Prajurit SMA

Prajurit SMA
77. Curhat


__ADS_3

15 September 2321, pukul 10.09 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, pagi hari.


**



(Ilustrasi spesial chapter ini, sumber gambar pinterest)


Nio mengendarai kendaraan taktis di jalanan tanah dengan kecepatan sedang di pagi hari yang cerah ini. Meminjam satu unit kendaraan lengkap dengan perbekalan akan membuat Nio harus membuat sebuah laporan lagi, meski itu menyebalkan baginya.


Walau dengan kecepatan sedang, debu yang diciptakan roda kendaraan terlihat cukup besar. Bahkan membuat beberapa hewan langsung berlari menjauhi tempat mereka sebelumnya karena kendaraan taktis yang melintas. Untuk hari ini, Nio tidak melihat makhluk monster selama melakukan perjalanan.


Tidak ada pengawal yang dibawa Nio, karena saat dia kembali ke benteng nanti, Sigiz menjamin keselamatan Nio. Artinya, Nio akan bersama rombongan pasukan Kerajaan Arevelk yang hendak melintasi wilayah sekitar Gerbang.


Itulah mengapa hanya ada satu kendaraan taktis dan dua penumpang di jalanan kosong di hutan pilar batu ini. Nio berpikir jika terlalu jarang ada kendaraan yang umum digunakan orang-orang dunia ini melintas di jalanan.


Orang-orang dunia ini lebih sering menggunakan kereta kuda sebagai kendaraan, atau hanya menunggang kuda tanpa gerobak. Selain itu, beberapa golongan masyarakat bisa menggunakan naga atau wyvern sebagai kendaraan, tentu saja jenis hewan fantasi tersebut harus dijinakan terlebih dahulu sebelum dapat dijadikan tunggangan.


Untuk membayar orang yang dapat menjinakan naga atau wyvern, biaya yang dikeluarkan sangat mahal. Itu sebabnya hanya bangsawan atau militer saja yang dapat menggunakan naga maupun wyvern.


“Tidak mungkin, semalam aku benar-benar melakukan itu saat dia tertidur, apa yang ku lakukan salah? Kupikir tidak, karena itu salahnya sendiri tertidur di kamarku! Tapi, dia sepertinya sangat terkejut saat kuberi tahu usia ku,” Sigiz berkata di dalam hatinya dengan nada orang yang menyesali sesuatu yang dia perbuat, sayangnya dia tidak menyesali perbuatannya dan ingin melakukan hal itu lagi dengan Nio.


Namun, wajah Sigiz terlihat memandang ke luar jendela dan melihat pemandangan yang membosankan, meski perasaanya tidak karuan. Bahkan saat Nio memutar musik dari smartphonenya dan dihubungkan ke speaker, dia tidak mengerti bahasa dari penyanyi tersebut dan hanya menikmati lantunan musik.


Lagipula, Nio sebenarnya masih sangat terkejut setelah mendengar usia sebenarnya dari Sigiz. Namun dia sedikit melirik ke arah Sigiz yang seakan-akan telah terbiasa dengan mobil jenis lapis baja ini.


“Wajahnya terlihat seumuran dengan kakak, tapi apa benar dia sudah berusia 60 tahun? Apa kebanyakan orang-orang dunia lain berumur panjang dan awet muda?” didalam hatinya, Nio terus berdebat dengan dirinya sendiri mengenai hal yang sangat mengejutkan itu.


Lalu dia menemukan jawaban sementara yang dia temukan secara mendadak, “Ini dunia fantasi, jadi wajar saja kalau orang-orangnya punya umur panjang.”


Sejak beberapa jam perjalanan, Nio dan Sigiz belum melakukan percakapan sama sekali dan hanya terdengar suara musik dari smartphone milik Nio sebagai hiburan. Kendaraan ini dilengkapi dengan pengisi daya bagi perangkat, termasuk smart phone. Jadi Nio tidak akan khawatir jika smartphonenya dan perangkat elektronik lainnya kehabisan daya.


Mereka berdua meninggalkan benteng saat jam masih menunjukkan pukul 04.30. Untuk bisa menentukan waktu yang sesuai dengan dunia ini, TNI mendatangkan ahli pembagian waktu ke dunia lain.


Perkiraan waktu tiba di perbatasan antara Kekaisaran Luan dan Kerajaan Arevelk adalah 2 hari perjalanan jika kendaraan dipacu dengan kecepatan tinggi, 3 hari jika dengan kecepatan sedang dan disertai dengan istirahat, 2 bulan jika berkendara dengan kuda dan disertai dengan istirahat.


Di tengah lamunannya yang indah mengenai ciuman pertamanya dengan Nio, Sigiz tersentak saat Nio memulai percakapan.


“Ratu Sigiz, bagaimana cara Gerbang itu bisa terbuka?” wajah Sigiz tiba-tiba berubah menjadi murung, atau bisa dikatakan seperti itu.


Itu adalah pertanyaan seluruh orang di dunia asal, dan belum ditemukan hingga munculnya Gerbang yang sempurna di Kota Karanganyar. Meski rupa benda itu seperti gerbang pada umumnya, namun kekuatan Gerbang sangat tidak masuk akal. Bahkan rudal yang di luncurkan ke dalam Gerbang tidak bisa menghancurkan benda itu.


Karena kesulitan untuk menghancurkan Gerbang berada di tingkat yang sangat tinggi, maka TNI menghentikan hal itu. Meski Gerbang bisa dihancurkan, itu bukan berarti berita baik, karena bisa saja Gerbang yang lain muncul di tempat lain di Indonesia, bahkan dunia.


Gerbang yang dibuka terbagi menjadi dua jenis, yakni Gerbang tidak sempurna, inilah jenis Gerbang yang muncul di beberapa lokasi di dunia asal, untuk membuka Gerbang jenis ini hanya diperlukan energi sihir yang besar. Yang kedua adalah Gerbang yang terbuka sempurna, inilah Gerbang yang muncul di Kota Karanganyar. Untuk membuka Gerbang jenis ini selain membutuhkan energi sihir yang besar, dibutuhkan pula tumbal manusia dalam jumlah besar pula.


Tanah Suci adalah wilayah yang memiliki aliran energi sihir yang terbesar di dunia ini, itulah mengapa tempat itu di jadikan lokasi membuka Gerbang yang sempurna. Sayangnya, pihak pasukan gabungan lima negara menghubungkan Gerbang ke tempat yang salah.

__ADS_1


Hati Sigiz menjadi sakit setelah pertanyaan Nio yang dia terima, itu adalah pertanyaan yang sangat sulit dikatakan meski jawabannya sangat mudah. Jika dia menjawab pertanyaan Nio dengan jujur, itu mungkin akan membuat Nio sangat terkejut.


“Tumbal….”


“Tumbal? Apa maksudmu?”


“Untuk membuka Gerbang yang sempurna, dibutuhkan tumbal manusia yang besar.”


Wajah Nio menjadi datar dan terfokus pada jalanan di hadapannya, jakunnya bergerak naik turun setelah mendengar jawaban dari Sigiz. Nio menyadari sesuatu hal, jika orang-orang dunia lain akan melakukan segala hal untuk melakukan sesuatu, bahkan jika itu harus mengorbankan banyak nyawa.


Nio tidak bisa membayangkan jika hal ini akan dia tulis di laporannya nanti, dia bisa membayangkan wajah atasannya jika membaca salah satu paragraf laporannya yang membahas pembukaan Gerbang.


“Biadap,” Sigiz menoleh ke arah Nio, dan merasakan jika aura yang dikeluarkan Nio sangat dingin, tidak hangat seperti sebelumnya, meski itu hanyalah ocehan biasa yang dilanturkan Nio.


Dia sudah merasakan hal ini sebelumnya, saat Ivy menyinggung soal kakak Nio, Arunika.


“Lalu, kenapa negerimu tidak berperang dengan dunia kami?”


“Kerena perang ini hanya akan membawa kehancuran bagi negaraku jika bergabung pada perang ini. Militer negerimu terlalu kuat, aku jadi tidak bisa membayangkan jika harus berurusan dengan satu dunia,”


Nio tidak terlihat merasa senang saat Indonesia dikatakan sebagai negara yang memiliki militer terlalu kuat, karena Sigiz belum mengetahui militer negara di luar Indonesia. Memang TNI adalah pasukan terkuat di dunia asal, tetapi itu hanyalah menurut tulisan di atas kertas putih yang di sebut sebagai ‘dokumen rahasia’.


Pihak atau organisasi dalam naungan PBB yang mengkhususkan diri untuk mengukur kekuatan militer di dunia asal menempatkan TNI di urutan ke 4 sebagai pasukan terkuat. Namun beberapa organisasi swasta yang memiliki tujuan yang sama justru menempatkan TNI sebagai pasukan terkuat di dunia pada posisi teratas. Itulah mengapa beberapa negara merasa tidak terima dengan penilaian organisasi swasta tersebut, dan menilai jika TNI tidak pantas berada di posisi 10 besar pasukan militer terkuat di dunia.


Jika Sigiz mendapatkan kesempatan untuk pergi ke dunia lain lagi, dan mengelilingi beberapa negara sekutu Indonesia, Nio bisa memastikan jika ratu itu akan membuka mulutnya dengan lebar karena melihat kekuatan militer yang kuat selain Indonesia.


“Kuharap negara kita tidak saling berperang.”


“Di dunia mu juga terdapat bangsawan?”


Wajah Nio tiba-tiba berubah menjadi kebingungan, kerena dia harus menjelaskan tentang keberadaan kumpulan ‘bangsawan’ yang ada di Indonesia.


Mungkin yang dipikirkan Nio bukanlah kebingungan untuk menjelaskan, karena hatinya sendiri merasa muak dengan para ‘bangsawan’ yang mengatasnamakan pancasila sila ke-5. Padahal mereka sendiri hanya memikirkan perut keluarga mereka, tanpa memikirkan kondisi warga yang berada di wilayah tak tersentuh, bahkan masyarakat yang tinggal di pinggiran kota seperti Nio dan Arunika.


“Aku juga tidak tahu apakah harus menyebut mereka sebagai bangsawan atau semacamnya, karena kupikir sebagian dari mereka hanya memikirkan diri sendiri. Meski tidak semua orang dalam kelompok tersebut memiliki sifat seperti itu.”


Nio memasang senyum kecut dan berkata didalam hatinya, “Kenapa malah curhat ‘njir?”


“Lalu, apakah mereka menyatakan perang dengan negara lain sesuka hati mereka?”


“Kupikir tidak, dan sepertinya itu salah satu sisi baik dari para bangsawan tersebut. Definisi perang di dunia ku sangat luas, tidak hanya sebatas konflik bersenjata maupun invasi.”


“Entah mengapa aku jadi kasihan dengan para prajurit di dunia mu, itu juga termasuk dirimu tuan Nio.”


“Lagipula, tidak ada manusia yang benar-benar bebas.”


“Kau terlihat sudah berjuang dengan keras untuk melindungi negerimu, bahkan hingga mempertaruhkan nyawa demi melindungi orang yang tidak kamu kenal dan tidak mengenalmu. Tapi sepertinya para bangsawan di negaramu juga bermasalah, tanpa mengetahui apa yang kalian lakukan di medan perang, pada akhirnya tidak ada apresiasi yang sepadan untuk para kesatria kuat seperti kamu dari mereka. Pasti sangat sulit menjadi prajurit di negaramu.”

__ADS_1


Nampaknya perkataan Sigiz benar-benar telah membungkam Nio, tetapi Nio hanya tersenyum dan mengangkat bahu.


Nio menatap Sigiz dengan serius dan berkata, “Aku menjadi prajurit tidak untuk melindungi negaraku, karena negaraku hanya menyediakan tempat bagiku untuk lahir. Mereka tidak memberiku makan dan sebagainya. Aku menjadi prajurit untuk melindungi satu-satunya keluarga yang kumiliki.”


Nio kembali tersenyum kecut dan berkata didalam hati, “Kenapa malah curhat lagi ‘njir?”


Sigiz menunjukkan senyum bangga kepada Nio, karena sangat jarang menemui prajurit yang lebih mengutamakan keluarga daripada negara. Inilah tipe kesatria yang sangat dicari oleh Sigiz, karena mereka memiliki sebuah hal yang harus dipertaruhkan dengan nyawa, dan itu bukanlah tanah air. Karena hal penting itu, para kesatria akan berjuang lebih keras dari prajurit yang memiliki tujuan untuk melindungi negara.


Mau bagaimana pun keluarga adalah nomor satu, bahkan bagi prajurit sekalipun. Jika saat bertugas tentu saja negara yang menjadi nomor satu, tapi jika lepas seragam mana mungkin negara menjadi nomor satu.


Seorang prajurit bisa dinilai dari sisi mana dia lebih dominan, apakah dia menomorsatukan negara daripada keluarganya. Jika prajurit itu menomorsatukan keluarga, maka dia benar-benar prajurit yang hebat. Karena keluarga yang mengajarkannya arti perjuangan, sedangkan negara hanya menyediakan untuknya tumbuh saja.


**


Di halaman markas pusat pasukan penyihir militer Kekaisaran Luan, pasukan yang akan dikirimkan ke medan perang dan akan melawan pasukan Kerajaan Arevelk telah berbaris dengan rapi menurut kesatuan masing-masing.


Sebanyak 40.000 pasukan kavaleri, 50.000 pasukan jalan kaki, dan 10.000 pasukan penyihir militer adalah kekuatan Kekaisaran Luan untuk berperang dengan Kerajaan Arevelk. Jangan lupakan beberapa peralatan tempur, seperti puluhan balista, ketapel raksasa dan meriam menjadi kekuatan tambahan pasukan ini.


Meriam adalah senjata ‘mahal’ yang keberadaannya sangat sedikit, beberapa negara hanya memiliki senjata ini paling banyak dalam satuan puluhan. Karena bahan pembuatannya yang merupakan besi dan logam penguat lainnya cukup sulit di temukan, kecuali di benua tetangga. Bukan berarti Kekaisaran Luan bukanlah negara yang miskin akan sumber daya alam, setidaknya hanya bahan pembuat besi dan logam lainnya harus dikirimkan dari negara sekutu.


Bola logam dan bubuk mesiu yang digunakan sebagai amunisi membutuhkan keahlian yang baik untuk membuatnya. Tidak sembarang pengrajin yang mampu membuat bubuk mesiu dengan kualitas baik, dan membuat bola logam dengan bentuk yang sama dalam jumlah puluhan hingga ratusan.


Sementara balista dan ketapel raksasa dapat di produksi dengan biaya yang jauh lebih murah dari meriam, karena bahan yang digunakan mayoritas terbuat dari kayu. Sementara amunisi bagi ketapel raksasa hanyalah batu, namun menyebabkan efek kerusakan yang besar. Untuk balista, amunisi senjata ini cukup menggunakan tombak besar, dalam keadaan terdesak bisa menggunakan tombak milik prajurit yang memiliki ukuran lebih kecil.


Rantz dan beberapa jendral pasukan melintas di ribuan pria itu dengan kuda-kuda mereka. Sebagai Komandan tertinggi pasukan yang akan melawan pasukan Kerajaan Arevelk, Rantz harus mengatakan beberapa kalimat yang bersifat menyemangati prajurit.


Karena yang akan pasukan ini hadapi adalah pasukan terkuat di Benua Andzrev, meski Kerajaan Aarevelk sendiri sangat jarang berperang. Meski begitu, jika dilihat dari beberapa hal, Kerajaan Arevelk memiliki wilayah negara paling luas di benua ini, itu menyebabkan negeri itu memiliki populasi dan sumber daya yang besar.


Namun, Tanah Suci berada di wilayah Kekaisaran Luan, dan di situlah tempat energi sihir terbesar du dunia ini berada. Rantz berniat akan melakukan pertempuran di wilayah tersebut, karena dia sangat mengandalkan pasukan penyihir militernya.


Rantz adalah penyihir militer terkuat di Kekaisaran, dengan tubuh yang dapat menyimpan energi sihir dalam jumlah besar, dia dapat menggunakan sihir yang membutuhkan energi yang besar untuk mengeluarkannya.


Namun, yang menjadi masalahnya adalah wilayah Tanah Suci sekarang telah dikuasai oleh pasukan dunia lain, dan mereka telah membangun benteng disitu dengan Gerbang yang telah diambil alih.


“Pasukan, kita akan menyerbu pasukan dunia lain sialan itu terlebih dahulu…!!!” Rantz dengan lantang dan percaya dirinya berteriak seperti itu di depan pasukannya.


Sheyn dan Kambana yang melihat dari balik sebuah ruangan di tempat ini, hanya bisa menggelengkan kepala dengan ekspresi kebingungan. Karena Rantz dengan percaya dirinya akan menyerang pasukan yang menguasai Gerbang.


“Semoga saja dia pulang hidup-hidup setelah melawan pasukan monster itu.”


“Monster? Apa mereka sangat kuat kak?”


Sheyn mengingat pertempuran pertamanya dengan pasukan dunia lain yang dia dan pasukannya temui. Hal itu cukup membuatnya memperlihatkan ekspresi masam.


“Ya, aku tidak tahu senjata apa yang mereka gunakan, pasukan itu sepertinya hanya diisi penyihir yang sangat kuat.”


Kambana seketika bergidik setelah mendengarkan pengalaman dari kakaknya itu, dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan Rantz dan pasukannya jika mereka benar-benar menyerang pasukan dunia lain.

__ADS_1


Setelah selesai melakukan pidato yang membuat pasukannya bersemangat, dia menyatakan berangkat untuk menuju Tanah Suci dan menyerbu benteng pasukan dunia lain.


Dengan jumlah besar pasukan penyihir militernya, Rantz yakin dia bisa menguasai Gerbang lagi. Setelah itu dia akan melakukan penyerangan terhadap pasukan Kerajaan Arevelk.


__ADS_2