
Republik ini telah menikmati masa keemasan sejak puluhan tahun yang lalu, dipelopori oleh seorang presiden yang kharismatik dan disegani pemimpin negara tetangga dan sekutu, dan didukung oleh para pejabat yang tak haus kekuasaan, kehormatan, dan uang, serta pasukannya yang kuat dan setia. Seluruh orang di Benua Asia mengakui kemegahan negeri yang sebelumnya pernah terpuruk tersebut. Rakyat di negeri republik tersebut bangga setelah mengetahui jika mereka adalah bagian dari jaman yang gemilang, dan bangga setelah negeri mereka dapat bangkit dan melawan ancaman keruntuhan dan disegani negara tetangga dan sekutu.
Tapi, pandangan tersebut berubah setelah perang dengan bangsa dunia lain pecah.
Ketika perang dan pemerintah masih mencari cara untuk menghadapi musuh yang terus keluar dari fenomena fantasi yang disebut Gerbang, rakyat menjadi kacau dan ketidakpastian menyelimuti masa depan negeri mereka. Mereka bergantung pada pejabat negara dan pasukannya agar tidak tersandung dalam krisis – tetapi gedung parlemen berubah menjadi sarang pencuri dalam sekejap karena penghuninya mencari lebih banyak kekuasaan dan harta. Para pejabat memperlihatkan sifat asli mereka, dan melepaskan rasa lapar mereka akan harta, kehormatan, dan kenikmatan duniawi lainnya tanpa mempedulikan rakyat yang sedang berjuang bersama para prajurit negeri itu.
Setelah perang usai dan pasukan bangsa dunia lain berhasil mundur ke asalnya, tentu saja orang-orang ingin menghentikan tindakan para pejabat yang kekurangan isi kepala dan memenangkan perang melawan pasukan bangsa dunia lain yang memerangi republik tersebut.
Salah satu orang tersebut adalah Suroso, presiden termuda dalam sejarah negara republik bernama Indonesia.
Duduk di kursi meja kerjanya, Suroso terlihat sangat kelelahan. Terbukti beberapa kali dia menghela napas panjang sejak turun dari mobil dinasnya. Dia memiliki tinggi badan rata-rata pria dewasa Indonesia pada umumnya. Namun, dia memiliki tubuh yang bagus – karena sering berlatih bela diri bersama pelatih bela diri pasukan khusus TNI dan satu minggu sekali jika dia mendapatkan jatah libur pergi ke gym.
Dua prajurit khusus yang bertugas menjaga gerbang istana heran melihat orang yang mereka jaga terlihat sangat berbeda dari biasanya. Obrolan mereka yang sebelumnya riang yang biasa mereka lakukan, malah berubah menjadi obrolan serius dengan Suroso menjadi objeknya.
Hanya ada satu alasan obrolan mereka menjadi serius.
“Wajah Presiden Suroso terlihat berbeda dari biasanya,” ucap salah satu prajurit penjaga istana dengan suara lirih.
Memejamkan matanya dengan erat dan mencoba mencari jawaban yang pas, rekan prajurit tersebut akhirnya mengatakan, “Yah, banyak negara yang terus mendesak Pak Suroso untuk mengijinkan mereka menginjakkan kaki di dunia lain – tentu saja sangat mengganggu Beliau.”
“Ya Tuhan, semoga Beliau baik-baik saja. Aku tidak mau kehilangan presiden berkharisma seperti Beliau.”
Tiba-tiba mereka berdua diam dalam sekejap saat seseorang berjalan keluar dari gerbang istana.
Tidak lama setelah mengetahui identitas orang tersebut, mereka segera berdiri dengan tegap dan memberi hormat. Ini memang pemandangan yang langka, karena Suroso tidak pernah keluar dari istana di luar jam kerjanya. Tidak banyak staf Istana Negara yang sering melihat dia berjalan tanpa pengawalan Paspampres atau dampingan ajudannya.
Kedua prajurit penjaga gerbang istana menelan ludah secara bersamaan hingga jakun keduanya bergerak naik turun, serta jantung mereka berdetak lebih kencang dari biasanya. Mereka khawatir jika perkataan mereka barusan menyinggung perasaan Suroso.
“Kalian berdua…”
Suroso berjalan mendekati kedua prajurit penjaga gerbang istana, dan membuat mereka berdua semakin gugup.
“… Terimakasih sudah mengkhawatirkan kondisiku.”
Suroso berdiri di depan kedua prajurit penjaga gerbang istana tersebut dengan senyuman hangat, lalu menepuk bahu mereka satu persatu beberapa kali. Mereka berdua yang baru pertama kali diperlakukan seperti itu sejak ditugaskan untuk menjaga istana terlihat senang dan bangga. Mereka berterimakasih kepada rakyat yang memilih Suroso sebagai pemimpin negara ini. Karena sebagai alat negara, prajurit dan polisi Indonesia diharuskan menjaga kenetralan, sehingga tidak memiliki hak pilih apapun.
Setelah itu, Suroso meninggalkan kedua prajurit penjaga gerbang istana dan berjalan menuju mobil dinasnya yang terparkir di zona yang diijinkan untuk memarkirkan kendaraan di pinggir jalan pada area luar istana. Kedua prajuritnya mengawal Suroso hingga dia memasuki mobil dan menyalakan kendaraannya. Lalu, Suroso mengendarai mobilnya ke arah gedung parlemen setelah berpisah dengan kedua prajuritnya.
**
Gedung parlemen ada sebuah kantor khusus untuk presiden yang menghadiri rapat untuk semua pejabat negara seperti anggota DPR, MPR, DPD, BPK, dan anggota kabinet. Dia menghadiri rapat yang menurutnya tidak perlu dilakukan, dan itulah yang menyebabkannya memasang wajah lemas yang sebenarnya menunjukkan rasa malasnya untuk berhadapan dengan pejabat-pejabat yang menyatakan diri sebagai ‘wakil rakyat’.
Meski dia memasang wajah lemas, tidak ada seorang pun di gedung parlemen yang berani menanyakan kondisinya. Beberapa anggota DPR/MPR yang melihat Suroso berjalan dengan lemas tidak berani membuat hati presiden muda itu tersinggung, termasuk karena pencapaiannya terhadap negara ini sejak dia dilantik menjadi pemimpin Indonesia.
Setelah menjanjikan untuk meneruskan masa keemasan Indonesia, dia memutuskan untuk meningkatkan sektor pariwisata dan bidang industri, termasuk industri pertanian modern. Faktanya, sejak satu tahun lalu, sektor yang memberikan pemasukan negara paling besar berada pada sektor pariwisata dan pertanian. Banyak pelancong berjumlah 50 juta orang per tahun yang mengunjungi setiap tempat wisata terkenal yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia.
Negara tetangga diberitakan telah membangun sangat banyak fasilitas bagi rakyatnya yang terus bertambah, sehingga lahan untuk pertanian berkurang secara drastis. Namun, Indonesia masih memiliki banyak laham pertanian yang sangat luas, dan lahan tanpa tuan seperti ribuan pulau kosong yang subur. Sehingga, Suroso memanfaatkan hal itu dengan meningkatkan pertanian dan membuka lahan pekerjaan yang sangat besar bagi orang yang berminat untuk mengurus fasilitas pertanian di pulau-pulau kosong yang difungsikan sebagai lahan pertanian tambahan.
Selain itu, dengan diberkati iklim tropis dan tanah subur di ribuan pulau kosong, sumber daya alam yang masih dapat dicari dan ditemukan, serta bidang perikanan yang besar karena wilayah laut dan ZEE yang luas, Indonesia seperti diberkati dengan segalanya dengan sangat berlimpah.
Dengan cara itu, negara telah mengurangi jumlah orang tuna karya yang sedang mencari pekerjaan atau kehilangan pekerjaan ketika perang berlangsung hingga titik terendah pada lima puluh tahun terakhir. Selain itu, banyak negara tetangga yang kekuarangan lahan pertanian tertarik untuk melakukan kerja sama bidang perdagangan hasil pertanian yang besar dari Indonesia. Dengan komoditas utama makanan pokok dan rempah-rempah, setidaknya pemasukan negara dapat digunakan untuk pembangunan kembali pasca perang dengan bangsa dunia lain, termasuk melanjutkan proyek pembangunan kapal induk kelas Ir, Soekarno, dan ‘mencicil’ hutang negara.
Setelah semua hak rakyat dipenuhi, upaya untuk mengembangkan pasukan militer dilanjutkan. Dalam waktu singkat pengembangan, Indonesia kembali menjadi negara dengan pertahanan terkuat di belahan bumi selatan di bawah India – yang sebelumnya lebih lemah dari Singapura. Hampir semua negara terkejut dengan perkembangan cepat Indonesia pasca perang, termasuk negara sekutu utama.
Indonesia penuh dengan sejarah, dan pernah mengalami masa ketika isu bubarnya negara itu bangkit kembali, sehingga membuat negara lain tidak tertarik bekerja sama dengan negeri tersebut. Karena sumber daya alam terbarukan yang menipis dan banyak jasa-jasa pemimpin terdahulu yang telah bekerja dengan baik dan se-adil mungkin, banyak pihak yang ragu jika lepas dari Indonesia maka kehidupan mereka akan lebih baik. Itu semua berkat pemimpin yang bijaksana di masa lalu yang berhasil mempertahankan keutuhan negara hingga masa Presiden Suroso sekarang.
Wilayah yang terdiri dari puluhan ribu pulau dan keberagaman yang berbeda dengan yang lain memang memiliki kerentanan perpecahan yang lebih dari cukup untuk membuat nama Indonesia tidak ada dalam daftar negara berdaulat lagi. Tetapi, orang yang setia negara masih berjumlah jauh lebih besar dari orang yang menginginkan berpisah dari Indonesia.
“Oke, lanjutkan pekerjaan,” Suroso menyemangati dirinya sendiri untuk menyiapkan materi untuk rapat bersama yang akan dimulai beberapa saat lagi.
__ADS_1
Dia menyerah pada keinginannya untuk menghindari rapat dengan para ‘wakil rakyat’. Reputasi para ‘wakil rakyat’ menurut rakyat memang buruk di mata rakyat kebanyakan, jadi dia tidak ingin mendapatkan reputasi yang serupa. Ada lebih dari dua ratus sembilan puluh juta rakyat yang mempercayakan negara ini kepadanya, namun para ‘wakil rakyat’ hanya menambah beban pekerjaannya yang sudah menumpuk dan menguras pikirannya – meski beberapa golongan dari mereka bekerja dengan menggunakan ‘isi kepala’ mereka sepenuhnya demi kesejahteraan dan kemajuan bangsa dan rakyatnya. Tak heran, dia telah memiliki uban di beberapa bagian rambutnya ketika usianya belum menginjak tiga puluh tiga tahun, karena hanya segelintir golongan di perkumpulan ‘wakil rakyat’ yang membantunya dengan baik dan sepenuh hati.
Itulah mengapa wajahnya sudah menunjukkan ekspresi tidak nyaman setelah memasuki lingkungan gedung parlemen, namun dia tetap mencoba bersabar hingga jadwalnya hari ini selesai, dan beristirahat di rumah bersama istri dan anaknya yang masih berusia enam tahun.
Suroso memang jarang sekali meggerutu mengenai pekerjaannya, kecuali pekerjaan itu menyangkut proposan kenaikan gaji para ‘wakil rakyat’. Ketika Suroso menggerutu mengenai sesuatu, ada ketukan terdengar dari pintu ruangannya.
“… Masuk,” jawab Suroso dengan singkat.
Setelah ijin darinya didengar oleh seseorang yang mengetuk pintu ruangannya, yang masuk ke dalam adalah seorang ajudannya.
“Pak, maaf sebelumnya. Kenapa Anda meninggalkan saya ketika ingin berangkat ke Rapat Bersama?”
Ajudannya merupakan seorang pria berusia 22 tahun, sekaligus sekretarisnya yang membantunya menyusun jadwal pekerjaannya selama masa jabatannya. Tetapi, mengingat selama masa jabatan Suroso yang telah selama tiga tahun yang telah membuat kemajuan bagi negara ini, rakyat menginginkan dirinya menjadi presiden lagi pada periode selanjutnya – meski ada beberapa pihak yang berusaha menyangkal hal itu.
Jelas pria itu lebih muda dari Suroso, namun pria itu tidak meragukan kerja keras dan profesionalisme dari sekretarisnya yang bernama Gusnar Suedarmono yang berasal dari Provinsi Gorontalo.
“Ya ampun… maafkan aku. Padahal umurku belum setua itu, tapi kenapa aku begitu pelupa akhir-akhir ini, ya?”
Suroso tertawa kecil untuk mengurangi rasa kesal ajudannya dengan wajah konyol, tentu saja dia berharap jika Gusnar ikut tertawa atau setidaknya tersenyum melihat tingkahnya.
Sayangnya, wajah Gusnar terlihat biasa saja, seperti sedang melihat acara komedi yang tidak berkualitas di salah satu program TV swasta.
“Pak, silahkan persiapkan diri Anda dan yang diperlukan lainnya. Rapat Bersama dimulai sepuluh menit lagi.”
“Ya, terimakasih sudah memberi tahuku.”
Gusnar membalikkan badannya untuk keluar dari ruangan yang dihuni Suroso, namun dia berhenti sejenak dan berdisi menghadap ke arah Suroso lagi. Sepertinya dia memiliki sesuatu yang ingin dikatakan lagi.
“Tapi… apakah Anda masih ingat letak ruang rapatnya, Pak?”
Wajah Suroso jelas menunjukkan rasa jengkel, karena Gusnar mengatakannya dengan senyum yang menyeringai. Lalu dia menjawab dengan wajah yang benar-benar kesal:
“Tentu saja! Sudah, cepat beritahu para ‘wakil rakyat’ kalau aku segera ke sana.”
**
Suroso duduk bersama para menterinya, di samping kanan dan kirinya adalah ajudannya dan Menteri Pertahanan yang baru yang bernama Andre Setiawan.
Biasanya, dia akan mengandalkan wakil-nya untuk menghadiri rapat seperti ini, dan memilih bekerja di Istana Negara dan mengerjakan pekerjaan yang lebih penting, tetapi hari ini berbeda.
“Kenapa mereka terlalu mempermasalahkan hal itu?” ucap Suroso di dalam hati.
Suroso bukan satu-satunya yang merasa bingung dengan sebagian anggota dewan, seluruh menteri dan ajudannya ikut mengerutkan alis dan berwajah heran.
Lalu, seorang pria anggota dewan dari salah satu partai yang bukan pendukung Suroso pada pemilihan meminta ijin untuk mengajukan pertanyaan, dan Suroso menginjikan pria itu untuk bertanya.
“Pak, Bukannya lebih baik jika kita membalas semua perbuatan musuh. Mereka menyerang kita lebih dulu. Dengan begitu, konflik dengan negara yang berperang dengan kita bisa selesai tanpa perang yang berkepanjangan.”
Sebagian anggota dewan masih terbuai dengan kemenangan yang didapatkan ketika pertempuran besar pertama melawan Aliansi. Selain menyerang balik musuh, mereka juga menyarankan untuk menguasai beberapa daerah milik musuh untuk mendapatkan sumber daya di sana.
Sekelompok anggota dewan terlihat santai dan pertanyaan yang mereka ajukan bernada bercanda setelah kesuksesan pasukan dalam mengalahkan musuh beberapa bulan lalu. Bahkan dapat dikatakan mereka menjadi sombong, namun tidak diimbangi dengan kinerja mereka yang terkesan tidak jelas. Sebagian anggota dewan nampak merasa ikut menikmati kemenangan dan kemuliaan – yang merupakan hasil kerja keras prajurit mereka.
Selain itu, tingkat peradaban yang lebih tinggi dari musuh membuat rencana membalas musuh digencarkan. Perang sebagian identik dengan merebut wilayah atau barang, jadi itulah alasan mereka ingin membalas perbuatan musuh dengan mempertimbangkan rencana invasi.
Pengorbanan prajurit Pasukan Ekspedisi menurut mereka adalah hal yang wajar, karena memang itu fungsi prajurit menurut sebagian anggota dewan di sini, dengan menggunakan alasan ‘melindungi Indonesia dengan berjuang dari dunia lain’. Tetapi, mereka tidak menyukai kepulangan Pasukan Ekspedisi yang tidak membawa hasil apapun, kecuali ribuan kantong mayat rekan-rekan mereka yang gugur di medan perang dunia lain. Bahkan ada golongan ‘wakil rakyat’ yang marah dengan Pasukan Ekspedisi – yang berperang hingga persenjataan milik mereka hancur dan tidak bisa dibawa pulang ke Indonesia setelah perang. Misalnya, hampir seluruh senjata berat dan helikopter dalam kondisi rusak berat hingga hancur karena digunakan untuk menghadapi 300.000 prajurit Aliansi yang menyerbu mereka tiga kali sehari.
Mereka bisa bersantai dan menikmati gaji yang diambil dari pajak pemberian rakyat, ketika bersamaan dengan itu Pasukan Ekspedisi dalam kondisi kelelahan dan terluka bertarung dengan berani melawan Pasukan Aliansi yang berjumlah jauh lebih banyak dari mereka, dan prajurit yang gugur hingga berjumlah ribuan adalah hal akhir yang wajar jika menjadi seorang prajurit. Tetapi, mereka nampak marah ketika senjata-senjata milik Pasukan Ekspedisi hancur dan tidak bisa diperbaiki lagi.
Menurut golongan tersebut, negara telah mengeluarkan uang yang tidak sedikit – yang diambil dari pajak yang diberikan dari uang rakyat – untuk mempersenjatai Pasukan Ekspedisi. Hancurnya senjata mereka adalah kerugian yang sangat besar bagi negara – menurut golongan tersebut.
__ADS_1
Dipecatnya 80 anggota DPR dan MPR dilakukan langsung oleh Suroso, secara tidak hormat, dengan disiarkan ke seluruh negeri. 80 anggota dewan yang dipecat terbukti mengurangi uang kompensasi bagi keluarga prajurit yang gugur di medan perang dunia lain, dan mereka menggunakan alasan jika uang hasil pengurangan anggaran itu akan diberikan ke negara lagi untuk mengganti uang yang dikeluarkan untuk senjata-senjata yang hancur milik Pasukan Ekspedisi. Setelah dipecat, kedelapan puluh ‘wakil rakyat’ tersebut diserahkan pada pengadilan, dan mendapatkan masa kurungan penjara sesuai dengan jumlah mereka.
Negara jelas mengalami kerugian akibat fasilitas dan senjata yang hancur akibat penyerangan besar pertama Aliansi, namun kerugian dan penyesalan terbesar negara adalah terlambatnya mereka untuk berpikir mengirimkan pasukan bantuan ke medan perang dunia lain – yang menyebabkan ribuan prajurit TNI gugur di medan perang dunia lain. Untungnya, negara tidak kehilangan kesetiaan prajurit TNI yang menjadi personel Pasukan Ekspedisi.
“Ah… aku akan menjawab pertanyaanmu…” ucap Suroso dengan wajah dan nada malas yang sangat jelas. Bahkan, Menteri Pertahanan dan ajudannya menyadari Suroso yang sama sekali tidak berniat untuk menghadiri Rapat Bersama ini.
“Lebih Anda – Bapak yang namanya saya lupa – buka kembali buku sejarah. Jika kita membalas perbuatan musuh yang memiliki tingkat peradaban terpaut ribuan tahun dari kita, bukannya kita sama saja melakukan hal yang sama seperti bangsa Spanyol terhadap Suku Inca?”
Suroso melanjutkan perkataannya ketika anggota dewan yang memberinya pertanyaan terlihat tidak yakin dengan jawabannya, “Pikirkan apa yang dunia ini akan katakan pada kita jika kita benar-benar melakukan itu. ‘Penjajah yang pernah dijajah’, aku tidak ingin tentara-ku dicap seperti itu oleh dunia.”
Semua orang manatap padanya dengan ekspresi bingung luar dalam. Namun, Suroso tersenyum setelah berhasil mengendalikan salah satu ‘wakil rakyat’.
Tidak berlebihan jika menyebut dunia lain sebagai tambang permata yang belum tersentuh secara maksimal, dan kesempatan untuk mengekpoitasi mungkin akan terbuka lebar jika berhasil menguasai daerah penghasil sumber daya besar. Faktanya, mungkin jika berhasil menemukan minyak atau bahan tambang lainnya di dunia lain, Indonesia bisa saja menyaingi negara-negara Timur Tengah dan negara penghasil sumber daya lainnya.
“Satu lagi, menyerang balik musuh merupakan kecerobohan dan pemborosan yang sangat parah.”
Kemudian, salah satu anggota dewan lainnya meminta ijin untuk berbicara, dan Suroso kembali menerima pertanyaan tersebut.
“Jika Anda menyebut pemborosan, bukankah mengirimkan senjata baru untuk Pasukan Perdamaian juga termasuk pemborosan. Menurut laporan yang saya lihat, Pasukan Ekspedisi meninggalkan beberapa tank di sana. Jadi, untuk apa kita mengirimkan kembali tank-tank ke sana?”
Lalu, tanpa mendapatkan ijin seorang anggota dewan berbicara, “Bukankah anggaran pertahan digunakan hanya untuk membeli senjata-senjata baru untuk Pasukan Perdamaian? Mengapa kita tidak mengirimkan senjata-senjata yang tersimpan di gudang senjata saja? Setidaknya itu masih berfungsi kan?”
Keributan kecil tercipta di ruangan rapat, seluruh orang saling mengatakan yang bertujuan memojokkan satu sama lain. ‘Wakil rakyat’ yang setia dan bekerja sepenuh hati untuk Suroso benar-benar berjumlah kecil, sehingga mereka hampir terpojok oleh kata demi kata dari golongan ‘wakil rakyat’ yang bukan berasal dari partai pendukung Suroso ketika pemilihan.
Sejak perang usai, dan pemerintah memutuskan untuk mengirim pasukan untuk menjelajahi dunia lain dan mencari dalang yang memulai perang, perselisihan antar anggota dewan semakin berbahaya. Hal itu menyebabkan anggota dewan seakan-akan telah terpecah menjadi dua golongan.
Mengenai apa yang menyebabkan mereka terpecah menjadi dua golongan memang mengenai perbedaan cara pandang mengenai konflik dengan negara yang berperang dengan Indonesia.
Tetapi, golongan ‘wakil rakyat’ yang hanya membutuhkan uang dan bekerja dengan sesuka hati tanpa menggunakan isi kepala bisa dikatakan memiliki cara licik untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Mereka ahli dalam mengobarkan konflik politik, dan membodohi rakyat dengan kabar burung yang mereka buat sendiri. Berita burung tersebut memiliki tujuan agar rakyat mendukung langkah untuk membalas perbuatan musuh – dengan kedok asli berupa menguasai daerah musuh untuk mengekspoitasi sumber dayanya.
Tentu saja hal itu sama sekali tidak menghibur, dan Suroso menatap tajam kedua anggota dewan yang memberinya pertanyaan tadi.
“Dari perkataanmu, itulah mengapa alutsista negara ini hanya berisi senjata-senjata yang berusia lebih tua dari kalian dan diriku. Kalian pikir apakah membeli senjata untuk mempertahankan negara dan menjaga rakyat tidak penting, apa kalian lebih mementingkan isi perut namun tidak diimbangi dengan penggunaan isi kepala yang benar? Lagipula, senjata-senjata milik TNI dan Pasukan Perdamaian berasal dari pajak – uang yang diberikan rakyat. Rakyat bebas memberikan saran mengenai penggunaan uang pajak dari mereka, tentu saja hal itu setelah melalui beberapa pertimbangan.”
Suroso kemudian berdiri sambil membawa mikrofonnya, namun dengan raut wajah lebih tegas dari sebelumnya.
“Aku sudah menuruti kalian untuk membuka gudang senjata, dan memberikan Pasukan Ekspedisi senjata-senjata yang seharusnya dimuseumkan. Sebagian besar senjata sudah berusia lebih tua dari para prajurit. Setelah tidak digunakan, senjata-senjata tua itu bukankah akan disimpan atau digunakan sebagai monumen saja? Sayangnya, kalian malah marah setelah tahu senjata-senjata tua itu rusak berat dan hancur setelah digunakan untuk berjuang para prajurit-prajurit-ku!”
“Sialan, aku sudah tidak tahu lagi apa yang ada di pikiran golongan-golongan ‘wakil rakyat’ seperti itu. Aku yakin, ada beberapa prajurit mantan personel Pasukan Ekspedisi yang selamat memendam kemarahan, kesedihan, dan rasa sakit setelah bertarung di medan perang dunia lain, melihat rekan-rekan mereka gugur di tangan musuh, dan perilaku kalian yang terkesan tidak menghargai perjuangan gagah berani mereka!”
“Jujur saja, aku bangga setelah mendengar bagaimana mereka berjuang. Tapi aku juga sedih setelah kehilangan lebih dari dua ribu prajurit terbaikku. Biar aku perjelas, mereka yang gugur setelah berjuang menjaga negeri ini dengan berjuang dari dunia lain pantas dihormati dan menyandang gelar pahlawan.”
Sebagian anggota dewan menunduk ketika mendengar perkataan Suroso, tetapi sebagian lagi menatap pria itu dengan wajah kagum… seperti melihat pemimpin sesungguhnya yang dibutuhkan negeri ini. Suroso tidak ragu jika dia akan ‘terancam’ setelah mengatakan hal-hal barusan, tetapi dia tetap mengatakan semuanya dengan berani.
**
Suroso akhirnya terbebas dari ruangan rapat yang hampir membuatnya menderita tekanan darah tinggi di usia mudanya. Diikuti ajudannya, Suroso berjalan ke basemen, dimana dia memarkirkan mobil dinasnya di sana.
“Pak, sepertinya Anda membutuhkan hiburan.”
“Terimakasih, setelah ini aku akan pergi ke gym.”
“Maaf sebelumnya, tetapi bukannya Anda harus menghadiri pesta. Anda sudah menerima undangan dari Ratu Sigiz kan, Pak?”
“Serius? Aku akan pergi ke dunia lain?”
Wajah Suroso benar-benar berubah setelah ajudannya berkata seperti itu, hampir mirip dengan seorang anak yang dijanjikan akan dibelikan jajanan jika menurut.
“Ya, Anda harus berangkat ke Karanganyar setelah ini, para penyihir sudah menunggu dan membuka Gerbang untuk akses Anda menghadiri pesta.”
__ADS_1
“Akhirnya, setelah hampir naik darah aku mendapatkan kesempatan untuk pergi ke dunia lain.”
Wajah Suroso benar-benar terlihat sangat kegirangan, dan berlari cepat ke tempat kendaraannya berada. Ajudannya hanya menggelengkan kepalanya setelah melihat presidennya.