
16 April 2321, pukul 11.53 WIB.
**
Berita kemenangan sudah tersebar di seluruh negeri, ini adalah salah satu kemenangan terbesar yang dicapai militer.
Kapal perang musuh yang berhasil ditenggelamkan sebanyak 15 unit. Itu cukup untuk menyisakan kekuatan laut musuh yang mengawal Gerbang di Indonesia sebesar 10%.
Kapal perang dunia lain yang tersisa terpaksa kabur menuju Laut Cina selatan yang dijaga ratusan kapal perang dari negara daratan Asia Tenggara.
Karena negara-negara di Asia Tenggara juga berperang dengan pasukan dunia lain yang keluar dari Gerbang di perbatasan Myanmar dan India. Tapi Gerbang yang muncul di tempat itu tidak bergerak seperti Gerbang yang muncul di Indonesia.
Karena sebelumnya Gerbang tersebut awalnya berhasil dikuasai oleh militer Myanmar dan India. Namun pasukan dunia lain mengerahkan kekuatan penuh untuk merebut kembali Gerbang yang dikuasai.
Hasil akhirnya; militer Myanmar dan India harus menderita kerugian karena banyak sistem persenjataan yang hancur dan ratusan prajurit yang gugur.
Hal itu juga penyebab seluruh negara yang ada di Semenanjung Asia Tenggara bersatu untuk melawan pasukan dunia lain.
Kecuali Indonesia yang masih dalam keadaan kesulitan untuk merebut kembali daerah yang dikuasai pasukan dunia lain.
Beberapa negara di dunia yang sebelumnya tanpa kekuatan militer, mendadak memiliki kekuatan militer yang cukup kuat untuk melawan pasukan dunia lain yang muncul.
Hingga hari ini, Gerbang telah berjarak sejauh 450 km dari Pulau Jawa. Lebih jauh dari waktu perkiraan sebelumnya yang memperkirakan jarak Gerbang hari ini sejauh 300 km.
Meski masih telalu jauh dan lama untuk mencapai Pulau Jawa, ribuan prajurit dengan persenjataan lengkap telah disiapkan di seluruh pulau ini.
Terutama pembentukan Pasukan Pelajar khusus yang hampir mencapai tes terakhir dan dapat segera dikirimkan sebagai pasukan pengintai.
**
Di tempat pelatihan calon PPK, hari ini merupakan pelaksanaan tes pendekatan masayarakat.
Tujuan dari tes ini untuk mendapatkan kepercayaan masayarakat terhadap pasukan khusus yang anggotanya mayoritas anak muda ini.
Karena tidak sedikit masyarakat yang mulai tidak percaya terhadap militer karena banyak wilayah di Pulau Jawa sendiri yang dikuasai pasukan dunia lain. Termasuk Kecamatan Mojogedang yang merupakan salah satu wilayah di Kota Karanganyar yang berhasil dikuasai pasukan dunia lain.
Belum ada perintah untuk merebut kembali wilayah ini dari markas komando pusat, karena pelatihan pasukan dan pasukan khusus yang belum sepenuhnya rampung.
Mari kembali ke Regu yang dipimpin Nio….
Regu 3 sudah berbaris dengan rapi dan tinggal menunggu perintah untuk berjalan ke desa tujuan pendekatan masyarakat.
Seorang pelatih berjalan dan berhenti di depan Nio yang berada di barisan paling depan. Nio harus berada di barisan terdepan karena posisinya sebagai Komandan Regu.
“Regu 3, kalian akan melakukan pendekatan masyarakat di Desa Kwangsan. Tes ini akan berakhir pukul 4 sore, gunaan waktu sebaik mungkin!” ucap pelatih.
(Desa Kwangsan merupakan tempat tinggal saya.)
“Siap…!” jawab seluruh anggota Regu ini dengan serempak.
Setelah perintah berangkat dari pelatih, Nio memimpin barisan menuju Desa Kwangsan. Jarak dari tempat pelatihan ke tujuan tidak terlalu jauh, hanya sejauh 2 km. jika berjalan kaki hanya memerlukan waktu 20 menit.
Prajurit pelatihan akan keluar tempat pelatihan untuk pelaksanaan 2 tes, salah satunya adalah tes pendekatan masyarakat yang sedang dilaksanakan dan tes bertahan hidup sebagai tes terakhir yang akan dijalani prajurit calon PPK.
**
Regu 3 hampir memasuki wilayah Desa Kwangsan, namun mereka menemui sebuah hambatan. Jalan yang akan mereka lalui untuk ke desa tersebut dipasangi bambu yang melintang di jalan sebagai penutup jalan.
Ini merupakan wilayah sebelah timur Desa Kwangsan.
Ada 10 warga yang berada di tempat itu dan terlihat membawa senjata tajam dan sebuah senapan angin. Mereka melakukan penjagaan dari musuh dari dunia lain.
Saat kedatangan Regu 3 mereka terlihat terkejut namun tidak mengangkat senjata dan Nio mendekati mereka.
“Maaf, kenapa jalan ini ditutup ya?” tanya Nio.
“Kami harus berjaga dari pasukan dunia lain yang mungkin saja tiba di desa ini. Jadi ada urusan apa saudara sekalian kemari?” jawab pemimpin dari warga yang melakukan penjagaan.
__ADS_1
“Sebelumnya, apa kami diperbolehkan untuk memasuki Desa Kwangsan?”
Warga yang sedang berbicara dengan Nio itu membicarakannya dulu dengan rekan-rekannya baru seorang dari mereka segera tancap gas dengan sepeda motornya.
“Kami akan menghubungi kepala Desa terlebih dulu sebelum mengijinkan kalian melewati bambu ini,” jawab dari pemimpin warga yang melakukan penjagaan.
Nio kemudian kembali ke Regunya dan memberitahu situasinya. Semua anggotanya mengangguk dan diijinkan untuk beristirahat sejenak.
Seluruh warga hanya terfokus pada satu orang, yaitu prajurit tertinggi di Regu ini. Siapa lagi kalau bukan Ika.
Nio menyadari tatapan warga seperti ‘kagum’ terhadap tubuh tinggi Ika dan berkata pada Ika, “Sepertinya kau menjadi perhatian.”
Kata Nio itu membuat heran Ika yang tidak menyadari tentang hal itu dan berkata,” Apa maksudmu?”
Nio bergabung dengan anggota Regu laki-laki yang duduk di bawah pohon mangga. 4 orang dari mereka dan termasuk Rio terlihat mencoba mengambil buah mangga yang baru setengah matang menggunakan pisau yang mereka pasang di ujung laras senapan yang lebih umum disebut dengan ‘bayonet’.
Nio mendekati anggota Regunya yang mencoba mengambil buah mangga dan berkata, “Hentikan.”
“Tapi, sepertinya pohon mangga ini tumbuh liar,” jawab salah satu dari ke-4 orang yang berusaha mengambil buah mangga.
“Lebih baik kalian tanya pada warga yang sedang berjaga apakah pohon mangga ini ada yang memilikinya atau tidak.”
Mereka berempat kemudian mematuhi perintah Nio dan berjalan ke tempat para warga yang sedang berjaga itu dan menanyakan tentang kepemilikan pohon mangga ini.
Sedangkan Nio melihat sudah ada 6 buah mangga yang berhasil diambil.
“Kau mau satu?” tanya Rio sambil menyodorkan sebuah buah mangga yang sudah dia kupas kulitnya.
Nio hanya menatap dengan tatapan tajam yang membuat Rio segera menyembunyikan buah mangganya.
Kelompok warga terlihat seperti menjelaskan sesuatu pada ke-4 orang itu dan mereka terlihat hanya mengangguk-angguk saja.
Mereka ber-4 kemudian berjalan lagi ketempat Nio setelah mendapatkan jawaban dari pemilik pohon ini.
“Mereka bilang kalau pohon ini liar dan digunakan sebagai pembatas antar 2 desa Komandan, jadi kita bisa mengambilnya,” jawab salah satu dari mereka.
Rio tersenyum girang setelah diijinkan Nio untuk menikmati buah mangga dari puhon itu.
Beberapa saat kemudian warga yang pergi memanggil Kepala Desa tadi kembali dengan membawa seorang kakek tua.
Dia kemudian dibantu warga yang mengendarai motor untuk turun dari motor.
“Dia seharusnya tidak perlu kesini kan?” batin Nio yang merasa miris melihat kakek itu berusaha keras untuk berjalan dibantu sebuah tongkat bambu.
Nio dan beberapa anggota Regu 3 mendekati kakek tua itu yang merupakan Kepala Desa Kwangsan. Beberapa anggota yang lainnya masih sibuk memakan buah mangga setengah matang, termasuk beberapa anggota perempuan yang membuat sambal rujak.
“Ada perlu apa kalian ke desa ini?” tanya kepala desa.
“Kami ingin melaksanakan pendekatan masyarakat, seperti sosialisai begitu,” jawab Nio sambil menjelaskan apa itu pendekatan masyarakat hingga dia menyamakan tes yang ia laksanakan dengan sosialisai untuk jaga-jaga jika para warga tidak mengerti dengan maksudnya.
“Apa perlu kami memanggil seluruh warga?”
“Tidak perlu, kamu cukup bertemu dengan beberapa orang saja dan berbincang-bincang dengan mereka.”
“Baiklah kalau itu tujuan saudara sekalian.”
Kepala Desa memerintahkan warga untuk membuka penutup jalan agar Regu 3 dapat masuk desa dan melakukan tes mereka.
**
Nio dan beberapa anggota Regu 3 duduk di sebuah warung dengan cangkir kopi didepan mereka. Sekitar 40 warga mengerumuni tempat ini.
“Jadi, kenapa para warga melakukan penjagaan. Apa militer tidak pernah berpatroli hingga ke wilayah ini?” tanya Nio terhadap ketua RT karena Kepala Desa sempat tak sadarkan diri setelah berjalan sejauh 4 langkah dari tempat mereka bertemu tadi.
“Militer sebenarnya berpatroli hingga kesini, namun mereka hanya berlalu begitu saja kan tanpa menetap beberapa saat untuk sekedar melakukan suatu hal?” jawabnya.
“Itu karena jumlah pasukan di kota ini hanya sebanyak dua Kompi, dan Karanganyar tidak sesempit yang kalian kira kan?. Sebenarnya kami sangat kekurangan orang, bahkan pasukan sukarela tidak cukup untuk menjaga sebuah kecamatan.”
__ADS_1
Hanya sekali jawab Nio menjawab seluruh pertanyaan yang akan di tanyakan orang di depannya. Suasana berubah hening dengan suara anak kecil yang sedang bermain perang-perangan dengan senangnya bersama beberapa anggota Regu 3.
Selain anak kecil dan bapak-bapak, beberapa gadis juga terlihat memperhatikan dari kejauhan prajurit laki-laki yang sedang bersama Nio.
Nio menyadari hal itu dan berkata pada anggotanya yang tersenyum ke arah para gadis, “Kalian jangan coba-coba menggoda gadis desa ini.”
“Si-siap,” jawab seluruh anggota laki-laki yang bersama Nio dengan gugup.
Di tempat lain, anggota Regu 3 yang perempuan melakukan pendekatan dengan warga perempuan juga.
Mereka membahas para laki-laki yang selalu melakukan penjagaan desa hingga lupa pulang.
“Jadi kita tinggal tunggu waktu hingga tempat ini juga dikuasai musuh,” ucap ketua RT dengan nada pasrah.
“Bukan begitu, mak-…,” ucapan Nio terhenti saat seorang pemuda tiba di tempat ini dengan beberapa luka di tubuhnya.
Melihat itu, seluruh warga terlihat panik dan bertanya-tanya tentang apa yang menimpa pemuda itu.
“Kenapa kau?” tanya Rio sambil memeriksa seluruh bagian tubuh pemuda itu.
Dengan terbata-bata dia berkata, “A-ada tiga orang prajurit musuh menyerang kami. Satu temanku dibunuh oleh mereka.”
“Semua berkumpul!” perintah Nio dengan nada keras dalam satu tarikan napas.
Sesaat kemudian seluruh anggota Regu 3 berkumpul dengan sikap siap seperti menunggu perintah dari Nio.
“Kau menjaga bagian mana?” tanya Nio pada pemuda yang sudah menerima perawatan seadanya dari perempuan desa.
“Di Sana,” jawab pemuda itu sambil menunjuk sebelah barat tempat ini.
“Baiklah. Semuanya, kita akan mencari tiga monyet lepas yang melukai pemuda ini!”
Sambil tersenyum karena perkataan Nio yang menghina musuh mereka menjawab, “Siap!”
Setelah itu dengan berlari seluruh anggota Regu 3 menuju sebelah barat desa ini untuk melakukan pencarian terhadap 3 prajurit dunia lain yang melaukan keonaran.
**
Di kota bawah tanah Kota Karanganyar, di kantor Kapten Kompi 406….
Herlina terlihat melakukan panggilan suara dengan seseorang. Tentu pembicaraan yang dia lakukan dengan lawan bicaranya merupakan hal yang penting.
Komandan Kompi 13 sedang menghubungi Kompi ini untuk menanyakan tentang kondisi sekitar wilayah Kecamatan Mojogedang yang dikuasai pasukan dunia lain.
Karena hingga hari ini belum ada pergerakan dari pasukan dunia lain yang membuat pangkalan di kecamatan itu.
“Baiklah, akan kusampaikan kepada seluruh prajurit,” ucap Herlina setelah Komandan Kompi 13 menitipkan salam bagi seluruh anggota Kompi 406.
Kompi 13 adalah Satuan yang melindungi wilayah Kota Cilacap dan sekitarnya, termasuk kota bawah tanah yang ada di kota tersebut.
“Dia seharusnya beberapa hari lagi kembali kan?” gumam Herlina yang membicarakan seorang anggota Kompi 406 yang bernama Nio.
Di lain tempat, Ilhia dan Ivy terlihat sedang beristirahat di sebuah warung pinggir jalan yang sudah tak terpakai sejak terjadinya perang.
Mereka berdua benar-benar mengira jika kedua pelatih yang mengunjungi barak kemarin adalah pasukan dunia lain yang mencari mereka.
“Untuk sementara, kau tidak perlu untuk bertemu dengannya,” ucap Ilhiya.
“Syukurlah kalau begitu,” jawab Ivy sambil bernafas lega.
“Kenapa kau seakan senang ketika tidak perlu bertemu dengannya?”
“Karena ketika berkomunikasi menggunakan telepati dengannya, itu menguras banyak energi ku. Selain itu, nutrisi yang kugunakan untuk mengisi energi hanya sebatas dua buah roti saja.”
Ekspresi Ilhiya terlihat seperti tertusuk setelah jawaban Ilihya yang tanpa kebohongan itu.
Dia merasa bukan tuan yang baik bagi Ivy karena setiap hari hanya memberi makan 2 buah roti saja.
__ADS_1