
Senin, 2 Juni 2322…
Hari ini dicatat dalam sejarah sebagai kepulangan Pasukan Ekspedisi setelah menghadapi pertempuran besar sejak mereka menginjakkan kaki di dunia lain.
Dengan suhu siang hari pusat Kota Karanganyar yang melebihi 30 derajat celcius, rasanya seperti berada di gurun pasir. Tapi, bagi prajurit Pasukan Ekspedisi yang bisa kembali ke tanah air setelah melalui pertarungan yang brutal dan berat, suhu siang hari yang panas masih kalah dengan panasnya pertarungan yang telah mereka lalui.
14.25 WIB…
Ketika siang hari mulai berada di puncaknya dan suhunya mencapai titik tertinggi, Gerbang tak sempurna terbuka di salah satu titik di pusat Kota Karanganyar.
Sebuah Gerbang tak sempurna muncul di perempatan besar, yang berjarak sekitar 300 meter dari Waduk Lalung. Untungnya, hampir tidak ada satupun kendaraan yang melintas di jalan ini. Suasana sangat sepi… dan mencurigakan.
Tepatnya, ratusan ribu warga Karanganyar telah memadati ‘Area Terlarang’ untuk menyambut kepulangan prajurit Pasukan Ekspedisi dan sukarelawan yang membantu perjuangan mereka. Gerbang memang diperkirakan terbuka di Area Terlarang, tapi ternyata perkiraan tersebut meleset dan Gerbang tak sempurna terbuka di tempat yang tak jauh dari situ.
Dari dalam Gerbang, yang lebih dulu keluar adalah helikopter serang dan pengangkut milik pasukan Indonesia, Rusia, dan Korea Utara. Setelah keluar dari dalam Gerbang tak sempurna, helikopter langsung terbang tinggi untuk menghindari tabrakan dengan bangunan-bangunan sekitar.
Kemudian, ratusan kendaraan tempur keluar, termasuk truk dan kendaraan pengangkut personel yang ditumpangi sisa prajurit Pasukan Eksepedisi dan sukarelawan. Lalu yang terakhir keluar dari Gerbang tak sempurna adalah puluhan pasukan kavaleri Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo.
Kedatangan perwakilan Arevelk dan Yekirnovo adalah jawaban dari undangan untuk menghadiri upacara yang dilaksanakan hari ini. Setidaknya, dengan adanya perwakilan dari Arevelk dan Yekirnovo membuat sukarelawan bisa tenang karena adanya rombongan yang berasal dari dunia yang sama dengan mereka.
“Ini... dunia asal pasukan hijau (TNI)…”
Sukarelawan menahan napas ketika kendaraan pengangkut personel yang mereka tumpangi keluar dari Gerbang tak sempurna. Setelah kendaraan keluar dari Gerbang, ini adalah kali pertama bagi mereka menghirup oksigen dunia asal pasukan yang berjuang bersama mereka di pertempuran Tanah Suci.
Mayoritas bangunan yang berdiri di tempat ini memiliki tinggi antara satu dan dua lantai. Sebagian besar bangunan difungsikan sebagai tempat usaha, seperti rumah makan, minimarket, pangkas rambut, stasiun pengisian bahan bakar umum, koperasi simpan-pinjam, dealer kendaraan bermotor, toko perlengkapan bahan bangunan, bengkel kendaraan. Dan sekitar 400 meter dari Gerbang berdiri kantor BPBD Kota Karanganyar yang masih dalam masa pembangunan kembali pasca perang melawan dunia lain. Selain bangunan tersebut, beberapa bangunan juga masih dalam pembangungan kembali oleh pemilik masing-masing.
Seluruh kendaraan yang keluar dari Gerbang tak sempurna melaju ke arah utara, alias arah menuju Area Terlarang yang sekaligus arah menuju pusat Kota Karanganyar.
Para sukarelawan melihat dari jendela kaca bangunan-bangunan yang berdiri. Sebenarnya ini bukan kali pertama bagi mereka melihat bangunan yang terbuat dari batu bata, tapi ini adalah kali pertama mereka melihat bangunan yang terbuat dari kontainer bekas.
Nio bernapas dengan lega setelah kembali dengan aman di kota kelahirannya, dan merasa tenang dengan kondisi kota yang masih sama saja. Dia hanya khawatir jika Gerbang terbuka Kota Karanganyar, tetapi pada masa yang berbeda, misalnya Karanganyar pada 300 tahun yang lalu.
Puncak Gunung Lawu yang dihalangi oleh bangunan tinggi bisa dilihat dengan samar-samar. Para sukarelawan dan perwakilan Arevelk dan Yekirnovo merasa lega dengan adanya gunung di dunia ini. Untungnya, pada perang sebelumnya, pasukan dunia lain tidak melepaskan sihir yang bisa menghancurkan puncak Gunung Lawu. Tepatnya, pada perang melawan pasukan dunia lain sebelumnya, TNI hampir tidak pernah menghadapi penyihir pasukan dunia lain. Karena pasukan dunia lain hanya menugaskan penyihir untuk membuka Gerbang tak sempurna dan terus membuatnya terbuka dalam waktu yang lama.
Kemudian, rombongan melewati area sekolah yang berdiri beberapa sekolah menengah pertama hingga menengah atas. Dari dalam truk pengangkut yang atapnya telah dibuka, Nio bisa melihat sekolah lamanya yang dulunya hampir hancur karena perang, kini hampir selesai dibangun kembali bersama beberapa sekolah lainnya.
Seluruh prajurit Kompi 406-32 sangat tenang bisa melihat kembali kota yang mereka perjuangkan ketika perang sebelumnya. Menurut mereka, termasuk Nio, perang di Tanah Suci jauh lebih besar daripada perang yang mereka jalani sebelumnya. 3 tahun perjuangan mereka menghasilkan perdamaian bagi Indonesia, dan pasukan bantuan telah menyelamatkan Pasukan Ekspedisi dan pasukan sukarela dari keputusasaan.
Hampir seluruh prajurit Tentara Pelajar adalah siswa SMA dan mahasiswa perguruan tinggi yang belum sempat menyelesaikan pendidikan mereka. Mereka rela meninggalkan masa muda dan pendidikan, dan memilih mengangkat senjata untuk mempertahankan negeri dan keluarga mereka dari musuh.
__ADS_1
Meskipun hampir selama 12 tahun bersekolah Nio sama sekali belum pernah mendapatkan nilai lebih dari 20 digit dari 100 digit pada mata pelajaran matematika, setidaknya dia tidak pernah bolos atau terlambat sekolah.
Jadi, komentar guru-guru untuk Nio ketika mendengar dia ‘bodoh’ dalam mata pelajaran matematika adalah, “Nio? Hmmm... dia pelajar yang rajin. Aku juga bingung, dia selalu mendapatkan nilai sempurna di seluruh mata pelajaran, kecuali matematika.”
Lalu, ketika dia harus menjawab pertanyaan “Apa cita-citamu?” atau “Setelah lulus sekolah, kamu ingin masuk perguruan tinggi atau langsung bekerja?”, Nio hanya menjawab pertanyaan tersebut dengan tenang, “Saya hanya ingin menjadi orang yang sukses di masa depan…” dan berakhir menjadi prajurit Tentara Pelajar ketika perang terjadi.
Lalu, setelah satu tahun bertugas menjadi prajurit Tentara Pelajar, atasannya yang iseng (Herlina) merekomendasikan nama Nio untuk bisa mengirimnya ke pelatihan Pasukan Pelajar Khusus, yang telah terkenal dengan pelatihannya yang hampir sama dengan pasukan-pasukan khusus dan elit TNI.
Setelah melalui serangkaian pelatihan yang menguras tenaga dan mental, Nio lulus di urutan terakhir pelatihan tersebut. Sebenarnya dia hanya nyaris tidak lulus, karena ada satu siswa yang seharusnya lulus malah sakit. Pada akhirnya, Nio diluluskan dan berada di posisi terakhir, karena tidak mengerjakan soal tes pengetahuan umum pelajaran matematika. Para pelatih juga mempertimbangkan hal-hal lain untuk meluluskan Nio, terutama dia meraih nilai hampir sempurna di seluruh tes tertulis dan psikologi.
Lalu, tidak ada yang akan keberatan dengan seluruh prestasi Nio dalam militer. Tidak hanya pernah menerima pujian dari Presiden, dia juga sebentar lagi akan menerima kenaikan pangkat menjadi Letnan Satu Tentara Pelajar.
Hingga akhirnya, rombongan tiba di sebuah area yang dilarang bagi warga sipil, atau lebih sering disebut dengan Area Terlarang. Tapi, pada hari ini Area Terlarang dipadati ribuan manusia dari seluruh penjuru Indonesia dan negara-negara sekutu Indonesia. Sejak Kompi 406-32 dikirim untuk bergabung pada pasukan bantuan, penjagaan Area Terlarang diserahkan ke pasukan Garnisun Semarang dan ratusan anggota linmas.
Nio terkejut setelah melamun mengingat masa lalu tersebut, dia mendengar suara sorakan dari ribuan orang. Kendaraan melaju di antara bangunan setinggi tiga hingga empat lantai dengan pelan, dan di antara ribuan warga yang menyambut mereka.
Dari atap bangunan, ada puluhan anak-anak dan beberapa orang dewasa yang melemparkan potongan kertas berwarna merah dan putih yang membuat penyambutan semakin meriah. Ribuan orang mengibarkan bendera merah putih kecil, dan beberapa prajurit Tentara Pelajar berbaris di pinggir jalan sambil memegang bendera merah putih yang diikatkan pada bambu yang sudah dicat dengan warna putih.
Beberapa remaja perempuan dan laki-laki terlihat berlari untuk memberikan sekedar setangkai bunga kepada prajurit Pasukan Ekspedisi dan sukarelawan, tak lupa rombongan perwakilan Arevelk dan Yekirnovo diberi setangkai bunga.
Kedatangan rombongan pasukan kavaleri Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo adalah hal yang mengejutkan untuk para warga. Meski terlihat seperti ancaman, karena prajurit kavaleri membawa tombak panjang yang diikatkan bendera Arevelk dan Yekirnovo di bawah mata tombak, dan mereka serta kuda mengenakan pakaian logam yang nampak sangat kuat, setidaknya para prajurit tidak mengenakan helm dan memperlihatkan wajah bahagia ketika menerima setangkai bunga dari para warga. Juga, pemandangan pasukan dunia lain yang berjalan di jalanan aspal adalah hal yang sedikit ‘aneh’ di benak beberapa warga.
Nio yang duduk di barisan paling tepi melihat dua orang remaja perempuan melemparkan beberapa tangkai bunga mawar merah ke dalam truk tumpangannya. Kedua remaja tersenyum ramah, dan terlihat bangga dengan perjuangan para prajurit yang ia beri bunga tersebut. Nio mengambil setangkai bunga, dan mengangkatnya untuk diperlihatkan ke kedua remaja perempuan jika dia menerima pemberian mereka.
Para pemberi bunga sepertinya tidak terganggu dengan prajurit yang pulang dengan berbagai keadaan tersebut. Meski mereka memberikan bunga kepada prajurit yang mendapatkan bekas jahitan besar di wajahnya, para pemberi bunga tetap terlihat bahagia ketika prajurit-prajurit yang lelah dan telah melalui pertarungan panjang menerima bunga pemberian mereka.
Kondisi hati para prajurit sepertinya juga sama dengan para warga yang bahagia dan bangga dengan kepulangan mereka. Terutama sambutan yang mereka dapatkan melebihi apa yang mereka pikirkan sebelumnya, bahkan jauh lebih meriah dengan kedatangan ratusan ribu manusia di Area Terlarang ini.
Di antara ratusan ribu manusia di tempat ini, Arunika adalah salah satu dari sekian orang yang merindukan prajurit kebanggannya. Dia menebak-nebak kendaraan yang ditumpangi Nio dari puluhan kendaraan pengangkut, dan dia melihat kepala yang memiliki potongan rambut yang mirip dengan Nio. Ketika pemilik kepala tersebut memperlihatkan wajah sampingnya yang memiliki bekas luka besar, Arunika semakin yakin jika itu adalah Nio. Dia memaksa melewati kerumunan orang-orang, dan meninggalkan Lisa yang sedang memakan cilok untuk pengganjal perutnya setelah lama menunggu kepulangan rombongan pasukan. Lisa sebenarnya juga ingin segera bertemu dengan Nio, tapi dia hanya tidak tahan jika harus menerobos kerumunan ribuan manusia ini.
Sementara itu, Arunika benar-benar terlihat ingin segera bertemu dengan Nio, dia menerobos kerumunan dengan wajah cemas jika dia terlalu jauh dengan tumpangan Nio yang melaju pelan tersebut.
Nio memandangi kerumunan orang-orang, dan mereka berbicara seperti memuji Pasukan Ekspedisi yang telah menjaga Gerbang sempurna agar tidak ada musuh yang memasuki benda tersebut dan kemudian menyerang kembali Indonesia. Nio melihat sekeliling, dan tersenyum dengan orang-orang yang ada di area ini memuji keberanian mereka. Lalu, pandangan Nio terhenti ketika melihat seorang perempuan mati-matian menerobos kerumunan orang-orang.
Wajah Nio menunjukkan antara senang dan sedih dengan perempuan yang berjuang menerobos kerumunan ribuan orang untuk menemui dirinya.
“Mau kemana kau…?!”
Salah satu perwira berpangkat Letnan Dua memperingatkan Nio untuk kembali menaiki truk pengangkut. Tapi Nio tidak mendengar peringatan tersebut dan ikut menerobos kerumunan untuk menemui kakaknya.
__ADS_1
Nio merasa sangat tidak sabar bertemu dengan Arunika, sampai-sampai dia menerobos kerumunan rapat orang-orang sambil tersenyum. Orang-orang yang melihat senyuman Nio yang ‘mengerikan’ dengan sengaja memberikan jalan bagi Nio, beberapa lagi bersorak untuk prajurit tersebut.
Tubuh tinggi Nio membuat Arunika bisa dengan mudah menemukan sosok tersebut. Tapi, kerumunan orang-orang yang rapat membuat Nio kesulitan menemukan kakaknya bila tidak berada di atas tempat yang tinggi.
“Akhirnya… aku… berhasil… menemukanmu…”
Nio berhenti ketika merasa ada seseorang yang menarik lengan pakaiannya, dia menoleh ke kiri untuk melihat siapa yang menarik lengan kemejanya. Orang yang berbicara tadi terdengar sangat kelelahan, hingga terdengar terputus-putus. Mata Nio tidak bisa berkedip untuk beberapa detik setelah melihat orang yang menarik pakaiannya.
Tanpa diperintah lagi, Nio langsung memeluk tubuh Arunika setelah memastikan jika orang itu benar-benar kakaknya. Sorakan orang-orang yang melihat aksinya semakin keras, dan terdengar beberapa bunyi siulan.
Nio semakin mengeratkan pelukan terhadap orang yang menjadi tujuannya menjadi prajurit tersebut, meski Arunika terlihat mencoba melepaskan diri dari pelukan itu. Tapi, dia merasa jika Nio tidak akan melepaskan pelukan itu meski dia memberontak sekuat tenaga. Arunika merasa tidak akan bisa menang dengan Nio yang sekarang. Tubuh Nio yang kini jauh lebih besar dari Arunika, hampir mengurung dan menutupi tubuh gadis tersebut.
“Terimakasih… sudah melindungi kami, Nio…”
Nio meletakkan kepalanya di bahu Arunika setelah mendengar ucapan kakaknya tersebut. Nio yang sudah melatih keras mentalnya agar tidak mudah merasa sedih, terharu saat dirinya mendengar ucapan terimakasih dari kakaknya.
“Ya… terimakasih sudah mengandalkan ku, kak…”
Beberapa prajurit yang juga melihat anggota keluarga mereka melakukan hal yang sama seperti Nio, bahkan peringatan para perwira hanya seperti angin lalu bagi para prajurit yang telah memendam rindu terlalu dalam dengan keluarga atau kekasih mereka.
Menangis adalah tahap akhir dari perasaan yang telah lama terpendam, termasuk rasa rindu yang mendalam dengan anggota keluarga. Para prajurit yang tangguh ketika bertarung dengan musuh, menangis setelah menemui anggota keluarga mereka. Meski perang membuat beberapa prajurit kehilangan sebagian keluarga mereka, tapi itu adalah hal yang membuat mereka semakin kuat. Rasa lelah, sakit, menderita, dan marah terasa hilang setelah bertemu dengan seseorang yang sangat berarti.
Suasana yang tadinya riuh dengan sorakan para warga tiba-tiba sedikit tenang ketika puluhan truk pengangkut terakhir melaju dengan pelan. Ada ribuan peti mati yang diselimuti dengan bendera merah putih, dan orang-orang melihatnya dengan penuh hormat.
Ribuan peti mati yang berisi prajurit-prajurit terbaik bangsa yang gugur setelah bertarung dan mati dengan terhormat membuktikan jika takdir seorang prajurit tidak selamanya baik. Selain itu, hal tersebut juga membuktikan jika dunia fantasi yang terkenal dengan kedamaiannya sebenarnya menyimpan banyak hal mengerikan dan sangat berbahaya.
Kematian prajurit Pasukan Ekspedisi dengan jumlah yang cukup banyak tersebut memang tak terduga, pasti hal tersebut juga diluar harapan jika para prajurit pasti akan kembali dengan jumlah utuh seperti pertama kali dikirimkan ke dunia lain.
“Gila…”
Itu adalah ungkapan kebanyakan orang-orang di tempat ini setelah melihat apa yang dilakukan musuh terhadap prajurit terbaik bangsa. Mereka tidak menyangka jika musuh tidak berhasil membuat prajurit Pasukan Ekspedisi menyerah, dan membuat mereka terus berjuang meski nyawa di ujung tanduk. Meski mereka mati dengan keadaan terpenggal di medan perang, masih ada banyak prajurit lainnya yang bersedia membalaskan kematian tersebut. Intinya, tidak ada perang tanpa tujuan. Meski mati bukanlah pilihan akhir yang diinginkan banyak orang, tapi bagi prajurit yang berjuang dengan hati yang tabah dan ikhlas, mati adalah akhir yang membahagiakan.
Para prajurit Pasukan Ekspedisi dan para sukarelawan telah berhasil mengendalikan kesulitan yang mereka hadapi ketika musuh tak berhenti menyerang mereka. Karena mereka berhasil menang atas kesulitan yang menimpa, mereka pantas mendapatkan kemenangan dan akhir yang bahagia. Tidak ada pengganti untuk kemenangan, lagipula rasa sakit yang dirasakan para prajurit ketika berjuang hanyalah ilusi, mereka dilatih untuk yakin jika sakit dan lelah ketika berjuang hanya ilusi.
Menurut mereka, lebih baik berlumuran darah sekarang untuk kedamaian besok dan selamanya, daripada memilih berlumuran darah besok untuk penderitaan hari seterusnya. Selain gugur untuk melindungi sesuatu yang sangat berharga, para prajurit tidak tahu caranya untuk mati, mereka akan terus hidup dan berjuang karena semua makhluk hidup akan mati pada waktunya. Meski hati sudah dipenuhi rasa putus asa, mereka akan terus berjuang meski tubuh hancur, karena itu jauh lebih mulia dari pada mati dengan cara bunuh diri.
Musuh bisa saja memotong tangan atau mematahkan kaki mereka, tapi musuh tidak akan bisa menghancurkan semangat juang yang mereka miliki. Lalu, bagi prajurit yang masih hidup, bisa hidup di hari selanjutnya untuk terus berjuang adalah hadiah terbaik, dan sambutan rakyat yang bangga terhadap perjuangan mereka adalah hadiah yang sempurna.
Menyerah adalah hal yang sangat mudah, tetapi bertahan hingga kemenangan diraih adalah hal yang membanggakan.
__ADS_1