Prajurit SMA

Prajurit SMA
Sensasi nyaman dan belum puas


__ADS_3

Para pahlawan berkumpul pada sebuah ruangan di kastil markas mereka, dan menunggu Rio kembali dari tugasnya menyerbu ibukota Kerajaan Arevelk. Terlihat beberapa makanan tak jauh berbeda dari makanan di negeri asal masing-masing pahlawan. Sebenarnya, semua makanan adalah permintaan para pahlawan yang ingin merasakan makanan kesukaan mereka meski berada di dunia yang tidak mengenal soto, tempe mendoan, hamburger, ramen, dan lain-lain, dengan minuman berbagai warna yang seperti terbuat dari serbuk minuman instan yang sering dibeli anak SD di pinggir jalan.


Tidak ada perang lagi dalam waktu dekat membuat mereka berpikir mengapa Rio memulai pertempuran yang berpotensi menimbulkan perang yang lebih besar di masa depan. Tetapi, mengingat Rio adalah mantan prajurit pasukan khusus, dan teknologi pasukannya yang memiliki senapan modern, membuat mereka ‘harus’ merasa yakin pria itu akan membawakan kemenangan. SP-1 milik Peleton Khusus Aliansi diharapkan mampu menghancurkan Arevelk dan Yekirnovo yang masih mengandalkan pertarungan menggunakan pedang dan panah.


Kesembilan pahlawan yang dipanggil Aliansi untuk membantu mereka berperang dengan Persekutuan telah setuju berjuang bersama, dengan imbalan akan dipulangkan kembali ke dunia asal mereka setelah memenangkan perang. Mereka yakin kekuatan jumlah dan sihir besar milik Aliansi akan mengalahkan kekuatan kualitas teknologi milik pasukan ‘dunia lain’ dan kekuatan penyihir milik Arevelk dan Yekirnovo yang lebih kecil. Namun, mereka mungkin belum tahu seperti apa perang itu sebenarnya dan apa tujuannya, mereka juga tidak ingin memahaminya. Mereka mungkin hanya mencoba melarikan diri dari kenyataan bahwa mereka akan menghadapi salah satu kekuatan militer terbesar di belahan bumi selatan, dan untuk menjaga kewarasan mereka sendiri.


Lagipula, mereka percaya jika Aliansi adalah pemilik kekuatan terbesar di dunia ini, dan akan memenangkan perang dengan memanfaatkan kelebihan tersebut.


Selain itu, mereka juga mendapatkan kabar jika Aliansi akan mendapatkan anggota baru. Untuk memenangkan perang dengan teknologi milik pasukan ‘dunia lain’, tentu saja mereka membutuhkan kekuatan besar, dimana di antara kekuatan besar pasti terdapat kekuatan yang lebih besar.


Aliansi telah berkomunikasi dengan beberapa negara di dunia ini, dan menawarkan keuntungan jika bergabung dengan Aliansi dan memenangkan perang melawan Persekutuan. Beberapa negara anggota Aliansi saat ini juga telah memiliki hubungan erat dengan negara-negara lainnya, sehingga komunikasi menjadi lebih mudah dan kemungkinan untuk mendapatkan kekuatan tambahan juga semakin besar. Ada kurang dari seratus negara kecil dan besar di seluruh dunia ini, lalu Aliansi merasa kemenangan mereka dapat terjamin jika berhasil mempengaruhi beberapa negara besar untuk bergabung dengan mereka.


Dengan iming-iming merebut kembali Tanah Suci dan menguasai dunia asal pasukan musuh dengan kekuatan besar mereka, Aliansi yakin akan ada banyak negara yang terpengaruh dan bergabung dengan mereka. Selain itu, moral prajurit akan melonjak setelah mengetahui mereka akan mendapatkan kehormatan besar jika berhasil mengalahkan pasukan sekuat Persekutuan.


Kekuatan penting milik Aliansi tentu saja para pahlawan, khususnya pahlawan Amarah dan Pahlawan Nafsu. Dengan kemampuan penciptaan milik Pahlawan Nafsu serta pengetahuan senjata modern milik Pahlawan Amarah, Aliansi merasa dapat mendapatkan senjata kuat lalu memadukannya dengan jumlah besar mereka.


Aliansi saat ini memiliki kurang lebih tiga juta prajurit, dan dapat terus bertambah jika terdapat negara baru yang bergabung dengan pasukan mereka. Selain itu, penyebaran senapan modern yang diciptakan Pahlawan Nafsu dengan pengetahuan Pahlawan Amarah terus dilakukan, dan dua puluh persen pasukan telah memperoleh senjata tersebut dan melakukan pelatihan. Kemungkinan besar kedua pahlawan tersebut akan terus menciptakan senjata-senjata modern yang berasal dari dunia mereka, sehingga dapat menandingi senjata milik pasukan ‘dunia lain’ yang mengalahkan mereka dengan mudah dalam pertempuran pertama melawan Pasukan Ekspedisi.


Theodore menghabiskan sebagian waktu makannya dengan berbicara bersama Indah, dan Baron menatap mereka berdua dengan cemas. Bagaimanapun, Pahlawan Iri Hati alias Theodore mampu mengalahkannya dalam latih tanding beberapa waktu lalu, dan itu membuatnya kehilangan kesempatan untuk mendekati Indah. Meski dia tahu ada satu saingan lagi untuk mendapatkan Indah.


Setelah mereka selesai makan, seluruh pahlawan didatangi oleh seorang petinggi Aliansi dengan wajah resah. Dia adalah panglima perang Kekaisaran Sirds untuk Aliansi, dan salah satu orang yang paling berpengaruh di perkumpulan tersebut.


“Pahlawan yang terhormat, saya punya firasat buruk mengenai penyerangan yang dilakukan Pahlawan Amarah.”


Pahlawan Kesepian yang berasal dari Rusia yang bernama Evgeniy berdiri untuk menanggapi perkataan perwira tersebut. Pria itu berjalan beberapa langkah, dan mencoba menenangkan perwira tersebut agar sedikit tenang.


“Apa masalahnya? Bukannya Rio dan peletonnya sudah cukup kuat?”


Rio memiliki dua puluh peleton dalam Peleton Khusus Aliansi miliknya, dan dua peleton menurut sebagian perwira Aliansi sudah cukup kuat untuk melawan satu kompi pasukan kavaleri.


“Ini sudah hampir siang, dan Pahlawan Amarah belum juga kembali. Saya yakin pasukannya sangat kuat, namun keterlambatan pulang pasukan tersebut sangat meresahkan saya.”


“Kalau itu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Pahlawan Kebahagiaan, Kalle.


“Kalian semua seharusnya ingat sihir yang digunakan untuk memanggil kalian ke sini. Para penyihir percaya kalian juga mampu melakukannya juga untuk menjemput kembali Tuan Rio dan pasukannya.”


“Boleh juga, lagipula aku juga tak sabar mendengar hasil yang didapatkan Rio.”


**


Ratusan prajurit Kerajaan Arevelk, Yekirnovo, dan kontingen ‘dunia lain’ berkumpul di halaman Istana Awan. Setelah mendengar berita jika pertempuran dengan musuh berhasil dimenangkan oleh Tim Ke-12 yang berjumlah 20 anggota, markas pusat mengirimkan beberapa perwakilan untuk memeriksa apakah kabar itu fakta atau hanya berita yang dilebih-lebihkan. Tentu saja mereka tidak bisa percaya begitu saja jika Tim Ke-12 bertarung melawan dua peleton dan satu pahlawan milik Aliansi, dan berhasil memberikan kemenangan. Tapi, ketika informan memberikan tambahan jika tim tersebut dibantu oleh Hevaz, mereka baru dapat menerima jika kemenangan itu masuk akal, termasuk setelah melihat salah satu personel Tim Ke-12 yang terluka setelah pertarungan.


Banyak orang yang memuji pertarungan berani tim kecil tersebut, dan tidak melupakan dua pengorbanan puluh lima prajurit Arevelk yang gugur ketika menahan pergerakan musuh agar tidak bergerak semakin jauh ke dalam wilayah Kota Iztok. Pemakaman puluhan prajurit Arevelk dilakukan secara terhormat, dan dihadiri anggota Tim Ke-12. Berkat pengorbanan mereka, tim tersebut dapat menemukan posisi musuh dengan mudah, dan mengalahkan mereka dalam pertarungan yang melelahkan.


Karena kabar utama adalah kemenangan yang didapatkan, Hin, Sigiz, dan Suroso – yang belum kembali ke dunia asalnya, mengucapkan selamat dan terimakasih kepada Tim Ke-12 atas kemenangan dan bantuan yang diberikan untuk mempertahankan kota dari serbuan mendadak musuh. Mereka berhasil menangkap sembilan prajurit Aliansi, salah satunya komandan musuh yang dikalahkan sendiri oleh kapten tim tersebut meski harus berakhir terluka parah. Mereka semua dalam kondisi baik-baik saja, kecuali kapten mereka yang masih dalam perawatan.


Rio – dalam kondisi tubuh penuh luka lecet – dan wajahnya seperti sehabis dipukuli ratusan orang, diseret dengan rantai yang terpasang di lehernya dan tersambung dengan leher-leher bawahannya yang tertangkap. Tanaga Rio terkuras habis setelah pertarungan ‘berat sebelah’ dengan Nio, dan mentalnya telah runtuh hingga tingkat ke paling dasar. Dia dan kedelapan bawahannya di seret oleh prajurit Arevelk yang memiliki tinggi badan 2 meter, dengan pengawasan lima puluh prajurit elit lainnya – yang siap menyiksa mereka jika merencanakan perlawanan kembali.


Mereka diseret dengan kasar oleh prajurit Arevelk bertubuh tinggi dan besar tersebut ke arah gedung pengadilan. Itu adalah cara paling lembut bagi Arevelk untuk memperlakukan tawanan perang mereka. Jika Suroso dan kontingen ‘dunia lain’ tidak mengatakan sesuatu yang bernama ‘Hukum Perang Internasional’, masing-masing dari mereka akan diseret dengan diikatkan pada tubuh kuda, dan ketika para tawanan itu pingsan karena kelelahan, mereka akan ditusuk dengan tombak atau dicambuk, dan memaksa tawanan untuk kembali berdiri. Dengan cara ini, para tawanan akan kehilangan kemauan dan kekuatan untuk melawan atau melarikan diri, dan itu juga merupakan bagian dari proses menghancurkan mental mereka sebelum dijual sebagai budak.


Suroso memberikan hak kepada Arevelk untuk menangani tawanan yang didapatkan, dan dia mengatakan jika Arevelk bebas memperlakukan tawanan yang telah melukai seorang prajuritnya hingga terluka parah. Dia tampak seperti iblis ketika mengatakan hal itu, dan menatap para tawanan dengan dingin dari tempat duduknya di pengadilan. Dia belum akan kembali ke Indonesia sebelum keputusan untuk menangani para tawanan didapatkan, serta menunggu upacara pemberian penghargaan bagi Tim Ke-12 dan prajurit Arevelk yang gugur. Lagi pula, setelah dia tiba di Indonesia, Suroso akan kembali dihadapkan oleh perilaku ‘wakil rakyat’ yang tidak jelas.


Dia duduk di samping Hin, sementara Sigiz duduk di tempat duduk yang paling bagus di antara yang lain, dan di samping Sigiz adalah Penyihir Agung. Keberadaan Suroso di pengadilan adalah pemandangan baru bagi para bangsawan pemerintahan dan daerah, mengingat pria itu mengenakan pakaian yang berbeda daripada yang lain. Mereka semua menaruh hormat terhadap pemimpin negara sekutu terkuat Arevelk tersebut, dan berbicara dengan ucapan yang sangat sopan.


Bahkan panglima tertinggi Pasukan Kerajaan Arevelk, Zvail, terguncang setelah melihat kondisi wajah komandan musuh yang seorang pahlawan. Dia membayangkan apa yang dilakukan Nio terhadap Pahlawan Amarah yang berhasil ditawan tersebut. Bagaimanapun, bisa membuat wajah seorang pahlawan babak belur seperti itu adalah pencapaian yang luar biasa. Dan jika orang yang melakukan hal itu tinggal di Kerajaan Arevelk, bisa dipastikan orang itu langsung diangkat menjadi panglima militer negara ini tanpa melalui proses seleksi atau apapun itu.


Di lain sisi, Zvail dan kebanyakan orang yang hadir di pengadilan merasakan resah, takut, gugup, marah yang menjadi satu. Mereka takut dan resah jika perbuatan seseorang yang menyebabkan Pahlawan Amarah terluka sangat parah akan menimbulkan konflik yang sangat besar di masa depan, mereka gugup jika orang yang menghajar pahlawan tersebut hadir di tempat ini, dan mereka marah dengan apa yang sudah pahlawan dan pasukannya perbuat terhadap warga dan kota ini.


Ratu dan seluruh orang di tempat ini sangat muram dan menunjukkan ekspresi marah terhadap kesembilan tawanan tersebut. Para tawanan sadar bahwa mata seluruh orang tertuju pada mereka, dan menunjukkan tatapan kebencian yang menusuk hati. Tetapi, mata Pahlawan Amarah yang tertutupi oleh wajahnya yang membengkak menunjukkan tatapan kebencian terhadap ratu negara ini. Hasratnya untuk mendapatkan ratu Kerajaan Arevelk harus digantikan dengan wajahnya yang terluka parah, dan darah yang menodai wajahnya belum dibersihkan.


Beberapa bawahan Rio menangis tersedu-sedu dan memohon ampun bahkan sebelum persidangan dimulai. Seluruh bawahan Rio gemetar, dan menunjukkan perasaan takut yang tak tertahankan seakan-akan mereka dapat mati hanya dengan tatapan kebencian seluruh orang di tempat pengadilan.


“Setiap tindakan yang membahayakan negara dan rakyat ku, tidak peduli apakah pelakunya seorang pahlawan, ksatria tingkat tinggi, atau prajurit biasa, bahkan budak. Akan mendapatkan hukuman yang sama dengan apa yang diperbuat,” sang ratu, Sigiz, sudah berbicara mengenai putusannya terhadap para tawanan di depannya. Dia tidak peduli mereka masih dalam kondisi lemah fisik dan mental setelah pertarungan, hukuman tetap harus diberikan meski terdapat perlawanan.

__ADS_1


Tentu saja ini adalah keputusan setelah melalui pertimbangan beberapa hal, termasuk status kedua pihak. Bahkan, Sigiz sendiri bingung untuk memikirkan cara meminta maaf terhadap Nio, sehingga dia harus melakukan berbagai cara agar Nio menerima permintaan maafnya.


Suroso menatap para tawanan dengan dingin dan tajam, dengan sedikit berusaha agar terlihat keren. Dia memancarkan aura seorang pemimpin suatu negara yang kuat, serta seseorang yang masih memiliki darah muda yang mengalir dalam jiwanya. Dia tetaplah seorang pemimpin negara yang sangat muda, meski dia telah memiliki istri dan anak Suroso tetap tersenyum ketika ada seorang perempuan bangsawan melirik ke arahnya.


**


“Aduh, duh, aaa…”


Kepalanya sakit, punggungnya sakit, kakinya sakit, tangan kirinya sakit, Nio merasakan hampir seluruh tubuhnya sakit kecuali tangan kanannya yang berupa tangan buatan dari logam.


Setelah sadar kembali setelah beberapa jam tertidur, Nio dengan paksa membuka matanya untuk tidak melihat apapun selain kegelapan. Nio ingat jika dirinya hampir tak sadarkan diri setelah pertarungan berakhir ketika matahari terbit, namun setelah itu seluruh pandangannya menjadi gelap. Apakah dia tertidur hingga malam hari, atau dia sedang dikurung dalam ruangan gelap … Nio berpikir jika dirinya tenggelam dalam kegelapan yang sangat dalam.


Namun, yang membuatnya gugup adalah sensasi lembut yang menyelimutinya, yang membuatnya merasa sangat nyaman dan disertai dengan firasat buruk. Dia melihat sekeliling untuk mencoba melihat di mana dia berada sekarang. Kepalanya masih sakit, tetapi dia mencoba menopang dirinya sendiri.


Dan kemudian, sepasang tangan dengan lembut menghentikan Nio yang mencoba untuk bangkit.


Sepasang tangan ini dengan lembut mendorongnya kembali ke tempat tidur dan menyelimutinya.


Setelah itu, dia melihat seseorang sedang melakukan sesuatu yang membuat bagian bawah tubuhnya terasa hangat… atau mungkin nikmat?


Nio kemudian melirik ke bagian bawah tubuhnya untuk melihat apa yang membuatnya merasa nikmat. Bahkan sensasi ini jauh lebih nyaman jika dia melakukannya sendiri, bahkan hingga membuatnya merinding keenakan.


“Ah ~ apa yang membuat Anda terbangun, Tuan?”


Bahasa Indonesia yang diucapkan Edera sangat fasih, dan mengingatkan Nio dengan karakter bertelinga kucing di komik Jepang yang pernah baca. Karakter Edera seperti tokoh fantasi pada novel dan komik Jepang, serta pelayan kafe Akihabara. Tetapi, sosok Edera adalah karakter fiksi yang nyata, dan tepat di depan matanya gadis itu sedang memijat kakinya hingga dia merasa sangat keenakan. Dia sering memijat kakinya sendiri, dan itu tidak membuatnya nyaman sama sekali. Berbeda dengan Edera yang memijat kakinya dengan kedua tangan lembut dan hangatnya, serta senyumnya yang manis dan kedua telinga kucingnya yang bergerak-gerak dengan gemas.


“Ini, dimana?”


“Anda sedang dirawat di ruang perawatan Istana Awan, Tuan,” jawan Edera.


Nio mengangguk, seolah mengatakan “Aku mengerti”, dan mulai mencoba memahami situasinya.


Pandangan sekilas ke sekeliling memperlihatkan jika dia tidak berada di penjara bawah tanah atau rumah sakit Pasukan Perdamaian di Tanah Suci atau fasilitas serupa.


Nio merenung karena dia dirawat di fasilitas yang hanya dapat digunakan oleh keluarga kerajaan. Belum lagi yang merawatnya adalah pelayan istana, Hevaz, Edera, Zariv,dan Sheyn. Nio merasa jika Arunika, Lisa, dan Nike telah dipulangkan ke asal mereka daripada harus berada di tempat ini dan terjebak dalam hal yang berbahaya seperti yang dia alami semalam.


Yang berbicara tadi adalah Sheyn, kemudian gadis itu membantu Nio duduk agar pemuda itu dapat meminum paling tidak satu teguk air.


Kemudian, dia melihat ke sekeliling lagi, dan melihat beberapa pelayan yang menyadari jika sedang ditatap olehnya membungkuk dengan anggun. Beberapa pelayan terlihat memiliki tinggi badan lebih tinggi dari Arunika tapi lebih pendek darinya.


“Acara? Apa akan ada acara lagi setelah ini?”


“Yah… begitulah yang dikatakan Ratu Sigiz. Sepertinya dia akan memberimu dan bawahanmu hadiah, penghargaan atau semacamnya,” jawab Sheyn.


Beberapa pelayan terlihat berterimakasih terhadap Nio yang telah menghadapi serbuan mendadak musuh. Mereka juga mengatakan akan ada upacara pemberian penghargaan bagi orang yang terlibat dalam pertarungan melawan musuh. Berkat bantuan Nio dan bawahannya, kota ini terhindar dari kerusakan yang besar, dan membuat perbaikan kembali kota ini menjadi lebih cepat.


Seluruh prajurit yang bertugas id Kota Iztok telah disebar ke seluruh kota, terutama pasukan yang tidak terlibat dalam pertempuran yang tidak bisa menyusul sebagai pasukan bantuan. Sigiz telah memerintahkan pasukan elit-nya dan reguler untuk berpatroli di bagian dalam wilayah kota dan wilayah luar kota.


“Silahkan perintahkan kami apapun yang Anda butuhkan, Tuanku.”


Total ada delapan pelayan istana yang membantu merawat Nio, dan salah satu dari mereka mengatakan hal tersebut. Empat dari pelayan berasal dari ras manusia, sedangkan yang berbicara dengan Nio dan tiga pelayan lainnya berasal dari ras Demihuman bertelinga kucing, kelinci, dan rakun.


Nio tidak tahu bagaimana menjawab gadis-gadis manis dan perempuan cantik yang mengatakan itu padanya. Tetapi, wajah bahagia Nio mengundang reaksi yang berlawanan dari gadis-gadis lainnya. Hevaz sudah siap dengan sabit raksasanya, Edera telah pada mode perang, Sheyn siap untuk membuat Nio kembali babak belur, dan Zariv siap membuat Nio terluka parah dengan sihirnya.


Nio tahu apa yang terjadi jika dia bertarung melawan orang yang memiliki kekuatan melebihi miliknya, dan inilah yang dia dapatkan setelah pertarungan berakhir meski berhasil bertahan hidup. Tujuannya untuk menangkap komandan musuh, Rio, menurutnya adalah hal yang sangat bodoh, karena dia sendiri tidak memahami lawannya karena kurangnya informasi. Yang bisa dia lakukan adalah bertarung dengan berani agar lawannya tidak memiliki kesempatan lebih kuat lagi untuk melawan. Dan dikelilingi banyak gadis cantik dan manis membuat rasa sakit fisik dan mentalnya mulai berkurang.


Nio tahu jika dia sedang dalam hal yang sangat berbahaya, bahkan dia berpikir akan tidak bisa mengendalikan gadis-gadis itu dengan mudah seperti menjinakkan ranjau. Keempat gadis itu tampak cemberut dan memperlihatkan tatapan membunuh yang sangat kuat. Tetapi, dikelilingi oleh banyak gadis membuat Nio merasa sedang berada di surga.


Beberapa saat kemudian, pintu ruangan diketuk oleh seseorang dan Hevaz menginjinkan orang itu untuk masuk.


Orang yang memasuki kamar perawatan Nio adalah seorang prajurit elit Arevelk, dan ketika dia melihat adanya Hevaz di tempat ini, prajurit itu tiba-tiba memberikan hormat ala pemuja Dewa Perang. Dewa Perang adalah keberadaan yang dipercaya memberikan kekuatan bagi seorang prajurit, sehingga dapat bertarung tanpa takut mati. Selain itu, Dewa Perang adalah sosok Penghakiman dan Pengendali Perang. Dan Nio merasa jika Hevaz bukanlah sosok sembarangan, tetapi mengapa dia begitu menghormati ku?


“Tuan Nio, Yang Mulia Sigiz dan raja negara Anda memanggil Anda untuk menghadiri persidangan.”

__ADS_1


Raja? Nio tersenyum tipis ketika prajurit itu mengatakan hal tersebut. Di lain sisi, dia merasa kesal dan marah jika harus bertemu lagi dengan Rio, meski dia telah berhasil membuatnya babak belur.


“Ya, aku akan segera ke sana.”


**


Nio mengenakan seragam hariannya, lengkap dengan pistol di pinggang kirinya, yang pasti pakaiannya sudah lebih pantas. Perban yang melilit sebagian tubuhnya masih terlihat, dan jika dia dalam keadaan telanjang dada maka akan terlihat perban melilit seluruh punggungnya yang terluka. Untungnya, tidak ada tulang yang patah atau cedera berat lainnya yang Nio derita setelah bertarung dengan seorang pahlawan. Dia berjalan di dampingi dengan empat gadis tersebut, dengan disertai tatapan penuh hormat orang-orang yang hadir pada persidangan.


“Kumohon, jangan tatap aku seperti itu,” Nio mengatakan hal itu didalam hati, dan berpikir jika mengatakan dengan nada keras hanya akan membuat orang-orang melakukan hal yang dibenci olehnya, terlalu dihormati misalnya.


Mengetahui bahwa Nio tiba di tempat persidangan, Rio membalikkan kepalanya ke belakang dan menatap Nio, dia melihat dan memelototi Nio dengan wajah penuh lebam dan darah, matanya dipenuhi oleh amarah.


Tetapi Nio tidak mempedulikan tatapan penuh kebencian Rio yang dia dapatkan, hatinya merasakan sebuah rasa yang sangat puas setelah berhasil membuat seorang pahlawan babak belur. Dia melihat leher dan tangan Rio serta tawanan yang lain diikat dan ditahan oleh rantai yang sepertinya cukup berat. Namun, dia tetap harus menghormati tradisi pengadilan negeri ini.


Dia menghadap Suroso lalu memberi hormat sesuai prosedur, dan duduk bersama bawahannya setelah presiden-nya membalas hormat darinya.


Di Aliansi, kekuatan adalah segalanya demi memenangkan pertempuran. Selama orang memiliki kekuatan yang sangat besar, Anda dapat melakukan hal sesuka hati, misalnya mencaci orang setingkat presiden.


“Yah, kurasa militer Indonesia semakin lemah, berkat kepemimpinan mu Presiden Suroso.”


Suroso mengerutkan keningnya, lalu wajahnya berubah dan menunjukkan ekspresi bingung yang luar biasa.


“Nio, siapa orang yang babak belur itu?”


Tanpa melihat wajahnya Nio sudah tahu jika orang yang dimaksud Suroso adalah Rio.


“Salah satu pahlawan yang dimiliki Aliansi, salah satu orang terkuat yang dimiliki Aliansi, salah satu orang Indonesia yang menjadi pahlawan milik Aliansi, seorang mantan prajurit TNI – Tentara Pelajar seperti saya, dia bernama Rio.”


Tanpa pikir panjang Suroso berdiri dari tempat duduknya, dan berdiri di hadapan Rio yang telah berbicara secara lancang terhadapnya. Melihat itu, seluruh personel Tim Ke-12 dan utusan markas pusat bersiaga jika Rio akan membahayakan Suroso.


“Pengkhianat tidak pantas berbicara seperti itu.”


Orang di depannya hanya tersenyum mendengar perkataannya, dan memberi kesan membingungkan.


“Ya, aku sudah menduga akan mendapatkan gelar itu. Lagipula, dengan kekuatanku sekarang, Indonesia – bahkan seluruh dunia akan kuhancurkan. Aku jauh lebih kuat dari TNI dan pasukan manapun.”


Mata Suroso membelalak tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari seorang Rio. Sejujurnya, dia masih bisa menahan amarahnya yang sudah berada di puncaknya. Tetapi Suroso sadar jika di depannya adalah salah satu orang terkuat milik musuh.


“Letnan…!!!” seluruh bawahan Nio berteriak keras seperti itu ketika kapten mereka tiba-tiba melompat dari tempat duduk para hadirin dan berlari cepat ke arah Rio. Tanpa pikir panjang Nio kembali menendang kepala Rio dalam kecepatan sangat tinggi hingga kepala sang Pahlawan Amarah membentur lantai dengan sangat keras. Suara kepala Rio yang membentur lantai menggema di seluruh ruangan. Dia melakukan hal itu seakan-akan belum puas membuat Rio hampir sekarat seperti sebelumnya. Terlihat cipratan darah tercipta di sekitar kepala Rio yang masih berada di lantai. Seluruh bawahan Rio gemetar dengan hebat setelah melihat apa yang menimpa komandan mereka, bahkan celana salah satu dari mereka sudah basah.


Nio kemudian mengangkat kepala Rio dengan cara menjambak rambutnya, wajah Nio terlihat sangat dingin ketika melakukan hal itu meski tubuhnya masih terluka. Selama itu menyangkut harga diri presiden, Nio merasa sangat perlu melakukan hal seperti memecahkan kepala seseorang. Menjaga kehormatan pemimpin negara itu sangat sakral, dan alat negara seperti Nio wajib melaksanakan tugas itu, bahkan itu harus membunuh musuh di depan presiden.


Dahi Rio mengeluarkan darah dengan sangat banyak, dan kini seluruh wajah si Pahlawan Amarah dilumuri oleh darahnya sendiri hingga menetes dan mengotori lantai. Hin dan Suroso gemetar setelah aksi Nio membuat kondisi si tawanan sangat mengenaskan seperti itu. Rio terlihat masih sadar, dan wajahnya terlihat lebih mengerikan daripada sebelumnya. Bahkan Paspampres yang berada di ruangan ini merasa tidak mampu berbuat seperti Nio… di depan presiden secara langsung.


Orang yang telah mengkhianati negara sendiri, lalu menghina orang yang telah dipilih untuk memimpin suatu negara secara sengaja dianggap sebagai tindakan yang paling hina, dan itu menjadi dasar Nio untuk melakukan hal yang membuat kondisi Rio semakin parah.


“Tutup mulutmu, brengsek! Aku tidak akan memaafkan siapapun yang menghina Presiden,” Nio dingin seperti es dan tajam seperti pisau.


“Yah, kurasa kau sudah menyulut api peperangan yang jauh lebih besar, Nio,” kata Rio dengan nada angkuh. Dia meludahkan seteguk darah dan kembali mengotori ruang persidangan dengan darahnya. Rio dapat mengatakan hal itu karena dirinya adalah sosok pemilik kekuatan yang sangat dibutuhkan oleh Aliansi.


“Aku tidak peduli dengan perkataanmu dari mulut busukmu itu, bung. Yang kupedulikan adalah kau sudah menghina presiden, menyerang ibukota Kerajaan Arevelk, dan membunuh banyak warga sipil. Semua perbuatanmu setelah menjadi pahlawan jauh lebih rendah dari kotoran. Bahkan kotoran masih pantas untuk dipegang, dan bagiku membunuh orang sepertimu tidaklah berdosa.”


“Berhenti mengatakan omong kosong, kawan. Kalau begitu, sebelum kau membunuhku, aku akan membunuhmu terlebih dulu! Hahahahahahah~!”


Nio bisa melihat Rio sangat gemetar. Bertingkah dan berkata seperti itu dengan begitu berani kemungkinan besar merupakan alat untuk mengalihkan rasa takut yang dialami Rio. Tawa Rio yang meledak-ledak merupakan hinaan bagi Nio dan seluruh orang di tempat ini, kecuali bawahannya.


“Kau pikir aku takut dengan ocehan dari babi seperti mu?...” ucap Nio dengan nada yang begitu tenang.


“…Membunuh babi sepertimu sama sekali tidak akan membuatku dipidana,” lanjutnya.


Suasana masih mencekam, lalu Nio menyiapkan pistolnya pada mode semi otomatis, lalu mengarahkannya pada kepala Rio.


“Nio! Tahan!” perintah Suroso.

__ADS_1


Suara tiga tembakan yang menggema di seluruh penjuru ruangan mengejutkan seluruh orang, termasuk cahaya putih dan lingkaran yang dihiasi pola geometris yang sangat menyilaukan. Nio yakin dia telah menembak Rio dengan proyektil 9mm dari pistolnya, namun cahaya putih tadi menurutnya adalah penyebab Rio dan seluruh bawahannya menghilang dari ruang pengadilan.


Rio dan seluruh bawahannya yang belum dijatuhi hukuman tiba-tiba menghilang saat lingkaran putih muncul. Itu mengejutkan seluruh orang, dan membuat Nio kesal karena salah satu musuh terkuat Pasukan Perdamaian berhasil diselamatkan.


__ADS_2