
Sebelum Hevaz memasuki tempat yang sering dihindari para bintara dan tamtama, dia duduk pada bangku di depan ruangan berkumpul para perwira. Dia tampak santai, dan mulutnya bergerak seperti membicarakan sesuatu dengan sosok tak kasat mata. Orang-orang yang berjalan melewati Hevaz bingung dengan tingkahnya, seolah-olah dia berkomunikasi secara rahasia dengan orang lain melalui perangkat mata-mata.
Yang Hevaz ucapkan adalah:
“Selama hamba turun ke dunia ini sebagai pelayan pribadi Pahlawan Harapan, hamba mengira dia pejuang muda yang hanya tahu mengangkat senjata dan berteriak penuh semangat saat menghadapi pertarungan. Pada saat ini hamba bertanya-tanya, mengapa prajurit seperti Tuan Nio menjadi pesuruh orang-orang yang sedang duduk di dalam ruangan yang akan hamba masuki nanti? Namun, rasa kagum yang para perwira Pasukan Indonesia miliki terhadap Tuan Nio membuat hamba tahu Tuan Nio belum setara dengan mereka.”
Hevaz tahu jika para perwira TNI hanya ingin melihat perkembangan Nio sebagai perwira remaja TRIP sebelum merekomendasikan dia menjadi perwira pertama infanteri TNI setelah masa penugasan Letnan Satu Nio di Pasukan Perdamaian berakhir dan kembali ke satuan awalnya. Mereka menantikan kemenangan selanjutnya yang diraih Nio bersama unitnya.
Beberapa orang berkomentar bahwa Nio dapat naik pangkat dengan cepat dalam waktu enam tahun karena dia putra dari orang yang dijuluki ‘Panglima Terpayah’ dalam sejarah militer Indonesia. Mereka merasa tidak adil jika Nio menduduki posisi Letnan Satu ‘TRIP’ ketika sebagian orang harus gagal dengan dipenuhi luka. Di sisi lain, proses dan syarat seorang anggota TRIP untuk naik pangkat lebih mudah daripada personel TNI (kecuali opsi seorang prajurit TRIP gugur dalam pertempuran). Sehingga, mungkin karena alasan tersebut-lah sebagian pihak menginginkan TRIP segera dilebur menjadi satu dengan TNI, atau paling parah dibubarkan.
Penilaian, syarat jika ingin mendaftar TRIP, syarat seorang anggota TRIP dapat naik pangkat selain melalui jalur kematian yang begitu mudah menjadikan TRIP sebagai korps dengan personel terbanyak setelah TNI AD. Banyak pendaftar berasal dari kalangan putus sekolah akibat perang atau alasan ekonomi lainnya. Hal tersebut tidak diterima oleh sejumlah pihak tertentu di Indonesia.
Walau anggota TRIP alias para Prajurit SMA tetap mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan setara SMA dan perguruan tinggi meski usia mereka melebihi 17 tahun dan kurang dari 29 tahun. Ketika personel TRIP direncanakan tidak akan mendapatkan pangkat melebihi letnan satu, namun beberapa anggota terkenal mendapat promosi hingga perwira menengah, tentu saja disertai beberapa rintangan.
Selain itu, setelah masa perang di dunia asal berakhir – dan dilanjutkan perang yang berkobar di dunia lain – korps TRIP dijuluki ‘pemakan gaji buta’, ‘sarang para pemalas’, dan nama-nama lain yang seharusnya membuat para pejuang muda frustrasi. Ada sekitar 300 personel TRIP yang dikirim ke dunia ini sebagai bagian dari Pasukan Perdamaian.
Namun, terdapat beberapa pihak yang ‘baik’ menepuk punggung para anggota TRIP untuk menunjukkan bahwa mereka berjasa dalam perang, menghibur para tentara muda ketika mendapatkan tekanan, dan meminta rakyat agar mengerti dengan cara selembut mungkin. Walau usaha pihak-pihak ‘baik’ tersebut tidak terlalu membantu, setidaknya anggota TRIP menyadari jika perjuangan mereka tidak sia-sia (untuk mayoritas prajurit yang berjuang dengan sungguh-sungguh tanpa mementingkan nominal gaji).
Hevaz saat ini tidak bisa menahan perasaan khusus ketika dia mengetahui beberapa fakta tersebut. Dia ingin mencoba yang terbaik untuk membuat nama Nio dan korps tempatnya berada dikenal banyak orang sebagai pahlawan.
Tidak banyak orang percaya jika Nio adalah yang membawa Indonesia untuk berhubungan dengan salah satu peradaban di dunia lain. Bagi sejumlah pihak tertentu, anggota korps TRIP yang bernama Nio adalah salah satu ‘pemalas’ tetap menjadi siswa SMA putus sekolah yang bermain perang-perangan. Tetapi, fakta jika Nio mendapatkan penghargaan khusus yang diberikan Presiden tampaknya menjadi adegan yang tidak mendamaikan perasaan bagi pihak-pihak yang menentang keberadaan para Prajurit SMA.
“Tuan Nio bukan pria muda biasa. Mampu menyembunyikan segala kelebihannya ketika banyak orang ingin menunjukkan kemampuan biasa milik mereka adalah hal yang mengesankan. Hamba menghormati Tuan Nio, dan saya yang paling bersungguh-sungguh di antara orang-orang yang mengagumi dan menghormati Tuan Nio.”
Dia melanjutkan komunikasi dengan ‘seseorang’ melalui kemampuan telepati yang dimiliki para Utusan.
Hevaz kembali ke Tanah Suci setelah mendapatkan permintaan dari perwira Pasukan Perdamaian bukan untuk berbicara. Dia hanya setuju setelah para perwira mengatakan bahwa mereka juga ingin membicarakan tentang ‘takdir’ Nio di dunia ini, tepatnya perang yang entah kapan berakhirnya ini.
Jika perwira Pasukan Indonesia meminta Hevaz untuk berbicara dengan pengutusnya agar mengirimkan bantuan bagi Pasukan Perdamaian dan Persekutuan, dia tak ada bedanya dengan alat. Walau Periode Perang Besar tinggal menunggu waktu, para Dewata belum tentu ingin membantu pihak yang terlibat. Meminta Hevaz untuk berbicara dengan pengutusnya sama dengan menuntut penyerahan dunia ini kepada dunia lain.
Karena itu, Hevaz tetap harus ada pada posisinya. Walau orang-orang dunia lain tidak paham tentang ‘Utusan’ maupun ‘Periode Perang Besar’, Hevaz sama sekali tidak mempedulikannya.
Hevaz bisa saja menjelaskan siapa dirinya kepada perwira-perwira Pasukan Perdamaian dan Persekutuan. Tentu saja, hal tersebut dilakukan agar ‘rakyat jelata’ tidak dapat berperilaku tidak sopan terhadap ‘tangan kanan Dewata’. Para perwira pasti akan memanfaatkan posisi mereka untuk mendesak Hevaz memberikan bantuan lebih pada pasukan.
**
Walau Nio memiliki keberadaan yang mencolok berkat prestasinya, sebenarnya dia mudah dilupakan berkat kurang bukti visual mengenai keberadaannya.
Tapi, di depan sejumlah perwira Pasukan Perdamaian – yang kini tersisa kontingen Indonesia dan Rusia, serta perwakilan Kerajaan Yekirnovo, Hayvan, dan Arevelk berdiri seorang gadis yang terlihat muda dan sempurna. Namun, sejak kedatangan Sigiz pada Pertemuan Nasional yang diadakan Indonesia satu tahun lalu, orang-orang mulai berpikir ‘tidak baik menilai sesuatu hanya dengan melihat penampilannya saja’. Setiap perwira pria dan wanita, dan semua orang yang hadir tidak mau menebak usia orang-orang dunia tempat mereka ditugaskan, khususnya Hevaz.
Gadis itu, Hevaz, mengenakan pakaian sehari-harinya yang bisa dibilang cukup minim. Walau sejumlah staf kontingen Indonesia dan Rusia menawarkannya pakaian yang layak untuk pertemuan bersama petinggi, dia justru menolak mentah-mentah. Hal tersebut mengakibatkan perwira pria tidak bisa tidak memalingkan pandangan dari Hevaz, dan baru tersadar begitu mereka masih memiliki keluarga di rumah masing-masing.
Begitu pula dengan yang dilakukan Jenderal Angga, dia menampar pipinya sendiri untuk menyadarkan diri karena terpesona pada Hevaz. Dia telah memiliki istri, anak, dan cucu di tanah airnya. Dia berpikir tidak baik terlalu memperhatikan ‘jodoh orang’.
Yang pertama berbicara adalah salah satu perwira kontingen Kerajaan Hayvan.
Dia mengangkat tangan, dan memperkenalkan diri sebelum memulai pembicaraan.
“Pertama, saya ingin bertanya tentang kekuatan yang dimiliki Pahlawan Harapan. Dengan kata lain, saya sedang membicarakan Nio Candranala yang menurut rumor telah diangkat sebagai Pahlawan Harapan. Apa saja yang telah ia lakukan selama menjadi Pahlawan Harapan?”
Nio dan sejumlah prajurit Indonesia telah dilukis sebagai pahlawan oleh media selama perang. Namun, tampaknya masih ada beberapa pihak yang meragukannya. Faktanya, gambar yang disertai tulisan tidak selalu sama dengan realita.
“Tuan Nio, dia masih berupa manusia biasa. Segala kemampuannya yang telah dikerahkan selama ini membuat banyak orang berharap banyak padanya. Begitu saya tahu ada banyak orang yang mengandalkan Tuan Nio, pengutus saya sangat senang.”
Mendengar jawaban Hevaz, perwira kontingen Kerajaan Hayvan masih memiliki rasa ragu.
“Pertanyaan saya bertujuan untuk mencari tahu jasa-jasa Nio Candranala. Namun, sebagai salah satu bawahannya, mengapa Anda tidak menceritakannya semua di sini?”
“Dengan kata lain, Anda ingin mengetahui segalanya tentang Tuan Nio?” jawab Hevaz.
“Itulah yang ingin aku ketahui,” jawab salah satu perwira kontingen Kerajaan Hayvan tersebut.
Havaz lalu menanggapi, “Walau saya mengetahui semuanya tentang Tuan Nio, pasti para perwira Indonesia di sini berusaha agar saya tidak mengatakannya, bukan?”
__ADS_1
Jawaban tak terduga dari Hevaz membuat seluruh perwira kontingen Indonesia mengangguk sambil membisikkan sesuatu.
Para perwira kontingen Indonesia sama seperti ‘pihak-pihak baik’ yang mendukung pembelaan diri dari seorang prajurit, terutama kerahasiaan identitasnya. Walau Nio telah naik gelar dari ‘orang yang diramalkan’ menjadi ‘Pahlawan Harapan’, namun titel ‘pahlawan’ yang dimiliki Nio tidak sama seperti para Pahlawan yang berjuang bersama Aliansi.
“Apakah saya diperbolehkan menyela sebentar?” ucap salah satu perwira kontingen Indonesia.
“Silakan,” ijin diberikan oleh Jenderal Angga.
“Bagaimana kekuatan sebenarnya dari orang-orang yang disebut ‘Pahlawan’, Nona Hevaz?”
Perwira tersebut menyela dan mengajukan pertanyaan ‘bodoh’ demi mempertahankan identitas salah satu tentara elit kontingen Indonesia. Dia ‘bodoh’ menurut para perwira Arevelk, Yekirnovo, dan Hayvan karena tidak tahu kekuatan yang dimiliki para Pahlawan.
“Tentang hal itu, mungkin perwira Indonesia dan Rusia akan menganggapnya sebagai lelucon. Tetapi, sebagai perumpamaan, mari kita gunakan dewa terkuat dari dunia kalian, tentu saja pandangan masing-masing orang tentang dewa terkuat berbeda. Masing-masing Pahlawan memiliki satu kekuatan dewa terkuat dari dunia kalian. Misalnya, kekuatan penciptaan sesuatu, penyembuhan, pengendalian objek, bahkan menghidupkan dan mematikan makhluk hidup.”
“Namun, kami belum mendengar kabar para Pahlawan itu menggunakan kemampuan seperti yang Anda sebutkan, Nona Hevaz.”
“Karena Periode Perang Besar belum tiba. Ketika masa itu tiba, wajah tenang kalian yang tunjukkan saat ini tidak lagi ada. Kekuatan sebenarnya yang dimiliki para Pahlawan yang berjuang bersama Aliansi akan diperoleh saat peristiwa yang merubah sejarah kedua dunia secara total tiba.”
Walau jawaban yang diberikan Hevaz terdengar sangat ‘fantasi’, namun dunia seperti itulah tempat perang sekarang terjadi.
Dengan kata lain, para Pahlawan milik Aliansi tidak bisa dibandingkan dengan gabungan militer negara terkuat, baik di dunia ini maupun dunia lain. Hevaz berusaha menjelaskan secara tidak langsung bahwa memenangkan perang dengan kekuatan Persekutuan saat ini adalah hal yang mustahil.
“Apakah ada penjelasan lebih lanjut?” tanya Angga kepada Hevaz.
“Ya, jika saya mengatakan Pahlawan terlalu kuat, mereka bisa disebut sebagai ‘manusia terkuat’. Tapi, kami para Utusan merupakan ‘manusia setengah dewa’. Namun, karena jumlah Utusan yang bersedia turun ke dunia ini lebih sedikit, hal tersebut membuat tingkat kemenangan akan kecil. Setahu saya, hanya saya Utusan yang turun ke dunia. Walau Tuan Nio berhasil ‘hampir’ membunuh salah satu Pahlawan, dia hanya manusia biasa tanpa kekuatan pemberian Dewata. Terus terang, pasukan Persekutuan saat ini bisa hancur jika Periode Perang Besar terjadi sekarang juga. Saya minta maaf jika harus mengatakan ini, Periode Perang Besar akan jauh menghancurkan daripada perang terbesar dalam sejarah kedua dunia.”
Sejumlah perwira hanya menyeringai mendengar penjelasan lanjutan dari Hevaz, namun beberapa lagi tampak memasang ekspresi gelisah sambil menelan ludah.
Beberapa orang mempertimbangkan pertanyaan yang akan diajukan. Keraguan itu bukan tentang jawaban yang akan mereka terima, melainkan Hevaz adalah seorang ‘manusia setengah dewa’. Jika ini dunia fantasi, pasti terdapat semacam sihir yang membuat suatu pihak mengetahui rahasia pihak lain. Sehingga pertanyaan apapun yang akan mereka ajukan, sudah pasti Hevaz mampu menjawabnya.
Namun, ada satu perwira kontingen Indonesia yang dengan percaya diri mengajukan pertanyaan, “Hampir membunuh Pahlawan? Bukankah Pahlawan lebih lemah sebelum Periode Perang Besar yang kamu katakan tadi tiba? Memangnya Nio mendapatkan pelatihan seperti apa sampai tidak bisa membunuh satu ‘calon’ senjata terkuat musuh?”
Saat Hevaz mendengar perkataan salah satu perwira kontingen Indonesia, dia memasang ekspresi seperti sedang menatap orang bodoh.
Hevaz mengatakan jawabannya dengan santai, disertai senyuman mengejek. Dia berhasil membuat perwira kontingen Indonesia yang mengajukan pertanyaan tentang Nio marah setelah dikritik dengan sangat keras oleh gadis muda di depannya. Hevaz cantik, dan sulit menemukan kesempurnaan seperti dia. Hevaz memancarkan aura kesempurnaan – menggeser Ratu Sigiz – setiap kali ada seseorang yang berusaha menjatuhkan dirinya atau orang terdekatnya. Segala kelebihan ‘fisik’ milik Hevaz membuat seluruh perwira pria di ruangan ini tidak sanggup membantah perkataannya.
Sebelumnya, Nio berpesan pada Hevaz bahwa dia harus menghormati para perwira yang tampak lebih tua darinya. Namun, dengan mulutnya Hevaz dengan bangga membungkam mulut sejumlah perwira yang sekarang tidak dapat berbicara karena malu.
Karena beberapa orang perwira di tempat ini mulai membicarakan hal buruk tentang Nio tanpa bukti, Hevaz terpaksa mengingkari janjinya dengan Nio. Jika ada pihak yang salah, maka itu berasal dari sejumlah perwira yang berusaha memanfaatkan ‘usia’ dan pangkat mereka untuk menyangkal jawaban Hevaz.
Bagaimanapun, Nio telah melukai salah satu Pahlawan milik Aliansi, jadi tidak ada yang bisa dilakukan selain memuji Nio dan unitnya. Mereka juga pihak yang menyetujui operasi ofensif yang menyeret Nio ke dalamnya.
Hevaz juga bukan manusia ‘biasa’, tetapi manusia setengah dewa, yang dikatakan semua Utusan adalah perwujudan Dewata yang diperintahkan turun dari kayangan untuk mengatur keseimbangan dunia ini bersama manusia ‘terpilih’. Orang-orang di Indonesia menganggap manusia dunia ini sama seperti mereka, namun menarik kekhawatiran bagi sejumlah pihak yang mengetahui kebenarannya, khususnya pada kasus Hevaz dan Sigiz.
Bagaimanapun, Hevaz telah berhasil menjahit mulut orang-orang menjengkelkan sehingga dia siap menerima pertanyaan selanjutnya.
Setelah dia melihat sejumlah perwira menunduk dengan wajah kesal, Angga mengajukan pertanyaan pada Hevaz.
“Saya ingin bertanya kepada seseorang yang menurut laporan Letnan Satu Nio merupakan Utusan Dewa Perang dan Dewi Kematian. Saya yakin Anda memiliki pengalaman yang tak terhitung tentang dunia ini, bahkan dunia saya. Bisa dikatakan, Anda adalah perwujudan dari dewa yang memerintah Anda untuk turun ke dunia ini, bukan? Dunia kami membatasi setiap usaha yang ‘menguntungkan’ dalam perang. Hal yang disebut ‘Hukum Perang Internasional’ membatasi kebebasan yang menguntungkan untuk meraih kemenangan dalam perang. Mungkin beberapa larangan dalam hukum perang terdengar sangat masuk akal untuk tidak dilakukan, misalnya tidak membunuh perempuan dan anak-anak yang tidak ikut berperang, tidak boleh membunuh tenaga medis, menghancurkan tempat ibadah, dan lainnya. Apa makna semua itu menurut Anda?”
Selain berusaha memperkenalkan jika pasukan Indonesia merupakan penempur yang beradab, Angga ingin memahami sudut pandang Utusan ‘Dewa Perang’ tentang perang itu sendiri.
Hevaz kemudian menjawab pertanyaan Angga;
“Beberapa hal tentang perang tidak dapat dijawab bahkan oleh mereka yang melayani Dewa Perang. Namun, tidak adanya jawaban yang tidak benar bukan berarti ada pertanyaan yang tidak dapat dijawab. Jika Anda ingin tahu hukum perang menurut sudut pandang saya dan tentang segala larangan di dalamnya, apakah perlu hukum untuk perang yang gila, atau pertanyaan semacamnya, saya percaya pencipta hukum perang di dunia Anda berusaha mengurangi penderitaan manusia ketika perang bersenjata. Indonesia mengirimkan pasukan bersenjata ke dunia ini untuk memerangi Aliansi yang memerangi Indonesia terlebih dahulu, dan pasukan Indonesia di dunia ini berusaha keras tidak melampaui batas ketika bertarung walau senjata yang mereka miliki sangat mematikan. Jika kita menganggap perang adalah agenda berdarah yang terjadi untuk keseimbangan dunia, dan berperang atas nama keadilan dan bangsa walau terdapat maksud lain, maka hukum perang pasti diciptakan untuk menekan sifat naluriah manusia yang menyebakan masalah tak terbayangkan akibat perang. Namun, manusia cenderung mudah melanggar aturan yang mereka ciptakan, dengan alasan keamanan diri atau bangsanya dan menuduh orang tak bersalah sebagai pelaku sehingga mengobarkan perang dengan orang tak bersalah tersebut. Keinginan berperang demi bangsa dan sekutu adalah hal baik, tapi jika dibawa ke tingkat yang lebih ekstrem, berbahaya.”
**
Di tempat yang terpisah.
Menurut Nio, pasukan militer adalah alat kekerasan dan anjing penjaga negara yang dapat diperintah sesuka hati pemiliknya. Tidak peduli masa dan tempat, fungsi dan sifat dasar pasukan militer tidak pernah berubah. Mungkin jika Nio mengatakan salah satu gagasannya tersebut, akan ada pihak yang marah dan mengatakan, “Apa maksudmu alat kekerasan dan anjing penjaga?” tanpa tahu pihak tersebut mengerti tentang militer atau tidak.
Terlepas dari segala definisi tersebut, pasukan militer dan para prajuritnya harus dikendalikan. Dengan demikian, terlepas seberapa dapat dipercaya pasukan militer dan organisasinya, mereka tetap harus diikat.
__ADS_1
Sejak awal berdiri, Indonesia bangga dengan tentara mereka sehingga banyak orang yang ‘menghibur diri’ dengan percaya bahwa TNI adalah yang terbaik di dunia. Karena itu, banyak orang yang berusaha meluruskan kembali sekelompok pihak yang menyimpang yang menginspirasi kesombongan bodoh semacam itu.
TNI, sebagai salah satu fungsinya menginginkan para prajuritnya untuk menjadi teladan warga negara, baik tamtama hingga perwira tinggi.
Akibatnya, militer memiliki kecintaan yang gila pada aturan dan disiplin, sehingga prajurit bawahan yang melaksakan tugas secara tidak sempurna mendapatkan panggilan perwira atasan.
Sebagai salah satu kelas di kehidupan sosial bermasyarakat, perwira akan malu jika mendapatkan panggilan pengadilan militer. Tapi, hal itu berlaku ketika masa damai. Sayangnya, era damai yang memprioritaskan kehormatan sudah berakhir.
Sekarang. TNI sedang berperang. Makna panggilan pengadilan militer juga berubah, “Apakah Anda menjalankan tugas dengan benar atau tidak?”
Saat ini, sulit mengabaikan tindakan unit yang dipimpin seorang perwira pertama remaja TRIP yang bertempur tanpa ijin, menimbulkan korban di pihak musuh yang memungkinkan memperpanjang konflik. Tetapi, alasan yang digunakan oleh perwira tersebut adalah dia hanyalah pemimpin sebuah unit yang melakukan tugas dalam operasi ofensif demi memuaskan ambisi orang-orang di Markas Besar yang damai.
“Letnan Satu ‘TRIP’ Nio Candranala, dengan ini kami menolak tuduhan Anda telah melanggar perintah,” ucap wanita perwira atas TNI berpangkat Mayor Jenderal yang berpakaian lapangan rapi, tetapi Nio yang berdiri di depannya memakai seragam lapangan yang lusuh.
Tuduhan Nio melanggar aturan operasi ditolak. Artinya, mereka melakukan panggilan pengadilan dengan mengatakan bahwa kasus tersebut tidak memenuhi kriteria yang menyebabkan Nio mendapatkan sanksi.
Hakim tidak bisa berbuat apa-apa selain membaca tulisan pada kertas di tangannya dengan ekspresi seperti perwira tinggi yang mendapatkan status kehormatan dari negara lain atau unit elit TNI.
“Pertempuran tanpa ijin ketika Tim Ke-12 melaksanakan tugas utama patroli dan pengintaian memang memakan banyak korban di pihak Aliansi. Kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka dan Tim Ke-12.”
Dengan menambahkan bumbu ekstra di akhir kalimat, hakim membacakan keputusannya untuk tetap menjadikan Nio sebagai komandan regu misi istimewa Tim Ke-12 dan mengelola unit khusus Pembunuh Senyap. Jelas bagi hadirin yang duduk di ruang sidang tidak ingin menahan salah satu perwira lapangan yang berpengaruh di Pasukan Perdamaian.
Bagi Nio, ini adalah hasil yang dia harapkan. Dia tahu bahwa seseorang yang setia pada aturan TNI tidak mendapatkan sanksi disiplin kecuali dia melakukan sesuatu yang membahayakan unitnya dan pasukan. Paling tidak, Nio telah membayangkan dan mempersiapkan diri bahwa akan ada sejumlah tinju melayang ke wajahnya.
Sementara itu, Nio merasa menerima tatapan membunuh dari sejumlah hadirin yang menganggap tindakan Nio berpotensi memperpanjang perang. Tentu saja dia mengerti apa yang dipikirkan oleh mereka. Mereka sangat ingin sosok kambing hitam untuk mempercepat berakhirnya masa penugasan di dunia ini.
“Selain itu, setelah mempertimbangkan misi utama yang diberikan kepada Letnan Satu Nio Candranala dan unitnya selama operasi ofensif, kami mengakui bahwa ketika mereka melaksanakan tugas patroli dan bertemu musuh dengan tiba-tiba, tidak ada jalan mundur selain bertempur. Mereka telah bertindak sesuai dengan perintah. Bagaimanapun, kami menolak kasus ini.”
Untuk Nio, kesimpulan terakhir tersebut adalah tambahan yang menguntungkan baginya.
Nio senang. Tanpa sadar, dia menunjukkan ekspresi kemenangan yang disertai senyum tipis. Dengan begitu, dia terbukti tidak bersalah.
Dihadapkan dengan senyuman Nio, beberapa hadirin khawatir dan bertanya-tanya apakah keputusan tersebut benar dan harus dilakukan. Dan perwira lapangan berpengaruh yang sangat diinginkan oleh garis depan akan terlepas dari ancaman sanksi disiplin, seperti yang diharapkan sejumlah hadirin yang membela Nio.
Perang lambat laun pasti akan berkembang sebagai konflik bersenjata berdarah besar, dengan permulaan pertempuran di Teluk Tanduk. Kerajaan Salodki yang kini mendapatkan nama dari Persekutuan berupa ‘Garis Barat’ membutuhkan komandan lapangan berpengalaman. Memiliki perwira yang dapat ditugaskan tidak akan membuatnya ditahan karena takut diserang oleh Aliansi.
Pasukan mampu mempersenjatai infanteri reguler Pasukan Perdamaian dengan tank ringan dan helikopter serbaguna, tetapi tidak untuk regu kecil seperti Tim Ke-12?
Jika Nio dan untinya terbiasa bertempur seperti itu, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tetapi, dengan begitu pasukan membutuhkan pasukan seperti itu lebih banyak lagi. Garis Timur dan Garis Barat tidak memiliki unit misi istimewa seandal Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap, dan pasukan tidak bisa membiarkan regu misi istimewa lainnya untuk bermalas-malasan. Tapi, Pasukan Perdamaian dan Persekutuan tidak memiliki tenaga pasukan elit yang cukup. Jika mereka memiliki sumber daya yang cukup, perang pasti telah berakhir sejak lama.
“Kami membutuhkannya di Garis Barat.”
“Mau bagaimana lagi?”
Untuk alasan semacam itu, masalah yang diterima Nio diakhiri dengan mudah, membuatnya lega.
Lagipula, yang dilakukan Tim Kke-12 dan Pembunuh Senyap adalah usaha mempertahankan diri dari musuh yang berpotensi menyerang mereka dan unit infanteri amfibi di pantai Teluk Tanduk. Walau tindakan dianggap oleh musuh sebagai ancaman dan dimanfaatkan untuk memulai perang di Garis Barat, tetap saja tidak ada yang salah dalam cara mempertahankan diri Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap yang dipimpin Nio.
Misi patroli dalam masa perang membutuhkan keberanian setara menghadapi pertempuran. Jadi, apa yang salah dalam usaha mempertahankan diri dan rekan seperjuangan? Jika tidak ada dasar untuk pengorbanan, apa yang akan terjadi?
Jika Nio dipaksa menerima sanksi disiplin dalam keadaan saat ini, hal tersebut akan berubah menjadi skandal yang melibatkan semua orang di Pasukan Perdamaian, Persekutuan, TNI, dan Kementerian Pertahanan yang merancang operasi ofensif yang dimulai di Kerajaan Salodki. Segala prestasi Nio menyulitkan hakim menentukan putusan mereka.
Nio berpikir dia tidak akan mendapatkan sanksi disiplin karena menerima penghargaan khusus yang diberikan Presiden secara langsung, dan segala pengorbanan luar biasa selama bertugas di dunia ini. Dan analisis Nio ternyata benar.
Staf Perencanaan Strategi Umum dan Khusus, Regu Misi Istimewa, sejumlah kontingen Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo, dan bahkan sejumlah pengungsi menyatakan pembelaan untuk Nio. Mereka telah membuat hakim tertekan. Orang-orang yang bertanggung jawab atas hidup masing-masing sangat khawatir bahwa reputasi perwira remaja berpotensi akan hancur karena pertempuran ‘tak disengaja’. Mungkin tekanan yang mereka berikan begitu kuat hingga putusan bagi Nio diberikan dalam waktu singkat.
Nio berpikir dirinya sangat penting, sehingga banyak pihak yang bersatu untuk membela dia. Tetapi, harapan mereka dengan bebasnya Nio agar pria tersebut tetap membantu Staf dan pengungsi, sehingga Nio menyadari jika yang mereka butuhkan hanya tenaga dan pikirannya saja, bukan dirinya sendiri.
Bagi orang yang tahu, pertempuran melawan pasukan ‘primitif’ alias Aliansi bukanlah pertarungan mudah. Walau sudah jelas apa yang terjadi jika Pasukan Perdamaian dan Persekutuan mengalahkan Aliansi. Aliansi kemungkinan telah menggalang banyak bantuan dari negara-negara yang berdiri di dunia ini, sehingga menghadapi satu organisasi raksasa harus menjadi mimpi buruk. Jadi, jika orang-orang yang tidak ikut berperang secara langsung hanya mampu menyalahkan orang lain, maka tidak ada bedanya dengan ingin mengakhiri perang tanpa usaha.
Pasukan kembali mengirim Nio ke unitnya dan mengharapkan hasil yang memuaskan. Dia diharapkan tidak menyebabkan masalah lagi. Namun, harapan tersebut membuat Nio beranggapan bahwa dia harus mati di garis depan, kemudian tidak ada lagi pembuat onar seperti dirinya untuk ditangani.
Bagaimanapun, sidang ini merupakan usaha untuk memaksa Nio berbicara tentang usaha menghadapi pergerakan berbahaya Aliansi akibat dari kelalaiannya.
__ADS_1
Nio ‘Mayat Hidup’ hanya bisa mencibir.