
Pemimpin pemberontak, Ofra, masih memiliki hasrat untuk menaklukan satu persatu wilayah Kerajaan Arevelk dengan bantuan Aliansi. Keinginannya untuk berjuang bersama Aliansi belum habis, yang dipadukan oleh sifat licik yang jelas dia miliki. Bahkan jika dia hanya berhasil menguasai beberapa desa dan kota kecil yang tidak strategis, itu hanya akan meningkatkan ambisinya melakukan hal yang sama.
Jika dia merebut wilayah subur yang berada di dekat gurun pasir dataran tinggi Kerajaan Arevelk, tidak diragukan lagi dia akan mendapatkan akses utama menuju Benteng Girinhi. Lalu, pengaruh pasukan pemberontak akan meluas dan Aliansi akan menepati janjinya, yakni mengirimkan pasukan bantuan untuk menghancurkan militer Arevelk.
Selain itu, pemberontak juga telah mengetahui jika di Benteng Girinhi hanya ada segelintir pasukan dunia lain dan pasukan rekrutan baru Arevelk. Peluang itu akan mereka ambil setelah menguasai wilayah di dekat gurun pasir dataran tinggi ini.
Saat Ofra sedang merencanakan langkah selanjutnya di tenda yang didirikan, dia dan beberapa komandannya tiba-tiba menyadari ada aktivitas dari pasukan di luar perkemahan.
“Ada apa?” Ofra bergumam
Tak lama setelah dia bertanya apa yang sedang terjadi, tiba-tiba.
“Wooooooo! Serbu dan hancurkan merekaaaaa!”
Suara yang memekakkan telinga menggema di seluruh perkemahan. Itu adalah suara Pasukan Penumpas Pemberontak yang bersorak penuh semangat.
“Wah, wah! Tidak ku sangka mereka berani melancarkan serangan pertama!” sudut mulut Ofra diangkat, mencibir pasukan kecil di depannya.
Dia sepenuhnya berharap jika Arevelk akan gentar setelah mengetahui jika pemberontak telah bekerja sama dengan Aliansi yang telah memiliki kekuatan setara pasukan dunia lain.
Namun, dia saat ini masih berperang di dalam wilayah Arevelk, dan benteng terdekat milik Aliansi berada pada jarak puluhan hari perjalanan menggunakan kuda. Dan jika Ofra sang komandan sekali lagi berhasil mengalahkan ‘rekannya’ sendiri, maka dia akan semakin sombong.
“Baiklah, kita akan menyelesaikannya dengan cepat, seperti sebelumnya!” kata Ofra dengan percaya diri, lalu berdiri untuk mengamati musuh yang akan dihancurkannya.
Tetapi, wajah sombong Ofra seketika hilang bersamaan angin bertiup.
Perkemahan pasukan Ofra berada di dekat gurun pasir, dikelilingi oleh lembah dan bukit-bukit pendek. Angin dengan kekuatan sedang sering terjadi di sini, dan menyebabkan badai debu kecil yang tidak terlalu mengganggu aktivitas.
“Ap-apaan mereka?!” Ofra terkejut.
Dilihat dari panji yang mereka bawa, para prajurit berkuda benar-benar berasal dari Arevelk dan Yekirnovo. Mereka datang untuk menghancurkan pemberontak, dan bergabung dalam pertempuran. Itu bagus, itu semua memang rencana Ofra. Dia berpikir menguasai banyak wilayah akan semakin bagus, dan pengaruhnya di Aliansi di masa depan akan semakin besar pula.
Debu-debu yang berterbangan membumbung tinggi, jumlah pasukan di setiap unit tampak lebih dari lima puluh orang. Itu artinya, Ofra melihat musuh membawa pasukan besar yang berjumlah sama dengan pasukannya. Pasukan sebesar itu akan menimbulkan pertarungan sengit dan lama, lalu menyebabkan prajurit kelelahan.
Namun, Ofra ingin mengulangi keberhasilannya yang sebelumnya. Meski seluruh prajurit yang telah memegang senjata masing-masing tampak gentar, namun Ofra memerintahkan mereka untuk membentuk formasi bertahan.
“Apa yang mereka pikirkan hingga hanya mengirimkan pasukan berkuda? Apa Sigiz sudah tidak mampu berpikir karena usianya?” Ofra mengejek.
Bertempur di atas kuda membutuhkan pelatihan yang lama. Setidaknya dua hingga delapan tahun jika seseorang ingin mencapai ke tingkat keterampilan menunggang kuda tertinggi. Dan setahu Ofra, di setiap pertempuran, Arevelk tidak pernah mengirimkan pasukan penunggang kuda dengan jumlah melebihi 60.000. Saat ini, pasukan yang dia miliki berjumlah 70.000, gabungan pasukan penunggang kuda dan infanteri. Dia berpikir pertarungan ini akan berjalan seimbang.
Tetap saja, walau sebuah negara memiliki pasukan penunggang kuda terbaik, mereka tetap memiliki kelemahan yang tidak dimiliki pasukan infanteri. Selain itu, bertarung di atas kuda memerlukan keterampilan yang hebat, jika ada kecemasan atau kehilangan kewaspadaan sedikit saja, prajurit penunggang kuda akan terlempar dari tunggangannya, lalu dibunuh oleh musuh atau diinjak oleh kudanya sendiri. Bertempur dengan musuh sambil menunggang kuda adalah permainan untung-untungan.
Badai debu yang dihasilkan dari langkah cepat ribuan kuda milik pasukan Arevelk semakin besar, dan membuat pasukan pemberontak semakin gentar. Suara teriakkan para prajurit semakin keras, disertai suara ledakan beberapa kali, kemudian menumbangkan beberapa prajurit. Sebagian prajurit pemberontak kehilangan semangat setelah musuh membunuh rekan mereka secara misterius.
Pasukan yang melancarkan serangan mendadak menarik panah di lereng bukit, membidik ribuan prajurit pemberontak yang telah membentuk formasi. Tempat mereka yang tinggi sangat menguntungkan, dan musuh tidak menyadari adanya pemanah yang ditempatkan di bukit sekitar perkemahan mereka.
Hujan panah dan sihir artileri menyertai pasukan kavaleri berat dan ringan yang mengayunkan tombak dan pedang yang dipenuhi rasa semangat untuk melindungi keluarga dan negara. Pasukan Penumpas Pemberontak mengamuk dengan semangat, dan bertempur tanpa kehilangan keseimbangan dan kewaspadaan.
Pasukan Penumpas Pemberontak memanfaatkan keterampilan komandan mereka, seolah-olah berlatih bertahun-tahun hanya untuk menciptakan taktik ini.
Seluruh kuda yang menyeret batang pohon beserta daun-daunnya menciptakan badai debu yang besar hasil dari derap langkah kuda dan gesekan batang pohon dan pasir, sehingga melebih-lebihkan jumlah mereka yang hanya 2.000 tentara berkuda dan pemanah. sedangkan para longbowman yang disembunyikan di bukit-bukit terdekat membuat mereka mustahil dicapai oleh infanteri maupun kavaleri yang ingin memanjat bukit. Jika musuh melakukan itu, mereka hanya tinggal menghunjani musuh dengan anak panah lagi. Bahkan pemanah musuh hanya membuang-buang amunisi mereka, dan tidak dapat menembak dengan tepat.
Meski begitu, pasukan pemberontak tidak menyadari jumlah kecil musuh mereka, dan menganggap mereka sedang bertarung melawan pasukan dengan jumlah ratusan ribu.
Ofra menganggap pertempuran ini mimpi buruk.
“Ini tidak… mungkin!” Ofra menampak kedua pipinya, mencoba membuat dirinya sadar bahwa ini kenyataan.
Dia telah berada di tengah pertempuran. Sebagai komandan, Ofra tidak ingin dirinya kehilangan akal sekarang.
__ADS_1
Lalu, kemudian dia menyadari sesuatu.
“Tenanglah! Kalian semua tenanglah! Jumlah musuh lebih sedikit dari kita. Jika tetap tenang, kita bisa mengalahkan mereka!” Ofra berteriak.
Dia berteriak begitu keras, dan membuat seluruh prajurit bergerak ke garis depan dengan panik.
Ada ungkapan yang Ofra dengar dari seorang prajurit muda Indonesia yang mengatakan “Seorang prajurit yang dapat tetap tenang di tengah pertempuran yang brutal adalah orang gila”. Memang, tidak ada prajurit yang benar-benar dapat tetap tenang di tengah pertarungan, hanya ada prajurit yang berusaha tidak kehilangan kewaspadaan dan menekan rasa takut saat bertarung. Tetap tenang di medan perang sangatlah sulit.
Ofra masih ingat wajah prajurit muda itu. Walau dia bukanlah jenderal pasukan Indonesia, namun prajurit tersebut memiliki aura seorang jenderal yang telah melalui ribuan pertempuran, dan membunuh banyak prajurit musuh yang berusaha merenggut harga diri bangsanya. Prajurit itu adalah salah satu orang yang paling dia hindari jika bertemu, setelah rumor sekaratnya Pahlawan Amarah di tangan prajurit itu menyebar.
Namun, Ofra merasa komandan musuh cukup mampu membuat pasukan kecilnya membuat pasukannya kacau. Begitu dia memerintahkan pasukannya membentuk formasi kembali, mereka diperintahkan untuk mundur. Mereka menarik diri secara tiba-tiba dan tertib, tanpa sedikitpun keraguan atau kebingungan walau mereka berada di tengah situasi yang menguntungkan.
Setelah bersiap untuk menyerang balik, para prajurit pemberontak tampak kecewa dengan mundurnya pasukan Arevelk.
“Jangan biarkan mereka lolos!”
“Kejar mereka!”
“Jatuhkan mereka dari kuda-kudanya!”
Bersamaan dengan teriakan mereka, tentara pemberontak berusaha mengejar, tetapi tentu saja musuh seluruhnya penunggang kuda. Selain itu, hujan panah gelombang selanjutnya terjadi lagi, bersamaan dengan rentetan ledakan yang menyebabkan beberapa tentara tumbang dengan tubuh berlubang. Walau panah mampu menembus zirah tipis pasukan infanteri Arevelk, namun senjata yang menyebabkan tubuh berlubang hanya dimiliki pasukan Indonesia, Rusia, dan Korea Utara.
Setelah menyerang mereka dan membunuh banyak prajurit, Pasukan Penumpas Pemberontak telah melarikan diri tanpa satupun prajurit yang mati.
Tapi untuk pasukan pemberontak, ini hanyalah awal dari mimpi buruk.
**
“Taktik itu benar-benar berhasil. Jumlah kecil kita mampu mempermalukan para pengkhianat itu!” Lux berkata dengan semangat setelah tiba di Kota Tohora, dan mempersiapkan diri untuk pertempuran selanjutnya.
Lux, Edera, dan para Demihuman lain, Hevaz yang tidak diikutsertakan dalam pertempuran ini, memuji keahlian Nio dalam membuat taktik yang sederhana, namun memberi dampak luar biasa pada musuh. Namun, Nio memiliki satu kelemahan yang tidak dimiliki pasukan yang dia pimpin dan meraih kemenangan ini.
“Jangan malu tidak bisa mengendarai kuda, Nio. Yang terpenting adalah apa yang ada di dalam kepalamu.” Lux berusaha menghibur Nio, dan kedua tangannya membelai lembut tangan bionik dan tangan asli Nio.
Nio tidak menyangka jika dia bertempur sambil dibonceng seorang gadis… dan memeluk tubuhnya saat kuda melaju. Walau dia berhasil membunuh beberapa prajurit pemberontak dan memenangkan pertempuran, namun dia hanya akan menjadi sasaran empuk musuh jika tidak menembak dari atas kuda yang dikendarai Lux.
“Menunggang kuda pasti jauh lebih sulit dari belajar mengendarai kendaraan lapis baja,” Nio mengeluh, ditanggapi dengan tawa kecil Lux dan para gadis.
Di sisi lain, para komandan yang bertempur di bawah komando Lux dan Nio, mereka tidak menyangka jika pemuda itu mampu membuat taktik ini dalam waktu yang sangat singkat.
“Pertama tongkat yang dapat meledak itu, lalu taktik yang menakjubkan ini… Tuan Nio benar-benar seperti pahlawan sebelumnya yang terlahir kembali,” ucapan Edera membuat Nio tampak ingin menanyakan sesuatu.
“Memangnya kau pernah bertemu para pahlawan sebelumnya? Jangan bilang kau berumur panjang seperti Ratu Sigiz.”
Sigiz yang baru saja tiba agak terkejut dengan ucapan Nio yang menyinggung usianya yang tidak cocok dengan penampilannya.
‘’Jangan berlebihan, Tuan Nio. Rata-rata usia Demihuman dan manusia sama. Saya hanya mendengar kisah pahlawan sebelumnya dari orang tua saya.”
Nio mengangguk percaya, lalu turun dari kuda yang dia tunggangi bersama Lux.
“Sejujurnya, aku merasa sangat kesal saat tidak mengijinkan ku dan Yang Mulia Hevaz dalam pertempuran. Tapi, melihat kau mampu meraih kemenangan hanya dengan pasukan kecil, Dewa Perang tidak salah menunjukmu sebagai ‘orang yang diramalkan’.”
“Yah, setiap prajurit yang melihat jika medan yang dikuasai musuh adalah padang pasir, pasti mereka berpikir taktik yang sama seperti yang kupikirkan. Lagipula, aku hanya meniru taktik ksatria masa lalu yang ku kagumi.”
“Bisa saja sekarang kemampuan seluruh ksatria masa lalu terbaik di duniamu berada di dalam dirimu sekarang, Tuanku,” ucap Hevaz.
“Woy! Kenapa kalian malah biasa saja saat aku menggunakan taktik orang lain! Ini masalah hak cipta tahu!” namun Nio justru kesal terhadap pujian yang dia terima.
Pasukan berkuda tambahan yang Lux pesan atas uculan Nio berjumlah 500 prajurit beserta kudanya. Mereka siap menjadi pasukan tambahan untuk mengalahkan pemberontak, dan membuat Arevelk kembali stabil.
__ADS_1
Pasukan Arevelk memang sempat hampir hancur saat pertempuran pertama manghadapi pemberontak. Namun, dengan adanya pembuat taktik jenius di antara mereka, penumpasan pemberontak diyakini akan berbuah manis.
Saat Nio dan rombongan pasukan yang baru kembali dari pertempuran memasuki Kota Tohora, para warga kota menatap dengan penuh keyakinan pada prajurit mereka, dan seorang prajurit berpakaian hijau tanpa zirah logam yang melindunginya adalah pusat perhatian.
Pasukan kemudian berkumpul di pusat kota.
“Apa yang akan kita lakukan sebelum bergerak untuk pertempuran selanjutnya, Tuan Nio?” salah satu komandan bawahannya bertanya dengan semangat.
Seorang komandan tertinggi memang bertanggung jawab atas kehidupan seluruh prajurit. namun, dengan taktik Nio, Lux dan pasukannya dapat kembali dengan jumlah sama seperti saat berangkat. Para gadis benar-benar telah memandang Nio seperti bukan ksatria kuat dari dunia lain. Mereka sama-sama berharap bertemu dengan Nio lebih cepat, saat masa-masa damai, lalu menjadi istri utama atau simpanan seorang prajurit jenius.
Meski di tempat ini ada komandan tertinggi mereka, namun para komandan menilai Nio lebih pantas untuk membangun strategi, lalu tugas membangun semangat pasukan diberikan kepada Lux.
“Baiklah, usahakan seluruh prajurit dalam keadaan kenyang dan senang,” ucap Nio dengan wajah tenang disertai senyuman penuh percaya diri.
Mata seluruh komandan dan para gadis melebar, tidak percaya jika perintah yang Nio berikan bukan memesan pasukan bantuan yang lebih besar.
“Di saat-saat penting ini kenapa Anda justru meminta mereka untuk makan, Tuan Nio?” Hevaz bahkan tidak tahu isi kepala Nio.
Nio dengan wajah meyakinkan mulai menjelaskan, “Aku yakin, saat ini musuh masih dalam keadaan lelah, dan mungkin telah kehilangan semangat. Tapi, saat ini aku melihat para prajurit yang kembali dengan selamat masih memiliki energi. Makan ketika musuh lapar dan lelah, lalu menyerang mereka saat kita kenyang dan semangat, itu adalah taktik diluar pertempuran yang sangat penting.”
“Artinya?” tanya Sigiz.
“Artinya, setelah makan, kita mendirikan kemah di lokasi yang menguntungkan, dan menunggu musuh datang dari perjalanan mereka. Kita akan makan, beristirahat, dan menunggu musuh kita yang kelelahan, lalu makan lagi sepuasnya saat musuh kelaparan di tengah perjalanan. Itu adalah cara untuk memanfaatkan kesenangan, bukankah makanan adalah salah satu bentuk kesenangan?”
Nio berbicara seolah-olah dia adalah pencipta taktik tersebut, yang sebenarnya dia hanya mengulang panduan perang yang disusun Sun Tzu. Nio merasa taktik dari sosok tersebut akan berguna dalam pertempuran di dunia lain ini, dia harus menghormati Sun Tzu atas taktik perang yang dia tulis.
Bagaimanapun, kata-kata Nio sangat cocok dengan situasi Pasukan Penumpas Pemberontak saat ini.
“Mereka datang dari jauh, lalu musuh lelah karena terus bergerak tanpa makan,” ucap Nio lagi. “Tidak mungkin mereka dapat bertarung dengan tenaga penuh saat lapar. Jadi, ayo makan!” Nio berkata dengan nada setengah bercanda, meski dia sangat serius dalam mengusulkan taktik tersebut.
“Aku mengerti. Itu sangat sepertimu, Tuan Nio walau kami baru bertemu Anda belum lama ini. itu seperti taktik kuno dari dunia Anda, dan sepertinya sangat kuat!” Huvu tiba-tiba menyela, dan tampak mengungkapkan kekagumannya terhadap Nio yang tulus.
“Jadi setelah makan, kita harus mendirikan kemah di suatu tempat yang menguntungkan bagi kita, lalu makan lagi, kan?” sela Ebal. Lalu dia bertanya lagi, “Bukankah pasukan akan kehabisan waktu?”
“Saya paham! Setelah makan, prajurit akan memiliki banyak tenaga, jadi menurutku tidak mengapa mengambil jalan memutar yang agak jauh. Lagipula, itu juga dapat menguras lebih banyak tenaga prajurit pemberontak,” salah satu komandan Pasukan Penumpas Pemberontak menjawab dengan serius.
“Benar! bukankah tidak sia-sia kau mengajukan diri menjadi komandan Pasukan Penumpas Pemberontak?” tanya Nio.
“Benar, walau saya sebelumnya meragukan kepemimpinan Anda, akhirnya saya mendapatkan keuntungan dari menjadi bagian pasukan ini. Ilmu dari dunia Anda memang luar biasa, Tuan Nio.”
Di sisi lain, Nio tidak menganggap taktik seperti itu akan berguna untuk melawan pasukan dari negara kuat dengan transportasi yang sangat baik, seperti negara-negara maju di dunianya.
Seluruh prajurit yang dalam keadaan semangat setelah berjuang di pertarungan sebelumnya, menatap ke arah Nio dengan penuh kekaguman. Namun Nio sendiri tidak menyadarinya.
Dia memang hanya memanfaatkan taktik yang ditulis tokoh-tokoh terkenal di dunianya, jadi ini murni bukan kerja kerasnya. Di sisi lain, Nio merasa jika pasti ada segelintir pihak yang tidak menyukai keterlibatannya di perang menumpas pemberontak ini.
“Tuan Nio, setelah perang ini, kau harus memanggilku dengan ‘Sigiz’, aku tidak mengampunimu kalau memanggilku dengan awalan ‘Ratu’ atau semacamnya.”
“Eh, kenapa? Jangan bicara yang aneh-aneh di saat-saat seperti ini, Rat-“
Nio menghentikan ucapannya saat merasakan bahwa Sigiz akan mengeluarkan kekuatan sihir luar biasa jika dia memanggilnya ‘Ratu Sigiz’ lagi.
“Akan ada banyak hadiah yang menantimu setelah pertarungan,” suara lembut Sigiz menggelitik seluruh indera Nio, suara Sigiz begitu lembut dan menggoda. Lalu, Nio melihat bahwa para gadis tampak memperlihatkan gerak-gerik misterius yang membuatnya curiga.
Para gadis telah memutuskan, bahwa Nio dapat melakukan apapun yang dia suka terhadap mereka.
Menjadi komandan pasukan adalah tugas berat, dan pantas mendapatkan bayaran yang setimpal dan membuat Nio bersemangat lagi untuk terjun ke tengah pertarungan selanjutnya.
**
__ADS_1
Sun Tzu juga merupakan seorang Jenderal dari Tiongkok, ahli strategi militer, dan filsuf yang hidup pada Zaman Musim Semi dan Gugur pada masa Tiongkok Kuno. Sun Tzu diketahui sebagai penulis The Art of War, sebuah strategi militer yang secara luas berpengaruh terhadap filosofi Barat dan Timur.