
Di utara, di mana pertempuran antara Tim Ke-12 dengan pasukan Aliansi belum usai dan terus terjadi pembantaian sepihak, operator artileri belum menghentikan pekerjaan mereka. Komandan kedua artileri gerak sendiri terus memerintahkan penembakan, meski intensitas serangan sedikit dikurangi setelah Tim Ke-12 diperkirakan telah berada di tengah pertarungan. Sementara itu, dua MLRS yang telah siap meluncurkan artileri roket masih menunggu perintah dan permintaan dari tim kecil tersebut.
Karena artileri roket membawa hulu ledak jauh lebih mematikan daripada peluru meriam pada artileri biasa, mereka tidak dapat sembarangan menembakkan senjata tersebut jika keadaan belum benar-benar terdesak. Biasanya, roket akan diluncurkan untuk melumpuhkan atau menghancurkan fasilitas musuh seperti markas serta benteng maupun senjata seperti tank dan artileri medan. Namun, musuh yang mereka lawan kali ini tidak memiliki hal seperti itu, dan senjata berat yang mereka bawa hanya berupa senjata pengepungan seperti ketapel raksasa dan trebuchet.
Yah, begitulah tugas mereka – meski musuh sama sekali diketahui tidak memiliki tank walau mereka dikabarkan memiliki senapan. Dan hari yang cerah dengan suhu udara sejuk harus terpaksa mereka jalani dengan mencegah musuh yang bersatu dalam pasukan berjumlah besar memasuki wilayah Tanah Suci Yekirnovo dan Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Baru – tepatnya yang mereka lakukan adalah pembantaian.
“Di sini Tim Ke-12, komandan kami meminta intensitas penembakan artileri dikurangi, tepatnya kalau bisa dihentikan. Musuh sudah mulai kacau, tolong kirimkan Kompi Bantuan ke titik yang telah kami kirimkan.”
Yang mewakili kapten Tim Ke-12 berkomunikasi bersama komandan salah satu komandan artileri medan adalah Bima. Titik tempat mereka berada telah diterima oleh Kompi Bantuan, dan mereka langsung bergerak ke titik yang telah ditentukan dengan membawa ratusan prajurit dan senapan mesin berat.
Terkadang sedikit memberi musuh kesempatan untuk melawan adalah langkah yang baik, mengingat mereka masih mengandalkan pedang dan panah dalam peperangan, serta senjata pengepungan. Baik hati itu penting, tetapi terlalu mengampuni musuh maka kamu akan hancur.
“Hentikan tembakan untuk sementara, kita tunggu komunikasi dari Tim Ke-12 untuk kelanjutan serangan.”
Komandan salah satu artileri gerak sendiri memberi tahu bawahannya dan operator artileri sebelahnya. Tim Ke-12 yang meminta mereka menghentikan tembakan membuat tidak ada satupun artileri roket diluncurkan. Langkah untuk tidak meluncurkan roket yang mampu menenggelamkan sebuah kapal kelas Korvet sangat bijak, atau akan ada ribuan perempuan kehilangan suami mereka dan menjadi janda.
Selain memberikan musuh kesempatan memperlihatkan perlawanan mereka, penghentian tembakan untuk sementara berguna untuk mengurangi anggaran pertahanan ketiga negara anggota Pasukan Perdamaian, mengingat harga sebuah peluru artileri dapat untuk membeli puluhan motor bebek ber-cc 125, atau membeli sebuah mobil baru.
Namun, tidak mudah berpikir logis dan ekonomis di tengah pertempuran disaat musuh secara terang-terangan memperlihatkan ancaman.
Mungkin menembakkan sebuah peluru artileri dengan atau tanpa hulu ledak untuk melawan musuh yang memiliki senjata pedang atau panah adalah hal yang sia-sia serta boros, dan lebih mendekati pembantaian sepihak. Itu memang buruk untuk anggaran pertahanan Indonesia yang biasanya hanya cukup untuk perawatan senjata serta membeli beberapa senjata baru untuk menggantikan senjata tua, tetapi hal itu tidak akan menjadi malapetaka serius bagi keuangan negara, jadi kontingen Indonesia dapat menggunakan berbagai cara untuk melindungi Indonesia dan sekutunya dengan berjuang dari dunia ini.
“Ada apa dengan Letnan Nio? Apa dia belum meminta tembakan lagi?” tanya salah satu komandan artileri berpangkat Mayor.
“Kami terus terhubung dengan sinyal Tim Ke-12, dan dia belum mengatakan apapun setelah bawahannya meminta kita menghentikan tembakan untuk sementara,” ucap unit komunikasi batalyon artileri.
Prajurit yang berpengalaman harus dapat berpikir positif, dan memberi contoh bagi prajurit muda.
Sementara itu, Kompi Bantuan diperkirakan akan bergabung dengan Tim Ke-12 satu setengah atau dua jam lagi.
**
Nio menyadari situasi yang dirinya alami tidak menguntungkannya, dan ekspresinya menjadi gelap setelah muntah dan mendengar meriam otomatis menembakkan puluhan proyektil yang dilakukan operator senjata untuk melindunginya dari beberapa prajurit infanteri musuh yang menyadari posisinya penuh celah. Total enam prajurit infanteri Aliansi tewas dalam kondisi tubuh berlubang akibat lesatan proyektil 20mm yang ditembakkan dari jarak kurang dari tiga puluh meter.
Meski dia telah cukup lama dan memiliki berbagai pengalaman pada pertempuran selama bertugas di dunia ini, Nio tetap saja khawatir dengan senjata yang mampu membunuh musuh dengan instan. Meski musuh memiliki unit yang bersenjatakan senapan, namun mereka dapat dengan mudah dikalahkan dalam pertempuran di medan terbuka seperti ini. Selain itu, SP1 yang digunakan Aliansi saat ini tidak mungkin digunakan untuk melawan artileri berawak maupun artileri tanpa awak milik Persekutuan, khususnya artileri yang ditembakkan dari jarak jauh bertipe roket.
“Seharusnya kita berperang dengan musuh yang seimbang!” ucap Hassan yang berada pada salah satu kendaraan taktis.
Dia memberi tembakan dukungan ketika jangkauan tembak senapan mesin otomatis yang dioperasikan ‘Pelukis’ alias Kaikoa tidak mencapai musuh yang berhasil selamat. Kendaraan taktis ini juga ditumpang oleh Sigit dan Agus, dan mereka berdua memberi bantuan tembakan jika terdapat musuh yang tidak terkena dampak tembakan dan terus memperlihatkan perlawanan.
“Sersan Hassan, saya pikir itu juga pilihan yang sangat buruk jika kita berperang di dunia dengan musuh yang memiliki peradaban lebih tinggi dari kita,” ‘Bandar Martabak’ alias Yandi menjawab pernyataan wakil kapten Tim Ke-12 tersebut.
“Yah, kukira kita terhubung dengan planet alien seperti di film-film,” Hassan berbicara lagi.
“Kalau dulu kita berperang dengan alien, mungkin bumi sudah dikuasai mereka,” Yandi menanggapi perkataan Hassan. Sejujurnya, dia juga berharap jika pada perang sebelumnya, bumi berhadapan dengan bangsa alien yang memiliki teknologi tinggi, seperti yang sering ditampilkan film produksi Hollywood. ‘Sayangnya’, dia kini berperang dengan bangsa dunia lain dengan peradaban setara era abad pertengahan.
Sementara itu, ketika mendengarkan Hassan dan Yandi yang terdengar membicarakan film perang melawan bangsa alien, Agus menembak sambil berkata, “Lebih baik kalian ingat perkataan Letnan tentang kekuatan musuh, meski mereka setara dengan pasukan eropa pada abad pertengahan.”
“Ya, yang dia katakan mungkin benar, faktanya mereka berhasil menghancurkan senjata-senjata kita pada perang besar sebelumnya yang Letnan hadapi,” Sigit menyetujui perkataan Agus.
Meskipun berperang dengan musuh yang memiliki teknologi era kerajaan abad pertengahan, tetap saja menghadapi mereka sama sulitnya dengan menghadapi pasukan modern yang memiliki senjata railgun maupun meriam partikel. Lagipula, naga dan wyvern yang dimiliki musuh memiliki sisik yang tak mampu ditembus proyektil 7,62mm dan 12,7mm, dan satu-satunya cara termudah melawan dan membunuh hewan terbang fantasi tersebut adalah menghujani mereka dengan artileri anti-pesawat 20mm hingga 80mm.
Untungnya, dalam pertempuran ini mereka tidak terlibat dalam perlawanan menghadapi pasukan penunggang naga atau wyvern. Namun tetap saja mereka tidak dapat terus mengandalkan senapan mesin berat dan meriam otomatis pada kedua kendaraan taktis dan panser, atau pasukan terpaksa mengajukan proposal pada Kementerian Pertahanan untuk menambah stok amunisi akibat keborosan mereka. Dan tentu saja hal itu tidak dapat langsung disetujui oleh Menteri Pertahanan tanpa persetujuan dan ijin dari Presiden dan anggota dewan, dan itu adalah prosedur yang lama dan memusingkan.
“Dia… kenapa?”
Dari kendaraan taktis kedua, Hevaz melihat dari jendela penumpang pada kendaraan taktis yang dia tumpangi bersama Edera, Arif sebagai pengemudi, Hendra, Ardi sebagai operator senapan mesin berat otomatis, serta empat gadis Penjelajah Nio yang sedang berjongkok dan mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.
“Tuan Nio… apa dia baik-baik saja?” Edera terlihat cemas setelah melihat ke arah yang sama, yakni Nio yang sedang berjongkok dan muntah.
“Letnan… pasti itu kelemahannya.” Arif menebak-nebak kelemahan Nio setelah mengetahui panser yang pria itu tumpangi melaju dalam kecepatan tinggi dan nampak ugal-ugalan. Kendaraan tempur tersebut memang dirancang dapat melaju cepat di medan offroad, namun itu bukan pilihan yang bagus jika pengemudi memiliki penumpang yang lemah terhadap guncangan kuat… seperti Nio.
Semua info yang anggota Tim Ke-12 dapatkan mengenai Nio adalah jika pria itu adalah salah satu prajurit yang mampu memimpin bawahannya sebelumnya bertahan dari serangan tiga kali sehari Aliansi selama seminggu, meski dia kehilangan tiga bawahan sebelum penyerangan besar-besaran tersebut dimulai. Namun, terlihat dari wajah Nio bukan seperti seseorang yang menderita tekanan mental maupun trauma perang, itu menurut seluruh anggota Tim Ke-12 dan beberapa perwira Pasukan Perdamaian.
__ADS_1
“Dia memang kuat, namun dia justru memiliki kelemahan yang sepele,” kata Hendra.
Hal itu memang ironis, tapi itu adalah salah satu fakta dari sekian banyak kelemahan yang dimiliki Nio dan belum terungkap.
“Para perwira pertama hingga menengah juga mengagumi dia. Sayangnya, dia cukup misterius menurutku,” ucap ‘Crossdresser, alias Ardi ditengah tugasnya memberi tembakan dukungan.
“Apa maksudmu dengan Tuan Nio yang misterius?” tanya Hevaz pada Ardi dengan ucapan dalam bahasa Indonesia yang sangat fasih.
Ardi menjawab sambil melakukan tembakan bantuan dari celah jendela yang terbuka untuk memudahkannya dalam menembak, “Maksudku, dia seperti memiliki sangat banyak rahasia. Meski dia cukup mampu membuat taktik, tapi sepertinya kemampuan dia tidak hanya sebatas pada membuat taktik atau semacamnya.”
Dari perkataan Ardi, posisi Nio tidak hanya menunjukkan bahwa dia adalah seorang Letnan Satu yang memimpin sebuah tim yang berisi anggota elit. Sayangnya, infomasi tentang prajurit pasukan elit dan khusus sangat terbatas, bahkan bisa saja seluruh informasi tentang seorang prajurit pasukan elit telah dipalsukan oleh satuan asal prajurit tersebut, dan hukuman bagi penyadap informasi meski hanya sekedar iseng setara penjara seumur hidup.
Seluruh penumpang, kecuali keempat gadis Penjelajah mengangguk dengan canggung menanggapi perkataan Ardi. Mereka kemudian melanjutkan peran mereka dalam pertempuran ini sebagai pemberi bantuan tembakan.
“Hei, hentikan kendaraan ini.”
Arif menuruti permintaan Hevaz, dan gadis itu turun dari kendaraan taktis diikuti oleh Edera yang telah dalam kondisi siap bertarung – jika diperintahkan oleh ‘tuan’ mereka yang tidak berdaya oleh keadaannya saat ini. Mereka berdua kemudian bergerak dengan tujuan mendekati Nio, sambil melawan setiap prajurit musuh yang menganggap mereka berdua sebagai musuh.
Sementara itu, keempat gadis Penjelajah Labirin yang telah berada di Benua Andzrev, tepatnya enam puluh kilometer dari Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Baru, terlihat memasang ekspresi tidak percaya. Tepatnya, mereka kagum dengan gerobak baja yang mampu bergerak tanpa ditarik kuda atau monster, serta tongkat baja yang mampu meledak dan membunuh musuh pada jarak jauh.
“Gerobak ini sangat mengagumkan, aku tidak tahu kalau di dunia kita ada benda seperti ini.”
“Sabole, jangan lupakan kalau gerobak baja ini milik pasukan ‘dunia lain’.”
“Yang dikatakan Kardas benar, tidak mungkin kendaraan aneh ini dibuat oleh pengrajin dunia kita.”
Sabole kemudian berkata dengan wajah polos,” Ah… aku lupa kalau mereka berasal dari dunia lain, aku benar-benar kagum dengan benda buatan negara mereka.”
“Bergerak! Jangan hiraukan aku. Aku masih bisa bertarung.”
“Letnan, aku tahu kau kuat, tapi kondisimu sekarang tidak mendukung,” ucap Zefanya setelah melihat Nio muntah cukup banyak.
Setelah mendapatkan banyak desakan dari para anggotanya yang terus menembaki musuh dari dalam panser, Nio melihat Edera dan Hevaz bertarung dengan lincah menghadapi musuh yang berjumlah puluhan dan didukung oleh pemanah. Dia kemudian berdiri sambil mengusap mulutnya menggunakan lengan seragam kamuflase salju-nya.
“Selama aku masih bisa bergerak, aku akan melakukan semuanya semampuku,” Nio berbicara dengan wajah tanpa masalah sedikitpun setelah muntah.
Sayangnya, usaha Ika untuk membatalkan niat Nio yang hendak bergabung dalam pertarungan bersama Hevaz dan Edera tidak membuahkan hasil. Dia hanya dapat menatap Nio yang berlari cepat ke arah Hevaz dan Edera yang menghadapi musuh dalam pertarungan jarak dekat.
Jelas sekali bahwa batalyon artileri kembali melanjutkan serangan, dan itu membuat Nio berpikir tim-nya berada dalam dua situasi yang berbeda. Memang serangan artileri mampu membunuh puluhan musuh sekaligus, namun jika anggotanya tidak mampu menghindari hujan artileri maka itu akan menjadi kejadian yang cukup mengerikan untuk dibayangkan.
Tanah yang bergetar dan suara gemuruh yang dihasilkan proyektil artileri berkaliber antara 105mm hingga 155mm masih dirasakan oleh Nio, Tim Ke-12, dan pasukan Aliansi yang telah dalam kondisi tidak beraturan.
Dengan kata lain, musuh telah jatuh dalam waktu singkat, meski beberapa prajurit masih menunjukkan perlawanan. Mustahil memang untuk terhindar dari peluru artileri dengan hulu ledak yang mampu merusak sesuatu dalam radius sepuluh meter dari ledakan. Musuh yang telah menjadi korban senjata brutal ‘dunia lain’ Nio perkirakan telah mencapai 25 persen dari total prajurit musuh.
Bagaimanapun, mereka terus melawan selama komandan masih hidup dan terus memberi mereka perintah untuk berjuang hingga tubuh mereka rusak akibat lesatan proyektil atau terpotong menjadi dua akibat tebasan kilat Utusan Dewi Kematian dan Dewa Perang yang dipuja orang yang berprofesi sebagai prajurit atau pejuang. Di sisi lain, tebasan kilat yang membelah tubuh musuh disebut ‘serangan efisien’ oleh Hevaz.
Nio kemudian mencabut pedang dari sarungnya yang dipasang di punggung rompi, dan menggenggamnya di tangan kanan sementara tangan kiri menggenggam pistol. Dia bertarung dengan musuh yang telah menganggap dirinya sebagai musuh dalam pertarungan jarak dekat.
Meski mayoritas pasukan infanteri musuh diisi oleh prajurit reguler, Nio telah mengakui pertarungan jarak dekat dengan mereka tidak pernah membosankan. Meski dalam kondisi jengkel, Nio tetap bertarung dengan tenang, dan bertarung secara efisien tanpa mengeluarkan tenaga secara sia-sia.
Dia menangkis setiap tebasan yang musuhnya layangkan ke arah tubuhnya berkali-kali, lalu membalas serangan dalam serangan kilat. Manusia tidak akan mati begitu saja dengan satu tebasan di perut atau punggung, sehingga Nio menembak kepala musuh yang dia lukai untuk memberikan kematian instan kepada mereka.
Nio bertarung seakan-akan masih memiliki energi penuh untuk melakukannya. Dengan dorongan harga diri sebagai sesama prajurit, dia menerima setiap tantangan musuh yang mencoba menyerangnya dari segala arah.
“Uhngh…!” tetap saja Nio tidak mampu menahan seluruh serangan musuh, dan harus tersayat pada bagian dahinya akibat gagal lolos dari serangan salah satu prajurit musuh.
Sayangnya, sayatan di dahi tidak cukup untuk melumpuhkan Nio, meski darah mengalir melewati pipinya. Sayatan itu tidak terlalu dalam, sehingga tidak membahayakan Nio. Dengan satu-satunya mata miliknya, Nio menatap tajam setiap musuh yang mengelilingi dirinya dengan niat membunuh.
Sesaat kemudian, lima prajurit maju bersamaan dengan pedang yang terangkat di atas kepala dan disertai teriakan penuh semangat untuk melumpuhkan moral Nio yang bertarung ‘sendirian’.
Melihat sebuah pedang milik musuh dua meter lagi akan menusuk tubuhnya, Nio memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan ke tangan salah satu prajurit Aliansi. Tendangan memutar darinya tidak dapat diantisipasi, dan membuat pedang milik seorang prajurit musuh terlempar. Tanpa pikir panjang Nio langsung menarik pelatuk pada pistolnya, dan peluru 9mm langsung menembus wajah seorang prajurit Aliansi.
Saat berikutnya, Nio menangkis sebuah tebasan seorang prajurit musuh yang berusaha menebas kepalanya yang memang tidak dilindungi oleh helm. Tetapi, insting Nio berkata padanya bahwa mereka bukanlah prajurit infanteri biasa, lalu Nio menembakkan sebuah proyektil dari pistolnya lagi ke kepala seorang musuhnya. Dia melakukan itu untuk menghindari luka lagi, dan Nio merasa tiga prajurit Aliansi yang tersisa menatap dirinya tanpa rasa takut.
__ADS_1
Hiruk-pikuk suara tembakan dari rekan-rekannya membuat ketiga prajurit Aliansi nampak terkejut, dan memberikan Nio kesempatan menyerang. Sayangnya, sebelum Nio melakukan langkah pertamanya, ketiga prajurit Aliansi tersebut justru berlari menjauhinya, seperti terdapat sesuatu yang membuat mereka takut. Namun, setelah melihat wajah mereka bertiga, Nio tidak merasa ada sesuatu yang menakutkan di belakangnya karena dia sendiri tidak mendengar suara kendaraan taktis maupun panser yang mendekat.
Nio kemudian menolehkan wajahnya ke belakang, namun segera melompat kesamping setelah prajurit penunggang kuda melajukan tunggangannya dalam kecepatan penuh ke arah Nio. Jika dia terlambat menghindar, dapat dipastikan Nio akan terpental atau terinjak kaki kuda tersebut.
Setelah tidak berhasil menabrak Nio, Baron segera menghentikan kudanya dan berbalik arah lagi.
“Heh, padahal tadi lebih baik kau terinjak kaki kuda ku saja, Nio,” Baron tersenyum saat mengatakan hal itu. Dia melihat Nio dalam kondis terluka pada bagian dahi, dan itu membuat Baron merasa keuntungan dipihaknya.
Baron menghunuskan pedang miliknya yang telah diselimuti dengan sihir yang membuat ketajaman senjata tersebut meningkat.
“Itu komandan musuh, tembak orang yang memakai pakaian bagus itu!” Nio berteriak kepada panser yang dikemudikan Yogi agar operator meriam otomatis menembak Baron.
Puluhan proyektil melesat dalam kecepatan sangat tinggi dan ditembakkan dari jarak dekat, sehingga mustahil bagi Baron dapat menghindarinya. Sayangnya, sihir tameng yang melindungi Baron terlalu kuat, hingga proyektil tidak mampu menembus pertahanan sihir tersebut.
Sesaat kemudian, ada ledakan yang sangat keras, serta kepulan asap yang membuat Baron sedikit terkejut.
Pelontar granat menembakkan amunisinya, dan yang melakukan serangan itu adalah Gita. Panser yang dia tumpangi berhenti sejenak agar dia dapat membidik dengan tepat, dan itu serangannya berhasil membuat Baron terpaksa memperkuat tameng sihir pada bagian belakang, tempat ledakan terjadi. Sesaat kemudian, senapan mesin berat otomatis melepaskan rentetan tembakan pendek, dan puluhan proyektil yang melesat dalam kecepatan mencapai lebih dari 1.000 meter per detik mampu meretakkan sisi depan tameng sihir Baron.
“Tidak mungkin, padahal mereka tidak menggunakan senjata magis!” Baron mengatakan keterkejutannya, karena rentetan lesatan proyektil 12,7mm mampu meretakkan tameng sihirnya yang memang cukup lemah pada bagian depan.
Menurut perkataan Nio, teknologi mampu mengimbangi kekuatan sihir jika digunakan dengan taktik yang benar. Seluruh anggota Tim Ke-12 telah mendapatkan beberapa cara dari Nio mengenai cara menghadapi kekuatan pahlawan. Meski belum mengetahui keefektifan taktik tersebut, mereka akan tahu jika menggunakan taktik tersebut di medan pertempuran langsung.
Meski hanya mampu meretakkan tameng sihir Baron tanpa menjebolnya, itu telah termasuk hasil yang memuaskan. Mereka berhasil membuat salah satu sosok terkuat milik Aliansi memasang ekspresi bodoh, dan tidak mampu bergerak beberapa detik.
Baron segera tersadar dari perasaan terkejutnya yang membuat dirinya diam beberapa saat setelah Nio menembakkan dua proyektil 9mm yang membuat sisi depan tameng sihirnya semakin retak.
Nio berhenti menembak setelah melihat Hevaz terbang di atas Baron, lalu menukik ke bawah dalam kecepatan tinggi. Sabit besar Hevaz menghantam sisi depan tameng sihir Baron, dan gadis itu terus menekan senjatanya ke pelindung magis salah satu pahlawan Aliansi tersebut seolah-olah mengalirkan seluruh tenaganya untuk menjebol sihir tameng Baron.
Sementara itu, terlihat lebih dari enam puluh pemanah mengangkat senjata mereka dan menarik anak panah dengan sasaran Hevaz yang berusaha menjebol pertahanan Baron, secara langsung beberapa anak panah juga akan mengenai Nio.
Nio menarik pelatuk beberapa saat, lalu tiga proyektil menembus wajah tiga pemanah. Biasanya, pemanah akan ditempatkan di baris paling belakang, sehingga mengandalkan perlindungan dari pasukan di baris depan, dan itulah mengapa pemanah Aliansi tidak dilengkapi pelindung tubuh lengkap.
Ketika keenam puluh pemanah akan melepaskan anak panah mereka, Edera menyelinap diantara barisan para pemanah, dan melayangkan cakar tajamnya ke leher satu persatu pemanah Aliansi. Dia melompat ke sasaran dengan sangat cepat, seperti kucing asli. Dalam mode kucingnya, kemampuan bertarung Edera akan meningkat drastis, dan mampu membunuh sasaran dalam sekali cakaran.
Serangan tak terduga Edera membuat hampir seluruh pemanah gelisah, dan berusaha memanah Edera yang bergerak sangat lincah. Beberapa pemanah menembak ketika Edera berada di tengah-tengah barisan, dan menyebabkan beberapa pemanah membunuh rekan mereka sendiri. Beberapa pemanah yang tidak bermaksud membunuh rekan mereka sendiri tidak dapat mengantisipasi Edera yang menerjang mereka dan mencakar wajah dan tubuh dengan mudah.
Setelah puas membunuh hingga ratusan pemanah, Edera berjongkok layaknya kucing dan menjilat-jilat tangannya seperti kucing juga dengan daun telinga dan ekor yang bergerak seperti kucing. Nio melihat gadis itu dari jarak cukup jauh, dan merasa Edera jauh lebih imut jika bertingkah seperti kucing.
Di lain sisi, Rio yang masih mengumpulkan kekuatan setelah terkena dampak ledakan rudal yang membunuh ribuan prajuritnya sekaligus melihat Nio sedang bertarung dengan prajurit infanteri dan membunuh mereka dalam kombinasi pedang dan pistol yang efektif.
Jarak dirinya pada Nio hanya kurang dari seratus meter, dan dia langsung berdiri menggunakan senapannya sebagai tumpuan. Dia sedikit terhuyung-huyung ketika berdiri, namun setelah itu kekuatannya berangsur-angsur kembali dan dapat berdiri dengan tegap.
“Aku akan melawan mu, bajingan…!!!” suara Rio yang penuh dengan naf*su membunuh sangat besar bergemuruh di tengah-tengah prajuritnya yang kalang-kabut akibat hujan proyektil dari bawahan Nio. Dia segera berlari untuk mendekati Nio, meski kondisinya masih terluka.
Meski jaraknya dengan orang yang berteriak tadi cukup jauh, Nio tetap dapat mendengarnya di tengah keriuhan medan perang.
Sesaat kemudian, Nio mendengar suara ledakan yang lebih kuat dua tingkat dari amunisi pelontar granat. Kemudian, rentetan tembakan panjang yang terdengar berasal dari senapan mesin berat dan meriam otomatis pada kendaraan bantuan tembakan terdengar oleh Nio dan seluruh bawahannya.
Setelah diserang dengan begitu banyak proyektil dan peluru artileri, pasukan Aliansi kini dikejutkan dengan kedatangan ratusan prajurit yang membawa senjata sedikit lebih lemah dari artileri yang membunuh ratusan rekan mereka, yakni mortir 81mm.
Dua mortir yang masing-masing dioperasikan tiga prajurit melontarkan artileri mortir yang melayang dalam lintasan parabola, lalu menghantam ratusan prajurit kavaleri Aliansi yang sedang mengejar salah satu kendaraan taktis Tim Ke-12.
Puluhan potong anggota tubuh manusia, kuda, dan zirah besi mereka melayang di udara bersama lumpur dari tanah yang lembek. Mortir memberikan dampak luar biasa brutal, dan membunuh kurang dari tiga puluh prajurit kavaleri Aliansi. Sedangkan bagi prajurit yang hanya terkena gelombang kejut dari ledakan, mereka terhempas hingga terguling-guling di tanah yang lembek.
Sedangkan mortir yang satunya menghantam barisan belakang, yakni pemanah yang bersiap menghujani Kompi Bantuan dengan ribuan anak panah. Puluhan tubuh terhempas bersamaan dengan potongan tubuh akibat ledakan mortir. Bagi pemanah yang selamat, mereka memutuskan untuk melarikan diri.
Namun, prajurit Kompi Bantuan 006 tidak membiarkan mereka kabur dengan selamat, dan menembaki para pemanah dengan proyektil 7,65mm dari senapan serbu produksi masing-masing negara, seolah-olah para penyihir Aliansi tersebut hanyalah objek sasaran tembak… yang hidup dan bergerak.
Melihat pemandangan yang disajikan Kompi Bantuan, yakni perlawanan yang sangat mudah terhadap pihak yang menyerang (Aliansi), Nio hanya dapat membayangkan jika Aliansi terus melawan hanya dengan panah dan pedang, serta senjata pengepungan. Dia khawatir akan semakin banyaknya janda dan keluarga yang kehilangan anak laki-laki akibat perang ini.
Tidak jelas tujuan mereka setuju membantu Indonesia menghadapi kekuatan besar Aliansi, Rusia dan Korea Utara hanya memamerkan senjata mereka, dan melawan pasukan musuh dengan artileri dan prajurit mereka yang terlatih.
Di sisi lain, kedatangan Kompi Bantuan musuh membuat Rio hanya terdiam, dan Baron memacu kudanya sekencang mungkin untuk mundur dengan sisa pasukan. Melihat Baron yang telah mundur bersama sisa prajurit, Rio segera melakukan hal yang sama dan diikuti sisa pasukan kavaleri-nya yang tidak mencapai dua ribu dari enam ribu prajurit dan kuda. Rio membatalkan niatnya untuk membunuh Nio, dan membalaskan apa yang pria itu telah lakukan terhadapnya.
__ADS_1
Mungkin ada gunanya mengejar musuh yang memutuskan mundur dari pertarungan, yakni mereka pastinya telah mengalami tekanan mental yang sangat buruk, sehingga langkah itu sangat menguntungkan. Tapi, peluru yang telah ditembakkan tidak dapat mengganti uang pajak rakyat, dan seluruh peluru yang telah digunakan hampir tidak dapat didaur ulang. Daur ulang pun ada batasnya.
Tim Ke-12 dan Kompi Bantuan 003 menghentikan tembakan, dan membiarkan sisa pasukan musuh mundur ke asalnya. Tembakan lanjutan hanya akan membuang-buang peluru, yang berarti membuang tenaga rakyat yang bekerja untuk membayar pajak untuk membeli peluru dan senjata bagi militer.