Prajurit SMA

Prajurit SMA
65. Wanita milik Nio


__ADS_3

Nio membelai bibir Sigiz yang lembut dengan jempolnya. Wajahnya sedikit memerah karena tidak tahan dengan erangan Sigiz saat bibir merah muda wanita itu ia belai.


Meski tangan Nio terlihat kasar, karena terlalu sering berlatih fisik. Namun, Sigiz tidak terlihat bermasalah dengan hal itu. Bahkan Sigiz terlihat sangat menikmati saat jempol tangan kanan Nio membelai bibirnya, sedangkan tangan kiri Nio membelai pipinya.


Sigiz menunjukkan ekspresi yang menggoda saat bibirnya dibelai oleh Nio. Erangannya yang begitu dewasa membuat hasrat masa muda Nio memuncak.


“Ambil hadiahmu segera…,” ucap Sigiz dengan nada yang membuat Nio seketika ‘menegang’.


Jakun remaja itu tampak bergerak naik turun saat wanita didepannya berkata seperti itu.


Begitu dewasa dan menggoda, tidak ada alasan untuk Nio menahan diri.


Lagipula diluar tenda, para pasukan sedang berkumpul bersama untuk mengakrabkan satu sama lain. Ivy dan Ilhiya lebih memilih untuk mengakrabkan diri dengan prajurit perempuan Kompi 406 dan 32.


Jadi, penjagaan di tenda yang hanya dihuni oleh Sigiz sangat lengang. Bahkan tenda ini tanpa penjagaan sama sekali, karena para prajurit terlihat senang dengan kegiatan mereka malam ini.


Sigiz mulai menunjukkan lekuk tubuhnya yang bagus secara perlahan, mulai dari melepas satu persatu pakaian yang ia kenakan. Sigiz memulainya dengan melepas sarung tangan berwarna putih, kemudian dilanjutkan dengan melepas kancing pakaiannya.


Nio masih terlihat berdiri mematung didekat Sigiz, saat wanita itu secara perlahan tidak terdapat sehelai benang-pun di tubuhnya yang putih bersih, meski sering berlatih fisik juga.


Tubuh putih yang disinari cahaya lampu minyak, tidak ada sedikitpun cacat di tubuh itu. Bahkan gunung polos dengan ujung merah muda itu tampak lebih besar dari ukuran normal para wanita di dunia ini.


Jakun Nio semakin sering bergerak Naik turun, badannya mulai panas dan kesabaran sudah berada di ubun-ubun.


“Aku akan ambil hadiahku,” Nio berada diatas tubuh Sigiz yang sudah tidak mengenakan apapun.


Tangannya secara perlahan membelai tubuh mulus Sigiz, dan membuat wanita itu semakin terangsang.


Tubuhnya hanya ditutupi oleh bayangan tubuh Nio, wajah Sigiz mulai menunjukkan ingin segera memulainya.


“Malam ini, jadikan aku wanitamu….”


**


18 Agustus 2321, pukul 07.41 WIB.


**


Diluar tenda, matahari sudah tidak berada di balik gunung Lawu. Si penyinar dunia sudah berada cukup tinggi diatas gunung itu.


Lampu minyak yang masih menyala, kalah terang dengan sinar matahari yang dapat menembus celah di tenda ini. Hanya ada satu wanita yang menghuni tenda ini.


Sekujur tubuh Sigiz kini tertutupi oleh keringat dingin, padahal sebelumnya dia belum pernah mengalami hal ini. Cuaca di Kota Karanganyar sebenarnya cukup sejuk saat malam hari.


Napas Sigiz juga nampak tidak beraturan, dirinya seperti sehabis melakukan latihan lari 10 km. Padahal dia tidur di kasur lapangan milik pasukannya. Dia bahkan tidak menderita suatu sindrom yang menyebabkan dirinya berjalan saat tertidur.


Tapi siapa yang tahu? Karena ilmu pengetahuan di dunia asal Sigiz tidak ada yang meneliti mengenai hal itu.


“Ternyata hanya mimpi…,” wajah Sigiz nampak kesal dan memerah saat mengatakan itu didalam hatinya.


Sigiz kembali menutup tubuhnya dengan selimut tipis, dan terlihat berguling kekanan dan kekiri seperti sehabis mengalami mimpi yang indah dan ingin sekali lagi ingin dia alami.


“Kenapa bisa itu hanya mimpi hah!?” Sigiz semakin kesal saat ingatan mimpinya kembali terlihat.


Bahkan ingatannya tentang mimpi terlihat sangat kuat. Padahal rata-rata orang, mimpi akan dilupakan setelah 10 menit setelah bangun tidur. Setelah itu, mereka hanya dapat mengingat potongan 5% mimpi yang telah dialami.


Sigiz dengan cepat mendudukkan tubuhnya, tampak rambut hitamnya berantakan dan terlihat mata yang masih terlihat ingin menutup.


Pikirannya sekarang hanya terdapat wajah seorang prajurit muda yang selalu ia pikirkan. Malahan, di mimpinya sendiri, Sigiz sangat ingin menjadi wanita prajurit tersebut.

__ADS_1


Saat mengingat adegan erotis di mimpinya, mulut Sigiz tersenyum tajam dan tenggorokan meneguk ludahnya.


Dia tidak rela bila kejadian itu hanya sekedar mimpi.


**


Warna merah terlihat di depan Gerbang yang masih berdiri meski sudah terkena ledakan rudal dari helikopter pengangkut rudal milik Grup Penyerang 06. Itu adalah darah milik ribuan pasukan dunia lain yang kini sudah menjadi mayat.


Pasukan Grup Penyerang memilih mendirikan perkemahan di tempat ini, hingga pagi ini. Helikopter tempur mereka parkirkan di sepanjang jalan provinsi Kota Karanganyar.


Tetapi pagi yang cerah ini dapat mengalahkan kegilaan yang terjadi kemarin. Cuaca masih cukup dingin, tetapi para prajurit Garnisun Karanganyar tidak mau mengenakan jaket.


Mereka tampak bekerja sama untuk membereskan sisa pertempuran kemarin dengan mengenakan kaos berwarna abu-abu yang seragam.


Merasakan angin pagi yang sejuk, api perang dan kebrutalan kemarin dapat dipadamkan.


Aroma bubuk mesiu dan sampah yang berupa selongsong peluru kosong, pedang dan potongan zirah besi serta daging bertebaran di jalan provinisi yang kini telah ditutup.


Suara senapan mesin, raungan pasukan monster dan manusia masih dapat didengar meski sudah tidak terjadi. Hanya ada suara mesin truk pengangkut yang memuat mayat-mayat yang belum selesai dibereskan.


Tidak ada yang berani mendekati tubuh pasukan monster. Sebagai gantinya, pasukan milik Sigiz membantu pasukan ini untuk membereskannya.


Mereka tampak tidak takut maupun jijik dengan tubuh monster yang mengeluarkan darah tidak berwarna merah. Pasukan ini seperti sudah terbiasa melakukan pekerjaan itu. Meski satu tubuh monster berkepala banteng harus diangkat setidaknya oleh 6 orang prajurit, tetapi monster lainnya cukup diseret sebelum dilemparkan ke truk pengangkut.


Tidak ada warga sipil yang membantu, karena mereka memang dilarang untuk memasuki area bekas pertempuran kemarin. Area seluas 5 km di sekitar Gerbang harus tidak ada warga sipil yang menghuni.


Ratapan para hantu masih bergema ditelinga Nio. Dia mungkin sudah terbiasa berperang, tetapi belum pernah mengalami perang pembantaian seperti kemarin.


Memang pada akhirnya para pasukan dunia lain berhasil dipukul mundur, dan warga kota senang telah selamat meski dengan ratusan korban di pihak sipil.


Tentu saja mengatasi kehilangan nyawa adalah hal yang sangat sulit, karena kematian berkaitan erat dengan yang namanya ‘takdir’. Berkabung bagi keluarga yang kehilangan akan memakan waktu yang lama.


Membangun kembali pusat kota yang berantakan juga merupakan masalah, namun kemenangan sudah terlanjur diraih.


10.000 mayat adalah jumlah yang dihitung oleh penggali makam yang berada di jauh dari Kota Karanganyar. 30.000 adalah jumlah yang sudah digabungkan dengan mayat yang saat ini masih diangkut truk dan mayat yang telah dikubur.


Jadi, jika digabungkan dengan mayat yang belum dibereskan, jumlah korban di pihak musuh berada angka 60.000. Jika tidak diangkut dengan truk, mayat tersebut jika ditumpuk akan membuat sebuah bukit yang berbau busuk dan dialiri sungai darah.


50 kadal terbang berbagai ukuran, adalah korban dipihak hewan ‘fantasi’. Kebanyakan dari mereka ditemukan tersangkut di atas pohon dan atap gedung, lengkap dengan pawangnya. Korban di pihak kuda jauh lebih banyak lagi, angka tidak pastinya berada pada 2.000 kuda yang mati karena terkena peluru dan hancur dengan roket.


100 truk sampah bahkan diopersikan demi mempercepat pekerjaan yang menjengkelkan ini.


Kebanyakan mayat dalam keadaan penuh dengan timah panas yang menyebabkan tubuh berlubang. Bahkan amunisi 12,7 mm dan 20 mm dapat menembus tubuh yang hanya dilindungi dengan zirah besi.


Tidak sedikit pula yang mati dengan anggota badan terpisah dan hancur sebagian. Granat hanya menimbulkan luka yang serius, tetapi roket akan menyebabkan kehancuran yang sangat besar.


Bicara mengenai Gerbang, benda itu sudah dikelilingi kawat berduri dan pembatas jalan beton. Rencananya, pemerintah akan membangun tembok pembatas yang kuat yang mengelilingi Gerbang.


Gerbang itu tidak dilengkapi dengan pintu, jadi siapapun bisa dengan bebasnya keluar masuk benda itu. Sebagai gantinya, gulungan kawat berduri diletakkan di depan Gerbang.


Dengan peralatan yang dimiliki pasukan musuh, pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk menyingkirkan kawat berduri.


Saat ini, 20 prajurit dari Kompi 406 dan 32 bertugas untuk menjaga Gerbang. Mereka juga dilengkapi dengan 10 kendaraan taktis dan lapis baja milik Kompi 406 dan 32. Tapi, jangan lupakan Grup Penyerang 06 yang belum mendapatkan perintah untuk kembali ke pangkalan.


Jika ada pasukan musuh keluar lagi dari Gerbang, dapat dipastikan pembantaian akan terjadi lagi.


“Kenapa benda itu tidak bisa hancur,” pertanyaan semacam itu pasti ditanyakan seluruh prajurit.


Nio sendiri juga menanyakan hal itu kepada Sigiz yang belum lama tiba di lokasi ini. Naga miliknya diparkirkan sejajar dengan helikopter tempur milik Grup Penyerang 06.

__ADS_1


Naga milik Sigiz hanya menang dalam hal wujud yang sangar jika dibandingkan dengan komodo. Tetapi helikopter pengangkut rudal adalah mimpi buruk, bahkan bagi kapal kelas penghancur.


“Membuka Gerbang harus menggunakan tumbal, begitu juga jika ingin menutupnya,” jawaban Sigiz paling tidak membuat Nio paham dengan isinya.


Saat mendengar kata ‘tumbal’ di kata yang diucapkan Sigiz, badan Nio seketika merinding.


Nio memang sudah sedikit mahir dalam hal percakapan menggunakan bahasa dunia lain. Itu sebabnya dia terlihat lancar saat berkomunikasi dengan Sigiz menggunakan bahasa dunia lain


“Tumbal, apa yang kamu maksud itu menggunakan orang?” ucap Nio dengan masih menggunakan bantuan kamus.


Nio sesekali membuka kamus untuk mencari kata yang ia lupakan.


“Benar, dan itu membutuhkan tumbal dengan jumlah banyak,” jawaban Sigiz hanya membuat Nio meneguk ludah.


Jakun Nio yang bergerak naik turun saat menelan ludah, membuat Sigiz teringat dengan mimpinya semalam. Wajahnya seketika kembali memerah saat Nio menoleh kearahnya dengan mulut mengunyah bakwan.


**


Berita mengenai peperangan yang terjadi kemarin tersebar dengan cepat di seluruh negeri. Bahkan di pelosok, para penyebar berita sangat antusias untuk mengabarkan berita perang kemarin.


Masyarakat mulai membicarakan mengenai pasukan Kompi 406 yang diisi para remaja. Anggota Kompi 32 kebanyakan berasal dari Pasukan Utama, jadi anggotanya berada di usia dewasa.


Bahkan penyiar TV dengan semangatnya membacakan berita kemenangan besar yang diraih kemarin. Tidak ada yang tidak peduli dengan berita ini, semua koran dan media komunikasi lainnya dipenuhi dengan kabar perang.


Di toko barang elektronik yang menjual TV, para warga yang tidak memiliki TV berkerumun untuk melihat berita. Warga yang memiliki uang sedikit, rela patungan untuk membeli sebuah koran dan membacanya bersama, padahal koran-koran setiap harinya akan memuat berita baru.


Namun, itu semua membuktikan jika di negeri ini masih banyak sekelompok rakyat yang rela melakukan apapun demi kabar negaranya.


Berita Gerbang yang muncul lagi di Indonesia mulai tersebar di seluruh dunia akibat media sosial. Meski kabarnya belum lengkap dan akurat, media komunikasi di seluruh dunia mulai menyiarkan berita ini.


Tentu saja rasa takut dengan perang masih ada, dan itu membuat kenangan pahit bagi rakyat dunia ini.


Tidak ada yang ingin melihat kebrutalan pasukan dunia lagi yang berperang tanpa ada aturan. Meski pasukan dunia ini menggunakan cara paling manusiawi, pasukan dunia lain masih bisa dengan tenangnya menyembelih warga dan memperkosa para wanita.


Pasukan dunia ini tidak dapat menggunakan ranjau anti-personel, karena terikat dengan hukum perang internasional yang melarang penggunaan berbagai jenis ranjau. Bahkan jika sangat terpaksa harus menggunakan ranjau, negara asal pasukan itu harus siap menerima sanksi, meski seluruh dunia sedang mengalami perang juga.


Cara paling manusiawi yang ada dalam perang, salah satu contohnya adalah membunuh musuh dengan cepat dan tidak menyakitkan. Menembak kepala dengan peluru berkaliber besar dapat membunuh dengan cepat, bahkan tidak disadari oleh korban.


Penggunaan senjata biologis juga sangat dilarang, karena menyebabkan penderitaan yang lama dan korban yang tidak sedikit. Meski terdapat senjata biologis yang dapat membunuh dengan cepat, namun rasa sakit saat proses menemui kematian adalah penyebab jenis senjata ini dilarang.


**


Nio dengan tenangnya menguyah nasi dengan lauk sop tanpa daging, ditemani dengan es teh dan makan bersama rekan-rekan. Pasukan Grup Penyerang 06 juga ikut kegiatan yang dilakukan di tengah jalan ini.


Pasukan Sigiz juga ikut makan bersama, ini adalah kesekian kalinya mereka memakan makanan dunia ini.


Dengan menggunakan terpal yang disangga stik logam dan alas tikar gulung, inilah pelindung para pasukan dari panasnya siang hari pusat kota.


Namun mereka duduk diatas jalan aspal yang hanya dibatasi dengan tikar tipis, mungkin bokong milik mereka akan merasakan panas dari jalanan pada siang hari.


Sigiz terlihat masih merasakan sesuatu saat berada di dekat Nio. Ini semua adalah sebab mimpinya, mimpi yang menurut sebagian orang adalah surga.


Tidak ada yang ingin dibangunkan saat mengalami mimpi itu, bahkan orang yang terlihat ‘suci’ sekalipun.


Namun Nio sendiri masih terlihat tenang-tenang saja sambil melahap kerupuknya, seakan Nio merasa tidak terlibat didalam mimpi indah milik Sigiz.


Namun Nio menyadari jika perempuan yang duduk disampingnya itu terus menatapnya, dengan tatapan yang mengisyaratkan sesuatu. Bahkan dia sendiri sedikit gemetar dengan yang dilakukan Sigiz.


Tanpa sadar, Nio berulang kali menelan ludah yang menyebabkan jakunnya bergerak naik turun, dan membuat Sigiz semakin lama memandanginya.

__ADS_1


Rio dan Jo yang melihat seorang Ratu terus menatap kawannya, langsung menggoda Nio.


Namun, Nio tidak langsung terkena efek dari godaan mereka berdua. Justru Sigiz-lah yang terkena efeknya, meski korban godaan dari Rio dan Jo adalah Nio.


__ADS_2