Prajurit SMA

Prajurit SMA
Mimpi sebuah negara


__ADS_3

Aliran sungai darah di seluruh medan perang, juga mayat-mayat bergelimpangan di sana-sini, menciptakan pemandangan memilukan dan menjijikkan ala medan perang.


Lokasi: pesisir Kota Wonogiri.


Jumlah musuh ribuan tentara manusia dan monster serta kapal perang, sedangkan kawan 200 orang tanpa kendaraan berat darat, dan bantuan tembakan dari laut maupun udara.


Tampilan hologram muncul di helm salah satu prajurit Indonesia yang baru sadar dari pingsannya.


[Prajurit Dua ‘TRIP’ Nio Candranala.


Status: hidup, dan berjuang dengan berani.


Senjata: SS-17 V-1, amunisi tersisa 100 butir


Cedera: tidak terdeteksi]


Suara hiruk-pikuk menyadarkan Nio, membuatnya melihat keadaan dirinya saat ini melalui hologram pada helm tempurnya. Transmisi radio yang terpasang pada helm Nio membuat pemuda tersebut mendengar teriakkan rekan dan musuh yang terbunuh dengan berbagai cara.


“Komando ke seluruh regu! Kekuatan sebenarnya musuh telah terkonfirmasi. Kami mengkonfirmasi unit musuh sebesar lima resimen yang terdiri pasukan manusia, kadal terbang, dan monster. Jumlah kapal musuh sebanyak 30, kita tidak mendapatkan bantuan dari satu KRI pun!”


“Tidak mungkin! Mereka akan membantai kita!”


“Apa perintah mundur belum diberikan?!”


“Negara berencana membuat tempat ini menjadi kuburan masal kita!”


Para komandan regu hingga kompi menyuarakan protes memilukan seperti itu, namun komandan regu yang menjadi atasan Nio justru menjawab, “Dimengerti, di sini komandan Regu 1. Saya bisa merasakannya dari sini.”


“Perintah selanjutnya akan diberikan ke seluruh komandan di medan juang segera. Tunjukkan rasa terima kasih kepada tanah air kalian dengan darah dan daging, dan pertahankan Republik dengan nyawa kalian.”


Hanya segelintir tentara – termasuk Nio walau dengan wajah gentar – yang menjawab perintah menjijikkan itu dengan berkata, “Siap! Mengerti!”


“Nio, dan semuanya. Aku minta maaf,” ucap komandan Regu 1 sambil tersenyum kecil, dan mengokang senjata tua-nya.


Tampilan hologram pada helm masing-masing prajurit gabungan TNI dan TRIP menunjukkan lokasi dan kecepatan musuh bergerak ke arah mereka, menyebabkan seluruh tentara gemetar dan gentar.


[Status senjata: siap. Jumlah peluru: 100 + pisau tarung. Jumlah rekan satu regu: 13. Pergerakan musuh: aktif]


Tampilan hologram pada helm Nio kembali muncul, dan dia meneguk ludah dengan wajah gelisah.


“Komandan Regu 1 ke seluruh unit. Komando telah memberikan perintah. Untuk selanjutnya, aku akan mengambil alih komando pertempuran.”


“Apa?!”


Pria muda yang menjadi atasan Nio sadar jika salah satu bawahannya itu akan mengatakan hal tersebut dengan wajah terkejut bercampur takut.


Lalu, komandan Regu 5 menjawab pernyataan komandan Nio, “Dimengerti, komandan Regu 1. Strategi sama seperti sebelumnya, kan? Buat para pengecut di pemerintahan dan militer sadar akan perintah mereka!”

__ADS_1


Suara di seluruh saluran radio komunikasi seluruh prajurit dipenuhi ucapan penuh keberanian yang setengah-setengah, dan tawa yang menyedihkan.


“Anjing-anjing seperti ‘mereka’ ternyata tidak pernah berubah. ‘Mereka’ hanya memerintahkan kita mati, sementara itu ada banyak rakyat yang membutuhkan kita. Telinga dan mata mereka hanya mendengar dan melihat uang dan kekuasaan tidak berguna, padahal mereka juga akan mati jika tidak ada kita kan? Semua unit, buat anjing-anjing buncit itu sadar, dan lari menuju kematian dengan yakin. Biarkan surga menyambut kita dengan bidadari-bidadari yang sempurna!”


Ucapan komandan Kompi 2 bergema di seluruh radio komunikasi prajurit, membuat Nio semakin lemah genggaman tangannya pada pistolgrip senapan-nya. Usaha Nio mengumpulkan keberanian hanya menjadi hal sia-sia saat jalan kematian yang nyata terbentang luas di depannya.


“Komando melapor. Pengebom akan tiba dalam 2 jam. Musuh mendekat ke garis pertahanan dalam seratus dua puluh detik. Berjuang untuk menembus pasukan utama musuh, hingga pengebom tiba!”


“Bajingan! itu terlalu lama!”


“Benar! dan meski para pengebom berhasil menghancurkan musuh, semua prajurit di sini mungkin sudah jadi mayat!”


[Bersiap bertarung!]


Hologram transparan pada kaca helm Nio berubah menjadi warna merah, menunjukkan bahwa pertumpahan darah segera terjadi.


“Ayo lakukan ini, Nio!”


Atasannya sekali lagi berusaha membuatnya tenang, meski Nio sendiri tidak mampu mengatasi tangannya yang gemetar hebat, yang merambat hingga ke kedua kakinya.


Begitu naga-naga dan Wyvern musuh menyemburkan api panas mereka, pasukan seketika berubah kacau dan berlarian tanpa arah.


Saat kuda-kuda kavaleri berat menabrak prajurit yang telah kehabisan moral, mereka dengan mudah menghancurkan tekad para tentara amatir. Pedang-pedang besar infanteri berat dengan mudah memenggal kepala dan membelah tubuh prajurit TNI, mereka bersorak dengan kemenangan yang akan mereka raih ini.


Sorakan pasukan musuh dan bunyi logam yang saling berbenturan menggema di medan perang, membuat semangat juang prajurit turun drastis hingga ke dasar keputusasaan.


“Komandan Regu 3 ke seluruh anggota! Jangan coba melarikan diri, kita akan membantai musuh di perang ini!”


“Komandan Regu 2 gugur! Komandan Regu 1 akan mengambil alih komando!”


“Komando ke Komandan Regu 1! Ijin mengambil alih komando diberikan!”


“Musuh membantai Peleton 3! Maaf, ini akhir untuk sayap kanan”


“Komandan Peleton 1 ke Peleton 3! Tunggu sebentar lagi! Regu 1 kami sedang berjuang di dekat kalian!”


“Diterima. Semoga beruntung”


[Sisa jumlah kawan: 180]


[Sisa jumlah kawan: 150]


[Sisa jumlah kawan: 137]


[Sisa jumlah kawan: 91]


[Sisa jumlah kawan: 84]

__ADS_1


[Sisa jumlah kawan:79]


[Sisa jumlah kawan: 53]


Saat tampilan itu muncul di hologram kaca helm Nio, suara embusan napas berat terdengar dari remaja 17 tahun tersebut. Angin laut dari Pantai Nampu mengganggi Nio menikmati kegelisahannya di pertarungan ini.


“Komandan Regu 1 ke komando! Kekuatan kavaleri musuh telah dikurangi sebagian besar. Namun, kadal-kadal terbang musuh adalah sumber masalah sebenarnya!”


Nio bersandar di dinding rumah penduduk sipil yang rusak berat, dan merogoh kantong granat untuk meledakkan sekelompok musuh yang mendekat ke arah rekan-rekannya. Hati Nio yang dipenuhi rasa resah membuatnya tidak bisa menekan pemicu granat dengan benar, dan membuatnya menekan tombol pemicu untuk peledakan dalam waktu 5 detik.


Tanpa pikir panjang, dengan takut Nio melempar granatnya ke barisan musuh yang mengepung teman-temannya. Dan dalam sepersekian detik, granat dengan daya ledan tinggi menghempaskan delapan tentara musuh, dan menyelamatkan anggota Regu 1 lainnya walau mendapatkan luka ringan akibat serpihan cangkang granat yang melesat ke segala arah dalam kecepatan tinggi saat meledak.


“Nio! Berapa kali kau akan membuat teman-temanmu hampir terbunuh karena kurangnya kemampuanmu menekan rasa takut?!”


“Ma-maafkan saya…”


Jawaban Nio dengan suara lirih sangat tidak disukai komandannya, karena terkesan seperti sama sekali tidak memiliki semangat bertarung. Rekan-rekan yang diselamatkannya menatapnya dengan tatapan tajam, dan tidak suka dengan cara Nio melancarkan serangan secara tiba-tiba. Nio menilai mereka telah menetapkan dirinya sebagai salah satu orang paling mereka benci.


Sebelum tatapan kebencian teman-teman Nio, dia mengalihkan pandangannya ke arah pantai.


Tidak hanya puluhan kapal perang milik musuh yang bergerak ke Pantai Nampu. Kapal-kapal berukuran kecil hingga besar berjumlah total ratusan, tidak ada waktu untuk menghitung satu persatu. Di tepi pantai, ratusan prajurit musuh terbunuh, dan tubuh-tubuh teman tanpa nyawa tergeletak dan meciptakan sungai darah baru yang mengalir ke laut.


Wyvern yang bertengger di kapal induk musuh mulai lepas landas, saling berteriak untuk memberkan efek gentar kepada pasukan TNI. Meriam-meriam dan sihir pertempuran jarak jauh para penyihir di kapal di arahkan ke pasukan di darat yang tidak jauh dari pantai.


Tidak ada harapan yang tersisa di medan perang, kecuali keputusasaan yang menjalar ke seluruh sisa prajurit TNI. Di sepanjang mata memandang, yang ia lihat selain mayat-mayat adalah teriakkan di dalam hati prajurit-prajurit yang masih hidup. Keheningan dan sorakan kemenangan pasukan musuh meresahkan Nio.


Di negeri yang hampir sekarat ini, seluruh orang yang bisa bertarung akan dikerahkan, dengan imbalan materi jika berhasil bertahan hidup, atau kematian yang mulia, perlahan, dan menyakitkan.


Prajurit hidup, tapi tak bernyawa. Prajurit mati, tapi tak kehilangan nyawa.


Siluet yang terlihat di laut bukanlah kapal perang TNI AL ataupun kapal perang bantuan negara sekutu yang mustahil terjadi. Ratusan meriam pada kapal perang musuh telah selesai dimuat, kadal-kadal terbang musuh semakin mendekat, dan siap menyerang dan menembak saat perintah diberikan.


Karena tidak memiliki apapun untuk diharapkan, sisa prajurit TNI di dekat Pantai Nampu membuang senjata masing-masing, dan memasang badan untuk menjadi mayat di tangan musuh. Namun, teman yang sebentar lagi akan mati menyeret tubuh sekarat mereka untuk memerntahkan rekan yang masih hidup untuk memungut kembali senjata mereka, dan melanjutkan perjuangan walau berakhir sia-sia.


Nio dengan wajah yakin bercampur takut berdiri, lalu mendesah satu napas panjang.


Saat ia melakukan hal itu, puluhan jet tempur dan pesawat pembom pejuang udara TNI AU terbang di langit, melepaskan seluruh senjata dan amunisi yang dibawa, membantai pasukan musuh yang tersisa di darat, udara, dan laut.


**


Sebuah negara yang bermimpi menjadi kekuatan utama di dunia kini dapat bercerita tentang perdamaian yang lahir dari perjuangan berdarah menyakitkan dan berani para prajurit mereka yang perkasa. Perdamaian yang diraih di atas darah yang tumpah dan mayat para pejuang yang dibantai musuh-musuh barbar.


Ingatan masa lalu yang cukup meresahkan jika diingat kembali, membuat Nio tersadar dari tidur lama 3 harinya. Walau cukup menyakitkan, kegilaan perang itu akan terjadi hingga waktu yang belum di tetapkan selama musuh tetap ada.


Perang tidak akan benar-benar musnah dari dunia.


**

__ADS_1




__ADS_2