Prajurit SMA

Prajurit SMA
Mustahil


__ADS_3

Para tawanan yang ditahan di penjara Persekutuan dipekerjakan untuk merawat ladang dan hewan ternak milik pasukan, sebagai pengganti hukuman mati yang seharusnya mereka dapatkan. Sayangnya, mereka justru terlihat sangat gembira ketika ‘dipaksa’ bekerja untuk merawat sayuran, tanaman buah, kambing dan sapi serta unggas milik Pasukan Perdamaian. Walau mereka telah dianggap sebagai pihak yang kalah, tidak ada perlakuan tidak menyenangkan yang diterima para tawanan.


Beberapa pengungsi dan sukarelawan bekerja bersama mereka ditengah gerimis yang kemungkinan besar akan menjadi hujan deras pada sore hari ini. Itu adalah pemandangan yang menenangkan, dan membuat pekerjaan para pengawas berkurang. Tidak banyak perkelahian diantara puluhan ribu mantan prajurit Aliansi yang tertangkap tersebut, karena fasilitas yang mereka dapatkan sama rata.


Hal itu memang menyebabkan dana yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan para tawanan bertambah, di sisi lain Persekutuan juga harus mengurus pengungsi dan membayar sukarelawan. Itu sebabnya dibuka lahan baru untuk memenuhi kebutuhan pangan pasukan, tawanan, pengungsi, dan sukarelawan. Dengan begitu, mereka tidak perlu mengeluarkan dana untuk membeli bahan pangan, dan dapat mengalihkan dana untuk membeli pupuk dan pakaian para tawanan dan sukarelawan serta pengungsi.


Hujan cukup deras akhirnya benar-benar mengguyur area Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Baru, namun itu tidak mengganggu aktivitas prajurit seluruh kontingen negara anggota Persekutuan. Mereka masih dapat bersemangat berlatih di tanah berlumpur, meski udara sedikit dingin karena musim dingin belum lama berakhir. Area latihan para prajurit cukup luas, hingga melintasi ladang dan peternakan yang dirawat tawanan dengan bantuan pengungsi dan sukarelawan. Sayangnya, masih terdapat beberapa prajurit kontingen Arevelk yang menganggap mantan prajurit Aliansi yang tertawan sebagai bahan lelucon.


“Apa yang kalian lakukan terhadap mereka? Bukankah kalian telah mendapatkan perintah dari kontingen ‘dunia lain’ untuk tidak menyakiti para tawanan dalam bentuk apapun?”


Untungnya, di antara para prajurit Arevelk yang berlatih, Lux dan Zariv termasuk orang yang bergabung bersama mereka. Mereka sering berlari maupun latihan lain dan melewati ladang yang sedang dirawat oleh para tawanan.


“Jendral Lux, apa tidak apa-apa menjadikan mereka pekerja yang dibayar?”


“Setahu saya, Aliansi telah menghancurkan peternakan dan perkebunan milik pasukan Indonesia yang sebelumnya. Mungkin saja mereka dapat melakukan hal yang sama, atau mungkin lebih buruk.”


Lux cukup kesal dengan ucapan kedua prajuritnya, lalu memutuskan berkata, “Mereka sudah cukup takut dengan kekuatan pasukan Indonesia dan sekutunya. Itu saja yang membuat mereka bekerja dengan keras hingga hari ini. Sejujurnya, meski kita dapat menerima uang sangat banyak dari menjual mereka menjadi budak, mempekerjakan mereka sebagai tenaga kerja tambahan ternyata jauh lebih menguntungkan.”


Total area perkebunan, sawah padi untuk memenuhi kebutuhan beras kontingen Indonesia, dan ladang serta peternakan hewan ternak hampir dua puluh hektare. Tenaga kerja yang banyak membuat produksi pangan dapat meningkat, sehingga pada masa panen tiba kebutuhan pangan dapat memenuhi seluruh orang yang hidup di Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Baru, termasuk para tawanan dan pengungsi.


Selain itu, keamanan para tawanan juga dijamin, yang membuat mereka masih tidak mengerti dengan cara berperang pasukan ‘dunia lain’ tersebut. Dengan santai, Lux dan Zariv berdiri dan melihat seluruh pekerja yang belum berhenti bekerja meski hujan belum berhenti. Hujan seperti ini bukan masalah bagi mereka, meski membuat beberapa masalah kecil.


Kemudian, dari gerbang utara benteng kura-kura, Lux dan Zariv melihat dua kendaraan perang dan beberapa kendaraan lapis baja milik kontingen Korea Utara dan Indonesia keluar dan menuju ke arah yang sama dengan pasukan bantuan yang berangkat sehari sebelumnya.


“Apa mereka memanggil bantuan?”


“Satu batalyon artileri mungkin sudah cukup kuat dengan dukungan batalyon perbekalan. Tapi, semua pergerakan pasukan berada di tangan komandan masing-masing kontingen,” jawab Lux atas pertanyaan Zariv. Di sisi lain, wajah datar gadis itu membuat Zariv ingin sekali membuat Lux tersenyum. Sayangnya, sementara ini orang yang dapat membuat Lux tersenyum hanya Nio.


Dua MLRS berbasis kendaraan tank dan satu Kompi Bantuan diperintahkan untuk membantu satu batalyon artileri dan perbekalan yang telah mendeteksi pergerakan musuh. Jika mereka memanggil bantuan, dapat dipastikan jumlah musuh jauh lebih besar dan pertempuran kemungkinan akan berlangsung sengit tanpa bantuan.


“Apa tujuan mereka kali ini, Lux? Dan hanya mengirimkan pasukan kecil untuk menghadapi musuh apa tidak merugikan mereka?”


“Merebut kembali Benteng Kalea dari Persekutuan dan memperlihatkan jika mereka masih memiliki kekuatan besar untuk melanjutkan perang. Kalau tentang rugi atau tidak, pasti mereka telah menyusun taktik sendiri dalam menghadapi musuh.”


“Yah, kau benar, mereka memiliki senjata yang mengerikan.”


Sebelumnya…


“Hoy, laporkan pada pasukan di Benteng Hitam kalau musuh mulai bergerak!”


Tidak adanya Hassan dan Nio di sini, membuat Tim Ke-12 bekerja jauh lebih keras daripada saat adanya kedua orang tersebut. Bayu segera meraih alat komunikasi nirkabel-nya, lalu menghubungkan sinyal unit ini dengan salah satu batalyon yang menempati Benteng Hitam. Sementara itu, Ferdi meminta Bayu untuk segera mengirimkan informasi kepada pasukan yang menduduki Benteng Hitam.


Dua puluh ribu prajurit Aliansi bergerak melewati sisi selatan Kota Tanoe dengan barisan tertib dan teratur, Gita dan Ratna mengawasi mereka dari sisi selatan tembok pelindung kota ini. Melalui teropong masing-masing, mereka berdua melihat beberapa musuh membawa senjata yang sama ketika penyerangan Kota Iztok, namun jumlah mereka tidak mencapai satu kompi. Mantel yang melindungi kedua gadis menghindari mereka dari kecurigaan penduduk kota dan hujan meski seragam lapangan mereka terbuat dari bahan kedap air.


Meski dalam kondisi hujan deras, para penduduk kota dengan semangat menyoraki pasukan yang dipercaya mampu merebut kembali Benteng Kalea, atau Persekutuan lebih menyukai menyebut fasilitas militer tersebut dengan nama Benteng Hitam. Mereka mengeluarkan kata-kata yang bersifat memuji Dewa Perang, dengan harapan sosok tersebut memberi kekuatan Aliansi.


Kedua sudut bibir yang terangkat menunjukkan bahwa mereka memiliki rasa bangga dan keberanian untuk berjuang diperlihatkan prajurit Aliansi tersebut. Dengan jumlah besar dan senjata yang telah ditingkatkan, mereka yakin dapat mengalahkan dan merebut kembali benteng yang dikuasai kontingen ‘dunia lain’ Persekutuan. Selain itu, mereka percaya bahwa senapan para prajurit Peleton Khusus Aliansi mampu merubah jalannya perang, sehingga tidak membiarkan Persekutuan melakukan apa yang telah mereka rencanakan.


“Ummm, apa perlu aku merusak beberapa senapan mereka?”


“Tunggu. Tapi, Zefanya, kenapa kau bisa membawa senapan penembak jitu semudah itu, bukannya penjaga pasti akan berpatroli?” tanya Ratna.


“Menurut grup pengintai dua, mereka melihat hampir seluruh prajurit penjaga kota bergabung dengan pasukan itu. Jadi, kota hampir tanpa penjagaan, dan pengamanan titik tempat kita berada sangat longgar.”


Zefanya tiba-tiba bergabung dengan Gita dan Ratna, lalu membidik dalam posisi tengkurap. Tinggi tembok pelindung Kota Tanoe sekitar empat meter, dan jarak pasukan dengan mereka sekitar tiga kilometer. Dengan begitu, Zefanya dapat dengan percaya diri tembakannya akan mengakibatkan dampak yang serius.

__ADS_1


Tidak adanya kapten dan wakil kapten tim untuk memimpin membuat mereka harus melaksanakan rencana yang disepakati bersama. Selama ada pihak yang mencurigakan atau mengetahui identitas asli mereka sebagai prajurit Persekutuan, Tim Ke-12 sepakat melakukan tindakan sebagai bentuk perlindungan diri dan Persekutuan, meski itu harus menghilangkan nyawa seseorang yang bukan warga sipil.


Itu artinya, mereka setuju untuk sekedar melumpuhkan satu atau dua prajurit musuh dalam pasukan yang bergerak ke Benteng Hitam, termasuk merusak beberapa senjata mereka.


Selain itu, mereka tidak akan mundur sebelum Nio, Hassan, dan Hevaz kembali, dan terpaksa melaksanakan tugas tanpa mereka bertiga. “Apa yang sedang mereka lakukan di sana?” pertanyaan seperti itu selalu muncul berkali-kali pada benak setiap anggota Tim Ke-12. Jika ketiga orang tersebut masih di sini, mereka pasti akan segera melakukan tindakan terhadap pasukan sebesar itu yang berencana menyerang pasukan di Benteng Hitam. Khususnya Hevaz, dan Nio dapat dipastikan akan sangat kesulitan menahan gadis itu untuk melakukan aksi kejam terhadap musuh-musuhnya.


“Hei, aku boleh menembak, kan?”


Zefanya sekali lagi bertanya sambil memasang peredam suara yang mampu meredam 99 persen suara tembakan, tanpa mempedulikan hujan yang terus mengguyur.


Hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera reda, seolah-olah menghujani seluruh prajurit Aliansi yang bersemangat untuk segera menyerang Benteng Hitam dengan rasa percaya diri dan semacamnya. Sayangnya, rasa percaya diri dan semangat dari seluruh anggota Tim Ke-12 jauh lebih besar seolah-olah mereka mampu mengalahkan pasukan sebesar dua puluh ribu tersebut tanpa bantuan.


“Baiklah, kalau kau memang tidak bisa menahan sebentar lagi, lakukan aksimu,” kata Gita yang masih mengawasi pergerakan pasukan musuh melalui teropong-nya.


Sesaat kemudian, dengan perasaan senang Zefanya langsung membidik sasaran pertamanya yang berupa SP1 milik salah satu prajurit Aliansi. Jumlah prajurit yang menggunakan senjata tersebut tidak mencapai seratus orang, namun peluru yang dimiliki Zefanya tidak mencapai dua puluh buah. Meski kaliber proyektil senapan penembak jitu Zefanya dengan senapan mesin berat otomatis sama, yakni 12,7mm, namun ukuran selongsong yang berbeda membuat gadis itu tidak dapat menggunakan amunisi senjata berat tersebut.


“Apa yang kau bidik?” tanya Ratna.


“Pasukan yang berjalan di barisan paling depan, dengan seragam mirip pakaian prajurit masa Perang Dunia 1,” jawab Zefanya.


Kemudian, Ratna mencari target yang dimaksud Zefanya. Setelah menemukan sasaran tembak Zefanya, Ratna kemudian bertanya, “Yang membawa senapan itu?”


“Ya.”


Jari telunjuk Zefanya menarik pelatuk dengan ekspresi wajah yang tenang, meski dibasahi dengan air hujan. Kemudian, tanpa menimbulkan suara tembakan yang menarik perhatian, proyektil 12,7mm melesat dalam kecepatan hampir 4.000 kilometer per detik. Dalam jarak dua kilometer, kecepatan lesatan proyektil tersebut mampu menembus lapisan baja setebal 30mm jika menggunakan peluru tungsten.


Kurang dari setengah detik kemudian, sebuah senapan milik personel Peleton Khusus Aliansi hancur. Material luar senapan yang terbuat dari kayu hancur dengan seluruh komponen yang berserakan di tanah. Tentu saja penyebab dari serangan itu adalah Zefanya.


“Sangat tepat sasaran, sangat bagus Zefanya” puji Gita.


“Dia sepertinya berencana menghambat musuh,” ucap Arif yang melihat ketiga gadis tersebut berada di atas tembok pelindung kota, khususnya aksi Zefanya yang berhasil membuat sebagian prajurit musuh gelisah dengan serangan senyap mereka.


Zefanya merubah sasaran pada balista yang ditarik beberapa orc dengan bantuan budak. Mereka sangat kesulitan ketika menarik senjata besar tersebut ketika kondisi hujan, karena tentu saja tanah akan menjadi basah dan berubah berlumpur. Jalan yang licin dan terkadang terdapat lubang yang terisi air dan menciptakan kubangan lumpur membuat jalan para penarik senjata tersebut terhambat. Sayangnya, beberapa prajurit justru mencambuk mereka yang berhenti sejenak yang hanya sekedar menarik beberapa napas untuk segera bergerak kembali.


Melihat hal tersebut, Zefanya terlihat mengarahkan bidikannya ke arah salah satu prajurit yang mencambuk seorang budak pria berkali-kali. Sementara itu, para ogre dan orc raksasa hanya dapat melihat hal tersebut sambil menarik senjata-senjata yang nampak sangat berat. Sebuah balista perlu setidaknya enam budak untuk menariknya, serta meriam memerlukan sekitar dua puluh gabungan ogre dan orc untuk menggerakkan senjata berat tersebut.


Namun, “Zefanya, aku tahu kamu melihat para budak itu disiksa. Tapi, lebih baik jangan membunuh prajurit-prajurit yang menyiksa mereka, karena mungkin akan menimbulkan hal yang tak diinginkan,” Ratna mencoba memberikan saran pada gadis Rusia tersebut.


Kemudian, kurang dari lima detik Zefanya melepaskan empat tembakan. Masing-masing proyektil merusak empat roda yang menggerakkan empat senjata, dan membuat pergerakan para penarik senjata tersebut berhenti karena roda yang rusak.


“Mantap, kau membuat mereka kesal… mungkin,” Gita sekali lagi memuji aksi Zefanya setelah melihat dampak serangan gadis itu melalui teropongnya.


Para ogre, orc dan budak bekerja sama untuk tetap membuat dua balista, satu ketapel raksasa, dan satu balista tetap berjalan tanpa satu roda. Itu mereka lakukan daripada mendapatkan cambukan atau hal yang lebih buruk, meski sangat melelahkan fisik dan mental. Memang perlakuan para prajurit terhadap budak manusia dan monster seperti merendahkan, memang itu kebenarannya.


Jika seseorang menjadi budak, maka mereka telah menjadi alat yang dapat digunakan sesuka pemilik yang membeli budak tersebut. Itu juga berlaku bagi budak yang berasal dari ras Demihuman atau manusia setengah monster seperti ogre. Tak jarak pemilik budak mempekerjakan mereka tanpa henti, lalu menjual kembali atau membunuh jika dianggap tidak dibutuhkan atau melakukan kesalahan.


Terlihat dari mata para budak manusia dan ogre menunjukkan tatapan tajam, namun lebih mendekati ratapan penuh penderitaan karena posisi mereka dianggap lebih rendah oleh para ‘manusia’ yang mencambuk mereka sekarang. Darah yang keluar dari luka akibat cambukan mengalir bersama air hujan di tubuh mereka. Namun para pengawas seperti tidak mempedulikan hal tersebut, dan menganggap mencambuk para budak adalah tindakan agar mereka mau bekerja dan mematuhi perintah.


“Ayo turun, mereka akan menerima balasan sesaat lagi.


Zefanya turun dari atas tembok pelindung kota ketika mengajak Gita dan Ratna kembali setelah melihat pemandangan yang membuat kedua gadis tersebut miris.


“Ya, aku sangat ingin melihat mereka dihancurkan.”


Sebenarnya, Gita masih memiliki perasaan dendam yang terpendam setelah ayahnya terbunuh di medan perang ketika penyerangan besar pertama Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi. Sayangnya, dia tidak diijinkan melakukan tindakan pembalasan sendirian untuk membalas kematian ayahnya yang menjadi komandan Pasukan Ekspedisi saat itu, alias Jendral Sucipto. Bisa saja, ada orang-orang yang memiliki perasaan sama dengan Gita, dan akan melakukan balasan ketika kesempatan telah diberikan.

__ADS_1


Hujan turun dengan deras, seperti perasaan ingin membalas perbuatan para pemilik mereka. Para budak manusia dan monster sama-sama memiliki tatapan yang sama, meski mereka tahu tatapan tajam yang mengutuk para prajurit yang menyiksa mereka tidak membuat orang-orang tersebut gentar, dan semakin melakukan tindakan sesuka mereka terhadap para budak.


Di dalam hati, seluruh budak sama-sama memiliki perasaan dan rencana melakukan pembalasan untuk mendapatkan kebebasan. Yang mereka dapat lakukan saat ini adalah menunggu waktu dan kesempatan yang pas dan tetap menjaga kesabaran.


**


Lantai satu pada Labirin ini bukanlah tempat yang berbahaya seperti lantai tujuh hingga sepuluh, karena monster yang menghuni hanyalah monster lemah seperti goblin kecil atau semut raksasa. Sehingga, Rio dapat dengan mudah membunuh mereka menggunakan ‘Peluru Abadi’ yang dia banggakan.


Wajah puas ditunjukkan pria itu setelah dia berhasil membunuh satu goblin berukuran sedang dengan sekali tembakan. Monster yang baru saja dia bunuh tersungkur di depannya, membuat Rio merasa bahwa dirinya telah mengalahkan monster kuat.


Monster berbentuk mirip katak yang sebesar anak sapi muncul di belakang Rio, lalu menyemburkan cairan hitam. Pria itu tahu jika serangan monster katak tersebut cukup berbahaya, karena mampu membuat luka bakar derajat satu pada manusia. Setelah melompat ke samping untuk menghindari serangan monster katak, Rio menembak beberapa kali hingga monster tersebut mati.


Lantai satu yang berisi lawan tak terlalu menyusahkan membuat Rio memasang ekspresi santai, lalu melanjutkan penjelajahan untuk menemukan lawan selanjutnya.


Ketika Rio menemukan lawan, baik itu berupa goblin kecil maupun semut raksasa, dia tak peduli dan tetap melawan mereka meski monster-monster tersebut tentu saja tidak mampu membalas serangan darinya. Tidak terhitung berapa banyak monster yang dia kalahkan, namun itu justru membawa keuntungan bagi beberapa Penjelajah.


Para Penjelajah tidak perlu mengeluarkan tenaga ketika mereka melihat Rio yang dapat sangat mudah membunuh setiap monster yang berhadapan dengannya. Mereka hanya perlu mengambil beberapa bagian tubuh monster yang dapat dijual tanpa melakukan pertarungan yang mungkin akan melukai mereka.


Rio tidak peduli tentang barang berharga atau apapun itu, yang bisa membuat seseorang kaya mendadak. Dia merasa hanya perlu menjadi kuat secepat mungkin, lalu membalas perbuatan seseorang yang membuat wajahnya hampir hancur.


**


Berapa lama mereka bertarung melawan raja minotaur dan pasukannya?


Tentu saja mereka sudah bertarung beberapa jam hingga hari berganti. Tempat ini tidak tertembus oleh sinar matahari, sehingga tidak memberi tahu mereka waktu hari ini. Bisa jadi di luar Labirin sudah pagi atau siang. Meski Nio dan Hassan memiliki jam tangan, namun mereka tida terlalu mempedulikan waktu ketika bertarung.


Bulir keringat mengalir di pipi kanan Nio, lalu menetes ke tanah ketika dia melihat raja minotaur bergerak ke arahnya. Monster setinggi tiga meter tersebut memakai perlengkapan pelindung yang tampak terbuat dari logam, serta membawa senjata berupa kapak. Namun, perlengkapan tersebut seperti tidak dibuat oleh tangan para monster, mengingat kualitas yang diperlihatkan. Meski telah cukup berkarat, pelindung logam yang dipakai raja minotaur masih dapat memperlihatkan kilaunya.


Kemungkinan besar, peralatan yang dipakai raja minotaur berasal dari Penjelajah yang memiliki keberanian untuk berpetualang di lantai sepuluh ini. Lalu mereka mungkin terbunuh di tengah jalan oleh monster yang diperintah raja minotaur. Keberanian para Penjelajah lantai sepuluh Labirin ini patut dipuji, mengingat tempat ini dipenuhi hal baru dan berbahaya yang tak dapat ditemukan di luar Labirin. Sehingga, Nio menyimpulkan bahwa puluhan kerangka manusia yang dia lihat selama berada di tempat ini merupakan Penjelajah terdahulu.


Meskipun terdapat beberapa minotaur yang berukuran hampir sama dengan raja minotaur tersebut, namun mereka hanya seperti tidak memiliki kekuatan sekuat makhluk itu. Seluruh monster yang mengepung mereka tiba-tiba mundur, dan membuat perasaan Nio dan yang lain tidak menyenangkan.


“Nefe dan Sabole, tolong gunakan sihir pembeku kalian lagi!” Nio berteriak keras kepada kedua gadis penyihir tersebut, dan mereka berdua segera memanjat sebuah pohon dan berdiri pada salah satu dahan pada ketinggian empat meter dari monster besar yang terus bergerak ke arah Nio itu.


Nio merasa tidak enak meminta bantuan pada Sabole dan Nefe – yang merupakan penduduk dari negara ‘musuh’ – yang berarti meminta mereka untuk terlibat dalam pertarungan berbahaya ini. Tetapi, tidak ada pilihan lain, dan monster itu cukup kuat dalam menghadapi serangan Sakuya.


Gadis Jepang tersebut melompat lalu menebas secara horizontal yang mengarah pada leher raja minotaur, sayangnya makhluk itu dengan mudah menahan serangan Sakuya menggunakan pelindung yang dia kenakan.


“Sepertinya pelindung itu terbuat dari baja magis!” ucap Kardas dengan nada mengeluh.


Kardas dan Sayf diminta untuk menghadapi monster-monster yang lebih kecil, agar tidak mengganggu pertarungan utama melawan raja minotaur. Meski terlihat bergerak mundur, masih ada beberapa goblin kecil dan sedang yang berusaha mendekati medan pertarungan dan menyerang. Mereka berdua hanya perlu menahan, dengan bantuan Hassan sebagai pendukung, sehingga mereka berdua tidak mengeluh atas permintaan Nio.


Walau cukup takut dengan suara tembakan yang keras, Sayf dan Kardas mulai mencoba terbiasa setelah beberapa hari berpetualang bersama Nio di lantai sepuluh ini. Lagipula, senjata yang digunakan bawahan Nio itu sama dengan yang dimiliki pria itu, meski Nio lebih menyukai pertarungan jarak dekat, serta dampak yang dihasilkan sama – sebelum Nio memperlihatkan kekuatan ‘baru’ miliknya.


“Tolong serang goblin yang besar, kami akan menangani yang sedang dan kecil serta para kambrit.”


Hassan mengangguk sebagai tanggapan atas permintaan Sayf, lalu mulai menembaki satu per satu kepala goblin besar. Beberapa peluru juga mengenai kepala minotaur berukuran sedang yang berusaha membantu teman mereka untuk menyerang Kardas dan Sabole yang melumpuhkan monster-monster lain. Melalui pertarungan ini, Hassan dapat memahami jika makhluk liar yang diidentifikasi sebagai ‘monster’ memiliki kemampuan bertarung setara manusia, bahkan memiliki kecerdasan yang cukup untuk membuat manusia modern seperti dirinya dan Nio kagum. Dia menembak dalam mode putaran tunggal, karena magasin yang dia miliki tersisa tiga buah.


“… Ada yang datang!”


Hassan tiba-tiba berteriak dengan keras untuk memeringati Kardas dan Sayf jika dia melihat sesuatu yang besar mendekati mereka bertiga. Bahasa yang dia gunakan cukup dapat dimengerti oleh kedua gadis Penjelajah kelas petarung tersebut, meski Hassan sempat ragu akan hal itu. Mereka menyipitkan kedua mata untuk melihat apa yang akan datang kepada mereka.


Sayangnya, ada puluhan monster setinggi Hassan – atau 180 centimeter – bergerak cepat ke arah mereka bertiga. Itu adalah situasi yang tidak mungkin dapat mereka hadapi sendirian, tentu saja karena faktor jumlah kedua belah pihak.


Hanya ada satu kata untuk menggambarkan situasi itu, dan Hassan menyebutnya: mustahil.

__ADS_1


Dia melihat Nio tengah bertarung melawan goblin berukuran sedang dan minotaur ketika raja minotaur tengah dihadang oleh Hevaz dan Sakuya. Hassan tidak mungkin meminta bantuan pada mereka, dan merasa harus tetap menghadapi monster-monster yang terus mendekat meski mustahil dapat menahan mereka.


__ADS_2