Prajurit SMA

Prajurit SMA
80. Pertempuran kecil yang mudah 2


__ADS_3

20 September 2321, pukul 17.23 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, sore hari.


**


Menghadap seorang jendral, dapat membuat Nio tertekan dan semakin gugup. Setidaknya apa yang dia katakan tidak membuat gajinya dipotong.


Kalau saja dia berbicara dengan bebas kepada Sucipto, dapat dipastikan Nio benar-benar telah melakukan tindakan bunuh diri. Nio tidak pernah membayangkan akan menghadap jendral pasukan selama ini.


Nio tidak percaya akan mengatakan apa yang dia dengar dari Sigiz mengenai pembukaan Gerbang, namun Sucipto terlihat mempercayai apa yang dikatakan olehnya. Meski yang dikatakan Nio hanya seperti dongeng, namun ini dunia fantasi, dimana semua hal tidak masuk akan bisa terjadi.


Menciptakan sesuatu dengan tumbal, itu seperti dongeng yang tumbuh di masyarakat Jawa dan suku-suku tradisional lainnya. Tetapi dunia lain adalah dongeng itu sendiri, bagaimanapun semua yang dilihat disini harus dipercayai.


Dunia ini sangat berbeda dengan dunia asal, dimana tidak ada hukum yang melarang menggunakan manusia sebagai bahan pengorbanan. Meski beberapa negara kecil di dunia ini melarang menggunakan manusia sebagai tumbal, tetapi justru negara besarlah yang tidak melarang membunuh manusia demi hal tertentu.


Dalam perang, membunuh manusia adalah keharusan, namun itu tidaklah berdosa maupun dilarang karena dunia asal berperang dengan menerapkan hukum perang internasional. Meski beberapa golongan manusia dilarang dibunuh, tetapi dalam hal tertentu membunuh adalah kewajiban prajurit.


Dunia asal tidak menerapkan tumbal untuk menciptakan atau memanggil sesuatu, kecuali masyarakat Indonesia jaman dulu yang mengenal namanya ‘tumbal proyek’. Namun itu hanyalah istilah atau lelucon yang diciptakan anak muda sebagai bahan guyonan.


“Bagaimana caraku melapor pada Jendral Besar nanti?”


Nio juga merasakan hal yang sama dengan Sucipto, karena Nio diperintahkan untuk menuliskan semua hal yang ia dapatkan selama menjelajah. Itu berarti termasuk informasi yang dia dapatkan mengenai pembukaan Gerbang dari Sigiz.


Nio meminta ijin untuk berbicara kepada Sucipto.


“Saya akan menuliskan laporan mengenai pembukaan Gerbang, tapi mungkin saya akan merubah beberapa kata agar tidak terjadi hal buruk saat Jendral Besar menerima laporan ini.”


“Jangan ada kata ‘mungkin’, lakukan hal itu! Kamu benar, jika kita menuliskan laporan dengan kenyataan yang kamu dengar, pasti akan ada hal buruk.”


Sucipto dan Nio sama-sama bisa memikirkan hal buruk, yakni perang yang jauh lebih besar akan terjadi. Insting prajurit jenius memang jangan diremehkan.


Pemerintah Pusat takut dengan satu hal, yakni jika satu dunia lain memusuhi Indonesia dan negara dunia asal lainnya. Jika yang memerangi Indonesia hanya beberapa negara, itu memang masalah. Tetapi jika satu dunia ini memerangi Indonesia dan negara lainnya, itulah yang dinamakan masalah ‘maha’ besar.


Mata Nio mengamati tangan Sucipto yang menulikan surat perintah untuknya. Meski Nio sudah menyadari jika menulis laporan adalah tugasnya, tetapi jika mendapatkan surat perintah dari komandan pasukan ini, itu adalah tugas yang bisa dibilang sangat penting dan sangat rahasia.


Jika seseorang mengetahui jika Nio menuliskan laporan mengenai Gerbang, dapat dipastikan jika Nio akan mendapatkan sanksi. Namun itu tidak berlaku bagi Sucipto, karena dia adalah orang yang memerintahkan Nio.


“Lakukan tugas ini dengan sungguh-sungguh, aku berharap kamu sudah tahu sanksi jika seseorang mengetahui laporan ini.”


“Siap! Saya akan menjalankan tugas ini dengan rahasia. Tetapi, saya ada permohonan pada anda”


Sucipto memerintahkan Nio untuk mengatakan permohonan yang akan dia terima. Dia sadar jika Nio pasti tidak nyaman kalau harus menulis laporan mengenai pembukaan Gerbang.


“Saya harap laporan ini hanya Jendral Besar dan Presiden saja yang mengetahui. Jika Parlemen mengetahui laporan ini juga, mungkin mereka akan menyebar luaskan ke masyarakat.”


“Aku paham kekhawatiranmu. Serahkan saja padaku.”


Sucipto menyerahkan surat tugas kepada Nio, ini adalah tugas rahasia pertama Nio sejak bergabung dengan TNI cabang Tentara Pelajar.


Tidak ada keraguan dalam diri Nio untuk menuliskan laporan mengenai pembukaan Gerbang, karena keraguan bisa membunuh prajurit. Mungkin prajurit telah diajari untuk mengatasi keraguan, namun perasaan itu adalah sifat dasar manusia.

__ADS_1


Meski Nio berjuang keras untuk mengatasi keraguannya, namun setidaknya dia masih memiliki sedikit perasaan yakin untuk bisa melaksanakan tugas ini.


Tugas ini jauh lebih berbahaya daripada menghadapi ratusan ribu pasukan monster, itulah yang membuat keraguan merasuki hati Nio.


Buang saja rasa ragu itu!


**


Hal pertama yang dilakukan Rantz setelah mendengar jika 5.000 pasukan yang dia kirimkan mengalami kekalahan adalah menghantam meja bundarnya. Namun meja itu tidak mengalami kerusakan sama sekali, hanya tangan Rantz yang terlihat memerah dan dia sendiri yang nampak kesakitan.


Jarak pasukan pimpinan Rantz dengan wilayah sekitar Gerbang saat ini adalah satu hari perjalanan. Beberapa pasukan telah bergerak terlebih dahulu ke Tanah Suci, dan sisanya tinggal menunggu perintah Rantz untuk bergerak.


Rantz membagi pasukannya menjadi dua, dan akan menyerang dengan dua gelombang yang jaraknya tidak terlalu lama. Pasukan yang diperintahkan untuk menjebol benteng musuh adalah pasukan kejutan, pasukan itu diharapkan dapat mengurangi kekuatan musuh. Namun yang terjadi, sebagian besar dari mereka mati dan menjadi tawanan. Hanya beberapa puluh orang saja yang bisa kembali.


Kekaisaran tidak akan memberikan Rantz pasukan tambahan, itu hanya akan mengurangi kekuatan militer yang sudah melemah.


‘Kekuatan adidaya yang luar biasa’, namun militer Kekaisaran Luan sekarang hampir tidak sebanding dengan Kerajaan Arevelk dan negara yang berada di benua tetangga.


Sejauh keterlibatan Rantz dalam peperangan invasi perluasan wilayah Kekaisaran, dia belum sekalipun mengalami kekalahan. Namun, pasukan yang akan ia hadapi sangat misterius kekuatannya, kurang dalam sehari pasukan yang ia kirimkan hampir dimusnahkan.


Pembawa berita belum tiba di perkemahan, dimana mereka mendapatkan tugas untuk memantau pergerakan pasukan Kerajaan Arevelk.


“Kurasa masuk akal kalau Sheyn terlihat cemas saat mendengar nama pasukan yang menguasai Gerbang.”


Rantz berbicara dengan nada setengah hati, sekaligus rasa kesal yang memuncak. Di depannya terdapat segelas anggur, minuman itu tidak dia nikmati tetapi hanya menatap bayangan wajahnya yang menemui kegagalan pertama selama menjadi komandan pasukan.


Seharusnya, 5.000 prajurit yang dia kirimkan bisa mengurangi setidaknya sedikit dari kekuatan musuh. Jumlah tersebut jika berada dalam misi invasi, dapat untuk mengurangi sebagian pasukan Kavaleri.


“Ya, mungkin mengirim kekuatan kecil adalah pilihan buruk. Tapi, setelah ini pasti orang-orang dunia lain itu akan terkejut dengan kekuatan penyihir militerku.”


Rantz meminum sedikit anggur yang merupakan jenis minuman termahal di dunia ini, karena memang dibuat di penyulingan terkenal. Dia merasa yakin jika 10.000 penyihir militer terbaiknya mampu untuk membuat pasukan penguasa Gerbang gentar, dan mundur ke dunia asal mereka.


Tujuan Rrantz mengirimkan pasukan kecil itu adalah, untuk melucuti senjata musuh dan menjadikannya sebagai milik Kekaisaran. Kalau dilihat dari akal sehat, tujuan Rantz hanya membuat pasukannya mati dengan sia-sia, dan membuat pasukannya mengalami kerugian.


Dia sendiri hanya menilai kekuatan musuh dari berita yang dikatakan orang-orang, namun Rantz belum pernah melihat satu pun prajurit musuh.


Tidak sedikit jendral pasukan yang meragukan kemampuan Rantz memimpin pasukan dengan kekuatan 142.100 prajurit. Para jendral ini merasa tidak sudi untuk menjadi babi yang bisa diperintah Rantz.


Para jendral hanya terkesan dengan kemampuan sihir yang dimiliki Rantz, dimana dia adalah prajurit penyihir militer terkuat milik Kekaisaran Luan.


Mendengar pasukan yang dikirimkan Rantz hampir dimusnahkan, situasi pasukan menjadi kritis. Para prajurit berpikir jika mereka akan mati besok saat melawan pasukan penguasa Gerbang tanpa melakukan apapun.


Kehidupan di medan perang di mana hari esok tidak dijamin. Nasib pasukan ini berada di tangan Rantz.


Tapi Rantz tidak mau berpikir, dia takut mati saat memikirkan lebih dalam mengenai kekuatan musuh.


Hingga tiba seorang pembawa berita memasuki tenda yang dihuni Rantz, keadaan orang itu penuh dengan darah milik kawannya yang dibunuh pasukan Kerajaan Arevelk.


“Ada apa? Kenapa kau penuh dengan darah?”

__ADS_1


Rantz mengira jika pasukan Kerajaan Arevelk telah berada di dekat pasukannya.


“Dalam satu hari perjalanan, pasukan Kerajaan Arevelk akan tiba di wilayah sekitar Gerbang.”


Pembawa berita nampak terkena serangan mental juga, namun dia masih bisa berbicara dengan jelas yang menandakan jika serangan mental yang ia alami tidak parah.


Beberapa detik kemudian, Rantz baru menyadari jika musuh bebuyutan Kekaisaran sudah mendekati pasukannya.


Rantz tidak diberi waktu jeda untuk memikirkan tindakan untuk pasukannya, para jendral pasukan telah menyiapkan pertemuan untuk membahas strategi untuk peperangan nanti.


Di saat yang seperti ini, terkena serangan mental adalah hal yang mudah.


**


Para raja negara yang tergabung dalam pasukan gabungan lima negara berkumpul di istana Raja Lukav, di ibukota Kerajaan Hrabro. Tentu saja pertemuan ini akan membahas perang yang belum mereka akhiri.


Namun, beberapa raja mungkin memiliki pemikiran sendiri untuk perang ini. Para pemimpin harus memperhatikan keadaan negaranya, tidak selamanya negara mereka akan berperang dengan pasukan yang memiliki kekuatan tidak masuk akal.


Dalam saat-saat genting dalam perang, berdamai adalah pilihan yang tidak terlalu buruk, meski itu mungkin akan merugikan negara para raja-raja ini.


“Aku tidak akan berdamai dengan pasukan dunia lain itu!”


Bogat mempertegas keputusannya dalam pertemuan ini, dimana dia dibujuk Raja Takobi untuk berdamai dengan pasukan dunia lain.


Raja Takobi, Raja Ban Mamaki dan Raja Serca adalah pemimpin negara yang berencana untuk berdamai dengan pasukan dunia lain. Dan hanya menyisakan Kaisar Bogat dan Raja Lukav yang ingin memenangkan perang ini bagaimanapun caranya.


Ketiga raja tersebut telah menarik pasukannya yang tergabung dalam pasukan gabungan lima negara. Pasukan ini berencana untuk melakukan serangan kembali kepada pasukan yang menguasai Gerbang. Ketiga raja tersebut telah sadar jika perang ini hanya membuat kerugian yang sangat besar bila terus dilanjutkan.


Itulah pentinganya mengamati kekuatan musuh sebelum berperang. Namun Kekaisaran Luan dan Kerajaan Hrabro nampaknya tidak mau repot-repot untuk melakukan hal itu.


Masalah yang dihadapi kedua negara itu, karena Kekaisaran Luan dan Kerajaan Hrabro adalah negara yang kuat, dan mendekati menjadi negara adidaya di dunia ini.


Intinya, mereka terlalu meremehkan pasukan dengan jumlah kecil yang membangun benteng yang mengelilingi Gerbang.


Sebuah masalah kembali muncul saat Bogat mengirimkan pasukan untuk menyerang dua kekuatan sekaligus, yakni pasukan dunia lain dan pasukan Kerajaan Arevelk.


“Apa dia sudah terlalu tolol?”


Para raja yang merencanakan perdamaian berpikir seperti itu terhadap Bogat. Mereka berpendapat jika Kekaisaran Luan dan Kerajaan Hrabro merencanakan sesuatu yang besar yang akan mengantarkan kedua negara tersebut merebut kemenangan.


Lagipula, ketiga raja itu sudah bulat dengan keputusan mereka. Semua yang mereka rencanakan demi pasukan dunia lain yang brutal itu tidak menyerang negara mereka.


Terlepas dari semua rencana perdamaian yang telah disusun, ketiga raja itu masih menyusun kembali kekuatan militer mereka. Ketika muncul tanda-tanda konflik, maka negara mereka siap untuk menghadapinya. Namun, mereka berharap yang menjadi musuh bukan pasukan dunia lain yang menguasai Gerbang.


Tentunya, Kekaisaran Luan dan KerajaanHrabro masih memiliki percaya diri dapat memenangkan perang yang luar biasa ini. Mereka percaya dengan persenjataan, jumlah pasukan dan medan wilayah yang akan segera memastikan kemenangan mereka.


Namun, bukan berarti pasukan yang mereka musuhi tidak memiliki senjata selain yang memiliki daya ledak besar.


Kedua negara itu terus menyebarkan propaganda untuk menarik simpati para warganya agar mendukung negara memenangkan perang ini.

__ADS_1


Di dunia ini, kata-kata adalah segalanya, selain uang dan jabatan tentu saja.


__ADS_2