Prajurit SMA

Prajurit SMA
Dia pasti akan memutuskanku


__ADS_3

Fan service time!!!


Ini bukan cerita utama, dan hanya selingan. Intinya, episode ini hanya untuk menyegarkan suasana, dan menunggu aku mendapatkan ide untuk cerita selanjutnya. Riset tidak memakan waktu yang singkat, kau tahu?!


(olog note: emang kapan author melakukan riset? Bukannya dia cuma rebahan sambil nonton chanel militer abal-abal? :v)


**


Berita kematian Ofra, pemimpin para pemberontak, menyebar seperti api di seluruh medan perang.


Pada awalnya, pasukan pemberontak di medan perang tidak percaya atau menganggapnya sebagai kebohongan, tetapi keheningan menunjukkan kebenarannya.


Hanya dalam waktu singkat, seluruh tentara pemberontak menyadari bahwa kebohongan bahwa Ofra sudah mati adalah sebuah fakta. Wajah para pemberontak takut, seolah-olah ini adalah kekalahan terbesar dan terburuk sepanjang hidup.


Para pemberontak telah bertarung tanpa keraguan bahwa mereka akan mendapatkan kemenangan karena mereka memiliki Ofra dan dukungan dari Aliansi. Bagaimana mungkin komandan yang heroik dan agak arogan itu bisa ditumbangkan oleh musuh?


Beberapa dari tentara pemberontak memiliki semangat juang yang rendah, dan menjatuhkan senjata masing-masing lalu melarikan diri.


Saat satu orang berlari melarikan diri, puluhan hingga ratusan prajurit pemberontak akan mengikutinya. Pada saat itu, para pemberontak telah kehilangan komandan, dan pasukan pemberontak telah dikalahkan dan dihancurkan.


Sementara itu, wajah seluruh prajurit kontingen Arevelk dan Yekirnovo sangat antusias pada berita kematian Ofra, si pengkhianat.


Pasukan gabungan kontingen Arevelk, Yekirnovo, dan kelompok Nio (Pembunuh Senyap, ditambah Hevaz) berteriak saat melihat pasukan pemberontak ‘ketar-ketir’.


**


Keesokan harinya, di ibukota Kerajaan Arevelk, Iztok.


Seluruh prajurit Pasukan Penumpas Pemberontak mengadakan pesta yang luar biasa untuk merayakan kemenangan mereka. Tentara yang tidak terlibat hanya bisa diam mematung, dan iri dengan pencapaian yang didapatkan mereka.


Seolah-olah langit di negara timur Benua Andzrev menurunkan berkahnya untuk Pasukan Penumpas Pemberontak, langit sangat cerah tanpa awan, dan membuat hari yang sempurna untuk mengadakan pesta dan penghormatan kawan yang gugur.


Setelah berkabung, mereka segera melupakan kesedihan dengan mendengarkan berbagai pertunjukan karena dapat melanjutkan hidup untuk terus berjuang di masa depan, dan mengalahkan pemberontak yang membahayakan Arevelk serta Persekutuan.


Yekirnovo pada dasarnya adalah gabungan dari dua belas wilayah bawahan Kekaisaran Luan yang memisahkan diri dan membentuk pemerintahan mandiri. Sejumlah prajurit Arevelk masih menunjukkan kebencian terhadap mereka. Namun, cara terbaik untuk memperbaiki hubungan dua pihak yang bermusuhan menjadi teman baik adalah dengan menyatukan mereka. kemenangan ini adalah hasil kerjasama antara Yekirnovo dan Arevelk, dan pesta dapat menghapis permusuhan kedua belah pihak.


Nio yang duduk di depan sebuah toko sambil menyemburkan asap rokok menghela napas saat mendengar beberapa prajurit mengatakan, “Ini benar-benar kemenangan yang mudah.”


Meskipun Arevelk telah memberikan status Ofra dan para pemberontak sebagai ‘pengkhianat’, bagaimanapun pemberontakan sudah ditangani tanpa meninggalkan jejak. Mereka bukan lagi pengacau yang akan menyerang Arevelk atas keinginan mereka sendiri. Setidaknya, ancaman yang menginginkan Arevelk bergabung dengan Aliansi telah dihancurkan.


Namun, segunung masalah tetap ada.


Kematian Ofra mungkin akan berdampak pada Aliansi. Ambisi Ofra yang digabung dengan keinginan Aliansi menjadikan mereka sepakat untuk saling bekerja sama. Jika pihak yang akan membantu Aliansi menguasai Arevelk telah tiada, pertempuran baru menghadapi Aliansi tak dapat terhindarkan.


Tetap saja, seseorang tidak dapat memprediksi masa depan dengan akurat. Nio masih memikirkan cara untuk mendapatkan ijin cuti, kembali ke rumah.


Nio bermaksud membantu Arevelk bersama Yekirnovo untuk menangani pemberontak adalah untuk menambah pengalaman dan dorongan keinginannya yang berpikir bahwa membantu sekutu adalah hal yang wajib dilakukan. Membayangkan apa yang terjadi setelah ini, membuat kepala Nio berdeyut kuat.


**


Masalah sebenarnya yang Nio hadapi baru saja dimulai.

__ADS_1


“Airnya sangat menenangkan…” ucap Ebal, disetujui oleh Huvu.


“Selain itu, air hangat ini membuatmu seperti hidup kembali,” kata Hevaz. “Ahh… keletihanku hilang…” dia mendesah.


“Apa Utusan sepertimu bisa merasakan lelah? Selain itu, kau berkata seperti orang tua saja, ” kata Edera.


“Aliran energi magis di medan perang sebelumnya sangat lemah, jadi aku kekurangan Energi Magis. Omong-omong, usiaku dan Tuan Nio hanya terpaut 10.000 tahun,” jawab Hevaz dengan ringan.


Nio berada di antara dua gadis yang bertengkar, dua gadis yang berenang di depannya tanpa pelindung tubuh apapun, dan seorang ratu yang menggosok kedua melon raksasanya dengan lembut.


Meskipun menurut sebagian pria hal ini mampu meringangkan beban pikiran, namun hal itu tidak berlaku bagi Nio yang saat ini kepalanya terasa hampir pecah. Nio sejujurnya tidak berharap ‘keberuntungan’ ini didapatkannya.


Mereka berada di pemandian Istana Awan, jauh lebih luas daripada barak yang Nio huni. Pemandian ini adalah tempat yang suci, biasanya hanya digunakan ketika ratu atau raja membersihkan diri untuk upacara maupun ritual penting dan sakral. Oleh karena itu, seluruh orang yang menggunakan fasilitas ini wajib tidak mengenakan sehelai benang pun. Hal itu adalah simbol untuk menyucikan diri kembali di pemandian ini, seperti saat mereka dilahirkan. Mungkin itulah alasan lima gadis di tempat ini berte*lanjang bulat dengan tenang, dan tidak berusaha menutupi diri walau ada satu pria di sini.


Sebenarnya, alasan di balik diamnya Nio saat ada pemandangan indah di depannya adalah dia sedang menyibukkan diri dengan pikirannya untuk melarikan diri dari keadaan mengerikan ini. Gadis-gadis yang bersenang-senang tanpa pakaian adalah bentuk penyiksaan terburuk, menurut Nio. Medan perang sesungguhnya adalah melawan na*fsu dan hasrat sendiri.


Meski begitu, kadang-kadang mata Nio sedikit melirik tubuh indah para gadis, bagaimanapun dia masih seorang remaja biasa. Dia pernah membaca komik Jepang yang menunjukkan adegan seperti yang ia hadapi saat ini, dan membuat kebanyakan ‘otaku’ iri. Artinya, rencana untuk melarikan diri harus terganggu oleh keinginan Nio yang ingin melihat tubuh polos gadis secara langsung.


Nio berusaha mengembalikan akal sehatnya, bahkan jika dia tidak harus menahan diri, tetapi dia sulit untuk mengambil kendali. Suara lembut seorang Edera akhirnya menarik pandangannya.


“Heheh, kalau Anda penasaran, Anda tidak perlu menahan diri untuk melihat tubuh saya,” Edera terkikik. “Pikirkan bahwa saya adalah milik Anda. Bagaimanapun saya adalah pelayan, dan Tuan Nio dalah tuan saya.”


“Heh, serius?” Nio tersenyum mesu*m, namun kemudian meninju pipinya sendiri untuk mengembalikan kewarasannya sendiri. “Jangan katakan perkataan yang membuatku hampir kehilangan kendali. Aku tidak melihat apapun. Aku tidak tertarik dengan apapun!” kata-kata itu adalah kebohongan, dan menjadi tanggapan atas dirinya yang hampir kehilangan kendali.


Tapi, sepertinya Nio telah benar-benar kehilangan akal sehatnya karena tatapan para gadis yang biasanya tenang dan tidak membuat Nio gugup. Nio sama sekali tidak mengharapkan adegan ini terjadi padanya.


Sebelumnya, Nio dengan tenang mandi bersama para prajurit di pemandian umum yang murah, namun seseorang menyeretnya dan membuatnya berada dalam situasi seperti saat ini. Mengistirahatkan tubuh yang letih dengan damai, akhirnya harus berakhir dengan penyiksaan seperti ini.


(informasi: ketinggian daratan melayang tempat berdirinya Istana Awan bisa berubah-ubah. Ketinggian yang bisa dicapai hingga dua ratus meter, dan terendah sekitar tiga puluh meter)


Karena pesta untuk merayakan hancurnya pemberontak diadakan di Kota Iztok, Nio tidak memiliki pilihan selain hadir sebagai Jenderal Tamu, karena dia adalah salah satu pihak yang membuat Arevelk terlepas dari bayang-bayang pemberontakan, dan mendapatkan kemenangan atas musuh.


Nio sudah kotor dengan debu, lumpur, dan darah saat perjalanan beberapa hari untuk mencapai tempat ini. Jadi, mandi adalah cara untuk mengembalikan penampilannya menjadi pantas, atau akan berdampak buruk pada harga dirinya.


Jadi, imbalan untuk komandan yang membawakan pasukannya kemenangan adalah dikeliling lima gadis yang berada di sisinya tanpa menutupi tubuh mereka. sayangnya, Nio merasa martabatnya telah runtuh, walau dia sendiri telah meruntuhkan pemberontak bersama Pasukan Penumpas Pemberontak.


“Njir, kenapa kalian harus menyeretku ke sini?” Nio tidak bisa marah atau menerima keadaan ini dengan pasrah. “Kenapa kalian tidak membiarkanku mandi bersama para prajurit?”


“Tapi, saya adalah pelayan Anda, bukan, Tuan Nio?” ucap Edera. Ebal dan Huvu lalu menyambung, “Jangan lupakan kami berdua, Tuan Nio.”


“Anda terluka di pertarungan sebelumnya, aku khawatir jika mereka tiba-tiba menyerangmu saat lukamu belum sembuh, Tuan Nio. Jadi membawamu ke sini adalah pilihan yang tepat,” ucap Sigiz.


Lalu, entah darimana, Hevaz tiba-tiba muncul dari dalam air dan berkata, “Dan, ya. Anda harus pulih dengan cepat. Tidak akan ada maaf jika Anda demam atau sakit, sementara Anda harus menjadi Pahlawan Harapan.”


“Tunggu, apa itu Pahlawan Harapan? Dunia ini bukan latar sebuah novel fantasi, kan? Yang lebih penting, apa kalian tidak khawatir adanya lawan jenis di sini?!” teriak Nio.


“Tapi, Anda merupakan pengecualian,” ucap seluruh gadis bersamaan.


Jika Arunika tahu tentang ini, dia pasti akan memutuskanku, pikir Nio dengan membayangkan wajah Arunika jika hal itu benar-benar terjadi.


Berbicara tentang Arunika, Nio sama sekali tidak memberitahu gadis itu jika dia membantu Arevelk untuk berperang melawan pemberontak. Dia mungkin sedang khawatir karena tidak menerima kabar apapun dari Nio. Pikiran seperti itu membuat Nio gelisah.

__ADS_1


“A-aku akan kembali ke penginapan,” kata Nio.


Nio merasa dia tidak bisa bertahan lebih lama, atau akan terjadi hal buruk yang menimpa para gadis. Nio berdiri, dan menutupi bagian bawah tubuhnya dengan handuk, sehingga hanya memperlihatkan tubuh Nio yang berotot. Prioritasnya adalah kabur dari tempat ini, tidak peduli apakah ada orang yang melihatnya atau tidak. Orang yang masih memiliki akal pasti akan membiarkannya keluar dari situasi mengerikan ini.


“Oh! Mohon tahan!” Huvu menahan Nio, meraih belati yang tergeletak di dekat salah satu pilar terdekat.


Nada suara Huvu yang kasar membuat Nio agak terkejut, lalu diam, membayangkan jika mungkin ada musuh. Nio melihat ke arah yang sama Huvu menatap, pintu masuk ke pemandian. Nio bisa mendengar ada langkah kaki yang mendekat.


Mungkin seseorang akan memasuki pemandian.


Anggota Pembunuh Senyap yang disebar di seluruh penjuru ibukota dan Istana Awan bertugas menjaga Nio, atas perintah Huvu dan Edera. Sementara Ebal bertugas mengawal Nio, walau pria itu sama sekali tidak memintanya. Sehingga, tidak mungkin ada orang yang mencurigakan bisa melewati kemampuan bertarung cepat dan senyap para unit Demihuman itu.


“Apa yang mereka lakukan? Aku sudah mengatakan pada mereka jangan biarkan siapapun mendekati pemandian,” Huvu berkata dengan marah, dan berjalan beberapa langkah di depan Nio.


Saat Huvu berjalan, pandangan Nio tidak bisa terlepas dari bagian belahan pant*at yang kencang milik gadis tersebut. Dalam situasi yang genting seperti ini, perasaan yang membara terasa pada bagian senjata biologi Nio.


“Nio,” suara yang akrab terdengar oleh Nio.


“Lux?” Nio tidak bisa melihatnya dengan jelas siapa yang berbicara, akibat tebalnya asap pemandian.


Dia bukanlah orang yang mencurigakan, melainkan salah satu jenderal Arevelk. Lux sudah masuk ke area pemandian, sehingga unit Pembunuh Senyap tidak bisa menahannya.


Melewati uap, Lux muncul. Meskipun tubuh gadis itu ditutupi oleh kain, namun Nio tetap bisa melihat beberapa bagian tubuhnya, membuat mata Nio tidak bisa melihat dengan benar.


“Apa yang kamu butuhkan terhadap Tuan Nio?” Ebal bertanya dengan nada dingin. Dia menyadari bahwa unit yang Lux pimpin hampir kalah jika Nio tidak bertindak bersama para Pembunuh Senyap.


“Aku punya sesuatu yang penting untuk dibicarakan denganmu, sebagai komandan Arevelk yang telah dibantu oleh mu,” kata Lux.


“Apa sangat penting bagi kita untuk membicarakannya di sini?” Nio bertanya. “Aku akan mendengarkan pembicaraanmu nanti…”


‘’Aku tidak bisa, karena aku akan jujur tentang semuanya, dan akan menunjukkan semuanya padamu.”


“Tapi, apa kau tidak memiliki keberanian untuk tidak menutupi tubuhmu?” Huvu mendengus, mengejek Lux, dan berhasil membuat Nio hampir ‘tegang’.


Nio menjerit dengan keras di dalam hati, tidak tahan dengan situasi seperti ini.


“Terserah kau, gadis pelayan,” kain yang menutupi tubuh Lux dijatuhkan.


Tegang maksimal! Nio menahan ‘adik kecilnya’ agar tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Sekelilingnya hanyalah tubuh gadis yang ia impikan selama 20 tahun hidupnya. Melihat ke segala arah hanya membuat Nio gelisah, dan semakin menegang.


Siksaan macam apa ini?! Nio bertanya-tanya sambil menangis.


“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?”


Lux tampak diam, dan mengingat penyelamatan Nio yang datang terlambat. Dia melihat Nio bertarung, walau tampak seperti dikendalikan oleh seseorang dari jarak jauh. Tetap saja, yang dibutuhkan Arevelk adalah kemenangan, dan penghapusan pemberontakan.


“Tolong nikahi aku!”


**


Yang terakhir bukan fan service, itu adegan asli ya…

__ADS_1


__ADS_2