Prajurit SMA

Prajurit SMA
Pertempuran di bukit


__ADS_3

Beberapa hari berikutnya, di dekat perbatasan antara Kota Tohora dan ibukota Kerajaan Arevelk, tahun 1915.


Ribuan prajurit Aliansi keluar dari lima Gerbang tak sempurna yang terbuka di dekat Kota Tohora.


Ini adalah bayangan yang akrab bagi tentara Indonesia yang ditempakan di medan perang yang disebut Dunia Baru. Dia adalah satu-satunya anggota Tim Ke-12 yang berangkat sebagai bantuan untuk pasukan militer Arevelk yang akan melakukan serangan balasan terhadap pasukan pemberontak. Nio telah memberikan wewenang untuk memimpin Tim Ke-12 untuk sementara hingga dia kembali dari membantu Arevelk menangani pemberontak.


Melalui perang yang panjang, melelahkan, dan menyakitkan yang dia jalani selama empat tahun karirnya sebagai prajurit TNI, dia mendapatkan tempaan tambahan di dunia ini.


Sekarang, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi di dekat Kota Tohora yang tidak dilindungi oleh tembok. Seluruh musuh menggunakan senjata yang mengeluarkan suara ledakan semi otomatis. Untungnya, tidak hanya ada dia di sini, karena ribuan tentara Arevelk, ratusan ksatria khusus Kerajaan Yekirnovo, dan batalyon infanteri Ke-1 Pasukan Perdamaian. Mengenai batalyon infanteri Ke-1, mereka datang sangat cepat, sehingga Kota Tohora tidak dihancurkan oleh musuh yang sudah berevolusi menjadi pasukan modern.


“Mereka Aliansi, kan? Apa mereka sudah berevolusi menjadi seperti pasukan infanteri masa Perang Dunia 2?!” teriak Nio yang mulai menyesal menjadi satu-satunya bantuan dari Tim Ke-12. Sayangnya, yang dia hadapi sekarang bukan hanya pemberontak anti-Persekutuan, namun ribuan tentara Aliansi yang sudah bertempur dengan gaya PD2.


Bahkan hingga sekarang, tembakan tanpa henti dari pihak musuh terdengar, dan seluruh proyektil melewati tempat perlindungannya yang berupa sebuah batang pohon.


Medan perang sialan ini adalah hal yang paling mengerikan yang pernah diciptakan umat manusia. Langit pada siang hari ini memang cerah, namun pemandangan tersebut seketika memudar dan hanya terlihat sekumpulan musuh yang terus menghujani Nio dan batalyon infanteri dengan proyektil 7,62mm mereka. Ini adalah dunia lain, dan Nio serta seluruh tentara Pasukan Perdamaian tahu mereka adalah musuh yang menggunakan senjata dari masa lalu. Tetapi, medan perang sekarang telah dikuasai oleh senjata api, lumpur, dan darah yang dikerumuni oleh lalat menjijikan.


Nio tidak tahu bagaimana bisa musuh dapat mempelajari menggunakan senjata modern dalam waktu singkat. Namun, dia mengarang tebakannya sendiri, dan mulai menganggap medan perang dunia ini adalah gerbang neraka.


Dia membalas tembakan musuh dalam mode semi otomatis, lalu kembali berlindung di balik batang pohon. Dia melihat empat tentara operator 4 senapan mesin berat Batalyon Infanteri Ke-1 dengan berani menghujani ribuan tentara musuh dengan proyektil 14,5mm dalam 8.000 putaran permenit dalam pertarungan terbuka, dan hanya dilindungi oleh dua belas tentara elit Arevelk yang menggunakan tameng Baja Magis.


Keempat tentara elit Arevelk berusaha melindungi operator senapan mesin meski ratusan kali proyektil musuh mengenai tameng super kuat mereka. Ini adalah pengalaman yang tidak akan terlupakan oleh mereka, karena bertarung di medan terbuka melawan musuh modern bersama sekutu modern juga.


Pasukan utama Arevelk untuk menangani pemberontak tidak diijinkan untuk membantu, atau mereka akan menjadi sasaran tembak yang mudah untuk musuh. Mereka akan menjadi tembok terakhir jika ribuan musuh ternyata berhasil mengalahkan Nio dan Batalyon Infanteri Ke-1 Pasukan Perdamaian. Mengingat jumlah antara kedua pasukan sangat jauh, dan mereka hanya berjumlah sekitar 780 tentara dan terdiri dari empat kompi, termasuk Nio, sedangkan jumlah tentara musuh diperkirakan mencapai 6.000, dan telah menggunakan senapan modern.


Dari kompi Senapan A dan C yang berada di garis depan dengan empat senapan mesin berat mereka, justru Kompi Bantuan B dan D yang melakukan pertempuran paling sengit. Kedua Kompi Bantuan meluncurkan peluru kendali laser 80mm yang dapat menghancurkan APC atau tank medium dari empat pundak tentara mereka dengan tembakan perlindungan dari ratusan personel lainnya. Meski peluncur roket panggul yang keempat prajurit gunakan sangat berat, dengan bantuan exoskeleton yang terpasang akan membuat mereka hanya seperti memanggul beban seberat 1 kilogram. Sesaat kemudian, empat benda panjang melesat dengan ekor api di belakangnya dalam kecepatan sangat tinggi.


Ledakan besar tercipta setelah empat buah roket melesat secepat mach 1 dari peluncur roket panggul keempat tentara batalyon infanteri menghantam barisan ratusan tentara musuh. Hulu ledak 10 kilogram yang dimuat pada setiap roket dirancang untuk menghancurkan kendaraan lapis baja, sehingga menimbulkan kerusakan yang sangat besar di pihak musuh.


Ketika ledakan terjadi, secara bersamaan ratusan anggota dan organ tubuh berserakan setelah terlempar ke segala arah. Sayangnya, itu tidak membuat sisa pasukan Aliansi menyerah, dan terus menembakkan proyektil 7,62mm dari senapan baru mereka, M1 Garand.


“Mereka belum menyerah juga?!”


“Aku tidak percaya dengan ini. Mereka sangat suka diledakkan!”


“Pasukan otak cebong itu terus maju ke arah kita, mereka pasti ingin menjadikan tempat ini kuburan mereka!”


“Kalau mau mati lebih baik di tanah mereka sendiri, dan jangan di tanah sekutu kami, babi sialan!”


Posisi Nio berada di dekat operator senapan mesin, dan tugasnya hanya melakukan tembakan perlindungan meski dia bukanlah personel Batalyon Infanteri Ke-1. Sehingga dia bisa mendengar omelan dari empat prajurit TNI yang bergerak mundur setelah meledakkan ratusan musuh menjadi kepingan-kepingan kecil.


Ada cukup banyak pepohonan di lereng bukit yang dapat dijadikan tempat perlindungan, sekaligus rintangan alami untuk melindungi Kota Tohora. Karena kota itu berada di dataran tinggi, dan pertempuran berlangsung di kaki salah satu bukit di dekat kota, kabut putih mulai turun dengan tebal.


Peluru flare melesat dari laras senapan mesin berat dengan cahaya kemerahan dan membentuk pola kipas, sehingga tembakan akan menyebar dan membunuh lebih banyak tentara musuh. Meski kabut yang turun semakin tebal, namun itu bukanlah masalah bagi tentara Pasukan Perdamaian yang kebanyakan berlindung di balik pohon atau batu-batu.


Tetap saja, pasukan senapan musuh yang terus maju seperti sama sekali tidak memiliki rasa takut membuat prajurit terpaksa menembaki mereka terus menerus dari senapan serbu maupun mesin. Pertempuran ini adalah menjadi pemborosan terhadap amunisi yang terbatas.

__ADS_1


Darah-darah dari musuh mengalir seperti sungai, sehingga menciptakan sungai merah di lereng bukit, dan puluhan hingga ratusan tubuh tanpa nyawa tentara Aliansi berguling di lereng bukit yang cukup landai. Ketika Nio mengintip untuk melakukan tembakan balasan, dia berhasil membunuh dua sekaligus tentara musuh, namun setelah itu yang dia lihat adalah hujan peluru dari musuh, lagi.


“Sialan, kenapa mereka belum sampai juga?!” Nio menggerutu karena terlambatnya Hevaz, dan para Pembunuh Senyap ke medan perang ini.


Namun, meski jumlah mereka lebih banyak dari batalyon infanteri dengan bantuan ratusan tentara elit Arevelk, pasukan senapan musuh yang gila tida membuat kerusakan yang berarti, dan melukai sangat sedikit tentara Arevelk yang menahan pergerakan tentara musuh.


Mereka mendorong musuh dengan kuat menggunakan tameng super kuat dan tombak panjang, hingga beberapa tentara berguling ke bawah hingga tak sadarkan diri atau mati seketika setelah kepala mereka membentur puluhan batu yang terdapat di kaki bukit.


Nio ingat jika di puncak bukit terdapat puluhan penyihir militer yang sedang menyiapkan mantra untuk sihir artileri, namun proses yang mereka jalani terlalu lambat. Lima mortir menembakkan amunisinya, dan menghantam barisan pasukan Aliansi yang menyebar untuk menyerang regu yang mempertahankan sisi lain bukit. Namun, itu tetap tidak menghentikan pergerakan mereka, meskipun asap hasil ledakan menutupi bidang pandang dalam area sedang. Tapi, Nio bisa melihat kilatan cahaya yang berasal dari laras senapan musuh yang berusaha menembaki rekan-rekannya.


Kendaraan bantuan tembakan yang ditempatkan di sisi lain bukit, yakni sebuah meriam ringan 15mm dan sebuah mortir kaliber 120mm yang keduanya ditempakan pada platfrom kendaraan taktis, tidak memiliki tempat yang stabil untuk menembak karena lokasi mereka yang berada di lereng bukit yang miring. Meskipun kedua senjata mampu menghasilkan dampak kerusakan di pihak musuh cukup besar, tapi resiko terguling atau semacamnya tetap ada akibat hentakan saat penembakan.


Nio melihat kebelakang setelah puluhan jalur cahaya berwarna merah dan biru melayang dengan pola lintasan parabola, lalu menghantam barisan pasukan musuh di kaki bukit, sehingga menghasilkan hujan darah dan daging manusia lagi setelah sihir artileri menghasilkan ledakan setara hulu ledak 10 kilogram.


Tidak membiarkan diri mereka dihalangi oleh potongan tubuh rekan, lumpur, dan bebatuan yang ada di medan perang yang diselimuti oleh bau busuk kematian, mereka terus bergerak tanpa pelindung tubuh yang layak melewati mayat-mayat rekan mereka sendiri dan menginjak-injaknya. Mereka memiliki kaki yang kuat untuk mendaki bukit dengan harapan dapat membunuh salah satu tentara batlyon infanteri maupun tentara Arevelk yang membantu. Keberanian dan keberingasan ribuan sisa pasukan Arevelk membuka mata Nio lebar-lebar, mereka tampak abadi meski tetap mati dalam keadaan tubuh berlubang dan hancur setelah terhujam oleh proyektil 7,62mm dari senapan serbu dan senapan mesin ringan maupun 14,5mm dari senapan mesin berat dan mortir 81mm. Nio sekarang memiliki perasaan hormat terhadap pria-pria Aliansi tersebut, dan mengagumi perjuangan mereka meski jelas sia-sia.


Peledak berupa granat tangan dilemparkan dari puluhan tentara batalyon infanteri. Serangan jarak dekat itu sudah cukup untuk menghancurkan tubuh sepuluh tentara Aliansi. Namun, serangan itu hanya membuat medan perang dihiasi dengan latar suara puluhan ledakan dari granat maupun mortir dan rangkaian tembakan dari senapan.


Hampir semua tentara Aliansi yang mendaki bukit untuk menyerang mereka berakhir dengan tragis akibat perbedaan kekuatan yang terpaut ratusan tahun. Para prajurit yang terdampak ledakan keras akan dihadapkan rasa sakit yang tak tertahankan dan meruntuhkan mental, sehingga beberapa tentara Aliansi memutuskan menembak kepala mereka sendiri. Tindakan mereka mengakhiri harapan untuk melakukan perjuangan abadi hingga pasukan ‘dunia lain’ kembali ke dunia asal mereka.


“Ngh! Aku kena! Sial!”


“Medis! Medis!”


Nio melihat seorang prajurit kontingen Arevelk di dekatnya tertembak pada bagian bahunya, dan dia segera menahan kaki pria itu agar tidak terus berguling ke bawah hingga prajurit medis tiba. Dia menyeret tubuh tentara yang lebih besar darinya ke tempat perlindungannya di tengah deru medan perang. Karena prajurit itu mengenakan pakaian zirah kuat dan berat serta perlengkapan lain yang menambah bobot, Nio harus mati-matian menyeret tubuh tentara Kerajaan Arevelk tersebut.


Nio melihat dua prajurit dari regu medis berlari menuruni lereng bukit dengan hati-hati dan disertai tembakan perlindungan dari rekan-rekan mereka. Bersamaan dengan itu, Nio melihat satu peleton musuh membidik mereka berdua.


Tim medis adalah unit yang paling Nio hormati, selain satuan yang dia tempati saat ini, yakni Korps Pengintaian dan Pertempuran. Bisa dibilang, unit medis adalah yang bisa dipercayai apapun yang terjadi, itu menurut Nio. Apapun pandangan semua orang tentang unit medis, Nio tetap beranggapan seperti itu.


Nio melemparkan sebuah granat asap, dan menimbulkan ledakan cahaya yang sangat menyilaukan dan menyebabkan musuh buta sesaat sebelum mengeluarkan asap putih yang sangat tebal.


Sesaat kemudian, senapan mesin yang dioperasikan prajurit TNI menembakkan ratusan proyektil untuk menghabisi satu peleton yang menyasar dua prajurit medis setelah granat asap yang Nio lemparkan mengeluarkan asap tebal. Selain itu, Nio juga melakukan tembakan dukungan setelah melihat sepuluh tentara musuh mencoba mengejar prajurit medis, dan menghabisi mereka semua dengan masing-masing satu proyektil.


Tandu yang diangkat oleh dua tentara medis membawa tentara Arevelk ke tempat yang aman. Mereka berdua benar-benar dipercaya untuk menyelamatkan jiwa tentara tersebut.


Dengan keberanian mereka yang luar biasa, memang pantas unit medis mendapatkan perlindungan, karena merekalah yang akan menyelamatkan prajurit lain yang terluka.


Karena adanya dua tentara medis yang sedang merawat seorang tentara Arevelk, tempat mereka menjadi sasaran tembak, dan Nio mau tak mau harus melindungi mereka. Musuh menghujani batu yang menjadi tempat perlindungan mereka dengan tembakan yang terkonsentrasi, dan Nio menundukkan kepala bersama dua tentara medis karena tidak dapat membalas serangan itu. Dengan berlindung di balik batu dengan keadan siaga, Nio dan kedua tentara medis saling tersenyum lemah ketika musuh memperlakukan tempat perlindungan mereka layaknya sasaran tembak.


Tapi, ketenangan Nio hanya berlangsung tidak begitu lama. Setelah sebagian besar prajurit musuh sudah kehabisan amunisi, datanglah gelombang serangan yang jauh lebih besar dan begitu menggetarkan hati.


Itu bukanlah bantuan tembakan dari meriam baru ‘Dewa Baja’ dengan kaliber 300mm atau rentetan tembakan dari drone bantuan tembakan kaliber 180mm.


Kavaleri pasukan Arevelk yang berjumlah 10.000 melibas seluruh tentara Aliansi yang masih berada di tanah datar dan belum sempat mendaki bukit, namun mereka sudah kehabisan peluru. Sementara itu, barisan ksatria elit Yekirnovo melepaskan rentetan tembakan proyektil gotri berkaliber 4mm dari senapan sundut mereka.

__ADS_1


Prajurit kavaleri mengayunkan tombak-tombak panjang mereka ke tubuh pasukan Aliansi yang kini sama sekali tidak mengenakan zirah logam. Musuh hanya mengenakan pakaian berwarna hijau, tanpa pelindung logam seperti pasukan Aliansi sebelumnya, dan memiliki senjata senapan tanpa membawa perisai. Tanpa pelindung logam, prajurit-prajurit Arevelk dan bantuan dari Yekirnovo dapat dengan mudah mengikis kekuatan musuh sedikit demi sedikit.


Mungkin beberapa tentara Aliansi dapat melepaskan tembakan dengan sasaran ksatria elit Yekirnovo yang masih dalam proses mengisi kembali untuk melakukan tembakan lagi, namun perlindungan dari para prajurit ‘dunia lain’ dapat mencegah mereka menemui ajal di pertempuran ini. Kemudian, ribuan pasang kaki kuda dan tebasan pedang dan tusukan tombak dari kavaleri Arevelk yang tangguh kembali meruntuhkan moral pasukan Aliansi yang semakin modern dengan cara menginjak-injak tubuh, memenggal kepala, dan menusuk dada dengan tombak dan pedang masing-masing prajurit.


“Bala bantuan yang lain sudah ada di sini!”


Nio mendengar salah satu tentara Korea Utara mengatakan hal itu.


Awan debu menghitamkan langit, dan tanah basah menyebabkan sapatu bot seluruh tentara Pasukan Perdamaian yang bertugas mempertahankan Kota Tohora kotor. Lalu, terdengar suara teriakan yang memecah kerusuhan medan perang, dan jauh lebih keras daripada teriakan prajurit Aliansi ketika proyektil menembus tubuh mereka.


Tidak heran bagi Nio mengapa dia bertanya-tanya apakah ini adalah dunia pararel atau dunia kedua, dan bisa saja suasana Perang Dunia 1 atau 2 berlangsung seperti ini. Nio berpikir dirinya sudah gila, tapi pertempuran di depannya adalah nyata.


“Prajurit Dewa! Kalian sangat setia! Kalian sangat keras bagai permata! Kalian kuat bagai raja naga! Kalian cepat bagaikan peluru!”


Kata-kata yang dikeluarkan dari Hevaz dan para Pembunuh Senyap yang beberapa detik lalu tiba dan langsung bergabung ke medan pertarungan dengan menunjukkan pertarungan hebat mereka. Nio mendengar Hevaz bersenandung seperti itu, dan membuat sebagian besar tentara langsung mendapatkan semangat juag mereka kembali.


Untungnya, bantuan mereka adalah Hevaz yang dijuluki ‘Dewi Terbang’ oleh pesonel Unit Udara Pasukan Perdamaian, sehingga tidak ada yang mentertawakan syair dari gadis itu.


“Hei! Lakukan tembakan penekan! Kita telah mendapatkan waktu untuk melakukannya!” teriakkan Nio didengar oleh beberapa komandan peleton dan kompi, sehingga mereka menyambungkan tautan agar seluruh tentara mendengar instruksi dari Nio tanpa sepengetahuan pria itu tentu saja.


Sebagian besar perwira paham dan tahu jika Nio tidak ingin mendapatkan perintah untuk memimpin suatu kompi atau pasukan yang sedikit lebih besar dari itu. Sehingga mereka memanfaatkan pertempuran ini agar seluruh tentara mendengar strategi yang Nio katakan.


Setelah pertempuran yang sedang berlangsung ini dan membantu Arevelk menangani pemberontak usai, Nio berencana akan mengajukan cuti jika persyaratan terpenuhi. Nio merasa dirinya terjebak di pertempuran ini sebagai hukuman karena meninggalkan tim-nya dan memberikan tanggung jawab memberi komando kepada Hassan. Tetapi, jika semua persyaratan terpenuhi, Nio tetap merasa harus mendapatkan jatah cuti paling tidak tiga hari.


Puluhan kepala yang terpisah dari tubuhnya adalah pemandangan yang akan Nio lihat jika melibatkan Hevaz pada setiap pertarungan. Sementara itu, para Pembunuh Senyap bergerak sangat lincah dan gesit, sehingga mustahil bagi tentara Aliansi membidik dan menembak mereka. Cakar tajam, belati, dan anak panah kecil sebagai senjata andalan mereka membunuh puluhan prajurit Aliansi sejak kedatangan mereka di sini dengan menggunakan sihir teleportasi Hevaz.


Setelah berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing agar berhasil, Nio dan ratusan prajurit Pasukan Perdamaian berlari sambil berteriak sekuat tenaga menuruni bukit sambil memberondong tembakan ke arah musuh yang berdiri kebingungan di lereng dan kaki bukit. Hanya orang yang pernah mengalami kengerian pertempuran seperti ini yang dapat membuat rencana seperti ini. Ada suatu keanehan yang dirasakan Nio, yaitu ratusan pesonel Batalyon Infanteri Ke-1 berlari meski dia tidak memberikan perintah.


Nio tetap merasa takut, meski tidak ada penembak jitu di pihak musuh.


Seorang perwira muda, veteran perang di dunia ini, dia luar biasa liar! Bagi seluruh Tentara Pelajar yang ditugaskan ke dunia ini, mereka menjadikan Nio panutan mereka. Sedangkan bagi tentara Arevelk dan Yekirnovo yang pernah mendengar jika Nio telah membuat Pahlawan Amarah sekarat, Nio adalah raja prajurit dan memuja dia.


Rumor jika Nio akan tiba-tiba berlari ke depan ketika pertarungan masih berlangsung meski risiko mati sangat besar adalah benar, meski itu baru terjadi saat dia ditugaskan di dunia ini. Ya, bagi Hevaz, tentara Arevelk dan Yekirnovo serta sebagian prajurit Tentara Pelajar dan bawahannya di Tim Ke-12, dia adalah tentara yang memiliki potensi besar di masa depan, dan dia adalah orang yang akan memimpin suatu pasukan menuju kemenangan di perang besar di masa depan.


“Hei, kalian senang dengan ini, kan?! Kalian bersenang-senang kan?!”


Kata-katanya penuh dengan kemarahan yang mengerikan, dia menebas kepala dan dada setiap musuh yang memutuskan bertarung melawannya.


Letnan Satu (Tentara Pelajar) Nio Candranala memamerkan taringnya ketika ada puluhan tentara musuh yang membidik dirinya. Dia langsung menebas setiap tangan musuh yang mengangkat senapan, dan membuat musuhnya mati perlahan karena kehabisan darah.


Aliansi ingin mendapatkan ‘orang yang diramalkan’. Dengan kata lain, perang ini terjadi karena mereka mendengar jika Nio hanya seorang diri di wilayah Arevelk yang masih menggunakan senjata tradisional, sedangkan Aliansi sudah menggunakan senjata modern. Sebagian besar dari mereka memuja Dewi Kematian dan Dewa Perang, tapi mereka sedang berusaha untuk membunuh kedua sosok dalam satu tubuh tersebut. Dewa tidak bisa mati, tapi Persekutuan bersamanya!


Nio membunuh musuh, dan musuh membunuh rekan-rekannya. Kemudian, Letnan Satu yang agung itu membalas kematian rekannya saat itu juga dengan pedang dan karambitnya, sedangkan dia memilih mengistirahatkan senapan miliknya.


Ada ribuan orang yang mati di bukit ini, serta ratusan kilogram bahan peledak digunakan untuk mempertahankan kota dari serbuan musuh.

__ADS_1


“Kau brengsek, orang dunia lain!”


Nio menembak kepala tentara Aliansi yang mengatakan hal itu di depannya dalam kondisi sekarat sebanyak sepuluh kali menggunakan pistolnya. Wajahnya menunjukkan ekspresi dingin, dan darah yang mengotori wajah dan pakaiannya yang bermotif kamuflase hutan kebanggan TNI. Darah musuh-musuhnya menetes dari ujung pedangnya, dan Nio bersama rekan-rekannya mengakhiri pertempuran ini dalam waktu kurang dari satu hari.


__ADS_2