Prajurit SMA

Prajurit SMA
Hujan pedang


__ADS_3

Aliansi tidak mengirimkan bantuan berupa beberapa pasukan penunggang naga dan wyvern bagi pasukannya yang sedang bertarung dengan kelompok kecil musuh. Tetapi, terlihat dua ekor naga berukuran sedang di belakang pasukan. Pawang kedua naga membelai tubuh besar mereka agar tetap tenang dan mematuhi perintah mereka.


Di antara kedua naga berukuran sedang, satu berwarna merah gelap dan satu lagi hitam. Itu mengingatkan Nio dengan pertempuran melawan dua ekor kadal terbang yang disebut ‘raja naga api’. Sisik dan aura buas binatang fantasi yang mereka pancarkan membuat Nio berpikir betapa menyulitkannya melawan kadal terbang dengan sisik sekuat baja tersebut. Setidaknya, kedua naga tersebut tiga puluh persen lebih kecil dari kedua raja naga api.


Dua ekor naga api memiliki tinggi dua puluh meter, sedangkan rata-rata naga liar memiliki tinggi antara sembilan hingga delapan belas meter. Lalu, wyvern memiliki tubuh yang lebih kecil lagi, yakni dengan tinggi sekitar tiga hingga empat meter. Karena itulah, naga tidak bisa digunakan untuk pertarungan yang membutuhkan pergerakan lincah mengingat tubuh besar mereka, sehingga wyvern lebih sering digunakan dalam angkatan udara dunia ini.


“Apa kalian khawatir?”


Nio mencoba menggoda seluruh orang yang menurutnya tak percaya dengan adanya bantuan musuh berupa dua ekor naga berukuran sedang. Edera dan Hevaz terlihat biasa saja ketika kedua kadal terbang semakin mendekati garis perbatasan.


“Tentu saja!” seluruh anggota Tim Ke-12 dan kru ketiga helikopter menjawab dengan serempak dan terdengar bernada kesal serta gugup setelah kedua naga terbang semakin dekat dengan mereka. Sebenarnya, beberapa dari mereka ingin mengumpati Nio karena dia tidak mengatakan jika musuh memiliki naga.


Namun, pengalaman Nio yang pernah berhadapan dengan raja naga dunia ini belum diketahui anggotanya, sehingga mereka hanya bisa berharap orang itu memiliki rencana bagus untuk menghadapi kadal terbang raksasa hingga bantuan tiba.


Sejak awal Nio tidak memperkirakan jika musuh memiliki bantuan kekuatan udara. Rencananya adalah mengandalkan kemampuan penerbang ketiga helikopter, lalu lari untuk membiarkan pasukan bantuan membereskan sisanya.


Kedua naga membentangkan sayap lebar mereka, dan dengan cepat mendekati ketiga helikopter serang yang berusaha menyerang mereka dengan roket dan peluru 40mm.


Kedua pawang naga memukul bagian bawah leher kedua naga menggunakan tongkat yang pada bagian ujungnya dipasangi semacam paku. Kedua naga bersiap untuk menyemburkan api ke kedua capung besi. Kru ketiga helikopter segera putar balik dengan panik untuk menjauhi serangan kedua kadal terbang. Pawang naga merasa senang dengan tindakan mereka yang berhasil membuat ketiga capung besi mundur, namun semua tidak seperti yang mereka harapkan…


**


Dua benda terbang berkecepatan tinggi dengan ekor asap membentuk jejak seperti ular di udara lalu menabrak kedua naga, dan pawangnya terjatuh lalu terjun bebas ke tanah dari ketinggian 40 meter. Namun, kedua naga ternyata cukup tangguh untuk menghadapi senjata ‘dunia lain’ itu, dan mereka terlihat masih terbang dengan kacau di udara.


Kedua pilot jet tempur bertanya-tanya mengenai ukuran kedua naga setelah meluncurkan rudal udara-ke-udara yang telah dikunci ke sasaran. Menurut informasi yang mereka dapatkan, Pasukan Ekspedisi pernah bertarung dengan binatang fantasi terbang dengan tinggi 28 meter dan bentang sayap 30 meter. Namun, kedua naga yang mereka hadapi sekarang lebih kecil dari pengakuan beberapa mantan personel Pasukan Ekspedisi.


Kedua pilot dapat menebak jika Tim Ke-12 dan ketiga helikopter bantuan telah menembakkan sangat banyak amunisi untuk menghadapi ribuan musuh yang terus bergerak ke garis perbatasan. Kedua pilot sepakat untuk meluncurkan rudal udara-ke-udara lagi setelah melihat kedua kadal terbang bersisik tebal masih terbang di udara. Menurut mereka, naga dengan sisik setebal armor baja tank tempur utama dan rudal berbiaya ‘murah’ yang digunakan Unit Udara Pasukan Perdamaian adalah hal yang membuat serangan mereka sebelumnya masih belum cukup.


Setelah dekat dengan sasaran, pemicu ledakan rudal udara-ke-udara diaktifkan, dan kedua naga terkena ledakan lagi. Namun, jika serangan itu bisa menghabisi mereka dalam sekali serang, pekerjaan ini tidak akan terlalu sulit. Tetapi sisik kedua naga ternyata masih cukup tangguh untuk menghadapi ledakan.


Salah satu penerbang jet tempur asal kontingen Indonesia mengunci salah satu naga yang berwarna merah dengan HUD-nya, dan menekan pelatuk. Meriam otomatis tipe gatling menembakkan amunisi 20mm-nya dengan kecepatan 8.000 tembakan per menit. Badai timah yang menyerang salah satu naga membuat naga merah itu terbang berputar-putar seperti helikopter yang mengalami gangguan.


(HUD (Head Up Display system, adalah suatu tampilan transparan yang menyajikan data tanpa mengharuskan pengguna untuk melihat sasaran yang jauh dari sudut pandang pengguna.)


Hal yang sama juga dilakukan pilot jet tempur Unit Udara Pasukan Perdamaian asal kontingen Rusia, dan menyebabkan kedua naga kehilangan keseimbangan dan kemampuan untuk tetap terbang di udara, dan mereka jatuh ke tanah.


Kemudian, kedua naga membuktikan bahwa reputasi mereka bukan hanya untuk senjata… meskipun gerakan mereka lamban. Mereka kemudian kembali bangkit dan melebarkan sayap mereka untuk persiapan lepas landas lagi. Meski tanpa pawang, kemampuan bertahan dan bertarung mereka sangat bagus. Meskipun mereka adalah naga hasil penangkaran, mereka masih anggota ras ‘Kadal Terbang’, dan Aliansi mengklaim jika angkatan udara mereka adalah ‘Penguasa Langit’ dengan jumlah kadal terbang beserta penerbangnya mencapai ribuan.


Sementara itu di darat, pertarungan antara kelompok kecil Tim Ke-12 dengan ribuan pasukan Aliansi masih terjadi.


Seluruh anggota tim turun dari kendaraan, kecuali penembak senjata otomatis yang ditugaskan mengoperasikan senjata dari dalam kendaraan, dan melakukan tembakan bantuan. Hendra, Nio, dan Arif menghujani musuh dengan peledak yang ditembakkan dari pelontar granat, lalu anggota lain melindungi mereka dengan menembaki musuh. Peluncur roket anti-tank yang dimiliki tim ini tersisa dua unit, Nio kemudian memerintahkan Yogi dan Agus untuk menggunakan senjata itu.


Yogi dan Agus sempat ragu untuk menggunakan senjata ini untuk musuh yang hanya mengenakan zirah logam dengan senjata tombak dan pedang panjang. Mereka pikir senjata ini memiliki dampak yang terlalu brutal jika digunakan pada pasukan dengan teknologi terpaut ribuan tahun dari TNI. Namun, mereka tidak ingin mendapatkan omelan dan hukuman dari Nio, sekaligus mereka tidak ingin gagal pada pertempuran pertama mereka di dunia ini. Mereka tidak peduli jika senjata khusus untuk menghancurkan tank tempur utama ini digunakan untuk menghadapi pasukan kavaleri berkuda lapis baja Aliansi.


Seluruh anggota baru melihat mereka berdua menenteng peluncur roket disposable anti-tank setelah mengambilnya dari kendaraan taktis kedua dan ketiga. Sebelum menembak , Yogi dan Agus memeriksa pemicu ledakan dan mengatur senjata ke mode siap tembak. Jika senjata itu mengenai pasukan berkuda musuh, akan ada potongan daging manusia dan kuda di medan perang akibat ledakan yang dihasilkan roket anti-tank tersebut.


Musuh dengan jumlah lebih dari empat ribu mendekati garis perbatasan yang Tim Ke-12 pertahankan, seluruh kendaraan lapis baja melindungi Yogi dan Agus yang masih menentukan sasaran. Seakan-akan tidak tahu efek dari senjata penghancur tank tersebut, pasukan berkuda musuh terus bergerak dengan gagah berani disertai dengan teriakan sambil mengangkat tombak dan pedang ke atas.


“Apa yang kalian lakukan?! Cepat tembak sebelum mereka mendekati garis perbatasan!” pada akhirnya Yogi dan Agus tetap mendapatkan omelan dari Nio karena mereka berdua terlalu lama membidik.


Nio berdiri pada jarak sepuluh meter dari garis perbatasan sambil menembakkan peluru dari senapannya. Dia sudah menghabiskan dua magasin karena harus melindungi kedua anggotanya yang terlalu lama membidik sasaran yang jumlahnya jelas-jelas mencapai ribuan itu.


“Cepat tembak, tolol!” yang meneriakkan kata itu bukan Nio, tetapi Bima yang terlihat seperti orang yang telah mengeluarkan amarah yang ditahan selama berabad-abad.


**


Pasukan ini hanya memiliki dua komandan, karena tiga lainnya telah mati setelah terkena serangan dari musuh. Mereka hanya bisa menyusun formasi secara asal-asalan sambil terus maju dengan harapan dapat melewati garis perbatasan untuk menghancurkan jumlah kecil musuh, sekaligus membalaskan dendam ketiga komandan mereka yang mati sebelumnya.


Beberapa pemanah yang tersisa mengangkat busur panah mereka di tengah hujan timah, dan menembakkan anak panah dari jarak satu kilometer dari garis perbatasan sehingga mereka yakin tidak akan meleset. Namun, salah satu capung besi mengeluarkan semburan timah dan menewaskan puluhan pemanah yang sempat melakukan serangan tadi.


“Apa yang Anda lakukan, Tuanku? Anda harus segera berlindung.”


Nio melihat Hevaz terbang enam meter di atasnya serta Edera yang telah berada dalam mode kucing berdiri di sampingnya. Dia selalu menembaki musuh yang berusaha mendekati garis perbatasan, sehingga tidak menyadari jika di atasnya terdapat ratusan anak panah yang mengarah padanya.


Seluruh bawahannya berteriak pada Nio untuk berlindung di bawah kendaraan atau di tempat yang aman dari hujan panah. Namun, sebelum Nio berlari dari posisinya saat ini, Hevaz mengibaskan sabit raksasanya ke arah anak panah yang meluncur ke bawah, dan menghempaskan semua anak panah sehingga tidak ada satupun yang mengenai anggota Tim Ke-12.


Mereka terpesona untuk sesaat setelah melihat perlindungan yang dilakukan Hevaz, namun mereka tetap harus menghalau pergerakan musuh dan akan memuji tindakan Hevaz nanti.


Kemudian, Nio memberikan jalan untuk Yogi dan Agus untuk meluncurkan roket anti-tank.


Mereka berdua tidak tahu apa tujuan musuh berperang dengan Indonesia dan sekutunya, tetapi mereka tetap tidak bisa membiarkan musuh melewati garis perbatasan meski mereka hanya bersenjatakan pedang dan tombak panjang. Yogi dan Agus berteriak seperti orang gila dan meluncurkan roket yang melesat dengan kecepatan 3.000 meter per menit.


Mereka berdua menembakan roket-nya dalam jarak lebih dari satu kilometer sehingga tidak mungkin meleset. Setelah pendorong roket menyala sebentar, hulu ledak anti-tank menghantam salah satu penunggang kuda berzirah paling bagus dan meledak, memenuhi zona perbatasan dengan awan asap tebal.


Prajurit yang mengenakan zirah paling bagus itu adalah salah satu komandan yang terisa, tubuhnya seketika berubah menjadi potongan daging dan zirah nya menjadi kepingan logam. Gelombang kejut yang dihasilkan mementalkan prajurit sekitar, dan serpihan yang terbang dengan kecepatan tinggi mengenai puluhan prajurit lainnya dan membuat mereka mati seketika.


Namun, masih ada ribuan prajurit Aliansi yang terus maju sambil meneriakkan kebencian mereka terhadap musuh-musuh mereka. Ribuan pasukan berkuda semakin gentar setelah ledakan besar barusan, namun kebencian mereka terhadap musuh semakin besar dan hampir mengalahkan akal sehat.


Daging dan lempengan logam terbang kemana-mana, dan puluhan prajurit meronta-ronta kesakitan. Namun, tidak ada yang ingin menghentikan pertempuran sekarang, dan memutuskan untuk meninggalkan rekan yang terluka.


Nio memasang magasin terakhirnya, dia tidak memiliki waktu untuk mengambil magasin tambahan ke tenda penyimpanan.


Ketika dirinya melakukan beberapa tembakan, suara gemuruh terdengar dari arah belakang perkemahan Tim Ke-12. Sesaat kemudian, Gerbang tak sempurna terbuka dan langsung mengeluarkan ratusan prajurit berkuda yang membawa bendera perang Yekirnovo dan Arevelk.


“Kenapa mereka ikut membantu? Tunggu… siapa yang memberitahu mereka keadaan kami?”


Wajah Nio menunjukkan ekspresi kebingungan yang tidak dibuat-buat, dan dia terkejut dengan sungguh-sungguh. Setiap regu pasukan infanteri dan kavaleri Arevelk dan Yekirnovo keluar dari Gerbang tak sempurna dengan diameter 20 meter. Nio memerintahkan anggotanya untuk tidak menyerang mereka, dan mengatakan jika seluruh pasukan yang keluar dari benda sihir tersebut adalah rekan.


“Kenapa mereka memilih mengirimkan pasukan Yekirnovo dan Arevelk? Apa mereka memutuskan hanya mengirim bantuan dua jet tempur tadi?”


Beberapa dari mereka terlihat tidak percaya dengan yang dikatakan Nio, namun mereka telah melihat hal yang lebih mengejutkan lagi.


Seluruh penunggang kuda yang terlihat seluruhnya adalah perempuan melewati mereka dengan memacu kuda dalam kecepatan tinggi, beberapa dari mereka membawa kotak berukuran besar di punggung. Itu adalah ksatria Barisan para Mawar, dan mereka akan melakukan serangan terlebih dahulu dengan senapan sundut andalan mereka.


Seluruh anggota Tim Ke-12 memandang ksatria penunggang kuda dengan wajah kagum, apalagi semua ksatria asal Yekirnovo yang mereka lihat adalah perempuan dengan senjata senapan sundut. Tetap saja, mereka membayangkan dampak yang dihasilkan senapan sundut tidak separah peluru 7,62mm dari senapan serbu mereka.


Senapan sundut bukanlah senjata utama pasukan elit Yekirnovo tersebut, mereka tetap mengandalkan pedang dan tombak panjang untuk pertarungan jarak dekat dan menengah. Mereka menggunakan senapan sundut untuk menutupi kekurangan dalam persenjataan mereka, dimana militer Yekirnovo hanya memiliki meriam dalam jumlah sedikit, kira-kira kurang dari 10 unit. Sehingga mereka menjuluki senapan sundut sebagai ‘Tongkat Meriam’ karena sama-sama menembakkan proyektil meski lebih kecil dari peluru meriam.


Dengan sabar, pasukan Arevelk menunggu ksatria perempuan Yekirnovo melakukan aksi mereka dengan senjata baru mereka. Sigiz membawa penyihir elit dengan jumlah 500 prajurit, dan semuanya dalam keadaan siap melepaskan sihir ‘artileri’.


Juru isi memasukkan bubuk mesiu dari ujung laras senapan dengan cepat, lalu memadatkannya dengan tongkat khusus sebelum memasukkan bola logam seukuran kelereng kedalam laras. Setelah melakukan persiapan termasuk menyalakan sumbu pemicu, juru isi memberikan senapan yang telah siap ditembakkan kepada juru tembak. Juru tembak yang berjumlah ratusan membidik sasaran yang terus bergerak ke arah mereka . Sheyn berada di barisan terdepan menjadi komandan tertinggi pasukannya, dan dengan tenang memerintahkan bawahannya untuk tetap sabar hingga musuh berada pada jarak efektif tembak untuk menghasilkan dampak serangan besar.


Sheyn yang belum memberikan perintah untuk menembak tentu saja membuat Nio sedikit resah, dan dia memerintahkan operator meriam otomatis pada panser bersiap melakukan tembakan perlindungan untuk ksatria Sheyn.

__ADS_1


“Tuan Nio, tolong ijinkan saya untuk membantu.”


Edera menatap Nio dengan wajah memohon yang manis, hal serupa juga dilakukan Hevaz. Namun hal itu tidak akan membuat Nio merubah keputusannya.


“Terlalu berbahaya untuk kalian berdua yang melakukan petarung jarak dekat. Setidaknya, tunggu hingga Ratu Sheyn melakukan serangan, lalu kalian bisa membantu pasukan Ratu Sigiz setelahnya.”


Sesaat kemudian…


“Musuh sudah dalam zona bunuh, hancurkan mereka. Tembak!”


Sesaat setelah perintah ratu mereka, ratusan bola logam seukuran kelereng ditembakkan dari senapan sundut Barisan para Mawar Yekirnovo, dan mereka menahan hentakan dari dampak ledakan bubuk mesiu yang mendorong bola logam.


Senapan sundut tidak memilki akurasi tinggi seperti senapan serbu milik kontingen ‘dunia lain’, sehingga mereka perlu menembak dari jarak cukup dekat dengan barisan musuh. Meski itu hal yang sangat beresiko, Sheyn yakin kepada Nio jika pemuda itu telah menyiapkan perlindungan untuk pasukannya.


Sebagian besar bola logam mengenai bagian depan tubuh kuda, dan membuat mereka tersungkur lalu menyebabkan majikan mereka terlempar. Beberapa bola logam berhasil mengenai tubuh prajurit musuh, dan menembus tubuh setelah mengenai zirah logam yang melindungi mereka. Beberapa prajurit yang memiliki semangat juang tinggi kembali bangkit setelah terlempar dari kuda mereka yang terkena tembakan dari pasukan penembak Yekirnovo. Mereka berlari sekencang mungkin, namun nasib buruk terlalu menyukai mereka sehingga tubuh mereka berlubang setelah bola logam yang ditembakkan lagi mengenai mereka.


Juru isi memberikan senapan yang telah siap digunakan setelah juru tembak melakukan tembakan pertama. Suara ledakan dari senjata tersebut mengakibatkan rasa penasaran yang besar bagi anggota Tim Ke-12, dan ketiga kru helikopter merasa tak bisa diam saja ketika bantuan telah datang.


Ketiga helikopter meluncurkan sisa roket ke arah barisan musuh dan penembak senjata otomatis menyapu barisan tengah musuh yang berusaha melarikan diri.


**


Setelah melakukan sepuluh kali tembakan dan mengurangi jumlah musuh, Barisan para Mawar Kerajaan Yekirnovo memberikan tugas kepada kontingen Arevelk pimpinan Sigiz. Sheyn menemui Nio yang melihat aksi pasukannya dengan tatapan kagum.


Nio melihat senapan sundut di punggung Sheyn, dan penasaran dengan perasaan ketika menembak menggunakan senjata itu.


“Terimakasih telah datang, Ratu Sheyn. Aksi anda menakjubkan, seperti biasa.”


Beberapa anggota pria Tim Ke-12 melihat seorang perempuan dengan bekas luka di wajahnya sedang berbicara dengan kapten mereka. Mereka semua adalah pemilih jika berurusan tentang perempuan, jadi mereka membiarkan gadis itu berbicara dengan Nio (setelah melihat bekas wajah pada Sheyn).


Meski jantung Sheyn berdetak dengan cepat ketika berangkat dan menghadapi musuh di sini, namun detakannya terasa lebih cepat setelah dia mendengar perkataan itu dari Nio. Dia berusaha menyembunyikan wajah gugupnya sebisanya, namun perkataan beberapa bawahannya yang menggoda Sheyn mengganggu usahanya.


Sementara itu, Sigiz yang melihat Sheyn telah berbicara dengan Nio disaat dirinya harus menghadapi sisa pasukan musuh merasa ingin cepat-cepat memusnahkan seluruh musuh, lalu berbicara mengenai beberapa hal dengan Nio.


Edera berlari cepat bersama infanteri kontingen Arevelk setelah mendapatkan ijin dari Nio, dengan Hevaz terbang beberapa meter di atas mereka sambil membawa sabit raksasa miliknya.


“Lepaskan Sihir ‘Artileri’ kalian, penyihir kebanggan Arevelk!”


“”””””””””Ya!!!”””””””””


Suara keras dari prajurit Arevelk menggetarkan hati sisa pasukan Aliansi yang telah berkurang sangat banyak. Prajurit mereka yang hanya terluka ringan harus terus berjuang, namun beberapa dari mereka tetap memiliki perasaan untuk melarikan diri. Namun, setelah melihat rekan-rekan mereka yang dihabisi oleh senjata aneh pada capung besi, mereka yang memiliki rencana untuk melarikan diri memutuskan untuk tetap melawan karena hasil yang mereka dapatkan akan sama saja.


Rentetan jalur cahaya berwarna merah dan biru tua menumbuk barisan depan sisa pasukan Aliansi, dan membunuh puluhan prajurit dalam satu gelombang serangan. Tanah terasa bergetar setelah Sihir Artileri kedua diluncurkan, meski serangan itu memiliki kekuatan setengah dari dampak ledakan yang dihasilkan peluru tank.


“Kenapa ada pasukan kontingen Arevelk dan Yekirnovo di sini?” tanya pilot asal kontingen Indonesia.


“Siapa yang peduli, semakin banyak bantuan akan semakin baik. Hei, bukannya itu Dewi Terbang?”


Penerbang asal Rusia melihat Hevaz yang menebaskan sabit ke kepala lawannya dengan cepat.


“Benar! Tapi aku tidak mau mundur sekarang.”


“Jadi, kita akan membantunya?”


Di darat, Sigiz menghadapi sisa pasukan Aliansi yang sudah jauh lebih sedikit dari pasukannya. Sigiz mengangkat tombaknya tinggi-tinggi setelah melepaskan Sihir Artileri terakhir. Angin kecil dirasakan Sigiz, seolah-olah akan mendorong para pejuangnya.


“Hancurkan! Jangan biarkan mereka menyentuh sekutu kita!”


Di tengah kebisingan medan perang, angin misterius membawa suara gadis itu melintasi medan perang agar dapat didengar seluruh pasukannya.


Ribuan pasukan kontingen Arevelk melintasi medan perang setelah melewati garis perbatasan. Mereka meneriakkan semangat perang. Lagipula, di dunia ini berperang dengan saling melewati garis perbatasan adalah hal yang biasa, kebanyakan perang disebabkan oleh hal itu.


Mata tombak Sigiz bercahaya berwarna merah setelah diangkat tinggi-tinggi, dan angin tenang berputar di sekitarnya. Angin berputar-putar di sekitar pasukan, membuat semua anak panah yang ditembakkan musuh jatuh ke tanah.


Pemanah pasukannya menarik anak panah sambil menunggang kuda dan melepaskan anak panah, hujan panah mengakibatkan puluhan musuh tertusuk anak panah dan jatuh tak bergerak. Hal itu juga mengakibatkan semangat juang pasukan menurun hingga ke tingkat paling dasar.


Nio nampak kagum ketika pasukan kontingen Arevelk yang dipimpin Sigiz membereskan sisa musuh yang berjumlah kurang dari 3.900 prajurit.


“Jangan khawatir Tuan Nio, perang ini akan segera kita akhiri. Sehingga upacara Pergantian Tahun bisa Anda hadiri.”


Itu adalah kata-kata yang meyakinkan Sigiz untuk segera membereskan pasukan musuh, dan cepat-cepat menemui Nio yang menyaksikannya.


Kedua pasukan kemudian saling beradu serangan.


Tombak dari dua prajurit Aliansi diarahkan dari kanan dan kiri Sigiz.


Kuda Sigiz dengan terampil menghindari serangan itu. Sigiz mengangkat tombaknya, dan dengan dua serangan kilat, darah mengalir dari leher dua prajurit Aliansi.


Rambut kecoklatan nya melambai tertiup angin di zona perbatasan. Setiap kali Sigiz mengayunkan tombaknya, air mancur darah segar dari musuh dia buat.


Pemanah pasukan Kerajaan Arevelk terus menembakkan panah, dan menumbangkan puluhan musuh lagi. Formasi dan jumlah besar yang mereka banggakan hilang dalam sekejap.


Kavaleri muncul dari belakang barisan pasukan Aliansi, dan mengepung mereka. Musuh terkejut dengan serangan itu dan melawan dengan panik ketika menyadari mereka dikepung dari dua arah.


Zariv berada di barisan kavaleri setelah berpisah dari barisan penyihir elit. Dia mengangkat belati yang berfungsi ganda sebagai alat membunuh musuh dan tongkat sihir. Dia mulai mengatakan apa yang dinamakan ‘mantra’.


Dia ingin segera mengakhiri perang ini sebelum pasukan bantuan yang ‘sesungguhnya’ tiba, atau ratunya dan Sheyn akan terkena teguran karena mengirimkan bantuan tanpa ijin.


Selesai merapalkan serangkaian mantra yang membutuhkan kata-kata panjang, Zariv mengangkat pedang milik musuh yang terbunuh dengan sihirnya, dan meluncurkannya ke arah musuh yang bertarung dengan prajurit Arevelk.


Pedang itu melesat seperti anak panah, tetapi ketajamannya yang telah berkurang tak mampu melukai tubuh prajurit musuh. Zariv berpikir bagaimana serangannya bisa menembus tubuh musuh.


Kemudian, dia berpikir jika memadukan serangannya dengan ledakan adalah hal yang cukup menghasilkan dampak hancur.


Sebuah pedang terangkat arena dampak sihir Zariv, dan melayang di depannya, Lalu serangkaian cincin sihir transparan berwarna kebiruan mengelilingi gagang pedang.


Zariv meluncurkan pedang dengan sihir, dan ketika menyentuh tubuh prajurit musuh, dia meledakkan cincin sihirnya. Ledakan cincin itu mendorong pedang dan menembus tubuh musuh yang dilindungi zirah logam.


Dia kemudian mengangkat beberapa pedang milik musuh yang terbunuh di medan perang, meski pedang itu dalam keadaan hancur. Lalu, pedang dengan jumlah puluhan melayang di belakang punggung Zariv, dan seakan-akan mengikuti setiap pergerakan gadis itu.


Dan sekarang, puluhan pedang melayang di atas kepala prajurit musuh yang menjadi targetnya, lalu dilesatkan dengan kecepatan penuh dari kekuatan Zariv.


Dari kejauhan, Tim Ke-12 dan Barisan para Mawar Sheyn melihat puluhan pedang dengan cincin sihir mengelilingi gagangnya, seakan-akan pedang itu digantung dengan senar transparan.

__ADS_1


“Kalian musuh yang menyebalkan, matilah!”


Dengan mantra berkata kasar yang tidak bisa disebut dengan mantra, pedang itu jatuh seperti hujan ke arah targetnya.


Musuh tiba-tiba menyadari bahwa mereka terperangkap dalam hujan pedang, dan ini bukanlah lelucon. Mereka dengan panik melarikan diri.


Prajurit Aliansi yang merasa diri mereka menjadi target berlari atau memacu kuda sekencang mungkin, beberapa dari mereka yang berusaha menyelamatkan diri terjatuh dengan keras ke tanah.


Meskipun target melarikan diri, secara otomatis pedang-pedang itu akan mengejar target mereka, sehingga kemungkinan musuh untuk mati sangat besar. Puluhan pedang terbang ke target dengan sempurna. Pedang terus mengejar target yang menyelamatkan diri, dan kemudian menusuk zirah logam mereka, namun hal itu belum cukup untuk menghabisi musuh. Sesaat kemudian cincin sihir yang mengelilingi gagang pedang meledak.


Ledakan menciptakan dorongan dan meluncurkan pedang ke tubuh target. Banyak dari target dalam kondisi pedang yang menyembul dari punggung hingga menembus dada meski telah dilindungi dengan zirah logam. Semua target terbunuh dengan sihir baru milik Zariv dengan keadaan tubuh tertancap pedang milik kawan mereka yang telah terbunuh.


“Sihir itu seharusnya dilarang kan?”


Sigiz merinding dengan dampak yang dihasilkan dari sihir baru yang dikuasai Zariv. Jika Penyihir Agung ada di sini, mungkin nenek itu akan segera menghukum Zariv karena menggunakan sihir berbahaya yang digunakan untuk menghabisi musuh.


**


“Oy! Apakah kontingen Arevelk dan Yekirnovo termasuk bantuan?”


Seluruh helikopter bantuan tiba, dan seluruh kru dalam keadaan kebingungan setelah melihat pertempuran yang tak seimbang antara sisa Pasukan Aliansi dengan kontingen Arevelk.


“Bukannya itu bagus? Kita bisa menghabisi kadal besar itu, dan menyerahkan pertempuran darat pada Tim Ke-12 dan bantuan lainnya.”


Lalu…


“Ledakan ~ sekarang!”


Dua artileri mortir 81mm meledak di kepala dua naga yang telah dalam kondisi kehilangan setengah dari kekuatannya. Tanah dan udara di sekitarnya, termasuk kedua naga diguncang oleh ledakan bergemuruh, dan serangan terus datang tanpa jeda sesaat. Ledakan besar juga didengar pasukan kontingen Arevelk yang masih bertarung dengan sisa pasukan Aliansi. Melihat kedua naga besar mereka dibombardir tanpa henti, sebagian besar prajurit Aliansi mulai kehilangan harapan dan menjatuhkan pedang mereka (tanda menyerah).


Kompi Ke-3 Pasukan Perdamaian yang bertugas mengamankan Zona Perbatasan Ke-22 mengirimkan setengah kekuatan mereka, termasuk sebuah kendaraan bantuan tembakan yang bersenjatakan meriam howitzer 155mm Self-Propelled. Lalu, bantuan ‘sesungguhnya’, yakni lima helikopter serang menembakkan meriam anti –pesawat 40mm yang disemburkan pada kedua naga.


Pada salah satu helikopter serang, panglima pasukan Kerajaan Arevelk, Zvail, dan beberapa petinggi militer Yekirnovo menutup telinga mereka, dengan ekspresi terkejut mereka ketika melihat tembakan yang melumpuhkan kedua naga berukuran sedang milik Aliansi tersebut.


“Apa yang mereka lakukan? Aku sama sekali tidak melihat serangan mereka!”


“Mungkinkah itu semacam sihir?”


Mereka tidak menyadari bahwa suara gemuruh ini adalah tanda serangan pada target yang berjarak beberapa kilometer.


Namun, peluru meriam dari meriam howitzer tanpa ampun meledakkan tubuh naga berwarna hitam. Suara ledakan yang dihasilkan seakan-akan dapat membelah tanah medan perang.


“Kekuatan yang luar biasa dari pasukan Indonesia.”


Zvail sang panglima Kerajaan Arevelk duduk di atas salah satu helikopter serang, dan melalui teropongnya dia menyaksikan medan perang… lalu menemukan hal yang mengejutkan.


“Ya-Yang Mulia Sigiz?! Ya ampun, kenapa Beliau ikut bertempur?”


Zvail merasa jika dirinya harus meminta maaf kepada jendral Pasukan Perdamaian setelah kembali ke benteng. Dia tidak bisa membiarkan Sigiz mendapatkan masalah setelah mengirimkan pasukan untuk tim yang menjaga Zona Perbatasan Ke-21. Terkadang Zvail merasa jika perilaku Sigiz tidak mencerminkan usianya yang telah 60 tahun… meski dilihat dari penampilan Sigiz seperti gadis berusia 25 tahun-an.


Medan perang ditutupi oleh asap yang dihasilkan ledakan peluru meriam dan mortir, dan dari atas kru helikopter dan penumpangnya bisa melihat dia naga dikelilingi dan ditumbuk oleh ledakan dan serangan penghancuran artileri.


“Ini adalah keajaiban, kita sangat beruntung bersekutu dengan negara yang sangat kuat.”


Suara bising di kabin helikopter begitu besar sehingga orang harus berteriak agar perkataannya didengar. Jadi, perkataan salah satu jendral Yekirnovo terdengar seperti anak kecil yang merengek ingin dibelikan es krim oleh ibunya, dan kru helikopter di sampingnya hanya bisa menjawab sebisanya.


“Kami juga beruntung dapat berada di dunia baru ini, Tuan!” jawab salah satu kru helikopter sambil mengangguk.


“Hei, perlihatkan pada kami apa yang kalian miliki selain ini!”


Kru tersebut berkomunikasi pada dua helikopter serang lainnya dan memerintahkan, “Baiklah, Pemburu Udara 4 dan 5, serang sasaran yang berupa kadal terbang raksasa!”


Maka, dua helikopter serang berbendera Rusia dan Korea Utara sedikit miring ke depan dan maju dengan kecepatan maksimal. Kedua helikopter serang bergeser ke posisi menyerang, dan kemudian meluncurkan rudal udara-ke-darat mereka.


Rudal tersebut memang dirancang untuk menghancurkan tank tempur utama. Ketika rudal-rudal itu meluncur dari langit dan menghantam punggung kedua naga, ledakan yang dihasilkan merobek daging mereka.


Sisik naga yang terkenal dengan ketangguhannya, dihancurkan dengan mudah. Darah dan daging menyembur ke segala arah, dan setelah serangan dua hingga tiga rudal anti-tank lagi, kedua naga itu terpotong-potong.


**


Demikianlah berakhirnya pertempuran di Zona Perbatasan Ke-21.


Orang-orang dari Kompi Ke-3 mendekati tubuh kedua naga untuk memverifikasi kematian kedua kadal terbang itu. Kedua jet tempur terbang kembali ke pangkalan setelah pertempuran berakhir.


Setelah itu, prajurit turun dari kelima helikopter serang dan mengumpulkan sisa prajurit Aliansi yang menyerah. Akhirnya, pertempuran ini benar-benar berakhir setelah sisa Pasukan Aliansi yang berjumlah kurang dari seribu orang menyerah.


Kontingen Indonesia, alias TNI, dapat dikirim untuk operasi bantuan bencana, dengan hormat mengumpulkan mayat prajurit Aliansi yang tewas untuk dikuburkan. Selain itu, mereka mengangkut mayat kedua naga untuk tujuan penelitian. Mereka mengangkut mayat naga di bawah helikopter pengangkut besar yang terbang tanpa hambatan.


Nio dan seluruh anggota timnya bersandar satu sama lain ketika mereka menyaksikan aktivitas pasukan bantuan di depan mata mereka.


Hevaz dan Edera beristirahat di bahu Nio, sementara seluruh pria yang melihat itu mengaktifkan senapan mereka ke mode otomatis penuh dan siap ditembakkan ke kepala Nio. Sedangkan untuk Sigiz dan Sheyn mereka bersandar di punggung Nio. Tidak adanya Lux di tempat ini digunakan Zariv untuk tidur di lutut Nio.


Bagi Lux, dirinya yang tidak dilibatkan di pertempuran ini adalah pengkhianatan terhadap dirinya. Nio menebak jika gadis itu hampir mengamuk di markas pusat, dan mengomeli setiap prajurit yang dia temui.


**


Sementara itu…


“Kenapa gadis itu?”


Tiga prajurit kontingen Indonesia melihat Lux yang sedang duduk. Namun, mereka segera menyingkir dari hadapan Lux setelah gadis itu menatap mereka dengan tatapan tajam, seakan-akan mengatakan, “Apa liat-liat?! Mau gue bunuh?!”


Dia berniat melabrak Sigiz setelah pasukan kontingen Arevelk kembali, dan akan meminta pertanggungjawaban karena ditinggal dan kesempatannya untuk bertemu Nio berkurang.


**


Baik suka maupun duka sama-sama membutuhkan tenaga. Dalam keadaan kelelahan mereka, Tim Ke-12 dan seluruh pasukan bantuan tidak punya energi untuk bergerak. Satu-satunya hal yang mereka lakukan adalah duduk dan melihat pasukan bantuan membereskan medan perang.


Meski ada banyak gadis yang menggunakan tubuhnya sebagai tempat istirahat, dia merasa tidak ada masalah apapun. Dia juga tak mempedulikan anggota laki-laki dan beberapa perempuan yang menatapnya dengan tatapan ingin membunuhnya.


**


Ane mau buat cerita baru nyeritain tentang ‘SMA dukun’. Gimana?????

__ADS_1


__ADS_2