Prajurit SMA

Prajurit SMA
134. Harapan 3: bantuan tak terduga


__ADS_3

Dua hari setelah tertutupnya Gerbang sempurna di Kota Karanganyar…


Istana Negara, siang hari…


Tiga pria berjalan menyusuri koridor Istana Negara, salah satu dari mereka berasal dari Kerajaan Arevelk. Bersama Panglima TNI, Suroso berjalan bersama panglima Kerajaan Arevelk dengan gaya berjalan penuh martabat, meski dia lebih pendek dari kedua petinggi militer tersebut. Seluruh staf istana memandang kagum ketiga orang penting itu.


Pada hari ini, seluruh lingkungan istana dipenuhi dengan obrolan yang menyangkut mengenai Gerbang yang tertutup dengan tiba-tiba. Panik? Tentu saja seluruh rakyat Indonesia merasa tidak nyaman dengan berita ini. Bahkan Suroso setiap 1 jam sekali menerima telepon dari pemimpin negara tetangga dan sahabat.


Tidak seperti di markas pusat Pasukan Ekspedisi yang mengalami kerusakan ringan akibat penutupan ‘paksa’ Gerbang, di Karanganyar dan wilayah terdekat hanya terjadi gempa berkekuatan 2.0 saat terjadinya peristiwa tersebut.


Sesekali, bahkan seminggu sekali perwakilan militer Kerajaan Arevelk mengunjungi Indonesia dengan media Gerbang tak sempurna yang dibukakan para penyihir elit Kerajaan. Bahkan Suroso sesekali bertemu dengan para petinggi militer Kerajaan untuk berbagi satu atau dua diskusi penuh semangat.


Namun, pada hari ini akan terjadi pembicaraan yang sangat serius antara Republik Indonesia dan Kerajaan Arevelk, tentu saja menyangkut mengenai Gerbang. Jika diperkirakan ada sebanyak 50 prajurit elit Kerajaan yang berjaga bersama prajurit penjaga istana. Dengan begitu bisa dipastikan pembicaraan sangat penting dan tidak bisa diganggu.


Suroso dan Jendral Nugroho Tri Rahman memasuki ruang pertemuan bersama Panglima Kerajaan Arevelk, Zvail. Ratu Sigiz sudah menunggu di sini sejak kedatangannya bersama pasukannya. Keempat orang terpenting di masing-masing negara menunjukkan kemuraman di wajah mereka.


Dan hanya ada satu alasan kemuraman mereka.


“Kondisi Pasukan Indonesia di Tanah Suci cukup kacau. Terakhir saya melihat jika prajurit saling curiga setelah peristiwa peracunan. Lalu, Pasukan Aliansi berhasil mengumpulkan sangat banyak prajurit,” Sigiz berbicara dengan suara yang kental dengan emosi dan kecemasan.


Memejamkan matanya dengan erat, Panglima Nugroho menghela napas lalu berkata, “Yah, kami juga tidak menyangka jika musuh berhasil mengurangi pasukan kami pada pertempuran di Kota Aibu. Musuh pasti sudah memutar otak mereka dengan sangat berlebihan. Kami berharap masalah Gerbang cepat menemukan jalan keluarnya.”


Tanda-tanda pertempuran selanjutnya sudah nampak, namun jika masalah Gerbang belum ada jalan keluarnya mengharuskan prajurit Pasukan Ekspedisi berjuang mati-matian dengan pasokan seadanya.


Baik Indonesia dan Kerajaan Arevelk sama-sama terancam dengan keberadaan Pasukan Aliansi dan para pahlawan yang terpanggil. Tidak ada jaminan Pasukan Ekspedisi yang tersisa bisa memenangkan perang selanjutnya dengan jumlah prajurit yang terpaut sangat jauh.


“14.809 lawan 300.000, ya… kami memiliki harapan pada prajurit terbaik kami di sana…”


Ini adalah pemandangan yang sangat langka, dimana Suroso menghembuskan napas setelah berbicara dengan lemas seperti itu. Dia berbicara seakan-akan membuka kembali Gerbang di Kota Karanganyar adalah hal yang mustahil.


“Ada apa dengan ekspresi tidak ceria anda, Tuan Presiden? Gerbang yang tertutup bukan berarti tidak ada jalan keluarnya.”


Suroso dan Nugroho dengan lemas mengangkat kepala, dan memandang kedua orang dari dunia lain tersenyum ke arah mereka.


Telapak tangan Suroso berkeringat, dan bahunya gemetar setelah memikirkan nasib prajurit di dunia lain. Kecemasan Suroso dan panglimanya dihentikan setelah Zvail menepuk bahu Suroso.


Tatapan yang diberikan Zvail dan Sigiz sangat serius, dan senyum tulus mereka seakan-akan menandakan ada harapan untuk Pasukan Ekspedisi.


“Yang Mulia Presiden, Indonesia adalah teman Kerajaan Arevelk. Kami memiliki banyak pendukung, terutama penyihir elit kami yang bersedia membantu negara anda.”


Sigiz kemudian menyambung, “Benar, tidak ada waktu untuk kebingungan. Besok, penyihir elit Kerajaan akan tiba di Indonesia dan akan membuka Gerbang tak sempurna bagi jalan keluar pasukan bantuan.”


“Terimakasih atas bantuannya, tanpa pikir panjang akan saya terima bantuan ini atas nama rakyat Indonesia. Sebagian prajurit di sana pasti memiliki keluarga yang menunggu. Tapi… memberikan bantuan yang sangat besar, berarti akan memerlukan bayaran yang besar pula bukan?”


Sigiz dan Zvail saling pandang dan tersenyum, itu membuat Suroso dan Nugroho kebingungan dan bertanya-tanya dalam diam.


Keduanya menatap Sigiz yang memiliki kecantikan sempurna, dan dalam hati mereka membayangkan bayaran yang diminta Kerajaan Arevelk untuk bantuan ini.


“Setelah pertempuran, mari kita bahas bayaran untuk bantuan Kerajaan Arevelk.”


“Ayolah, Ratu. Setidaknya beri tahu saya sedikit petunjuk mengenai bayaran yang kalian minta.”

__ADS_1


“Jika kita memenangkan perang selanjutnya, saya akan memberitahukan bayaran yang kami inginkan.”


“Kita? Apa itu artinya Kerajaan Arevelk akan mengirimkan pasukan juga!?” mata Nugroho melebar saat mengatakan hal itu, seperti anak kecil yang dijanjikan jajanan jika menurut.


Dalam hati, Nugroho sudah membayangkan pertempuran yang berat sebelah dalam hal jumlah prajurit itu.


“Tentu saja, jika kami tidak mengirimkan bantuan kami juga tidak bisa meminta bayaran untuk bantuan yang akan kami berikan nanti.”


Harapan yang tak terbayangkan, keseluruhan pernyataan yang Sigiz lontarkan adalah demi berlangsungnya hubungan baik antara Indonesia dan Kerajaannya. Jika tidak membangun hubungan baik dengan Indonesia, Kerajaan Arevelk akan mengalami kesulitan juga.


“Apakah kalian akan membuka Gerbang tak sempurna seperti saat pengiriman kapal-kapal perang kami ke dunia lain?”


“Ternyata anda pemimpin yang sangat pintar ya, Tuan Suroso.”


Mengingat bantuan yang diberikan Kerajaan Arevelk sudah sangat besar, pemerintah kebingungan untuk memberikan bayaran yang setimpal.


Setelah Gerbang sempurna yang berdiri di Kota Karanganyar tertutup, seluruh dunia dilanda kecemasan. Karena bisa saja Gerbang muncul di salah satu tempat di dunia ini, dan menyebabkan masalah yang sama ketika Gerbang itu muncul di Karanganyar.


Perang sebelumnya bukan disebabkan Gerbang yang terbuka dengan sempurna, melainkan menggunakan jenis Gerbang tak sempurna yang hanya memerlukan energi sihir para penyihir.


Untuk mengirimkan pasukan bantuan ke dunia lain, Panglima berencana mengirimkan pasukan Garnisun Karanganyar, itu semua demi kemudahan akses dan mempercepat pengiriman. Namun, jumlah 3 kompi bantuan tidak akan cukup untuk melawan 300.000 pasukan musuh.


Menyiapkan keberangkatan pasukan dari garnisun terdekat juga memerlukan waktu, paling dekat adalah pasukan Garnisun Semarang yang diperkuat 4 kompi, dan Garnisun Magetan yang memiliki kekuatan udara. Paling cepat bantuan pasukan dan penyihir selesai melakukan persiapan besok, dan siap diberangkatkan lusa.


Saat ini, dada Suroso bergetar saat melihat bantuan tak terduga yang merupakan sumber harapan yang dicari-cari sejak menghilangnya Gerbang. Pasukan Ekspedisi di dunia lain yang masih kebingungan pasti juga membutuhkan bantuan, dan jawaban dari doa-doa dari prajurit yang beriman akan datang secepatnya, dan segera bergabung dengan mereka untuk mempertahankan negara dari seluruh musuh, itu termasuk para pahlawan.


Mungkin ini adalah sinyal bagi pemerintah untuk lebih memperhatikan para prajuritnya, apalagi pasukan yang dikirimkan ke dunia lain membutuhkan perhatian lebih karena tidak ada yang tahu musuh-musuh kuat dunia lain selain keberadaan raja naga dan para pahlawan.


**


H-1 pertempuran...


Untuk sesaat, pikiran para komandan terhenti. Rapat kedua yang membahas strategi untuk menghadapi musuh sudah menguras tenaga para komandan.


Mempertaruhkan segalanya dalam satu pertempuran yang menentukan tidak lebih dari ide bodoh. Tanpa sengaja beberapa komandan mencoba berdebat tadi, tetapi Jendral Sucipto mengendalikan mereka dengan satu tangan.


“Ada peluang untuk menang. Tidak, kita harus melakukan semuanya untuk menang.”


Semua prajurit di sini memang tidak pernah tahu kapan mereka pulang, atau tidak sama sekali. Ada banyak orang yang menunggu para prajurit di tanah air, keluarga mereka terus menunggu kabar dari para prajurit sejak menghilangnya Gerbang. Ada banyak orang yang memohon keselamatan bagi para prajurit.


Sucipto melihat ke sekeliling, namun hanya ada para bawahannya yang masih bingung.


Lalu, ada dua orang gadis yang mengenakan pakaian ksatria, namun yang satunya cukup terbuka hingga memperlihatkan setengah bagian pahanya. Nio berdiri kemudian memperkenalkan mereka kepada seluruh komandan di sini. Herlina melihat Nio cukup mengenal kedua gadis itu, memang mereka berdua memiliki kecantikan yang cukup meski sama-sama tentara. Tapi tetap saja, dia masih iri dengan Nio yang ternyata cukup banyak mengenal gadis-gadis dunia lain.


“Mereka adalah ksatria Kerajaan Arevelk, Jendral Lux dan pengawal pribadi Ratu Sigiz, Zariv. Nah, Zariv mengatakan jika dia memiliki sedikit pengetahuan mengenai Gerbang, baik Gerbang sempurna dan tidak sempurna.”


Para komandan terkejut. Di sisi lain Zariv menjadi tenang dan mulai menjelaskan.


Para komandan yang semula sedikit curiga padanya, berangsur-angsur tenang saat penjelasan berlanjut.


“Gerbang sempurna adalah tingkatan tertinggi dari seluruh jenis Gerbang. Meski membuka Gerbang sempurna membutuhkan tumbal manusia dengan jumlah besar dan energi sihir yang besar pula, benda sihir ini tetap saja fenomena yang merupakan kehendak Dewa Harapan. Gerbang juga harus memiliki sihir pengikat untuk membuatnya tetap berdiri, dan Pasukan Aliansi sudah melepaskan sihir pengikat tersebut yang membuat Gerbang tertutup atau menghilang.”

__ADS_1


“Lalu, apakah itu berarti Gerbang itu masih ada? Atau masih ada kesempatan lagi untuk terbuka?”


“Sejauh yang saya tahu, Gerbang hanya bisa tertutup bila sihir pengikatnya dilepaskan. Bila ada penyihir yang memiliki energi yang sangat besar untuk mengembalikan sihir pengikat tersebut, masih ada harapan untuk membuka Gerbang lagi.”


“Tunggu, jadi ada penyihir yang mampu mengembalikan sihir pengikat Gerbang?”


Zariv mengangguk, dia tak segan-segan memberikan seluruh ilmu yang dia miliki mengenai Gerbang terhadap pasukan ini. Karena dia tahu jika Kerajaan Arevelk dan negara asal Pasukan Ekspedisi berhubungan dengan baik.


Dia melanjutkan perkataannya, “Minimal, kita memerlukan sekelompok besar penyihir elit untuk menggabungkan kekuatan mereka hingga setingkat para pahlawan untuk mengembalikan sihir pengikat Gerbang.”


“Tapi, waktu kita tidak banyak. menurut perkiraan pertempuran terjadi besok. Jika beruntung, kita tetap bisa bertahan dari serbuan musuh, dan memikirkan rencana untuk mengumpulkan para penyihir.”


Ekspresi semua komandan menjadi keruh, bahkan Sucipto juga menunjukkan ekspresi masam. Dia mungkin ragu-ragu pasukan bisa bertahan pada pertempuran besok. Tapi, hanya Zariv dan Lux yang memiliki ekspresi berbeda, mereka nampak cukup tenang diantara para komandan yang khawatir dengan pertempuran besok.


Melihat mata Nio yang menunjukan jika pemuda itu memiliki kemauan keras, Lux dengan tegas berkata, “Kita semua akan bersatu!”


Sesaat kemudian, pintu terbuka dengan kencang, para komandan tidak ada kesempatan untuk menghentikan beberapa orang yang masuk tanpa ijin ke ruang rapat.


Orang-orang yang datang adalah para prajurit bayaran milik pedagang pendatang yang berpangkat tinggi dan para pengungsi pria dari berbagai ras, dan wajah-wajah familiar lainnya.


“Semuanya, kenapa kalian di sini!?” Nio yang dikenal banyak pengungsi bertanya dengan wajah sangat terkejut, melebihi terkejutnya dia saat bertemu dengan Rio dan Indah semalam.


Yang pertama berbicara saat Nio sedang bingung adalah Lux, “Kami akan bertarung juga!”


Lux dan Zariv bergabung dengan barisan para pengungsi dan prajurit bayaran.


Salah satu prajurit bayaran maju dan berkata, “Pasukan Indonesia sudah membantu tuan kami untuk berdagang di sini. Jadi mereka memerintahkan kami untuk bertarung besama kalian demi menjaga wilayah perdagangan penting ini.”


“Tanah Suci kini adalah rumah kami. Kalian sudah menyelamatkan kami dari Kekaisaran yang menindas kami, kami akan melindungi kalian juga bahkan jika kami mati.” salah satu pemuda Demihuman berbicara dengan nada lantang dan disertai sorakan dari pengungsi lainnya.


Para pengungsi dan prajurit bayaran membuat suasana ruang rapat menjadi gaduh, lalu Sucipto dengan keras menggebrak meja.


“Apa kalian masih waras! Kalian ini warga sipil!”


“Kemarin kami memang warga sipil, tapi tidak untuk hari ini dan seterusnya.”


Seorang Sucipto bahkan tidak bisa membantah kata-kata itu, dia kemudian kembali ke tempat duduknya dengan lemas.


Namun, ini bukan tanpa masalah. Ya… para pengungsi tidak punya senjata, dan persediaan senjata para prajurit bayaran pastinya sangat terbatas. Tidak mungkin memberikan senapan serbu pada para pengungsi dan prajurit bayaran, karena itu akan membutuhkan latihan yang lama.


Nio menyeringai seolah menyadari masalah terbesar jika para pengungsi dan prajurit bayaran ingin membantu.


“Ada banyak senjata ketika kita mengalahkan pasukan musuh saat pertama kali keluar dari Gerbang!”


“Itu dia!”


Tempat pembuangan sampah setelah perang, yang terletak di luar benteng. Pembuangan sampah berisi sampah yang tidak bisa terbakar, dan terdapat bukit kecil yang terbentuk dari zirah logam dan persenjataan yang ditinggalkan setelah pertempuran pertama saat Pasukan Ekspedisi keluar dari Gerbang.


Namun, apakah tidak apa-apa menerima bantuan tak terduga dari para pengungsi dan prajurit bayaran milik pedagang?


**

__ADS_1


Funfact#10: nama Suroso merupakan singkatan, nama aslinya adalah Surya Roso Asmoro. Meski namanya terkesan seperti orang Jawa, namun dia keturunan Maluku, tepatnya ayahnya berasal dari kepulauan Maluku.


__ADS_2