Prajurit SMA

Prajurit SMA
Tugas pertama di garis depan


__ADS_3

lima hari kemudian, di Zona Perbatasan Utara Ke-21. Ini adalah misi sesungguhnya yang diinginkan angota Tim Ke-12 pimpinan Letnan Satu Nio Candranala.


Ini adalah tempat yang merupakan zona perang potensial, yang sebagian besar terdiri dari padang rumput dan lahan kosong yang gersang dan dihiasi puluhan batu raksasa, yang bisa disebut dengan Garis Utara. Di depan sana, merupakan wilayah musuh… alias wilayah Kekaisaran Luan yang hanya menguasai sebagian kecil dari Tanah Suci sejak berdirinya negara muda yang bernama Kerajaan Yekirnovo. Mungkin itu penyebab mereka terus berperang dengan Yekirnovo dan sekutunya, demi mendapatkan kembali wilayah dan kembali menguasai Tanah Suci yang sebelumnya sebagian besar dikuasai oleh mereka.


Ada puluhan unit yang masing-masing unit berkekuatan antara satu tim yang berjumlah 12 orang hingga unit yang sebesar kompi, salah satu unit yang dikirim untuk menjaga perbatasan adalah Tim Ke-12. Karena tidak mungkin untuk mengirimkan seluruh prajurit kontingen Indonesia, Rusia, dan Korea Utara untuk berpatroli di perbatasan, kontingen Yekirnovo dan Arevelk mengirimkan 500 hingga 1.000 prajurit mereka untuk berjaga di zona yang tidak dijaga oleh kontingen dari dunia lain tersebut (Indonesia, Rusia, dan Korea Utara).


Seragam lapangan dengan nuansa coklat gurun dan abu-abu gelap, yang mereka dapatkan dari produksi terbaru yang khusus untuk Pasukan Perdamaian di dunia lain, dan bukannya seragam lapangan yang baru dikeluarkan dari gudang dalam keadaan berdebu. Tidak ada yang melarang prajurit untuk mengenakan aksesoris seperti ‘keffiyeh’ yang dililitkan di leher beberapa anggota laki-laki, mereka akan mendapat terguran jika menjalankan misi tanpa mengenakan sehelai benang.


(olog note: keffiyeh adalah syal yang sering digunakan oleh masyarakat Timur Tengah, maupun pasukan yang menjalankan misi ke sana.)


Meskipun ini adalah garis depan, dan perang bisa saja terjadi kapan saja, anggota tim ini malah terlihat agak bosan. Biasanya, mereka akan mendapatkan pesan untuk berkeliling melakukan patroli di zona yang sering terlihat adanya pergerakan Pasukan Aliansi. Namun, mereka memilih untuk tetap di dalam tenda, atau memanjat pohon dan mengawasi sekitar menggunakan teropong daripada menguras bahan bakar untuk melakukan patroli.


Beberapa dari mereka ingin berjalan-jalan di ‘kuburan’ prajurit musuh, atau reruntuhan bangunan di sekitar sini. Sekitar 2 kilometer dari garis perbatasan, ada ribuan gundukan tanah setinggi 30 centimeter yang merupakan penanda jika di sana ada orang yang dikuburkan… tepatnya kuburan bagi prajurit Aliansi yang terbunuh ketika penyerbuan Pasukan Ekspedisi sebelumnya. Harapan mereka jika melewati garis perbatasan dan berkeliling di kuburan musuh, mungkin mereka bisa menemukan harta karun yang ditinggalkan prajurit musuh yang terbunuh di perang sebelumnya.


Beberapa anggota tim terlihat melakukan pekerjaan biasa, seperti menyiapkan bahan makanan, membersihkan dan merawat tenda, atau menghabiskan waktu sesuka mereka.


Suara langkah kaki yang mengenakan sepatu bot prajurit yang terdengar berat mendekati anggota tim yang bernama Hendra dengan kode nama ‘Penyendiri’. Pemuda berpangkat Kopral Dua itu duduk di dahan pohon yang hampir mati, sambil memantau sekitar dengan teropong yang ditempelkan di matanya.


“Hendra! Hendra! Kau melihat sesuatu?”


Nio seperti tamu yang tak diharapkan kehadirannya oleh Hendra yang sudah nyaman dengan ketenangan sejak memisahkan diri dari anggota tim lainnya pagi tadi. Nio melihat dari bawah salah satu anggotanya yang duduk di atas dahan pohon 5 meter di atasnya sambil mengunyah ‘biskuit tentara’ yang sangat keras. Setidaknya, dengan biskuit dengan tingkat kekerasan dikatakan setengah dari batubata itu membuat tentara yang memakannya bisa merasakan kenyang seharian dengan memakan sebuah biskuit saja.


Hendra telah menyatakan jika pohon yang dia panjat itu adalah miliknya, dan menjadi wilayahnya untuk memantau keadaan sekitar. Dan Nio adalah pelanggar perbatasan tanpa rasa bersalah sedikitpun.


“Tidak ada apa-apa sejak pagi tadi, Letnan. Sejak hari pertama kita di sini, aku hanya melihat beberapa penunggang kuda, dan sebuah bangunan yang sepertinya benteng yang ku perkirakan jaraknya 7 kilometer dari tempat kita berada.”


“Tepatnya jarak kita dari benteng itu hanya 5 kilometer, sebaiknya kita terus mewaspadai pasukan yang ada di benteng itu.”


“…siap… laksanakan.”


Meski dia menganggap Nio sebagai pelanggar perbatasan yang menyebalkan dan mengganggu ketenangannya dari kebisingan anggota yang lain, dia masih memerlukan Nio untuk membantunya beberapa hal. Nio, yang lebih muda dua tahun darinya itu dianggap sebagai veteran bersama mantan personel Pasukan Ekspedisi lainnya, yang selamat dari penyerbuan besar Aliansi beberapa waktu lalu.


“Oh ya, makanan sudah siap, jadi jangan lupa makan. Atau kau ingin aku membawakannya ke sini?”


Hendra diam sejenak setelah mendengar perkataan Nio yang seperti ibu yang sangat pengertian dengan anaknya.


“Terimakasih, Letnan. Tapi setelah ini aku akan segera ke sana.”


Nio menjawabnya dengan anggukan, dan Hendra kembali memantau sekitar dengan teropong yang memiliki jangkauan maksimal 10 kilometer itu. Nio kemudian memandang ke hamparan tanah yang sesuai dengan seragam lapangan mereka, dan sebuah patok setinggi 1 meter dipasang sepanjang garis perbatasan terlihat 3 kilometer di depan Nio dan Hendra. Langit biru yang cerah membuat mereka hampir tidak menyadari berada di dekat sarang musuh, dan beberapa pemandangan langka lainnya seperti hewan fantasi yang mendekati para anggota perempuan yang sedang memasak.


Ini adalah dunia lain yang dihubungkan dengan sihir khusus yang disebut dengan Gerbang, dan membuat mereka dengan mudah keluar masuk dunia ini. Namun, hal itu menciptakan neraka yang disebut ‘medan perang’, dan Nio berhasil melewatinya. Dia adalah orang yang percaya dengan adanya surga dan neraka, terutama surga yang dikhususkan untuk para pejuang seperti dirinya. Setiap kali dia melihat bawahan barunya, dia merasa ingin melindungi mereka dan tidak akan membiarkan satupun dari mereka gugur di medan perang dunia lain ini, dan tidak akan membiarkan adanya Chandra-Chandra kedua dan seterusnya. Terlepas dari anggota timnya tidak seluruhnya berasal dari Indonesia, namun anggotanya yang berasal dari Korea Utara, Rusia, dan dunia lain adalah tanggung jawabnya, dan Nio merasa jika melindungi mereka adalah kewajiban dan dia harus melakukannya sama seperti melindungi orang yang ingin dia lindungi.


Hendra yang lebih suka menjauhi hal yang tidak dia sukai atau membuatnya tidak tenang terus mengawasi sekitar, sambil sesekali memberikan waktu istirahat untuk mata dan dirinya sendiri. Dia memiliki tubuh yang tidak terlalu bersisi, dan sedikit lebih tinggi dari Nio serta lebih tua dua tahun darinya. Setelah merasa cukup lama bertengger di dahan pohon dan perutnya yang telah bergejolak setelah mencium aroma harum khas daging panggang dari arah tempat memasak, Hendra turun dari pohon dengan cepat seperti sudah sangat terlatih untuk hal ini… atau sebelum bergabung dengan Komando Pasukan Utama TNI dia memang sering melakukan pekerjaan yang mengharuskannya memanjat pohon.


Patroli harian untuk mengantisipasi serangan mendadak Aliansi, membuat Hendra mengambil tugas itu sebagai kesempatannya untuk mendapatkan ketenangan. Lalu, Tim Ke-12 yang sebagian besar anggotanya adalah prajurit khusus tidak perlu khawatir dengan serangan mendadak musuh, mengingat daya tempur mereka serta komunikasi ke pusat yang cukup cepat untuk menanggapi setiap permintaan dan perintah dari prajurit yang bertugas di garis depan.


“Ta-da…! Inilah yang kusebut dengan ayam dunia lain panggang.”


“Pasti rasanya tidak enak, Ratna.”

__ADS_1


“Hei! jaga omonganmu, orang Rusia! Aku adalah Ratna, orang yang akan menjadi koki militer terkenal di masa depan.”


“Kalau begitu, selesaikan perang ini dulu.”


“Betul.”


Prajurit Dua Ratna atau kode nama ‘Koki’ adalah salah satu anggota Tim Ke-12 yang mengajukan diri untuk tugas memasak hari ini. Dia terlihat seperti anak kelas 1 SMA, tapi sebenarnya dia adalah anggota tertua di tim ini. Dia tahun ini berusia 25 tahun, dan mantan mahasiswa ilmu gizi di salah satu perguruan tinggi di Kota Surakarta.


Edera… yang merupakan personel kontingen sukarelawan untuk membantu tim ini untuk menjadi penunjuk jalan atau informan, atau bisa bertugas jika mereka membutuhkan pembunuh yang bisa menghabisi target dalam waktu singkat tanpa membuang satu peluru hanya menanggapi seperlunya anggota tim yang berasal dari kontingen Rusia. Dia adalah salah satu sukarelawan yang ditugaskan membantu unit yang bertugas berjaga di zona perbatasan. Bagi Edera, meski tugas di garis depan adalah hal yang tidak diharapkan, namun adanya Nio membuatnya bertugas dengan senang hati.


Seorang prajurit perempuan dari kontingen Rusia… yang bernama Cyzarine Zefanya tertawa setelah melihat reaksi Ratna setelah komentarnya atas masakan gadis itu yang menggunakan bahan berupa daging unggas dunia ini yang mirip dengan ayam, namun sebesar kambing. Bahan-bahan untuk bumbu didatangkan langsung dari Indonesia, yang berupa bumbu instan.


(olog note: bayangin tuh ayam yang gedenya sama ma kambing:v)


Mereka bertiga berada di tempat memasak yang terbuat dari susunan batu yang mereka temukan di sekitar perkemahan. Meski sukses membuat Ratna terlihat kesal, lelucon Zefanya adalah pemecah kebosanan yang melanda mereka bertiga.


Mata biru cerah Zefanya mengarah pada Nio dan Hendra yang berjalan bersampingan. Mereka berdua sepertinya menuju ke suatu tempat, dan tidak berbelok ke arah mereka bertiga yang sedang menyiapkan hidangan. Sementara itu, selain merasa iri dengan rambut pirang yang terlihat sangat indah di matanya, Ratna dan Edera juga sama-sama penasaran dengan perban yang melilit sebagian tubuh hingga wajah gadis Rusia itu.


“Dia cukup sering tersenyum rupanya… tidak seperti rumor yang kudengar dari para perwira,” Zefanya memandang dengan tatapan sedikit heran dengan Nio yang berbicara sambil sedikit tersenyum bersama Hendra.


“Itu hanyalah rumor, tapi dia memang terlihat sering tersenyum… seperti tidak pernah mengikuti peperangan yang mengerikan. Bagaimana menurut mu, Edera. Bukankah kau sudah sering bersama kapten sejak awal dia ditugaskan di sini?”


Edera cukup terkejut dengan pertanyaan yang dia terima, dan wajah orang yang memberi pertanyaan, alias Ratna, terlihat sangat penasaran dan diikuti Zefanya yang juga merasa seperti itu. Dia hanya takut jika rumor yang menjadikan Nio objeknya juga berisi tentang tangan kanannya yang pernah terpotong, dan para pembuat rumor mengatakan jika penyebabnya adalah salah satu sukarelawan.


Ratna kemudian tersenyum lalu meminta maaf pada Edera, “Ah, maaf sepertinya aku tidak menyadarinya. Sebenarnya kau dan kapten tidak punya tugas hari ini, jadi kita bisa memberi waktu untuk kalian berdua.”


“Apa yang kau katakan?! Aku tidak memikirkan hal seperti itu!”


“Penyerangan? Apa kau berniat mempe*kosa Nio hah?!”


“Begitulah cara main orang Rusia.”


**


Tim ini cukup beruntung untuk urusan sumber air, karena mereka berada di dekat sebuah danau kecil. Tim mencuci pakaian atau lainnya di sumber air yang selalu dipenuhi air itu. Setidaknya, danau kecil itu bisa digunakan untuk berenang dan bermain air.


“Apa yang kau lakukan? Airnya ternyata cukup hangat, cepat masuk!”


Nio cukup gelisah ketika danau kecil yang mereka ‘kuasai’ dipenuhi dengan anggota laki-laki yang telanjang bulat, dan memperlihatkan rudal masing-masing yang dilengkapi dua telur. Yang mengajak mereka adalah Hassan dengan kode nama ‘Barista’, dia sedang berendam sambil bersandar di salah satu batu yang ada di danau. Sedangkan yang lain terlihat memilih untuk saling berlomba berenang, atau membandingkan ukuran rudal mereka dengan yang lain.


Lalu, hal lain yang Nio khawatirkan adalah jika ada seseorang yang kebetulan lewat dan melihat mereka telanjang bulat. Dia tidak mengkhawatirkan dengan anggota perempuan, karena mereka pastinya tidak memiliki pemikiran untuk mengintip para laki-laki. Namun, para anggota laki-laki yang seluruhnya adalah remaja yang belum dewasa dalam beberapa hal selalu menyusun strategi setiap malam untuk melakukan sebuah operasi bukan tempur yang disebut ‘mengintip’. Nio selalu memperingati mereka agar tidak melakukan hal itu, atau para perempuan akan memotong rudal dan telur mereka.


Nio berharap jika yang dia lihat sekarang adalah para anggota perempuan yang sedang berenang, dan bukannya anggota laki-laki yang ‘berudal’ yang sama sekali tidak menarik. Dia merasa cukup ‘trauma’ untuk berendam bersama para laki-laki semenjak ‘rudalnya’ menjadi pusat perhatian para personel Pasukan Ekspedisi ketika mengunjungi ibukota Arevelk beberapa bulan lalu.


Para personel yang akan mandi atau semacam membersihkan tubuh tidak perlu merasa khawatir, karena Nio telah menetapkan batas yang ditarik 20 meter dari tepi danau. Lalu, zona perbatasan adalah wilayah yang sangat ditakuti oleh warga lokal, sehingga sangat jarang ada orang yang melintas di sini kecuali sudah sangat kepepet.


Mereka juga sering berkeliling untuk mencari bahan makanan tambahan yang berupa tumbuhan yang bisa dimakan dan binatang liar yang bisa dimakan. Itu sebabnya mereka sangat beruntung dengan adanya Edera di tim mereka, karena tanpa adanya gadis itu mereka berpikir akan memakan tumbuhan dan hewan beracun, lalu mati konyol. Perbekalan yang mereka bawa seharusnya bisa membuat mereka bertahan selama satu bulan, namun mereka juga ingin merasakan daging panggang dan bukannya ransum dan biskuit tentara yang sangat keras meski sangat mengenyangkan.


Lalu, ada suara anggota perempuan yang memanggil Nio, dan itu terus berulang-ulang dan membuat telinga Nio tidak nyaman. Dia mengurungkan niatnya untuk bergabung dengan para anggota laki-laki berendam bersama, dan mendekati sumber suara.

__ADS_1


Dua anggota perempuan dari kontingen Korea Utara yang membuat Nio bertanya-tanya “Kenapa mereka merekomendasikan calon anggota perempuan semua?” terdengar menyuruh Nio untuk cepat mendekati mereka berdua.


Namun, semakin Nio mendekati mereka, dia melihat jika wajah kedua anggotanya yang berasal dari Korea Utara itu sangar gelisah. Itu membuat Nio merasakan firasat buruk di hatinya, dan membuatnya semakin penasaran dengan laporan yang akan diberikan mereka berdua.


“Ada ratusan penunggang kuda musuh mendekat ke sini, perkiraan waktu enam puluh menit bagi mereka tiba ke tempat kita!”


Gadis Korea Utara yang bernama Nam Ae Ri benar-benar menunjukkan wajah kepanikan yang sangat jelas.


“Siapa yang bertugas memantau situasi?”


“Oh itu aku”


Yang menjawab pertanyaan Nio adalah rekan Ae Ri yang bernama Ro Ga Eun, wajahnya menunjukkan ekspresi yang melebihi rasa gelisah.


Mata Nio menyipit dengan tajam ke arah wilayah Kekaisaran Luan, dan melihat anggota laki-lakinya yang terdengar masih membanding-bandingkan ukuran anu mereka dengan yang lain. Dia bisa mendengar suara gemuruh yang mungkin berasal dari pasukan berkuda Aliansi.


“Diterima. Terimakasih atas laporan kalian, apa para perempuan yang lain sudah siap tempur?”


“Mereka sudah siap di posisi, dan siap menyambut musuh.”


Itu tidak berarti jika tim ini bertarung akan menjadi pertarungan yang mudah, karena perkiraan jumlah musuh ratusan pasukan berkuda Aliansi.


“Ayo berangkat, kapten.”


Yang berbicara tadi adalah Ferdi dengan kode nama ‘Pengajar’, dia dan seluruh anggota laki-laki telah mengenakan kembali seragam lapangan mereka.


Saat Nio dan anggota laki-laki yang telah mengenakan pakaian tempur lengkap sambil menenteng senapan serbu di depan dada tiba di tempat tiga unit kendaraan lapis baja diparkirkan, seluruh anggota perempuan telah menunggu mereka dengan senyum mengejek para laki-laki yang terlambat. Tiga unit kendaraan taktis memiliki senjata otomatis yang berupa senapan mesin berat 12.7mm dengan sistem kendali, jadi anggota tim tidak perlu berdiri saat kendaraan melaju untuk menembakkan senapan mesin berat.


Ratusan musuh masih jauh lebih baik daripada menghadapi 300.000 prajurit yang menyerang tiga kali sehari. Dikatakan bahwa Aliansi berhasil menghancurkan sebagian kendaraan lapis baja, dan membuat prajurit Pasukan Ekspedisi berjuang dengan pedang dan perisai. Tidak ada satu pertempuran tanpa kerugian. Dan kematian akan menghampiri setiap makhluk hidup… dengan tiba-tiba.


“Semua sudah lengkap, kan?”


Seluruh anggota sudah ada di dalam kendaraan taktis, dan Nio berada di salah satunya dan duduk di samping pengemudinya yang bernama Arif dengan kode nama ‘Penulis’. Pemuda itu mendengar setiap kata dari Nio yang berbicara dari alat komunikasi nirkabelnya. Suara Nio yang menjelaskan taktik yang akan mereka gunakan begitu tenang, dan membuat semua anggota bersiap untuk bertempur.


Setelah memilih lokasi untuk melakukan penyergapan yang berupa beberapa batu yang sebesar rumah, Nio menghembuskan napas berat di dalam kendaraan yang nyaman. Dia sudah memperkirakan sejak diperintahkan untuk memimpin salah satu tim jika dia harus memimpin bawahannya untuk bertempur… lagi.


Kendaraan taktis bisa bergerak jauh lebih cepat daripada kuda yang dilindungi lempengan logam, dan ditunggangi seorang prajurit yang mengenakan zirah logam juga yang menjadikan pergerakannya sedikit melambat. Kendaraan yang ditumpangi Nio dan empat anggota lainnya dengan tambahan Edera akan memancing musuh supaya mengejar mereka sambil melakukan tembakan, kendaraan kedua akan melakukan serangan eksplosif menggunakan granat dan peluncur roket sambil melakukan tembakan juga, dan kendaraan ketiga akan menjadi bantuan tembakan sambil memisahkan beberapa dari jumlah total musuh lalu memusnahkan mereka dengan senjata yang dimiliki.


Bahkan tanpa melihat, Nio bisa merasakan seberapa besar kekuatan dan formasi musuh yang berkuda itu. Nio tahu jika pasukan kavaleri Aliansi sangat fleksibel dan menggunakan taktik ‘serang lalu lari’, dimana mereka akan menyerang yang merupakan target utama mereka, dan tidak menghiraukan yang bukan target utama mereka, lalu akan mundur jika sudah mencapai tujuan atau berhasil mengurangi jumlah musuh mereka.


“Kepada Mayat Hidup, musuh berjarak 500 meter dari tempat kita!” anggota dengan kode nama Perawat, alias Gita melaporkan situasi yang dia lihat dari drone udara yang telah diterbangkannya lalu mendaratkan drone udara di dekat danau.


Mayat Hidup adalah kode nama yang diberikan para atasan yang mengetahui Nio pernah berjuang di tengah hidup dan mati.


Setelah kendaraan kedua dan ketiga telah bersembunyi di balik batu yang sangat besar, kendaraan pertama yang Nio tumpangi bergerak ke arah musuh untuk memancing mereka. Situasi seperti ini, dimana pasukan kecil harus mencari peluang untuk mengalahkan pasukan yang lebih besar terlihat seperti hal yang sembrono, namun untuk itulah mereka dilatih.


**


__ADS_1


(ilustrasi kendaraan taktis, sumber gambar pinterest)


__ADS_2