Prajurit SMA

Prajurit SMA
Tetap saja terpesona


__ADS_3

Dua kendaraan taktis dan satu panser melintasi dataran berumput yang luas, lalu empat kereta kuda berbendera Kerajaan Yekirnovo bergerak lebih lambat di belakang mereka, di bawah sinar matahari yang bersinar cerah pagi ini. Di atas, terbang empat helikopter pengangkut besar dengan delapan helikopter serang sebagai pengawal sekaligus pengangkut personel ketika kapasitas penumpang di helikopter pengangkut sudah penuh.


Tim Ke-12 kini mengoperasikan dua kendaraan taktis dan satu panser ketika sebelumnya mendapatkan tiga kendaraan taktis. Namun, satu kendaraan dikembalikan ke unit pemeliharaan senjata dan kendaraan tempur, karena tim ini telah mendapatkan satu kendaraan yang dapat mengangkut lebih banyak anggota.


Alasan lain penarikan satu kendaraan Tim Ke-12 selain mereka mendapatkan kendaraan baru adalah untuk perbaikan. Kru unit untuk pemeliharaan kendaraan adalah sekelompok prajurit yang galak, dan sebagian besar rambutnya telah beruban. Karena bawahan Nio yang bertugas mengemudi pernah menabrakkan kendaraan ke barisan musuh yang mengenakan zirah logam, keadaan bagian depan penuh dengan penyok dan beberapa bagian ada yang lepas.


Para kru pemeliharaan kendaraan membayangkan gaya bertarung Tim Ke-12 sangat sembrono, hingga hampir merusak satu kendaraan yang berharga lebih dari satu miliar rupiah (tergantung varian senjata dan sistem pertahanan pada body kendaraan). Hanya perkataan “Maafkan saya dan anggota saya” yang mampu Nio berikan kepada para montir, namun pada akhirnya dia menerima omelan dari kru pemeliharaan kendaraan yang seharusnya didapatkan bawahannya yang bertugas mengemudi ketika penyerangan pertama musuh di Zona Perbatasan Ke-21.


Jumlah persediaan suku cadang dengan kendaraan yang kembali dari penugasan dalam kondisi beberapa bagian yang rusak berbanding terbalik, dan pasukan tidak bisa meminta penyihir Arevelk dan Yekirnovo untuk membukakan Gerbang ke Indonesia untuk mendatangkan suku cadang tambahan untuk kendaraan yang selalu digunakan dengan sembrono.


Nio menjadi pengemudi kendaraan yang ada di barisan paling depan, dan disampingnya adalah Lux. Sementara kelima gadis dunia lain berada di belakang bersama Arif dan Hassan. Gadis-gadis itu memandang Lux dengan tatapan iri, namun hanya membiarkan apa yang gadis itu inginkan jika tidak ingin dia mengamuk di tengah jalan. Arif dan Hassan duduk di samping pintu keluar yang ada di belakang, sekaligus menjadi pengemudi cadangan dan operator senjata otomatis. Seluruh senjata pada masing-masing kendaraan darat dan udara dalam keadaan siaga.


Kendaraan darat bergerak lebih lambat dari kendaraan udara, dan mereka harus rela didahului seluruh helikopter untuk mencapai tujuan.


Kendaraan yang dikemudikan Nio memimpin rombongan kendaraan darat, termasuk keempat kereta kuda. Namun, seluruh kendaraan melaju dengan kecepatan yang sama dengan kuda yang menarik gerbong, bahkan motor bebek ber-cc 125 akan dengan sangat mudah mendahului rombongan ini.


“Letnan, apa kita tidak bisa bergerak lebih cepat?”


Sersan Mayor Hassan mengeluh melihat dua belas helikopter terbang mendahuli mereka. Memang, jika melaju dengan kecepatan penuh kendaraan taktis akan kalah juga dengan helikopter yang bisa melaju dalam kecepatan penuh lebih dari 700 kilometer per jam.


“Aku juga belum pernah menyetir sepelan ini sejak belajar mengemudi.”


Nio menjawab keluhan wakil kapten-nya. Jika dia menekan pedal gas terlalu keras, dia akan meninggalkan rombongan kereta kuda, tetapi kendaraan taktis kedua dan panser akan dengan mudah mengikuti. Sehingga seluruh kendaraan bergerak dalam mode otomatis, dan pengemudi hanya memegang setir tanpa menginjak pedal.


Dalam pantulan kaca spion terlihat rombongan perwakilan kontingen Yekirnovo yang juga mendapatkan undangan untuk menghadiri upacara Pergantian Tahun yang dilaksanakan di ibukota Kerajaan Arevelk yang bernama Iztok. Kontingen Indonesia mengirimkan Tim Ke-12 yang berjumlah 20 orang sebagai perwakilan untuk menghadiri upacara tersebut… karena paksaan seseorang. Kontingen Korea Utara dan Rusia mengirimkan masing-masing 30 orang sebagai perwakilan. Sehingga perwakilan ‘dunia lain’ berjumlah 80 orang.


Di dalam kendaraan yang dikemudikan Nio, suara mesin seluruh kendaraan berpadu dengan suara alat musik semacam kecapi.


Pemain kecapi adalah Edera yang duduk di bangku belakang. Dia bukanlah penyembah Dewi Lagu, namun gadis penyembah dewi pelindung ras setengah manusia.


Jari-jarinya yang cantik memetik dawai yang menghasilkan instrumen indah yang terdengar seperti musisi terbaik di dunia. Jika dia melakukan konser di Indonesia, lokasi untuk konser seharusnya mampu menampung ratusan ribu pengunjung, atau penonton yang ingin menyaksikan penampilan Edera tidak kebagian tempat. Atau setidaknya begitulah Nio… yang tidak terbiasa dengan dunia musik… membayangkan hal itu terjadi ketika dia teringat dengan pertunjukan komposer terkenal dunia di TV.


“Tuan, apa yang harus saya mainkan selanjutnya?”


“Coba mainkan lagu tentang keprajuritan. Tapi.. ayolah, Edera, tidak bisakah kamu memanggiku tuan? Kau juga Hevaz, Ratu Sigiz, Zariv, Ratu Sheyn. Lux bisa memanggilku dengan namaku tanpa awalan tuan, seharusnya kalian juga bisa, kan?” Nio berkata sambil terus melihat jalanan tanah, tetapi dia juga malu dipanggil ‘Tuan’ oleh orang yang berkedudukan lebih tinggi darinya.


“Tidak… tidak perlu malu, Tuan Nio.”


Untuk beberapa alasan yang belum jelas, wajah kelima gadis dunia lain memerah hingga ke telinga mereka. Tapi, Lux menatap kagum orang yang mengemudi di sampingnya tanpa tahu alasannya melakukan hal itu. Sementara itu, Hassan dan Arif yang masih dalam proses belajar bahasa dunia ini tentu saja tidak mengerti apa yang dikatakan atasan mereka dengan para gadis, dan mereka memilih diam sambil memainkan game atau membaca novel yang sudah diunduh di ponsel masing-masing.


“Dan selain itu, bagaimana bisa aku memanggilmu ‘Nio’ di saat aku akan menjadi…”


Sigiz terdiam, namun gadis-gadis lainnya paham dengan perkataan Sigiz dan memilih diam dengan wajah sedikit memerah. Mengingat Sigiz mengatakan bagian akhir dengan suara yang sangat kecil, sepertinya Nio tidak bisa mendengar apapun.

__ADS_1


“Akan menjadi apa?”


“Itu… tidak… umm…”


Sigiz mencoba mengalihkan pembicaraan. Kemudian Edera memainkan melodi semangat, seperti yang diminta Nio dengan wajah memerah bersama gadis-gadis lainnya di kendaraan ini.


Sekali lagi Arif dan Hassan tidak paham dengan perintah Nio yang meminta mereka untuk satu kendaraan dengannya, dan pemuda itu menggunakan alasan agar mereka berdua menjadi pengemudi cadangan dan operator senjata. Mereka merasa Nio bisa mengambil kesempatan yang membuatnya satu kendaraan dengan banyak gadis tanpa melibatkan mereka berdua. Mereka sama sekali tidak tertarik dengan gadis-gadis yang satu kendaraan dengan mereka, karena Hassan telah memiliki calon istri dan Arif sudah memiliki kekasih.


Intinya, Arif dan Hassan tidak ingin mengganggu Nio untuk mendapatkan salah satu atau bahkan semua gadis-gadis ini. Namun perintah tetaplah perintah, meski mereka merasa jika ini hanya akan menghambat Nio untuk mendapatkan pasangan.


Dari apa yang Nio pahami dari lirik yang dinyanyikan Edera, lagu itu adalah kisah lucu tentang seorang gadis yang jatuh cinta dengan seorang prajurit. Gadis itu mencoba segala yang dia bisa untuk mendapatkan perhatian pria prajurit itu, tetapi hampir selalu berakhir kegagalan dan membuatnya mendesah berkali-kali. Namun, pada akhirnya si pria prajurit kembali dari medan perang dengan selamat, lalu melamar gadis itu untuk mengajaknya menikah. Lebih tepatnya, itu adalah akhir yang tak terduga dari si gadis, karena keinginannya menjadi kenyataan.


Namun, lagu itu membuat Nio berpikir dan berkata di dalam hatinya, “Kenapa aku nembak dia? Padahal itu bukan waktu yang pas. Lalu aku harus manggil dia apa? Kami sudah berpacaran, masa masih manggil dia ‘kakak’. Tapi kalau manggil dia Arunika, padahal masih mudaan aku.”


Dia bertanya pada Edera, “Berapa lama kamu belajar memainkan alat musik itu?”


“Sebelum saya ditangkap dan di perbudak oleh Kekaisaran Luan.”


Saat dia mengatakannya, telinga kucing Edera bergerak-gerak lucu seperti kucing. Karena dia teringat ketika TNI datang pertama kali ke dunia ini dan merekrut budak dan pencopet di pinggiran ibukota Kekaisaran Luan. Ketika masih menjadi seorang budak, Edera tidak memiliki kesempatan untuk menyentuh alat musik mirip kecapi tersebut. Dia melanjutkan memainkan alat musik ketika dibebaskan dari status budaknya, namun terhenti sementara ketika dipenjara karena kasus percobaan pembunuhan Nio dan utusan Indonesia untuk Kekaisaran Luan.


“Apa semua ras Demihuman setengah kucing bisa bermain alat musik?”


“Ya, benar. Sebelum suku kami berperang dengan Kekaisaran Luan, biasanya anak seusiaku memiliki alat musik yang disukai.”


Nio mengalihkan pandangannya ke salah satu jendral Kerajaan Arevelk yang duduk di sampingnya.


Saat mata mereka bertemu, Lux dengan malu-malu berkata dengan yakin sambil mengangguk, “Aku tidak bisa bermain alat musik apapun. Namun, kau bisa memuji kekuatanku dalam berperang.”


Kemudian, Lux melanjutkan perkataannya, “Yah, aku tahu kau suka gadis yang pandai bermain alat musik. Tapi, meski ini terlalu awal, apa kau mau menungguku di kamar malam ini… aww!~”


Meskipun Luhe, alias Lux, tanpa menyembunyikan niatnya dengan menyatakan secara langsung, sangat jelas dari nada cabulnya dia bermaksud untuk merayu Nio. Tapi, ditengah jalan, omongannya tiba-tiba berakhir dengan teriakan aneh.


Mengingat Nio ada di kursi pengemudi kendaraan taktis, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Namun, orang yang duduk di belakang Lux, Hevaz, dan Sigiz yang ada di sampingnya… tampaknya menarik rambut Lux yang diikat ekor kuda karena alasan yang tidak diketahui. Kemudian, seluruh gadis yang duduk di belakang tersenyum ke arah Arif dan Hassan, namun kedua pemuda itu merasakan ada ancaman yang serius di balik senyuman mereka yang seperti mengisyaratkan mereka untuk merahasiakan hal barusan.


Apa yang mereka lakukan? Nio berpikir. Ketika dia melirik ke belakang untuk memeriksa apa yang terjadi, Sigiz dengan panik mengubah topik pembicaraan, seolah-olah dia ingin menutupi pertengkaran kecil mereka sebelumnya.


“Semua orang menonjol pada bidangnya masing-masing, kan?”


Sebagai manusia sendiri, Nio mengangguk menyetujui perkataan Sigiz dan bergumam:


“Jika mereka masih hidup, aku ingin tahu reaksi Beethoven atau Mozart ketika mendengar musik dunia ini, dan orang-orang dunia ini bermain alat musik khas mereka.”


“Tuan, siapa orang yang Anda maksud?”

__ADS_1


Sekujur tubuh Nio merinding ketika mendengar Hevaz berbicara sambil melingkarkan tangannya di leher Nio. Pada saat yang sama, Hassan dan Arif memandang Nio dengan tatapan iri yang penuh kebencian.


“Di duniaku, mereka adalah komposer. Mereka hidup ratusan tahun yang lalu, tetapi musik yang mereka tulis bertahan sampai hari ini. Mereka adalah orang yang eksentrik pada masanya.”


Jika kedua legenda itu tahu tentang Demihuman, apakah mereka akan iri pada mereka? Nio merenungkan hal itu.


Rombongan kendaraar darat terus melaju ke arah yang timur, dan Nio menebak-nebak apa yang sedang dilakukan kekasihnya.


Karena jalanan berupa tanah yang dipadatkan, kadang-kadang rombongan harus menghindari lubang yang terisi air. Kendaraan taktis bisa dengan mudah melewati kubangan karena keterampilan pengemudi dan fitur canggih yang dipasang di kendaraan. Tetapi berbeda cerita dengan kereta kuda. Sesekali, seluruh personel harus turun dari kendaraan untuk mendorong gerbong untuk meringankan pekerjaan kuda yang berusaha menarik kereta dari kubangan air berlumpur.


“Beradaptasi dengan lingkungan lebih penting meski dunia ini belum ada peraturan lalu lintas.”


Apa yang dipelajari di sekolah mengemudi kendaraan sipil maupun kendaraan militer adalah bagaimana mengemudi dengan aman sambil mematuhi peraturan lalu lintas. Namun, di dunia tanpa peraturan lalu lintas atau rambu-rambu jalan, peraturan itu tidak begitu penting.


Kebetulan, beberapa perwira pria kontingen Arevelk dan Yekirnovo tertarik belajar mengendarai kendaraan taktis ringan. Namun, ketika dia melihat para perwira dunia lain itu mengemudi, Nio teringat betapa menakutkannya pengemudi wanita. Bahkan, dia sempat mengatakan pada perwira Arevelk dan Yekirnovo:


“Sampai kapanpun, jangan sampai berikan mereka ijin untuk mengemudikan mobil, ajari saja mereka sepeda. Mereka terlalu berbahaya untuk dibiarkan, pasti akan ada kecelakaan. Orang yang tak bersalah pasti akan celaka jika mereka yang mengemudi. Masukkan mereka ke dalam daftar hitam.”


Itu ketika Nio mendapatkan perintah untuk mengevaluasi keterampilan mengemudi perwira kontingen Arevelk dan Yekirnovo.


Sigiz juga pernah melihat panglimanya, Zvail, diomeli Nio selama beberapa jam karena hampir membuat kendaraan yang dia kemudikan terlindas tank tempur utama dan mencelakakan Nio yang mendampingi Zvail belajar mengemudi.


Hingga akhirnya, mereka tertarik belajar mengemudikan sepeda motor bermesin bensin atau listrik yang memiliki daya setara mesin bensin ber-cc 250 yang didatangkan untuk misi gerak cepat. Tapi tetap saja, kemampuan mereka yang tidak meyakinkan membuat para kru pemeliharaan kendaraan melarang mereka untuk menyentuh sepeda motor. Lalu, mereka ditawari untuk belajar mengemudikan sepeda, yang dinilai tidak terlalu merugikan jika rusak atau hancur.


“Nio… mungkinkah kau menikmati mengemudi?”


Nio menjawab pertanyaan Lux:


“Tidak terlalu, aku hanya tidak ingin merepotkan bawahan ku. Aku juga tidak ingin kemampuan mengemudiku tumpul karena selalu mengandalkan orang lain.”


Nio mengatakan itu dengan yakin, termasuk yakin jika Arif dan Hassan tidak paham dengan perkataannya.


“Alasan lainnya?”


“Aku merasa bahwa mengemudi adalah ujian bagi kecerdasan dan pengendalian emosi seseorang. Dan pengendalian emosi sangat penting bagi prajurit bukan?”


Ada sedikit perubahan pada ekspresinya yang terlihat selalu tenang. Lux terlihat memerah pada bagian pipi sambil sedikit tersenyum, lalu di dalam hati berkata, “Aku tidak paham sama sekali apa yang dia katakan. Tapi sepertinya itu sangat keren.”


Setelah itu, Sigiz berkata:


“Kota Iztok tidak jauh di depan. Kita bisa melihatnya setelah melintasi perbukitan itu.”


Seperti yang dikatakan Sigiz.

__ADS_1


Setelah melewati perbukitan, dunia baru tampak terbuka di depan Tim Ke-12: bangunan satu lantai, dan sebuah daratan melayang yang merupakan tempat berdiri sebuah istana megah yang bernama ‘Istana Awan’. Meski Nio sudah pernah mengunjungi kota ini, dia tetap saja terpesona dengan pemandangan fantasi ini.


__ADS_2