Prajurit SMA

Prajurit SMA
Target 3: Senyum yang dipenuhi air mata


__ADS_3

Sebuah pertarungan yang tidak masuk akal, lebih dari lelucon dari pelawak terkenal di dunia. Usaha Candranala menghadapi Rio adalah pemandangan yang tidak bisa dipercaya, memulai perlawanan menghadapi Pahlawan Amarah merupakan tujuan gila dari apapun. Namun, fakta dia telah bertahan hingga sekarang merupakan keajaiban.


Candranala jauh lebih lemah dalam daya tembak, kekuatan, dan jumlah. Di dunia ini, bertarung menghadapi sosok bernama Pahlawan tidak bisa dianggap sebagai pertarungan, tetapi karena Candranala adalah target yang diincar oleh Rio, dia melawan meski nyaris tidak bisa melakukan serangan balik … tidak, seharusnya Candranala sudah mati jika tidak ada pasukan tambahan dari markas pusat.


“Mantap. Memang tidak bisa dipercaya mereka mengirimkan aset berharga itu …” gumam Candranala di tengah Rio dan pasukan Pahlawan itu yang semakin mendesak dirinya.


Helikopter angkut melintasi hutan lebat – tempat Candranala bertempur menghadapi Rio dan pasukannya – membawa robot tempur berbagai tipe yang digantung di bawah capung besi menggunakan kawat baja lentur. Di sekeliling helikopter angkut, capung besi penyerang menghujani pasukan Aliansi di bawah menggunakan roket dan meriam, membuat hujan api surga yang turun dari langit. Begitu benda panjang berekor api – senjata mematikan dari dunia lain – menghantam tanah, tidak ada apapun selanjutnya kecuali serpihan zirah logam dan jeritan menyakitkan tentara Aliansi yang menemui kematiannya.


Begitu operator robot tempur mengenakan seragam pilot masing-masing, duduk di kokpit dan kedua tangan memegang tongkat kendali, mereka siap menjadi pasukan logam bergerak yang jauh lebih kuat dari Ogre lapis baja milik Aliansi. Jumlah robot tempur berkaki dua sekitar 10, dan 6 robot tempur berkaki enam – bertipe laba-laba, sering disebut sebagai tank laba-laba. Seluruh senjata perlawanan dimuat, dan seluruh operator terjun untuk bergabung ke dalam pertempuran.


Tank laba-laba dipersenjatai oleh meriam 105mm hingga 155mm, tergantung tipe. Seluruh tank laba-laba yang diterjunkan dalam pertempuran ini milik kontingen Korea Utara, dan kontingen Iindonesia serta Rusia mengirimkan masing-masing 5 robot tempur berkaki dua, dipasangi senapan mesin berat 14,5mm dan peluncur peluru kendali portabel pada masing-masing bahu kanan robot.


Monster-monster lapis baja Aliansi segera menghadang robot-robot tempur, mendengus hingga mengeluarkan asap dari lubang hidung mereka, dengan senjata siap. Sayangnya, hal itu belum mampu membuat para operator robot tempur gentar.


Puluhan drone-drone udara tanpa operator berbentuk kupu-kupu terbang di langit medan perang para robot tempur, berfungsi sebagai pengirim informasi keadaan pertempuran melalui jaringan nirkabel, berkorban untuk superioritas para logam-logam bergerak tersebut. Intinya, kupu-kupu tersebut berfungsi sebagai mata tambahan bagi operator yang hanya bisa melihat ke depan dalam pandangan terbatas.


Para Gandiwa – robot tempur berkaki dua milik kontingen Indonesia – berdiri di depan barisan puluhan Ogre lapis baja setinggi tiga meter. Tinggi senjata itu sekitar 2,8 meter, hampir sama dengan tinggi tank medium. Namun, tampaknya monster-monster itu tidak merasakan bahwa lawan di depan mereka mengancam.


(olog note: Gandiwa adalah busur suci milik Arjuna – salah satu Pandawa – yang dilengkapi tabung berisi anak panah tak terbatas)


Drone kupu-kupu mentransfer rekaman dari sensor optik ke seluruh Gandiwa, tank laba-laba, dan robot tempur berkaki dua milik kontingen Rusia, setelah melihat gerombolan monster lapis baja berjumlah ratusan berlari ke arah mereka. Informasi mengejutkan itu membuat para operator agak gentar, namun tetap yakin jika senjata mereka mampu menghancurkan para monster lawan itu.


Kemudian, penembak pada 6 tank laba-laba memutar turret meriam 105mm dan 155mm-nya ke arah gerombolan monster yang masih bergerak. Meriam tanpa tolak-balik tersebut meraung, menembakkan peluru dengan kuat dan menghancurkan, melepaskan peluru berdaya ledak tinggi yang dapat menghancurkan sebuah peleton tank tempur utama dalam kecepatan suara.


Namun, para kavaleri senapan Aliansi mendukung serangan para monster, tanpa menghiraukan bunyi ledakan yang memekakkan telinga dari meriam para hewan besi berkaki enam milik Persekutuan tersebut. Beberapa tembakan keberuntungan menghancurkan drone kupu-kupu, mengacaukan penglihatan tambahan para operator hewan aneh musuh. Granat asap para kavaleri senapan dilemparkan, menghalangi jarak pandang operator robot tempur. mengambil keuntungan dari binatang aneh lawan yang tak bergerak, satu kompi kavaleri senapan menghujani monster logam tanpa henti, hingga laras senapan sangat panas.


Senjata utama Gandiwa – senapan mesin berat 14,5mm dan rudal anti-tank – lebih kuat dari SP-1 yang dioperasikan kavaleri senapan Aliansi. Senjata berat binatang logam aneh berkaki dua itu menghancurkan barisan kavaleri senapan Aliansi yang rentan, dan para Gandiwa serta robot tempur kontingen Rusia menghancurkan superioritas sesaat kavaleri senapan Aliansi.


Ledakan besar dari peluru berdaya ledak tinggi terjadi, menghempaskan kurang dari 80 monster lapis baja Aliansi ke segala arah. Bongkahan-bongkahan zirah pelindung dan anggota tubuh monster menghantam sejumlah rumah warga sipil, dan membuat kerusakan ringan seperti dinding kayu berlubang atau darah yang mengotori teras.


Enam kaki tank laba-laba melangkah untuk mendekati sebuah batalyon monster lapis baja Aliansi – yang diperkirakan memang berjumlah kurang dari 2.000 tentara monster - dengan meriam telah dimuat. Asisten operator tank laba-laba menembakkan senapan mesin 12,7mm untuk mengurang rintangan, dan membuat semakin banyak monster terpancing suara tembakan. Hal itu memaksa operator utama yang merangkap sebagai penembak meriam merobohkan barisan rapat pasukan monster dengan superioritas daya tembak meriam.


Gerombolan monster berjenis Orc muncul dari sisi kanan barisan tank laba-laba kontingen Korea Utara. Asap akibat ledakan menutupi bidang pandang, membuat para operator laba-laba baja agak terkejut. Untungnya, para Gandiwa membantu unit tank laba-laba menghancurkan penghalang mengganggu dengan peluru kendali anti-tank masing-masing. Pada setiap peluncur, berisi 6 rudal untuk menghancurkan tank tempur utama, dan jika dalam keadaan mendesak mampu menghancurkan sebuah peleton infanteri.


Tank laba-laba kembali memutar turretnya, dan dan lesatan peluru yang ditembakkan menembus semua monster yang menghalangi lajunya, menciptakan lubang menganga di setiap tubuh monster yang gagal menghindar, dan berakhir dengan ledakan kejam.


Dengan sabar, para operator robot tempur menunggu asap abu-abu yang menutupi medan perang menghilang. Begitu kabut pertempuran menghilang, seluruh senjata robot tempur siap, begitu pula dengan sejumlah Ogre lapis baja raksasa yang berlari dengan pentungan berduri terangkat di atas kepala.


Operator sebuah Gandiwa terkejut dengan kedatangan lima Ogre lapis baja yang mengeluarkan raungan mengerikan dari sisi kirinya.

__ADS_1


“Sialan!” walau dia sudah mengumpat, namun tetap saja gagal menghindari tebasan pentungan berduri salah satu Ogre.


Monster-monster yang terlatih tentu saja bergerak untuk menghancurkan binatang besi dari dunia lain, juga untuk menghancurkan kekuatan tambahan musuh. Dalam gelombang serangan tanpa henti, para monster berhasil mengepung seluruh robot tempur Pasukan Perdamaian. Bahkan, jika ada unit bantuan yang berusaha menyerang, monster-monster Aliansi yang tersebar dan bertarung dengan insting binatang akan langsung menghambat.


Sayangnya, monster-monster yang dimiliki pasukan dunia lain tidak terbatas pada binatang logam yang sedang dihadapi para kavaleri senapan Aliansi dan monsternya.


Sebuah capung besi serba guna mengangkut dua puluh prajurit ketiga kontingan negara dunia lain. Senapan serbu serta mesin sedang para prajurit menghujani monster-monster di bawah, menyerang setiap monster yang membahayakan rekan-rekan di darat. Beberapa orang menjatuhkan granat, seperti sedang melemparkan uang kepada orang-orang di bawah.


Lalu, dua helikopter serang menghamburkan peluru meriam otomatis 20mm dan 30mm ke barisan kavaleri senapan Aliansi tanpa henti, disertai lesatan beberapa roket dan bom pintar. Seluruh bom serta roket membombardir mereka dari langit, menghancurkan dan memaksa lawan untuk berjuang dengan putus asa. Namun, untuk setiap prajurit Aliansi yang terbunuh, akan ada tentara tambahan untuk menggantinya. Artinya, musuh menyerbu tanpa henti, itu yang terlihat.


Robot-robot tempur biasanya tidak akan pernah terlibat di dalam medan perang yang penuh sesak seperti sekarang, di antara serbuan tanpa henti dari pihak lawan.


Walau suku cadang robot tempur melimpah, namun persediaan manusia untuk berperang sangat terbatas. Tetapi, seiring bertambahnya tahun, salah satu negara makmur di dunia lain ternyata menyadari bahwa memperhatikan kesejahteraan serta keselamatan prajurit sangat penting.


Namun, untuk menghadapi pertempuran, seorang prajurit membutuhkan tekad.


Candranala kehilangan beberapa kesempatan, dengan alasan terlalu terpesona dengan serbuan pasukan bantuan. Tekad mulai terbentuk, dan mengisi celah di hatinya. Perhitungan kesalahan, kelelahan, dan semangat berjuang sama, ditambah usaha yang membebani pikiran dan tubuhnya. Bahkan seorang veteran tetap akan lelah terus-terusan menyelamatkan diri dari pertarungan tak masuk akal.


“Seluruh orang berpencar! Lindungi Komandan!”


Hassan berteriak setelah melompat dari kendaraan taktisnya, suaranya tak karuan karena kelelahan. Dengan berani, seluruh anggota Tim Ke-12 membayar kesalahan mereka dengan bergabung ke dalam pertempuran Candranala menghadapi salah satu Pahlawan milik Aliansi.


Beberapa detik kemudian, Edera, Huvu, Ebal, Sigiz, dan Hevaz bergabung, bersama para Pembunuh Senyap yang bertengger di dahan beberapa pohon di sekitar kaveleri senapan Aliansi mengepung Candranala. bantuan dari Zariv dan Lux belum tiba, begitu juga dengan bantuan tambahan dari Yekirnovo yang dipimpin oleh Sheyn.


“Sudah kubilang. Aku yang sekarang memiliki kekuatan untuk menghancurkan semua musuh Aliansi! Akan kuhancurkan wajah jelekmu itu, Candranala!”


Kegelapan hutan bertambah suram saat kedua lengan bayangan di punggung Rio mengarahkan SS2 bayangannya pada Candranala. Wajah pria itu tersenyum kejam, dan sudah membayangkan apa yang akan dia lakukan jika Candranala berhasil didapatkannya. Menghancurkan mental Candranala adalah pilihan terbaik, dan Rio telah menemukan berbagai cara untuk melakukannya jika targetnya berhasil ditangkap.


Dia tersenyum seperti setan, yang sebentar lagi hendak mencabut nyawa seseorang yang telah menemui takdir kematiannya.


“Bagaimana? Tawaran yang tidak terlalu buruk, kan?” ucap Rio lagi.


Melihat ‘mantan’ sahabatnya benar-benar seperti orang asing, Candranala merenungkan bagaimana cara memenangkan pertarungan dan mengembalikan Rio seperti sebelumnya. Pertarungan ini adalah pertaruhan, tetapi di saat yang sama dia telah mendapatkan bantuan lebih dari cukup, yakni para bawahannya dan orang-orang yang telah bersumpah setia padanya.


“Hei, Rio – “ sebelum Candranala menyelesaikan perkataannya, Pahlawan Amarah memotongnya dengan berbicara keras:


“Panggil aku Tuan Rio, calon budakku!”


Wajah Candranala berubah menjadi kusut, dengan alis kirinya berkedut. Mata kirinya seperti tentara yang hatinya terluka.

__ADS_1


“Aku hanya ingin tahu keadaan Indah.”


Mendengar nama seorang gadis yang tidak dikenal, seluruh gadis seketika menoleh ke arah Candranala dengan wajah super penasaran. Namun, di tengah pertempuran yang menentukan tidak mungkin untuk mengajukan pertanyaan sepele seperti “Candranala! Siapa Indah yang kamu maksud?!”, atau akan berakhir perkelahian memetikan seperti orang yang ketahuan selingkuh.


“Oh, kau punya kata-kata terakhir untuknya?” tanya Rio dengan tatapan sinis.


“Ya, betul. Dia pernah jadi teman kita, dan pacarku. Saat Jonathan tahu kau dan Indah berjuang bersama Aliansi … hah, kau bisa membayangkannya sendiri kan? – ”


“Ini tidak ada hubungannya dengan Jo! Langsung katakan kata-kata terakhirmu sebelum menjadi budakku!”


“Oy, bajingan! kalau ada orang ngomong jangan asal potong!”


Suara Candranala nyaring, dan mengejutkan semua orang, dan kedua SS2 bayangngan Rio menembakkan beberapa peluru bayangan setelah mendeteksi ancaman dari Candranala. Tembakan ancaman mendarat di depan bot tempur Candranala, membuatnya semakin marah.


“Aku ingin kau dan Indah kembali, jika ada kesempatan. Aku masih mengharapkan perjuangan keren bersama kalian,” kata Candranala bernada tegas.


“Untuk apa aku harus kembali, membantu Aliansi menemukan kedamaiannya jauh lebih penting. Kami berperang untuk mengusir penjajah yang pernah dijajah! Berjuang demi pihak tak berdaya jauh lebih keren!”


“Kata-katamu seperti komandan negara komunis saja. Tapi, perang memang hal yang membingungkan, di mana kedua belah pihak menganggap lawan masing-masing perlu dikalahkan, dan memiliki tujuan sendiri. “


“Penjahat seperti kau tidak tahu perasaan orang-orang Aliansi. Aku tidak mau tahu keinginanmu, kau dan Indah akan menjadi milikku!”


“Apa kau sekarang pecinta sesama jenis?” tanya Candranala mengejek.


Candranala tersenyum, seolah-olah dia sedang bercanda dengan sahabatnya dalam masa damai, ketika pulang sekolah bersama Jonathan di sore hari. Itu adalah senyum yang diwarnai air mata, dan ekspresinya entah kenapa menunjukkan bahwa Candranala memiliki harapan kepada Rio untuk kembali ke Indonesia, sebagai bagian dari Tentara Republik Indonesia Pelajar.


Namun, sepertinya hal itu akan sangat mustahil terjadi, Rio dan Indah telah ditetapkan sebagai musuh dan pengkhianat Indonesia yang pantas dibunuh. Mengingat fakta itu, Candranala merenungkan tindakannya yang dipastikan akan berakhir sia-sia. Tetapi, di sisi lain Candranala merasa usahanya benar.


Itu pada dasarnya adalah usaha seseorang untuk menunda kematiannya, karena Candranala menyadari kekuatan Rio membuatnya dengan mudah terbunuh meski mendapatkan banyak bantuan.


Candranala merasa dia memiliki kesempatan untuk menyelamatkan Rio dan Indah. Karena reaksi Rio setelah perkataannya adalah sama sekali tidak bergerak, mungkin karena malu atau hatinya tertusuk oleh perkataan Candranala.


“Tapi, jika kau berpikir ini akan membuatku berjuang bersamamu lagi, maka jawabanku tetap tidak. Dan cepat putuskan, kau ingin mati atau tetap hidup lalu menjadi budakku dan berjuang bersama Aliansi mendapatkan haknya kembali.”


Hutan semakin gelap setelah matahari dunia ini yang hampir tenggelam di tempatnya, untuk memenuhi tugasnya menerangi sisi lain dunia ini. Candranala masih berdiri di depan Rio, dan seluruh bawahan kedua pria itu masih diam untuk mempersiapkan diri melaksanakan perintah mereka berdua.


Wajah Candranala dan pakaiannya sama berantakannya, Candranala tampak sangat mirip dengan mayat. Hanya mata kirinya yang masih bersinar karena pantulan sinar matahari sore yang menembus hutan. Dia mengerang, lalu maju dengan wajah dingin pada Rio dengan sesuatu hal aneh terlihat padanya.


Hanya Hevaz yang tersenyum melihat keanehan dalam ekspresi dingin Candranala, dan gadis itu tersenyum yakin.

__ADS_1


**



__ADS_2