Prajurit SMA

Prajurit SMA
41. Ratu Sigiz ingin bertemu


__ADS_3

Tahun 1914 tahun Kerajaan Arevelk, pagi hari.


**


Dua bulan setelah pertemuan yang dia tinggalkan begitu saja, Sigiz sekarang berada di singgasananya.


Istana Kerajaan Arevelk memang tidak semegah istana milik Kaisar Bogat di Kekaisaran Luan. Namun untuk urusan keamanan, istana ini menang telak.


Karena satu hal yang membuat Istana Ratu Sigiz yang paling aman di Benua ini, yaitu letaknya di ‘tanah yang melayang’.


Istana itu oleh penduduknya sering disebut dengan ‘Istana Awan’, karena memang lebih sering tertutup awan daripada terlihat langsung. Luas pulau terapung ini 5 kali lapangan sepak bola.



Istana ini hanya dapat dicapai jika mengendarai naga angin, spesies naga yang sangat langka di dunia ini. Naga angin bertelur 50 tahun sekali dan menetas dalam waktu 10 tahun, itulah yang menyebabkan naga angin sulit dijumpai di dunia ini.


Berbeda dengan naga tanah atau naga laut yang bertelur setiap 3 tahun dan menetas dalam waktu 1 tahun. Untuk spesies naga laut, mereka tidak memiliki sayap seperti naga angin dan naga tanah. Beberapa jenis naga tanah juga tidak memiliki sayap, justru jenis inilah yang langka dari spesies naga tanah.


Sedangkan bagi naga laut, mereka memiliki sirip sebagai alat bergerak didalam air. Naga laut merupakan perenang yang sangat cepat, bahkan perenang paling cepat di dunia ini. Namun naga laut tidak dapat digunakan dalam peperangan, karena mereka tidak dapat menyemburkan api.


Naga laut lebih sering digunakan sebagai transportasi bagi angkatan laut dunia ini untuk berpatroli di wilayah perairan negara masing-masing.


Jenis naga yang dikirimkan untuk berperang ke dunia lain adalah jenis naga tanah yang bersayap. Naga angin tidak disertakan karena terlalu berharga.


Naga angin merupakan jenis naga yang paling kuat, diikuti oleh naga tanah bersayap lalu tidak bersayap dan naga laut.


**


“Sang peramal agung telah tiba Ratu…,” kata seorang pelayan sambil sedikit membungkuk.


“Bawa aku ketempatnya!” jawab Sigiz dengan wajah antusias.


“Baik Ratu.”


Sigiz kemudian turun dari singgasananya untuk menemui peramal terhebat di Benua Andzrev.


Peramal agung telah berada di luar istana sambil menyangga tubuh rentanya dengan sebuah tongkat yang juga berfungsi sebagai alat sihirnya.


5 orang prajurit khusus Kerajaan Arevelk dan seekor naga angin juga ada untuk menjaga Peramal agung.

__ADS_1


Saat Sigiz tiba di tempat Peramal agung berada, kelima prajurit itu kemudian menunduk dan pergi dari tempat ini. Si pelayan juga pergi setelah mengantarkan Sigiz ke tempat Peramal agung berada.


Hanya ada Sigiz dan peramal agung di teras istana….


“Terima kasih sudah memenuhi permintaan egois saya, Peramal agung,” ucap Sigiz sambil sedikit membungkukkan badannya di depan nenek tua itu.


“Jangan begitu Ratu ‘ku, aku kemari juga ingin menjenguk salah satu muridku,” jawab Peramal agung sambil mengelus punggung Sigiz.


Sigiz kemudian tersenyum dan berjalan untuk mengajak Peramal agung ke tempat yang aman untuk melakukan pembicaraan.


Prajurit penjaga saat menemui Sigiz dan Peramal agung berhenti berjalan dan membungkuk untuk memberi hormat kepada dua orang penting negara ini.


Mereka berdua kemudian tiba di ruang untuk melakukan pembicaraan, entah pembicaraan apa yang akan mereka lakukan sekarang.


Sigiz dan Peramal agung duduk di kursi yang disediakan dan duduk saling berhadapan dengan sebuah meja sebagai penghalang.


Sesaat setelah mereka berdua meletakkan bokong di kursi yang terlihat sangat empuk itu, empat orang pelayan tiba dengan membawa teko berisi air minum berbagai jenis, kecuali anggur dan minuman beralkohol lainnya.


Selesai menuangkan air minum dan menyajikan camilan, keempat pelayan kemudian pergi meninggalkan tempat ini.


Sigiz memulai pembicaraan setelah menyeruput air minum didepannya, “Peramal agung, saya ingin bertanya mengenai kedua murid anda itu. Apakah mereka sudah menemukan orang yang diramalkan?”


Sigiz mengangguk merasa lega dengan jawaban si Peramal agung itu dan melanjutkan makan camilannya.


“Apa mereka masih akan melakukan perang, Sigiz?” tanya Peramal agung dan memecah keheningan sementara antara mereka baruda.


“Ya, berapa kalipun aku berbicara, sepertinya hanya dianggap angin lalu oleh mereka,” jawab Sigiz sambil mengeratkan pegangannya pada gelas tehnya.


Sang peramal agung menghembuskan napas berat setelah mendengar jawaban Sigiz, dia terlihat cemas.


“Semoga dewa memberikan keselamatan pada para prajurit,” ucap Peramal agung sambil menggenggam kedua tangannya seperti sedang berdoa.


“Ya, semoga saja.”


Peramal agung terlihat sedikit tersenyum sambil melihat Sigiz yang asyik dengan camilannya.


“Sigiz, diumurmu sekarang, apa kau tidak berniat mencari pasangan?” jawab Peramal agung sambil tersenyum licik.


Sigiz seketika tersedak dan meminum air dari tekonya langsung untuk meredakan batuknya itu.

__ADS_1


“Ke-kenapa anda bertanya seperti itu?. Lagipula tidak ada laki-laki yang membuat saya tertarik,” jawab Sigiz dengan wajah yang sedikit merona sambil melipat tangannya di depan dada.


“Semoga saja ada laki-laki yang lebih kuat darimu dan membuatmu jatuh cinta,” celetuk Peramal agung dan membuat Sigiz semakin kesal.


“Sudahlah, apa tidak ada pembicaraan lain?”


Peramal agung seketika kehilangan senyumnya setelah mendengar pertanyaan Sigiz.


Wajahnya menunjukkan seperti ada yang tidak beres di masa depan. Bahkan tangannya terlihat gemetar hingga gelas yang berisi air bergetar isinya.


“Negara-negara yang berperang dengan dunia lain akan kalah jika tidak mengentikan perang itu,” ucap Peramal agung yang membuat Sigiz terlihat terkejut.


“Anda sudah mengatakan itu sejak gerbang dimunculkan, tapi tetap saja membuat saya terkejut,” kata Sigiz sambil sedikit menunduk menatap bayangan wajahnya yang cantik dari air di gelasnya.


Peramal agung kemudian melanjutkan perkataannya, “Pilihanmu untuk tidak terlibat perang sudah sangat tepat, semoga saja orang yang diramalkan itu segera ditemukan.”


Sigiz menjawabnya dengan anggukan dan tanpa senyum sama sekali karena memikirkan negara-negara di Benua Andzrev yang berperang dengan pasukan dunia lain.


“Apa anda tahu senjata yang digunakan pasukan dunia lain?” tanya Sigiz.


“Penglihatanku masih belum jelas, tapi pasukan dunia lain menggunakan tongkat yang dapat meledak dan mengeluarkan panah kecil yang dapat menembus besi,” jawab Peramal agung sambil menatap sungguh-sungguh Sigiz dan membuatnya semakin terkejut.


“Mengerikan,” gumam Sigiz sambil memikirkan nasib pasukan yang sedang berperang dengan dunia lain.


“Namun, dia negara yang didatangi Ilhiya dan Ivy, mereka memiliki senjata yang jauh lebih mematikan.”


Sigiz menatap sungguh-sungguh Peramal agung dan berkata, “Mohon beritahu saya, apa senjata yang sangat mematikan itu?”


Peramal agung mengambil napas dan menggenggam erat tongkatnya kemudian berkata, “Persatuan para warganya. Warga negara yang didatangi Ilhiya dan Ivy memiliki persatuan yang sangat kuat. Bahkan mereka rela berkorban nyawa untuk melawan pasukan musuh. Meski tidak semua warga negara itu memiliki keberanian semacam itu, namun yang memiliki rasa persatuan yang kuat jumlahnya tidak sedikit.”


Sigiz terlihat tidak paham dengan perkataan Peramal agung hingga ia memiringkan kepalanya.


“Apa mereka ikut berperang dengan pasukan negera itu?” tanya Sigiz.


“Bukan hanya dengan perang, semua hal mereka lakukan agar negara mereka terbebas dari musuh yang mengancam. Meski keadaan dunia lain juga terancam dengan perang besar, tapi rasa persatuan itulah yang membuat negara mereka ditakuti oleh negara lain di dunia itu,” ucap Peramal agung dengan wajah sungguh-sungguh.


“Lalu, apakah prajurit muda yang ada di ramalan juga sangat kuat?”


“Ya, dia ksatria yang sangat pintar namun lemah dengan angka-angka.”

__ADS_1


Mendengar itu, Sigiz terlihat sedikit tersenyum dan berkata didalam hatinya, “Aku sangat ingin bertemu dengan dia.”


__ADS_2