
4 September 2321, pukul 19.12 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, malam hari.
**
Karena pasukan yang telah putus asa akan berjuang lebih keras dari sebelumnya, itu juga berlaku bagi para bandit yang bertempur dengan Regu 1. Hingga sebelum terjadinya hal ini, para bandit bisa bergerak dengan bebas.
Seluruh prajurit turun dari kendaraan dan berlutut ditanah untuk menembaki puluhan bandit. Bahu mereka menyerap recoil agar dapat melepaskan tembakan dengan santai. Beberapa dari prajurit telah mengenakan night vision mereka sebelum pertempuran terjadi, sebagian lagi tidak sempat memakainya karena pertempuran lebih cepat terjadi.
Lagipula, penerangan dari kendaraan sudah cukup untuk melihat pergerakan seluruh bandit yang bertarung secara berkelompok dan bekerja sama. Pasukan Regu 1 juga melakukan pertempuran menggunakan kerjasama dan berkelompok, namun mereka tidak menggunakan pertarungan jarak dekat.
Itulah penyebab orang-orang dunia lain menganggap jika pasukan TNI adalah penyihir. Dengan ‘tongkat baja hitam panjang’, pasukan hijau ini bisa membunuh pasukan dengan zirah besi yang kuat tanpa menyentuhnya. Apalagi dengan senjata yang memiliki daya ledak besar, seperti mortir dan granat anti-tank.
Hal pertama yang para bandit lihat dari pasukan ini adalah ‘hitam’ dan ‘meledak’. Tetapi seragam tempur yang TNI kenakan tidak berwarna hitam, meski warna hitam terdapat pada corak loreng seragam, namun itu bukan warna dasarnya.
Perkemahan para bandit ini kini telah berbau rambut gosong dan daging yang gosong karena seorang bandit yang sudah mati terjatuh tepat di api unggun yang mereka gunakan. Dia dalam keadaan telanjang karena baru melakukan pemerkosaan terhadap korbannya, sehingga belum sempat mengenakan perlengkapannya.
Sementara pasukan Sheyn yang belum jauh dari pertempuran, seluruh prajurit terlihat berwajah pucat karena ledakan yang terus terdengar. Suara tembakan itu cukup untuk membuat hati mereka gentar, dan lebih memilih untuk kembali ke ibukota karena berpapasan dengan pasukan dunia lain.
Wilayah provinsi Papua merupakan lokasi yang jarang diserang oleh pasukan dunia lain. Terakhir kali pasukan dunia lain menyerang wilayah itu, sebanyak 5.000 pasukan mendarat di sana dan berhasil dikalahkan dalam waktu seminggu oleh pasukan yang berada di Garnisun Sorong.
Itulah mengapa Liben terlihat sangat senang saat melakukan pertempuran kesekian kalinya ini.
Diantara bandit yang masih hidup dan melakukan perlawanan, salah satu seorang dari mereka berhasil berteriak dengan keberanian yang jauh lebih besar dari suara ledakan yang dihasilkan senapan serbu. Dia pantas dipuji meskipun dalam keadaan seperti ini. Tetapi beberapa peluru yang dilepaskan dari senapan mesin ringan menghancurkan kepalanya.
Dihadapan para pasukan Regu 1, para bandit bertebaran seperti ayam yang hendak ditangkap. Mereka meninggalkan teman-teman mereka dengan sekuat tenaga, namun peluru yang dilepaskan dapat menjangkau para bandit yang hendak kabur.
“Tidak semudah itu kau lari, ferguso…!” prajurit yang memilih untuk menembak bandit yang kabur terlihat senang bisa memperlihatkan hasil latihannya selama ini.
Ratusan peluru terus mengejar lusinan bandit yang mencoba melarikan diri dari apa yang mereka buat. Namun sepertinya ini bukan keberuntungan pasukan Regu 1. Selama ini, prajurit yang tergabung kedalam satuan ini belum pernah melihat sihir.
Namun kali ini, terlihat seorang bandit yang berdiri diatas bukit sambil mengatakan sesuatu dengan cepat. Meski dia dulunya adalah bagian dari pasukan penyihir militer, tetapi setelah pertempuran merebut Gerbang dia memilih bergabung bersama kelompok bandit.
Tongkat yang dipegang penyihir bandit itu mengeluarkan cahaya merah darah setelah dia selesai mengucapkan mantra. Dia bersiap untuk mengucapkan mantra untuk melepaskan serangan. Pasukan Regu 1 paham jika sihir itu adalah serangan untuk mereka.Tetapi penyihir bandit itu tidak menyadari jika pelontar granat melemparkan lima buah granat kearahnya. Seketika, tubuhnya hancur karena ledakan granat yang hampir bersamaan.
Prajurit perempuan menahan napas setelah ledakan granat yang menghancurkan tubuh penyihir bandit itu. Kemudian mereka menelan ludah karena para prajurit laki-laki yang bertempur tanpa belas kasihan sama sekali.
‘Kami membunuh seorang penyihir yang menjadi bandit dengan lima buah granat’, itulah isi dari laporan yang akan Nio tulis nanti sepulang dari bertugas sambil menyeringai.
Kelompok bandit ini mengenakan zirah besi yang mereka gunakan saat pertempuran merebut Gerbang. Namun mereka melepas atribut yang berhubungan dengan asal mereka. Sehingga mereka benar-benar menjadi prajurit pelarian yang jahat.
__ADS_1
Karena mereka memilih menjadi prajurit pelarian dan secara kebetulan bertemu dengan pasukan Regu 1, saat terkena peluru mereka harus berteriak karena menghadapi malapetaka dan penderitaan. Terkena sabetan pedang bukanlah masalah bagi mereka, tetapi panah kecil yang menembus tubuh mereka adalah mimpi buruk. Di dunia ini, belum ada teknik operasi untuk mengangkat peluru dari tubuh.
**
Pertempuran selesai dalam waktu lima belas menit, jauh lebih cepat dari pertempuran di Karanganyar yang berlangsung selama lima jam.
Prajurit laki-laki harus bekerja untuk mengangkat dan menumpuk mayat-mayat para bandit di satu tempat. Mereka akan mengubur mereka jika selesai mengumpulkan seluruh mayat bandit yang bisa ditemukan. Memang kematian adalah tujuan terakhir manusia, tidak ada manusia yang bisa menghindarinya.
Tempat ini sebenarnya bukan pasar, tetapi Regu 1 menemukan sangat banyak barang di tempat bandit ini sebelum mereka terbantai. Jeritan para bandit seperti masih terdengar meski mereka sebagian besar telah mati.
“Sial, sial!” seorang bandit berlari sekuat yang dia bisa dari kejaran lima prajurit berbaju hijau itu.
Nio memerintahkan mereka berlima untuk mengejar, tetapi tidak mengijinkan untuk membunuhnya karena bandit itu kemungkinan memiliki sejumlah informasi.
Tidak ada tempat baginya untuk bersembunyi, karena tempat ia berlari sekarang adalah padang bukit batu yang membentu pilar. Bandit itu sesekali tersandung, tubuhnya tertutupi dengan keringat dan darah rekan banditnya yang mati dengan kepala hancur di depannya.
Bagian kecil dari pasukan TNI telah memperlihatkannya sebuah mimpi buruk dan kebrutalan perang sebenarnya.
Tubuh bandit itu meluncur di tanah setelah tersandung batu, kepalanya membentur tanah dengan keras.
“Sialan, kenapa keberuntunganku sangat buruk!” namun lima prajurit segera menangkap tubunya agar tidak kembali kabur.
Dia dengan putus asa berjalan sambil dipegang dengan erat oleh dua prajurit berbaju hijau. Dia sebenarnya sudah tak sanggup untuk berjalan, sehingga membuat kedua prajurit harus menyeretnya.
“Ots eis anmus uicxe hadhah? (apa kamu sedih ditinggalkan temanmu sendiri?)” Nio bertanya dengan bahasa dunia lain dengan bahasa yang jelas, dan tatapan yang penuh dengan ancaman.
Pria itu tidak menyangka jika prajurit yang bertanya padanya bisa menggunakan bahasa dunia ini, itulah yang membuatnya semakin ketakutan.
Pria itu menggelengkan kepalanya dengan putus asa. Tidak ada kepastian baginya sekarang, karena seluruh prajurit Regu 1 menatapnya dengan penuh kebencian. Namun Nio melepas pedangnya dari sarungnya di punggungnya, dan menancapkannya di antara kaki pria itu. Seketika tanah disekitar kaki pria itu menjadi basah, dan membuat seluruh anggota Regu 1 tertawa keras.
“Aku, aku belum pernah membunuh siapapun!” seluruh prajurit bertanya-tanya tentang apa yang dikatakan pria ini.
“Benar?” Nio mencabut pedangnya yang tertancap dan mengarahkan ujungnya di ujung hidung pria itu.
Pria itu hanya menjawab dengan anggukan.
“Hmmmmmm….?” Nio berpikir singkat sebelum menanyakan hal lain.
“Gerbang itu, muncul di negara apa?” alis pria itu seketika turun dengan tajam. Sementara anggota Regu 1 yang lain tidak paham dengan apa yang dikatakan Nio karena mereka belum mempelajari sepenuhnya bahasa dunia ini.
__ADS_1
“Kekaisaran Luan,” Nio kemudian mencatat nama negara yang pria itu sebutkan.
“Lalu, sekarang apa yang akan kita lakukan padanya?” semua anggota Regu 1 hanya saling tatap karena tidak athu apa yang akan dilakukan setelah ini.
Mereka semua menginginkan menemukan sungai dan mendi di sana, atau setidaknya mendirikan kemah agar dapat berisitirahat.
Nio kemudian menatap dua orang perempuan yang terlihat tidak bergerak, Nio kemudian bertanya pada pria itu, “Siapa yang kamu sukai antara anak dan ibu yang di sana?”
Nio berdiri di samping wanita telanjang di sampingnya yang terlihat tidak bergerak, dengan tangan diikat dengan tali. Mata mereka tetap terbuka dengan menunjukkan tatapan kosong tentang apa yang mereka lalui tadi. Tak ada satupun dari mereka berdua yang bernapas, mereka telah diperkosa sampai mati.
Nio kemudian menutup mata mereka berdua dan menudukkan kepalanya, kemudian dia memerintahkan anggota perempuan untuk mengurus kedua wanita itu.
Pria bandit itu berkata memohon pengampunan dan tetap berkata jika dia belum menyentuh kedua wanita itu. Dia bersujud di tanah, seolah sedang menyembah. Wajahnya berlinang air mata dan ingus, berharap jika pasukan yang menghabisi rekannya memberikan belas kasihan padanya.
Dia tidak memiliki pilihan lagi, selain menjadi bandit untuk bertahan hidup. Setelah ini, dia berkata di dalam hatinya tidak akan menjadi bandit lagi dan mencari pekerjaan yang lebih baik.
Sebagian anggota menghela napas saat mereka melihat penampilan pria itu yang menyedihkan. Mereka tetap tidak bisa memaafkan pria ini yang menjadi bandit hanya untuk menutupi kemiskinannya. Mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk sekedar mengisi perut, mereka dapat memilih hidup menjadi pengemis. Itu lebih baik daripada menjadi bandit yang merampas segalanya dari orang yang tidak berdaya melawan mereka.
“Kamu harus mengubur mereka berdua,” pria itu terkejut dengan perintah Nio.
Sebagian anggota yang bingung dengan perkataan Nio, mereka mencarinya di kamus. Setelah menemukan artinya, mereka terlihat lega saat Nio tidak memerintahkan untuk membunuh pria itu.
Ada dua kuburan untuk anak dan ibu itu, dan sebuah kuburan masal bagi teman-teman pria bandit itu.
Pria itu menjawab tidak memiliki alat untuk menggali tanah, tetapi Nio menjawab kalau dia memiliki sepasang tangan. Maka pria itu mulai menggali tanah untuk kuburan di tempat ini.
Tidak seperti pasir atau tanah yang subur dan lunak, menggali tanah di sekitar bukit batu tidaklah mudah. Kuku pria itu lepas dan kulitnya berdarah, sesekali pria itu brhenti karena merasakan sakit. Tetapi dia tetap ingin hidup.
Dengan tidak mempedulikan tatapan teror, pria itu melupakan rasa sakit dan menggali dengan sekuat tenaga tanah yang hampir sekeras batu.
Beberapa jam kemudian, dia menguburkan sang ibu, kemudian sang anak. Ketika dia menggunakan tangannya yang telah mati rasa untuk menutup kuburan dengan tanah galiannya, seorang anggota berkata jika sekarang sudah tengah malam.
Pria itu melakukan semua ini, karena hal ini adalah sebuah syarat baginya agar dibebaskan. Dia melihat Nio dengan wajah yang mulai pucat, lemas, kehausan, kelaparan dan rasa sakit ditangannya.
Pria itu kemudian berlutut dengan satu lutut, dia menggenggam tangannya sambil berkata sesuatu di hadapan anggota Regu 1.
Nio yang sudah terlanjur kasihan padanya, mengeluarkan sebuah gulungan perban dan mengobati luka pria itu tanpa pikir panjang. Dia juga memerintahkan anggotanya untuk mengambil beberapa ransum untuk diberikan para pria ini.
Bibir pria itu yang mulai pucat, mulai bergetar dan meneteskan air mata dengan deras. Ternyata pasukan yang bertempur dengan brutal, tetap memiliki sisi baik dan benar-benar memberikannya belas kasihan.
__ADS_1
**
Funfact: bahasa dunia lain yang saya gunakan adalah gabungan beberapa negara yang saya susun terbalik.